filsafat

Filsafat Abad Pertengahan pada Abad ke-13: Ketika Tradisi Bertemu Inovasi

Bayangkan Eropa pada abad ke-13. Universitas-universitas sedang tumbuh pesat. Karya-karya Aristoteles, yang baru diterjemahkan dari bahasa Arab, membanjiri ruang kelas. Para mahasiswa membaca Avicenna dan Averroes. Di satu sisi, ada kegembiraan intelektual yang luar biasa. Di sisi lain, ada kegelisahan. Apakah filsafat kafir ini akan merusak iman? Apakah akal budi bisa berjalan bersama wahyu? Abad ke-13 adalah masa ketika para pemikir Eropa bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Dari pergulatan itulah lahir berbagai aliran pemikiran yang kaya dan beragam. Mari kita telusuri empat fenomena besar pada abad itu: Averroisme Latin, Neo-Augustinianisme, filsafat eksperimental, dan sintesis antara tradisi dan inovasi.

Averroisme Latin: Ketika Aristoteles Dibaca Secara Radikal

Pada abad ke-13, karya-karya Ibnu Rusyd, yang di Barat dikenal sebagai Averroes, diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Ibnu Rusyd adalah seorang filsuf Muslim dari Andalusia yang menulis komentar-komentar mendalam atas karya Aristoteles. Karena kedalaman komentarnya, ia dijuluki “Sang Komentator”. Terjemahan karya-karyanya memicu gerakan intelektual yang disebut Averroisme Latin.

Averroisme Latin adalah sebuah aliran pemikiran yang mengadopsi banyak gagasan Ibnu Rusyd. Para pengikutnya, yang disebut Averrois, mengembangkan interpretasi naturalistik terhadap Aristoteles. Mereka percaya bahwa alam semesta memiliki hukum-hukumnya sendiri yang dapat dipahami melalui akal budi, tanpa perlu campur tangan ilahi yang terus-menerus. Mereka juga menekankan bahwa pengetahuan harus didasarkan pada pengalaman dan pengamatan, bukan hanya pada otoritas teks.

Salah satu gagasan paling kontroversial dari Averroisme Latin adalah tentang hubungan antara kebenaran religius dan kebenaran filosofis. Para Averrois berpendapat bahwa ada dua tingkat kebenaran. Kebenaran religius adalah kebenaran yang disampaikan melalui wahyu, menggunakan bahasa simbol dan perumpamaan. Kebenaran filosofis adalah kebenaran yang dicapai melalui akal budi, menggunakan argumen dan demonstrasi. Keduanya bisa saja tampak bertentangan, tetapi sebenarnya keduanya benar dalam wilayahnya masing-masing. Gagasan ini dikenal sebagai teori kebenaran ganda.

Teori ini sangat mengguncang kalangan gereja. Banyak teolog menganggapnya sebagai upaya untuk melepaskan filsafat dari iman. Pada tahun 1277, Uskup Paris, Etienne Tempier, mengeluarkan kutukan terhadap sejumlah proposisi yang dianggap sesat, banyak di antaranya terkait dengan Averroisme Latin. Namun, kutukan ini tidak menghentikan penyebaran gagasan-gagasan Averrois. Di universitas-universitas seperti Padua dan Bologna, Averroisme tetap menjadi aliran yang berpengaruh hingga abad ke-16.

Neo-Augustinianisme: Kembali kepada Akar

Sementara Averroisme Latin menekankan akal dan pengalaman, aliran lain justru berusaha kembali kepada warisan Santo Agustinus. Aliran ini disebut Neo-Augustinianisme. Para pemikir Neo-Augustinian percaya bahwa teologi Agustinus memiliki kedalaman yang tidak dimiliki oleh filsafat Aristoteles. Mereka berusaha mengembangkan kembali gagasan-gagasan Agustinus dengan cara yang relevan untuk abad ke-13.

Neo-Augustinianisme menekankan sintesis antara iman dan akal. Mereka tidak menolak akal budi, tetapi mereka menempatkan iman pada posisi yang lebih tinggi. Bagi mereka, akal budi dapat membantu memahami iman, tetapi iman adalah sumber kebenaran yang paling utama. Mereka juga menekankan pentingnya pengalaman batin dan iluminasi ilahi. Menurut mereka, pengetahuan sejati tentang Tuhan tidak dapat dicapai hanya melalui penalaran rasional, tetapi memerlukan cahaya iman yang menerangi jiwa.

Salah satu tokoh penting dalam Neo-Augustinianisme adalah Santo Bonaventura, yang telah kita bahas sebelumnya. Ia berusaha menunjukkan bahwa teologi Agustinus tidak bertentangan dengan filsafat Aristoteles, tetapi justru dapat memperkayanya. Ia mengembangkan sebuah sintesis yang menggabungkan semangat Fransiskan tentang cinta dan kesederhanaan dengan kerangka teologis Agustinus. Ia juga menekankan bahwa seluruh ciptaan adalah jejak-jejak Tuhan, dan bahwa jiwa manusia dapat menemukan jalan kembali kepada Tuhan melalui doa, penyucian diri, dan cinta.

Neo-Augustinianisme berusaha mengatasi konflik antara iman dan akal dengan menunjukkan bahwa keduanya bukanlah musuh. Iman memberikan arah dan tujuan, sementara akal memberikan alat dan metode. Keduanya dapat berjalan bersama jika ditempatkan pada posisi yang tepat.

Filsafat Eksperimental: Belajar dari Alam

Abad ke-13 juga menyaksikan munculnya minat yang growing terhadap filsafat eksperimental. Para pemikir mulai menyadari bahwa pengetahuan tidak hanya dapat diperoleh dari buku-buku kuno, tetapi juga dari pengamatan langsung terhadap alam. Mereka mulai melakukan eksperimen, mengamati fenomena alam, dan mengembangkan teknologi baru.

Salah satu tokoh penting dalam bidang ini adalah Roger Bacon, seorang Fransiskan Inggris yang hidup pada abad ke-13. Ia adalah seorang polymath yang tertarik pada hampir semua bidang ilmu: optik, astronomi, kimia, dan bahkan alkimia. Ia menekankan pentingnya pengamatan dan eksperimen sebagai dasar pengetahuan. Ia juga mengkritik para sarjana yang hanya mengandalkan otoritas teks tanpa menguji kebenarannya.

Filsafat eksperimental juga tercermin dalam pengembangan teknologi. Pada abad ke-13, ditemukan berbagai inovasi seperti kacamata, jam mekanik, dan mesiu. Penemuan-penemuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan dapat diterapkan secara praktis untuk memecahkan masalah nyata. Metode pembelajaran berbasis pengalaman juga mulai berkembang. Para pengrajin dan insinyur mulai mengajarkan keterampilan mereka melalui praktik langsung, bukan hanya melalui teori.

Filsafat eksperimental tidak serta-merta menggantikan filsafat spekulatif. Namun, ia membuka jalan bagi perkembangan metode ilmiah modern. Ia mengajarkan bahwa alam semesta ini adalah sebuah buku yang terbuka, dan bahwa manusia dapat membacanya melalui pengamatan dan eksperimen.

Sintesis antara Tradisi dan Inovasi: Dialog yang Produktif

Abad ke-13 adalah masa ketika berbagai aliran pemikiran berdialog dan saling memperkaya. Averroisme Latin, Neo-Augustinianisme, dan filsafat eksperimental bukanlah tiga dunia yang terpisah. Mereka saling berinteraksi, saling mengkritik, dan saling meminjam gagasan.

Salah satu contoh sintesis yang paling brilian adalah karya Thomas Aquinas. Ia berhasil menggabungkan filsafat Aristoteles dengan teologi Kristen. Ia mengadopsi banyak gagasan Aristoteles tentang logika, metafisika, dan etika, tetapi ia juga memodifikasinya agar sesuai dengan iman Kristen. Ia menunjukkan bahwa iman dan akal tidak bertentangan, tetapi justru saling melengkapi. Karyanya, Summa Theologica, menjadi puncak dari sintesis ini.

Selain Thomas, ada juga tokoh-tokoh lain yang berusaha melakukan sintesis. Albertus Magnus, guru Thomas, memperkenalkan filsafat Arab dan Yahudi ke dunia Kristen Latin. Ia menggunakan komentar-komentar Avicenna, Averroes, dan Maimonides untuk memahami Aristoteles dengan lebih baik. Ia juga menulis komentar-komentar atas hampir semua karya Aristoteles.

Dialog produktif antara berbagai aliran filosofis ini juga terlihat dalam bidang pendidikan. Universitas-universitas abad ke-13 memiliki kurikulum yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu: trivium, quadrivium, filsafat, dan teologi. Para mahasiswa diajarkan untuk membaca teks-teks kuno, menganalisis argumen, dan berdebat. Mereka juga diajarkan untuk berpikir kritis dan tidak menerima sesuatu begitu saja.

Kesimpulan: Abad ke-13 sebagai Jembatan Pengetahuan

Abad ke-13 adalah masa yang sangat penting dalam sejarah filsafat. Ia adalah jembatan antara dunia kuno dan dunia modern. Para pemikir abad ke-13 menyelamatkan warisan Yunani, memperkayanya dengan pengetahuan dari dunia Islam dan Yahudi, dan mengembangkannya menjadi fondasi bagi peradaban Barat.

Averroisme Latin mengajarkan kita bahwa akal budi memiliki otonominya sendiri, dan bahwa pengetahuan harus didasarkan pada pengalaman. Neo-Augustinianisme mengajarkan kita bahwa iman adalah sumber kebenaran yang paling utama, dan bahwa pengalaman batin adalah jalan menuju Tuhan. Filsafat eksperimental mengajarkan kita bahwa alam semesta ini dapat dipahami melalui pengamatan dan eksperimen. Dan sintesis antara tradisi dan inovasi mengajarkan kita bahwa kebenaran tidak pernah takut pada dialog, dan bahwa kebijaksanaan dari mana pun asalnya tetap merupakan milik seluruh umat manusia.

Warisan abad ke-13 adalah undangan untuk terus belajar, terus bertanya, dan terus mencari pemahaman. Karena pada akhirnya, seperti yang diajarkan oleh para pemikir abad pertengahan, iman yang sejati tidak pernah takut pada akal budi yang jujur, dan akal budi yang sejati tidak pernah menutup mata terhadap cahaya iman.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Bayangin lo hidup di Paris, tahun 1270-an. Kampus Universitas Paris lagi panas. Bukan karena cuaca. Tapi karena perang ide. Di satu sudut, ada kelompok yang disebut Averrois Latin. Mereka membaca Aristoteles lewat komentar Ibnu Rusyd. Mereka bilang, alam ini punya hukum sendiri. Akal bisa memahami segalanya. Iman dan filsafat itu dua dunia yang berbeda. Di sudut lain, ada kelompok Neo-Augustinian. Mereka membaca Agustinus. Mereka bilang, tanpa cahaya Tuhan, akal itu buta. Tanpa kasih karunia, manusia nggak bisa berbuat baik. Dan di tengah-tengahnya, ada orang-orang yang mulai melakukan eksperimen. Mencoba hal-hal baru. Membuat alat-alat baru. Dan dari kekacauan itu, lahir sesuatu yang baru. Sesuatu yang mengubah dunia. Yuk kita bedah.

Filsafat Abad ke-13: Ketika Paris Jadi Arena Perang Ide

Averroisme Latin: Anak-Anak Nakal Aristoteles

Lo tau nggak sih, abad ke-13 itu adalah abadnya Aristoteles. Setelah berabad-abad dilupakan, karya-karya Aristoteles diterjemahkan ke bahasa Latin. Dari bahasa Arab. Dari bahasa Yunani. Dan tiba-tiba, Eropa Barat kebanjiran ide-ide baru. Tentang alam. Tentang manusia. Tentang Tuhan. Tentang logika. Tentang etika. Tentang politik.

Tapi ada satu masalah. Aristoteles itu bukan Kristen. Dia nggak kenal Yesus. Dia nggak kenal Alkitab. Dia nggak kenal gereja. Jadi bagaimana kita bisa menggunakan Aristoteles untuk memahami iman Kristen? Di sinilah Averroisme Latin masuk.

Averroisme Latin adalah gerakan filsafat yang didasarkan pada pemikiran Ibnu Rusyd. Ibnu Rusyd adalah komentator Aristoteles yang paling terkenal. Dia menjelaskan Aristoteles dengan sangat rinci. Dia membela Aristoteles dari serangan Al-Ghazali. Dia bilang, filsafat dan agama itu nggak bertentangan. Mereka mengarah pada kebenaran yang sama. Tapi dengan cara yang berbeda.

Kronologinya gue susun biar jelas. Pertama, Aristoteles hidup di Yunani kuno. Dia nggak kenal Yesus. Nggak kenal Alkitab. Nggak kenal gereja. Karyanya ditulis dalam bahasa Yunani. Kedua, setelah dunia Yunani meredup, banyak manuskrip Aristoteles disalin dan dipelajari di dunia Islam. Di Baghdad, di Cordoba, di Kairo. Ketiga, di dunia Islam, muncul komentator besar bernama Ibnu Rusyd. Dia menjelaskan Aristoteles dengan sangat rinci. Dia membela Aristoteles dari serangan Al-Ghazali. Dia bilang filsafat dan agama nggak bertentangan. Keempat, karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke bahasa Latin di Eropa. Di Toledo, di Sisilia, di Paris. Kelima, orang-orang Eropa Kristen membaca terjemahan itu. Mereka jadi kenal Aristoteles lewat perantara Arab. Dan mereka juga kenal tafsir Ibnu Rusyd. Keenam, sebagian profesor di Universitas Paris sangat terpesona pada tafsir Ibnu Rusyd. Mereka mulai mengajarkan Aristoteles dengan lensa Ibnu Rusyd. Mereka inilah yang disebut Averrois Latin.

Tokoh-tokoh Averroisme Latin antara lain Siger dari Brabant. Boethius dari Dacia. Mereka adalah orang-orang muda. Mereka adalah profesor di Universitas Paris. Mereka adalah pembaca Ibnu Rusyd. Mereka adalah pengagum Aristoteles.

Interpretasi naturalistik Aristoteles. Averrois Latin membaca Aristoteles secara naturalistik. Artinya, mereka melihat alam sebagai sistem yang punya hukum sendiri. Alam nggak perlu campur tangan Tuhan setiap saat. Alam berjalan sesuai hukum-hukumnya. Tuhan adalah penggerak pertama. Tapi setelah itu, alam berjalan sendiri. Jadi mereka mengembangkan sains. Mereka mengembangkan astronomi. Mereka mengembangkan fisika. Mereka mengembangkan kedokteran.

Pandangan pengetahuan berbasis pengalaman. Averrois Latin juga menekankan pengalaman. Mereka bilang, pengetahuan datang dari indra. Dari pengamatan. Dari eksperimen. Jadi mereka adalah pionir metode ilmiah. Mereka adalah pendahulu Francis Bacon. Mereka adalah pendahulu Galileo. Mereka adalah pendahulu Newton.

Perbedaan antara kebenaran religius dan filosofis. Ini adalah gagasan yang paling kontroversial. Averrois Latin bilang, ada dua kebenaran. Kebenaran religius. Dan kebenaran filosofis. Kebenaran religius adalah kebenaran yang disampaikan melalui wahyu. Melalui simbol. Melalui cerita. Kebenaran filosofis adalah kebenaran yang dicapai melalui akal. Melalui logika. Melalui demonstrasi. Jadi keduanya nggak bertentangan. Mereka cuma berbeda wilayah. Berbeda bahasa. Berbeda tingkat.

Tapi gereja marah. Gereja bilang, ini adalah bidah. Ini adalah relativisme. Ini adalah pengkhianatan. Jadi Siger dari Brabant diadili. Dia dinyatakan sesat. Dia dihukum. Dia diasingkan. Tapi gagasannya tetap hidup. Gagasannya tetap menyebar. Gagasannya tetap menginspirasi.

Neo-Augustinianisme: Pembela Agustinus

Di sudut lain, ada kelompok yang nggak suka Averroisme Latin. Mereka adalah Neo-Augustinian. Mereka adalah orang-orang yang setia pada Agustinus. Mereka adalah orang-orang yang percaya pada iluminasi. Pada kasih karunia. Pada hati. Pada cinta.

Tokoh-tokoh Neo-Augustinian antara lain Bonaventura. Dia adalah Fransiskan. Dia adalah mistik. Dia adalah teolog. Dia adalah doktor serafik. Dia bilang, akal itu penting. Tapi akal itu terbatas. Akal nggak bisa memahami segalanya. Akal nggak bisa menjangkau yang ilahi. Jadi akal butuh bantuan. Akal butuh cahaya. Akal butuh iluminasi. Iluminasi itu datang dari Tuhan. Tuhan menerangi akal manusia. Tuhan membuka tabir. Tuhan memberi pemahaman.

Sintesis antara iman dan akal. Neo-Augustinian mencoba mendamaikan iman dan akal. Mereka nggak menolak akal. Mereka nggak menolak filsafat. Mereka nggak menolak Aristoteles. Tapi mereka ingin filsafat itu melayani iman. Mereka ingin akal itu tunduk pada wahyu. Jadi mereka mengembangkan sintesis. Mereka menggabungkan Agustinus dengan Aristoteles. Mereka menggabungkan iman dengan akal. Mereka menggabungkan cinta dengan pengetahuan.

Reinterpretasi rasionalis Santo Agustinus. Neo-Augustinian juga menafsirkan ulang Agustinus. Mereka nggak cuma mengulang. Mereka nggak cuma menyalin. Mereka mengembangkan. Mereka memperdalam. Mereka memperkaya. Mereka menggunakan kategori-kategori baru. Mereka menggunakan logika baru. Mereka menggunakan bahasa baru. Jadi Agustinus tetap hidup. Agustinus tetap relevan. Agustinus tetap berbicara.

Mengatasi konflik antara iman dan akal. Neo-Augustinian mencoba mengatasi konflik. Mereka bilang, iman dan akal itu nggak bertentangan. Mereka bisa jalan bareng. Mereka bisa saling melengkapi. Iman memberi arah. Akal memberi alat. Iman memberi tujuan. Akal memberi jalan. Jadi jangan pertentangkan. Jangan pisahkan. Jangan lawankan. Tapi satukan. Gabungkan. Sintesiskan.

Filosofi Eksperimental: Ketika Orang Mulai Mencoba

Abad ke-13 juga abad filsafat eksperimental. Ini adalah abad ketika orang mulai nggak puas dengan teori. Mereka ingin mencoba. Mereka ingin menguji. Mereka ingin membuktikan.

Penerapan praktis pengetahuan. Para pemikir abad ke-13 mulai menerapkan pengetahuan. Mereka nggak cuma berdebat di ruang kuliah. Mereka juga membuat alat. Mereka juga membuat mesin. Mereka juga membuat bangunan. Jadi pengetahuan bukanlah cuma teori. Pengetahuan adalah praktik. Pengetahuan adalah teknologi. Pengetahuan adalah kehidupan.

Pengembangan teknologi baru. Abad ke-13 melihat banyak penemuan. Ada kacamata. Ada jam mekanik. Ada kompas. Ada mesiu. Ada mesin cetak? Belum. Tapi fondasinya sudah ada. Jadi abad ke-13 adalah abad inovasi. Abad penemuan. Abad perubahan.

Metode pembelajaran berbasis pengalaman. Para pemikir abad ke-13 juga mengembangkan metode pembelajaran baru. Mereka nggak cuma membaca buku. Mereka juga mengamati. Mereka juga bereksperimen. Mereka juga mencatat. Jadi mereka adalah pionir metode ilmiah. Mereka adalah pendahulu Francis Bacon. Mereka adalah pendahulu Galileo.

Roger Bacon adalah salah satu tokoh penting. Dia adalah Fransiskan. Dia adalah filsuf. Dia adalah ilmuwan. Dia adalah pionir metode eksperimental. Dia bilang, kita harus mengamati alam. Kita harus menguji teori. Kita harus mencari bukti. Jadi dia adalah salah satu orang pertama yang menekankan pentingnya eksperimen. Dia adalah salah satu orang pertama yang menggunakan lensa. Dia adalah salah satu orang pertama yang membahas mesiu. Jadi dia adalah pionir. Dia adalah perintis. Dia adalah visioner.

Sintesis antara Tradisi dan Inovasi: Ketika Dunia Lama Bertemu Dunia Baru

Abad ke-13 adalah abad sintesis. Abad ketika tradisi bertemu inovasi. Abad ketika dunia lama bertemu dunia baru. Abad ketika Timur bertemu Barat.

Pengaruh pemikiran Arab dan karya-karya klasik. Abad ke-13 sangat dipengaruhi oleh pemikiran Arab. Karya-karya Avicenna. Karya-karya Averroes. Karya-karya Al-Farabi. Karya-karya Al-Ghazali. Semua itu diterjemahkan ke bahasa Latin. Semua itu dipelajari di universitas-universitas Eropa. Semua itu mempengaruhi pemikir-pemikir Eropa. Jadi tanpa dunia Islam, mungkin abad ke-13 nggak akan sekaya sekarang.

Dialog produktif antara berbagai aliran filosofis. Abad ke-13 juga abad dialog. Antara Averroisme dan Neo-Augustinianisme. Antara Aristotelianisme dan Platonisme. Antara filsafat dan teologi. Antara iman dan akal. Jadi mereka nggak cuma bertengkar. Mereka juga berdiskusi. Mereka juga bertukar gagasan. Mereka juga saling belajar.

Dan dari dialog itu, lahir sintesis. Thomas Aquinas adalah contoh sempurna. Dia menggabungkan Aristoteles dengan Agustinus. Dia menggabungkan filsafat dengan teologi. Dia menggabungkan akal dengan iman. Jadi dia adalah sintesis. Dia adalah jembatan. Dia adalah harmoni.

Tokoh-tokoh Lain yang Perlu Lo Kenal

Selain Siger, Bonaventura, Roger Bacon, dan Thomas, ada beberapa tokoh lain yang penting di abad ke-13.

Albertus Magnus. Dia adalah guru Thomas. Dia adalah pionir. Dia adalah polymath. Dia adalah orang yang pertama kali memasukkan Aristoteles ke dalam teologi Kristen. Jadi dia adalah pembuka jalan. Dia adalah perintis. Dia adalah visioner.

John Duns Scotus. Dia adalah filsuf Fransiskan. Dia adalah teolog. Dia adalah orang yang sangat cerdas. Dia dijuluki “Doktor Subtle.” Dia mengembangkan teori tentang kehendak. Tentang kebebasan. Tentang cinta. Dia mempengaruhi banyak pemikir.

William dari Ockham. Dia adalah filsuf Fransiskan. Dia adalah teolog. Dia adalah orang yang menciptakan Pisau Cukur Ockham. Dia mengajarkan kita untuk berpikir sederhana. Jangan bertele-tele. Jangan rumit-rumit.

Kritik terhadap Filsafat Abad ke-13

Filsafat abad ke-13 juga dikritik. Beberapa orang bilang, terlalu banyak mengambil dari Aristoteles. Terlalu banyak mengambil dari Arab. Jadi filsafatnya bukanlah filsafat Kristen. Tapi filsafat Yunani yang diterjemahkan ke bahasa Arab. Lalu diterjemahkan ke bahasa Latin.

Beberapa orang bilang, terlalu spekulatif. Terlalu abstrak. Terlalu jauh dari pengalaman sehari-hari. Jadi filsafatnya nggak relevan. Nggak berguna. Nggak praktis.

Beberapa orang bilang, terlalu berani. Averrois Latin bilang, ada dua kebenaran. Itu berbahaya. Bisa merusak iman. Bisa menyesatkan. Bisa membuat orang ragu.

Tapi ada juga yang membela. Mereka bilang, filsafat abad ke-13 adalah pahlawan. Mereka adalah pionir. Mereka adalah perintis. Tanpa mereka, mungkin filsafat Barat nggak akan sekaya sekarang. Tanpa mereka, mungkin sains modern nggak akan ada. Tanpa mereka, mungkin universitas nggak akan berkembang.

Penutup

Abad ke-13 adalah abad yang luar biasa. Abad ketika Eropa bangun dari tidurnya. Abad ketika universitas berkembang. Abad ketika Aristoteles masuk ke gereja. Abad ketika sains mulai bangkit. Abad ketika iman dan akal berdebat. Abad ketika tradisi dan inovasi bertemu. Abad ketika dunia lama dan dunia baru berpelukan.

Averroisme Latin ngajarin kita untuk berani. Berani membaca. Berani bertanya. Berani menguji. Neo-Augustinianisme ngajarin kita untuk rendah hati. Untuk mengakui batas akal. Untuk menerima iluminasi. Filsafat eksperimental ngajarin kita untuk mencoba. Untuk mengamati. Untuk bereksperimen.

Jadi gitu gaessss. Abad ke-13 adalah salah satu babak paling penting dalam sejarah filsafat. Dia adalah jembatan antara dunia kuno dan dunia modern. Dia adalah masa ketika akal dan iman belajar untuk hidup bersama. Dan kalau lo mau, lo bisa belajar dari mereka. Lo bisa mengambil yang terbaik dari mereka. Lo bisa mengembangkan apa yang mereka mulai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *