Beth Israel
Pada tahun 1991, Huguette Clark
masuk ke Rumah Sakit Beth Israel
dengan diagnosis kanker kulit.
Secara medis, kondisinya kemudian
membaik dan ia dinyatakan pulih.
Namun yang menjadi titik penting
dalam kisah ini bukan soal
penyakitnya, melainkan keputusan
yang ia ambil setelahnya. Huguette
tidak pernah benar-benar keluar
dari rumah sakit itu. Ia memilih
menjadikan Beth Israel sebagai
tempat tinggalnya selama sekitar
dua puluh tahun berikutnya.
Keputusan ini menandai perubahan
besar dalam hidup Huguette.
Seorang pewaris kekayaan besar yang
memiliki banyak properti mewah
justru memilih tinggal di lingkungan
rumah sakit, sebuah ruang yang bagi
kebanyakan orang bersifat sementara
dan transisional. Bagi Huguette, Beth
Israel bukan lagi tempat pengobatan,
melainkan rumah. Pilihan ini
mempertegas pola hidupnya yang
semakin tertutup dan menjauh dari
dunia luar, meski secara fisik ia
sebenarnya mampu untuk kembali
hidup di luar rumah sakit.
A Private World
Selama tinggal di Beth Israel,
Huguette membangun dunianya
sendiri di dalam kamar rumah sakit.
Ruangan itu tidak sekadar berfungsi
sebagai tempat perawatan, tetapi
diatur agar menyerupai ruang
pribadi. Di sana terdapat televisi dan
radio yang menemani hari-harinya.
Ia juga dikelilingi oleh boneka dan
lukisan, benda-benda yang
memberinya rasa aman dan
kenyamanan.
Aktivitas Huguette berlangsung
hampir sepenuhnya di ruang tersebut.
Ia menghabiskan waktu dengan
menggambar, sebuah kebiasaan yang
telah lama ia miliki. Tayangan
sederhana seperti The Flintstones
menjadi hiburan rutinnya,
menunjukkan preferensi pada
hal-hal yang ringan dan familiar.
Untuk berkomunikasi dengan dunia
luar, ia lebih memilih telepon,
menjaga jarak fisik sambil tetap
mempertahankan hubungan
terbatas. Dunia Huguette adalah
dunia yang privat, terkontrol, dan
terpisah dari hiruk-pikuk kehidupan
di luar kamar rumah sakit.
The Nurse and the Lawyer
Dalam kehidupan Huguette di Beth
Israel, dua figur memegang peran
yang sangat penting. Yang pertama
adalah Hadjie Boyer, perawat yang
setia mendampinginya. Boyer bukan
sekadar tenaga medis, melainkan
orang kepercayaan yang hadir
hampir setiap hari dan memahami
rutinitas serta kebutuhan pribadi
Huguette.
Figur kedua adalah Wallace Bock,
pengacara yang mengelola urusan
hukum dan keuangan Huguette.
Bock menjadi penasihat utama
dalam berbagai keputusan penting.
Seiring waktu, baik Boyer maupun
Bock tidak hanya berperan sebagai
pendamping profesional, tetapi juga
sebagai lingkaran terdekat
Huguette. Posisi mereka semakin
signifikan karena keduanya
kemudian tercatat sebagai penerima
warisan dalam jumlah besar,
menegaskan betapa sentralnya peran
mereka dalam kehidupan Huguette
di tahun-tahun terakhirnya.
Gifts and Questions
Huguette dikenal sering memberikan
hadiah dalam jumlah besar. Jutaan
dolar mengalir kepada staf rumah
sakit, teman, dan berbagai yayasan.
Pemberian ini dilakukan secara
berulang dan tanpa mekanisme
transparansi yang jelas. Tidak ada
struktur akuntabilitas yang ketat
mengenai alasan, proses, maupun
dampak dari hadiah-hadiah tersebut.
Pola ini memunculkan berbagai
pertanyaan. Ketika seseorang yang
hidup terisolasi memberikan dana
besar kepada orang-orang
di sekitarnya, muncul kekhawatiran
tentang konflik kepentingan. Apakah
hadiah itu murni ungkapan
kedermawanan, ataukah ada
pengaruh relasi ketergantungan
yang tidak seimbang?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang
kemudian membayangi kisah
Huguette, menyoroti area abu-abu
antara kemurahan hati dan potensi
penyalahgunaan kepercayaan.
The Empty Houses
Di luar kamar rumah sakit tempat
Huguette menghabiskan dua dekade
hidupnya, terdapat tiga properti
besar yang dibiarkan kosong selama
bertahun-tahun. Rumah-rumah itu
tidak ditinggali, namun tetap dirawat
secara penuh. Debu menumpuk
di berbagai sudut, piano-piano
dibiarkan tak pernah disetel, dan
taman-taman tumbuh liar tanpa
kehadiran pemiliknya.
Meski kosong, properti-properti
tersebut tidak pernah benar-benar
ditelantarkan. Perawatan rutin tetap
dilakukan, seolah-olah rumah itu
menunggu penghuninya kembali.
Kontras antara kekosongan fisik
rumah-rumah tersebut dan
perhatian finansial yang terus
mengalir mencerminkan kehidupan
Huguette sendiri: kekayaan yang
terjaga rapi, tetapi ditinggalkan
oleh kehadiran manusia.
Rumah-rumah kosong itu menjadi
simbol paling nyata dari jarak antara
harta yang melimpah dan kehidupan
yang dijalani dalam kesendirian.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Beth Israel
Bayangkan seseorang masuk bengkel
karena motornya mogok. Motornya
sudah selesai diperbaiki dan bisa
dipakai lagi, tapi orang itu malah
memilih tinggal di bengkel selama
bertahun-tahun. Padahal
di rumahnya ada garasi besar dan
halaman luas.
Begitulah Huguette Clark. Ia masuk
rumah sakit untuk berobat, sudah
sembuh, tapi memilih tetap
tinggal di sana selama 20 tahun.
Rumah sakit yang seharusnya
tempat singgah sementara berubah
menjadi “rumah tetap”, meski secara
fisik ia sebenarnya mampu pulang
dan hidup normal di luar.
A Private World
Anggap saja kamar rumah sakit itu
seperti kos kecil yang ditata agar
terasa nyaman. Ada TV, radio, dan
barang-barang kesukaan, mirip
orang yang jarang keluar kamar dan
menciptakan dunianya sendiri
di dalam ruangan.
Hari-harinya dihabiskan dengan
aktivitas ringan: menggambar,
menonton kartun yang sederhana
dan familiar, serta menelepon orang
lain tanpa bertemu langsung. Seperti
orang yang merasa aman di ruang
kecilnya, tidak ingin ribet
menghadapi dunia luar yang ramai
dan penuh tuntutan.
The Nurse and the Lawyer
Dalam hidup sehari-hari, ini mirip
seseorang yang hanya percaya pada
dua orang: satu orang yang
mengurus kebutuhan harian
(seperti ART atau perawat pribadi),
dan satu orang lagi yang mengurus
uang serta urusan legal (seperti
bendahara atau penasihat keuangan).
Karena hampir semua keputusan
dan kebutuhan lewat mereka berdua,
posisi mereka jadi sangat penting.
Lama-kelamaan, mereka bukan
hanya “pekerja”, tapi menjadi orang
paling dekat. Tidak mengherankan
jika akhirnya mereka juga mendapat
bagian besar dari warisan,
karena merekalah yang paling sering
hadir dalam hidup Huguette.
Gifts and Questions
Bayangkan seorang nenek yang
hidup menyendiri lalu sering
memberi uang besar ke orang-orang
di sekitarnya: tetangga, penjaga
rumah, atau kenalan. Tidak ada
catatan jelas, tidak ada alasan
yang rinci, pokoknya memberi saja.
Di situ mulai muncul pertanyaan
wajar:
apakah ini benar-benar karena
kebaikan hati, atau karena nenek
itu terlalu bergantung pada
orang-orang di sekelilingnya?
Saat hubungan tidak seimbang,
kebaikan dan potensi
penyalahgunaan bisa terlihat
sangat mirip.
Catatan: Huguette Clark adalah
perempuan, dan pada periode
cerita ini usianya sudah sangat
lanjut (80–100 tahun).
The Empty Houses
Ini seperti punya tiga rumah besar,
lengkap dengan listrik, air, dan
tukang kebun, tapi tidak pernah
ditinggali. Rumah dirawat rutin,
tapi tidak ada suara orang, tidak ada
aktivitas, hanya debu dan furnitur
yang diam.
Rumah-rumah kosong itu
mencerminkan hidup Huguette
sendiri: uangnya terawat, asetnya
rapi, tapi kehidupan nyatanya
kosong dari interaksi manusia.
Harta tetap hidup, tapi pemiliknya
memilih menjauh dari dunia.
