embun hijrahku

Jamak Taksir jumlah ismiyyah

Jamak Taksir jumlah ismiyyah

Jamak Taksir

Jamak taksir memiliki kaidah khusus ketika digunakan dalam

jumlah ismiyyah. Bila jamak taksirnya untuk benda yang tidak

berakal (lighairil ‘aqil), maka khabarnya cukup dalam

bentuk mufrad muannats. Contohnya:

البُيُوتُ وَاسِعَةٌ

(Rumah-rumah itu luas)

Adapun bila jamak nya untuk yang berakal (lil ‘aqil) maka

khabarnya mengikuti jenis jamak taksirnya. Bila jamak taksir

untuk mudzakkar, maka khabarnya jamak mudzakkar salim.

Contohnya:

الرِّجَالُ مُجْتَهِدُونَ

(Pria-pria itu rajin)

Bila jamak taksirnya untuk muannats, maka khabarnya

adalah jamak muannats salim. Contohnya:

الفَتَيَاتُ مُجْتَهِدَاتٌ

(pemudi-pemudi itu rajin)

Kecuali bila khabarnya merupakan isim yang ketika jamaknya

berubah menjadi jamak taksir maka ini digunakan baik untuk

jamak taksir lil ‘aqil mudzakkar maupun muannats.

Contohnya untuk mudzakkar;

الطُّلاَّبُ جُدُدٌ

(Para siswa itu baru)

dan contoh untuk muannats:

الإِمَاءُ جُدُدٌ

(Hamba-hamba wanita itu baru)

Dikarenakan kata
جَدِيْدٌ
)baru) jamaknya merupakan jamak taksir )
جُدُدٌ
maka bentuk jamak taksirnya digunakan baik untuk mudzakkar

maupun muannats.

KAIDAH JUMLAH ISMIYYAH JAMAK TAKSIR

1. Bila mubtadanya jamak taksir lighairil ‘agil, maka khabarnya

mufrad muannats.

2. Bila mubtadanya jamak taksir lil ‘agil mudzakkar maka khabarnya

harus jamak (mudzakkar salim atau taksir sesuai kebutuhan)

3. Bila mubtadanya jamak taksir lil’aqil muannats maka khabarnya

harus jamak (muannats salim atau taksir sesuai kebutuhan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *