Bagian 2: Perspektif Alternatif
Sahabat, kita lanjutkan ke Bagian
Dua dari buku Start with Why.
Setelah di Bagian Satu Simon Sinek
membongkar kerapuhan organisasi
yang hanya mengandalkan
manipulasi, di bagian ini ia
menawarkan perspektif alternatif
yang ia sebut sebagai Golden
Circle. Mari kita selami.
Bagian 2: Perspektif Alternatif
Bab 3: Lingkaran Emas
(The Golden Circle)
Simon Sinek memperkenalkan konsep
yang menjadi inti dari seluruh
bukunya: The Golden Circle
(Lingkaran Emas). Bayangkan tiga
lingkaran konsentris. Lingkaran
paling luar adalah WHAT (Apa).
Lingkaran tengah adalah
HOW (Bagaimana). Lingkaran
paling dalam, intinya, adalah
WHY (Mengapa).
Sinek berpendapat bahwa setiap
organisasi dan setiap pemimpin
di planet ini tahu WHAT mereka.
Mereka tahu produk atau jasa apa
yang mereka jual. Ini adalah
lingkaran paling luar, yang paling
mudah diidentifikasi. Sebagian
besar organisasi juga tahu HOW
mereka melakukannya. Mereka tahu
proses, nilai jual unik, atau teknologi
yang membedakan mereka dari
pesaing. Ini adalah lingkaran tengah.
Tetapi sangat sedikit organisasi atau
pemimpin yang bisa dengan jelas
mengartikulasikan WHY mereka.
WHY bukanlah tentang menghasilkan
uang. Uang adalah hasil, bukan tujuan.
WHY adalah tujuan, keyakinan, atau
alasan fundamental mengapa
organisasi itu ada.
Mengapa ia didirikan?
Apa yang ia yakini?
Perubahan apa yang ingin ia
bawa ke dunia?
Masalahnya, kebanyakan organisasi
berkomunikasi dan bertindak dari
luar ke dalam. Mereka mulai dengan
WHAT, lalu menjelaskan HOW, dan
mungkin, jika ada waktu,
menyinggung WHY. Pendekatan ini
mungkin informatif, tetapi tidak
menginspirasi. Sinek berpendapat
bahwa para pemimpin dan organisasi
yang paling menginspirasi, seperti
Apple, Martin Luther King Jr., atau
Wright bersaudara, semuanya
berkomunikasi dari dalam ke luar.
Mereka mulai dengan WHY, baru
kemudian menjelaskan HOW dan
WHAT.
Perbedaannya sangat dramatis.
Bayangkan jika Apple memasarkan
produknya seperti kebanyakan
perusahaan. Mereka akan berkata,
“Kami membuat komputer yang
hebat. Komputer kami didesain
dengan indah dan mudah digunakan.
Mau beli?”
Itu adalah komunikasi dari luar
ke dalam, dimulai dengan WHAT.
Sekarang, dengarkan bagaimana
Apple sebenarnya berkomunikasi,
dimulai dari WHY:
“Dalam segala hal yang kami
lakukan, kami percaya dalam
menantang status quo. Kami percaya
dalam berpikir berbeda. Cara kami
menantang status quo adalah
dengan membuat produk yang
didesain dengan indah, sederhana,
dan mudah digunakan.
Kami kebetulan membuat komputer
yang hebat. Mau beli?”
Komunikasi ini terasa sangat
berbeda. Ia tidak hanya menjual
produk; ia mengundang Anda
untuk bergabung dengan sebuah
keyakinan.
Bab 4: Ini Bukan Pendapat,
Ini Biologi
Mengapa memulai dengan WHY
begitu ampuh? Sinek berpendapat
bahwa ini bukan sekadar teori
bisnis. Ini adalah biologi. Golden
Circle selaras dengan cara kerja
otak manusia.
Otak manusia dapat dibagi secara
sederhana menjadi dua bagian
utama. Bagian luar adalah
neokorteks (neocortex), yang
bertanggung jawab atas pemikiran
rasional, analitis, dan bahasa.
Bagian ini selaras dengan WHAT.
Ketika kita mendengar fakta, data,
dan spesifikasi, neokorteks kita
yang bekerja. Bagian dalam otak
adalah sistem limbik
(limbic system), yang bertanggung
jawab atas perasaan, kepercayaan,
dan perilaku. Sistem limbik tidak
memiliki kapasitas bahasa. Ia tidak
bisa memproses kata-kata.
Ia hanya bisa memproses perasaan.
Di sinilah letak kekuatan WHY.
Ketika sebuah organisasi
berkomunikasi dari luar ke dalam,
dimulai dengan WHAT,
ia berbicara ke neokorteks kita.
Otak kita bisa memahami informasi
itu secara rasional, tetapi tidak ada
yang memicu tindakan.
Ketika sebuah organisasi
berkomunikasi dari dalam ke luar,
dimulai dengan WHY, ia langsung
berbicara ke sistem limbik kita,
pusat pengambilan keputusan kita.
Kita membuat keputusan secara
emosional, berdasarkan perasaan
dan keyakinan, dan kemudian kita
menggunakan neokorteks untuk
membenarkan keputusan itu
secara rasional.
Inilah sebabnya mengapa kita sering
berkata tentang sebuah keputusan,
“Rasanya benar,” atau
“Aku punya firasat bagus.”
Kita tidak bisa menjelaskannya
dengan kata-kata, karena bagian
otak yang membuat keputusan itu
tidak memiliki kapasitas bahasa.
Itu adalah gut feeling. Memulai
dengan WHY adalah berbicara
langsung ke gut feeling itu. Ini
adalah biologi, bukan pendapat.
Bab 5: Kejelasan, Disiplin,
dan Konsistensi
Memiliki WHY yang jelas adalah
langkah pertama, tetapi itu saja tidak
cukup. Sinek menekankan bahwa
untuk membangun organisasi yang
benar-benar menginspirasi, kita
harus menjaga keseimbangan antara
kejelasan, disiplin, dan konsistensi
di seluruh Golden Circle.
Kejelasan mengacu pada WHY.
WHY harus sangat jelas sehingga
setiap orang di organisasi bisa
mengartikulasikannya tanpa
ragu-ragu. Ini adalah tanggung
jawab pemimpin. Tanpa kejelasan
WHY, organisasi akan
terombang-ambing oleh tren pasar
dan tekanan jangka pendek.
Disiplin mengacu pada HOW.
Ini adalah prinsip-prinsip dan
nilai-nilai yang memandu
bagaimana organisasi mewujudkan
WHY-nya. HOW harus disiplin.
Artinya, organisasi harus memiliki
integritas untuk selalu bertindak
sesuai dengan prinsip-prinsipnya,
bahkan ketika itu sulit atau mahal.
Jika WHY adalah keyakinan, HOW
adalah tindakan yang membuktikan
keyakinan itu.
Konsistensi mengacu pada WHAT.
Segala sesuatu yang organisasi
lakukan, semua produk, layanan,
pemasaran, dan komunikasi, harus
secara konsisten mencerminkan
WHY. Ketika WHAT konsisten
dengan WHY, itu adalah bukti nyata
dari keyakinan. Pelanggan dan
karyawan akan merasakan keaslian.
Mereka akan percaya.
Ketika ketiga elemen ini seimbang,
kepercayaan terbangun.
Tetapi tanpa WHY, yang tersisa
hanyalah diferensiasi produk.
Anda hanya bersaing pada fitur,
harga, atau kualitas. Ini adalah
permainan yang berbahaya,
karena semua itu bisa ditiru.
Keyakinan tidak bisa ditiru.
Sahabat, Bagian Dua ini adalah inti
dari filosofi Simon Sinek. Golden
Circle yang dimulai dari WHY
bukanlah taktik pemasaran, melainkan
cerminan dari biologi manusia yang
terdalam. Di bagian selanjutnya,
kita akan melihat bagaimana
pemimpin menggunakan WHY untuk
menginspirasi pengikut dan
menciptakan gerakan.
Contoh Kasus: Perspektif
Alternatif (The Golden Circle)
Kasus: Apple dan Komunikasi
dari WHY
Mari kita lihat bagaimana Apple,
perusahaan yang paling sering dikutip
oleh Simon Sinek, menerapkan Golden
Circle. Bandingkan pendekatan Apple
dengan pendekatan perusahaan
komputer lain pada masa awal
revolusi personal computer.
Pada tahun 1980-an dan 1990-an,
sebagian besar perusahaan komputer
memasarkan produk mereka dengan
cara yang sama.
Mereka berkomunikasi dari luar
ke dalam, dimulai dengan WHAT.
Iklan Dell, misalnya, akan berbunyi
seperti ini:
“Kami membuat komputer yang
hebat. Komputer kami memiliki
prosesor Intel terbaru, RAM yang
besar, dan desain yang profesional.
Harganya kompetitif. Mau beli?”
Ini adalah komunikasi yang dimulai
dari WHAT, lalu
HOW (prosesor, RAM, desain), dan
mungkin sama sekali tidak
menyentuh WHY.
Apple, di sisi lain, berkomunikasi
dari dalam ke luar. Dengarkan
bagaimana Apple sebenarnya
berkomunikasi:
“Dalam segala hal yang kami
lakukan, kami percaya dalam
menantang status quo. Kami
percaya dalam berpikir berbeda.
Cara kami menantang status quo
adalah dengan membuat produk
yang didesain dengan indah,
sederhana, dan mudah digunakan.
Kami kebetulan membuat
komputer yang hebat. Mau beli?”
Perbedaannya sangat dramatis.
Komunikasi Apple tidak dimulai
dengan spesifikasi teknis. Ia dimulai
dengan keyakinan, yaitu menantang
status quo dan berpikir berbeda.
Keyakinan ini berbicara langsung
ke sistem limbik, ke pusat
pengambilan keputusan emosional.
Orang yang juga percaya pada
pemikiran yang menantang, pada
kreativitas, dan pada individualitas,
merasakan koneksi instan. Mereka
tidak membeli komputer. Mereka
membeli pernyataan tentang siapa
diri mereka.
Inilah mengapa orang rela mengantre
berjam-jam untuk membeli produk
Apple. Ini bukan tentang spesifikasi.
Ini tentang keyakinan.
Contoh Kasus Kedua:
Nintendo Wii dan Keputusan
Emosional
Pada pertengahan tahun 2000-an,
industri video game dikuasai oleh dua
raksasa: Sony dengan PlayStation 3
dan Microsoft dengan Xbox 360.
Keduanya bersaing dalam hal
spesifikasi teknis: grafis yang lebih
realistis, prosesor yang lebih cepat,
dan kapasitas penyimpanan yang
lebih besar. Mereka berkomunikasi
dari WHAT.
“Konsol kami memiliki grafis 1080p.”
“Konsol kami memiliki prosesor Cell
yang revolusioner.”
Ini adalah komunikasi yang berbicara
ke neokorteks, bagian otak yang
memproses data rasional.
Nintendo, yang saat itu dianggap
sebagai pemain yang mulai tertinggal,
memilih pendekatan yang sama sekali
berbeda. Alih-alih bersaing dalam
spesifikasi, mereka bertanya pada
diri sendiri:
“Mengapa orang bermain video game?”
Jawabannya bukanlah
“untuk melihat grafis yang realistis.”
Jawabannya adalah
“untuk bersenang-senang bersama.”
Nintendo memulai dengan WHY.
Mereka meluncurkan Wii, sebuah
konsol yang secara teknis jauh lebih
rendah dari PlayStation 3 atau Xbox
360. Grafisnya tidak sebanding.
Prosesornya lebih lambat. Tetapi
Wii memiliki sesuatu yang tidak
dimiliki oleh para pesaingnya:
pengendali gerak yang intuitif.
Tiba-tiba, siapa pun bisa bermain.
Kakek-nenek bisa bermain bowling
virtual dengan cucu mereka.
Teman-teman bisa bermain tenis
di ruang tamu. Keluarga bisa
berkumpul dan tertawa bersama.
Wii tidak menjual spesifikasi.
Wii menjual kesenangan dan
kebersamaan. Itu adalah WHY yang
berbicara langsung ke sistem limbik
konsumen. Hasilnya, Wii menjadi
konsol terlaris pada generasinya,
mengalahkan PlayStation 3 dan Xbox
360. Nintendo memenangkan
pertempuran bukan dengan menjadi
lebih cepat atau lebih kuat, tetapi
dengan memiliki WHY yang jelas.
Contoh Kasus Ketiga:
Harley-Davidson dan
Konsistensi
Harley-Davidson bukanlah perusahaan
sepeda motor. Mereka tidak menjual
mesin, roda, atau tangki bensin.
Harley-Davidson menjual impian
tentang kebebasan dan pemberontakan.
WHY mereka adalah untuk
mewujudkan semangat Amerika yang
liar dan bebas. Ini adalah keyakinan
yang sangat kuat.
Yang membuat Harley-Davidson
istimewa adalah disiplin HOW
mereka dan konsistensi WHAT
mereka. Desain sepeda motor Harley
tidak berubah secara drastis selama
puluhan tahun. Suara mesin
“potato-potato” mereka yang khas
adalah sesuatu yang mereka
pertahankan, bahkan dipatenkan.
Merchandise mereka, acara-acara
mereka, dan seluruh budaya yang
mereka bangun konsisten dengan
WHY mereka.
Hasilnya adalah kepercayaan dan
loyalitas yang luar biasa.
Orang menato logo Harley-Davidson
di tubuh mereka. Mereka bukan
hanya pelanggan. Mereka adalah
pengikut setia yang percaya pada
keyakinan yang sama. Ini adalah
contoh sempurna dari apa yang
terjadi ketika WHAT secara
konsisten mencerminkan WHY.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita lanjut ngobrolin Start with
Why. Setelah di bagian pertama
Simon Sinek sukses bikin lo ngerasa
gelisah soal betapa rapuhnya bisnis
yang cuma ngandelin obral dan rasa
takut, sekarang dia bakal ngasih lo
perspektif baru yang jadi inti dari
seluruh bukunya. Dia nyebut ini
The Golden Circle, Lingkaran
Emas.
Bab 3: Lingkaran Emas, Bukan
Cuma Soal Jualan
Bayangin tiga lingkaran yang nyatu
kayak papan tembak. Lingkaran
paling luar, yang paling gede dan
paling gampang keliatan, namanya
WHAT (Apa).
Lingkaran tengahnya,
HOW (Gimana).
Nah, lingkaran paling dalem, inti
dari semuanya, adalah
WHY (Kenapa).
Sinek bilang, setiap organisasi dan
setiap pemimpin di muka bumi ini
pasti tau WHAT mereka.
Lo jualan kopi? Itu WHAT lo.
Lo jualan software? Itu WHAT lo.
Ini gampang. Sebagian besar juga
tau HOW mereka. Lo bisa bilang,
“Kopi gue bijinya single origin,
disangrai sendiri.” Atau,
“Software gue interface-nya simpel,
integrasinya gampang.” Itu semua
HOW.
Tapi yang jadi masalah, SANGAT
SEDIKIT yang bisa dengan jelas
ngomongin WHY mereka. Dan ini
nih yang sering disalahpahami.
WHY itu BUKAN soal ngasilin duit.
Duit itu HASIL, cuy. Itu mah bonus.
WHY adalah TUJUAN lo,
KEYAKINAN lo, alasan paling
dalem kenapa lo ada di dunia ini.
Kenapa bisnis lo berdiri?
Apa yang lo yakini?
Perubahan apa yang pengen lo
bawa?
Masalah klasiknya, kebanyakan bisnis
dan orang itu berkomunikasi dan
bertindak DARI LUAR KE DALAM.
Mereka mulai dari WHAT.
“Nih produk gue, bagus lho,
spesifikasinya ini, harganya segini.”
Baru deh nyerempet dikit ke HOW,
dan kalo sempet, ngomong WHY.
Pendekatan kayak gini informatif,
iya. Tapi menginspirasi? Gak.
Bikin orang bergerak? Nggak juga.
Sinek bilang, lihat aja para
pemimpin dan organisasi paling
menginspirasi di dunia: Apple,
Martin Luther King Jr., Wright
bersaudara. Mereka semua
ngomongnya DARI DALAM
KE LUAR. Mereka mulai dari
WHY. Baru HOW, baru WHAT.
Dan bedanya kerasa banget.
Coba lo bayangin Apple jualan
kayak perusahaan biasa. Mereka
bakal bilang,
“Kami bikin komputer yang keren.
Desainnya indah, gampang dipake.
Mau beli?” Itu dari luar ke dalam,
mulai dari WHAT. Sekarang,
dengerin gimana Apple beneran
ngomong, dari WHY:
“Dalam semua yang kami lakuin,
kami percaya buat nantang status
quo. Kami percaya buat berpikir
beda. CARA kami nantang status
quo adalah dengan bikin produk
yang didesain indah, simpel, dan
mudah dipake. Kami KEBETULAN
bikin komputer yang keren.
Mau beli?”
Bedanya kerasa banget, kan?
Yang pertama cuma jualan barang.
Yang kedua ngajak lo buat GABUNG
dalam sebuah keyakinan.
Lo gak cuma beli, lo jadi bagian
dari sesuatu.
Bab 4: Ini Bukan Opini,
Ini Biologi, Bro!
Kenapa sih mulai dari WHY itu
ampuh banget? Sinek gak cuma asal
ngomong. Dia bilang, ini BIOLOGI.
Golden Circle ternyata selaras
banget sama cara kerja otak manusia.
Secara simpel, otak kita itu kepotong
jadi dua bagian utama. Bagian luar
namanya neokorteks. Bagian ini yang
ngurusin pemikiran RASIONAL,
ANALITIS, dan BAHASA. Nah,
ini selaras sama WHAT. Pas lo denger
fakta, data, spek, neokorteks lo yang
lagi kerja. Bagian dalem otak
namanya sistem limbik. Ini pusatnya
PERASAAN, KEPERCAYAAN, dan
PERILAKU. Tapi yang bikin repot,
sistem limbik ini GAK PUNYA
KEMAMPUAN BAHASA. Dia gak bisa
ngolah kata-kata. Dia cuma bisa
ngolah perasaan.
Nah, di sinilah letak kekuatan WHY.
Kalo lo ngomong dari luar ke dalam,
mulai dari WHAT, lo lagi ngomong
ke neokorteks. Otak lo bisa ngerti
info itu secara logis. Tapi gak ada
yang micu tindakan. Gak ada tombol
“beli” yang kepencet. Tapi kalo lo
ngomong dari dalam ke luar, mulai
dari WHY, lo langsung ngomong
ke SISTEM LIMBIK, pusat
pengambilan keputusan. Kita buat
keputusan itu secara EMOSIONAL,
berdasarkan perasaan dan
keyakinan. Nah, baru setelah itu kita
pake neokorteks buat membenarkan
keputusan kita secara rasional.
Inilah kenapa kita suka ngomong,
“Gue ngerasa ini bener,” atau
“Gue punya feeling aja.”
Kita gak bisa jelasin pake kata-kata,
karena bagian otak yang bikin
keputusan itu emang gak punya
bahasa. Itu gut feeling. Memulai
dengan WHY itu artinya lo ngomong
langsung ke gut feeling itu.
Ini biologi, cuy, bukan sekedar teori
marketing.
Bab 5: Harus Jelas, Harus
Disiplin, Harus Konsisten
Punya WHY yang mantep itu langkah
pertama yang krusial. Tapi itu doang
gak cukup. Sinek nekanin,
buat bangun organisasi yang beneran
menginspirasi, lo harus jaga
KESEIMBANGAN antara tiga hal
di seluruh Golden Circle.
Pertama, Kejelasan di WHY lo.
WHY lo harus JELAS BANGET,
sampe semua orang di organisasi lo
bisa ngomonginnya tanpa mikir
dua kali. Ini tanggung jawab lo
sebagai pemimpin. Tanpa kejelasan
WHY, lo bakal gampang goyah,
keombang-ambing tren pasar dan
tekanan jangka pendek.
Kedua, Disiplin di HOW lo. HOW
ini adalah prinsip dan nilai yang jadi
panduan lo mewujudkan WHY.
HOW harus disiplin. Artinya, lo
harus punya integritas buat
SELALU bertindak sesuai prinsip lo,
bahkan pas itu susah atau mahal.
Kalo WHY adalah keyakinan, HOW
adalah tindakan yang ngebuktiin
keyakinan itu.
Ketiga, Konsistensi di WHAT lo.
Semua yang lo lakuin, produk,
layanan, marketing, komunikasi,
semuanya harus secara KONSISTEN
mencerminkan WHY lo. Ketika
WHAT lo konsisten sama WHY,
itu jadi BUKTI NYATA dari
keyakinan lo. Pelanggan dan
karyawan bakal ngerasain
KEASLIAN. Mereka bakal percaya.
Nah, ketika tiga elemen ini seimbang,
KEPERCAYAAN bakal kebangun
dengan sendirinya. Tapi kalo lo gak
punya WHY? Yang tersisa cuma
diferensiasi produk. Lo cuma
bersaing soal fitur, harga, atau
kualitas. Ini permainan yang
berbahaya, karena semua itu BISA
DITIRU. Tapi keyakinan? Gak bisa.
Itu dia Golden Circle, gaes. Inti
filosofi Simon Sinek yang ngebedain
pemimpin biasa sama pemimpin
yang menginspirasi.
