Buku Cultish Amanda Montell, Ketika “Cult” Bukan Selalu Sekte Berbahaya

Amanda Montell
Buku Cultish karya Amanda Montell
mengajak kita melihat “cult” dari
sudut pandang yang lebih luas dan
tidak hitam-putih. Selama ini, kata
“cult” sering langsung diasosiasikan
dengan kelompok berbahaya,
manipulatif, dan berujung tragedi.
Padahal, Montell menunjukkan
bahwa “cultish” sebenarnya adalah
spektrum.
Di satu sisi, ada kelompok ekstrem
seperti sekte Branch Davidian atau
People’s Temple. Di sisi lain, ada
komunitas yang tampak “normal”
bahkan populer seperti CrossFit,
penggemar band tertentu, hingga
perusahaan besar seperti Amazon.
Perbedaannya bukan pada ada atau
tidaknya unsur “cultish”, melainkan
pada tingkat bahaya dan konsekuensi
bagi anggotanya.
Intinya sederhana tapi mengganggu:
manusia memiliki kebutuhan dasar
akan identitas, tujuan hidup, dan rasa
memiliki. Dan kebutuhan inilah yang
menjadi tanah subur bagi munculnya
berbagai bentuk “cult”.
Akar Psikologis: Kebutuhan
Akan Identitas, Tujuan, dan
Rasa Memiliki
Mengapa seseorang bisa masuk
ke dalam “cult”? Jawabannya bukan
karena mereka lemah atau bodoh,
tetapi karena mereka manusia.
Setiap orang ingin merasa menjadi
bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Ketika seseorang kehilangan arah,
merasa terasing, atau tidak memiliki
makna hidup yang jelas, maka
kelompok yang menawarkan identitas
dan tujuan akan terasa sangat menarik.
“Cult” hadir sebagai jawaban instan:
- Mereka memberi identitas
(“kamu bagian dari kami”) - Mereka memberi tujuan
(“ini misi kita”) - Mereka memberi komunitas
(“kamu tidak sendiri”)
Masalahnya, kebutuhan ini bisa
dimanfaatkan. Dalam bentuk yang
ekstrem, hal ini bisa berubah
menjadi alat kontrol.
Perbedaan Kunci: Apa yang
Terjadi Saat Seseorang Ingin
Keluar?
Tidak semua “cult” berbahaya. Salah
satu pembeda paling penting menurut
Montell adalah: apa yang terjadi
jika seseorang ingin pergi?
Dalam kelompok yang berbahaya:
- Anggota diancam secara fisik
atau psikologis - Keluar dianggap sebagai
pengkhianatan - Ada konsekuensi nyata yang
menakutkan
Contohnya, pengikut Jim Jones yang
mencoba kabur akan diancam. Dalam
kasus lain, ada kelompok yang
menanamkan ketakutan spiritual,
seperti keyakinan bahwa keluar akan
membawa kutukan atau nasib buruk
misalnya terlahir kembali sebagai
kecoa.
Sebaliknya, dalam kelompok yang
“benign”(tidak berbahaya, tidak
merugikan, atau bersifat aman):
- Anggota bebas keluar
- Tidak ada ancaman serius
- Identitas pribadi tetap dihormati
Seseorang bisa berhenti ikut CrossFit
tanpa konsekuensi hidup-mati.
Ini perbedaan yang sangat krusial.
Pola Umum: Ritual, Bahasa
Khusus, dan “Kami vs Mereka”
Meski berbeda tingkat bahayanya, banyak
“cult” memiliki pola yang mirip. Montell
menyoroti beberapa elemen utama yang
hampir selalu muncul.
Ritual
Kegiatan berulang yang menciptakan rasa
kebersamaan dan makna. Bisa berupa
ibadah, latihan fisik, atau bahkan
rutinitas komunitas tertentu.
Bahasa Khusus (Jargon)
Setiap “cult” punya cara bicara sendiri.
Kata-kata ini memperkuat identitas
kelompok dan membuat orang luar
sulit memahami.
Mentalitas “Us vs Them”
Dunia dibagi dua:
- “Kami” yang benar, terpilih,
atau sadar - “Mereka” yang salah, tersesat,
atau tidak paham
Pola ini sangat kuat karena
menciptakan loyalitas sekaligus
isolasi.
Bahkan komunitas seperti penggemar
band The Grateful Dead atau Phish
bisa memiliki nuansa “cultish”.
Namun, berhenti menjadi penggemar
tidak membawa konsekuensi serius
yang lagi-lagi menunjukkan perbedaan
antara “cult” berbahaya dan yang tidak.
Ketika Perusahaan dan
Komunitas Modern Menjadi
“Cultish”
Menariknya, Montell tidak berhenti
pada sekte keagamaan. Ia menunjukkan
bahwa organisasi modern juga bisa
memiliki karakteristik serupa.
Perusahaan besar seperti Amazon,
misalnya, bisa menunjukkan:
- Kepemimpinan yang sangat kuat
- Bahasa internal yang khas
- Ekspektasi kerja yang ekstrem
Hal-hal ini tidak otomatis membuatnya
menjadi “cult” berbahaya, tetapi
menunjukkan bahwa pola “cultish”
bisa muncul di mana saja, bahkan
di tempat yang dianggap normal
dalam kehidupan sehari-hari.
Ini membuka perspektif baru: “cultish”
bukan anomali, melainkan bagian dari
cara manusia membentuk kelompok.
Kebangkitan “Fitness Cult”
di Era Modern
Salah satu fenomena yang dibahas adalah
meningkatnya komunitas fitness yang
memiliki nuansa seperti “cult”.
Banyak generasi milenial di Amerika
tidak lagi terikat pada agama formal.
Namun kebutuhan akan:
- ritual
- komunitas
- makna
tidak hilang.
Sebagai gantinya, gym atau komunitas
olahraga menjadi “tempat ibadah baru”:
- Ada jadwal rutin (seperti ritual)
- Ada komunitas (seperti jemaat)
- Ada tujuan bersama (kesehatan,
transformasi diri)
CrossFit adalah contoh paling jelas. Ia
bukan sekadar olahraga, tetapi identitas.
Ini menunjukkan bahwa ketika satu
bentuk kepercayaan menurun, bentuk
lain akan muncul untuk mengisi
kekosongan tersebut.
Bahaya Menganggap Semua
“Cult” Sebagai Lelucon
Di masyarakat modern, kata “cult”
sering dipakai secara santai atau
bercanda. Namun Montell
mengingatkan bahwa sikap ini bisa
berbahaya.
Jika semua disebut “cult”, maka:
- Kita gagal membedakan mana
yang berbahaya dan mana
yang tidak - Kita bisa meremehkan ancaman
nyata
Kasus seperti Branch Davidian
menunjukkan konsekuensi fatal dari
kesalahpahaman ini. Ketegangan
dengan FBI berujung pada kematian
banyak orang
sebuah tragedi yang tidak bisa
dianggap enteng.
Dengan kata lain, memahami perbedaan
antar jenis “cult” bukan sekadar teori,
tetapi bisa menyelamatkan nyawa.
Tragedi Jim Jones dan People’s
Temple
Salah satu contoh paling mengerikan
dari “cult” berbahaya adalah People’s
Temple yang dipimpin oleh Jim Jones.
Pada 1950-an di Indianapolis, Jones
membangun gerakan multiras yang
menarik banyak orang, terutama
African-American yang merasa
terpinggirkan. Ia menawarkan harapan,
kesetaraan, dan kehidupan yang lebih
baik.
Namun seiring waktu:
- Kekuasaan Jones semakin absolut
- Kontrol terhadap anggota
semakin ketat
Pada 1974, ia memindahkan pengikutnya
ke Jonestown, Guyana, dengan tujuan
menciptakan “surga sosialis” jauh dari
Amerika.
Eksperimen ini berakhir tragis.
Tahun 1978:
- Seorang anggota Kongres AS
datang untuk menyelidiki - Jones memerintahkan
pembunuhan terhadap
rombongan tersebut - Setelah itu, ia mengarahkan
lebih dari 900 pengikutnya
untuk meminum minuman
beracun
Peristiwa ini melahirkan istilah
“drinking the Kool-Aid”, yang
menggambarkan loyalitas buta
terhadap pemimpin.
Tragedi ini menjadi contoh ekstrem
bagaimana “cult” bisa berubah
menjadi alat kehancuran massal.
Rombongan itu dibunuh karena
Jim Jones takut kekuasaannya
runtuh dan rahasianya terbongkar.
Saat anggota Kongres AS Leo Ryan
datang ke Jonestown tahun 1978,
tujuannya adalah menyelidiki
laporan penyiksaan, kontrol
ketat, dan kondisi buruk di dalam
komunitas itu. Awalnya semuanya
tampak “baik-baik saja”, tapi beberapa
anggota diam-diam meminta ikut
pulang bersama rombongan Ryan.
Di titik itu, situasinya berubah drastis.
Bagi Jones:
- Orang yang ingin keluar
= ancaman - Kehadiran pemerintah AS
= ancaman besar - Jika kebenaran terbongkar
= akhir dari kekuasaannya
Ketika rombongan Ryan hendak pergi
dari bandara kecil di Guyana bersama
para pembelot, Jones memerintahkan
pengikutnya untuk menyerang dan
menembak mereka.
Anggota Kongres Leo Ryan dan
beberapa jurnalis tewas di sana.
Setelah itu, Jones merasa tidak ada
jalan kembali. Ia kemudian
menginstruksikan pengikutnya untuk
melakukan apa yang ia sebut sebagai
“revolutionary suicide”
—yang berujung pada kematian lebih
dari 900 orang.
Jadi intinya:
pembunuhan itu adalah upaya
putus asa untuk menutup akses
keluar dan mencegah dunia luar
mengetahui apa yang sebenarnya
terjadi di dalam “cult” tersebut.
Rebranding dan Kerahasiaan
Montell juga menyoroti bahwa kelompok
“cultish” sering tidak tampil seperti yang
kita bayangkan.
Mereka bisa:
- Menggunakan nama yang
terdengar positif - Menyembunyikan struktur internal
- Menarik anggota dengan pesan
yang tampak normal
Rebranding dan kerahasiaan menjadi
strategi untuk:
- Menghindari stigma
- Menarik lebih banyak pengikut
- Membingungkan orang luar
Ini membuat “cult” tidak selalu mudah
dikenali, terutama di tahap awal.
Dunia yang Lebih “Cultish”
dari yang Kita Kira
Cultish membuka mata bahwa dunia
tidak terbagi antara “normal” dan “cult”.
Kenyataannya jauh lebih kompleks.
Dari komunitas olahraga, penggemar
musik, hingga perusahaan besar,
banyak aspek kehidupan modern
memiliki elemen “cultish”.
Yang membedakan bukan keberadaannya,
tetapi:
- seberapa besar kontrol yang dimiliki
kelompok - seberapa bebas anggota untuk
keluar - dan seberapa besar risiko yang
dihadapi
Pada akhirnya, buku ini bukan hanya
tentang sekte. Ini tentang manusia
tentang kebutuhan kita untuk merasa
terhubung, berarti, dan menjadi
bagian dari sesuatu.
Dan justru karena kebutuhan itu sangat
manusiawi, kita perlu lebih waspada
terhadap bagaimana ia bisa dimanfaatkan.
Kasus: Penggemar Band sebagai
“Cultish” Modern
Fenomena penggemar band tertentu
(fandom) bisa dilihat sebagai versi
“cultish” yang relatif aman, tapi tetap
memiliki pola yang sama.
1. Identitas: “Saya adalah bagian
dari mereka”
Penggemar tidak sekadar menyukai
musik, tapi mulai mendefinisikan
diri lewat band tersebut.
- Nama fandom
(misalnya: “Army”, “Deadheads”,
dll) - Cara berpakaian, gaya bicara,
bahkan selera hidup - Rasa bangga menjadi
“bagian dari kelompok ini”
Identitas ini memberi rasa:
“Saya bukan sendirian. Saya bagian
dari sesuatu yang besar.”
2. Tujuan: Musik sebagai Makna
Hidup
Lagu-lagu dari band sering tidak hanya
didengar, tapi diinternalisasi
sebagai nilai hidup:
- Lagu tentang perjuangan
→ jadi sumber semangat hidup - Lirik tentang kesedihan
→ jadi tempat pelarian emosional - Pesan band → dianggap sebagai
“kebenaran personal”
Di sini, musik berubah fungsi:
dari hiburan → menjadi arah hidup
kecil-kecilan
3. Komunitas: Rasa Memiliki
yang Kuat
Fandom menciptakan komunitas
yang sangat solid:
- Nonton konser bareng
- Diskusi online
- Fanbase dengan struktur dan
aktivitas rutin
Efeknya:
- Ada rasa diterima
- Ada koneksi emosional
- Bahkan bisa menggantikan
relasi sosial lain
4. Ritual: Konser dan Merchandise
Dalam konteks “cultish”, ini sangat
mirip ritual:
- Datang ke konser
(berulang, penuh emosi) - Menghafal lagu, chant bersama
- Membeli merchandise
sebagai simbol loyalitas
Ritual ini memperkuat ikatan:
“Kalau saya ikut, saya bagian
dari ‘kami’.”
5. Pengorbanan: Mulai Masuk
Area Abu-Abu
Di sinilah mulai terlihat sisi yang
lebih kritis.
Contoh:
- Tetap nonton konser walau
uang terbatas - Bahkan sampai
berhutang / pinjol - Membeli merchandise
secara berlebihan
Ini menunjukkan pergeseran:
dari “ingin” → menjadi “harus”
6. Rasa Bersalah Jika Tidak Ikut
Ini poin paling “cultish”.
Ketika seseorang merasa:
- Tidak ikut konser
= ketinggalan / kurang loyal - Tidak beli merch
= bukan “fans sejati” - Tidak update
= merasa bersalah
Maka yang terjadi:
kontrol sudah mulai internal
(dari dalam diri sendiri)
Tidak ada yang memaksa secara
langsung, tapi tekanan sosial dan
psikologis sangat kuat.
7. “Us vs Them” (Kami vs Mereka)
Sering muncul pola:
- “Fans sejati” vs “fans biasa”
- “Kita yang ngerti” vs “orang
luar yang gak paham”
Ini memperkuat eksklusivitas, tapi
juga bisa:
- Membatasi perspektif
- Meningkatkan fanatisme
Jadi, Apakah Ini Berbahaya?
Jawabannya: tidak selalu, tapi
bisa menjadi problematik.
Menurut kerangka Montell:
Masih tergolong “benign” jika:
- Orang masih bisa berhenti
tanpa tekanan besar - Tidak ada ancaman nyata
- Kehidupan pribadi tetap
seimbang
Mulai berbahaya jika:
- Ada tekanan finansial
(utang, pinjol) - Identitas diri sepenuhnya
bergantung pada fandom - Muncul rasa bersalah atau
takut jika “tidak cukup loyal” - Kehidupan nyata mulai
terganggu
Inti Insight
Kasus ini menunjukkan sesuatu
yang penting:
Yang membuat sesuatu menjadi
“cultish” bukan objeknya
(band, gym, perusahaan), tapi cara
manusia terikat secara
psikologis padanya.
Band hanyalah pemicu.
Yang bekerja di dalamnya adalah:
- kebutuhan akan identitas
- kebutuhan akan makna
- kebutuhan akan rasa memiliki
Dan ketika tiga hal ini bertemu dengan
emosi yang kuat, batas antara “hobi”
dan “keterikatan berlebihan” bisa
menjadi sangat tipis.
