Buku Psych 101 Paul Kleinman, Sigmund Freud dan Psikoanalisis

Paul Kleinman
Sigmund Freud adalah seorang dokter
asal Austria yang hidup pada akhir
abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Ia adalah pendiri psikoanalisis,
sebuah aliran pemikiran yang
mengubah cara kita memahami
pikiran manusia. Sebelum Freud,
orang mengira bahwa mereka
sepenuhnya sadar akan apa yang
mereka pikirkan dan rasakan.
Freud membalikkan anggapan ini
sepenuhnya. Ia mengatakan bahwa
sebagian besar dari apa yang terjadi
di dalam pikiran kita berada di luar
kesadaran kita. Inilah yang
disebutnya sebagai ketidaksadaran.
Untuk membantu orang memahami
konsep ini, Freud menggunakan
sebuah perumpamaan yang sangat
terkenal. Bayangkan sebuah gunung
es yang mengapung di lautan. Bagian
puncak gunung es yang muncul
di atas permukaan air sangat kecil.
Itu adalah pikiran sadar Anda.
Ini adalah hal-hal yang Anda ketahui
dan Anda sadari saat ini. Anda tahu
Anda sedang membaca tulisan ini.
Anda tahu bahwa Anda merasa lapar
atau kenyang. Anda tahu apa yang
Anda rencanakan untuk dilakukan
nanti.
Tapi di bawah permukaan air,
ada bagian gunung es yang jauh,
jauh lebih besar. Bagian ini tidak
terlihat, tapi ia ada di sana, dan ia
sangat kuat. Inilah ketidaksadaran.
Di dalam ketidaksadaran inilah
tersimpan semua ingatan yang telah
Anda lupakan, semua pengalaman
masa kecil yang telah lama terkubur,
semua keinginan terlarang, semua
ketakutan yang tidak ingin Anda
hadapi. Anda tidak menyadari bahwa
semua ini ada di dalam diri Anda,
tapi ia memengaruhi setiap keputusan
yang Anda buat, setiap perasaan yang
Anda rasakan, dan setiap tindakan
yang Anda lakukan.
Di sinilah letak inti dari teori Freud.
Ia percaya bahwa perilaku manusia
tidak digerakkan oleh pilihan rasional
yang disadari. Perilaku manusia
digerakkan oleh kekuatan-kekuatan
tak sadar yang sangat kuat, yang
berasal dari kedalaman pikiran yang
tidak bisa kita lihat.
Tiga Bagian Pikiran: Id, Ego,
dan Superego
Untuk menjelaskan bagaimana
ketidaksadaran ini bekerja, Freud
membagi pikiran manusia menjadi
tiga bagian yang berbeda. Ketiganya
selalu berinteraksi, sering kali
bertengkar, dan dari pertengkaran
inilah lahir perilaku kita.
Id adalah bagian yang paling primitif
dan paling dasar. Id sudah ada sejak
kita lahir. Ia beroperasi sepenuhnya
di dalam ketidaksadaran. Id tidak
peduli dengan aturan, tidak peduli
dengan moral, tidak peduli dengan
kenyataan. Id hanya peduli pada
satu hal: pemuasan segera. Lapar?
Id berteriak, “Makan sekarang juga!”
Haus? Id berteriak,
“Minum sekarang juga!” Marah?
Id berteriak, “Pukul orang itu
sekarang juga!” Id bekerja
berdasarkan apa yang disebut Freud
sebagai prinsip kesenangan. Ia ingin
semua keinginan terpenuhi saat ini
juga, tanpa penundaan, tanpa
konsekuensi.
Bayangkan seorang bayi yang baru
lahir. Ketika ia lapar, ia menangis
sekeras-kerasnya. Ia tidak peduli
bahwa ibunya sedang tidur. Ia tidak
peduli bahwa waktunya belum tepat.
Ia ingin makan sekarang. Itulah id
dalam bentuknya yang paling murni.
Superego adalah kebalikan dari id.
Superego adalah suara moral di dalam
kepala kita. Ia berisi semua aturan,
nilai, dan standar yang telah kita
serap dari orang tua, guru, agama,
dan masyarakat. Superego adalah
hakim internal yang selalu mengawasi
dan menilai setiap pikiran dan
tindakan kita. Ia adalah sumber dari
rasa bersalah, rasa malu, dan rasa
bangga. Superego tidak peduli dengan
kenyataan. Ia peduli dengan
kesempurnaan moral. Id berteriak,
“Lakukan!” Superego berteriak,
“Jangan lakukan! Itu salah!”
Ego adalah penengah di antara
keduanya. Ego beroperasi
berdasarkan prinsip kenyataan.
Tugasnya adalah mendengarkan
tuntutan id yang liar, mendengarkan
kritikan superego yang keras, lalu
mencari cara untuk memuaskan id
dengan cara yang bisa diterima oleh
superego dan sesuai dengan
kenyataan di dunia luar.
Contohnya begini. Anda sedang
berjalan di toko dan melihat sebatang
cokelat yang sangat menggoda.
Id Anda langsung berteriak,
“Ambil cokelat itu! Makan sekarang!”
Superego Anda langsung membalas,
“Jangan mencuri! Mencuri itu dosa!
Kamu akan dihukum!” Ego Anda
berdiri di tengah, berpikir keras.
Akhirnya, ego menemukan solusi:
“Baiklah, kita tidak akan mencuri.
Tapi kita bisa membeli cokelat itu.
Lihat, kita punya uang di dompet.
Ayo kita bayar di kasir.”
Id puas karena bisa makan cokelat.
Superego puas karena tidak
melanggar aturan. Ego berhasil
melakukan tugasnya.
Dalam kehidupan sehari-hari,
pertengkaran antara id, ego, dan
superego ini terjadi terus-menerus
di dalam diri kita. Sebagian besar
terjadi di bawah permukaan
kesadaran. Kita hanya melihat
hasil akhirnya: sebuah keputusan,
sebuah tindakan, atau sebuah
perasaan.
Kecemasan
Konflik antara id, ego, dan superego
tidak pernah berhenti.
Ketika pertengkaran ini menjadi
terlalu intens, ketika tuntutan id
terlalu kuat atau kritikan superego
terlalu keras, ego mulai kewalahan.
Perasaan kewalahan inilah yang
disebut Freud sebagai kecemasan.
Kecemasan adalah sinyal peringatan
dari ego. Ia seperti alarm kebakaran
yang berbunyi ketika ada bahaya.
Ego memberi tahu kita bahwa ada
sesuatu yang tidak beres. Keinginan
id mungkin akan muncul
ke permukaan dan menyebabkan kita
melakukan sesuatu yang memalukan
atau berbahaya. Atau superego
mungkin akan menghukum kita
dengan rasa bersalah yang luar biasa.
Ego merasa terancam, dan ancaman
itu muncul dalam bentuk kecemasan.
Freud membagi kecemasan menjadi
tiga jenis. Kecemasan realistik adalah
ketakutan terhadap bahaya nyata
di dunia luar, seperti takut ditabrak
mobil atau takut digigit anjing.
Kecemasan neurotik adalah ketakutan
bahwa id akan lepas kendali dan
membuat kita melakukan sesuatu
yang akan dihukum. Kecemasan moral
adalah ketakutan terhadap hukuman
dari superego, yang muncul sebagai
rasa bersalah atau rasa malu.
Mekanisme Pertahanan
Ego tidak tinggal diam saat
menghadapi kecemasan. Ia memiliki
senjata rahasia yang disebut
mekanisme pertahanan.
Ini adalah strategi mental yang
digunakan ego untuk melindungi
dirinya sendiri dari kecemasan yang
berlebihan. Semua mekanisme
pertahanan bekerja di bawah sadar.
Kita tidak secara sadar memilih
untuk menggunakannya. Ia terjadi
secara otomatis.
Represi adalah mekanisme
pertahanan yang paling dasar dan
paling penting. Represi adalah
tindakan mendorong pikiran, ingatan,
atau keinginan yang mengancam
ke dalam ketidaksadaran,
menguncinya di sana, dan
melupakannya sepenuhnya.
Ini seperti menyapu sampah
ke bawah karpet. Sampahnya tidak
hilang. Ia masih ada di sana. Tapi
Anda tidak bisa melihatnya lagi.
Contohnya, seorang anak yang
pernah mengalami pelecehan
mungkin akan sepenuhnya
melupakan kejadian itu saat ia
dewasa. Ingatan itu terlalu
menyakitkan untuk dihadapi, jadi ego
menguncinya di dalam
ketidaksadaran. Tapi ingatan yang
direpresi tidak benar-benar hilang.
Ia bisa muncul kembali dalam bentuk
mimpi buruk, dalam bentuk
kecemasan yang tidak bisa dijelaskan,
atau dalam bentuk gejala fisik.
Proyeksi adalah mekanisme di mana
kita mengambil pikiran atau perasaan
kita sendiri yang tidak bisa kita terima,
lalu melemparkannya kepada
orang lain. Dengan cara ini, kita tidak
perlu menghadapi kenyataan bahwa
perasaan itu adalah milik kita.
Contoh klasiknya adalah seorang
suami yang sebenarnya memiliki
keinginan untuk berselingkuh. Tapi
mengakui keinginan ini pada diri
sendiri terlalu mengancam.
Superego-nya tidak akan
menerimanya. Jadi, alih-alih
mengakui keinginannya sendiri,
ia mulai menuduh istrinya yang ingin
berselingkuh. Ia melihat istrinya
berbicara dengan pria lain dan
langsung curiga. Ia menuduh istrinya
tidak setia. Padahal, keinginan untuk
tidak setia itu ada di dalam dirinya
sendiri. Ia hanya melemparkannya
kepada istrinya agar ia tidak perlu
menghadapinya.
Selain represi dan proyeksi,
ada banyak mekanisme
pertahanan lain. Penyangkalan
adalah menolak untuk menerima
kenyataan yang menyakitkan.
Seseorang yang baru didiagnosis
penyakit serius mungkin akan
berkata,
“Ini pasti salah. Hasil tesnya pasti
tertukar.” Rasionalisasi adalah
menciptakan alasan yang masuk akal
untuk menutupi alasan sebenarnya
yang tidak bisa diterima.
Seorang siswa yang gagal ujian
mungkin berkata,
“Ujiannya memang tidak adil,”
daripada mengakui bahwa ia tidak
belajar dengan cukup. Pengalihan
adalah melampiaskan perasaan
pada target yang lebih aman.
Seorang karyawan yang dimarahi bos
tidak berani melawan. Ia pulang
ke rumah dan membentak istrinya.
Istrinya kemudian membentak
anaknya. Anaknya kemudian
menendang anjingnya. Itulah
pengalihan.
Semua mekanisme ini bekerja dengan
cara yang sama. Mereka melindungi
ego dari kecemasan dengan cara
memutarbalikkan kenyataan.
Dalam dosis kecil, mekanisme
pertahanan adalah hal yang sehat.
Ia membantu kita melewati
masa-masa sulit. Tapi jika digunakan
secara berlebihan, ia bisa menjadi
masalah. Orang yang terus-menerus
menyangkal kenyataan atau
terus-menerus memproyeksikan
perasaannya kepada orang lain akan
kesulitan membangun hubungan
yang sehat dan menjalani kehidupan
yang memuaskan.
Tahap Perkembangan
Psikoseksual
Freud percaya bahwa kepribadian kita
dibentuk oleh pengalaman kita
di masa kanak-kanak. Tapi bukan
sembarang pengalaman.
Freud berfokus pada bagaimana
anak-anak belajar mengelola
dorongan-dorongan biologis mereka.
Ia merumuskan lima tahap
perkembangan yang disebutnya
sebagai tahap psikoseksual.
Setiap tahap berfokus pada area
tubuh tertentu yang menjadi sumber
kenikmatan. Cara anak melewati
setiap tahap akan memengaruhi
kepribadiannya saat dewasa.
Tahap Oral berlangsung dari lahir
sampai usia sekitar satu setengah
tahun. Di tahap ini, sumber
kenikmatan utama bayi adalah
mulut. Bayi mendapatkan
kenikmatan dari mengisap, menggigit,
dan memasukkan benda ke dalam
mulutnya. Jika bayi mendapatkan
terlalu sedikit atau terlalu banyak
kenikmatan di tahap ini, ia bisa
mengalami fiksasi. Orang dewasa
yang terfiksasi di tahap oral mungkin
akan memiliki kebiasaan seperti
merokok, menggigit kuku, makan
berlebihan, atau terus-menerus
mengunyah sesuatu. Mereka juga
mungkin menjadi sangat bergantung
pada orang lain atau justru sangat
sarkastik dan suka “menggigit”
dengan kata-kata.
“Suka ‘menggigit’ dengan kata-kata”
adalah istilah untuk menggambarkan
seseorang yang sering melontarkan
sindiran tajam, sarkasme, atau kritik
pedas. Kata-katanya tidak bersifat
fisik, tapi bisa terasa menyakitkan
atau menusuk, persis seperti gigitan.
Dalam psikologi Freud, ini bisa jadi
merupakan pelampiasan dari fiksasi
di tahap oral, di mana kenikmatan
dan agresi awalnya berpusat di mulut.
Contoh sederhana dalam percakapan:
Teman Anda datang dengan potongan
rambut baru. Alih-alih berkomentar
netral, orang dengan sifat “menggigit”
akan berkata, “Wah, potongan baru ya?
Bagus juga, berani banget kamu keluar
rumah dengan model begitu.”
Kalimat ini terdengar seperti pujian
di awal, tapi sebenarnya menusuk.
Ini adalah cara meluapkan agresi
verbal, bukan agresi fisik seperti
menggigit.
Tahap Anal berlangsung dari usia
sekitar satu setengah tahun sampai
tiga tahun. Di tahap ini, fokus
kenikmatan bergeser ke anus.
Anak belajar mengendalikan buang
air besar. Ini adalah pertama kalinya
anak berhadapan dengan tuntutan
dari luar untuk mengendalikan
dorongan biologisnya. Cara orang
tua menangani latihan buang air
sangat penting. Orang tua yang
terlalu keras dan menuntut bisa
menghasilkan anak yang tumbuh
menjadi orang dewasa yang obsesif,
perfeksionis, dan sangat teratur.
Orang tua yang terlalu longgar bisa
menghasilkan anak yang tumbuh
menjadi orang dewasa yang
berantakan, boros, dan tidak
teratur.
Tahap Phallic berlangsung dari
usia tiga sampai enam tahun.
Di tahap ini, anak mulai menyadari
perbedaan jenis kelamin.
Freud mengajukan konsep yang
sangat kontroversial di sini, yaitu
Oedipus complex untuk anak
laki-laki. Ia berteori bahwa
anak laki-laki kecil memiliki
ketertarikan bawah sadar pada
ibunya dan melihat ayahnya sebagai
saingan. Karena takut dihukum oleh
ayah, anak laki-laki itu menekan
perasaannya dan mulai
mengidentifikasi diri dengan ayahnya,
meniru perilaku dan nilai-nilainya.
Proses identifikasi inilah yang
menanamkan superego.
Anak perempuan mengalami proses
serupa yang disebut Electra complex.
Tahap Latency berlangsung dari
usia enam tahun sampai pubertas.
Di tahap ini, dorongan seksual untuk
sementara mereda. Anak-anak lebih
fokus pada mengembangkan
keterampilan sosial, berteman
dengan sesama jenis, dan belajar
di sekolah. Ini adalah masa yang
relatif tenang secara psikoseksual.
Tahap Genital dimulai saat
pubertas dan berlanjut sepanjang sisa
hidup. Di tahap ini, dorongan seksual
bangkit kembali dan diarahkan pada
hubungan dengan orang lain.
Jika seseorang berhasil melewati
semua tahap sebelumnya dengan
baik, ia akan mampu membentuk
hubungan yang sehat dan memuaskan
dengan orang lain. Jika tidak,
ia mungkin akan mengalami kesulitan
dalam hubungan intim.
Bagi Freud, semua tahap ini sangat
penting. Setiap tahap adalah batu
loncatan. Jika satu batu goyah, seluruh
bangunan kepribadian bisa
terpengaruh. Itulah sebabnya
pengalaman masa kecil, bahkan yang
sudah lama kita lupakan, memiliki
dampak yang begitu besar pada siapa
kita saat dewasa.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
