Empat Tipe Orang Tua yang Tidak Matang Secara Emosional
Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 3 dan
Bab 4. Setelah memahami apa itu
ketidakmatangan emosional dan
ciri-cirinya, Lindsay C. Gibson
membawa kita lebih dalam.
Pertama, ia mengelompokkan
orang tua yang tidak matang
ke dalam empat tipe spesifik.
Kedua, ia menjelaskan dua gaya
bertahan hidup yang dikembangkan
oleh anak-anak sebagai respons
terhadap lingkungan yang
menantang ini.
Bab 3: Empat Tipe Orang Tua
yang Tidak Matang Secara
Emosional
Gibson menekankan bahwa tidak
semua orang tua yang tidak
matang itu sama. Meskipun mereka
berbagi ciri-ciri dasar yang sama,
ekspresi dari ketidakmatangan
mereka bisa sangat berbeda. Untuk
membantu kita mengidentifikasi
dan memahami pengalaman kita
sendiri, Gibson membagi mereka
ke dalam empat tipe utama. Penting
untuk diingat bahwa satu orang tua
bisa memiliki ciri campuran dari
beberapa tipe.
1. Orang Tua Emosional
(The Emotional Parent)
Ini adalah tipe yang paling mudah
dikenali karena emosi mereka selalu
meledak-ledak dan tidak stabil.
Seperti anak kecil yang belum
belajar mengelola perasaannya,
orang tua emosional dikuasai oleh
perasaan mereka sendiri.
Suasana hati mereka adalah pusat
gravitasi keluarga. Seluruh anggota
keluarga harus terus-menerus
menyesuaikan diri dengan perasaan
orang tua ini, berjalan di atas kulit
telur agar tidak memicu ledakan.
Mereka sangat dramatis. Masalah
kecil bisa dibesar-besarkan menjadi
krisis besar. Mereka bisa tertawa
riang di satu menit, lalu menangis
histeris atau berteriak marah
di menit berikutnya. Dunia mereka
sangat hitam-putih; seseorang bisa
menjadi pahlawan di satu hari dan
musuh bebuyutan di hari berikutnya.
Bagi anak, ini sangat membingungkan
dan menakutkan. Anak tidak pernah
tahu versi mana dari orang tua mereka
yang akan muncul hari ini.
Contoh: Seorang ibu merencanakan
pesta ulang tahun untuk anaknya.
Ketika kue ulang tahun yang dipesan
datangnya terlambat, ia langsung
menangis histeris dan berteriak
bahwa seluruh pesta telah hancur dan
tidak ada yang peduli padanya.
Anaknya, yang seharusnya menjadi
pusat perhatian, justru sibuk
menenangkan ibunya, merasa bersalah
atas kekecewaan yang bukan
kesalahannya.
2. Orang Tua Ambisius
(The Driven Parent)
Orang tua tipe ini terlihat sangat baik
dan normal dari luar. Mereka adalah
warga negara yang produktif,
pekerja keras, dan mungkin sangat
dihormati di komunitasnya.
Masalahnya terletak pada obsesi
mereka terhadap pencapaian. Mereka
menyamakan nilai seorang manusia,
termasuk anak mereka sendiri,
dengan apa yang mereka capai.
Hati dan jiwa anak tidak lagi menjadi
prioritas; yang penting adalah nilai
ujian, piala, dan daftar prestasi.
Mereka sibuk tanpa henti dan
sering kali tidak hadir secara
emosional meskipun ada secara fisik.
Mereka mungkin datang ke setiap
pertandingan olahraga anak, tetapi
hanya untuk memastikan anaknya
menang. Percakapan mereka selalu
berkisar pada target, perbaikan,
dan apa yang kurang. Cinta mereka
terasa bersyarat, tergantung pada
seberapa baik anak memenuhi
standar mereka.
Contoh: Seorang ayah mendatangi
anaknya setelah pertunjukan piano.
Alih-alih mengatakan betapa indah
permainannya, kalimat pertamanya
adalah, “Kamu memainkan bagian
akhir dengan baik, tapi kamu salah
nada di menit ketiga. Latihanmu
harus ditambah jika ingin menang
kompetisi bulan depan.” Sang anak,
yang sudah berlatih keras, merasa
bahwa usahanya tidak pernah cukup.
3. Orang Tua Pasif
(The Passive Parent)
Orang tua tipe ini mungkin yang
paling sulit dikenali dan paling
membuat anak frustrasi. Mereka
tidak menyerang atau meneriaki anak.
Mereka adalah “orang tua yang baik”
di permukaan. Masalahnya adalah,
mereka menghindari segala bentuk
konflik atau situasi sulit dengan
cara apa pun. Mereka adalah para
penonton dalam keluarga sendiri.
Ketika orang tua yang lain
(sering kali tipe Emosional atau
Menolak) berlaku kasar atau tidak
adil, orang tua pasif akan menunduk,
diam, atau meninggalkan ruangan.
Mereka tidak akan turun tangan
untuk melindungi anak.
Mereka mengabaikan masalah dan
berpura-pura semuanya baik-baik
saja. Anak-anak dari orang tua
pasif sering kali merasa dikhianati,
karena meskipun orang tua ini
mungkin lebih hangat, mereka tidak
pernah menggunakan kekuatan
mereka sebagai orang dewasa untuk
menciptakan lingkungan yang aman.
Mereka membiarkan anak-anak
mereka menanggung sendiri beban
emosional dan pelecehan.
Contoh: Seorang ayah sering pulang
kerja dan marah-marah, mengkritik
anaknya dengan kejam. Ibunya, yang
melihat semua ini, hanya diam dan
setelahnya berbisik kepada anaknya,
“Kamu tahu bagaimana sifat ayahmu.
Sabar saja, ya. Jangan dilawan, nanti
lebih buruk.” Sang ibu tidak pernah
sekali pun berdiri di antara anak
dan ayahnya.
4. Orang Tua Menolak
(The Rejecting Parent)
Ini adalah tipe yang paling kejam dan
paling jelas. Orang tua menolak tidak
menginginkan hubungan emosional
dengan anak mereka. Kehadiran anak
terasa seperti beban dan gangguan
yang tidak diinginkan. Mereka secara
terbuka menghina, meremehkan,
dan menolak keintiman. Mereka
mungkin menyediakan kebutuhan
fisik, tetapi tidak ada kehangatan,
tidak ada pelukan, dan tidak ada
kata-kata sayang.
Mereka tidak mentoleransi kebutuhan
emosional anak. Seorang anak yang
menangis atau menunjukkan
kerentanan akan dimarahi, diejek,
atau diabaikan. Tindakan mereka
mengirimkan pesan yang sangat
jelas dan menghancurkan:
“Kamu tidak diinginkan. Kamu
adalah sebuah kesalahan.
Jangan membebani aku.”
Contoh: Seorang anak perempuan
menangis karena diejek
teman-temannya di sekolah.
Ia mendatangi ayahnya, mencari
penghiburan. Sang ayah menatapnya
dengan dingin dan berkata,
“Berhenti menangis. Kamu terlihat
jelek. Dunia ini kejam, jadi biasakan
dirimu. Jangan datang padaku
dengan masalahmu.” Sang anak
belajar bahwa rasa sakitnya tidak
penting dan bahwa ia sendirian.
Bab 4: Internalizer dan
Externalizer
– Dua Gaya Bertahan Hidup
Menghadapi lingkungan yang tidak
matang secara emosional, anak-anak
tidak bisa melawan atau melarikan
diri. Mereka harus bertahan hidup.
Gibson menemukan bahwa
anak-anak umumnya
mengembangkan salah satu dari dua
strategi koping utama: menjadi
Internalizer atau Externalizer.
Ini adalah respons terhadap rasa
sakit, dan pilihan ini sangat
menentukan bagaimana mereka
akan berhubungan dengan diri
sendiri dan dunia saat dewasa.
Internalizer: Menyalahkan
Diri Sendiri dan Bekerja
Keras untuk Dicintai
Ketika sesuatu yang buruk terjadi,
respons pertama seorang
internalizer adalah melihat ke dalam.
“Apa yang salah dengan diriku?
Apa yang bisa aku perbaiki?”
Mereka cenderung menyalahkan diri
sendiri atas masalah keluarga.
Mereka berpikir, “Jika aku bisa
menjadi anak yang lebih baik, lebih
pintar, lebih tenang, maka ayah
tidak akan marah” atau “Jika aku
tidak meminta perhatian, ibu tidak
akan sedih.” Mereka sangat suka
introspeksi dan berusaha keras
memperbaiki diri agar dicintai.
Mereka adalah “anak dewasa” yang
sangat mandiri secara emosional,
tetapi menderita dalam diam.
Contoh respons internalizer: Seorang
anak laki-laki pulang ke rumah
dengan nilai ujian yang buruk.
Orang tuanya mengkritiknya dengan
tajam. Alih-alih marah, ia berpikir,
“Mereka benar. Aku memang malas
dan bodoh. Aku harus belajar lebih
keras. Aku harus lebih disiplin
mulai sekarang.”
Externalizer: Menyalahkan
Dunia Luar dan Menuntut
Orang Lain Menyelesaikan
Masalah
Kebalikannya, externalizer
menghindari rasa sakit dengan
mengarahkannya ke luar.
Jika sesuatu berjalan salah, itu pasti
kesalahan orang lain, keadaan, atau
nasib buruk. Mereka kurang
merefleksikan diri dan sering
menuntut orang lain menyelesaikan
masalah mereka. Gaya ini lebih
mirip dengan ketidakmatangan
orang tua dan jarang mencari bantuan
karena mereka tidak percaya ada yang
salah dengan diri mereka. Masalahnya
selalu ada di luar sana.
Contoh respons externalizer:
Seorang anak laki-laki pulang
ke rumah dengan nilai ujian yang
buruk. Orang tuanya mengkritiknya
dengan tajam. Ia langsung
membalas dengan marah,
“Itu bukan salahku!
Gurunya tidak jelas menjelaskan soal
ujiannya!
Dan kalian tidak pernah membantuku
belajar! Kalian yang salah!”
Sahabat, Bab 3 dan 4 ini adalah inti
dari diagnosa luka masa kecil.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita lanjut ngobrolin buku
Adult Children of Emotionally
Immature Parents. Kali ini,
setelah lo paham ciri-ciri orang
yang emosinya kayak anak kecil,
Lindsay C. Gibson ngajak kita
ngebedah lebih dalem.
Pertama, dia bakal ngebagi tipe-tipe
orang tua yang gak matang ke dalam
empat kategori spesifik. Terus, dia
bakal nunjukin dua gaya bertahan
hidup yang biasanya lo kembangkan
sebagai anak buat ngadepin semua
drama itu.
Bab 3: Empat Tipe Orang Tua
yang Emosinya Gak Matang
Gibson nekanin, gak semua
orang tua yang emosinya kayak anak
kecil itu sama. Walaupun mereka
punya ciri dasar yang mirip,
wujudnya bisa beda-beda banget.
Biar lo lebih gampang ngenalinnya,
dia bagi jadi empat tipe. Tapi inget,
bisa aja satu orang tua punya
campuran dari beberapa tipe.
Tipe pertama,
Orang Tua Emosional.
Ini tipe yang paling gampang dikenali
karena emosinya kayak roller coaster,
gak stabil banget. Kayak balita yang
belum bisa ngendaliin perasaannya,
mereka sepenuhnya dikuasai sama
emosi sendiri. Mood mereka adalah
pusat gravitasi di rumah. Seluruh
anggota keluarga harus terus-terusan
nyesuaiin diri, kayak jalan di atas
cangkang telur, biar gak mancing
ledakan.
Mereka ini dramatis banget.
Masalah kecil bisa dibesar-besarin
jadi krisis akbar. Satu menit mereka
bisa ketawa lepas, menit berikutnya
nangis histeris atau teriak marah.
Dunia mereka cuma hitam dan
putih. Lo bisa jadi pahlawan
kesayangan hari ini, terus jadi
musuh bebuyutan besoknya.
Buat lo sebagai anak, ini jelas super
membingungkan dan bikin takut.
Lo gak pernah tau “versi” orang tua
yang mana yang bakal lo temui
hari ini.
Contohnya gini: Seorang ibu lagi sibuk
rencanain pesta ulang tahun anaknya.
Pas kue yang dipesan telat dateng, dia
langsung nangis histeris, teriak-teriak
kalau seluruh pesta udah hancur dan
gak ada yang peduli sama dia. Lo,
yang harusnya jadi pusat perhatian,
malah sibuk nenangin dia. Lo jadi
ngerasa bersalah atas kekecewaan
yang jelas-jelas bukan salah lo.
Tipe kedua, Orang Tua Ambisius.
Nah, kalo yang ini, dari luar
keliatannya baik-baik aja dan
normal. Mereka orang yang
produktif, pekerja keras, dan
mungkin disegani di komunitasnya.
Masalahnya, mereka OBSESI berat
sama pencapaian. Mereka nyamain
nilai seorang manusia, termasuk lo
sebagai anak, dari apa yang lo capai.
Hati dan jiwa lo gak lagi jadi
prioritas. Yang penting nilai ujian lo
gede, piala lo banyak, dan daftar
prestasi lo panjang.
Mereka sibuk terus tanpa henti dan
seringkali gak hadir secara emosi,
walaupun badannya ada. Mereka
mungkin dateng ke setiap
pertandingan olahraga lo, tapi cuma
buat mastiin lo menang. Isi obrolan
mereka selalu soal target, perbaikan,
dan apa yang kurang dari diri lo.
Cinta mereka itu terasa ada
syaratnya. Lo berharga cuma kalo
lo memenuhi standar mereka.
Contohnya: Seorang ayah datengin
anaknya habis pertunjukan piano.
Bukannya bilang permainannya
indah, kalimat pertamanya malah,
“Kamu mainin bagian akhirnya
lumayan, tapi kamu salah nada
di menit ketiga. Latihan kamu harus
ditambah kalo mau menang
kompetisi bulan depan.”
Lo, yang udah latihan mati-matian,
ngerasa bahwa usaha lo gak pernah
cukup.
Tipe ketiga, Orang Tua Pasif.
Ini mungkin tipe yang paling susah
dikenali dan paling bikin lo gregetan.
Mereka gak nyerang atau
teriak-teriak ke lo. Mereka keliatannya
“orang tua yang baik”. Masalahnya,
mereka tuh MENGHINDARI segala
bentuk konflik atau situasi sulit
dengan cara apapun. Mereka jadi
PENONTON di keluarga sendiri.
Pas orang tua yang lain
(seringkali yang tipe Emosional
atau Menolak) mulai kasar atau
gak adil, orang tua pasif ini cuma
bisa nunduk, diem, atau malah
ninggalin ruangan. Mereka gak
akan pernah turun tangan buat
ngelindungin lo.
Mereka mengabaikan masalah dan
pura-pura semuanya baik-baik aja.
Lo sebagai anak dari orang tua tipe
ini seringkali ngerasa DIKHIANATI.
Karena walaupun mereka mungkin
lebih hangat, mereka gak pernah
pake kekuatan mereka sebagai
orang dewasa buat nyiptain
lingkungan yang aman buat lo.
Mereka ngebiarin lo nanggung
sendiri beban emosi.
Contohnya: Seorang ayah sering
pulang kerja dan marah-marah,
ngritik lo dengan kejam. Ibu lo,
yang ngeliat semua ini, cuma diem.
Setelahnya, dia cuma bisa bisikin
ke lo, “Kamu tau kan gimana sifat
ayahmu. Sabar aja ya. Jangan
dilawan, nanti tambah parah.”
Ibu lo gak pernah sekali pun
berdiri di antara lo dan ayah lo.
Tipe keempat,
Orang Tua Menolak.
Ini tipe yang paling jelas dan paling
kejam. Mereka emang gak
menginginkan hubungan emosional
sama lo. Kehadiran lo terasa kayak
beban dan gangguan yang gak
diinginkan. Mereka secara
terang-terangan menghina,
meremehkan, dan menolak
keintiman. Mereka mungkin masih
ngasih makan dan tempat tinggal,
tapi gak ada kehangatan, gak ada
pelukan, gak ada kata-kata sayang.
Mereka gak mentoleransi kebutuhan
emosional lo. Kalo lo nangis atau
nunjukin kerentanan, lo bakal
dimarahin, diejek, atau malah
diabaikan. Tindakan mereka ngirim
pesan yang sangat jelas dan
ngancurin: “Lo itu gak diinginkan.
Lo itu sebuah kesalahan. Jangan
jadi beban buat gue.”
Contohnya: Seorang anak perempuan
nangis karena diejek
temen-temennya di sekolah.
Dia dateng ke ayahnya, nyari pelukan.
Si ayah malah natap dia dengan
dingin dan bilang, “Berhenti nangis.
Kamu kelihatan jelek. Dunia ini
kejam, biasakan dirimu.
Jangan dateng ke gue dengan
masalahmu.” Lo belajar dengan cara
yang paling kejam bahwa rasa sakit
lo gak penting dan bahwa lo sendirian.
Bab 4: Lo Tipe yang Mana?
Si Penyalah Diri atau
Si Penyalah Dunia?
Nah, ngadepin lingkungan yang kayak
roller coaster emosi kayak gitu,
lo sebagai anak kecil gak bisa
ngelawan atau kabur. Lo terpaksa
harus bertahan. Gibson nemuin bahwa
secara umum, anak-anak ngembangin
salah satu dari dua strategi koping
utama: jadi Internalizer atau
Externalizer. Ini adalah respons
otomatis lo terhadap rasa sakit, dan
pilihan ini ngebentuk banget gimana
lo ngejalanin hubungan pas dewasa.
Pertama, Si Internalizer:
Ahli Nyalahin Diri Sendiri dan
Kerja Keras Biar Dicintai.
Pas sesuatu yang buruk terjadi,
respons pertama seorang internalizer
adalah NGELIAT KE DALAM.
“Apa yang salah dari gue?
Apa yang bisa gue perbaiki?”
Mereka cenderung MENYALAHKAN
DIRI SENDIRI atas masalah keluarga.
Mereka mikir, “Kalo gue bisa jadi
anak yang lebih baik, lebih pinter,
lebih anteng, pasti ayah gak bakal
marah,” atau “Kalo gue gak minta
perhatian mulu, ibu gak bakal sedih.”
Mereka ini jago banget introspeksi
dan usaha mati-matian buat
memperbaiki diri biar dicintai.
Mereka adalah “anak dewasa” yang
super mandiri secara emosi, tapi
menderita dalam diam.
Contoh respons internalizer:
Lo pulang ke rumah dengan nilai ujian
jelek. Orang tua lo langsung ngomel
dan ngritik lo habis-habisan.
Bukannya marah, lo malah mikir,
“Mereka bener. Gue emang males dan
bodoh. Gue harus belajar lebih keras.
Gue harus lebih disiplin mulai
sekarang.”
Kedua, Si Externalizer:
Ahli Nunjuk ke Luar dan Nuntut
Orang Lain Beresin.
Kebalikannya, externalizer
menghindari rasa sakit dengan
NGARAHINNYA KE LUAR. Kalo ada
yang salah, itu pasti salah orang lain,
salah keadaan, atau sial. Mereka
jarang ngaca. Mereka sering nuntut
orang lain buat nyelesain masalah
mereka. Gaya ini lebih mirip sama
ketidakmatangan orang tua mereka
sendiri. Mereka juga jarang nyari
bantuan karena mereka gak percaya
kalo ada yang salah dari diri mereka.
Masalahnya selalu ada di “luar sana”.
Contoh respons externalizer:
Lo pulang ke rumah dengan nilai
ujian jelek. Orang tua lo langsung
ngomel dan ngritik lo habis-habisan.
Lo langsung balas dengan marah,
“Itu bukan salah gue! Gurunya yang
gak jelas ngasih soal ujian! Terus,
kalian juga gak pernah bantuin gue
belajar! Kalian yang salah!”
Jadi, dua bab ini sebetulnya kayak
alat buat lo ngediagnosa luka masa
kecil. Lo mulai bisa ngeh,
“Oh, bokap gue tipe yang ini,” atau
“Oh, ternyata gue selama ini jadi
internalizer.” Paham kan sekarang
bedanya?
