Buku Diana Andrew Morton, Michael Maloney, Masa Kecil yang Rapuh

Andrew Morton, Michael Maloney
Sahabat, kali ini kita akan menyelami
sebuah buku yang mengguncang
Kerajaan Inggris hingga ke fondasinya.
Diana: Her True Story karya
Andrew Morton bukan sekadar
biografi. Buku ini adalah kesaksian
langsung dari seorang perempuan
yang terperangkap dalam sangkar
emas, yang memutuskan untuk
membuka pintu sangkarnya sendiri
dan membiarkan dunia melihat
ke dalam. Mari kita mulai dari
Bab 1 dan Bab 2.
Bab 1: Masa Kecil yang Rapuh
Diana Frances Spencer lahir pada
tanggal 1 Juli 1961 di Park House,
sebuah rumah besar di Sandringham
Estate yang disewa keluarganya dari
Ratu Elizabeth II. Nama Spencer
adalah nama yang sudah sangat
dikenal dalam sejarah Inggris.
Keluarga ini telah mengabdi kepada
Kerajaan selama berabad-abad.
Kakek buyut Diana adalah seorang
earl, neneknya adalah dayang
kepercayaan Ibu Suri, dan ayahnya,
Johnny Spencer, adalah seorang
bangsawan yang kelak mewarisi gelar
Earl Spencer.
Namun, di balik kemewahan dan nama
besar itu, masa kecil Diana penuh
dengan retakan yang tidak terlihat dari
luar. Ibunya, Frances, adalah perempuan
yang cerdas dan cantik, tetapi terjebak
dalam pernikahan yang tidak bahagia.
Johnny Spencer, sang ayah, adalah pria
yang kaku dan dingin. Pernikahan
mereka retak perlahan, lalu hancur.
Ketika Diana berusia enam tahun,
Frances meninggalkan Park House.
Diana menyaksikan sendiri ibunya
berjalan keluar dari pintu rumah,
memasuki mobil, dan pergi.
Suara kerikil yang berderak di bawah
roda mobil itu akan terus terngiang
di telinganya selama bertahun-tahun.
Perceraian terjadi dengan pahit.
Pertarungan hak asuh anak menjadi
ajang pertempuran yang kejam.
Di pengadilan, Frances digambarkan
sebagai ibu yang tidak layak. Johnny,
dengan semua sumber daya dan
koneksinya, memenangkan hak asuh
atas keempat anaknya. Diana dan
saudara-saudaranya tetap tinggal
di Park House bersama ayah mereka.
Ibu mereka pergi.
Bagi Diana, kepergian ibunya adalah
luka pertama dan terdalam. Dalam
rekaman-rekaman wawancara yang
menjadi dasar buku ini, Diana
mengenang masa kecilnya dengan
suara yang penuh kesedihan.
Ia merasa ditinggalkan. Ia merasa
tidak diinginkan. Ia adalah anak
ketiga dari empat bersaudara, dan
dalam keluarganya, anak laki-laki
adalah prioritas. Kakak laki-lakinya,
Charles, adalah pewaris gelar dan
nama keluarga. Diana merasa dirinya
hanya pelengkap. Ia bahkan percaya
bahwa orang tuanya sebenarnya
menginginkan anak laki-laki ketika
ia lahir, dan ia adalah “kekecewaan”
karena terlahir sebagai perempuan.
Diana tumbuh menjadi gadis yang
pemalu dan canggung. Ia tidak
menonjol di sekolah. Nilai-nilainya
biasa saja, bahkan cenderung
rendah. Ia gagal dalam ujian
O-Level sebanyak dua kali.
Teman-teman sekelasnya
mengingatnya sebagai gadis yang
baik hati, suka menolong, tetapi tidak
memiliki ambisi akademis. Yang ia
sukai adalah menari, berenang,
dan merawat anak-anak kecil.
Di balik semua itu, ada seorang anak
yang terus-menerus mencari
penerimaan dan cinta, yang merasa
bahwa dirinya tidak cukup baik
untuk dicintai.
Setelah menyelesaikan pendidikannya
yang terputus-putus, Diana bekerja
sebagai asisten guru di sebuah taman
kanak-kanak di London. Ini adalah
pekerjaan yang ia cintai. Di antara
anak-anak kecil yang tertawa dan
bermain, ia menemukan kedamaian
yang tidak ia temukan di tempat lain.
Ia menyukai kepolosan mereka,
kebutuhan mereka yang sederhana,
dan cinta tanpa syarat yang mereka
berikan. Di sinilah Diana
menemukan sedikit kebahagiaan
di tengah luka masa kecilnya yang
belum sembuh.
Bab 2: Pertemuan dan
Pertunangan dengan
Sang Pangeran
Diana pertama kali bertemu dengan
Charles, Pangeran Wales, pada
tahun 1977. Saat itu, ia baru berusia
enam belas tahun. Charles, yang
berusia tiga belas tahun lebih tua,
bukanlah orang asing bagi
keluarganya. Ia sebenarnya berpacaran
dengan Sarah, kakak perempuan
Diana. Charles sering berkunjung
ke rumah keluarga Spencer di Althorp,
dan di sanalah Diana melihatnya
untuk pertama kali. Ia mengingat
Charles sebagai pria yang
“cukup lucu” dan “sedikit aneh”,
tetapi tidak lebih dari itu.
Tahun-tahun berlalu. Hubungan
Charles dengan Sarah berakhir.
Charles, yang kini berusia tiga
puluhan, berada di bawah tekanan
yang semakin besar dari keluarga
dan publik untuk segera menikah.
Sebagai pewaris takhta,
ia membutuhkan seorang istri.
Seorang istri harus memenuhi
kriteria tertentu: ia harus berasal
dari keluarga aristokrat, ia harus
perawan, ia harus cukup muda untuk
melahirkan ahli waris, dan ia harus
cukup patuh untuk menjalani
kehidupan kerajaan tanpa mengeluh.
Diana memenuhi semua kriteria itu.
Ia adalah darah biru. Ia tidak memiliki
masa lalu yang kontroversial.
Ia pemalu, manis, dan tampak mudah
diatur.
Hubungan mereka dimulai kembali
dengan cepat, bahkan terburu-buru.
Antara tahun 1980 dan awal 1981,
Charles dan Diana hanya bertemu
sekitar tiga belas kali sebelum
pertunangan mereka diumumkan.
Tiga belas kali pertemuan. Itu saja.
Dalam tiga belas pertemuan itu,
mereka tidak pernah benar-benar
berbicara. Mereka tidak pernah
benar-benar mengenal satu sama lain.
Charles tidak pernah bertanya tentang
ketakutannya, tentang mimpinya,
tentang luka masa kecilnya. Diana,
yang masih muda dan naif, terlalu
mabuk oleh perhatian seorang
pangeran untuk menyadari betapa
sedikitnya ia tahu tentang pria yang
akan dinikahinya.
Ketika Charles melamar,
Diana langsung menerima.
Ia mengira ini adalah dongeng.
Seorang pangeran tampan datang
dan menyelamatkannya dari
kehidupannya yang biasa-biasa saja.
Ia akan menjadi putri.
Ia akan menjadi ratu suatu hari nanti.
Semua gadis memimpikan ini, dan
mimpinya akan menjadi kenyataan.
Tetapi di balik kilauan dongeng itu,
ada satu bayangan yang terus
menghantui: Camilla Parker Bowles.
Camilla adalah kekasih lama Charles.
Sebelum Diana, sebelum pertunangan,
sebelum semuanya, Charles telah lama
mencintai Camilla. Tetapi Camilla
tidak bisa dinikahinya. Ia sudah
menikah dengan Andrew Parker
Bowles. Ia tidak memenuhi kriteria
“pengantin yang pantas” untuk calon
raja. Namun, cinta Charles padanya
tidak pernah padam. Dalam buku ini,
terungkap bahwa Charles tetap
berhubungan dekat dengan Camilla
bahkan selama masa pertunangannya
dengan Diana.
Diana muda merasakan kehadiran
bayangan ini. Ia mencium parfum
Camilla di surat-surat yang diterima
Charles. Ia mendengar telepon
berdering di kamar Charles dan
menyadari bahwa di ujung sana ada
Camilla. Kecemasan mulai
menggerogoti hatinya. Tetapi ia tidak
tahu apa yang harus dilakukan.
Ia bingung, takut, dan merasa
sendirian. Keluarganya tidak banyak
membantu. Ratu dan istana
melihatnya sebagai calon menantu
yang ideal, dan tekanannya untuk
melanjutkan pernikahan sangat
besar.
Seminggu sebelum pernikahan,
tekanan itu mencapai puncaknya.
Diana mengalami krisis emosional
yang parah. Ia tidak bisa tidur. Ia tidak
bisa makan. Ia menangis tanpa henti.
Bulimia yang kelak akan
menghancurkan kesehatannya mulai
menunjukkan tanda-tanda
pertamanya. Ia ingin mundur.
Ia ingin lari. Tetapi tidak ada yang
mendengarkannya. Kakak-kakaknya,
yang seharusnya membelanya, malah
berkata bahwa sudah terlambat
untuk mundur. “Wajahmu sudah ada
di semua handuk teh,” kata salah satu
dari mereka. “Kamu tidak bisa
membatalkannya sekarang.”
Diana terjebak. Ia adalah seorang
gadis berusia sembilan belas tahun
yang akan menikahi seorang pangeran
yang tidak mencintainya, dengan
bayangan wanita lain yang
terus-menerus hadir. Dongeng yang ia
impikan mulai terasa seperti sangkar
yang perlahan mengunci.
Dan pernikahan itu sendiri, yang
disaksikan oleh lebih dari tujuh ratus
juta pasang mata di seluruh dunia,
bukanlah awal dari kebahagiaan.
Ia adalah awal dari penderitaan
yang jauh lebih dalam.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, gaes. Kali ini kita ngomongin
buku yang sempat bikin gempar
seluruh Inggris. Diana: Her True
Story karya Andrew Morton ini bukan
sekadar biografi biasa. Ini adalah
kesaksian langsung dari seorang
perempuan yang terjebak di sangkar
emas, yang akhirnya memutuskan
buat buka pintu sangkarnya sendiri
dan ngasih lihat dunia apa yang
sebenernya terjadi di dalem.
Yuk, kita mulai dari Bab 1 dan 2.
Bab 1: Masa Kecil yang Retak,
Luka yang Terpendam
Diana Frances Spencer lahir 1 Juli
1961 di Park House, rumah gede
di kawasan Sandringham Estate yang
disewa keluarganya dari Ratu
Elizabeth II. Nama Spencer itu udah
terkenal banget di Inggris.
Keluarganya udah ngabdi ke Kerajaan
selama berabad-abad. Kakek buyutnya
seorang earl, neneknya dayang
kepercayaan Ibu Suri, dan bapaknya,
Johnny Spencer, nantinya bakal
mewarisi gelar Earl Spencer.
Pokoknya darah biru tulen.
Tapi, di balik semua gemerlap dan
nama besar itu, masa kecil Diana
penuh retakan yang nggak keliatan
dari luar. Ibunya, Frances, adalah
perempuan cerdas dan cantik yang
terjebak dalam pernikahan nggak
bahagia. Bapaknya, Johnny Spencer,
adalah pria yang kaku dan dingin.
Pernikahan mereka retak pelan-pelan,
terus hancur. Pas Diana umur 6 tahun,
Frances minggat dari Park House.
Diana nyaksiin sendiri momen itu:
ibunya jalan keluar pintu, masuk
mobil, dan pergi. Suara kerikil yang
berderak di bawah roda mobil itu
bakal terus keputer di kepalanya
selama bertahun-tahun.
Perceraiannya pahit banget.
Pertarungan hak asuh anak jadi ajang
perang yang kejam. Di pengadilan,
Frances digambarin sebagai ibu yang
nggak layak. Johnny, dengan semua
duit dan koneksinya, menangin hak
asuh keempat anaknya. Diana dan
saudara-saudaranya tetep tinggal
di Park House sama sang ayah.
Ibu mereka pergi. Buat Diana,
kepergian ibunya adalah luka pertama
dan paling dalem. Dalam rekaman
wawancara yang jadi dasar buku ini,
dia nginget masa kecilnya dengan
suara penuh kesedihan. Dia ngerasa
ditinggalin, ngerasa nggak diinginkan.
Dia anak ketiga dari empat bersaudara,
dan di keluarganya, anak laki-laki
adalah prioritas. Kakak laki-lakinya,
Charles, adalah pewaris gelar. Diana
ngerasa dirinya cuma pelengkap. Dia
bahkan percaya orang tuanya
sebenernya pengen anak laki-laki pas
dia lahir, dan dia adalah “kekecewaan”
karena lahir sebagai perempuan.
Diana tumbuh jadi gadis yang pemalu
dan canggung. Di sekolah, dia nggak
menonjol. Nilainya biasa aja, bahkan
cenderung rendah. Dia gagal ujian
O-Level sampe dua kali. Temen-temen
sekolahnya inget dia sebagai gadis
baik hati, suka nolong, tapi nggak
punya ambisi akademis. Yang dia suka
cuma nari, berenang, dan ngurus anak
kecil. Di balik semua itu, ada seorang
anak yang terus-terusan nyari
penerimaan dan cinta, yang ngerasa
dirinya nggak cukup baik buat dicintai.
Setelah pendidikannya yang
putus-sambung kelar, Diana kerja
sebagai asisten guru di taman
kanak-kanak di London. Ini kerjaan
yang dia cintai. Di antara anak kecil
yang ketawa dan main, dia nemuin
kedamaian yang nggak dia dapet
di tempat lain. Dia suka kepolosan
mereka.
Bab 2: Dipertemukan,
Dijodohkan, dan Langsung
Dijebak
Diana pertama kali ketemu Charles,
Pangeran Wales, tahun 1977. Waktu itu
umurnya baru 16 tahun. Charles, yang
umurnya 13 tahun lebih tua, sebenernya
bukan orang asing buat keluarganya.
Dia malah lagi pacaran sama Sarah,
kakaknya Diana! Charles sering main
ke Althorp, rumah keluarga Spencer.
Di sanalah Diana ngeliat dia
pertama kali, tapi cuma nganggepnya
“cukup lucu” dan “sedikit aneh”.
Tahun-tahun berlalu. Hubungan
Charles sama Sarah kandas. Charles
yang udah kepala tiga mulai ditekan
keluarga dan publik buat cepet-cepet
nikah. Sebagai pewaris tahta, dia
butuh istri. Kriterianya ketat:
harus darah bangsawan,
harus perawan, harus cukup muda
buat ngelahirin ahli waris, dan harus
cukup patuh buat jalanin hidup
kerajaan tanpa ngeluh. Diana?
Dia centang semua kriteria itu.
Darah biru, nggak punya masa lalu
kontroversial, pemalu, manis, dan
keliatannya gampang diatur.
Hubungan mereka dimulai lagi dengan
cepet, malah bisa dibilang
terburu-buru banget.
Bayangin, antara tahun 1980 dan
awal 1981, Charles dan Diana cuma
ketemu sekitar 13 kali sebelum
pertunangan mereka diumumin.
13 kali! Itu doang.
Dalam 13 pertemuan itu, mereka
nggak pernah bener-bener ngobrol.
Mereka nggak pernah bener-bener
saling kenal. Charles nggak pernah
nanya soal ketakutannya, mimpinya,
atau luka masa kecilnya. Diana yang
masih muda dan naif, udah
kemabok perhatian seorang pangeran,
jadi nggak sadar betapa dikitnya dia
tahu soal pria yang bakal dia nikahin.
Pas Charles ngelamar, Diana langsung
nerima. Dia kira ini dongeng. Pangeran
tampan datang nyelametin dia dari
hidup biasa. Dia bakal jadi putri,
bakal jadi ratu suatu hari nanti.
Mimpi semua gadis, kan? Tapi di balik
kilau dongeng itu, ada satu bayangan
yang terus ngintilin: Camilla Parker
Bowles. Camilla adalah cinta lama
Charles. Jauh sebelum Diana, Charles
udah lama cinta mati sama Camilla.
Tapi Camilla nggak bisa dinikahi.
Dia udah jadi istri orang, nggak
memenuhi syarat “pengantin pantas”.
Meski begitu, cinta Charles ke dia
nggak pernah mati. Di buku ini
terungkap, Charles tetep deket sama
Camilla bahkan pas udah tunangan
sama Diana.
Diana yang masih muda ngerasain
kehadiran hantu ini. Dia nyium
parfum Camilla di surat-surat Charles,
denger telepon di kamar Charles dan
sadar di ujung sana ada Camilla.
Kecemasan mulai ngerogotin hatinya,
tapi dia bingung, takut, sendirian.
Keluarganya nggak banyak ngebantu.
Ratu dan istana cuma ngeliat dia
sebagai calon menantu ideal,
tekanan buat lanjutin pernikahan
luar biasa gede. Seminggu sebelum
pernikahan, tekanan itu sampe
puncak. Diana ngalamin krisis
emosional parah. Nggak bisa tidur,
nggak bisa makan, nangis
terus-terusan. Bulimia yang kelak
ngancurin kesehatannya mulai
nunjukin tanda-tanda pertama.
Dia pengen mundur, pengen kabur.
Tapi nggak ada yang dengerin.
Kakak-kakaknya yang harusnya
ngebelain, malah bilang udah telat.
“Wajahmu udah ada di mana-mana,”
kata salah satu mereka.
“Kamu nggak bisa batalin sekarang.”
Diana terjebak total. Seorang gadis
19 tahun yang mau nikah sama
pangeran yang nggak cinta sama dia,
dengan bayangan cewek lain yang
terus nongol. Dongeng yang dia
impiin mulai berasa kayak sangkar
yang perlahan ngunci.
Dan pernikahan itu sendiri, yang
disaksiin lebih dari 700 juta pasang
mata di seluruh dunia, ternyata
bukan awal kebahagiaan. Itu adalah
awal dari penderitaan yang jauh
lebih dalem. 💔👑
