filsafat

Maestro Eckhart dan Mistisisme Spekulatif Jerman

Bayangkan seseorang yang haus akan Tuhan. Ia tidak puas hanya dengan ritual, tidak puas hanya dengan hafalan doa, dan tidak puas hanya dengan penjelasan teologi yang kering. Ia ingin mengalami Tuhan secara langsung, sedalam-dalamnya, sampai jiwa dan Tuhan seolah tidak lagi terpisah. Inilah kegelisahan yang menghidupkan mistisisme. Namun, ada satu bentuk mistisisme yang tidak hanya mengandalkan perasaan, tetapi juga berpikir keras tentang Tuhan. Ia disebut mistisisme spekulatif. Tokoh paling terkenal dalam tradisi ini adalah Maestro Eckhart, seorang filsuf dan mistikus Jerman abad pertengahan.

Artikel ini akan menjelaskan siapa Eckhart, apa yang ia ajarkan, bagaimana ia berfilsafat, apa warisannya, dan dalam konteks intelektual seperti apa ia hidup. Penjelasannya dibuat sederhana agar mudah diikuti, tetapi tetap setia pada gagasan aslinya.

Biografi Eckhart: Hidup dan Konteks Sejarah

Eckhart lahir sekitar tahun 1260 di Hochheim, Thuringia, Jerman. Nama lengkapnya Johannes Eckhart, tetapi ia lebih dikenal sebagai Maestro Eckhart atau Eckhart von Hochheim. Ia masuk Ordo Dominikan, sebuah ordo yang menekankan pendidikan, pengajaran, dan kemampuan berdebat. Ia belajar di Cologne dan Paris, dua pusat intelektual terbesar pada masanya. Ia bahkan menjadi profesor di Paris, suatu prestasi yang sangat tinggi pada abad pertengahan.

Eckhart hidup pada masa ketika filsafat Aristoteles, teologi Thomas Aquinas, dan mistisisme Kristen bertemu. Ia bukan hanya seorang pengkhotbah yang berbicara tentang cinta Tuhan. Ia juga seorang pemikir yang membaca karya para filsuf Yunani, Arab, dan Kristen. Ia meninggal pada tahun 1328. Setelah kematiannya, beberapa pernyataannya dinyatakan mencurigakan oleh otoritas gereja. Namun, ia tetap dikenang sebagai salah satu mistikus Kristen paling mendalam.

Doktrin Eckhart: Penyatuan Jiwa dan Tuhan

Inti dari ajaran Eckhart adalah keyakinan bahwa manusia dapat bersatu dengan Tuhan. Persatuan ini bukan sekadar perasaan dekat, bukan sekadar hubungan antara hamba dan tuan. Persatuan ini menyentuh kedalaman jiwa manusia, tempat di mana Tuhan sendiri hadir.

Penyatuan antara Jiwa Manusia dan Tuhan

Eckhart mengajarkan bahwa di dalam jiwa manusia ada sesuatu yang sangat dalam, yang sering ia sebut sebagai “percikan jiwa” atau “inti jiwa”. Di tempat itu, Tuhan hadir secara langsung. Tempat itu tidak dapat dijangkau oleh akal diskursif biasa. Ia hanya dapat disentuh melalui keterlepasan dan kontemplasi. Tujuan hidup manusia adalah kembali ke tempat itu, yaitu kembali kepada Tuhan, sumber keberadaannya.

Bayangkan jiwa seperti sebuah ruangan yang penuh dengan perabot. Perabot itu adalah keinginan, citra diri, rasa takut, dan berbagai gambaran tentang Tuhan. Eckhart mengatakan bahwa ruangan itu harus dikosongkan. Ketika ruangan itu kosong, cahaya Tuhan dapat masuk dan memenuhi seluruh ruangan. Dalam kekosongan itulah terjadi persatuan.

Kehadiran Roh Ilahi dalam Setiap Individu

Eckhart menegaskan bahwa Tuhan tidak jauh dari manusia. Tuhan hadir dalam setiap individu, tetapi kehadiran itu sering tertutup oleh dosa, keterikatan, dan kesibukan batin. Tugas manusia bukanlah mencari Tuhan di tempat jauh, melainkan membersihkan diri agar dapat menyadari kehadiran Tuhan yang sudah ada di dalam.

Salah satu gagasan Eckhart yang terkenal adalah “kelahiran Tuhan dalam jiwa”. Maksudnya, Tuhan secara terus-menerus ingin lahir dalam jiwa manusia. Kelahiran ini bukan peristiwa sejarah yang hanya terjadi di Betlehem. Kelahiran ini terjadi secara rohani setiap kali jiwa membuka diri dan melepaskan keterikatan. Eckhart mengatakan bahwa Tuhan lebih ingin lahir dalam jiwa daripada lahir di dunia. Gagasan ini terdengar berani, tetapi maksudnya adalah menekankan betapa dekatnya Tuhan dengan manusia.

Pendekatan Filosofis: Akal Budi dan Kontemplasi

Eckhart tidak memisahkan akal budi dari kontemplasi. Ia menggabungkan keduanya. Ia menggunakan akal budi untuk menjelaskan pengalaman mistis, tetapi ia juga menegaskan bahwa pengalaman mistis melampaui akal budi.

Kombinasi Akal Budi dan Kontemplasi

Bagi Eckhart, akal budi adalah alat yang berharga. Ia dapat membersihkan gagasan-gagasan yang keliru tentang Tuhan. Namun, akal budi memiliki batas. Ia tidak dapat menangkap Tuhan secara utuh. Karena itu, akal budi harus dilengkapi dengan kontemplasi, yaitu perhatian batin yang tenang dan penuh cinta kepada Tuhan.

Eckhart menggunakan istilah “keterlepasan” atau “kemiskinan roh”. Kemiskinan roh bukan berarti tidak memiliki apa-apa secara materi. Kemiskinan roh berarti tidak memiliki citra, gagasan, atau keinginan yang mengikat. Orang yang miskin roh tidak lagi sibuk memikirkan “Tuhan” sebagai objek di luar dirinya. Ia membiarkan Tuhan menjadi Tuhan.

Metode Eckhart: Penetrasi Progresif dan Meditasi

Eckhart menggambarkan perjalanan spiritual sebagai proses penetrasi progresif menuju Yang Absolut. Langkah pertama adalah meninggalkan segala sesuatu yang bukan Tuhan. Langkah kedua adalah masuk ke dalam diri sendiri, ke kedalaman jiwa. Langkah ketiga adalah mengalami persatuan dengan Tuhan dalam keterlepasan total.

Ia menggunakan meditasi dan kontemplasi sebagai sarana. Meditasi di sini bukanlah teknik mengosongkan pikiran seperti dalam tradisi Timur. Meditasi dalam tradisi Eckhart adalah perhatian penuh kepada kehadiran Tuhan, sambil melepaskan segala gambaran tentang Tuhan. Kontemplasi adalah keadaan di mana jiwa diam, hening, dan terbuka kepada Tuhan. Dalam keheningan itulah Tuhan berbicara.

Warisan Eckhart: Relevansi dan Pengaruh

Pengaruh Eckhart sangat luas. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh paling penting dalam tradisi mistis Barat. Ia memengaruhi banyak mistikus setelahnya, termasuk Johannes Tauler dan Heinrich Suso. Gagasannya tentang keterlepasan, kemiskinan roh, dan kelahiran Tuhan dalam jiwa terus dikaji oleh para teolog dan filsuf.

Relevansi dalam Pemikiran Filosofis dan Teologis

Dalam filsafat, Eckhart menarik perhatian karena usahanya memadukan rasionalitas skolastik dengan pengalaman mistis. Ia menunjukkan bahwa berpikir tentang Tuhan tidak harus kering. Ia juga menunjukkan bahwa pengalaman mistis tidak harus irasional. Keduanya dapat berjalan bersama.

Dalam teologi, Eckhart menantang gagasan-gagasan yang terlalu sederhana tentang Tuhan. Ia menegaskan bahwa Tuhan melampaui semua nama dan gambaran. Bahkan kata “Tuhan” hanyalah pintu menuju realitas yang lebih dalam. Karena itu, ia berani mengatakan bahwa manusia harus melepaskan bahkan gagasan tentang Tuhan agar dapat bersatu dengan Tuhan yang sejati.

Kontribusi pada Tradisi Mistis Barat

Eckhart memberikan kontribusi besar pada tradisi mistis Barat. Ia mengembangkan bahasa yang mampu mengungkapkan pengalaman batin yang mendalam. Ia juga memberikan kerangka konseptual bagi mistisisme yang tidak hanya berdasarkan perasaan, tetapi juga berdasarkan pemikiran yang mendalam. Tradisi mistis Jerman, yang kemudian berkembang melalui Jacob Boehme dan para pemikir Romantis, sangat berutang pada Eckhart.

Perkembangan Filsafat Modern

Beberapa sejarawan filsafat melihat jejak Eckhart dalam perkembangan filsafat modern, terutama dalam idealisme Jerman. Gagasan tentang kesatuan antara subjek dan objek, tentang kedalaman jiwa, dan tentang keterlepasan dari citra-citra mental memiliki resonansi dengan pemikiran modern. Meskipun hubungan ini tidak selalu langsung, Eckhart sering dianggap sebagai salah satu akar spiritual dari filsafat modern di Jerman.

Konteks Intelektual: Skolastisisme dan Mistisisme Kristen Awal

Eckhart hidup dalam konteks intelektual yang kaya. Ia dipengaruhi oleh mistisisme Kristen awal, terutama Agustinus dan Pseudo-Dionisius. Agustinus mengajarkan bahwa manusia memiliki kerinduan bawaan akan Tuhan. Pseudo-Dionisius mengajarkan teologi negatif, yaitu gagasan bahwa Tuhan melampaui semua nama dan konsep. Eckhart mengambil kedua gagasan ini dan mengembangkannya dengan cara yang khas.

Ia juga berhubungan dengan skolastisisme abad pertengahan. Ia membaca Thomas Aquinas dan menggunakan metode berpikir yang sistematis. Namun, ia tidak sepenuhnya mengikuti Aquinas. Ia lebih menekankan pengalaman langsung daripada argumen rasional. Ia menggunakan konsep-konsep skolastik, tetapi mengarahkannya pada tujuan mistis.

Dengan demikian, Eckhart berdiri di persimpangan antara skolastisisme dan mistisisme. Ia adalah seorang sarjana yang berdoa, dan seorang mistikus yang berpikir. Itulah yang membuatnya unik.

Kesimpulan: Mistisisme yang Berpikir

Maestro Eckhart adalah salah satu tokoh paling mendalam dalam sejarah mistisisme Kristen. Ia mengajarkan bahwa Tuhan hadir di kedalaman jiwa manusia, dan bahwa tujuan hidup adalah mengalami persatuan dengan Tuhan. Ia menggunakan akal budi dan kontemplasi sebagai dua sayap yang membawa manusia menuju Yang Absolut. Ia menekankan keterlepasan, kemiskinan roh, dan kelahiran Tuhan dalam jiwa.

Warisan Eckhart mengajarkan kita bahwa mistisisme bukanlah pelarian dari pikiran. Mistisisme yang sejati justru melibatkan pikiran, tetapi juga melampauinya. Ia mengajarkan bahwa Tuhan tidak dapat dikurung dalam konsep, tetapi dapat dialami dalam keheningan. Dan ia mengajarkan bahwa di dalam setiap jiwa manusia, ada tempat di mana Tuhan dan manusia bertemu. Tempat itu tidak jauh. Ia ada di dalam diri kita sendiri.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Bayangkan lo duduk di bangku gereja di Cologne, tahun 1326. Bukan gereja megah. Lebih kayak aula pertemuan. Di depan lo, seorang biarawan Dominikan tua berdiri. Namanya Eckhart. Dia bukan berkhotbah dalam bahasa Latin. Dia berkhotbah dalam bahasa Jerman. Bahasa rakyat. Bahasa pasar. Bahasa tukang roti dan tukang cuci. Dan yang dia bilang bikin lo merinding. Dia bilang, Tuhan nggak jauh di atas sana. Tuhan ada di dalam diri lo. Di dasar jiwa lo. Di percikan terkecil yang paling dalam. Dia bilang, lo bisa mengalami kelahiran Tuhan di dalam jiwa lo. Bukan cuma percaya. Bukan cuma beribadah. Tapi mengalami. Dan ketika lo pulang, lo nggak bisa lagi melihat gereja dengan cara yang sama. Karena kata-kata biarawan tua itu masih terngiang. Dan beberapa tahun kemudian, biarawan tua itu dituduh bidah. Tapi cerita ini bukan cerita tentang bidah. Ini cerita tentang salah satu mistikus paling berani dalam sejarah Kekristenan.

Maestro Eckhart: Mistikus yang Bilang Tuhan Ada di Dasar Jiwa Lo

Biografi: Biarawan Dominikan yang Berani Berkhotbah dalam Bahasa Rakyat

Eckhart lahir sekitar tahun 1260 di Hochheim, Thuringia, Jerman. Nama lengkapnya Johannes Eckhart. Tapi orang memanggilnya Meister Eckhart. Bukan karena dia punya gelar meister. Tapi karena dia memang master. Master teologi. Gelar tertinggi di dunia akademik abad pertengahan. Dia masuk Ordo Dominikan. Ordo yang didirikan oleh Dominikus. Ordo yang menekankan khotbah dan pendidikan. Jadi Eckhart tumbuh dalam tradisi yang menghargai akal dan semangat berkhotbah.

Dia belajar di Cologne. Konon, dia belajar dari Albertus Magnus. Dia juga belajar di Paris. Dia menjadi master teologi di Paris. Dia menjadi provinsial ordo Dominikan untuk wilayah Saxonia. Dia menjadi vicar jenderal untuk Bohemia. Dia mengajar. Dia berkhotbah. Dia menulis. Dia adalah orang yang dihormati. Orang yang dipercaya. Orang yang punya jabatan.

Tapi kemudian, dia pindah ke Strasbourg. Di sana, dia menjadi pengkhotbah dan pembimbing biara-biara perempuan. Di situ, dia bertemu dengan gerakan mistik perempuan. Béguine. Perempuan-perempuan yang hidup mandiri. Yang menulis puisi cinta pada Tuhan. Yang mengalami visiun. Yang berani bicara tentang pengalaman spiritual. Eckhart terinspirasi. Dia belajar dari mereka. Dia membaca karya Mechthild dari Magdeburg. Dia membaca Hadewijch. Dan dari situ, dia mengembangkan bahasanya sendiri. Bahasa Jerman yang puitis. Yang dalam. Yang menggugah.

Dia kemudian pindah ke Cologne. Di sana, dia berkhotbah. Dia mengajar. Dia menulis. Tapi di situ juga, dia mulai dituduh. Uskup Cologne, Heinrich II von Virneburg, membuka proses inkuisisi terhadapnya. Tuduhannya: bidah. Eckhart membela diri. Dia bilang, ajarannya sesuai dengan Alkitab dan tradisi gereja. Dia banding ke Paus di Avignon. Dia pergi ke Avignon. Tapi sebelum putusan keluar, dia meninggal. Pada tahun 1328. Di Avignon. Setahun kemudian, Paus Yohanes XXII mengeluarkan bula In agro dominico. Bula itu mengutuk 28 proposisi Eckhart. Sebagian sebagai bidah. Sebagian sebagai mencurigakan. Tapi bula itu juga mencatat bahwa Eckhart sudah mencabut semua yang dinyatakan sesat. Jadi dia mati dalam keadaan belum sepenuhnya dihukum. Tapi juga belum sepenuhnya dibebaskan. Tragis. Tapi warisannya nggak mati.

Doktrin: Percikan Jiwa dan Kelahiran Tuhan

Ini bagian yang paling gila dari Eckhart. Dia bukan mistikus biasa. Dia bukan cuma orang yang berdoa dan berpuasa. Dia adalah pemikir. Dia menggunakan logika. Dia menggunakan metafisika. Dia menggunakan bahasa filsafat. Tapi dia juga menggunakan pengalaman. Dia menggabungkan akal dan kontemplasi. Jadi dia adalah mistikus spekulatif. Mistikus yang berpikir. Filsuf yang berdoa.

Penyatuan antara jiwa manusia dan Tuhan. Eckhart bilang, tujuan hidup adalah penyatuan dengan Tuhan. Bukan cuma dekat. Bukan cuma mengenal. Tapi menyatu. Melebur. Menjadi satu. Tapi bukan dalam arti bahwa kita menjadi Tuhan. Bukan. Kita tetap makhluk. Tapi kita bisa mengalami kesatuan dengan Tuhan. Di dasar jiwa. Di titik terdalam. Di percikan jiwa. Seelenfünklein. Percikan kecil yang nggak pernah tersentuh dosa. Yang nggak pernah tercemar. Yang selalu terhubung dengan Tuhan.

Eckhart bilang, di dasar jiwa itu, nggak ada aku. Nggak ada engkau. Nggak ada nama. Nggak ada gambar. Nggak ada konsep. Cuma ada Tuhan. Dan ketika kita sampai di situ, kita mengalami apa yang disebutnya kelahiran Tuhan dalam jiwa. Gottesgeburt. Tuhan lahir dalam jiwa kita. Bukan secara fisik. Bukan secara metaforis. Tapi secara spiritual. Secara eksistensial. Kita mengalami kehadiran Tuhan yang nyata. Yang hidup. Yang menghangatkan.

Kehadiran roh ilahi dalam setiap individu. Eckhart bilang, Tuhan ada dalam setiap orang. Bukan cuma orang suci. Bukan cuma pendeta. Bukan cuma biarawan. Tapi setiap orang. Tukang roti. Tukang cuci. Petani. Pedagang. Semua orang punya percikan jiwa. Semua orang bisa mengalami Tuhan. Jadi jangan pernah meremehkan orang lain. Jangan pernah merasa lebih suci. Jangan pernah merasa lebih dekat pada Tuhan. Karena Tuhan ada di dalam setiap orang. Bahkan dalam orang yang lo anggap berdosa. Bahkan dalam orang yang lo anggap jauh dari Tuhan.

Eckhart juga bilang, Tuhan itu bukan makhluk. Tuhan itu bukan sesuatu. Tuhan itu melampaui segala sesuatu. Jadi kalau kita bilang Tuhan itu baik, kita sudah membatasi Tuhan. Kalau kita bilang Tuhan itu bijak, kita sudah membatasi Tuhan. Kalau kita bilang Tuhan itu ada, kita sudah membatasi Tuhan. Karena Tuhan melampaui kebaikan. Melampaui kebijaksanaan. Melampaui keberadaan. Tuhan itu Ketuhanan. Gottheit. Bukan cuma Tuhan. Tapi sumber dari segala sesuatu. Dasar dari segala sesuatu. Yang nggak bisa dinamai. Yang nggak bisa dipahami. Yang nggak bisa dijelaskan. Jadi satu-satunya cara untuk mendekati Tuhan adalah dengan diam. Dengan melepaskan semua konsep. Dengan masuk ke dalam kegelapan. Ke dalam keheningan. Ke dalam ketidaktahuan.

Metode: Jalan Menuju Yang Absolut

Eckhart nggak cuma ngajarin teori. Dia ngajarin praktik. Dia ngajarin metode. Dia ngajarin jalan. Dan jalannya bukan jalan yang mudah. Bukan jalan yang cepat. Tapi jalan yang dalam. Jalan yang sunyi. Jalan yang sepi.

Proses penetrasi progresif menuju yang absolut. Eckhart bilang, ada tahapan-tahapan. Pertama, kita harus melepaskan diri dari segala sesuatu. Abgeschiedenheit. Keterlepasan. Bukan berarti membenci dunia. Bukan berarti meninggalkan dunia. Tapi nggak terikat pada dunia. Nggak diperbudak oleh dunia. Nggak melekat pada harta. Pada jabatan. Pada popularitas. Pada bahkan pada gambar-gambar tentang Tuhan. Jadi lepaskan. Kosongkan. Jangan bawa apa-apa.

Kedua, kita harus menyerahkan diri sepenuhnya pada Tuhan. Gelassenheit. Kelepasan. Penyerahan. Bukan pasrah tanpa usaha. Tapi pasrah setelah usaha. Bukan menyerah. Tapi mempercayakan. Jadi kita berusaha. Kita berdoa. Kita bekerja. Tapi hasilnya kita serahkan pada Tuhan. Kita nggak mengontrol. Kita nggak memaksa. Kita nggak mencemaskan. Kita cuma percaya.

Ketiga, kita masuk ke dalam dasar jiwa. Ke dalam percikan. Ke dalam titik terdalam. Di situ, kita nggak lagi berdoa dengan kata-kata. Kita nggak lagi meminta. Kita nggak lagi memuji. Kita cuma diam. Kita cuma hadir. Kita cuma menyatu. Dan di situ, Tuhan lahir. Di situ, kita mengalami. Di situ, kita tahu. Bukan tahu dengan kepala. Tahu dengan seluruh jiwa.

Penggunaan meditasi dan kontemplasi. Eckhart mengajarkan meditasi. Kontemplasi. Bukan meditasi gaya Timur. Tapi meditasi Kristen. Yang berpusat pada Alkitab. Pada Yesus. Pada kasih. Tapi juga pada keheningan. Pada kekosongan. Pada pelepasan. Jadi meditasi Eckhart bukanlah melamun. Bukan melayang. Tapi masuk ke dalam. Ke dalam diri. Ke dalam jiwa. Ke dalam Tuhan.

Konteks Intelektual: Antara Skolastisisme dan Mistisisme

Eckhart bukanlah orang yang muncul dari ruang hampa. Dia dipengaruhi oleh banyak tradisi. Dan dia mempengaruhi banyak tradisi.

Pengaruh mistisisme Kristen awal. Eckhart membaca Dionysius Areopagita. Dia membaca Agustinus. Dia membaca Gregorius dari Nyssa. Dari mereka, dia belajar tentang teologi apofatik. Tentang kegelapan ilahi. Tentang ketidaktahuan. Tentang penyatuan mistis. Jadi Eckhart adalah penerus tradisi mistik Kristen. Tapi dia juga mengembangkan. Dia juga memperdalam. Dia juga memperkaya.

Hubungan dengan skolastisisme abad pertengahan. Eckhart adalah master teologi. Dia belajar di Paris. Dia membaca Thomas Aquinas. Dia membaca Albertus Magnus. Dia membaca Aristoteles. Jadi dia adalah bagian dari dunia skolastik. Dunia akademik. Dunia logika. Dunia argumen. Tapi dia juga kritis terhadap skolastisisme. Dia bilang, skolastisisme itu bagus untuk pemula. Tapi untuk yang sudah dewasa, perlu sesuatu yang lebih. Perlu pengalaman. Perlu kontemplasi. Perlu penyatuan.

Jadi Eckhart adalah jembatan. Jembatan antara skolastisisme dan mistisisme. Antara akal dan hati. Antara universitas dan biara. Antara teologi dan pengalaman. Dan justru karena itu, dia berbahaya. Karena dia bicara pada dua dunia. Dan dia bikin dua dunia itu bertemu. Dan ketika dua dunia bertemu, kadang ada ledakan. Kadang ada api. Kadang ada tuduhan bidah.

Warisan: Dari Cologne ke Hegel dan Heidegger

Eckhart meninggal dalam keadaan belum sepenuhnya bebas dari tuduhan. Tapi warisannya nggak mati. Warisannya hidup. Warisannya menginspirasi. Warisannya mengubah dunia.

Kontribusi pada tradisi mistik Barat. Eckhart adalah salah satu mistikus Barat yang paling berpengaruh. Dia mempengaruhi Johannes Tauler. Dia mempengaruhi Henry Suso. Dia mempengaruhi John Ruusbroec. Dia mempengaruhi para mistik Rheinland. Jadi dia adalah bapak mistisisme Jerman. Bapak mistisisme spekulatif. Bapak mistisisme yang berpikir.

Relevansi dalam pemikiran filosofis dan teologis. Eckhart juga mempengaruhi filsuf-filsuf modern. Hegel membaca Eckhart. Dia mengagumi Eckhart. Dia mengambil banyak gagasan dari Eckhart. Tentang dialektika. Tentang negativitas. Tentang roh. Heidegger juga membaca Eckhart. Dia mengagumi Eckhart. Dia mengambil banyak gagasan dari Eckhart. Tentang keberadaan. Tentang ketiadaan. Tentang bahasa. Schopenhauer membaca Eckhart. Dia mengagumi Eckhart. Dia mengambil banyak gagasan dari Eckhart. Tentang kehendak. Tentang penderitaan. Tentang pelepasan. Jadi Eckhart bukan cuma mistikus abad pertengahan. Dia juga inspirasi bagi filsafat modern. Bagi psikologi transpersonal. Bagi spiritualitas kontemporer.

Kritik: Tuduhan Bidah dan Bahaya Mistisisme

Eckhart juga dikritik. Bukan cuma dikritik. Tapi dituduh bidah. Dituduh sesat. Dituduh berbahaya.

Beberapa orang bilang, dia terlalu panteistik. Dia bilang, Tuhan ada dalam segala sesuatu. Dia bilang, jiwa bisa menyatu dengan Tuhan. Dia bilang, kita bisa mengalami kelahiran Tuhan dalam jiwa. Jadi dia dianggap menyamakan Tuhan dengan ciptaan. Padahal Tuhan itu transenden. Padahal Tuhan itu berbeda. Padahal Tuhan itu nggak bisa disamakan dengan apa pun.

Beberapa orang bilang, dia terlalu merendahkan Tuhan. Dia bilang, kita harus melepaskan Tuhan. Kita harus melepaskan gambar-gambar tentang Tuhan. Kita harus melepaskan konsep-konsep tentang Tuhan. Jadi dia dianggap mengajarkan atheisme. Padahal dia cuma mengajarkan apofatisme. Padahal dia cuma mengajarkan bahwa Tuhan melampaui semua konsep kita.

Beberapa orang bilang, dia terlalu sulit. Terlalu abstrak. Terlalu mistis. Jadi ajarannya nggak bisa dipahami orang awam. Nggak bisa dipraktikkan orang biasa. Nggak bisa diikuti orang kebanyakan.

Tapi ada juga yang membela. Mereka bilang, Eckhart adalah pahlawan. Dia adalah pembebas. Dia adalah penyelamat. Tanpa Eckhart, mungkin mistisisme Barat nggak akan sekaya sekarang. Tanpa Eckhart, mungkin filsafat modern nggak akan sedalam sekarang. Tanpa Eckhart, mungkin kita nggak akan pernah tahu bahwa Tuhan itu bisa dialami. Bukan cuma dipercaya. Bukan cuma dipelajari. Tapi dialami. Di dasar jiwa. Di percikan. Di keheningan.

Penutup

Eckhart ngajarin lo bahwa Tuhan itu nggak jauh. Tuhan itu dekat. Lebih dekat dari urat leher lo. Lebih dekat dari napas lo. Lebih dekat dari pikiran lo. Tuhan ada di dalam diri lo. Di dasar jiwa lo. Di percikan kecil yang nggak pernah mati. Jadi jangan mencari Tuhan di luar sana. Jangan mencari Tuhan di tempat-tempat keramat. Jangan mencari Tuhan di kitab-kitab tebal. Tapi carilah Tuhan di dalam. Di keheningan. Di kekosongan. Di cinta.

Dia juga ngajarin lo bahwa lo harus melepaskan. Lepaskan harta. Lepaskan jabatan. Lepaskan popularitas. Lepaskan bahkan gambar-gambar tentang Tuhan. Lepaskan konsep-konsep tentang Tuhan. Lepaskan kata-kata tentang Tuhan. Supaya lo bisa masuk ke dalam keheningan. Supaya lo bisa mendengar suara Tuhan. Supaya lo bisa mengalami kehadiran Tuhan.

Dia juga ngajarin lo bahwa lo nggak sendirian. Setiap orang punya percikan jiwa. Setiap orang bisa mengalami Tuhan. Jadi jangan merasa lebih suci. Jangan merasa lebih dekat. Jangan merasa lebih benar. Tapi hormatilah setiap orang. Cintailah setiap orang. Karena Tuhan ada dalam setiap orang. Bahkan dalam orang yang lo anggap paling jauh. Bahkan dalam orang yang lo anggap paling berdosa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *