Safe as Houses (Seaman Rumah Sendiri)
versi yang sederhana:
Oke, gaes. Kita lanjut lagi nih
petualangan finansial kita. Kali ini,
Niall Ferguson bakal ngebongkar satu
mitos yang pasti udah lo denger sejuta
kali: “Properti itu investasi paling
aman.” Judul bab ini, Safe as Houses
(Seaman Rumah Sendiri), adalah
pepatah Inggris yang artinya
“pasti aman”. Nah, Ferguson bakal
nunjukin ke lo bahwa rumah, yang
keliatannya paling kokoh dan nyata,
ternyata bisa jadi bom waktu yang
nge-lelehin seluruh sistem keuangan
global.
Bab 4: Seaman Rumah Sendiri?
Mitos Properti yang Ngancurin
Dunia!
Niall Ferguson buka bab ini dengan
pertanyaan yang mungkin sering lo
pikirkan: kenapa sih banyak
orang percaya harga rumah
bakal selalu naik? Dari mana
keyakinan kalau properti itu investasi
anti gagal? Jawabannya, kata
Ferguson, adalah campuran dari
sejarah, psikologi, dan kebijakan
pemerintah selama hampir seabad.
Ferguson nulusuri akarnya
ke Amerika Serikat setelah Perang
Saudara. Dulu, pemerintah AS
ngedorong ekspansi ke barat dengan
ngasih tanah gratis ke para pemukim
lewat undang-undang kayak
Homestead Act. Tanah adalah
kekayaan, punya tanah sendiri itu
lambang kebebasan. Nah, gagasan
ini nempel dalem di jiwa orang
Amerika: rumah bukan cuma
tempat tinggal, rumah adalah
aset, masa pensiun, dan bukti
lo udah sukses.
Keyakinan ini terus diperkuat
pemerintah sepanjang abad ke-20,
mulai dari era New Deal setelah
Depresi Besar. Presiden Roosevelt
bikin lembaga kayak FHA (Federal
Housing Administration) buat
ngejamin KPR, jadi bank lebih berani
ngasih pinjaman ke orang biasa. Lalu
ada Fannie Mae dan Freddie Mac,
dua lembaga gede yang beli KPR dari
bank, ngasih duit lebih banyak
ke sistem, dan bikin makin banyak
pinjaman.
Logikanya sih mulia: kepemilikan
rumah dianggep fondasi masyarakat
yang stabil. Orang yang punya rumah
bakal lebih peduli lingkungan, lebih
tanggung jawab. Nggak ada yang salah
sama tujuannya. Tapi, Ferguson
nunjukin, kebijakan yang niatnya
baik ini, lama-lama nyiptain mesin
raksasa yang terus-terusan
mompa kredit ke pasar rumah,
ngedorong harga naik, dan
nanem keyakinan kalau harga
nggak bakal turun.
Keyakinan ini bukan cuma di Amerika.
Ferguson bawa lo ke Jepang tahun
80-an buat ngeliat gelembung properti
yang super spektakuler. Di puncaknya,
nilai tanah di sekitar Istana Kekaisaran
Tokyo, area yang cuma beberapa
kilometer persegi, itu setara dengan
nilai SELURUH tanah di California.
Harga properti di Tokyo meroket
nggak masuk akal, didorong uang
murah, spekulasi gila-gilaan, dan
keyakinan kalau tanah di Jepang
nggak bakal turun karena
Jepang kan sempit. Ternyata,
salah besar. Awal 90-an, gelembung
meledak. Harga properti runtuh,
bank-bank Jepang yang udah
minjemin duit dengan jaminan tanah
yang sekarang nggak ada nilainya
langsung lumpuh. Jepang masuk
“Dekade yang Hilang”, stagnasi
ekonomi lebih dari 10 tahun.
Tapi, dunia nggak belajar. Pas Jepang
lagi berjuang, Amerika malah lagi
ngebangun gelembung yang jauh
lebih gede dan lebih bahaya.
Puncaknya adalah krisis KPR
subprima (subprime mortgage
crisis) yang meledak tahun
2007-2008.
Nah, istilah “subprima” itu sendiri
udah ngasih petunjuk. Prime artinya
prima, berkualitas, aman. Subprime
kebalikannya: di bawah standar,
berisiko tinggi. KPR subprima adalah
pinjaman rumah yang dikasih
ke orang yang harusnya nggak dikasih:
riwayat kredit jelek, kerjaan nggak
tetap, nggak punya tabungan. Dalam
keadaan normal, bank nggak bakal
mau. Tapi ini bukan keadaan normal.
Suku bunga rendah banget, harga
rumah terus naik, dan semua orang
pengen ikut pesta.
Pemberi pinjaman mulai nawarin
KPR dengan syarat yang makin
longgar. Nggak perlu DP, nggak perlu
bukti penghasilan. Pembayaran awal
rendah, tapi setelah 2 tahun bunganya
melonjak. Salesnya ngeyakinin
peminjam, “Tenang aja, dua tahun
lagi harga rumah lo naik, lo bisa jual
untung sebelum bunganya naik.” Ini
cuma taruhan yang berhasil kalau
harga rumah naik terus selamanya.
Tapi di balik semua itu, ada hal yang
lebih bahaya terjadi di lantai atas
sistem keuangan. Inilah kuncinya:
sekuritisasi KPR.
Biar lo paham, bayangin bank lokal
di kota kecil Ohio. Bank ini ngasih
KPR ke 1000 keluarga. Tiap bulan,
1000 keluarga itu bayar cicilan.
Biasanya, bank tinggal simpen
KPR itu selama 30 tahun. Tapi
dalam model baru, bank nggak
nunggu. Bank jual 1000 KPR itu
ke bank investasi di Wall Street.
Bank investasi itu terus ngumpulin
ribuan KPR dari macem-macem
bank, nyampur jadi satu, dan
nge-irisnya jadi potongan-potongan
kecil yang disebut
Mortgage-Backed Securities
(MBS) alias Efek Beragun
Aset KPR.
MBS ini dijual ke seluruh dunia.
Dana pensiun di Norwegia, bank
di Jerman, perusahaan asuransi
di Taiwan, semua beli. Mereka beli
karena lembaga pemeringkat kayak
Moody’s ngasih label AAA, sama
amannya kayak obligasi pemerintah
AS. Investor seluruh dunia ngerasa
tenang, ngira mereka beli obligasi
super aman.
Tapi, label AAA itu bohong.
Di dalem tumpukan KPR yang jadi
dasar MBS itu, banyak yang
subprima, pinjaman ke orang yang
nggak bakal sanggup bayar begitu
bunganya naik. Selama harga rumah
naik, kebohongan ini ketutup. Yang
kesulitan tinggal jual rumah. Tapi
begitu harga rumah berenti naik, dan
malah turun, semuanya runtuh.
Tahun 2006, harga rumah di AS
puncak dan mulai turun. Peminjam
subprima mulai gagal bayar.
Satu-satu, KPR di dalem MBS macet.
MBS yang tadinya AAA langsung
nggak ada harganya. Bank di seluruh
dunia sadar mereka megang kertas
kosong. Masalahnya, nggak ada yang
tahu bank mana yang megang berapa
banyak sampah. Karena MBS udah
dijual, diiris, dicampur lagi dalam
rantai yang super ribet, nggak ada
yang bisa ngelacak. Kepercayaan
antarbank runtuh. Kredit beku.
Sistem keuangan global yang
dibangun di atas kepercayaan,
tiba-tiba mati.
Ferguson nutup dengan pesan yang
menyeramkan: rumah keliatan
solid, tapi pas lo jejelin
ke mesin keuangan global, dia
bisa ngelelehin seluruh sistem.
Rumah itu benda fisik, bisa lo sentuh.
Tapi pas rumah diubah jadi KPR,
KPR diubah jadi obligasi, dan
obligasi dijual ke seluruh dunia
dengan label ngawur, rumah berenti
jadi rumah. Dia jadi abstraksi, cuma
deretan angka di layar komputer.
Dan pas abstraksi itu runtuh, dia
nyeret yang nyata. Orang yang nggak
pernah beli rumah di AS, nggak
pernah ngambil KPR, tetap kehilangan
kerjaan dan tabungan karena efeknya
nyapu seluruh dunia.
Contoh gampangnya gini deh.
Lo tinggal di Indonesia, nggak
pernah beli rumah di AS.
Apa hubungannya? Bayangin bank
investasi gede di New York beli KPR
dari Florida. Dia bikin MBS, dijual
ke dana pensiun di Belanda yang
ngelola duit pensiun guru SD. Pas
harga rumah AS turun dan MBS jadi
sampah, dana pensiun itu rugi gede.
Buat nutupin, mereka jual aset lain,
saham di seluruh dunia. Perusahaan
di Indonesia yang nggak nyambung
sama sekali tiba-tiba harga sahamnya
ancur. Bank di Indonesia yang
megang saham itu rugi, kredit langka,
bunga naik. Pengusaha kecil
di Jakarta nggak bisa dapet pinjaman,
batal ekspansi, kurangi pesanan.
Pabrik tekstil di Bandung ngurangin
jam kerja. Karyawannya yang nggak
pernah denger soal MBS, tiba-tiba
di-PHK. Rantai inilah yang Ferguson
maksud. Rumah di Florida yang disita
bank bisa bikin karyawan di Bandung
kehilangan kerjaan. Sistem keuangan
udah ngikat mereka dalam jaring yang
super rumit. Benda paling solid,
rumah, pas masuk mesin keuangan,
bisa bikin gelombang kejut yang
ngancurin hidup di belahan dunia lain.
Itulah ironi dari “seaman rumah
sendiri”.
Gimana, gaes? Bab ini peringatan
keras buat siapa aja yang nganggep
properti sebagai investasi tanpa
risiko. Ferguson nunjukin, pas pasar
rumah lepas kendali, pinjaman
ngawur, dan utang diubah jadi
produk keuangan yang super rumit,
simbol keamanan bisa jadi pemicu
kiamat. Nggak ada aset yang
bener-bener aman, nggak peduli
sekokoh apa temboknya. 🔥
