Buku 13 Steps to Bloody Good Wealth Ashwin Sanghi, Sunil Dalal, Mendefinisikan Ulang Kekayaan: Langkah Awal Menuju “Bloody Good Wealth”

Ashwin Sanghi, Sunil Dalal
Dalam 13 Steps to Bloody Good
Wealth, Sanghi dan Dalal membuka
perjalanan membangun kekayaan
dengan satu pertanyaan mendasar:
apa arti kekayaan bagi Anda?
Pertanyaan sederhana ini sering
diabaikan, padahal seluruh strategi
finansial akan pincang jika
seseorang tidak tahu apa yang
sedang ia kejar. Kekayaan bisa
tampak universal, tetapi
sesungguhnya sangat personal.
Kekayaan Selalu Berubah:
Melihat Ke Belakang untuk
Memahami Hari Ini
Jika menelusuri sejarah, konsep
kekayaan selalu bergeser mengikuti
zaman. Ribuan tahun lalu, kekayaan
berarti senjata yang tajam,
karena itu menentukan kemampuan
bertahan hidup. Beberapa milenium
kemudian, kekayaan bisa berupa
tangkapan ikan atau bahan
makanan lain yang memastikan
keluarga bisa hidup satu hari lagi.
Kini, sebagian besar orang menilai
kekayaan berdasarkan jumlah uang
yang mereka miliki. Tetapi buku ini
mengingatkan bahwa uang hanyalah
salah satu bentuk kekayaan
bukan satu-satunya, bukan pula
yang paling bermakna bagi semua
orang.
Kekayaan selalu lahir dari konteks
hidup dan nilai yang dipegang
seseorang.
Mengapa Kita Membutuhkan
Uang? Menyusun Piramida
Kebutuhan
Untuk memahami makna kekayaan
pribadi, kita perlu memahami dulu
fungsi uang dalam hidup. Catatan
Anda menekankan empat alasan
utama mengapa manusia
membutuhkan uang, dan empat
alasan ini memang menjadi fondasi
awal sebelum masuk ke strategi
kekayaan apa pun.
1. Kebutuhan Dasar
(Basic Needs)
Tiga hal ini tidak dapat ditawar:
makanan
pakaian
tempat tinggal
Dalam buku tersebut, kebutuhan
dasar adalah bagian paling dasar
dari “roda kebutuhan kekayaan”
komponen yang harus dipenuhi
lebih dulu agar seseorang dapat
bergerak maju.
2. Kebutuhan Aspiratif
(Aspirational Needs)
Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi, keinginan berikutnya biasanya berkaitan dengan kualitas hidup:
liburan ke tempat eksotis
memiliki rumah kedua
membeli mobil mewah
Kebutuhan ini tidak wajib, tetapi bagi
sebagian orang, inilah simbol
kenyamanan dan pencapaian.
3. Kemandirian Finansial
(Financial Independence)
Inilah titik ketika seseorang tidak
lagi hidup dalam kekhawatiran
tentang pemasukan berikutnya.
Mereka punya cukup cadangan dan
sistem yang menjaga standar hidup
mereka, baik sedang bekerja aktif
maupun tidak.
Kemandirian finansial bukan berarti
tidak lagi bekerja; melainkan
memiliki pilihan untuk bekerja
karena ingin, bukan karena harus.
4. Masa Pensiun (Retirement)
Tahap ini terkait kemampuan
memenuhi hidup di usia senja tanpa
tergantung pada anak atau bekerja
sampai kelelahan. Uang di sini
berfungsi sebagai pelindung jangka
panjang, yang memastikan seseorang
tetap hidup dengan bermartabat.
Empat kategori ini membentuk
struktur kebutuhan yang bisa berbeda
tingkat prioritasnya antara satu orang
dengan yang lain.
Apakah Kita Sudah Kaya?
Mengapa Jawabannya Selalu
Personal
Tidak ada dua orang yang memiliki
definisi kekayaan yang persis sama.
• Bagi sebagian orang, kekayaan
berarti angka di rekening bank.
• Bagi yang lain, kekayaan adalah
kebebasan waktu, pengalaman
hidup, pengetahuan, atau rasa
aman.
• Ada pula yang menganggap kekayaan
adalah kesempatan memperluas usaha
atau memperbaiki hidup keluarga.
Sanghi dan Dalal menekankan bahwa
seseorang hanya akan bisa membangun
kekayaan yang bermakna setelah ia
tahu apa arti kekayaan bagi dirinya
sendiri. Tanpa definisi tersebut,
seseorang mudah terseret perlombaan
angka yang tidak berujung.
Seperti yang dikatakan Roosevelt
bahwa kebahagiaan tidak terletak
pada sekadar memiliki uang, tetapi
pada kegembiraan menciptakan
sesuatu dan mencapai tujuan.
Buku ini menggunakan gagasan itu
sebagai pengingat bahwa tujuan
finansial seharusnya tidak merampas
kewarasan atau kebahagiaan.
Memulai Langkah: Menentukan
Arti Kekayaan Pribadi
Bagian ini dalam 13 Steps to Bloody
Good Wealth sebenarnya bukan
sekadar pengantar, tetapi fondasi
seluruh perjalanan membangun
kekayaan. Untuk mempraktikkannya,
pembaca diajak melakukan refleksi
awal:
• Apa saja kebutuhan dasar
Anda yang wajib terpenuhi?
• Apa aspirasi jangka menengah
yang ingin Anda capai?
• Seperti apa kehidupan yang
Anda sebut sebagai kemandirian
finansial?
• Bagaimana Anda
membayangkan hari tua Anda?
Pertanyaan ini bukan formalitas
jawaban atasnya akan menentukan
bagaimana seseorang bekerja,
menabung, berinvestasi, mengambil
risiko, dan membuat keputusan
jangka panjang lain.
Ketika definisi kekayaan sudah jelas,
setiap langkah finansial tidak lagi
berjalan dalam kabut. Seseorang
akan tahu apa yang perlu dicapai,
apa yang bisa ditunda, dan apa
yang sesungguhnya tidak diperlukan.
Kesimpulan: Kekayaan Dimulai
dari Makna, Bukan Angka
Langkah pertama menuju “bloody
good wealth” bukan soal strategi
investasi, bukan soal produk
keuangan, dan bukan soal kecepatan
menambah aset. Langkah pertama
adalah mendefinisikan kekayaan
versi Anda sendiri.
Kekayaan adalah tujuan pribadi.
Hanya Anda yang tahu apa yang
harus Anda kejar. Buku ini
mengajak pembaca untuk berhenti
menyalin standar orang lain dan
mulai menyusun standar kekayaan
yang sesuai dengan hidup, nilai,
dan tujuan pribadi.
Begitu definisinya jelas, barulah
seluruh strategi finansial akan
bekerja secara terarah dan kekayaan
yang dibangun pun menjadi
kekayaan yang benar-benar
bermakna.
Contoh:
“Kekayaan Versi Ardi”
1. Latar Belakang
Ardi, 32 tahun, tinggal di Semarang
dan bekerja sebagai staf administrasi
dengan gaji Rp6,5 juta per bulan. Ia
bukan berasal dari keluarga berada.
Selama bertahun-tahun, ia
menganggap bahwa “menjadi kaya”
berarti punya tabungan ratusan juta
angka yang terasa jauh dan
membuatnya frustrasi setiap kali
melihat saldo rekening.
Namun, setelah membaca 13 Steps
to Bloody Good Wealth, ia mulai
berpikir ulang:
“Kalau kekayaan itu sangat
personal…
lalu apa arti kaya untukku?”
2. Mendefinisikan Ulang
Kekayaan
Awalnya Ardi mendefinisikan
kekayaan sebagai:
punya mobil baru
punya rumah mewah
gaji besar
Tetapi definisi itu tidak pernah
membuatnya termotivasi. Terlalu
jauh dari hidupnya sekarang.
Suatu malam, ia duduk dengan buku
catatan dan menuliskan ulang
definisi kekayaan versi dirinya:
Bisa makan layak tanpa
takut tanggal tua.Punya tabungan darurat
6 bulan pengeluaran.Punya waktu luang
1–2 jam setiap hari
untuk keluarga.Bisa pensiun tanpa
membebani anak.
Ia kaget: ternyata definisi kekayaan
ala dirinya lebih sederhana dan
lebih manusiawi.
3. Melihat Kembali ke Masa
Lalu: “Kekayaan Itu Dinamis”
Ardi teringat masa kecilnya.
Di desa tempat ia tumbuh,
orang terkaya adalah:
yang punya sawah luas
yang punya sapi lebih dari dua
atau yang punya perahu besar
untuk melaut
Tidak ada yang membicarakan
deposito atau saham.
Kekayaan bergeser sesuai zaman
dan itu membuatnya memahami
bahwa kekayaan adalah konteks,
bukan angka tunggal.
4. Memetakan Fungsi Uang:
Piramida Kebutuhannya
Ketika membaca bagian tentang
fungsi uang, Ardi mencoba
memetakan hidupnya.
(1) Kebutuhan Dasar
Rp4.500.000/bulan
kontrakan kecil: Rp1.500.000
makan: Rp1.800.000
listrik + internet: Rp450.000
transport: Rp450.000
kebutuhan rumah tangga lain:
Rp300.000
Total: Rp4,5 juta
Ardi sadar selama ini pengeluaran
dasarnya stabil, tetapi ia jarang
memikirkan bagaimana
melampaui tahap ini.
(2) Kebutuhan Aspiratif
target Rp20 juta sekali setahun
Ardi ingin:
liburan tiga hari ke Bali
bersama istrinyaupgrade motor lama yang
sering mogok
Selama ini ia merasa “belum mampu”
karena mengira harus menunggu
kaya dulu. Padahal kebutuhan
aspiratif bisa direncanakan secara
bertahap.
(3) Kemandirian Finansial
perhitungan awal
Ardi membuat simulasi:
Pengeluaran bulanan: Rp4,5 juta
Jika ia ingin mandiri finansial dan
hidup dari passive income
6% per tahun, maka:
Butuh dana:
4.500.000 × 12 ÷ 0,06
= Rp900.000.000
Ardi kaget angka ini besar, tetapi
untuk pertama kalinya ia punya
angka jelas tujuan yang terukur.
(4) Masa Pensiun
versi realistis
Ardi menulis:
ingin pensiun di usia 60
ingin tetap tinggal di rumah
sendiriingin hidup mandiri tanpa
menagih uang anak
Ia memperkirakan pengeluaran masa
tua sekitar Rp5 juta/bulan.
Dengan 20 tahun masa pensiun, ia
butuh tabungan/investasi yang bisa
menopang total kira-kira Rp1,2 miliar.
Angka besar ini dulu membuatnya
stres, tapi sekarang ia melihatnya
sebagai tujuan jangka panjang yang
masuk akal.
5. Apakah Ardi Sudah Kaya?
Jika dilihat dari angka tabungan,
Ardi hanya punya Rp7 juta
di rekening.
Secara material, ia belum kaya.
Tetapi menurut definisinya:
ia sehat
punya waktu berkualitas
dengan istrinyatidak punya utang kartu kredit
pengeluaran dasar terpenuhi
mulai punya tujuan finansial
jelas
Untuk pertama kalinya, Ardi merasa
tidak miskin meskipun angkanya
belum besar.
Ia mulai memahami inti pesan
Sanghi dan Dalal:
Kekayaan adalah makna, bukan
angka tunggal yang harus dikejar
membabi buta.
6. Langkah Ardi: Menentukan
Arah Hidup
Dari refleksi tersebut, Ardi membuat
keputusan baru:
1. Prioritas kebutuhan dasar
Menjaga pengeluaran tetap
Rp4,5 juta dan membuat
anggaran tertulis.
2. Tabungan aspiratif
Menabung Rp350.000 per bulan
untuk liburan dan Rp250.000
untuk upgrade motor.
3. Dana darurat
Menargetkan Rp27 juta
(6 bulan pengeluaran).
4. Investasi jangka panjang
Mulai mengalokasikan
Rp800.000 per bulan
ke reksa dana indeks.
5. Rencana pensiun
Memulai tabungan pensiun mandiri
meski kecil: Rp300.000 per bulan.
Dengan kebiasaan ini, Ardi tidak
hanya “mengatur uang”
ia mulai mengatur hidup
berdasarkan definisi kekayaannya
sendiri.
7. Kesimpulan Kasus
Kisah Ardi menunjukkan bahwa:
Kekayaan dimulai dari makna
personal, bukan dari nominal
di rekening.Definisi kekayaan yang jelas
membuat seseorang bisa
mengambil keputusan lebih
terarah.Perencanaan finansial baru bisa
efektif jika seseorang tahu apa
yang sedang ia kejar.Kekayaan itu berkembang
seiring perubahan hidup,
nilai, dan konteks zaman.
Ardi belum kaya secara angka, tetapi
ia sudah kaya secara arah, visi, dan
kesadaran finansial dan itulah
langkah pertama menuju bloody
good wealth.
