buku

Blowing Bubbles (Meniup Gelembung)

Sahabat, kita lanjutkan penjelajahan
ke dalam sejarah keuangan dunia.
Dua bab berikut ini membahas dua
sisi dari jantung kapitalisme: pasar
saham yang bisa menciptakan
kemakmuran luar biasa sekaligus
kehancuran memilukan, serta upaya
manusia untuk menjinakkan
ketidakpastian melalui asuransi.
Mari kita selami Bab 2 dan Bab 3.

Bab 2: Blowing Bubbles
(Meniup Gelembung)

Niall Ferguson membuka bab ini
dengan satu kenyataan pahit
tentang pasar saham: ia adalah
mesin pencipta kekayaan paling
dahsyat yang pernah ditemukan
manusia, tetapi ia juga adalah
panggung bagi kegilaan massal
yang berulang kali terjadi sepanjang
sejarah. Saham memungkinkan
siapa pun untuk memiliki sebagian
kecil dari sebuah perusahaan,
berbagi keuntungannya, dan
menjual kepemilikan itu kepada
orang lain. Namun, justru karena
saham bisa diperdagangkan,
harganya tidak hanya ditentukan
oleh kinerja perusahaan, melainkan
juga oleh emosi manusia yang
membelinya: harapan, ketakutan,
dan terutama, keserakahan.

Untuk membuktikan bahwa kegilaan
ini sudah setua pasar saham itu
sendiri, Ferguson membawa kita
ke Prancis awal abad ke-18, ke kisah
seorang pria yang menjadi legenda
sekaligus pelajaran: 
John Law.

John Law adalah seorang Skotlandia
yang melarikan diri ke Eropa setelah
membunuh seseorang dalam duel
di London. Ia bukan bangsawan,
bukan juga pedagang kaya. Ia adalah
seorang penjudi profesional dengan
otak cemerlang dalam matematika dan
keuangan. Law memiliki satu ide
revolusioner yang akan mengubah
segalanya: uang tidak harus berupa
emas atau perak. Uang bisa berupa
kertas yang didukung oleh tanah, oleh
sumber daya, oleh keyakinan. Ide ini
membawanya ke Prancis, sebuah
negara yang saat itu sedang terpuruk
dalam utang setelah perang panjang
yang menghabiskan kas kerajaan.

Di Paris, Law mendirikan Banque
Royale
, sebuah bank yang diberi hak
istimewa oleh Raja untuk mencetak
uang kertas. Ini saja sudah merupakan
lompatan besar. Tetapi Law tidak
berhenti di situ. Ia kemudian
mendirikan 
Mississippi Company,
sebuah perusahaan yang memegang
monopoli perdagangan dengan koloni
Prancis di Louisiana, Amerika Utara.
Law mulai menjual saham perusahaan
ini kepada publik, dan di sinilah
panggung kegilaan dimulai.

Apa yang dilakukan Law adalah
mahakarya pemasaran yang belum
pernah disaksikan Eropa sebelumnya.
Ia melukiskan Louisiana bukan
sebagai rawa berbahaya yang penuh
nyamuk dan penyakit, seperti
kenyataannya, melainkan sebagai
surga dunia yang tanahnya penuh
emas, perak, dan kekayaan tak
terhingga. Ia menyebarkan
desas-desus, menerbitkan pamflet,
dan mengadakan
pertemuan-pertemuan yang
menggugah imajinasi. Saham
Mississippi Company mulai dijual.
Harganya naik. Orang-orang
pertama yang membeli menjadi
kaya dalam semalam. Cerita tentang
mereka menyebar ke seluruh Paris.
Lalu ke seluruh Prancis.
Lalu ke seluruh Eropa.

Kerumunan mulai berdesak-desakan
di Rue Quincampoix, jalan sempit
tempat kantor Law berada.
Bangsawan, pedagang, pelayan,
bahkan pastor, semua ingin membeli
saham. Harga saham yang awalnya
500 livres melonjak menjadi
10.000 livres. Siapa pun yang menjual
akan mendapatkan keuntungan yang
tidak masuk akal. Kata baru lahir dari
kegilaan ini: 
millionaire (miliuner) ,
merujuk pada mereka yang
kekayaannya mencapai jutaan livres
berkat saham Law.

Ferguson menyoroti bahwa inilah
gelembung spekulatif pertama dalam
sejarah modern. Polanya selalu sama:
bermula dari janji besar yang memicu
euforia. Harga naik, orang-orang
melihat tetangganya kaya, dan
mereka pun ikut masuk karena takut
ketinggalan. Ini adalah tahap
euforia yang bertransisi menjadi
mania. Harga tidak lagi
mencerminkan nilai sebenarnya dari
perusahaan; harga mencerminkan
harapan bahwa akan selalu ada
orang lain yang bersedia membayar
lebih tinggi.

Lalu, seperti semua gelembung,
Mississippi Company meledak.
Beberapa investor cerdas mulai
mencairkan keuntungan mereka,
mengambil emas dan perak yang
sebenarnya, dan membawanya
keluar dari Prancis. Harga saham
mulai goyah. Kepanikan menyebar.
Setiap orang ingin menjual pada
saat yang sama, dan tidak ada yang
mau membeli. Harga jatuh, dari
10.000 livres kembali ke 500, lalu
ke bawahnya. John Law melarikan
diri dari Paris dengan nyawanya,
meninggal dalam kemiskinan
di Venesia beberapa tahun kemudian.
Krisis ini melumpuhkan keuangan
Prancis selama puluhan tahun dan
menanamkan trauma mendalam
terhadap pasar saham dan uang
kertas di benak orang Prancis.

Ferguson kemudian menunjukkan
bahwa apa yang terjadi di Prancis
bukanlah kejadian terisolasi.
Hampir bersamaan, di Inggris,
South Sea Bubble meledak
dengan pola yang sama. South Sea
Company memegang monopoli
perdagangan dengan Amerika
Selatan dan menjanjikan kekayaan
yang sama fantastisnya. Sahamnya
naik gila-gilaan, menghisap uang
dari seluruh lapisan masyarakat,
lalu runtuh dan menghancurkan
ribuan keluarga. Bahkan Isaac
Newton, ilmuwan terbesar pada
zamannya, ikut terhisap. Ia membeli
saham South Sea, menjualnya
dengan untung, lalu melihat harga
terus naik dan membelinya lagi.
Ketika gelembung meledak, Newton
kehilangan hampir seluruh
kekayaannya dan berkata dengan
getir, “Saya bisa menghitung
pergerakan benda-benda langit,
tetapi tidak kegilaan manusia.”

Ferguson melompat ke masa kini dan
menunjukkan bahwa pola ini tidak
pernah berubah. Ia mengaitkannya
dengan 
gelembung dot-com tahun
2000-an.
 Perusahaan-perusahaan
internet bermunculan dengan janji
revolusi digital. Saham mereka
melambung, meskipun banyak dari
mereka belum pernah menghasilkan
laba satu sen pun. Investor
berbondong-bondong masuk,
didorong oleh cerita tentang masa
depan yang gemilang. Lalu,
gelembung itu meledak, dan
triliunan dolar kekayaan menguap
begitu saja.

Dari semua kisah ini, Ferguson
menyimpulkan satu 
konsep kunci:
saham menciptakan
kemakmuran dahsyat, namun
sifat dasar manusia membuat
pasar keuangan rentan
terhadap gelembung dan
kehancuran.
 Pola psikologisnya
selalu berulang dan tidak pernah
belajar dari sejarah: 
euforia, mania,
panik.
 Janji besar memicu euforia.
Euforia berubah menjadi mania saat
semua orang berlomba masuk. Mania
berakhir dengan panik saat semua
orang berlomba keluar. Ratusan
tahun berlalu, teknologinya berubah,
tetapi sifat manusia tetap sama.

Contoh dalam praktik:

  • Kamu mungkin menyaksikan
    sendiri siklus ini di dunia
    modern, bukan di pasar saham
    abad ke-18, tetapi di media
    sosial atau aset digital.
    Bayangkan sebuah koin kripto
    baru diluncurkan. Para
    pendirinya membuat situs web
    yang indah, menjanjikan
    teknologi revolusioner, dan
    membayar influencer untuk
    membicarakannya. Harga koin
    itu naik. Temanmu membeli dan
    dalam seminggu uangnya
    berlipat ganda.
    Ia mempostingnya di media
    sosial. Kamu mulai tertarik.
    Teman-temanmu yang lain juga
    ikut membeli. Harga terus naik.
    Ini adalah tahap euforia.

  • Kamu akhirnya membeli juga,
    takut ketinggalan. Harga terus
    meroket. Setiap hari kamu
    mengecek ponselmu dan
    melihat kekayaanmu
    bertambah. Kamu mulai
    bermimpi tentang apa yang
    akan kamu lakukan dengan
    uang itu. Ini adalah tahap
    mania. Kamu tidak lagi peduli
    dengan teknologi koin itu;
    kamu hanya peduli bahwa
    harganya terus naik.

  • Suatu hari, beberapa pemilik
    awal yang memegang koin
    dalam jumlah besar mulai
    menjual. Harga mulai turun.
    Berita menyebar. Orang-orang
    mulai panik. Semua orang
    menjual pada saat yang sama.
    Dalam hitungan jam, harga
    koin itu jatuh ke bawah harga
    belimu. Kamu tidak bisa
    menjual karena tidak ada yang
    mau membeli. Kerugianmu
    nyata, dan yang tersisa
    hanyalah pelajaran pahit.

  • Inilah siklus yang sama yang
    dialami oleh para investor
    Mississippi Company pada
    tahun 1720, oleh para investor
    South Sea, oleh para investor
    dot-com, dan oleh para investor
    di berbagai gelembung
    sepanjang sejarah. Ferguson
    ingin kita menyadari bahwa
    gelembung bukanlah kecelakaan;
    ia adalah produk dari psikologi
    manusia yang tidak pernah
    berubah.

Bab 3: The Risk Business
(Bisnis Risiko)

Jika Bab 2 berbicara tentang kegilaan,
Bab 3 berbicara tentang upaya
manusia untuk menjinakkan
ketidakpastian. Ferguson membuka
dengan satu pertanyaan mendasar:
bagaimana manusia belajar mengelola
risiko? Jawabannya dimulai dari
Skotlandia pada abad ke-18, dengan
kisah yang menyentuh tentang
kematian dan cinta.

Di Skotlandia saat itu, para pendeta
Gereja Skotlandia hidup dengan gaji
yang pas-pasan. Mereka mengabdi
seumur hidup, tetapi ketika mereka
meninggal, tidak ada yang tersisa
untuk keluarga mereka. Para janda
mereka jatuh miskin, bergantung
pada belas kasihan jemaat. Melihat
ketidakadilan ini, dua orang pria,
Robert Wallace dan Alexander
Webster, memutuskan untuk
menciptakan solusi.
Mereka mengajukan ide radikal:
setiap pendeta yang masih hidup
menyisihkan sebagian kecil dari
gajinya setiap tahun ke dalam
sebuah dana bersama. Ketika seorang
pendeta meninggal, jandanya akan
menerima pembayaran dari dana
itu untuk menopang hidupnya.

Kedengarannya sederhana, tetapi ada
satu masalah besar: berapa banyak
yang harus disisihkan? Jika terlalu
sedikit, dananya akan habis sebelum
semua janda terbayar. Jika terlalu
banyak, para pendeta akan
keberatan. Wallace dan Webster
membutuhkan seseorang yang bisa
menghitung masa depan, dan
di sinilah mereka menemukan
seorang matematikawan jenius
bernama Colin Maclaurin.
Maclaurin menggunakan data dari
catatan kematian untuk menghitung
berapa lama rata-rata seoran
g pendeta akan hidup, dan berapa
lama jandanya akan hidup setelahnya.
Dengan perhitungan ini, ia bisa
menentukan jumlah iuran yang tepat.
Inilah lahirnya 
Scottish Widows
Fund
, dana pensiun berbasis aktuaria
pertama di dunia. Dari kebutuhan
untuk melindungi para janda, lahirlah
ilmu aktuaria dan industri asuransi
modern.

Dari Skotlandia, Ferguson membawa
kita ke London, ke sebuah kedai kopi
bernama Lloyd’s. Pada abad ke-18,
Lloyd’s adalah tempat berkumpulnya
para pedagang dan pemilik kapal.
Mereka minum kopi, berbagi kabar
tentang rute perdagangan, dan
mengeluh tentang risiko pelayaran:
kapal tenggelam, bajak laut, badai.
Dari obrolan-obrolan ini, muncul ide
untuk saling melindungi. Seorang
pemilik kapal bisa “menjual” sebagian
risiko kapalnya kepada pedagang lain
dengan imbalan sejumlah uang. Jika
kapalnya selamat, uang itu menjadi
milik si penanggung. Jika kapalnya
tenggelam, si penanggung akan
mengganti kerugiannya. Inilah cikal
bakal 
Lloyd’s of London, pasar
asuransi paling terkenal di dunia.

Ferguson menceritakan satu peristiwa
yang memicu ledakan industri
asuransi: 
Badai Besar 1703.
Badai ini adalah salah satu badai
terburuk dalam sejarah Inggris.
Ia menghancurkan lebih dari seratus
kapal dalam satu malam, menewaskan
ribuan pelaut, dan membuat para
pedagang menyadari betapa rentannya
mereka terhadap kekuatan alam.
Setelah badai ini, permintaan akan
asuransi melonjak. Manusia tidak bisa
menghentikan badai, tetapi mereka
bisa melindungi diri dari dampak
finansialnya.

Asuransi kemudian berkembang
melampaui kapal. Ia melindungi
rumah dari kebakaran, melindungi
petani dari gagal panen, dan
melindungi pekerja dari kecelakaan.
Prinsipnya selalu sama: menyebar
risiko ke banyak orang sehingga
ketika kemalangan menimpa satu
orang, bebannya tidak
menghancurkannya sendirian.
Inilah, menurut Ferguson, salah
satu pilar peradaban modern.

Namun, bab ini tidak berakhir
dengan optimisme. Ferguson
membawa kita ke krisis 2008
untuk menunjukkan bahwa upaya
manusia untuk mengelola risiko
bisa menjadi bumerang. Di pusat
krisis itu ada instrumen keuangan
yang disebut 
credit default
swaps (CDS).
 Awalnya, CDS
dirancang sebagai alat yang masuk
akal: sebuah bentuk asuransi untuk
obligasi. Jika kamu membeli obligasi
sebuah perusahaan, kamu bisa
membeli CDS sebagai perlindungan.
Jika perusahaan itu gagal bayar,
penjual CDS akan mengganti
kerugianmu. Ini seperti asuransi
kebakaran untuk investasi.

Masalahnya, CDS tidak hanya dibeli
oleh orang yang benar-benar
memiliki obligasi. Spekulan mulai
membeli CDS tanpa memiliki
obligasi yang mendasarinya,
bertaruh bahwa perusahaan tertentu
akan gagal. Ini seperti membeli
asuransi kebakaran untuk rumah
tetanggamu; jika rumahnya terbakar,
kamu dapat uang. Ini bukan lagi
perlindungan, melainkan perjudian.
Pasar CDS membengkak menjadi
puluhan triliun dolar, jauh melebihi
nilai obligasi yang sebenarnya ada.
Ketika gelembung perumahan
Amerika meledak, CDS yang terkait
dengan hipotek ikut meledak, memicu
krisis keuangan global. Instrumen
yang dirancang untuk melindungi dari
risiko justru menjadi senjata
spekulatif yang menghancurkan
seluruh sistem.

Ferguson menutup bab ini dengan
sebuah 
intisari yang meresap:
kemajuan peradaban adalah
sejarah meredam risiko, namun
ilusi bahwa risiko telah lenyap
adalah risiko terbesar itu sendiri.

Kita membangun asuransi, dana
pensiun, dan berbagai alat keuangan
untuk melindungi diri dari badai
kehidupan. Tetapi ketika kita mulai
percaya bahwa kita telah sepenuhnya
aman, ketika kita lupa bahwa setiap
perlindungan memiliki celah,
di situlah bencana terbesar menunggu.

Contoh dalam praktik:

  • Bayangkan kamu adalah seorang
    pekerja kantoran berusia tiga
    puluh tahun. Kamu mendengar
    tentang pentingnya asuransi
    kesehatan dan dana pensiun,
    seperti para pendeta Skotlandia
    yang memikirkan janda mereka.
    Kamu membeli asuransi
    kesehatan swasta dengan premi
    yang terjangkau. Ini adalah
    langkah bijak: menyebar risiko
    biaya rumah sakit yang bisa
    menghancurkan tabunganmu
    jika kamu sakit parah.
    Prinsipnya sama dengan
    Scottish Widows Fund: sedikit
    uang yang disisihkan sekarang
    bisa menyelamatkanmu dari
    bencana finansial di masa depan.

  • Di kantormu, ada rekan kerja
    yang memutuskan untuk tidak
    membeli asuransi. Ia merasa
    sehat, merasa tidak akan terjadi
    apa-apa, dan menganggap premi
    asuransi sebagai pemborosan.
    Ini adalah penolakan terhadap
    manajemen risiko. Selama
    bertahun-tahun, ia menghemat
    uang preminya, dan ia merasa
    pintar. Lalu, di usia empat
    puluh, ia didiagnosis dengan
    penyakit serius.
    Biaya pengobatannya mencapai
    ratusan juta. Tanpa asuransi,
    ia harus menjual asetnya,
    meminjam dari saudara, dan
    hampir bangkrut. Rekanmu
    tidak memahami bahwa risiko
    bukanlah tentang apa yang pasti
    terjadi, melainkan tentang apa
    yang mungkin terjadi.

  • Di sisi lain, bayangkan sebuah
    perusahaan investasi besar
    di Wall Street. Pada tahun
    2006, mereka membeli ribuan
    obligasi hipotek dan
    melindunginya dengan credit
    default swaps. Mereka merasa
    aman. “Kami sudah
    mengasuransikan semuanya,”
    kata mereka. Mereka mulai
    membeli lebih banyak obligasi
    berisiko, merasa bahwa CDS
    akan menyelamatkan mereka
    jika terjadi masalah. Ini adalah
    ilusi bahwa risiko telah lenyap.
    Ketika pasar perumahan
    runtuh, perusahaan yang
    menjual CDS tidak mampu
    membayar klaim. Rantai
    perlindungan yang mereka
    bangun ternyata setipis kertas.
    Satu perusahaan bangkrut,
    menarik perusahaan lain
    bersamanya, dan seluruh sistem
    keuangan dunia ikut gemetar.

  • Pelajarannya: asuransi, dalam
    bentuk apa pun, hanya sekuat
    pihak yang menjanjikan
    pembayaran. Scottish Widows
    Fund bertahan karena dihitung
    dengan matematika yang
    disiplin. Lloyd’s bertahan karena
    menyebar risiko ke banyak
    penjamin. Tetapi CDS runtuh
    karena pihak yang menjualnya
    tidak memiliki cadangan yang
    cukup. Risiko tidak hilang ketika
    kamu membeli perlindungan;
    ia hanya berpindah tangan.
    Dan jika ia jatuh ke tangan
    yang salah, ia bisa menjadi
    bom waktu.

Sahabat, dua bab ini adalah potret
dari dualitas pasar keuangan. Di satu
sisi, ia bisa menciptakan kegilaan
massal yang berakhir dengan
kehancuran, seperti yang dialami
oleh para investor John Law dan
South Sea. Di sisi lain, ia bisa menjadi
alat untuk melindungi yang paling
rentan, seperti para janda pendeta
Skotlandia. Kuncinya adalah
pemahaman. Gelembung akan selalu
ada selama manusia memiliki emosi.
Risiko akan selalu ada selama ada
ketidakpastian. Tetapi dengan
memahami sejarah, kita setidaknya
bisa mengenali pola-pola itu ketika
ia muncul kembali dengan wajah
yang berbeda.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, gaes. Kita lanjut lagi petualangan
intelektual kita nih. Dua bab
berikutnya dari buku 
The Ascent of
Money
 ini bakal ngebahas dua sisi
dari jantung kapitalisme:
pasar saham yang bisa bikin lo kaya
tujuh turunan atau jatuh miskin
dalam semalam, dan upaya manusia
buat “ngejinakin” ketidakpastian
hidup lewat asuransi.
Yuk, kita selami Bab 2 dan Bab 3.

Bab 2: Meniup Gelembung,
Kisah Kegilaan Massal
di Pasar Saham

Niall Ferguson buka bab ini dengan
kenyataan pahit: 
pasar saham
adalah mesin pencipta kekayaan
paling dahsyat yang pernah ada,
tapi juga panggung buat kegilaan
massal yang terus berulang.

Saham memungkinkan lo punya
bagian kecil dari perusahaan gede,
tapi karena bisa dijual-belikan,
harganya nggak cuma ditentuin kinerja
perusahaan, tapi juga sama emosi
manusia: harapan, ketakutan, dan
terutama, keserakahan.

Buat ngebuktiin kegilaan ini udah
setua pasar saham, Ferguson ngajak
lo ke Prancis awal abad ke-18,
ke kisah seorang pria legendaris:
John Law.

John Law adalah orang Skotlandia
yang kabur ke Eropa setelah
ngebunuh seseorang dalam duel
di London. Dia bukan bangsawan
atau pedagang kaya, tapi seorang
penjudi profesional dengan otak
cemerlang soal matematika dan
keuangan. Law punya satu ide
revolusioner: 
uang itu nggak harus
emas atau perak. Uang bisa
berupa kertas yang didukung
tanah, sumber daya, atau
keyakinan.
 Ide ini membawanya
ke Prancis, negara yang lagi terpuruk
utang setelah perang.

Di Paris, Law mendirikan Banque
Royale, bank yang dikasih hak
istimewa buat nyetak uang kertas.
Nggak cuma itu, dia juga bikin
Mississippi Company, perusahaan
yang megang monopoli dagang
dengan koloni Louisiana
di Amerika. Law mulai jual saham
perusahaan ini ke publik, dan
di sinilah panggung kegilaan dimulai.

Apa yang Law lakukan adalah
mahakarya pemasaran.
Dia ngegambarin Louisiana bukan
sebagai rawa berbahaya penuh
nyamuk dan penyakit (yang itu
kenyataannya), tapi sebagai 
surga
dunia yang penuh emas, perak,
dan kekayaan.
 Dia sebar rumor,
bikin pamflet, dan adain pertemuan
yang membakar imajinasi. Saham
Mississippi Company dijual,
harganya naik. Orang pertama yang
beli jadi kaya mendadak. Cerita
mereka menyebar. Kerumunan
mulai berdesak-desakan di jalan
sempit di depan kantor Law.
Bangsawan, pedagang, pelayan,
bahkan pastor, semua pengen beli.
Harga saham yang awalnya
500 livres meroket jadi
10.000 livres. Kata baru lahir dari
kegilaan ini: 
millionaire
(miliuner)
 , buat mereka yang
kekayaannya sampe jutaan livres.

Ferguson nunjukin, inilah
gelembung spekulatif pertama
dalam sejarah modern.
 Polanya
selalu sama: janji besar memicu
euforia, harga naik, orang liat
tetangganya kaya, ikut masuk karena
takut ketinggalan. Ini tahap euforia
yang berubah jadi mania. Harga udah
nggak lagi nyerminin nilai perusahaan,
tapi harapan bahwa selalu ada
orang lain yang mau beli lebih mahal.

Lalu, kayak semua gelembung,
Mississippi Company meledak.
Investor cerdas mulai cairin untung
mereka, ambil emas beneran, dan
bawa keluar Prancis. Harga goyah,
kepanikan menyebar. Semua orang
jualan bareng, nggak ada yang mau
beli. Harga anjlok dari 10.000 livres
balik ke 500, bahkan lebih rendah.
John Law kabur dari Paris, mati
miskin di Venesia. Krisis ini
ngelumpuhin keuangan Prancis
puluhan tahun dan nanem trauma
soal pasar saham serta uang kertas.

Ferguson terus nunjukin, ini bukan
kejadian terisolasi.
Hampir bersamaan, di Inggris,
South Sea Bubble meledak dengan
pola yang sama. South Sea Company
janjiin monopoli dagang dengan
Amerika Selatan, sahamnya naik
gila-gilaan, nyedot duit rakyat, lalu
runtuh ngancurin ribuan keluarga.
Bahkan 
Isaac Newton aja ikut
kejebak! Dia beli, jual untung, tapi
ngeliat harga terus naik, dia beli lagi.
Pas meledak, Newton kehilangan
hampir semua kekayaannya dan
bilang getir, 
“Saya bisa ngitung
gerakan langit, tapi nggak bisa
ngitung kegilaan manusia.”

Ferguson lompat ke masa kini dan
bilang, pola ini nggak pernah berubah,
kayak gelembung dot-com tahun
2000-an. Janji revolusi digital bikin
saham internet terbang tinggi,
padahal banyak yang belum pernah
untung. Lalu meledak, triliunan
dolar lenyap.

Dari semua kisah ini, Ferguson
nyimpulin: 
saham bisa bikin
makmur, tapi sifat dasar
manusia bikin pasar rentan
sama gelembung.
Pola psikologisnya selalu
berulang: euforia, mania,
panik.
 Ratusan tahun berlalu,
teknologi berubah, tapi manusia
tetep sama.

Contoh praktisnya gini deh, biar lo
ngerasain. Bayangin lo liat sendiri
siklus ini bukan di abad 18, tapi
di medsos atau koin kripto. Ada koin
baru rilis, pendirinya bikin web keren,
janji teknologi revolusioner, bayar
influencer buat ngomongin. Harga
koin naik. Temen lo beli, seminggu
duitnya dobel. Dia posting di medsos.
Lo mulai tertarik, temen-temen lo
yang lain ikutan. Harga makin gila.
Ini tahap euforia. Lo akhirnya beli
juga, takut ketinggalan. Harga makin
ke langit, tiap hari lo cek hape, ngerasa
kaya. Lo mimpi mau ngapain duitnya.
Ini tahap mania. Tiba-tiba, pemilik
awal yang pegang koin gede mulai
jual. Harga turun. Kabar nyebar,
semua panik, jual barengan. Dalam
hitungan jam, harga di bawah modal
lo. Lo nggak bisa jual karena nggak
ada pembeli. Rugi lo nyata, yang ada
cuma pelajaran pahit. Inilah siklu
s yang sama kayak investor
Mississippi Company 1720, South
Sea, dot-com. Ferguson pengen lo
sadar: gelembung bukan kecelakaan,
tapi produk psikologi manusia.

Bab 3: Bisnis Risiko, Dari
Janda Pendeta Sampai Bom
Waktu Finansial

Kalau Bab 2 ngomongin kegilaan,
Bab 3 ngomongin upaya manusia
buat jinakin ketidakpastian.
Ferguson buka dengan pertanyaan:
gimana manusia belajar ngelola
risiko?
 Jawabannya dimulai dari
Skotlandia abad 18, dengan kisah
menyentuh soal kematian dan cinta.

Di Skotlandia saat itu, pendeta
Gereja hidup dengan gaji pas-pasan.
Pas mereka mati, nggak ada yang
tersisa buat keluarga. Janda mereka
jatuh miskin, ngandelin belas
kasihan. Liat ini, dua orang, Robert
Wallace dan Alexander Webster,
punya ide radikal: setiap pendeta
sisihin dikit dari gajinya ke dana
bersama. Kalau ada pendeta mati,
jandanya dapet pembayaran. Tapi,
berapa yang harus disisihin?
Kalau kelamaan, dana habis. Kalau
kebanyakan, pendeta keberatan.
Mereka butuh yang bisa ngitung
masa depan.

Mereka nemu Colin Maclaurin,
matematikawan jenius. Maclaurin
pake data kematian buat ngitung
rata-rata umur pendeta, dan umur
janda setelahnya. Dengan ini, dia
nemuin jumlah iuran yang pas.
Inilah lahirnya 
Scottish Widows
Fund, dana pensiun berbasis
aktuaria pertama di dunia.

Dari kebutuhan ngelindungin janda,
lahirlah ilmu aktuaria dan industri
asuransi modern.

Dari Skotlandia, Ferguson bawa lo
ke London, ke kedai kopi bernama
Lloyd’s. Abad 18, Lloyd’s tempat
ngumpul pedagang dan pemilik
kapal. Mereka ngopi, bagi kabar,
dan ngeluh soal risiko: kapal
tenggelam, bajak laut, badai.
Dari obrolan ini, muncul ide buat
saling lindungin. Pemilik kapal bisa
“jual” sebagian risiko kapalnya
ke pedagang lain dengan imbalan
duit. Kalau kapal selamat, duitnya
jadi milik penanggung. Kalau
tenggelam, penanggung ganti rugi.
Ini cikal bakal 
Lloyd’s of London,
pasar asuransi paling terkenal
sedunia.

Ferguson cerita, satu peristiwa bikin
industri asuransi meledak: 
Badai
Besar 1703.
 Ini salah satu badai
terburuk dalam sejarah Inggris,
ngancurin ratusan kapal semalam,
nelan ribuan pelaut. Para pedagang
sadar mereka rentan banget. Habis
badai, permintaan asuransi melonjak.
Manusia nggak bisa hentiin badai,
tapi bisa ngelindungin diri dari
dampak duitnya. Asuransi terus
berkembang, dari kapal, rumah
kebakaran, gagal panen, sampe
kecelakaan kerja. Prinsipnya sama:
sebar risiko ke banyak orang,
biar pas sial menimpa satu,
bebannya nggak ngancurin
sendirian.
 Ferguson bilang ini
salah satu pilar peradaban modern.

Tapi, bab ini nggak berakhir manis.
Ferguson bawa lo ke krisis 2008,
buat nunjukin upaya ngelola risiko
bisa jadi bumerang. Di pusat
krisis ada 
credit default swaps
(CDS).
 Awalnya, CDS adalah alat
yang masuk akal: asuransi buat
obligasi. Lo beli obligasi perusahaan,
lo bisa beli CDS buat ngelindungin.
Kalau perusahaan gagal bayar,
penjual CDS ganti rugi. Kayak
asuransi kebakaran buat investasi.

Masalahnya, CDS nggak cuma dibeli
orang yang punya obligasi.
Spekulan mulai beli CDS tanpa
punya obligasi, bertaruh perusahaan
bakal gagal. Ini kayak beli asuransi
kebakaran buat rumah tetangga:
kalau rumahnya kebakar, lo yang
dapet duit. Ini bukan perlindungan,
tapi perjudian. Pasar CDS
membengkak jadi puluhan triliun
dolar, jauh melebihi nilai obligasi
aslinya. Pas gelembung perumahan
AS meledak, CDS yang terkait
hipotek ikut meledak, mancing
krisis keuangan global. Instrumen
yang dibuat buat ngelindungin,
malah jadi bom waktu spekulatif
yang ngancurin sistem.

Ferguson nutup dengan intisari yang
dalem: 
kemajuan peradaban
adalah cerita meredam risiko,
tapi ilusi kalau risiko udah ilang
adalah risiko paling gede itu
sendiri.
 Kita bangun asuransi,
dana pensiun, buat ngelindungin diri
dari badai hidup. Tapi pas kita mulai
percaya kita udah aman sepenuhnya,
pas kita lupa kalau setiap
perlindungan punya celah, di situlah
bencana terbesar nungguin.

Contoh praktisnya gini: lo pekerja
kantoran umur 30. Lo beli asuransi
kesehatan swasta, ini langkah bijak,
nyebar risiko biaya rumah sakit.
Kayak janda pendeta Skotlandia,
dikit duit sekarang nyelametin dari
bencana nanti. Temen kantor lo
nggak beli, ngerasa sehat, nganggep
premi itu buang-buang duit.
Di umur 40, dia kena sakit gawat,
biaya ratusan juta. Dia harus jual
aset, ngutang, hampir bangkrut.
Dia nggak paham risiko itu soal
kemungkinan, bukan kepastian.
Di sisi lain, bayangin perusahaan
gede di Wall Street 2006. Mereka
beli ribuan obligasi, ngelindungin
pake CDS, ngerasa aman. Mereka
makin rakus beli obligasi berisiko,
percaya CDS bakal nyelametin.
Ini ilusi risiko lenyap. Pas pasar
runtuh, yang jual CDS nggak sanggup
bayar. Rantai perlindungan setipis
kertas, satu tumbang narik semuanya.

Pelajarannya: asuransi, dalam
bentuk apa pun, cuma sekuat
pihak yang janjiin pembayaran.
Scottish Widows Fund bertahan
karena disiplin matematika. Lloyd’s
bertahan karena nyebar risiko.
CDS runtuh karena penjualnya nggak
punya cadangan cukup. Risiko nggak
ilang pas lo beli perlindungan,
dia cuma pindah tangan. Kalau jatuh
ke tangan yang salah, dia jadi bom
waktu.

Gimana, gaes? Dua bab ini bener-bener
potret dualitas pasar keuangan.
Satu sisi, bisa bikin kegilaan massal
yang berujung kehancuran. Sisi lain,
bisa jadi alat ngelindungin yang paling
ringkih. Kuncinya cuma pemahaman.
Gelembung bakal selalu ada selama
manusia punya emosi. Risiko bakal
selalu ada selama ada ketidakpastian.
Tapi dengan ngerti sejarah, kita
setidaknya bisa ngenalin pola-pola itu
pas dia muncul lagi dengan wajah
yang beda. 🔥

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *