Bab 4 Korban Kedua: Shane Watson
Shane Watson adalah keponakan
Dave. Untuk memahami siapa Shane,
bayangkan seorang anak laki-laki
yang sudah ditinggal mati oleh ibunya.
Ia masih sangat muda, dan ia memiliki
keterbatasan mental. Artinya, ia tidak
sepintar atau secepat orang dewasa
normal dalam memahami situasi.
Ia mudah percaya pada orang lain.
Ia tidak bisa dengan mudah
membedakan mana orang yang
benar-benar baik dan mana orang
yang berpura-pura baik. Ia juga tidak
bisa membela diri dengan efektif.
Kalau ada orang yang berteriak
padanya, ia tidak bisa membalas.
Kalau ada orang yang memukulnya,
ia tidak bisa melawan. Ia hanya bisa
menerima. Inilah yang membuat
Shane sangat rentan. Ia adalah
orang yang membutuhkan
perlindungan, bukan orang yang
bisa melindungi dirinya sendiri.
Ketika ibunya meninggal, Shane
kehilangan satu-satunya orang
di dunia yang benar-benar
melindunginya. Ia tidak punya
tempat lain untuk pergi. Ia tidak
punya uang. Ia tidak punya rumah.
Maka, Dave dan Shelly, sebagai
paman dan bibi, menawarkan rumah
mereka. Dari luar, tawaran ini
terdengar sangat mulia. Seorang
paman yang baik hati menampung
keponakannya yang yatim piatu.
Shane datang ke rumah Knotek
dengan membawa harapan.
Ia berharap akan dirawat. Ia berharap
akan mendapatkan makanan yang
cukup, tempat tidur yang hangat, dan
keluarga yang menyayanginya.
Ia berharap rumah Knotek akan
menjadi tempat berlindung yang aman.
Harapan itu langsung hancur begitu
ia melewati pintu.
Shelly tidak melihat Shane sebagai
keponakan yang membutuhkan kasih
sayang. Shelly melihat Shane sebagai
target baru. Sebagai boneka baru yang
bisa ia mainkan. Sebagai korban yang
tidak akan bisa melawan. Shane
memiliki semua kriteria yang Shelly
cari: ia lemah, ia rentan, ia tidak
punya siapa-siapa lagi di dunia ini,
dan ia sepenuhnya bergantung pada
keluarga Knotek untuk bertahan
hidup. Shane adalah sasaran yang
sempurna.
Pola penyiksaan yang sama yang sudah
menewaskan Kathy Loreno kini
diterapkan pada Shane. Shelly sudah
punya cetak birunya, dan ia tinggal
mengulanginya.
Tahap pertama adalah
penghinaan verbal. Setiap hari,
Shelly berteriak pada Shane.
Ia mengatakan bahwa Shane bodoh.
Bahwa Shane adalah beban. Bahwa
Shane tidak berguna. Bahwa tidak ada
satu pun manusia di dunia ini yang
peduli pada Shane. Bahwa Shane
seharusnya mati saja seperti ibunya.
Kata-kata ini diulang setiap hari,
setiap jam, sampai Shane mulai
memercayainya. Shelly ingin
menghancurkan mental Shane
terlebih dahulu, karena orang yang
mentalnya sudah hancur tidak akan
punya kekuatan untuk melawan.
Tahap kedua adalah perampasan
makanan. Shelly memutuskan bahwa
Shane tidak layak mendapatkan
makanan yang cukup. Porsi makannya
dipotong sedikit demi sedikit.
Dari piring penuh menjadi setengah
piring. Dari setengah piring menjadi
beberapa sendok. Dari beberapa
sendok menjadi tidak sama sekali.
Shane dipaksa bekerja berat
sepanjang hari dengan perut kosong.
Ia menjadi sangat kurus.
Tulang-tulangnya mulai menonjol.
Tenaganya terkuras habis. Shelly
sengaja melakukan ini karena orang
yang kelaparan akan terlalu lemah
untuk berpikir jernih, apalagi
melawan atau melarikan diri.
Tahap ketiga adalah kerja paksa.
Shane dibangunkan sebelum
matahari terbit. Ia disuruh bekerja
tanpa henti sampai larut malam.
Pekerjaannya selalu berat dan
seringkali tidak masuk akal.
Ia disuruh memindahkan tumpukan
batu besar dari satu sudut halaman
ke sudut lain. Setelah selesai, Shelly
memeriksanya dan berkata bahwa
pekerjaannya tidak rapi. Ia lalu
disuruh memindahkan batu-batu itu
kembali ke tempat semula. Ia disuruh
menggali lubang, lalu menutupnya
lagi. Ia disuruh membersihkan
kandang hewan dengan tangan
kosong, tanpa alat. Semua pekerjaan
ini tidak ada tujuannya. Tujuannya
bukan untuk menyelesaikan sesuatu.
Tujuannya adalah untuk
menghancurkan semangat Shane,
untuk membuatnya merasa bahwa ia
hanyalah budak yang tidak punya
kendali atas hidupnya sendiri.
Tahap keempat adalah
pemukulan. Shelly memukul Shane
dengan tangan kosong. Dengan
sepatu. Dengan ikat pinggang. Dengan
kayu. Dengan benda apa pun yang
bisa ia raih saat amarahnya meledak.
Dave, yang selalu patuh pada perintah
istrinya, ikut memukul. Shane yang
sudah lemah karena kelaparan
seringkali jatuh tersungkur setelah
beberapa pukulan. Tapi bukannya
berhenti, Shelly malah
menendangnya saat ia sudah
tergeletak di tanah. Ia menyuruh
Shane bangun, berdiri tegak, lalu
memukulnya lagi.
Puncaknya: kedua kaki Shane
patah. Shelly memerintahkan
Dave untuk memukul kaki Shane
dengan sepotong kayu.
Dave menurut. Ia mengayunkan
kayu itu ke kaki Shane dengan
kekuatan penuh. Tulangnya patah.
Shane menjerit kesakitan. Tapi Shelly
tidak berhenti sampai di situ.
Ia memerintahkan Dave untuk
memukul kaki yang satunya lagi.
Kayu diayunkan lagi. Tulang kedua
patah. Shane tidak bisa berdiri.
Ia roboh ke lantai, mengerang
kesakitan, air mata mengalir
di pipinya.
Yang terjadi setelahnya bahkan lebih
mengerikan. Kaki yang patah itu
tidak pernah diobati. Shelly tidak
memanggil dokter. Tidak ada yang
membawa Shane ke rumah sakit.
Tidak ada yang memasang gips.
Tidak ada yang memberinya obat
penghilang rasa sakit. Shane
dibiarkan tergeletak di tempat yang
sama dengan kedua kaki patah,
sendirian, dalam kegelapan, selama
berhari-hari. Satu-satunya hal yang
Shelly lakukan adalah membungkus
kaki Shane dengan selotip dan
potongan kardus, seolah-olah itu
adalah penyangga darurat yang
cukup. Itu bukan pengobatan.
Itu ejekan.
Tulang-tulang itu akhirnya
menyambung sendiri secara alami.
Tapi karena tidak pernah diatur oleh
dokter, mereka menyambung dengan
cara yang salah. Tulang-tulang itu
bengkok. Sendi-sendinya rusak.
Shane menjadi cacat permanen.
Ia tidak bisa lagi berjalan dengan
normal. Setiap langkah yang ia ambil
selama sisa hidupnya akan terasa
sakit. Kakinya bengkok dan lemah.
Ia akan selalu pincang. Kerusakan ini
tidak akan pernah bisa diperbaiki.
Bagaimana Shane akhirnya
selamat dan keluar dari
rumah itu?
Shane tidak kabur sendirian. Dengan
kondisi kakinya yang cacat dan
mentalnya yang sudah hancur,
ia tidak mungkin melarikan diri
tanpa bantuan. Ia diselamatkan
karena kakak kandungnya sendiri,
yang bernama Marv, mulai curiga.
Marv tinggal di tempat lain. Ia tahu
adiknya, Shane, tinggal di rumah
paman dan bibi mereka. Tapi selama
berbulan-bulan, Marv tidak bisa
menghubungi adiknya. Setiap kali ia
menelepon ke rumah Knotek, Shelly
selalu yang mengangkat telepon.
Shelly selalu punya alasan.
“Shane sedang keluar.” “Shane sedang
sibuk bekerja.” “Shane sedang tidak
enak badan dan tidak bisa bicara.”
Marv tidak pernah diizinkan
berbicara langsung dengan adiknya.
Lama-kelamaan, Marv tahu ada yang
sangat tidak beres. Ia akhirnya
menghubungi polisi dan melaporkan
kecurigaannya. Ketika polisi datang
ke rumah Knotek untuk melakukan
pemeriksaan, mereka menemukan
Shane dalam kondisi yang sangat
menyedihkan. Tubuhnya kurus kering,
penuh luka memar di sekujur badan,
dan kedua kakinya bengkok dengan
bekas luka yang sudah lama. Ia adalah
pemandangan yang sangat memilukan.
Polisi segera mengeluarkan Shane
dari rumah itu dan membawanya
ke rumah sakit. Di sanalah akhirnya
Shane mendapatkan perawatan
medis yang seharusnya ia dapatkan
sejak lama. Dokter-dokter yang
memeriksanya terkejut melihat
tingkat kerusakan pada tubuhnya.
Mereka tidak bisa memperbaiki
kakinya sepenuhnya, karena sudah
terlambat. Tapi setidaknya, Shane
sekarang aman.
Catatan penting: Pada titik ini
dalam cerita, Shelly Knotek belum
dihukum. Penyelidikan baru saja
dimulai. Shane yang selamat dan
berhasil keluar dari rumah itu akan
menjadi saksi kunci yang sangat
penting. Kesaksiannya, bersama
dengan kesaksian korban-korban
lain, nantinya akan menjadi dasar
bagi pihak berwenang untuk akhirnya
menangkap dan menuntut Shelly
atas semua kejahatannya. Tapi
semua itu masih akan terjadi
di bab-bab selanjutnya.
Shane tidak ikut kakaknya, Marv,
karena pada saat ibu mereka
meninggal, Marv belum mampu
mengambil tanggung jawab penuh
untuk merawat Shane. Marv masih
muda, belum mapan secara finansial,
dan tinggal jauh dari sana.
Sementara itu, Dave sebagai paman
menawarkan rumah dan perawatan.
Bagi keluarga besar, tawaran dari
pasangan yang lebih tua dan sudah
berumah tangga terdengar lebih
stabil dan aman. Jadi, keputusan
itu diambil dengan keyakinan
bahwa Shane akan berada di tangan
yang tepat. Tidak ada yang tahu
bahwa rumah itu justru akan
menjadi neraka baginya.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Guys, setelah lo tau nasib tragis Kathy,
sekarang kita lanjut ke korban kedua.
Namanya Shane Watson. Ini cerita
yang nggak kalah bikin miris, dan
korbannya adalah seseorang yang
seharusnya dilindungi, bukan
dihancurkan. Yuk, kita obrolin.
Bab 4: Korban Kedua,
Shane Watson
Lo tau, Shane Watson ini sebenarnya
keponakannya Dave. Buat lo yang
belum kebayang, coba bayangin
seorang anak laki-laki yang masih
sangat muda dan punya keterbatasan
mental. Artinya, dia nggak sepintar
atau secepat orang dewasa normal
dalam nangkep situasi. Dia gampang
banget percaya sama orang lain, dan
nggak bisa dengan gampang
ngebedain mana yang benar-benar
baik, mana yang cuma pura-pura.
Dia juga nggak bisa bela diri dengan
baik. Kalau ada yang teriak, dia
nggak bisa ngebales. Kalau ada yang
mukul, dia nggak bisa ngelawan.
Dia cuma bisa nerima. Inilah yang
bikin Shane super rentan. Dia tuh
orang yang butuh banget
perlindungan, bukan tipe yang bisa
ngelindungin diri sendiri.
Pas ibunya meninggal, dunia Shane
runtuh. Dia kehilangan satu-satunya
orang di dunia ini yang benar-benar
ngelindungin dia. Dia nggak punya
tempat lain buat pergi, nggak punya
duit, nggak punya rumah. Kakak
kandungnya, Marv, masih terlalu
muda dan belum bisa secara finansial
buat nanggung jawab penuh. Maka,
Dave dan Shelly, sebagai paman dan
bibi, menawarkan rumah mereka.
Dari luar, tawaran ini kedengerannya
mulia banget. Seorang paman yang
baik hati nampung keponakannya yang
yatim piatu. Shane dateng ke rumah
Knotek dengan harapan. Dia berharap
bakal dirawat, dikasih makan yang
cukup, tempat tidur anget, dan
keluarga yang sayang. Dia berharap
rumah itu jadi tempat yang aman.
Harapan itu hancur total begitu dia
lewat pintu.
Shelly nggak ngeliat Shane sebagai
keponakan yang butuh kasih sayang.
Buat dia, Shane adalah target baru,
boneka baru yang bisa dia maenin,
korban yang nggak bakal bisa
ngelawan. Shane punya semua kriteria
yang Shelly cari: dia lemah, dia rentan,
dia nggak punya siapa-siapa lagi, dan
dia sepenuhnya bergantung. Shane
adalah sasaran yang sempurna.
Pola penyiksaan yang sama persis,
yang udah ngebuat Kathy mati,
sekarang diterapin ke Shane. Shelly
udah punya cetak birunya, dia
tinggal ngulang.
Tahap pertama, penghinaan verbal.
Setiap hari, Shelly teriak-teriak
ke Shane. Dia bilang Shane bodoh,
beban, nggak berguna. Dia bilang
nggak ada satu pun manusia yang
peduli sama Shane, dan Shane
seharusnya mati aja kayak ibunya.
Kata-kata ini diulang tiap hari, tiap
jam, sampe Shane mulai percaya.
Tujuannya ngancurin mental duluan.
Tahap kedua, perampasan makanan.
Shelly mutusin Shane nggak layak
dikasih makan. Porsinya dipotong
dikit demi dikit, dari piring penuh,
jadi setengah, beberapa sendok,
sampe nggak sama sekali.
Shane dipaksa kerja berat dengan
perut kosong. Badannya makin kurus,
tulangnya makin kelihatan,
tenaganya habis.
Tahap ketiga, kerja paksa. Shane
dibangunin sebelum subuh dan
dipaksa kerja non-stop sampe malem.
Kerjaannya berat dan sering nggak
masuk akal. Dia disuruh mindahin
tumpukan batu gede dari satu ujung
ke ujung lain. Pas kelar, Shelly bilang
nggak rapi, terus disuruh mindahin
balik lagi ke tempat semula. Atau
disuruh gali lubang, terus nutupnya
lagi. Semua ini nggak ada tujuannya,
selain buat ngingetin Shane bahwa
dia hanyalah budak.
Tahap keempat, pemukulan. Shelly
mukul Shane pake tangan, sepatu,
ikat pinggang, kayu, benda apa pun
yang bisa diraih pas amarahnya
meledak. Dave, yang selalu patuh,
juga ikut mukul. Shane yang udah
lemes karena kelaparan sering jatuh.
Bukannya berhenti, Shelly malah
nendangin dia pas lagi tergeletak.
Puncaknya, ini yang paling brutal,
guys. Kedua kaki Shane sengaja
dipatahin. Shelly merintah Dave
buat mukul kaki Shane pake
sepotong kayu. Dave nurut.
Dia ngayunin kayu itu ke kaki Shane
sekuat tenaga. Tulangnya patah.
Shane njerit kesakitan. Tapi Shelly
nggak berhenti. Dia merintah Dave
mukul kaki yang satunya lagi. Kayu
diayunin lagi, tulang kedua patah.
Shane nggak bisa berdiri, roboh,
ngerintih, nangis.
Dan lo tau apa yang terjadi
setelahnya? Kaki yang patah itu nggak
pernah diobatin. Shelly nggak manggil
dokter, nggak bawa ke rumah sakit,
nggak masang gips, nggak ngasih obat
sakit. Shane dibiarin aja tergeletak
di tempat yang sama dengan dua kaki
patah, sendirian, dalam gelap,
berhari-hari. Satu-satunya yang
Shelly lakuin cuma ngebungkus kaki
Shane pake selotip dan potongan
kardus, kayak itu penyangga darurat
yang cukup. Itu bukan pengobatan,
guys. Itu ejekan.
Tulang-tulang itu akhirnya nyambung
sendiri secara alami. Tapi karena
nggak pernah ditanganin dokter,
mereka nyambung dengan cara yang
salah. Tulangnya jadi bengkok,
sendinya rusak. Shane jadi cacat
permanen. Dia nggak bisa lagi jalan
normal. Setiap langkah yang dia ambil
seumur hidupnya bakal terasa sakit.
Kerusakan ini nggak akan pernah bisa
diperbaiki. Bayangin aja rasanya.
Lalu, gimana Shane akhirnya selamat?
Shane nggak kabur sendirian, dengan
kondisi kakinya yang cacat dan
mentalnya yang udah hancur, itu
mustahil. Dia diselametin karena
kakak kandungnya sendiri, Marv,
mulai curiga. Marv tinggal di tempat
lain. Selama berbulan-bulan, dia
nggak bisa ngontak adiknya.
Setiap kali nelpon ke rumah Knotek,
Shelly yang selalu ngangkat. Shelly
selalu punya alesan. “Shane lagi
keluar, Shane lagi sibuk, Shane lagi
sakit.” Marv nggak pernah diizinin
ngomong langsung. Lama-lama, Marv
tahu ada yang sangat salah. Akhirnya,
dia menghubungi polisi.
Ketika polisi dateng buat meriksa,
mereka nemuin Shane dalam kondisi
yang menyedihkan. Tubuhnya kurus
kering, penuh luka memar, dan kedua
kakinya bengkok dengan bekas luka
yang mengerikan. Polisi langsung
ngeluarin Shane dari neraka itu dan
bawa ke rumah sakit. Di sanalah dia
akhirnya dapet perawatan medis yang
seharusnya dia dapet dari dulu.
Dokter-dokter yang meriksanya syok
ngeliat kerusakan di tubuhnya.
Mereka nggak bisa benerin kakinya
sepenuhnya, karena udah terlambat.
Tapi setidaknya, Shane sekarang aman.
Satu catatan penting, guys. Di titik
ini dalam cerita, Shelly Knotek
belum dihukum. Penyelidikan
baru aja dimulai. Shane yang selamat
dan berhasil keluar dari rumah itu
bakal jadi saksi kunci yang penting
banget. Kesaksiannya, bareng sama
korban lain, nantinya bakal jadi dasar
buat polisi akhirnya nangkep dan
nuntut Shelly atas semua kejahatannya.
