buku

Buku Beneath a Scarlet Sky Mark Sullivan, Tidak Lelah dan Tidak Kedinginan

Beneath a Scarlet SkyMark Sullivan
Beneath a Scarlet Sky
Mark Sullivan

Sahabat, kali ini kita akan menyelami
sebuah kisah nyata yang luar biasa,
sebuah cerita tentang keberanian,
pengorbanan, dan cinta yang lahir
di tengah kegelapan Perang Dunia II.
Novel 
Beneath a Scarlet Sky karya
Mark Sullivan mengisahkan
perjalanan hidup Pino Lella, seorang
pemuda Italia yang terseret ke dalam
pusaran sejarah dan menjadi saksi
sekaligus pelaku dari
peristiwa-peristiwa yang nyaris tidak
bisa dipercaya. Kita akan memulai
dari Prolog dan Bagian Satu.

Prolog

Cerita dibuka bukan di medan perang,
melainkan di sebuah ruangan yang
tenang, bertahun-tahun setelah perang
usai. Seorang pria tua duduk
berhadapan dengan seorang penulis.
Pria itu bernama Pino Lella. Usianya
sudah lanjut, rambutnya memutih,
dan kerutan di wajahnya menyimpan
puluhan tahun beban yang tidak
pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Mark Sullivan, sang penulis, datang
kepadanya karena telah mendengar
bisikan tentang kisah hidup pria ini,
kisah yang konon begitu luar biasa
sehingga sulit dipercaya.

Pino Lella jarang berbicara tentang
masa lalunya. Bahkan keluarganya
sendiri tidak mengetahui detail dari
apa yang ia alami selama perang.
Ia telah mengunci rapat-rapat
kenangan itu di dalam hatinya,
membiarkannya membusuk dalam
diam. Tetapi kini, di usia senja,
ia merasa bahwa jika ia tidak
menceritakannya, kebenaran ini
akan ikut mati bersamanya.
Ia memutuskan untuk membuka
mulut. Ia memutuskan untuk
mengingat kembali semua yang
telah ia lalui, meskipun setiap kata
yang keluar terasa seperti mengoyak
luka lama yang tidak pernah
benar-benar sembuh.

Prolog ini memberi isyarat bahwa
kisah yang akan terungkap bukanlah
sekadar kisah perang biasa. Ini adalah
kisah tentang pilihan-pilihan mustahil,
tentang keberanian yang muncul dari
tempat yang paling tidak terduga, dan
tentang luka yang tetap menganga
bahkan setelah puluhan tahun berlalu.
Pino Lella tidak menjanjikan cerita
yang indah. Ia hanya menjanjikan
kebenaran.

Bagian Satu: Tidak Lelah dan
Tidak Kedinginan

Milan, Juni 1943

Pino Lella adalah remaja biasa yang
tinggal di Milan. Ia menyukai musik.
Ia suka bermimpi. Ia suka
berjalan-jalan di jalanan kotanya,
menikmati es krim, dan menatap
gadis-gadis yang lewat. Hidupnya
normal, senormal yang bisa
diharapkan oleh seorang pemuda
berusia tujuh belas tahun di tengah
perang yang berkecamuk di tempat
lain. Italia memang berada di bawah
kendali Mussolini dan bersekutu
dengan Jerman, tetapi bagi Pino,
perang masih terasa seperti sesuatu
yang jauh, sesuatu yang terjadi
di radio dan di halaman koran,
bukan di depan matanya sendiri.

Suatu hari, di jalanan Milan yang
ramai, Pino melihat seorang gadis.
Ia tidak tahu namanya. Ia hanya
melihatnya sekilas, tetapi wajah gadis
itu langsung terpatri di dalam
ingatannya. Gadis itu bernama Anna,
meskipun Pino belum mengetahuinya
saat itu. Ia hanya tahu bahwa ia telah
jatuh cinta pada pandangan pertama,
sebuah cinta remaja yang terasa begitu
kuat dan begitu nyata. Ia bermimpi
tentang gadis itu, berharap suatu hari
nanti ia akan bertemu dengannya lagi.

Namun, perang tidak peduli pada
mimpi-mimpi remaja. Sekutu, yang
terdiri dari Inggris dan Amerika,
memutuskan untuk mengebom Milan.
Pesawat-pesawat pembom datang
di malam hari, menjatuhkan muatan
mematikan dari langit yang gelap.
Kota yang dulu indah berubah menjadi
neraka. Gedung-gedung runtuh. Api
berkobar di mana-mana. Jeritan dan
tangisan memenuhi udara.

Salah satu bom menghantam rumah
keluarga Lella. Rumah itu hancur. Pino
dan keluarganya selamat, tetapi mereka
kehilangan segalanya. Ayah Pino,
Michele Lella, adalah seorang pria
yang bijaksana dan tegas. Ia menyadari
bahwa Milan sudah tidak aman bagi
putranya. Jika Pino tetap tinggal, ia
akan menghadapi dua ancaman: bom
Sekutu yang terus berjatuhan, dan wajib
militer yang akan segera memaksanya
bergabung dengan tentara fasis Italia
atau unit-unit Jerman.

Michele membuat keputusan.
Ia mengirim Pino ke Casa Alpina,
sebuah sekolah asrama Katolik yang
terletak tinggi di Pegunungan Alpen.
Di sana, Pino akan aman dari bom,
dan yang lebih penting, ia akan berada
di bawah perlindungan Gereja, yang
mungkin bisa membebaskannya dari
kewajiban militer.

Casa Alpina dan Pastur Re

Casa Alpina dipimpin oleh seorang
pastur bernama Pastur Re. Ia adalah
pria yang tenang, tegas, dan memiliki
keyakinan yang kuat. Di permukaan,
Casa Alpina hanyalah sekolah asrama
biasa yang mengajarkan agama,
disiplin, dan keterampilan bertahan
hidup di pegunungan. Tetapi di balik
permukaan itu, Pastur Re
menjalankan sebuah misi rahasia
yang sangat berbahaya.

Pino mulai berlatih mendaki gunung
di bawah bimbingan Pastur Re.
Ia belajar bagaimana berjalan di atas
salju tanpa meninggalkan jejak.
Ia belajar bagaimana bertahan dalam
suhu yang bisa membekukan darah.
Ia belajar membaca medan,
memprediksi cuaca, dan menemukan
jalur aman di tengah tebing-tebing
curam yang mengancam. Tubuhnya,
yang awalnya lemah dan tidak
terbiasa, perlahan menjadi kuat dan
tangguh.

Pastur Re tidak melatih Pino tanpa
alasan. Ia melihat sesuatu dalam diri
pemuda ini: keberanian, ketahanan,
dan hati yang bersedia menolong.
Ketika Pino sudah cukup terlatih,
Pastur Re mengungkapkan misi
sebenarnya. Casa Alpina adalah bagian
dari jaringan penyelundupan. Mereka
membantu para pengungsi Yahudi
melarikan diri dari Italia yang
diduduki Jerman menuju Swiss yang
netral. Jalur pelarian ini melewati
Pegunungan Alpen, menempuh rute
yang sangat berbahaya, di mana satu
langkah salah bisa berarti kematian.

Pino setuju untuk membantu. Ia tidak
bisa menolak. Baginya, membantu
orang-orang yang tidak bersalah
adalah satu-satunya hal yang benar
untuk dilakukan.

Operasi Penyelundupan

Misi-misi ini sangat berbahaya. Para
pengungsi Yahudi, yang terdiri dari
pria, wanita, anak-anak, dan orang
tua, berkumpul di Casa Alpina secara
diam-diam. Mereka berasal dari
berbagai kota di Italia, melarikan diri
dari penangkapan dan deportasi
ke kamp-kamp konsentrasi. Mereka
ketakutan, kelaparan, dan putus asa.

Pino bertugas sebagai pemandu.
Ia memimpin kelompok-kelompok
kecil pengungsi melewati jalur
pegunungan yang hanya ia yang tahu.
Perjalanan ini bisa memakan waktu
berhari-hari. Mereka berjalan dalam
diam, hanya ditemani oleh suara
angin dan derit salju di bawah kaki.
Suhu di malam hari bisa turun jauh
di bawah nol. Para pengungsi, yang
sebagian besar tidak terbiasa dengan
kondisi ekstrem seperti ini, sering kali
kelelahan. Pino harus menyemangati
mereka, menarik mereka ketika
mereka jatuh, dan kadang-kadang
menggendong anak-anak kecil yang
sudah tidak sanggup berjalan.

Musuh tidak hanya cuaca. Tentara
Jerman dan pasukan fasis Italia
berpatroli di sepanjang perbatasan.
Mereka tahu tentang jalur
penyelundupan ini, dan mereka
memburunya tanpa ampun.
Satu kali, Pino dan kelompoknya
nyaris tertangkap. Mereka mendengar
gonggongan anjing pelacak
di kejauhan. Pino memerintahkan
semua orang untuk bersembunyi
di balik batu-batu besar, menutup
mulut anak-anak yang hampir
menangis, dan berdoa agar angin
membawa bau mereka menjauh dari
anjing-anjing itu. Mereka selamat,
tetapi ketakutan itu tidak pernah
hilang.

Pino melakukan misi ini berkali-kali.
Ia tidak menghitung berapa banyak
nyawa yang berhasil ia selamatkan.
Baginya, setiap orang yang berhasil
mencapai perbatasan Swiss dan
melangkah ke tanah yang bebas
adalah kemenangan kecil melawan
kegelapan yang mencengkeram
Eropa. Tetapi setiap misi juga
meninggalkan bekas. Ia menyaksikan
keluarga-keluarga yang tercabik,
anak-anak yang menangis tanpa
henti, dan orang-orang tua yang
menyerah pada kelelahan dan
meninggal di tengah perjalanan.

Kembali ke Milan

Situasi di Italia semakin memburuk.
Pemerintah fasis mulai
memberlakukan wajib militer secara
ketat. Setiap pemuda yang cukup
umur harus mendaftar, dan jika tidak,
mereka akan dianggap sebagai
desertir dan dihukum mati.
Pastur Re tahu bahwa Casa Alpina
tidak bisa melindungi Pino selamanya.
Jika Pino tetap tinggal, ia akan
ditangkap dan dipaksa bertempur
untuk pihak yang salah, atau lebih
buruk lagi, dieksekusi.

Pino tidak punya pilihan. Ia harus
kembali ke Milan. Ia mengucapkan
selamat tinggal kepada Pastur Re,
kepada teman-temannya, dan kepada
pegunungan yang telah menjadi
rumah keduanya. Air matanya jatuh
di atas salju, tetapi ia tidak bisa
menunda lebih lama lagi.

Ketika Pino tiba di Milan,
ia mendapati kota yang sangat
berbeda dari yang ia tinggalkan.
Pendudukan Jerman semakin ketat.
Tentara Nazi berpatroli di setiap
sudut. Swastika berkibar
di gedung-gedung. Orang-orang
menghindari kontak mata, takut
bahwa satu pandangan yang salah
bisa mengirim mereka ke kamp
konsentrasi.

Ayah Pino, Michele, tahu bahwa
putranya berada dalam bahaya besar.
Ia telah mendengar tentang kengerian
di front timur, tentang ribuan pemuda
Italia yang dikirim untuk bertempur
dan tidak pernah kembali. Ia tidak
akan membiarkan putranya mengalami
nasib yang sama. Maka ia menyusun
rencana. Sebuah rencana yang sangat
berbahaya, sangat nekat, dan akan
mengubah seluruh hidup Pino
selamanya.

Bagian Satu ditutup dengan Pino yang
berdiri di ambang pintu rumahnya
yang hancur, menatap kota yang
berubah menjadi penjara. Ia tidak
tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ia tidak tahu bahwa takdir akan
membawanya ke tempat-tempat yang
jauh lebih gelap daripada yang bisa ia
bayangkan, dan bahwa ia akan segera
menjadi seorang mata-mata, seorang
penyelamat, dan seorang saksi dari
kejahatan paling mengerikan dalam
sejarah manusia.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kali ini kita ngomongin kisah
nyata yang bener-bener gila dan luar biasa.
Novel Beneath a Scarlet Sky
(Di Bawah Langit Merah Tua) karya
Mark Sullivan adalah fiksi sejarah yang
didasarkan pada kisah nyata seorang
pemuda Italia bernama Pino Lella
selama Perang Dunia II

Cerita tentang nyali, pengorbanan,
dan cinta yang lahir di tengah gelapnya
Perang Dunia II.
Novel 
Beneath a Scarlet Sky karya
Mark Sullivan ini ngejalanin hidup
Pino Lella, seorang pemuda Italia
yang keseret pusaran sejarah dan jadi
saksi, sekaligus pelaku, dari peristiwa
yang nyaris nggak bisa lo percaya.
Yuk, kita mulai dari Prolog dan
Bagian Satu.

Prolog: Buka Mulut Setelah
Puluhan Tahun Mendem

Ceritanya nggak dibuka di medan
perang, tapi di ruangan tenang
bertahun-tahun setelah perang kelar.
Seorang kakek duduk berhadapan
sama seorang penulis. Kakek itu
Pino Lella. Udah tua, rambutnya
putih, kerutan di mukanya nyimpen
beban puluhan tahun yang nggak
pernah dia ceritain ke siapa pun.
Mark Sullivan, si penulis, dateng
karena denger bisik-bisik soal kisah
hidupnya yang katanya susah
dipercaya.

Pino ini jarang banget ngomongin
masa lalunya, bahkan keluarganya
sendiri nggak tahu detail apa yang dia
alamin. Dia udah ngunci rapet semua
kenangan itu, ngebiarin membusuk
diem-diem. Tapi sekarang, di usia
senja, dia ngerasa kalau dia nggak
cerita, kebenaran ini bakal mati
bareng dia. Dia akhirnya mutusin
buat buka mulut, buat nginget lagi
semua yang udah dia lewatin, walau
tiap kata yang keluar rasanya kayak
ngerobek luka lama.

Prolog ini ngasih kode, kisah yang
bakal kebongkar bukan cuma kisah
perang biasa. Ini soal pilihan
mustahil, keberanian yang muncul
dari tempat paling nggak terduga,
dan luka yang tetep menganga
walau udah puluhan tahun.

Bagian Satu: Nggak Lelah dan
Nggak Kedinginan
(Milan, Juni 1943)

Awalnya, Pino Lella cuma remaja biasa
di Milan. Dia doyan musik, doyan
mimpi, doyan jalan-jalan di kotanya,
nikmatin es krim, ngeliatin cewek.
Hidupnya masih senormal mungkin
buat bocah 17 tahun di tengah perang
yang berkecamuk di tempat lain.
Italia sih di bawah Mussolini, sekutu
Jerman, tapi buat Pino, perang masih
berasa kayak berita di radio.

Suatu hari, di jalanan Milan yang
rame, Pino ngeliat cewek. Nggak tahu
namanya, cuma ngeliat sekilas, tapi
langsung nancep di hati. Itu Anna,
walau Pino belum tahu. Dia udah
jatuh cinta pandangan pertama,
cinta monyet yang kuat. Dia mimpiin
cewek itu, berharap ketemu lagi.

Tapi perang mah cuek aja sama mimpi.
Sekutu (Inggris-Amerika) mutusin
buat ngebom Milan. Pesawat dateng
malem-malem, ngejatuhin maut dari
langit. Kota yang tadinya indah
berubah jadi neraka. Rumah keluarga
Lella kena bom, hancur lebur. Mereka
selamat, tapi kehilangan segalanya.
Bapaknya Pino, Michele Lella, sadar
Milan udah nggak aman. Kalau Pino
tetep tinggal, dia bakal ngadepin dua
ancaman: bom Sekutu atau wajib
militer yang bakal maksa dia gabung
tentara Fasis atau unit Jerman.

Michele akhirnya mutusin ngirim
Pino ke 
Casa Alpina, sekolah asrama
Katolik di atas Pegunungan Alpen.
Di sana Pino bakal aman dari bom,
dan lebih penting lagi, di bawah
lindungan Gereja yang mungkin bisa
ngebebasin dia dari militer.

Casa Alpina dan Pastur Re
yang Misterius

Casa Alpina dipimpin sama Pastur
Re
, pria tenang, tegas, dengan
keyakinan kuat. Di permukaan,
sekolah ini biasa aja, ngajarin agama
dan bertahan hidup di gunung. Tapi
di balik itu, Pastur Re jalanin misi
rahasia yang super bahaya.
Pino mulai dilatih naik gunung.
Dia belajar jalan di atas salju tanpa
ninggalin jejak, bertahan di suhu
beku, baca medan, prediksi cuaca.
Badannya yang tadinya lembek
jadi kuat.

Pastur Re nggak ngelatih Pino tanpa
alasan. Dia ngeliat keberanian dan
hati yang mau nolong. Pas Pino
dianggep udah cukup terlatih, misi
sebenernya terbongkar: 
Casa Alpina
adalah bagian dari jaringan
penyelundupan.
 Mereka ngebantu
pengungsi Yahudi kabur dari Italia
ke Swiss, lewat jalur Alpen yang maut.

Pino setuju bantu. Dia nggak bisa
nolak, buat dia nolong orang nggak
bersalah itu satu-satunya hal yang
bener.

Operasi Penyelundupan Maut

Misi-misi ini gila bahayanya. Para
pengungsi Yahudi, dari anak-anak
sampe kakek-nenek, ngumpul di Casa
Alpina secara diem-diem. Mereka
ketakutan, kelaparan, putus asa. Pino
jadi pemandu, pimpin kelompok kecil
ngelewatin jalur gunung yang cuma
dia yang tahu. Perjalanan bisa makan
berhari-hari, diem-dieman, cuma
ditemenin suara angin dan derit salju.
Suhu malem bisa anjlok parah,
pengungsi yang nggak biasa sering
kelelahan. Pino harus nyemangatin,
narik, bahkan gendong anak kecil
yang udah nggak kuat.

Musuh bukan cuma cuaca. Tentara
Jerman dan Fasis Italia patroli
di sepanjang perbatasan, ngeburu
tanpa ampun. Pernah suatu kali,
mereka nyaris ketangkep, denger
gonggongan anjing pelacak. Pino
suruh semua ngumpet di balik batu,
nutup mulut anak-anak, berdoa
angin bawa bau mereka menjauh.
Selamat, tapi ketakutannya nggak
pernah ilang.

Pino ngelakuin ini berkali-kali. Dia
nggak ngitung berapa nyawa yang dia
selametin. Tiap orang yang nyampe
Swiss adalah kemenangan kecil. Tapi
tiap misi ninggalin bekas. Dia lihat
keluarga tercabik, anak nangis,
orang tua nyerah dan mati di tengah
jalan.

Kembali ke Milan, Awal
Petualangan Gelap

Situasi di Italia makin parah. Wajib
militer makin ketat, pemuda yang
nggak daftar dianggep desertir,
dihukum mati. Pastur Re tahu Casa
Alpina nggak bisa ngelindungin Pino
selamanya. Pino nggak punya
pilihan selain balik ke Milan.

Pas nyampe, dia dapet kota yang udah
beda banget. Pendudukan Jerman
makin brutal, Nazi di mana-mana,
swastika berkibar. Orang-orang pada
takut. Bapaknya Pino, Michele, sadar
putranya dalam bahaya gede.
Dia udah denger kengerian di front
timur, ribuan pemuda Italia mati
konyol. Dia nggak bakal biarin.
Dia pun nyusun rencana nekat dan
super bahaya yang bakal ngubah
seluruh hidup Pino selamanya.

Bagian Satu ditutup dengan Pino
di ambang pintu rumahnya yang
hancur, natap kota yang jadi penjara.
Dia nggak tahu apa yang bakal
terjadi, nggak tahu takdir bakal
bawa dia ke tempat yang jauh lebih
gelap. Dia bakal segera jadi
mata-mata, penyelamat, dan
saksi dari kejahatan paling
mengerikan dalam sejarah manusia.
Ini baru permulaan, gaes. Ceritanya
bakal makin gila. 🔥

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *