Yorktown dan Kemenangan Terakhir
Sahabat, kita tiba di bab terakhir dan
epilog dari buku Killing England.
Ini adalah akhir dari perjalanan
panjang delapan tahun yang penuh
dengan darah, penderitaan, dan
pengorbanan. Di sinilah revolusi
mencapai puncaknya, dan di sinilah
kita melihat bagaimana takdir para
tokoh utama terurai setelah
perang usai.
Bab 7: Yorktown dan
Kemenangan Terakhir
Musim gugur tahun 1781. Perang telah
berlangsung selama enam tahun yang
melelahkan. Jenderal Charles
Cornwallis, komandan pasukan
Inggris di selatan, telah membuat
keputusan yang akan menjadi
kesalahan fatal. Ia memindahkan
pasukannya ke Yorktown, Virginia,
sebuah kota pelabuhan kecil
di semenanjung yang menjorok
ke Teluk Chesapeake. Ia percaya
bahwa Angkatan Laut Inggris akan
menjaga jalur lautnya tetap terbuka,
memungkinkannya untuk menerima
pasokan dan bala bantuan, atau
mundur jika diperlukan.
Cornwallis tidak tahu bahwa untuk
pertama kalinya dalam perang ini,
angin sedang bertiup ke arah yang
berlawanan.
George Washington, yang saat itu
sedang berada di utara, menerima
kabar yang mengubah segalanya.
Armada Prancis di bawah komando
Laksamana François de Grasse
sedang berlayar dari Karibia menuju
Chesapeake. Ini adalah kesempatan
yang telah ditunggu-tunggu
Washington selama bertahun-tahun.
Ia segera memerintahkan pasukannya
untuk bergerak ke selatan dengan
kecepatan penuh, bergabung dengan
pasukan Prancis di bawah komando
Jenderal Jean-Baptiste de
Rochambeau.
Washington memimpin lebih dari
tujuh ribu tentara Kontinental dan
empat ribu tentara Prancis dalam
perjalanan sejauh tujuh ratus
kilometer. Ini adalah pergerakan
pasukan terbesar yang pernah
dilakukan oleh Amerika selama
perang. Rahasia mutlak dijaga.
Cornwallis tidak tahu bahwa
badai sedang mendekat.
Ketika armada de Grasse tiba
di Chesapeake, Inggris mencoba
mengirimkan armada mereka
sendiri untuk menyelamatkan
Cornwallis. Pertempuran laut terjadi
di mulut teluk. Armada Inggris,
di bawah Laksamana Thomas
Graves, bertempur melawan
kapal-kapal Prancis dalam
pertempuran yang dikenal sebagai
Battle of the Chesapeake. Setelah
beberapa jam pertempuran sengit,
armada Inggris mundur
ke New York untuk diperbaiki.
Cornwallis sekarang benar-benar
terputus. Tidak ada jalan keluar
melalui laut. Jalur darat diblokir
oleh pasukan Washington dan
Prancis yang terus mendekat.
Pengepungan Yorktown dimulai
pada akhir September 1781. Pasukan
Amerika dan Prancis menggali
parit-parit pengepungan, semakin
mendekat ke garis pertahanan
Inggris setiap malam. Artileri
menghujani benteng Cornwallis
tanpa henti. Alexander Hamilton,
yang saat itu masih muda dan
ambisius, memimpin serangan
bayonet yang berani terhadap salah
satu benteng pertahanan Inggris.
Ia dan anak buahnya berlari
melintasi tanah tak bertuan,
memanjat dinding benteng, dan
merebutnya dalam pertempuran
jarak dekat yang brutal.
Cornwallis menyadari bahwa posisinya
tidak bisa dipertahankan. Ia mencoba
melarikan diri dengan perahu
melintasi Sungai York di malam hari,
tetapi badai menggagalkan usahanya.
Ia kehabisan pilihan. Pada 17 Oktober
1781, seorang drummer Inggris yang
berpakaian merah berjalan ke puncak
benteng dan mulai memukul
genderang sebagai sinyal untuk
berunding. Suara senjata berhenti.
Keheningan yang aneh turun di atas
medan pertempuran.
Dua hari kemudian, pada 19 Oktober,
pasukan Inggris berbaris keluar dari
Yorktown untuk menyerahkan senjata
mereka. Lebih dari tujuh ribu tentara
Inggris menjadi tawanan. Menurut
tradisi militer saat itu, pasukan yang
kalah akan memainkan lagu dari
pihak yang menang. Tetapi Cornwallis
memerintahkan agar musik
“The World Turned Upside Down”
(Dunia Telah Terbalik) dimainkan.
Judul lagu itu tidak bisa lebih tepat.
Kekaisaran paling kuat di dunia telah
dikalahkan oleh sekelompok koloni
yang memberontak.
Cornwallis sendiri tidak hadir dalam
upacara penyerahan itu. Ia mengaku
sakit, mengirimkan wakilnya untuk
menyerahkan pedangnya.
Washington, sebagai balasan atas
penghinaan ini, memerintahkan agar
pedang itu diserahkan bukan kepada
komandan Inggris, melainkan kepada
Jenderal Benjamin Lincoln, yang telah
mengalami penghinaan serupa ketika
Inggris mengalahkannya di Charleston
setahun sebelumnya.
Ketika berita kemenangan mencapai
Kongres di Philadelphia,
lonceng-lonceng berbunyi di seluruh
kota. Orang-orang menangis
di jalanan. Benjamin Franklin, yang
sudah sangat tua dan sakit-sakitan,
menerima kabar itu dengan air mata
kebahagiaan. Di London, Perdana
Menteri Lord North menerima berita
itu dengan keputusasaan. Ia berjalan
mondar-mandir di kamarnya sambil
berteriak: “Oh God! It is all over!”
(Ya Tuhan! Semuanya telah berakhir!)
Epilog: Pasca Perang dan Takdir
Para Tokoh
O’Reilly dan Dugard menutup buku ini
bukan dengan kemenangan
di Yorktown, melainkan dengan
menelusuri nasib para tokoh utama
setelah perdamaian. Mereka ingin
menunjukkan bahwa orang-orang
yang menciptakan Amerika bukanlah
malaikat yang sempurna, melainkan
manusia biasa dengan kekurangan,
kontradiksi, dan takdir yang beragam.
George Washington melakukan
sesuatu yang hampir tidak pernah
terjadi dalam sejarah.
Seorang jenderal yang menang,
yang memiliki pasukan yang setia
dan rakyat yang memujanya, bisa
saja merebut kekuasaan dan menjadi
diktator. Julius Caesar melakukannya.
Oliver Cromwell melakukannya.
Napoleon akan melakukannya. Tetapi
Washington tidak. Ia pergi
ke Annapolis, Maryland, di mana
Kongres sedang bersidang, dan
mengundurkan diri dari jabatannya
sebagai panglima tertinggi.
Ia menyerahkan kembali pedangnya,
kembali ke Mount Vernon, dan
menjadi petani lagi.
Keputusan ini mengejutkan dunia.
Raja George III sendiri, ketika
mendengar bahwa Washington akan
mengundurkan diri, berkata:
“If he does that, he will be the greatest
man in the world.” (Jika ia melakukan
itu, ia akan menjadi pria terbesar
di dunia.)
Tentu saja, Washington akhirnya
dipanggil kembali untuk menjadi
presiden pertama, sebuah peran
yang ia jalani dengan keengganan.
Setelah dua masa jabatan,
ia mengundurkan diri lagi,
menetapkan preseden bahwa
kekuasaan harus diserahkan secara
damai. Ia meninggal di Mount
Vernon pada tahun 1799.
Thomas Jefferson dan John Adams,
dua orang yang sangat berbeda
namun sama-sama penting dalam
perjuangan kemerdekaan,
menghabiskan tahun-tahun setelah
perang dengan membangun negara
baru. Adams menjadi presiden kedua.
Jefferson menjadi presiden ketiga.
Mereka pernah berteman dekat,
kemudian menjadi musuh politik
yang sengit, dan akhirnya, di usia
tua, mereka berdamai melalui
surat-menyurat yang indah.
Dalam salah satu kebetulan paling
luar biasa dalam sejarah, Jefferson
dan Adams meninggal pada hari
yang sama: 4 Juli 1826, tepat lima
puluh tahun setelah Deklarasi
Kemerdekaan diadopsi. Adams,
di ranjang kematiannya, mengucapkan
kata-kata terakhirnya:
“Thomas Jefferson survives.”
(Thomas Jefferson masih hidup.)
Ia tidak tahu bahwa Jefferson telah
meninggal beberapa jam sebelumnya.
Benjamin Franklin kembali dari
Prancis sebagai pahlawan. Ia sudah
sangat tua dan sakit-sakitan, tetapi
ia masih sempat menghadiri Konvensi
Konstitusional dan memberikan
dukungannya bagi dokumen yang
akan menjadi landasan negara baru.
Ia meninggal pada tahun 1790, pada
usia delapan puluh empat tahun.
Pemakamannya dihadiri oleh lebih
dari dua puluh ribu orang, sebuah
penghormatan yang belum pernah
terjadi sebelumnya bagi seorang
warga negara biasa.
Benedict Arnold, pengkhianat,
menghabiskan sisa hidupnya
di Inggris. Ia menerima uang dan
jabatan dari Kerajaan, tetapi ia tidak
pernah benar-benar diterima.
Orang Inggris memandangnya
dengan curiga. Seorang pengkhianat,
bahkan bagi pihak yang diuntungkan
oleh pengkhianatannya, tidak
pernah sepenuhnya dipercaya.
Arnold meninggal dalam
ketidakjelasan pada tahun 1801.
Ketika dimakamkan, ia dimakamkan
tanpa penghormatan militer, dan
namanya di batu nisannya sengaja
tidak menyebutkan perannya dalam
Perang Revolusi.
O’Reilly dan Dugard menutup buku
ini dengan satu penegasan yang kuat.
Kemerdekaan Amerika dibayar
mahal dengan darah dan penderitaan.
Lebih dari dua puluh lima ribu orang
Amerika tewas selama perang,
proporsi yang sangat besar untuk
populasi saat itu. Mereka diwariskan
oleh karakter-karakter yang jauh dari
sempurna: Washington yang pemarah
tetapi pantang menyerah, Jefferson
yang brilian tetapi penuh kontradiksi,
Franklin yang licik tetapi visioner,
Adams yang keras kepala tetapi tak
kenal lelah. Mereka bukanlah
dewa-dewa dari mitologi.
Mereka adalah manusia dengan
kelemahan dan kegagalan. Tetapi
justru karena itulah kisah mereka
begitu kuat. Mereka membuktikan
bahwa orang biasa, yang bersatu dalam
perjuangan yang adil, bisa menciptakan
sesuatu yang luar biasa. Dan bangsa
yang mereka lahirkan, dengan segala
ketidaksempurnaannya, terus berdiri
hingga hari ini sebagai bukti dari
keberanian dan pengorbanan mereka.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, ini dia bab pamungkas dan
epilognya. Kita udah ngikutin revolusi
dari awal yang penuh amarah,
pertempuran yang bikin nyali ciut,
sampe akhirnya tiba di puncak
segalanya. Di sinilah semua darah
dan air mata terbayar, dan kita bisa
liat gimana akhir cerita para tokoh
kunci setelah perang usai.
Yuk, kita tuntaskan.
Bab 7: Yorktown, Pukulan
Pamungkas
Musim gugur 1781. Perang udah
berjalan enam tahun yang melelahkan.
Jenderal Charles Cornwallis,
komandan Inggris di selatan, bikin
kesalahan fatal. Dia pindahin
pasukannya ke Yorktown, Virginia,
kota pelabuhan kecil di semenanjung
yang menjorok ke Teluk Chesapeake.
Dia yakin Angkatan Laut Inggris bakal
jagain jalur lautnya tetap terbuka.
Cornwallis nggak tahu, untuk pertama
kalinya, angin bertiup ke arah yang
berlawanan. George Washington dapet
kabar yang ngubah segalanya:
Armada Prancis di bawah Laksamana
de Grasse lagi berlayar dari Karibia
menuju Chesapeake. Ini kesempatan
emas! Washington langsung perintahin
pasukannya bergerak cepat ke selatan,
gabung sama pasukan
Prancis pimpinan Jenderal
Rochambeau. Lebih dari 7.000
tentara Kontinental dan 4.000 tentara
Prancis bergerak sejauh 700 kilometer.
Ini pergerakan pasukan terbesar yang
pernah dilakukan Amerika. Rahasia
dijaga ketat. Cornwallis nggak sadar
badai lagi mendekat.
Pas armada de Grasse nyampe, Inggris
coba kirim armada mereka buat
nolongin Cornwallis. Pertempuran laut
terjadi di mulut teluk, dikenal sebagai
Battle of the Chesapeake.
Setelah pertempuran sengit, armada
Inggris mundur ke New York!
Cornwallis sekarang terkepung total.
Jalur laut putus, jalur darat diblokir.
Pengepungan Yorktown dimulai akhir
September. Pasukan Amerika dan
Prancis gali parit, makin deketin
benteng Inggris tiap malem. Artileri
ngehujani tanpa henti. Alexander
Hamilton, yang masih muda dan
ambisius, pimpin serangan bayonet
nekat ke salah satu benteng. Dia dan
anak buahnya lari, manjat dinding,
dan ngerebutnya.
Cornwallis sadar posisinya udah
nggak bisa ditahan. Dia bahkan nyoba
kabur pake perahu malem-malem,
tapi digagalin badai. Dia kehabisan
akal. 17 Oktober 1781, seorang
drummer Inggris naik ke puncak
benteng dan mukul genderang,
sinyal buat runding. Suara senjata
berenti. 19 Oktober, lebih dari
7.000 tentara Inggris berbaris
keluar dan nyerahin senjata. Mereka
disuruh mainin lagu
“The World Turned Upside
Down” (Dunia Telah Terbalik).
Judulnya pas banget! Kekaisaran
paling kuat di dunia dikalahin
koloni pemberontak.
Cornwallis sendiri pura-pura sakit,
ngirim wakilnya buat nyerahin
pedang. Washington, sebagai
balesan, merintahin pedang itu
diserahin ke Jenderal Benjamin
Lincoln, bukan ke komandan Inggris.
Pas kabar kemenangan nyampe
Kongres, lonceng di seluruh kota
bunyi. Orang-orang nangis
di jalanan. Di London, Perdana
Menteri Lord North
mondar-mandir putus asa sambil
teriak, “Oh God! It is all over!”
(Ya Tuhan! Semuanya telah berakhir!)
Epilog: Setelah Perang,
Ke Mana Para Tokoh?
O’Reilly dan Dugard nutup buku ini
bukan cuma dengan kemenangan,
tapi dengan ngejar nasib para
tokohnya. Mereka pengen nunjukin,
para pendiri Amerika ini bukan
malaikat sempurna, tapi manusia
biasa dengan kekurangan,
kontradiksi, dan nasib yang
beda-beda.
George Washington ngelakuin hal
yang hampir nggak pernah terjadi
dalam sejarah. Sang jenderal
pemenang yang punya pasukan setia
dan rakyat yang muja, bisa aja
ngerebut kuasa dan jadi diktator.
Tapi dia nggak. Dia malah ke Kongres
di Annapolis dan mengundurkan
diri sebagai panglima tertinggi!
Dia nyerahin pedangnya, balik
ke Mount Vernon, jadi petani lagi.
Keputusan ini ngejutin dunia.
Raja George III sendiri sampe bilang,
“If he does that, he will be the greatest
man in the world.”
(Kalau dia ngelakuin itu, dia bakal
jadi pria terbesar di dunia.)
Tentu aja dia akhirnya dipanggil balik
jadi presiden pertama, dan setelah dua
periode, mundur lagi. Dia meninggal
di Mount Vernon tahun 1799.
Thomas Jefferson dan John
Adams, dua orang yang beda banget
tapi sama-sama krusial, abisin
tahun-tahun setelah perang buat
bangun negara. Adams jadi presiden
kedua, Jefferson ketiga. Mereka
pernah berteman, jadi musuh
politik yang sengit, dan akhirnya
baikan lagi lewat surat-menyurat
di usia tua. Dalam kebetulan yang
luar biasa, Jefferson dan Adams
meninggal di hari yang sama:
4 Juli 1826, tepat 50 tahun setelah
Deklarasi diadopsi! Adams,
di ranjang kematiannya, ngomong,
“Thomas Jefferson survives.”
Dia nggak tahu Jefferson udah
ninggal beberapa jam sebelumnya.
Benjamin Franklin balik dari
Prancis sebagai pahlawan. Udah
tua dan sakit, tapi masih sempet
dateng ke Konvensi Konstitusional
dan dukung dokumen landasan
negara. Dia meninggal tahun 1790
di usia 84, pemakamannya dihadirin
lebih dari 20.000 orang.
Benedict Arnold, sang pengkhianat,
ngabisin sisa hidupnya di Inggris.
Dia dapet duit dan jabatan, tapi nggak
pernah bener-bener diterima.
Orang Inggris mandangnya dengan
curiga. Seorang pengkhianat, bahkan
buat pihak yang diuntungin, nggak
pernah sepenuhnya dipercaya.
Arnold meninggal dalam
ketidakjelasan tahun 1801,
dimakamkan tanpa penghormatan
militer.
Buku ini ditutup dengan penegasan
bahwa kemerdekaan Amerika dibayar
mahal: lebih dari 25.000 orang
Amerika tewas. Para pendirinya
bukan dewa, tapi manusia dengan
kelemahan. Dan justru karena itulah
kisah mereka kuat. Mereka buktiin
orang biasa, yang bersatu dalam
perjuangan adil, bisa nyiptain
sesuatu yang luar biasa. Bangsa
yang mereka lahirkan, dengan segala
ketidaksempurnaannya, terus berdiri
sebagai bukti keberanian dan
pengorbanan mereka.
