Cara Membeli Saat Krisis
Pandemi COVID-19 mengguncang
dunia, termasuk pasar keuangan
global. Pada 23 Maret 2020, indeks
S&P 500 di Amerika Serikat turun
hingga 33% dari posisi tertingginya.
Bagi investor, saat itu merupakan
ujian besar: apakah akan panik dan
menjual semua aset, atau tetap
tenang dan mempertahankan
investasi di tengah ketidakpastian
besar akibat lockdown dan
penutupan bisnis.
Dalam situasi seperti itu, banyak orang
teringat pada kalimat terkenal dari
Baron Rothschild, seorang bankir
abad ke-18: “Waktu terbaik untuk
berinvestasi adalah ketika darah
mengalir di jalanan.” Maksudnya,
peluang terbesar justru muncul saat
ketakutan sedang memuncak dan
harga-harga sedang jatuh. Saat pasar
anjlok, saham-saham berkualitas
sering kali dijual murah dan ketika
situasi pulih, nilainya bisa melonjak
tajam.
Sejarah menunjukkan hal yang sama.
Misalnya, jika seseorang
menginvestasikan $100 setiap bulan
di pasar saham AS dari September
1929 hingga November 1936 masa
yang mencakup krisis besar tahun
1929 dan pemulihannya maka setiap
setoran bulanan itu akan tumbuh
pesat pada akhir periode tersebut.
Investasi yang dilakukan pada titik
terendah, sekitar musim panas 1932,
mengalami pertumbuhan paling
besar: setiap $100 menjadi sekitar
$440 pada tahun 1936, atau lebih
dari empat kali lipat. Pola ini berulang
dalam banyak krisis: setelah pasar
jatuh, kenaikan berikutnya sering
mencapai 50% hingga 100% dalam
masa pemulihan.
Fenomena ini dapat dijelaskan secara
matematis. Untuk memulihkan
kerugian, diperlukan kenaikan yang
lebih besar dari persentase
penurunannya. Jika pasar turun 10%,
dibutuhkan kenaikan 11,1% untuk
kembali ke titik semula. Jika turun
20%, diperlukan kenaikan 25%. Dan
jika turun 50%, dibutuhkan kenaikan
100% hanya untuk menutup kerugian
itu. Karena itu, saat pasar jatuh dalam,
potensi keuntungannya juga bisa jauh
lebih besar saat harga pulih.
Contohnya kembali terlihat pada
Maret 2020. Ketika S&P 500 turun
33%, dibutuhkan kenaikan sekitar
50% untuk kembali ke level
sebelumnya dan hal itu benar-benar
terjadi hanya dalam waktu enam
bulan. Investor yang berani membeli
saat pasar terpuruk pada periode
tersebut melihat nilai investasinya
naik 50% dalam setengah tahun.
Data historis mendukung pola ini.
Antara tahun 1920 hingga 2020,
setiap kali pasar saham turun lebih
dari 30%, peluang untuk mendapat
imbal hasil tahunan di bawah 5%
hanya sekitar 10%. Lebih dari
separuh waktu, investor yang
membeli pada masa itu justru meraih
imbal hasil tahunan di atas 10%.
Bahkan ketika pasar jatuh 50%,
kemungkinan memperoleh hasil
tahunan di atas 25% mencapai lebih
dari 50%. Artinya, penurunan besar
justru sering menjadi peluang terbaik
untuk membeli, bukan saat untuk
berhenti.
Studi global dari 39 negara antara
1814 hingga 2019 juga menunjukkan
bahwa kemungkinan inflasi
mengalahkan hasil jangka panjang
pasar saham hanya sekitar 12%.
Dengan kata lain, dalam jangka
30 tahun, peluang investasi saham
menghasilkan nilai riil positif jauh
lebih besar daripada risiko tergerus
inflasi.
Banyak orang khawatir tentang
kemungkinan membeli di waktu yang
“salah”. Namun, bahkan dalam
contoh ekstrem seperti pasar saham
Jepang yang mencapai puncak pada
Desember 1989 dan kemudian
mengalami stagnasi panjang, investor
yang berinvestasi sedikit demi sedikit
misalnya $1 per hari dari 1980 hingga
2020 tetap memperoleh hasil positif
meskipun pasar tidak pernah pulih
sepenuhnya. Hal ini menunjukkan
kekuatan konsistensi: membeli secara
rutin tanpa berhenti akan mengurangi
risiko waktu yang tidak tepat dan
memberi peluang hasil yang stabil.
Pesan utama dari bab ini sederhana
namun kuat: krisis bukan alasan
untuk berhenti berinvestasi. Justru
saat harga sedang rendah dan rasa
takut mendominasi, kesempatan
besar sedang terbuka. Pasar pada
akhirnya akan pulih, dan mereka
yang tetap membeli saat orang lain
ragu biasanya menjadi pemenang.
Karena pada akhirnya, mereka yang
terus membeli di masa sulit tidak
hanya bertahan mereka membangun
kekayaan sejati.~~~
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Bayangkan kamu suka berbelanja
di pasar. Setiap hari kamu melihat
harga buah-buahan dan sayuran
yang naik-turun. Kadang mahal,
kadang murah. Nah, berinvestasi
di pasar saham sebenarnya mirip
seperti itu. Tapi bedanya, ketika
harga saham sedang “diskon
besar-besaran”, kebanyakan orang
justru panik dan tidak mau membeli,
padahal itulah saat terbaik untuk
berbelanja.
Coba bayangkan kamu ingin membeli
beras yang biasanya seharga
Rp15.000 per kilo. Tiba-tiba harganya
turun jadi Rp10.000 karena
orang-orang takut stoknya
kebanyakan atau karena isu panen
melimpah. Kalau kamu tahu beras itu
tetap bagus dan pasti dibutuhkan
banyak orang, tentu kamu akan
senang bisa beli lebih banyak dengan
harga murah, bukan? Hal yang sama
terjadi saat pasar saham turun.
Ketika semua orang takut dan menjual,
saham-saham bagus justru jadi lebih
murah dan inilah waktu terbaik untuk
membeli.
Itulah yang terjadi saat pandemi
COVID-19 tahun 2020. Dunia panik,
ekonomi berhenti, dan harga saham
jatuh sampai sepertiganya. Banyak
orang menjual semua investasinya
karena takut. Tapi sebagian kecil
investor yang tetap tenang, bahkan
menambah pembelian, akhirnya
melihat investasinya naik 50%
hanya dalam enam bulan. Sama
seperti orang yang membeli beras
di harga murah lalu menjualnya
lagi saat harga kembali normal.
Kenapa bisa begitu? Karena untuk
pulih dari kerugian, dibutuhkan
kenaikan yang jauh lebih besar.
Ibarat kamu jatuh ke dalam lubang
sedalam dua meter, kamu harus
naik dua meter penuh untuk keluar.
Tapi kalau kamu jatuh lebih dalam,
misalnya lima meter, maka
usahamu untuk keluar juga harus
lebih besar. Dalam pasar saham,
semakin dalam harga turun, semakin
besar pula potensi kenaikan saat
nanti pulih. Jadi ketika semua orang
takut “jatuh lebih dalam”, sebenarnya
peluang untuk naik justru semakin
besar.
Masalahnya, kebanyakan orang baru
berani membeli ketika situasi sudah
tenang, harga sudah naik, dan
“diskonnya” sudah habis. Padahal
investor hebat seperti Baron
Rothschild punya prinsip sebaliknya:
waktu terbaik untuk membeli adalah
ketika semua orang takut. Saat
“darah mengalir di jalanan”, istilahnya
yaitu ketika ekonomi sedang kacau
dan harga jatuh tajam justru di situlah
peluang besar bersembunyi.
Contohnya, kalau kamu berbelanja
setiap bulan tanpa berhenti kadang
harga murah, kadang mahal pada
akhirnya kamu akan mendapat harga
rata-rata yang cukup bagus. Ini
seperti kamu menabung saham
sedikit demi sedikit tanpa mencoba
menebak kapan harga akan naik atau
turun. Kalau kamu menunggu
momen “sempurna”, kamu justru
bisa kehilangan banyak kesempatan
karena tidak ada yang tahu kapan
harga benar-benar akan berubah.
Bahkan di kasus ekstrem seperti
Jepang, di mana pasar saham pernah
jatuh dan tidak pulih selama puluhan
tahun, orang yang tetap membeli
sedikit demi sedikit setiap bulan
tetap mendapatkan hasil positif.
Mengapa? Karena mereka
memanfaatkan waktu panjang dan
harga rata-rata yang lebih rendah
selama masa krisis.
Intinya, jangan takut ketika pasar
sedang turun. Anggap saja itu seperti
musim obral besar. Kalau kamu
punya uang dan tahu barangnya
bagus, itulah saat paling tepat untuk
membeli. Pasar saham pada
akhirnya akan pulih, sama seperti
harga pasar yang akan naik lagi
setelah panen lewat atau stok
menipis. Mereka yang berani
membeli saat orang lain takut
biasanya adalah mereka yang paling
banyak menikmati keuntungan saat
semuanya kembali normal.
Jadi, lain kali ketika kamu melihat
harga saham anjlok dan berita
penuh dengan ketakutan, bayangkan
saja kamu sedang berada di pasar
dengan spanduk besar bertuliskan
“Diskon 50%”. Orang lain mungkin
lari karena panik, tapi kamu tahu
ini kesempatan langka. Karena
dalam dunia investasi, keberanian
membeli di masa sulit adalah jalan
menuju kekayaan jangka panjang.~~~
