Industri Fitness dan Lahirnya Budaya “Cultish”
Dalam Cultish, Amanda Montell
menunjukkan bahwa industri fitness
modern tidak hanya menjual kesehatan,
tetapi juga membangun budaya yang
memiliki kemiripan dengan “cult”.
Perusahaan seperti:
- CrossFit
- Barry’s Bootcamp
- OrangeTheory
- Peloton
- SoulCycle
mengadopsi model seperti franchise,
tetapi lebih dari itu, mereka juga
berusaha menciptakan loyalitas
yang mendalam dari para
anggotanya.
Tujuannya bukan sekadar membuat
orang berolahraga, tetapi membuat
mereka merasa menjadi bagian
dari sesuatu yang spesial.
Bahasa yang Mengangkat
Instruktur Menjadi
“Figur Otoritas”
Salah satu ciri paling menonjol adalah
penggunaan bahasa yang
menempatkan instruktur pada posisi
yang lebih tinggi.
Instruktur tidak hanya dilihat sebagai
pelatih, tetapi sering diposisikan seperti:
- “guru”
- “pemimpin”
- bahkan seperti figur spiritual
dalam konteks tertentu
Cara mereka berbicara, memberi arahan,
dan memotivasi anggota menciptakan
hubungan yang lebih dalam dari
sekadar pelatih dan peserta.
Dalam suasana seperti ini:
- kata-kata instruktur menjadi
sangat berpengaruh - arahan mereka jarang
dipertanyakan - anggota cenderung mengikuti
tanpa banyak refleksi
Ini adalah salah satu elemen “cultish”
yang kuat: otoritas yang dibangun
melalui bahasa dan pengalaman
bersama.
Peloton dan “Tribe” Pengikut Setia
Peloton menjadi contoh jelas bagaimana
brand fitness membangun komunitas
yang sangat loyal.
Dengan harga yang premium untuk
kelas bersepeda dan perangkatnya,
Peloton tidak hanya menjual produk,
tetapi juga pengalaman dan identitas.
Anggotanya sering:
- mengikuti instruktur tertentu
secara konsisten - mengidolakan pelatih favorit
mereka - merasa menjadi bagian dari
“tribe”
Instruktur top bahkan bisa memiliki
status seperti selebritas di dalam
komunitas tersebut.
Hubungan ini memperkuat keterikatan
emosional, yang membuat anggota
tidak hanya “ikut kelas”, tetapi
terikat secara identitas.
Dorongan untuk Melampaui
Batas Diri
Perusahaan fitness pada akhirnya
memberi kebebasan kepada anggota
untuk menentukan kapan berhenti.
Namun, di saat yang sama, mereka
terus mendorong narasi:
- “push your limits”
- “jangan menyerah”
- “rasa sakit adalah bagian dari
proses”
Pesan-pesan ini terdengar positif dan
memotivasi, tetapi juga memiliki
sisi lain:
- anggota bisa mengabaikan
kelelahan tubuh - tekanan untuk terus tampil
kuat meningkat - batas pribadi menjadi kabur
Ini menunjukkan bagaimana bahasa
bisa mendorong perilaku tanpa
paksaan langsung.
Bukan “Cult”, Tapi Tidak
Sepenuhnya Netral
Montell menegaskan bahwa komunitas
seperti CrossFit atau SoulCycle
bukanlah “cult” berbahaya dalam
arti ekstrem.
Anggota:
- bebas keluar
- tidak diancam secara langsung
- tidak terisolasi dari dunia luar
Namun, tetap ada sisi yang perlu
diperhatikan.
Beberapa kasus menunjukkan:
- perilaku bias dalam komunitas
- praktik yang mempermalukan
(shaming) anggota
Hal ini menunjukkan bahwa meski
tidak ekstrem, budaya yang terbentuk
tetap bisa memberikan tekanan sosial
yang nyata.
Standar Tubuh dan Gaya Hidup
yang Harus Ditiru
Instruktur dalam industri ini tidak
hanya mengajar, tetapi juga menjadi
representasi ideal.
Mereka diharapkan:
- memiliki tubuh yang “sempurna”
- tampil menarik
- memancarkan gaya hidup yang
diinginkan anggota
Secara tidak langsung,
ini menciptakan standar:
- anggota ingin menjadi seperti
mereka - atau setidaknya mendekati
Ini memperkuat dinamika “cultish”:
- ada figur yang dijadikan
panutan - ada gaya hidup yang diidealkan
- ada dorongan untuk
menyesuaikan diri
Ketika Olahraga Menjadi
Identitas
Yang awalnya hanya aktivitas fisik,
perlahan berubah menjadi bagian
dari identitas diri.
Seseorang tidak lagi sekadar:
- “pergi ke gym”
Tetapi menjadi:
- “bagian dari CrossFit”
- “anggota SoulCycle”
- “pengguna setia Peloton”
Perubahan ini penting, karena:
- semakin kuat identitas,
semakin sulit melepaskan diri - keterikatan tidak lagi rasional,
tetapi emosional
Dan di sinilah elemen “cultish”
bekerja paling efektif.
Antara Komunitas Sehat dan
Tekanan Sosial
Industri fitness memang
memberikan banyak manfaat:
- kesehatan fisik
- rasa kebersamaan
- motivasi
Namun, Montell mengingatkan bahwa
di balik itu, ada dinamika yang perlu
disadari:
- penggunaan bahasa untuk
membangun loyalitas - penciptaan figur otoritas
- tekanan untuk terus
menyesuaikan diri
Semua ini tidak selalu buruk, tetapi
bisa menjadi masalah jika tidak
disadari.
Kesimpulan: “Cultish” dalam
Balutan Gaya Hidup Sehat
Bagian ini memperlihatkan bahwa
“cultish” tidak selalu muncul dalam
bentuk yang ekstrem atau berbahaya.
Ia bisa hadir dalam bentuk:
- kelas olahraga
- komunitas fitness
- gaya hidup sehat
Dengan bahasa yang tepat,
pengalaman yang kuat, dan komunitas
yang solid, industri fitness berhasil
menciptakan sesuatu yang lebih dari
sekadar layanan: sebuah identitas
kolektif.
Dan seperti yang ditunjukkan sepanjang
Cultish, selama manusia mencari
makna, koneksi, dan tujuan, pola-pola
seperti ini akan terus muncul, bahkan
di tempat yang paling tidak terduga.
Kasus: Dari “Cuma Nge-Gym”
Jadi Identitas Hidup
Bayangkan seseorang sebut saja Ardi
yang awalnya hanya ingin hidup lebih
sehat. Ia memutuskan ikut kelas
di sebuah gym populer yang punya
program intens dan komunitas aktif.
Awalnya sederhana:
- ingin olahraga rutin
- ingin badan lebih fit
- ingin punya kebiasaan sehat
Namun perlahan, yang berubah bukan
hanya tubuhnya tapi juga cara
berpikirnya.
1. Instruktur sebagai
“Figur Otoritas”
Di kelas, instruktur bukan sekadar
pelatih:
- cara bicara mereka penuh energi
dan keyakinan - sering memberi motivasi seperti
“hidup kamu berubah di sini” - menjadi sosok yang dikagumi
Ardi mulai:
- mengikuti instruktur favorit
- percaya penuh pada arahannya
- jarang mempertanyakan metode
latihan
Di titik ini:
otoritas terbentuk bukan karena
paksaan, tapi karena kepercayaan
emosional
2. Bahasa yang Membentuk
Pola Pikir
Setiap sesi, Ardi terus mendengar
kalimat seperti:
- “No pain, no gain”
- “Push your limits”
- “Jangan kasih kendor”
- “Capek itu cuma di pikiran”
Awalnya memotivasi.
Tapi lama-lama, ini menjadi pola
pikir otomatis.
Ketika tubuhnya lelah:
ia tidak bertanya “ini sehat atau tidak?”,
tapi langsung berpikir “saya harus
lebih kuat”
3. Komunitas yang Terasa
Seperti “Tribe”
Ardi mulai mengenal anggota lain:
- saling menyemangati
- ikut challenge bersama
- berbagi progress di media
sosial
Ada rasa:
- diterima
- dihargai
- tidak sendirian
Bahkan muncul pola:
- yang rutin datang dianggap
“solid” - yang jarang terlihat seperti
“kurang niat”
Perlahan:
gym bukan lagi tempat, tapi menjadi
lingkungan sosial utama
4. Ritual yang Mengikat
Tanpa sadar, Ardi punya rutinitas
yang sangat kuat:
- datang di jam yang sama
- ikut kelas yang sama
- melakukan gerakan yang
sama
Ditambah:
- upload progress
- ikut event komunitas
- memakai atribut gym
Ini menciptakan efek:
“kalau saya tidak ikut, ada yang terasa
hilang”
5. Standar Ideal yang Mulai
Mengikat
Ardi juga mulai memperhatikan:
- tubuh instruktur yang
“sempurna” - anggota lain yang
progresnya cepat - standar fisik yang terlihat
“ideal”
Tanpa disadari:
- ia mulai membandingkan diri
- merasa kurang jika tidak
berkembang cepat - mengejar bentuk tubuh tertentu
Di sini, olahraga berubah:
dari kesehatan → menjadi validasi diri
6. Tekanan Halus untuk Tetap
Terlibat
Ketika Ardi mulai ingin istirahat:
- ada komentar seperti “kok hilang?”
- atau “ayo balik lagi, jangan kendor”
Tidak ada paksaan.
Tapi cukup untuk menimbulkan:
- rasa tidak enak
- rasa bersalah
- rasa tertinggal
Akhirnya:
ia kembali, bukan karena ingin, tapi
karena merasa “seharusnya”
7. Titik Perubahan:
Olahraga Menjadi Identitas
Yang paling terlihat adalah perubahan
cara Ardi melihat dirinya:
Dulu:
- “Saya orang yang lagi coba
olahraga”
Sekarang:
- “Saya bagian dari komunitas ini”
- “Ini gaya hidup saya”
Perubahan ini penting karena:
semakin kuat identitas, semakin
sulit untuk melepaskan diri
Inti Insight
Kasus ini menunjukkan bahwa:
industri fitness tidak hanya mengubah
tubuh, tapi juga membentuk identitas
dan pola pikir.
Melalui:
- bahasa motivasi
- figur otoritas
- komunitas yang solid
- dan ritual yang konsisten
terbentuk keterikatan yang sangat kuat
meski tanpa paksaan.
Apakah Ini Berbahaya?
Tidak selalu.
Ini bisa sangat positif jika:
- menjaga kesehatan
- membangun disiplin
- memberi lingkungan suportif
Namun bisa menjadi problem jika:
- tubuh dipaksa melewati batas
- harga diri bergantung pada
performa - atau muncul tekanan sosial
yang tidak sehat
Benang Merah dengan Cultish
Kasus Ardi memperlihatkan satu
hal penting:
bahkan sesuatu yang sehat seperti
olahraga bisa memiliki elemen
“cultish” ketika bahasa, komunitas,
dan identitas menyatu.
Dan seperti yang ditekankan Montell:
- bukan berarti ini harus dihindari
- tapi perlu disadari
Karena:
yang paling berpengaruh bukan apa
yang kita lakukan, tapi bagaimana
kita memaknainya.
