Buku Empty Mansions Bill Dedman and Paul Clark Newell Jr., The Empty Mansion

Bill Dedman and Paul Clark Newell Jr.
Bill Dedman membuka kisah Empty
Mansions dari sebuah temuan yang
terasa ganjil di jantung kota New
York. Di Fifth Avenue, salah satu
kawasan paling mahal dan prestisius
di dunia, terdapat sebuah apartemen
mewah yang tampak tak berpenghuni
selama bertahun-tahun. Bukan
apartemen biasa, melainkan
properti bernilai puluhan juta dolar
yang seolah membeku dalam waktu.
Apartemen itu milik Huguette Clark.
Tidak ada tanda kehidupan modern
di dalamnya. Tidak ada aktivitas,
tidak ada penghuni yang lalu lalang,
dan nyaris tidak tersentuh oleh
perubahan zaman. Bagi Dedman,
kondisi ini memunculkan pertanyaan
mendasar: bagaimana mungkin
seseorang memiliki kekayaan luar
biasa, tinggal di pusat kemewahan
Manhattan, tetapi memilih untuk
meninggalkan semuanya kosong?
Dari rasa ingin tahu itulah
investigasi dimulai. Apartemen
kosong ini bukan sekadar properti
terbengkalai, melainkan pintu
masuk menuju kisah keluarga
Clark tentang kekayaan ekstrem,
isolasi, dan kehidupan yang berjalan
jauh dari sorotan publik. Dedman
menelusuri jejak kepemilikan,
dokumen, dan sejarah di balik
apartemen tersebut, yang perlahan
mengarah pada sosok Huguette
Clark, seorang ahli waris yang nyaris
tak dikenal meski hidup di tengah
kemewahan paling mutlak.
The Copper King
Untuk memahami asal-usul kekayaan
Huguette Clark, kisah harus ditarik
jauh ke belakang, kepada ayahnya:
William Andrews Clark, atau
W.A. Clark. Ia dikenal sebagai
The Copper King, seorang tokoh
yang memulai hidupnya dari kondisi
sederhana sebagai penambang,
sebelum akhirnya menjelma menjadi
salah satu orang terkaya di Amerika.
Kekayaan W.A. Clark berasal dari
industri tembaga, yang pada
masanya menjadi tulang punggung
perkembangan industri dan
infrastruktur Amerika Serikat.
Dari tambang-tambang tembaga
inilah ia membangun imperium
bisnis yang luas. Kekayaannya tidak
berhenti di sektor pertambangan,
tetapi merambah ke pembangunan
rel kereta api, kota-kota industri,
hingga kontribusi besar terhadap
pertumbuhan wilayah seperti Butte,
Montana.
W.A. Clark juga dikenal sebagai figur
kontroversial dalam dunia politik.
Ia sempat menjadi senator, namun
perjalanan politiknya dipenuhi
kritik dan tuduhan yang
mencerminkan kerasnya persaingan
kekuasaan pada era tersebut. Meski
demikian, tidak dapat disangkal
bahwa kekayaannya berperan besar
dalam membentuk lanskap ekonomi
dan fisik Amerika Barat, termasuk
pengaruhnya terhadap
perkembangan Las Vegas dan
jaringan transportasi yang
menghubungkan wilayah-wilayah
penting.
Di balik semua itu, W.A. Clark adalah
simbol era di mana kekayaan bisa
tumbuh sangat cepat, tetapi juga
menimbulkan jarak besar antara
pemilik harta dan dunia di sekitarnya
sebuah warisan yang kelak
memengaruhi kehidupan anak
bungsunya.
The Youngest Daughter
Huguette Clark lahir ketika W.A.
Clark berusia 72 tahun. Ia adalah
anak bungsu, lahir di tengah
keluarga yang sudah mapan secara
finansial, tetapi juga berada pada
tahap akhir kehidupan sang ayah.
Kondisi ini membuat Huguette
tumbuh dengan pengalaman yang
sangat berbeda dibandingkan
anak-anak lain pada umumnya.
Ibunya, Anna LaChapelle, memiliki
latar belakang sebagai penghibur
musik klasik. Kehadiran Anna
memberi warna tersendiri dalam
kehidupan keluarga Clark,
terutama dalam memperkenalkan
dunia seni dan budaya kepada
Huguette sejak dini. Namun, meski
dikelilingi seni dan kemewahan,
kehidupan Huguette tidak
berlangsung terbuka.
Sebagai anak dari salah satu orang
terkaya di Amerika, Huguette
tumbuh dalam lingkungan yang
sangat terlindung. Dunia luar
terasa jauh, dan interaksi sosialnya
terbatas. Ia tidak dibesarkan dalam
hiruk-pikuk kehidupan publik,
melainkan dalam ruang privat yang
dikontrol ketat oleh keluarga dan
lingkaran terdekat.
Sejak awal, kehidupan Huguette
lebih banyak diwarnai oleh
kesunyian dan jarak. Kekayaan besar
yang diwariskan kepadanya bukanlah
pintu menuju kebebasan sosial,
melainkan justru menjadi dinding
yang memisahkannya dari kehidupan
normal.
A Gilded Childhood
Masa kecil Huguette Clark
berlangsung di rumah-rumah megah
yang tersebar di berbagai lokasi
prestisius, mulai dari New York City,
Connecticut, hingga California.
Setiap rumah mencerminkan
kekayaan keluarga Clark, dengan
arsitektur megah dan fasilitas
terbaik pada masanya.
Alih-alih bersekolah seperti
anak-anak lain, Huguette dididik
di rumah. Pendidikan ini
membuatnya tumbuh dalam
lingkungan yang sangat terkontrol,
tetapi juga memberinya
keistimewaan tertentu. Ia menjadi
fasih berbahasa Prancis dan
menunjukkan ketertarikan besar
pada dunia seni.
Huguette gemar menggambar dan
memiliki kecintaan khusus pada
boneka. Aktivitas-aktivitas ini
menjadi dunia pribadinya, ruang
aman tempat ia mengekspresikan
diri tanpa harus berhadapan
langsung dengan dunia luar. Minat
tersebut tidak sekadar hobi,
melainkan bagian dari identitas
yang terbentuk sejak kecil.
Masa kecil yang berlapis emas ini
tampak sempurna dari luar, tetapi
di balik kemewahan tersebut,
Huguette tumbuh dalam
kesendirian. Rumah-rumah megah,
pendidikan privat, dan kekayaan
tak terbatas membentuk kehidupan
yang indah sekaligus terisolasi
sebuah fondasi yang menjelaskan
mengapa, bertahun-tahun kemudian,
apartemen mewah di Fifth Avenue
bisa dibiarkan kosong tanpa pernah
benar-benar ditinggali.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
The Empty Mansion
Bayangkan ada rumah super
mewah di kompleks paling elit,
setara perumahan paling mahal
di kota, tapi lampunya tidak
pernah menyala, tidak ada motor
atau mobil keluar-masuk, dan
tetangga tidak pernah melihat
pemiliknya. Padahal harga rumah
itu bisa dipakai hidup nyaman
sampai tujuh turunan.
Apartemen Huguette Clark di Fifth
Avenue seperti rumah besar yang
selalu dikunci rapat, seolah
waktu berhenti di dalamnya. Tidak
ada tanda kehidupan modern
seperti orang punya smartphone
terbaru tapi tidak pernah
dinyalakan sama sekali.
Bagi Bill Dedman, ini seperti
menemukan rekening bank
dengan saldo ratusan miliar
rupiah yang tidak pernah
dipakai, bahkan untuk kebutuhan
dasar. Dari situ muncul pertanyaan
sederhana tapi mengganggu:
Kenapa orang yang punya
segalanya justru memilih
tidak memakai apa pun?
Apartemen kosong ini akhirnya
seperti benang kecil di ujung
baju, ditarik pelan-pelan, lalu
membuka kisah besar tentang
keluarga Clark tentang harta
melimpah, hidup menyendiri,
dan pilihan menjauh dari dunia.
The Copper King
Untuk memahami kekayaan
Huguette, bayangkan ayahnya,
W.A. Clark, seperti orang yang
memulai usaha dari warung
kecil, lalu tiba-tiba menguasai
seluruh pasar bahan
bangunan satu negara.
Di zamannya, tembaga itu seperti
listrik dan internet hari ini
tanpa tembaga, pabrik, rel kereta,
dan kota tidak bisa berjalan. W.A.
Clark berada di posisi orang yang
mengendalikan sumber daya
paling penting saat itu.
Dari tambang, ia memperluas
usahanya seperti pengusaha yang
tidak hanya punya pabrik, tapi
juga jalan tol, stasiun, dan kota
industri di sekitarnya. Uangnya
mengalir ke mana-mana, membuat
namanya besar dan berpengaruh.
Namun, seperti banyak orang
superkaya, ia juga kontroversial.
Masuk politik, penuh intrik, seperti
pengusaha besar yang ikut
pemilu dan dituduh main uang.
Kaya raya, berkuasa, tapi juga
menciptakan jarak dengan banyak
orang.
Warisan terbesarnya bukan hanya
uang, melainkan gaya hidup yang
jauh dari kehidupan normal
sesuatu yang kelak sangat terasa
dalam hidup anaknya.
The Youngest Daughter
Huguette Clark lahir saat ayahnya
sudah sangat tua ibarat anak kecil
yang lahir ketika ayahnya
sudah pensiun lama dan jarang
di rumah. Secara materi, ia lahir
di puncak, tapi secara kehadiran
orang tua, ia tumbuh dalam
kekosongan.
Ibunya seperti orang tua yang
ingin anaknya hidup di dunia
seni, mengenalkan musik, budaya,
dan keindahan. Namun, dunia luar
tetap dijaga jaraknya.
Huguette tumbuh seperti anak
yang tinggal di rumah besar
berpagar tinggi, semua aman,
semua tersedia, tapi tidak bebas
keluar bermain. Ia tidak hidup
seperti anak pada umumnya
tidak bergaul bebas, tidak
mengenal kehidupan sehari-hari
kebanyakan orang.
Kekayaan yang dimilikinya justru
seperti tembok tinggi, bukan
pintu. Semakin kaya, semakin
terpisah dari dunia nyata.
A Gilded Childhood
Masa kecil Huguette seperti
pindah-pindah hotel bintang
lima, dari New York ke California.
Semua indah, bersih, dan mewah
tapi terasa dingin dan sepi.
Ia tidak sekolah seperti anak lain.
Bayangkan anak yang diajar
privat di rumah terus-menerus,
pintar dan terampil, tapi jarang
bersosialisasi. Ia fasih bahasa
Prancis, jago seni, tapi dunia
pertemanannya sangat kecil.
Huguette menemukan pelarian
di menggambar dan boneka
seperti anak yang menjadikan
kamar sendiri sebagai seluruh
dunianya. Di situlah ia merasa
aman, tidak dihakimi, dan tidak
dituntut menjadi siapa-siapa.
Dari luar, hidupnya tampak
sempurna. Tapi di dalam, ia seperti
emas yang disimpan
di brankas: bernilai tinggi,
terawat, tapi tidak pernah
benar-benar digunakan.
Itulah sebabnya, bertahun-tahun
kemudian, apartemen super
mahal bisa dibiarkan kosong
karena sejak kecil, kesendirian
sudah terasa normal baginya.
