buku

Safe as Houses (Seaman Rumah Sendiri)

Sahabat, kita lanjutkan penjelajahan
ke Bab 4 dari buku 
The Ascent of
Money
. Niall Ferguson membongkar
satu mitos yang sangat akrab
di telinga kita: bahwa properti selalu
merupakan investasi teraman. Judul
bab ini, 
Safe as Houses, adalah
pepatah bahasa Inggris yang berarti
“seaman rumah sendiri”. Ferguson
akan menunjukkan kepada kita
bahwa rumah, yang terlihat paling
kokoh dan paling nyata, ternyata bisa
menjadi bom waktu yang melelehkan
seluruh sistem keuangan global.

Bab 4: Safe as Houses
(Seaman Rumah Sendiri)

Niall Ferguson membuka bab ini
dengan satu pertanyaan yang
mungkin pernah terlintas di benak
kita: mengapa begitu banyak orang
percaya bahwa harga rumah akan
selalu naik? Dari mana keyakinan
bahwa properti adalah investasi yang
tidak bisa gagal? Jawabannya,
menurut Ferguson, adalah campuran
dari sejarah, psikologi, dan kebijakan
pemerintah yang berlangsung selama
hampir satu abad.

Ferguson menelusuri akar keyakinan
ini ke Amerika Serikat pasca-Perang
Saudara. Pada paruh kedua abad
ke-19, pemerintah Amerika
mendorong ekspansi ke arah barat
dengan memberikan tanah kepada
para pemukim melalui berbagai
undang-undang seperti Homestead
Act. Tanah adalah kekayaan, dan
memiliki tanah sendiri adalah lambang
kemerdekaan. Gagasan ini tertanam
dalam di jiwa orang Amerika: rumah
bukan sekadar tempat tinggal; rumah
adalah aset, rumah adalah masa
pensiun, rumah adalah bukti bahwa
kamu telah berhasil dalam hidup.

Keyakinan ini kemudian diperkuat
secara sistematis oleh pemerintah
pada abad ke-20. Dimulai dari era
New Deal setelah Depresi Besar
tahun 1930-an, Presiden Franklin
D. Roosevelt menciptakan
lembaga-lembaga yang dirancang
untuk membuat kepemilikan rumah
lebih mudah diakses oleh rakyat biasa.
Federal Housing Administration
(FHA)
 dibentuk untuk menjamin
hipotek, sehingga bank lebih berani
memberikan pinjaman kepada orang
yang sebelumnya dianggap terlalu
berisiko. Kemudian menyusul 
Fannie
Mae
 dan Freddie Mac, dua lembaga
raksasa yang membeli hipotek dari
bank-bank, menyuntikkan lebih
banyak uang ke dalam sistem, dan
memungkinkan lebih banyak lagi
pinjaman diberikan.

Logika di balik semua ini mulia:
kepemilikan rumah dianggap sebagai
fondasi masyarakat yang stabil. Orang
yang memiliki rumah akan lebih
peduli pada lingkungannya, lebih
bertanggung jawab, dan lebih
berinvestasi dalam komunitasnya.
Tidak ada yang salah dengan tujuan
ini. Tetapi Ferguson menunjukkan
bahwa kebijakan yang dimaksudkan
baik ini, seiring waktu, menciptakan
sebuah mesin raksasa yang
terus-menerus memompa kredit
ke dalam pasar perumahan,
mendorong harga naik, dan
menanamkan keyakinan bahwa
harga itu tidak akan pernah turun.

Keyakinan ini bukan hanya milik
Amerika. Ferguson membawa kita
ke Jepang pada tahun 1980-an untuk
melihat sebuah gelembung properti
yang sangat spektakuler sehingga
hampir tidak masuk akal.
Pada puncak gelembung itu, nilai
tanah di sekitar Istana Kekaisaran
di Tokyo, sebuah area seluas beberapa
kilometer persegi, secara teoretis
setara dengan nilai seluruh tanah
di negara bagian California. Harga
properti di Tokyo melambung
ke ketinggian yang tidak rasional,
didorong oleh kombinasi uang murah,
spekulasi massal, dan keyakinan
bahwa harga tanah di Jepang tidak
akan pernah turun karena Jepang
adalah negara kecil yang padat
penduduk. Keyakinan ini ternyata
salah. Pada awal 1990-an, gelembung
itu meledak. Harga properti runtuh.
Bank-bank Jepang yang telah
meminjamkan uang dengan jaminan
tanah yang sekarang tidak bernilai
menjadi lumpuh. Jepang memasuki
apa yang disebut “Dekade yang
Hilang”, periode stagnasi ekonomi
yang berlangsung selama lebih dari
sepuluh tahun.

Tetapi dunia tidak belajar dari Jepang.
Sementara Jepang berjuang dengan
krisisnya sendiri, Amerika Serikat
sedang membangun gelembung
yang jauh lebih besar dan jauh lebih
berbahaya. Ferguson menyebut
puncak dari proses ini sebagai
subprime mortgage crisis atau
krisis hipotek subprima, yang
meledak pada tahun 2007 dan 2008.

Istilah “subprima” sendiri sudah
memberi petunjuk tentang apa yang
salah. 
Prime berarti prima,
berkualitas, aman. 
Subprime adalah
kebalikannya: di bawah standar,
berisiko tinggi. Hipotek subprima
adalah pinjaman rumah yang
diberikan kepada orang-orang yang
seharusnya tidak menerima
pinjaman: orang dengan riwayat
kredit buruk, orang dengan
pekerjaan tidak tetap, orang tanpa
tabungan yang cukup. Dalam
keadaan normal, bank tidak akan
menyentuh peminjam seperti ini.
Tetapi ini bukan keadaan normal.
Suku bunga sangat rendah, harga
rumah terus naik, dan semua orang
ingin ikut serta dalam pesta properti.

Para pemberi pinjaman mulai
menawarkan hipotek dengan
syarat-syarat yang semakin longgar.
Tidak perlu uang muka. Tidak perlu
bukti penghasilan. Pembayaran awal
sangat rendah, tetapi setelah dua
tahun, bunganya akan melonjak.
Para penjual hipotek meyakinkan
peminjam bahwa tidak apa-apa,
karena dalam dua tahun harga rumah
mereka akan naik begitu tinggi
sehingga mereka bisa menjualnya
dengan untung sebelum bunga
melonjak. Ini adalah taruhan yang
hanya berhasil jika harga rumah
terus naik selamanya.

Tetapi di balik semua ini, ada sesuatu
yang lebih berbahaya terjadi di lantai
atas sistem keuangan global.
Di sinilah Ferguson memperkenalkan
istilah yang menjadi kunci dari
seluruh bencana: 
sekuritisasi KPR.

Untuk memahami sekuritisasi,
bayangkan sebuah bank lokal
di sebuah kota kecil di Ohio.
Bank ini memberikan KPR kepada
seribu keluarga. Setiap bulan, seribu
keluarga itu membayar cicilan.
Bank menerima aliran uang yang
stabil dari pembayaran ini. Dalam
model tradisional, bank akan
menyimpan KPR itu di bukunya
selama tiga puluh tahun dan hidup
dari bunganya. Tetapi dalam model
baru, bank tidak menunggu.
Bank menjual seribu KPR itu kepada
sebuah bank investasi di Wall Street.
Bank investasi itu kemudian
mengumpulkan ribuan KPR dari
berbagai bank, mencampurnya
menjadi satu kumpulan raksasa, dan
mengirisnya menjadi
potongan-potongan kecil yang disebut
Mortgage-Backed Securities
(MBS)
 atau Efek Beragun Aset KPR.

MBS ini kemudian dijual ke seluruh
dunia. Dana pensiun di Norwegia
membelinya. Bank di Jerman
membelinya. Perusahaan asuransi
di Taiwan membelinya. Mereka
membelinya karena lembaga
pemeringkat seperti Moody’s dan
Standard & Poor’s memberi label
AAA pada MBS ini, label yang sama
dengan obligasi pemerintah Amerika
Serikat. Label AAA berarti
“sangat aman”, “hampir tidak mungkin
gagal”. Para investor di seluruh dunia
merasa tenang. Mereka mengira
mereka membeli obligasi super aman
yang didukung oleh rumah-rumah
Amerika.

Tetapi label AAA itu adalah
kebohongan. Di dalam kumpulan
KPR yang mendasari MBS itu,
banyak di antaranya adalah KPR
subprima. Banyak di antaranya
adalah pinjaman yang diberikan
kepada orang yang tidak akan
mampu membayar begitu bunganya
disesuaikan. Selama harga rumah
terus naik, kebohongan ini
tersembunyi. Peminjam yang
kesulitan bisa menjual rumahnya,
melunasi utangnya, dan rantai
pembayaran tetap berjalan. Tetapi
begitu harga rumah berhenti naik,
begitu harga mulai turun, seluruh
bangunan mulai runtuh.

Pada tahun 2006, harga rumah
di Amerika mencapai puncaknya dan
mulai menurun. Peminjam subprima
mulai gagal bayar. Satu per satu, KPR
dalam kumpulan MBS itu macet.
MBS yang tadinya berlabel AAA
tiba-tiba tidak bernilai. Bank-bank
di seluruh dunia, yang tadinya merasa
aman karena memegang obligasi super
aman, tiba-tiba menyadari bahwa
mereka memegang kertas kosong.
Tetapi tidak ada yang tahu persis bank
mana yang memegang berapa banyak
kertas kosong. Karena MBS telah
dijual, diiris, dicampur, dan dijual lagi
dalam rantai yang sangat rumit, tidak
ada yang bisa melacak di mana racun itu
berada. Kepercayaan antarbank runtuh.
Tidak ada yang mau meminjamkan
kepada siapa pun. Kredit membeku.
Sistem keuangan global, yang dibangun
di atas fondasi kepercayaan, tiba-tiba
berhenti.

Ferguson menutup bab ini dengan
pesan kunci yang menghantui:
rumah terlihat solid, tetapi
ketika dijejalkan ke dalam
mesin keuangan global, ia bisa
melelehkan seluruh sistem.

Sebuah rumah adalah benda fisik.
Kamu bisa menyentuhnya,
mengecatnya, tinggal di dalamnya.
Ia terasa nyata dan aman. Tetapi
ketika rumah diubah menjadi hipotek,
lalu hipotek diubah menjadi obligasi,
lalu obligasi itu dijual ke seluruh dunia
dengan label yang menyesatkan,
rumah itu berhenti menjadi rumah.
Ia menjadi abstraksi, menjadi deretan
angka di layar komputer di London
dan Singapura. Dan ketika abstraksi
itu runtuh, ia menyeret yang nyata
bersamanya. Orang-orang yang tidak
pernah membeli rumah di Amerika,
yang tidak pernah mengambil KPR
subprima, tetap kehilangan pekerjaan
mereka, kehilangan tabungan mereka,
dan kehilangan rumah mereka karena
gelombang kejut dari krisis ini
menyapu seluruh dunia.

Contoh dalam praktik:

  • Kamu tinggal di Indonesia dan
    tidak pernah membeli rumah
    di Amerika. Kamu mungkin
    bertanya, apa hubungannya
    krisis perumahan di Amerika
    denganku? Jawabannya ada pada
    sekuritisasi. Bayangkan sebuah
    bank investasi besar di New York
    membeli KPR dari berbagai bank
    di Florida, California, dan Nevada.
    Bank investasi itu tidak
    menyimpan KPR tersebut,
    melainkan mengemasnya menjadi
    MBS dan menjualnya ke seluruh
    dunia. Salah satu pembelinya
    adalah dana pensiun di Eropa
    yang mengelola uang pensiun
    para guru sekolah dasar
    di Belanda. Dana pensiun itu
    membeli MBS karena lembaga
    pemeringkat memberinya label
    AAA, label yang sama dengan
    obligasi pemerintah Jerman
    yang paling aman.

  • Ketika harga rumah di Amerika
    turun dan peminjam subprima
    mulai gagal bayar, MBS yang
    dipegang oleh dana pensiun
    Belanda itu tiba-tiba kehilangan
    nilainya. Dana pensiun itu
    mengalami kerugian besar.
    Untuk menutupi kerugian,
    mereka harus menjual aset lain,
    termasuk saham dan obligasi
    yang tidak ada hubungannya
    dengan perumahan Amerika.
    Penjualan massal ini
    menyebabkan harga saham
    di seluruh dunia turun.
    Perusahaan-perusahaan
    di Indonesia yang tidak pernah
    berhubungan dengan KPR
    Amerika tiba-tiba melihat harga
    saham mereka anjlok.
    Bank-bank di Indonesia yang
    memegang saham-saham itu
    mengalami kerugian.
    Kredit menjadi langka. Suku
    bunga naik. Pengusaha kecil
    di Jakarta yang tadinya
    berencana memperluas usahanya
    tiba-tiba tidak bisa mendapatkan
    pinjaman. Ia harus menunda
    ekspansi. Ia terpaksa mengurangi
    pesanan ke pemasoknya.
    Pemasoknya mengurangi jam
    kerja karyawannya. Seorang
    karyawan di pabrik tekstil
    di Bandung, yang tidak pernah
    mendengar tentang MBS atau
    subprima, tiba-tiba kehilangan
    pekerjaannya.

  • Inilah rantai yang Ferguson
    maksud. Rumah di Florida yang
    disita bank karena pemiliknya
    gagal bayar KPR bisa
    menyebabkan seorang pekerja
    tekstil di Bandung kehilangan
    pekerjaannya. Bukan karena
    mereka terhubung secara
    langsung, tetapi karena sistem
    keuangan global telah
    menganyam mereka bersama
    dalam jaring yang sangat rumit.
    Sebuah benda yang paling solid,
    sebuah rumah, ketika
    dimasukkan ke dalam mesin
    keuangan, bisa menciptakan
    gelombang kejut yang
    menghancurkan kehidupan
    di belahan dunia yang lain.
    Itulah ironi dan tragedi dari
    “seaman rumah sendiri”.

Sahabat, bab ini adalah peringatan
keras bagi siapa pun yang
menganggap properti sebagai
investasi tanpa risiko. Ferguson
menunjukkan bahwa ketika pasar
perumahan dibiarkan lepas
kendali, ketika pinjaman diberikan
tanpa disiplin, dan ketika utang
diubah menjadi produk keuangan
yang begitu rumit sehingga tidak
ada yang benar-benar
memahaminya, rumah yang tadinya
menjadi simbol keamanan bisa
berubah menjadi pemicu kehancuran.
Tidak ada aset yang benar-benar
aman, tidak peduli seberapa kokoh
temboknya.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, gaes. Kita lanjut lagi nih
petualangan finansial kita. Kali ini,
Niall Ferguson bakal ngebongkar satu
mitos yang pasti udah lo denger sejuta
kali: 
“Properti itu investasi paling
aman.”
 Judul bab ini, Safe as Houses
 (Seaman Rumah Sendiri), adalah
pepatah Inggris yang artinya
“pasti aman”. Nah, Ferguson bakal
nunjukin ke lo bahwa rumah, yang
keliatannya paling kokoh dan nyata,
ternyata bisa jadi bom waktu yang
nge-lelehin seluruh sistem keuangan
global.

Bab 4: Seaman Rumah Sendiri?
Mitos Properti yang Ngancurin
Dunia!

Niall Ferguson buka bab ini dengan
pertanyaan yang mungkin sering lo
pikirkan: 
kenapa sih banyak
orang percaya harga rumah
bakal selalu naik?
 Dari mana
keyakinan kalau properti itu investasi
anti gagal? Jawabannya, kata
Ferguson, adalah campuran dari
sejarah, psikologi, dan kebijakan
pemerintah selama hampir seabad.

Ferguson nulusuri akarnya
ke Amerika Serikat setelah Perang
Saudara. Dulu, pemerintah AS
ngedorong ekspansi ke barat dengan
ngasih tanah gratis ke para pemukim
lewat undang-undang kayak
Homestead Act. Tanah adalah
kekayaan, punya tanah sendiri itu
lambang kebebasan. Nah, gagasan
ini nempel dalem di jiwa orang
Amerika: 
rumah bukan cuma
tempat tinggal, rumah adalah
aset, masa pensiun, dan bukti
lo udah sukses.

Keyakinan ini terus diperkuat
pemerintah sepanjang abad ke-20,
mulai dari era New Deal setelah
Depresi Besar. Presiden Roosevelt
bikin lembaga kayak 
FHA (Federal
Housing Administration)
 buat
ngejamin KPR, jadi bank lebih berani
ngasih pinjaman ke orang biasa. Lalu
ada 
Fannie Mae dan Freddie Mac,
dua lembaga gede yang beli KPR dari
bank, ngasih duit lebih banyak
ke sistem, dan bikin makin banyak
pinjaman.

Logikanya sih mulia: kepemilikan
rumah dianggep fondasi masyarakat
yang stabil. Orang yang punya rumah
bakal lebih peduli lingkungan, lebih
tanggung jawab. Nggak ada yang salah
sama tujuannya. Tapi, Ferguson
nunjukin, kebijakan yang niatnya
baik ini, lama-lama nyiptain 
mesin
raksasa yang terus-terusan
mompa kredit ke pasar rumah,
ngedorong harga naik, dan
nanem keyakinan kalau harga
nggak bakal turun.

Keyakinan ini bukan cuma di Amerika.
Ferguson bawa lo ke Jepang tahun
80-an buat ngeliat gelembung properti
yang super spektakuler. Di puncaknya,
nilai tanah di sekitar Istana Kekaisaran
Tokyo, area yang cuma beberapa
kilometer persegi, itu setara dengan
nilai SELURUH tanah di California.
Harga properti di Tokyo meroket
nggak masuk akal, didorong uang
murah, spekulasi gila-gilaan, dan
keyakinan kalau tanah di Jepang
nggak bakal turun karena
Jepang kan sempit. Ternyata,
salah besar. Awal 90-an, gelembung
meledak. Harga properti runtuh,
bank-bank Jepang yang udah
minjemin duit dengan jaminan tanah
yang sekarang nggak ada nilainya
langsung lumpuh. Jepang masuk
“Dekade yang Hilang”, stagnasi
ekonomi lebih dari 10 tahun.

Tapi, dunia nggak belajar. Pas Jepang
lagi berjuang, Amerika malah lagi
ngebangun gelembung yang jauh
lebih gede dan lebih bahaya.
Puncaknya adalah 
krisis KPR
subprima (subprime mortgage
crisis)
 yang meledak tahun
2007-2008.

Nah, istilah “subprima” itu sendiri
udah ngasih petunjuk. 
Prime artinya
prima, berkualitas, aman. 
Subprime
kebalikannya: di bawah standar,
berisiko tinggi. KPR subprima adalah
pinjaman rumah yang dikasih
ke orang yang harusnya nggak dikasih:
riwayat kredit jelek, kerjaan nggak
tetap, nggak punya tabungan. Dalam
keadaan normal, bank nggak bakal
mau. Tapi ini bukan keadaan normal.
Suku bunga rendah banget, harga
rumah terus naik, dan semua orang
pengen ikut pesta.

Pemberi pinjaman mulai nawarin
KPR dengan syarat yang makin
longgar. Nggak perlu DP, nggak perlu
bukti penghasilan. Pembayaran awal
rendah, tapi setelah 2 tahun bunganya
melonjak. Salesnya ngeyakinin
peminjam, “Tenang aja, dua tahun
lagi harga rumah lo naik, lo bisa jual
untung sebelum bunganya naik.” Ini
cuma taruhan yang berhasil kalau
harga rumah naik terus selamanya.

Tapi di balik semua itu, ada hal yang
lebih bahaya terjadi di lantai atas
sistem keuangan. Inilah kuncinya:
sekuritisasi KPR.

Biar lo paham, bayangin bank lokal
di kota kecil Ohio. Bank ini ngasih
KPR ke 1000 keluarga. Tiap bulan,
1000 keluarga itu bayar cicilan.
Biasanya, bank tinggal simpen
KPR itu selama 30 tahun. Tapi
dalam model baru, bank nggak
nunggu. Bank jual 1000 KPR itu
ke bank investasi di Wall Street.
Bank investasi itu terus ngumpulin
ribuan KPR dari macem-macem
bank, nyampur jadi satu, dan
nge-irisnya jadi potongan-potongan
kecil yang disebut
Mortgage-Backed Securities
(MBS) alias Efek Beragun
Aset KPR.

MBS ini dijual ke seluruh dunia.
Dana pensiun di Norwegia, bank
di Jerman, perusahaan asuransi
di Taiwan, semua beli. Mereka beli
karena lembaga pemeringkat kayak
Moody’s ngasih label 
AAA, sama
amannya kayak obligasi pemerintah
AS. Investor seluruh dunia ngerasa
tenang, ngira mereka beli obligasi
super aman.

Tapi, label AAA itu bohong.
Di dalem tumpukan KPR yang jadi
dasar MBS itu, banyak yang
subprima, pinjaman ke orang yang
nggak bakal sanggup bayar begitu
bunganya naik. Selama harga rumah
naik, kebohongan ini ketutup. Yang
kesulitan tinggal jual rumah. Tapi
begitu harga rumah berenti naik, dan
malah turun, semuanya runtuh.

Tahun 2006, harga rumah di AS
puncak dan mulai turun. Peminjam
subprima mulai gagal bayar.
Satu-satu, KPR di dalem MBS macet.
MBS yang tadinya AAA langsung
nggak ada harganya. Bank di seluruh
dunia sadar mereka megang kertas
kosong. Masalahnya, nggak ada yang
tahu bank mana yang megang berapa
banyak sampah. Karena MBS udah
dijual, diiris, dicampur lagi dalam
rantai yang super ribet, nggak ada
yang bisa ngelacak. Kepercayaan
antarbank runtuh. Kredit beku.
Sistem keuangan global yang
dibangun di atas kepercayaan,
tiba-tiba mati.

Ferguson nutup dengan pesan yang
menyeramkan: 
rumah keliatan
solid, tapi pas lo jejelin
ke mesin keuangan global, dia
bisa ngelelehin seluruh sistem.

Rumah itu benda fisik, bisa lo sentuh.
Tapi pas rumah diubah jadi KPR,
KPR diubah jadi obligasi, dan
obligasi dijual ke seluruh dunia
dengan label ngawur, rumah berenti
jadi rumah. Dia jadi abstraksi, cuma
deretan angka di layar komputer.
Dan pas abstraksi itu runtuh, dia
nyeret yang nyata. Orang yang nggak
pernah beli rumah di AS, nggak
pernah ngambil KPR, tetap kehilangan
kerjaan dan tabungan karena efeknya
nyapu seluruh dunia.

Contoh gampangnya gini deh.
Lo tinggal di Indonesia, nggak
pernah beli rumah di AS.
Apa hubungannya? Bayangin bank
investasi gede di New York beli KPR
dari Florida. Dia bikin MBS, dijual
ke dana pensiun di Belanda yang
ngelola duit pensiun guru SD. Pas
harga rumah AS turun dan MBS jadi
sampah, dana pensiun itu rugi gede.
Buat nutupin, mereka jual aset lain,
saham di seluruh dunia. Perusahaan
di Indonesia yang nggak nyambung
sama sekali tiba-tiba harga sahamnya
ancur. Bank di Indonesia yang
megang saham itu rugi, kredit langka,
bunga naik. Pengusaha kecil
di Jakarta nggak bisa dapet pinjaman,
batal ekspansi, kurangi pesanan.
Pabrik tekstil di Bandung ngurangin
jam kerja. Karyawannya yang nggak
pernah denger soal MBS, tiba-tiba
di-PHK. Rantai inilah yang Ferguson
maksud. Rumah di Florida yang disita
bank bisa bikin karyawan di Bandung
kehilangan kerjaan. Sistem keuangan
udah ngikat mereka dalam jaring yang
super rumit. Benda paling solid,
rumah, pas masuk mesin keuangan,
bisa bikin gelombang kejut yang
ngancurin hidup di belahan dunia lain.
Itulah ironi dari “seaman rumah
sendiri”.

Gimana, gaes? Bab ini peringatan
keras buat siapa aja yang nganggep
properti sebagai investasi tanpa
risiko. Ferguson nunjukin, pas pasar
rumah lepas kendali, pinjaman
ngawur, dan utang diubah jadi
produk keuangan yang super rumit,
simbol keamanan bisa jadi pemicu
kiamat. Nggak ada aset yang
bener-bener aman, nggak peduli
sekokoh apa temboknya. 🔥

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *