Psikologi

Ask a Favor, They’ll Like You More: Mengapa Meminta Tolong Kecil Membuat Orang Semakin Menyukai Anda

Ini kebalikan dari logika. Biasanya
Anda berpikir, “Kalau aku mau
orang suka, aku harus bantu dia.
” Tetapi teknik ini mengajarkan
sebaliknya. Meminta tolong kecil
kepada seseorang justru bisa
membuatnya semakin menyukai
Anda. Aneh, tetapi sudah terbukti.

Teknik ini adalah konsep yang sama
dengan 
The Ben Franklin Effect
yang sudah pernah dibahas
di daftar sebelumnya. Jadi jika Anda
sudah memahami Ben Franklin
Effect, Anda sudah memahami
teknik ini. Bedanya hanya pada
penyebutan yang lebih sederhana.

Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Meminta Bantuan Meningkatkan
Rasa Suka

Eksperimen Jecker dan
Landy (1969): Meminta Bantuan
dan Meningkatkan Rasa Suka

Jon Jecker dan David Landy dari
University of Texas melakukan
eksperimen untuk menguji apakah
meminta bantuan benar-benar bisa
meningkatkan rasa suka.
Partisipan diundang ke laboratorium
untuk mengikuti serangkaian tes
kognitif. Mereka diberi tahu bahwa
mereka akan mendapatkan uang
sebagai imbalan.

Setelah tes selesai, partisipan dibagi
menjadi tiga kelompok.
Pada kelompok pertama, peneliti
mengatakan bahwa eksperimen
sudah selesai, dan partisipan
langsung menerima pembayaran
penuh tanpa diminta apa pun.

Pada kelompok kedua, peneliti
mengatakan hal yang sama, tetapi
menambahkan bahwa dana
penelitian mereka terbatas.
Peneliti meminta bantuan kepada
partisipan:
“Apakah Anda bersedia
mengembalikan sebagian dari uang
yang Anda terima sebagai donasi
untuk penelitian ini?”

Pada kelompok ketiga, permintaan
yang sama diajukan, tetapi kali ini
bukan oleh peneliti yang
berinteraksi langsung dengan
partisipan. Permintaan itu datang
dari bagian administrasi universitas.

Setelah itu, semua partisipan
diminta mengisi kuesioner yang
menilai seberapa mereka menyukai
peneliti yang berinteraksi dengan
mereka.

Hasilnya, partisipan
di kelompok kedua, yang dimintai
bantuan secara langsung oleh peneliti,
memberikan penilaian rasa suka yang
paling tinggi kepada peneliti tersebut.
Mereka lebih menyukai peneliti yang
meminta bantuan dibandingkan
peneliti yang tidak meminta bantuan.

Dialog setelah eksperimen:

Peneliti: “Kenapa Anda menilai saya
lebih baik?”

Partisipan: “Saya merasa Anda orang
yang baik. Saya sudah membantu
Anda, jadi pasti ada alasan kenapa
saya mau membantu.”

Partisipan tidak sadar bahwa rasa
sukanya muncul karena ia sudah
terlanjur memberikan bantuan.

Jecker dan Landy menyimpulkan
bahwa ketika seseorang melakukan
kebaikan untuk orang lain, otaknya
akan menyesuaikan sikapnya agar
konsisten dengan tindakannya.
“Saya menolong orang ini” adalah
fakta yang tidak bisa diubah.
Maka otak mengubah perasaannya:
“Kalau saya menolongnya, berarti
saya menyukainya.”

Eksperimen Nisbett dan
Wilson (1977): Ketidaksadaran
terhadap Proses Mental

Richard Nisbett dan Timothy Wilson
melakukan studi tentang seberapa
sadar manusia terhadap alasan
di balik perasaannya sendiri. Mereka
ingin menguji apakah orang
benar-benar memahami penyebab
dari sikap yang mereka ambil.

Dalam salah satu eksperimen,
partisipan diminta memilih di antara
beberapa pasang stoking nilon yang
dijejerkan di atas meja.
Semua stoking itu sebenarnya identik.
Namun sebagian besar partisipan
memilih stoking yang terletak
di posisi paling kanan.

Ketika ditanya mengapa mereka
memilih stoking itu, mereka
memberikan alasan seperti
“bahannya lebih lembut”,
“warnanya lebih bagus”, atau
“kualitasnya terasa lebih baik”.
Mereka tidak menyebutkan posisi
stoking di meja sebagai alasan.
Mereka benar-benar tidak sadar bahwa
posisi memengaruhi pilihan mereka.

Dialog setelah eksperimen:

Peneliti: “Kenapa kamu memilih
stoking yang itu?”

Partisipan: “Karena bahannya
terasa paling halus.”

Peneliti: “Apakah posisinya
memengaruhi pilihanmu?”

Partisipan: “Tidak. Saya memilih
karena kualitasnya.”

Partisipan tidak menyadari bahwa
otaknya telah membuat alasan yang
terdengar masuk akal untuk
menjelaskan pilihan yang sebenarnya
dipengaruhi oleh hal lain.

Eksperimen ini relevan dengan Ask a
Favor, They’ll Like You More. Ketika
seseorang sudah membantu Anda,
otaknya akan menciptakan alasan
untuk menjelaskan tindakannya.
Alasan yang paling mudah adalah
“Saya menyukai orang ini”.
Dengan begitu, perasaan suka muncul
sebagai hasil dari tindakan, bukan
sebagai penyebab.

Kenapa Partisipan Memilih
Stoking Paling Kanan?

Dalam eksperimen Nisbett dan
Wilson (1977), partisipan diminta
memilih satu dari empat pasang
stoking nilon yang dijejerkan di meja.
Semua stoking itu sebenarnya
identik. Tidak ada perbedaan
bahan, warna, atau kualitas sama
sekali.

Tetapi hasilnya, sekitar 80 persen
partisipan memilih stoking yang
berada di posisi paling kanan.
Kenapa?

Ini terjadi karena otak manusia
punya kecenderungan alami untuk
lebih memperhatikan benda yang
berada di sisi tertentu.
Dalam budaya membaca dari
kiri ke kanan, mata kita terbiasa
bergerak dari kiri ke kanan dan
berhenti di ujung kanan.
Stoking paling kanan adalah benda
terakhir yang dilihat sebelum mata
selesai menjelajah. Karena itu,
benda paling kanan terasa lebih
menonjol dan lebih mudah diingat.

Partisipan tidak sadar bahwa posisi
memengaruhi pilihan mereka.
Mereka merasa bahwa mereka
memilih berdasarkan kualitas.
Padahal, semua stoking sama.

Kenapa Mereka Tidak Sadar?

Otak manusia selalu mencari alasan
yang masuk akal untuk setiap
keputusan. Ketika partisipan ditanya,
“Kenapa kamu memilih stoking itu?”,
mereka tidak mau terdengar bodoh
dengan menjawab, “Aku tidak tahu.”
Jadi otak mereka menciptakan alasan
yang terdengar logis, seperti
“Bahannya lebih lembut” atau
“Warnanya lebih bagus.”

Padahal, alasan itu dibuat setelah
keputusan diambil. Prosesnya begini:

  1. Mata partisipan melihat empat
    stoking.

  2. Stoking paling kanan otomatis
    lebih menonjol karena posisinya.

  3. Tangan partisipan meraih stoking
    paling kanan tanpa alasan sadar.

  4. Otak menyadari bahwa tangan
    sudah memilih.

  5. Otak menciptakan alasan:
    “Pasti karena bahannya lembut.”

  6. Partisipan percaya bahwa alasan
    itu adalah penyebab pilihannya.

Padahal, penyebab sebenarnya adalah posisi.

Hubungan dengan Ask a Favor

Prinsip yang sama bekerja ketika
seseorang membantu Anda.

  1. Anda meminta tolong.

  2. Orang itu membantu, kadang
    tanpa berpikir panjang.

  3. Otaknya menyadari bahwa
    ia sudah membantu.

  4. Otaknya mencari alasan:
    “Kenapa aku membantunya?”

  5. Jawaban yang paling mudah:
    “Karena aku menyukainya.”

  6. Orang itu pun percaya bahwa
    ia memang menyukai Anda.

Jadi, sama seperti stoking paling kanan
yang dipilih karena posisi, orang
menjadi suka kepada Anda karena
tindakan membantu. Bukan karena
Anda memang menyenangkan.

Mengapa Ask a Favor Begitu
Efektif?

Otak orang tidak nyaman ketika ada
perasaan dan tindakan yang tidak
sinkron. Misalnya, ia menolong Anda,
padahal ia merasa biasa saja terhadap
Anda. Otaknya akan bingung.
“Kenapa aku membantunya? Berarti
aku suka dong.” Dari situ, ia mulai
meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia
memang menyukai Anda.

Selain itu, ketika seseorang membantu
Anda, ia telah menginvestasikan
perhatian dan tenaga. Investasi kecil
itu menciptakan keterikatan.
Ia merasa punya andil dalam hidup
Anda. Perasaan punya andil ini
membuatnya lebih peduli.

Meminta tolong juga memberi sinyal
bahwa Anda mempercayainya.
Kepercayaan itu menyenangkan.
Orang merasa dihargai ketika
dimintai pendapat atau bantuan.
Perasaan dihargai inilah yang
membuat ia lebih terbuka dan lebih
suka kepada Anda.

Tiga Langkah Menerapkan Ask a
Favor: Kisah Raka dan Rekan
yang Cuek

Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Raka.
Ia ingin mendekati rekan kerjanya,
Bima, yang terkenal cuek.

Langkah 1: Minta Sesuatu yang
Ringan

Raka tidak langsung meminta
bantuan besar. Ia mulai dari
hal kecil.

Raka: “Bima, bisa bantu cek laporan
aku sebentar? Aku ragu sama bagian
kesimpulannya.”

Bima sedikit terkejut, tetapi setuju.
“Mana? Sini aku lihat.”

Langkah 2: Beri Apresiasi yang
Tulus

Setelah Bima selesai memeriksa,
Raka mengucapkan terima kasih
dengan tulus.

Raka: “Makasih, Bima.
Masukanmu ngebantu banget.”

Bima: “Sama-sama. Kalau ada yang
perlu dicek lagi, bilang aja.”

Langkah 3: Jangan Keliatan
Manfaatin

Raka tidak langsung meminta tolong
lagi. Ia menunggu beberapa hari,
lalu sesekali mengobrol ringan
dengan Bima.

Lama-lama, Bima menjadi lebih
terbuka. Ia mulai menyapa Raka
duluan dan lebih ramah dari
sebelumnya.

Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal

1. Minta Saran Tempat
Nongkrong

Maya baru mengenal Sari
di komunitas. Ia ingin
mencairkan suasana.

Maya: “Sari, menurutmu tempat
nongkrong yang enak di sini
di mana?”

Sari: “Ada kafe dekat sini yang
suasananya tenang. Aku suka
ke sana.”

Maya: “Wah, makasih. Nanti
aku coba.”

Sari merasa senang karena
pendapatnya dicari. Sejak itu ia
lebih hangat kepada Maya.

2. Minta Pendapat tentang
Pakaian

Bima sedang bersiap ke acara.
Ia bertanya kepada Rina.

Bima: “Rina, menurutmu baju
ini cocok nggak?”

Rina: “Cocok. Warnanya pas
sama acaranya.”

Bima: “Oke deh, kalau gitu aku
pakai ini.”

Rina merasa dilibatkan. Hubungan
mereka jadi lebih akrab.

3. Minta Bantuan Kecil
di Kantor

Raka meminta tolong kepada
Doni.

Raka: “Doni, pinjem pulpen
dong, sebentar.”

Doni: “Ini.”

Raka: “Makasih.”

Beberapa saat kemudian,
Doni mengajak Raka makan siang
bersama. Rasa akrab mereka
tumbuh dari bantuan kecil itu.

Cara Melindungi Diri dari
Teknik Ini

Jika Anda merasa seseorang
meminta tolong untuk membuat
Anda menyukainya, ada beberapa
langkah yang bisa dilakukan.

Pertama, jangan langsung
menyimpulkan bahwa Anda
menyukai orang itu hanya
karena sudah membantu.

Rasa suka bisa muncul dari
tindakan, tetapi tidak selalu
tulus.

Kedua, bedakan antara
investasi dan ketulusan.

Tanyakan pada diri sendiri,
“Aku peduli karena dia baik, atau
karena aku sudah banyak
membantunya?”

Ketiga, jangan takut menolak
permintaan kecil.

Anda berhak berkata tidak.
Perasaan Anda tetap valid.

Keempat, jaga batas. Membantu
boleh, tetapi jangan sampai
dimanfaatkan terus-menerus.

Ask a Favor, They’ll Like You More
adalah teknik yang memanfaatkan
kebutuhan otak akan konsistensi.
Sekali Anda membantu seseorang,
otak Anda akan mencari alasan
untuk membenarkan bantuan itu.
Alasan yang paling mudah adalah
“Saya menyukainya”. Gunakan teknik
ini untuk kebaikan, bukan untuk
memperalat orang. Karena hubungan
yang tulus selalu dimulai dari niat
yang tulus.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya 
Ask a Favor, They’ll Like
You More
.

Ini kebalikan dari logika. Biasanya lo
mikir, “Kalau gue mau orang suka,
gue harus bantu dia.” Tapi teknik ini
ngajarin sebaliknya. Minta tolong kecil
ke seseorang justru bisa bikin dia
makin suka sama lo. Aneh kan?
Tapi udah kebukti.

Nah, kalau lo masih ingat, di daftar
lama kita pernah bahas 
The Ben
Franklin Effect
. Persis. Ini bukan
cuma mirip. Ini emang konsep yang
sama. Jadi kalau lo udah paham Ben
Franklin Effect, berarti lo udah
paham ini juga. Bedanya cuma
penyebutan di materi ini lebih
sederhana.

Simpelnya, kenapa ini bisa terjadi?
Karena otak orang nggak nyaman
kalau ada perasaan dan tindakan
yang nggak sinkron. Misalnya,
dia nolongin lo, padahal dia ngerasa
biasa aja sama lo. Otak dia bakal
bingung. “Kok gue bantuin dia ya?
Berarti gue suka dong.”
Nah, dari situ dia mulai ngeyakinin
dirinya sendiri kalau dia emang
suka sama lo. Jadinya, minta tolong
kecil bisa bikin orang ngerasa lebih
deket.

Contoh gampangnya gini. Lo mau
deket sama rekan kerja yang rada
cuek. Jangan mulai dengan bantuin
dia. Mulai dengan minta tolong hal
kecil. “Bisa bantu cek laporan gue
sebentar nggak?” Setelah dia bantu,
dia bakal ngerasa lebih nyaman
sama lo. Besok-besoknya, dia bakal
lebih terbuka.

Contoh lain di pertemanan. Lo baru
kenal orang. Lo minta saran kecil,
“Menurut lo, tempat nongkrong
yang enak di sini di mana?”
Dia bakal antusias jawab. Dan setelah
ngasih saran, dia bakal ngerasa lo
orang yang asik, karena dia udah
investasi perhatian ke lo.

Cara pakainya gampang.
Pertama, minta sesuatu yang ringan.
Jangan minta tolong yang berat.
Cukup hal-hal kecil kayak pendapat,
pinjem pulpen, atau rekomendasi.
Kedua, pas dia bantu,
kasih apresiasi. Bilang makasih
dengan tulus.
Ketiga, jangan keliatan manfaatin.
Kalau lo cuma minta tolong terus
tanpa ada niat baik, dia bakal sadar.

Jadi, Ask a Favor, They’ll Like
You More
 itu ibarat lo nanem
benih kecil. Lo suruh orang nyiram
dikit. Dan begitu dia nyiram,
dia ngerasa tanamannya jadi punya
dia juga. Dia bakal lebih peduli
sama lo, karena dia udah ngerawat dikit.

Gimana? Udah inget kan sama
Ben Franklin Effect?
Kalau lo siap lanjut, berikutnya kita
bahas 
Use Because, Even If the
Reason’s Nonsense
. Ini juga ada
nyambungnya sama teknik lama.
Stay tuned.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *