Guglielmo di Ockham: Nominalisme dan Pisau Ockham
Bayangkan sebuah ruang kuliah di Oxford pada awal abad ke-14. Seorang biarawan Fransiskan berdiri di depan para mahasiswa. Ia tidak sedang membahas hal-hal yang jauh dari kehidupan. Ia sedang membahas pertanyaan yang tampak sederhana: ketika kita mengatakan “manusia”, apakah kata itu menunjuk pada sesuatu yang nyata di luar sana, atau hanya nama yang kita berikan kepada banyak individu yang mirip? Pertanyaan ini mungkin terdengar sepele, tetapi dampaknya sangat besar. Dari pertanyaan itulah lahir salah satu aliran pemikiran paling berpengaruh dalam sejarah filsafat Barat, yaitu nominalisme. Dan tokoh yang paling sering dikaitkan dengan aliran ini adalah William dari Ockham, atau yang lebih dikenal sebagai Guglielmo di Ockham.
Artikel ini akan menjelaskan siapa Ockham, apa itu nominalisme, apa yang dimaksud dengan Pisau Ockham, karya-karyanya, pandangan teologisnya, dan pengaruhnya terhadap pemikiran Barat. Penjelasannya dibuat sederhana agar mudah dipahami, tetapi tetap menjaga ketepatan gagasan.
Siapa William dari Ockham?
William dari Ockham lahir sekitar tahun 1287 di desa Ockham, Surrey, Inggris. Ia bergabung dengan Ordo Fransiskan, sebuah ordo yang menekankan kesederhanaan, kemiskinan, dan kesetiaan pada Injil. Ia belajar di Oxford dan kemudian mengajar di sana. Karena kecerdasannya yang tajam, ia dijuluki “Doctor Invincibilis” atau “Guru yang Tak Terkalahkan” dalam perdebatan. Namun, hidupnya tidak selalu tenang. Ia terlibat dalam perdebatan sengit dengan Paus Yohanes XXII tentang kemiskinan Yesus dan para rasul. Akibatnya, ia dikucilkan dari gereja dan harus melarikan diri ke München, Jerman, tempat ia menghabiskan sisa hidupnya di bawah perlindungan Kaisar Ludwig dari Bayern. Ia meninggal pada tahun 1347.
Meskipun hidupnya penuh gejolak, warisan pemikirannya sangat besar. Ia dianggap sebagai salah satu filsuf paling penting pada abad pertengahan akhir, dan pemikirannya membuka jalan bagi perkembangan filsafat modern.
Nominalisme: Universal Hanyalah Nama
Inti dari pemikiran Ockham adalah nominalisme. Untuk memahami nominalisme, kita perlu memahami dulu apa yang disebut “problem universal”. Problem ini sudah diperdebatkan sejak zaman Plato dan Aristoteles. Pertanyaannya begini: ketika kita mengatakan “kucing”, apakah kata “kucing” itu menunjuk pada suatu entitas universal yang nyata, yang ada di luar banyak kucing individual? Ataukah kata itu hanya nama yang kita berikan kepada banyak kucing individual yang memiliki kemiripan?
Ada dua jawaban utama pada masa Ockham. Jawaban pertama adalah realisme. Kaum realis percaya bahwa universal itu nyata. Menurut mereka, ada “Kucing Universal” yang menjadi pola atau esensi dari semua kucing individual. Pandangan ini dipelopori oleh Plato dan kemudian dimodifikasi oleh Aristoteles dan Thomas Aquinas. Jawaban kedua adalah nominalisme. Kaum nominalis percaya bahwa universal tidak memiliki realitas di luar pikiran. Universal hanyalah nama, konsep, atau tanda yang kita gunakan untuk mengelompokkan banyak individu yang mirip.
Ockham mengambil posisi nominalis yang sangat tegas. Menurutnya, satu-satunya yang nyata adalah individu-individu particular. Andi, Budi, Citra, dan semua kucing individual itulah yang nyata. Kata “kucing” hanyalah nama yang kita berikan kepada mereka karena mereka memiliki kemiripan. Tidak ada “Kucing Universal” yang terpisah dari kucing-kucing individual itu. Tidak ada “Manusia Universal” yang terpisah dari Andi, Budi, dan Citra. Yang ada hanyalah individu-individu, dan nama-nama yang kita gunakan untuk membicarakannya.
Mengapa Ockham menolak realisme? Ada beberapa alasan. Pertama, realisme dianggap menambah entitas yang tidak perlu. Jika kita bisa menjelaskan dunia hanya dengan individu-individu, mengapa kita perlu mengandaikan adanya universal yang terpisah? Kedua, realisme dianggap mengaburkan pemahaman tentang Tuhan. Jika ada banyak universal yang kekal dan abadi, maka itu berarti ada banyak entitas yang setara dengan Tuhan. Ini bertentangan dengan ajaran tentang keesaan Tuhan. Ketiga, realisme dianggap tidak konsisten dengan pengalaman. Kita tidak pernah melihat “Kucing Universal” di dunia nyata. Kita hanya melihat kucing-kucing individual.
Dengan nominalismenya, Ockham ingin membersihkan filsafat dari entitas-entitas yang tidak perlu. Ia ingin kembali pada kenyataan yang paling dasar: individu-individu yang konkret. Pendekatan ini kemudian dikenal sebagai “via moderna”, jalan baru, yang menantang “via antiqua”, jalan lama yang didasarkan pada realisme.
Pisau Ockham: Prinsip Parsimoni
Dari nominalismenya, Ockham mengembangkan sebuah prinsip yang kemudian dikenal sebagai “Pisau Ockham” atau “Occam’s Razor”. Prinsip ini berbunyi sederhana: jangan menambah entitas tanpa kebutuhan. Jika ada dua penjelasan yang sama-sama mampu menjelaskan suatu fenomena, pilihlah penjelasan yang lebih sederhana, yaitu yang mengandaikan lebih sedikit entitas.
Perlu dicatat bahwa Ockham sendiri tidak menulis kalimat “entitas tidak boleh ditambah tanpa kebutuhan” dalam bentuk yang persis seperti itu. Kalimat itu adalah rumusan kemudian. Namun, semangat prinsip itu sangat jelas dalam karya-karyanya. Ia sering menggunakan prinsip ini untuk menolak berbagai entitas yang diandaikan oleh para filsuf sebelumnya, termasuk universal, bentuk-bentuk terpisah, dan berbagai kualitas okult.
Pisau Ockham bukan berarti bahwa penjelasan yang lebih sederhana selalu benar. Prinsip ini hanyalah sebuah pedoman metodologis. Jika penjelasan yang lebih sederhana ternyata tidak memadai, maka kita harus beralih ke penjelasan yang lebih kompleks. Tetapi selama penjelasan yang lebih sederhana mampu menjelaskan fenomena dengan baik, kita tidak perlu menambah entitas yang tidak perlu.
Prinsip ini memiliki pengaruh yang sangat besar pada perkembangan ilmu pengetahuan modern. Para ilmuwan sering menggunakan prinsip parsimoni untuk memilih antara berbagai hipotesis. Jika dua hipotesis sama-sama menjelaskan data dengan baik, mereka cenderung memilih hipotesis yang lebih sederhana. Prinsip ini juga digunakan dalam filsafat untuk membersihkan berbagai konsep yang dianggap berlebihan.
Karya dan Kontribusi: Summa Logicae
Salah satu karya paling penting Ockham adalah Summa Logicae, atau “Ringkasan Logika”. Karya ini adalah sebuah risalah logika yang sangat komprehensif. Di dalamnya, Ockham membahas berbagai topik, termasuk teori tentang istilah, proposisi, silogisme, dan modalitas. Ia mengembangkan sebuah teori tentang bahasa yang sangat canggih untuk zamannya.
Salah satu kontribusi penting Ockham dalam logika adalah teorinya tentang “suppositio” atau “penunjukan”. Menurutnya, kata-kata dalam proposisi dapat menunjuk pada berbagai hal dengan cara yang berbeda. Misalnya, dalam proposisi “Manusia adalah makhluk hidup”, kata “manusia” menunjuk pada banyak individu manusia. Tetapi dalam proposisi “Manusia adalah spesies”, kata “manusia” menunjuk pada konsep atau nama, bukan pada individu-individu. Teori ini membantu menjelaskan bagaimana bahasa dapat digunakan untuk membicarakan dunia dan juga membicarakan bahasa itu sendiri.
Ockham juga dikenal karena kritiknya terhadap berbagai argumen teologis yang dianggapnya tidak valid. Ia berpendapat bahwa banyak argumen yang digunakan oleh para teolog sebelumnya, termasuk argumen tentang keberadaan Tuhan, tidak memiliki kekuatan demonstratif. Menurutnya, keberadaan Tuhan tidak dapat dibuktikan secara mutlak melalui akal budi. Ini bukan berarti Ockham adalah seorang ateis. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa iman tidak bergantung pada argumen rasional yang rapuh.
Teologi: Penciptaan, Kebebasan Ilahi, dan Hubungan Iman dan Akal
Ockham juga memberikan kontribusi penting dalam bidang teologi. Pandangannya tentang Tuhan sangat dipengaruhi oleh penekanannya pada kebebasan dan kemahakuasaan ilahi.
Teori Penciptaan ex Nihilo
Ockham menerima ajaran tentang penciptaan dari ketiadaan, yaitu bahwa Tuhan menciptakan alam semesta tanpa menggunakan bahan yang sudah ada sebelumnya. Namun, ia menekankan bahwa penciptaan adalah tindakan bebas Tuhan. Tuhan tidak terikat oleh kebutuhan apa pun untuk menciptakan dunia. Ia menciptakan karena Ia menghendaki. Dunia ini adalah dunia yang dipilih oleh Tuhan dari berbagai kemungkinan yang tak terbatas. Karena itu, dunia ini tidak niscaya. Ia bisa saja berbeda.
Teori Kebebasan Ilahi
Ockham adalah salah satu pembela terkuat kebebasan ilahi. Ia membedakan antara potentia absoluta dan potentia ordinata. Kekuasaan absolut Tuhan adalah kemampuan-Nya untuk melakukan segala sesuatu yang tidak mengandung kontradiksi. Kekuasaan yang teratur adalah cara Tuhan bertindak sesuai dengan tatanan yang telah Ia tetapkan sendiri. Dengan pembedaan ini, Ockham ingin menunjukkan bahwa Tuhan tetap mahakuasa, tetapi Ia juga konsisten dan dapat dipercaya. Tuhan tidak bertindak sewenang-wenang, tetapi Ia juga tidak terikat oleh aturan di luar diri-Nya.
Hubungan antara Iman dan Akal
Ockham memisahkan dengan tegas antara wilayah iman dan wilayah akal. Menurutnya, akal budi dapat mengetahui kebenaran-kebenaran alamiah, seperti kebenaran matematika dan fisika. Tetapi akal budi tidak dapat membuktikan kebenaran-kebenaran iman, seperti Trinitas, Inkarnasi, dan kebangkitan. Kebenaran-kebenaran itu hanya dapat diketahui melalui wahyu. Karena itu, iman bukanlah lawan dari akal. Iman melampaui akal. Akal dapat membantu kita memahami dunia, tetapi akal tidak dapat menggantikan iman.
Pandangan ini memiliki konsekuensi yang penting. Ockham mengkritik para teolog yang mencoba membuktikan iman dengan argumen rasional yang lemah. Menurutnya, iman tidak perlu dibela dengan argumen yang tidak valid. Iman berdiri di atas otoritas Tuhan yang mewahyukan diri-Nya. Akal budi memiliki otonominya sendiri di wilayahnya, tetapi ia tidak boleh mencampuri wilayah iman.
Pengaruh pada Pemikiran Barat
Pengaruh Ockham terhadap pemikiran Barat sangat besar. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh yang membuka jalan bagi filsafat modern. Nominalismenya menantang dominasi realisme yang telah berlangsung selama berabad-abad. Pisau Ockhamnya menjadi prinsip metodologis yang penting dalam ilmu pengetahuan. Teorinya tentang bahasa dan logika memengaruhi perkembangan logika modern.
Ockham juga memengaruhi para pemikir reformasi. Martin Luther, misalnya, mengagumi Ockham dan belajar dari tradisi nominalis. Gagasan Ockham tentang kebebasan ilahi dan keterbatasan akal dalam hal-hal iman sejalan dengan penekanan Luther pada iman saja. Namun, perlu dicatat bahwa Luther tidak sepenuhnya mengikuti Ockham. Ia mengembangkan pemikirannya sendiri.
Dalam bidang politik, Ockham juga memberikan kontribusi penting. Ia menulis tentang hubungan antara gereja dan negara, dan ia membela hak-hak kaisar melawan klaim paus. Gagasannya tentang kebebasan dan hak-hak individu memengaruhi perkembangan pemikiran politik modern.
Kesimpulan: Filsuf yang Membersihkan Jalan
William dari Ockham adalah salah satu pemikir paling orisinal dan berpengaruh pada abad pertengahan akhir. Ia tidak takut menantang otoritas dan mempertanyakan gagasan-gagasan yang telah lama diterima. Nominalismenya membersihkan filsafat dari entitas-entitas yang tidak perlu. Pisau Ockhamnya memberikan pedoman metodologis yang sederhana namun kuat. Teologinya menekankan kebebasan dan kemahakuasaan Tuhan. Dan pemisahannya antara iman dan akal membantu menjaga integritas keduanya.
Warisan Ockham adalah undangan untuk berpikir sederhana, jujur, dan kritis. Ia mengajarkan bahwa kita tidak perlu menambah entitas yang tidak perlu untuk menjelaskan dunia. Ia mengajarkan bahwa iman tidak perlu takut pada akal yang jujur, dan akal tidak perlu merasa lebih tinggi dari iman. Dan ia mengajarkan bahwa pada akhirnya, semua pencarian manusia akan bermuara pada satu tujuan: memahami realitas sebagaimana adanya, dengan segala kerumitan dan keajaibannya.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Bayangin lo lagi debat sama temen. Dia bilang, “Cinta itu nyata. Ada entitasnya. Ada wujudnya.” Lo jawab, “Nggak. Cinta itu cuma kata yang kita pakai buat menggambarkan perasaan. Nggak ada benda bernama cinta di luar sana.” Temen lo ngotot. Lo tetap ngotot. Debatnya panas. Tapi kemudian lo sadar, perdebatan ini sebenarnya udah ada sejak abad ke-14. Dan orang yang paling berani bilang “universal itu cuma nama” adalah seorang biarawan Fransiskan dari Inggris. Namanya William dari Ockham. Dia bukan cuma bikin debat. Dia bikin pisau. Bukan pisau dapur. Tapi pisau logika. Yang sampai sekarang dipakai ilmuwan. Yuk kita bedah.
William dari Ockham: Biarawan yang Bikin Pisau Logika
Nominalisme: Universal Itu Cuma Nama
Ockham lahir di Ockham, Surrey, Inggris, sekitar tahun 1287 M. Dia masuk ordo Fransiskan. Dia belajar di Oxford. Dia mengajar di Oxford. Dia adalah orang yang sangat cerdas. Tapi dia juga orang yang sangat berani. Karena dia berani melawan arus. Berani melawan realisme. Berani melawan pandangan yang sudah mapan.
Realisme universal adalah pandangan bahwa universal itu nyata. Misalnya, konsep “kucing” itu nyata. Bukan cuma di pikiran kita. Tapi ada di dunia nyata. Ada esensi kucing. Ada ide kucing. Ada bentuk kucing. Ini adalah pandangan Plato. Ini juga pandangan Thomas Aquinas. Tapi Ockham menolak.
Ockham bilang, universal itu cuma nama. Cuma kata. Cuma konsep dalam pikiran. Nggak ada realitas di luar sana yang namanya universal. Yang ada cuma benda-benda individual. Kucing ini. Kucing itu. Kucing hitam. Kucing putih. Nggak ada esensi kucing. Nggak ada ide kucing. Cuma ada kucing-kucing individual. Jadi kalau lo lihat banyak kucing, lo kemudian memberi nama “kucing” pada mereka. Tapi nama itu nggak menunjuk pada entitas nyata. Nama itu cuma alat komunikasi. Cuma konvensi. Cuma kesepakatan.
Ini adalah pandangan yang sangat radikal. Karena dia membongkar fondasi metafisika abad pertengahan. Kalau universal cuma nama, maka banyak konsep yang dianggap nyata ternyata cuma kata. Keadilan? Cuma nama. Kebaikan? Cuma nama. Kemanusiaan? Cuma nama. Yang nyata cuma individu. Yang nyata cuma partikular. Yang nyata cuma ini dan itu. Jadi Ockham mengajarkan kita untuk nggak terlalu percaya pada konsep abstrak. Untuk nggak terlalu percaya pada kata-kata besar. Untuk nggak terlalu percaya pada isme-isme.
Pisau Ockham: Jangan Bertele-Tele
Ini adalah kontribusi Ockham yang paling terkenal. Pisau Ockham. Atau dalam bahasa Latin, lex parsimoniae. Hukum parsimoni. Prinsipnya sederhana. Jangan menambah entitas tanpa perlu. Artinya, kalau ada penjelasan yang lebih sederhana, jangan pakai penjelasan yang rumit. Kalau ada teori yang lebih simpel, jangan pakai teori yang kompleks. Kalau ada solusi yang lebih mudah, jangan pakai solusi yang berbelit.
Contoh gampang. Lo dengar suara di dapur tengah malam. Lo bisa mikir, “Itu pasti hantu.” Atau lo bisa mikir, “Itu mungkin kucing yang ngejatuhin sendok.” Pisau Ockham bilang, pilih yang lebih sederhana. Pilih kucing. Karena penjelasan kucing lebih sederhana daripada penjelasan hantu. Nggak perlu nambah entitas hantu kalau ada penjelasan yang lebih masuk akal.
Contoh lain. Lo sakit kepala. Lo bisa mikir, “Ini pasti karena gue kena sihir.” Atau lo bisa mikir, “Ini mungkin karena gue kurang tidur.” Pisau Ockham bilang, pilih yang lebih sederhana. Pilih kurang tidur. Karena penjelasan kurang tidur lebih sederhana daripada penjelasan sihir.
Jadi Pisau Ockham bukan pisau fisik. Dia adalah prinsip berpikir. Prinsip untuk memilih penjelasan yang paling sederhana. Prinsip untuk memotong penjelasan yang bertele-tele. Prinsip untuk membuang asumsi yang nggak perlu. Dan prinsip ini sangat berpengaruh dalam sains. Dalam filsafat. Dalam kedokteran. Dalam ekonomi. Dalam segala hal. Karena sains modern dibangun di atas prinsip ini. Jangan menambah entitas tanpa perlu. Jangan bikin teori yang rumit kalau ada teori yang sederhana. Jangan bikin asumsi yang aneh kalau ada asumsi yang wajar.
Karya dan Kontribusi: Summa Logicae
Ockham menulis banyak karya. Tapi yang paling terkenal adalah Summa Logicae. Ini adalah buku tentang logika. Buku ini sangat penting. Karena di situ, Ockham mengembangkan logika yang sangat maju. Dia membahas tentang term. Tentang proposisi. Tentang silogisme. Tentang makna. Tentang referensi. Jadi dia adalah salah satu bapak logika modern. Salah satu pionir. Salah satu perintis.
Ockham juga menulis tentang fisika. Tentang metafisika. Tentang teologi. Tentang politik. Dia adalah polymath. Dia adalah manusia yang menguasai banyak bidang. Jadi dia bukan cuma tukang debat. Dia juga pemikir. Dia juga penulis. Dia juga guru.
Teologi: Tuhan yang Bebas dan Dunia yang Baru
Ockham juga punya pandangan teologis yang sangat menarik. Dan juga sangat kontroversial.
Teori penciptaan ex nihilo. Ockham percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dari ketiadaan. Bukan dari bahan yang sudah ada. Bukan dari kekacauan. Bukan dari materi abadi. Tapi dari ketiadaan. Dari kehendak-Nya. Dari firman-Nya. Jadi alam semesta ini bukanlah sesuatu yang mandiri. Bukan sesuatu yang abadi. Bukan sesuatu yang kekal. Alam semesta ini adalah ciptaan. Alam semesta ini adalah karya. Alam semesta ini adalah hadiah.
Teori kebebasan ilahi. Ockham sangat menekankan kebebasan Tuhan. Dia bilang, Tuhan itu bebas. Tuhan nggak terikat pada apa pun. Tuhan nggak terikat pada logika. Tuhan nggak terikat pada hukum. Tuhan nggak terikat pada sistem. Tuhan bisa melakukan apa saja. Tuhan bisa menciptakan apa saja. Tuhan bisa memilih apa saja. Jadi jangan kurung Tuhan dalam logika lo. Jangan kurung Tuhan dalam sistem lo. Jangan kurung Tuhan dalam teologi lo. Karena Tuhan lebih besar dari semua itu.
Ini mirip dengan Scotus. Tapi Ockham lebih ekstrem. Dia bilang, Tuhan bahkan bisa memerintahkan kita untuk membenci Dia. Tapi tentu saja, perintah itu nggak akan pernah terjadi. Tapi secara logis, Tuhan bisa melakukannya. Karena Tuhan itu bebas. Karena Tuhan itu mahakuasa. Jadi jangan batasi Tuhan dengan logika manusia.
Hubungan antara iman dan akal. Ockham juga membahas hubungan antara iman dan akal. Dia bilang, iman dan akal itu nggak bertentangan. Mereka bisa jalan bareng. Tapi mereka punya wilayah yang berbeda. Akal bisa membuktikan keberadaan Tuhan. Tapi akal nggak bisa membuktikan Trinitas. Akal bisa membuktikan keabadian jiwa. Tapi akal nggak bisa membuktikan kebangkitan. Jadi akal punya batas. Iman melampaui batas itu. Tapi keduanya nggak bertentangan. Keduanya menuju kebenaran yang sama.
Pengaruh pada Pemikiran Barat: Dari Oxford ke Seluruh Dunia
Ockham sangat mempengaruhi pemikiran Barat. Bukan cuma di bidang filsafat. Tapi juga di bidang sains. Di bidang politik. Di bidang teologi. Di bidang logika.
Penerapan penalaran logis pada teologi. Ockham mengajarkan kita untuk menggunakan logika dalam teologi. Untuk menguji argumen. Untuk membongkar klaim. Untuk mencari konsistensi. Jadi teologi bukanlah cuma iman buta. Teologi adalah iman yang mencari pengertian. Iman yang kritis. Iman yang rasional.
Pengaruh mendalam pada pemikiran Barat. Ockham mempengaruhi banyak filsuf. Dia mempengaruhi para nominalis. Dia mempengaruhi para ilmuwan. Dia mempengaruhi para reformator. Dia mempengaruhi para pemikir modern. Jadi dia adalah jembatan. Jembatan antara abad pertengahan dan zaman modern. Jembatan antara skolastisisme dan sains. Jembatan antara iman dan akal.
Tokoh-tokoh Lain yang Perlu Lo Kenal
Selain Ockham, ada beberapa tokoh nominalis lain yang penting.
John Duns Scotus. Dia adalah guru Ockham. Dia adalah filsuf Fransiskan. Dia adalah doktor subtle. Dia mengembangkan teori tentang kehendak. Tentang kebebasan. Tentang cinta.
Thomas Aquinas. Dia adalah lawan Ockham. Dia adalah realis. Dia percaya bahwa universal itu nyata. Dia percaya bahwa esensi itu ada. Jadi Ockham dan Thomas adalah dua kutub yang berlawanan. Tapi keduanya saling menghormati. Keduanya saling mengkritik. Keduanya saling memperkaya.
Kritik terhadap Ockham
Ockham juga dikritik. Beberapa orang bilang, nominalismenya terlalu ekstrem. Dia bilang, universal cuma nama. Padahal universal itu penting. Tanpa universal, nggak ada sains. Tanpa universal, nggak ada hukum. Tanpa universal, nggak ada moral. Jadi nominalisme bisa merusak fondasi pengetahuan.
Beberapa orang bilang, dia terlalu berani. Dia bilang, Tuhan bisa melanggar logika. Itu berbahaya. Itu bisa membuat orang nggak percaya pada logika. Itu bisa membuat orang nggak percaya pada sains.
Beberapa orang bilang, dia terlalu kering. Dia terlalu sibuk dengan logika. Terlalu sibuk dengan argumen. Terlalu sibuk dengan analisis. Jadi dia lupa pada cinta. Lupa pada mistisisme. Lupa pada pengalaman spiritual.
Tapi ada juga yang membela. Mereka bilang, Ockham adalah pahlawan. Dia adalah pembebas. Dia adalah penyelamat. Tanpa Ockham, mungkin sains nggak akan berkembang. Tanpa Ockham, mungkin filsafat nggak akan sekritis sekarang. Tanpa Ockham, mungkin kita masih terjebak dalam konsep-konsep abstrak yang nggak berguna.
Penutup
Ockham ngajarin lo bahwa universal itu cuma nama. Jadi jangan terlalu percaya pada kata-kata besar. Jangan terlalu percaya pada isme-isme. Jangan terlalu percaya pada konsep abstrak. Tapi percayalah pada individu. Pada partikular. Pada yang nyata. Pada yang bisa lo lihat. Pada yang bisa lo sentuh. Pada yang bisa lo alami.
Dia juga ngajarin lo bahwa kesederhanaan itu penting. Jangan bertele-tele. Jangan rumit-rumit. Jangan menambah entitas tanpa perlu. Kalau ada penjelasan yang lebih sederhana, pakai itu. Kalau ada solusi yang lebih mudah, pakai itu. Karena kebenaran itu nggak perlu rumit. Kebenaran itu nggak perlu berbelit. Kebenaran itu sederhana.
