Buku Everything Is F*cked Mark Manson, Ketika Harapan Justru Menghalangi Kita Menjalani Hidup

Mark Manson
Banyak orang hidup dengan keyakinan
bahwa masa depan akan lebih baik.
Kita memiliki harapan tentang
kehidupan yang lebih bahagia, lebih
sukses, lebih stabil, dan lebih sempurna
daripada hari ini. Harapan ini sering
dianggap sebagai kekuatan yang
mendorong manusia untuk terus
bergerak maju.
Namun Mark Manson dalam Everything
Is Fcked: A Book About Hope*
mengajukan pertanyaan yang cukup
mengejutkan: bagaimana jika
harapan itu justru menjadi
penghalang bagi kita untuk hidup
dengan lebih memuaskan?
Bagaimana jika masa depan yang kita
bayangkan sebenarnya tidak mungkin
memenuhi ekspektasi kita?
Sekilas gagasan ini terdengar pesimis.
Tetapi di balik pemikiran tersebut
terdapat pesan yang justru cukup
membebaskan. Buku ini mengajak
pembaca untuk melihat kembali cara
kita memandang harapan, kebahagiaan,
dan kehidupan itu sendiri.
Kemajuan Dunia yang Tidak
Membuat Kita Lebih Bahagia
Jika melihat kondisi dunia secara
objektif, sebenarnya manusia hidup
dalam masa yang jauh lebih baik
dibandingkan generasi sebelumnya.
Dalam beberapa dekade terakhir
terjadi banyak kemajuan besar,
terutama dalam hal:
Penurunan tingkat kemiskinan
Berkurangnya kelaparan
Turunnya angka kematian anak
Berkurangnya kekerasan dan
perangPeningkatan perlindungan hak
asasi manusia
Secara statistik, kehidupan manusia
di banyak tempat menjadi lebih aman
dan lebih stabil daripada sebelumnya.
Namun ada paradoks yang menarik.
Di tengah berbagai kemajuan tersebut,
angka depresi dan kecemasan
justru meningkat, terutama
di negara-negara maju. Banyak orang
merasa lebih cemas, lebih tertekan,
dan lebih tidak puas dengan hidup
mereka.
Mark Manson melihat salah satu
penyebabnya terletak pada cara
manusia memandang harapan.
Ketika Kebahagiaan Terikat pada
Masa Depan yang Tidak Realistis
Harapan selalu berkaitan dengan masa
depan. Kita berharap suatu hari nanti
kehidupan akan menjadi lebih baik
daripada hari ini.
Masalahnya, banyak orang mengaitkan
kebahagiaan mereka dengan gambaran
masa depan yang terlalu ideal.
Mereka membayangkan kehidupan
yang:
Sepenuhnya nyaman
Minim masalah
Penuh kesuksesan
Selalu bahagia
Ketika kehidupan nyata tidak sesuai
dengan gambaran tersebut, muncul
rasa kecewa dan frustrasi.
Akibatnya, alih-alih menikmati
kehidupan yang sedang dijalani,
banyak orang justru terus mengejar
masa depan yang mungkin tidak
pernah benar-benar ada.
Dalam proses mengejar kebahagiaan
itu, manusia justru kehilangan
kualitas penting yang sebenarnya
membantu kita bertahan dalam
kehidupan saat ini, seperti:
keberanian
kejujuran
kerendahan hati
Obsesi terhadap Kenyamanan
dan Kebahagiaan Instan
Dalam masyarakat modern, banyak
orang terobsesi dengan kenyamanan
dan kemudahan.
Ada budaya yang terus mendorong
kita untuk:
mencari cara hidup yang lebih
mudahmenemukan “life hack” untuk
segala halmenghindari kesulitan
mengejar kebahagiaan secepat
mungkin
Namun menurut Mark Manson, obsesi
terhadap kenyamanan ini justru bisa
membuat manusia kehilangan arah.
Ketika kehidupan difokuskan hanya
pada rasa nyaman, orang cenderung
menghindari tantangan, kesulitan,
dan ketidakpastian. Padahal justru
dalam menghadapi kesulitan itulah
manusia mengembangkan karakter
dan makna hidup.
Buku ini memberikan kritik yang
cukup keras terhadap budaya yang
terlalu mengejar kenyamanan dan
kebahagiaan instan. Tetapi kritik
tersebut tidak dimaksudkan untuk
menjatuhkan pembaca, melainkan
untuk membantu kita kembali fokus
pada hal-hal yang benar-benar
penting.
Kebenaran yang Tidak Nyaman
Tentang Kehidupan
Ada satu kenyataan yang sering
dihindari manusia.
Suatu hari nanti kita semua akan mati.
Bukan hanya kita, tetapi juga semua
orang yang kita kenal. Dalam skala alam
semesta yang sangat luas, banyak dari
kekhawatiran dan usaha manusia
sebenarnya tampak sangat kecil.
Menghadapi kenyataan ini sering terasa
tidak nyaman. Jika dipikirkan terlalu
jauh, seseorang bisa jatuh pada
nihilisme—perasaan bahwa hidup
tidak memiliki makna sama sekali.
Dalam kondisi seperti itu, seseorang
mungkin berpikir bahwa jika segala
sesuatu tidak berarti, maka tidak
ada alasan untuk berusaha.
Namun sepanjang sejarah manusia,
harapan sering menjadi
kekuatan yang membuat orang
tetap bertahan, bahkan dalam
situasi yang paling sulit sekalipun.
Harapan yang Menggerakkan
Keberanian
Mark Manson menceritakan kisah
seorang tokoh bernama Witold Pilecki.
Ia memiliki satu harapan besar: melihat
Polandia menjadi negara yang merdeka.
Harapan tersebut mendorongnya
melakukan sesuatu yang sangat
berbahaya. Ia secara sukarela
membiarkan dirinya ditangkap oleh
Nazi agar dapat menyusup ke kamp
konsentrasi Auschwitz.
Di sana ia menghabiskan sekitar dua
tahun dengan menyelundupkan
makanan dan obat-obatan untuk
para tahanan serta menjaga
komunikasi dengan dunia luar.
Setelah Perang Dunia II berakhir,
perjuangannya belum selesai.
Ia kembali melawan kekuatan
komunis yang menguasai Polandia.
Akibatnya ia ditangkap, disiksa selama
dua tahun, dan akhirnya dieksekusi
pada tahun 1948.
Namun bahkan ketika menghadapi
kematian, Pilecki masih memiliki
harapan. Ia mengatakan bahwa ia bisa
meninggal dengan hati yang tenang
karena telah melakukan segala yang ia
mampu untuk membantu
membebaskan negaranya.
Kisah ini menunjukkan betapa kuatnya
pengaruh harapan ketika dunia berada
dalam kondisi yang sangat gelap.
Masalah Harapan di Dunia yang
Semakin Baik
Harapan sangat berguna ketika
kehidupan penuh penderitaan
dan ketidakpastian.
Dalam kondisi tersebut, harapan
memberi manusia alasan untuk
terus bertahan.
Namun Mark Manson mengajukan
pemikiran yang menarik: bagaimana
jika harapan tidak bekerja dengan
cara yang sama ketika kondisi
kehidupan justru semakin baik?
Ketika dunia menjadi lebih aman dan
stabil, manusia tidak lagi hanya
memikirkan bagaimana cara bertahan
hidup. Sebaliknya, mereka mulai
khawatir tentang apa yang bisa hilang
dari kehidupan mereka.
Dengan kata lain, semakin banyak yang
dimiliki seseorang, semakin besar pula
rasa takut untuk kehilangannya.
Hal ini dapat menjelaskan mengapa
di banyak negara yang relatif makmur,
tingkat kecemasan dan depresi justru
meningkat selama beberapa dekade
terakhir.
Kemajuan material ternyata tidak secara
otomatis menghasilkan ketenangan batin.
Kembali pada Hal yang
Benar-Benar Penting
Melalui pemikirannya, Mark Manson
tidak berusaha menghapus harapan
sepenuhnya.
Sebaliknya, ia mengajak pembaca
untuk memikirkan kembali
bagaimana kita menggunakan
harapan dalam kehidupan.
Alih-alih menggantungkan kebahagiaan
pada masa depan yang sempurna, kita
perlu kembali pada kualitas yang
membantu manusia menghadapi
kenyataan hidup.
Beberapa di antaranya adalah:
keberanian untuk menghadapi
kesulitankejujuran terhadap diri sendiri
kerendahan hati dalam menerima
keterbatasan
Daripada terus mengejar gambaran
masa depan yang ideal, buku ini
mendorong kita untuk memperhatikan
kehidupan yang sedang
berlangsung saat ini.
Fokus pada apa yang nyata, apa yang
bisa dilakukan hari ini, dan nilai-nilai
yang membuat hidup tetap bermakna
bahkan ketika masa depan tidak pasti.
Penutup
Everything Is Fcked* mengajak
pembaca melihat kehidupan dari
sudut pandang yang tidak biasa.
Buku ini menunjukkan bahwa di tengah
dunia yang semakin maju, manusia
justru bisa kehilangan arah karena
terlalu menggantungkan kebahagiaan
pada harapan tentang masa depan.
Melalui berbagai refleksi tentang
harapan, kemajuan, dan sifat manusia,
Mark Manson mengingatkan bahwa
kehidupan tidak selalu harus sempurna
agar tetap bermakna.
Terkadang, justru dengan menerima
kenyataan hidup apa adanya dengan
segala ketidaksempurnaannya, kita
dapat menemukan cara yang lebih
jujur dan lebih kuat untuk menjalani
hari ini.
