Make It Seem Rare, They’ll Want It More: Mengapa Kesan Langka Membuat Sesuatu Lebih Diinginkan
Pernahkah Anda merasa ingin
memiliki sesuatu justru karena
barangnya sulit didapat? Misalnya,
Anda sedang menggulir jualan online,
lalu muncul tulisan “stok tinggal satu”.
Padahal sebelumnya Anda biasa saja.
Tetapi begitu melihat tulisan itu,
jantung Anda berdebar.
Anda buru-buru checkout.
Padahal barangnya tidak berubah.
Yang berubah hanya kesan langka.
Teknik ini mengajarkan bahwa rasa
langka bisa membuat sesuatu
terlihat lebih berharga.
Ketika Anda membuat sesuatu
terkesan sulit didapat, orang jadi
lebih menginginkannya. Mengapa?
Karena otak menganggap barang
langka itu pasti bagus. Jika banyak
yang mau, berarti ada nilainya.
Dan jika tidak buru-buru,
kita takut kehilangan.
Teknik ini adalah konsep yang sama
dengan False Scarcity yang pernah
dibahas di daftar 35 teknik
manipulasi sebelumnya. Waktu itu
kita membahas bagaimana penjual
membuat stok terlihat sedikit atau
promo terlihat mau habis, padahal
tidak benar-benar langka.
Teknik ini adalah versi ringkasnya.
Eksperimen Ilmiah:
Bukti bahwa Kesan Langka
Meningkatkan Keinginan
Eksperimen Worchel, Lee, dan
Adewole (1975): Kue yang
Menjadi Lebih Enak Saat
Langka
Stephen Worchel dan timnya dari
University of North Carolina
melakukan eksperimen klasik
tentang bagaimana persepsi
kelangkaan mengubah penilaian
seseorang terhadap suatu barang.
Mereka menggunakan toples kue
cokelat sebagai objek eksperimen.
Partisipan dibagi menjadi
dua kelompok. Mereka diminta masuk
ke sebuah ruangan dan di sana
terdapat toples berisi kue cokelat.
Mereka diminta mencicipi satu kue
dan menilai rasanya dalam skala
1 sampai 9.
Untuk kelompok pertama, toples itu
penuh berisi 10 kue. Partisipan
melihat banyaknya kue yang tersedia.
Peneliti: “Silakan ambil satu dan
cicipi. Setelah itu, beri penilaian
tentang rasanya.”
Untuk kelompok kedua, toples itu
hanya berisi 2 kue. Partisipan
melihat toples yang hampir kosong.
Peneliti: “Silakan ambil satu. Maaf,
stok kami hampir habis.
Hanya tersisa ini.”
Padahal, kue di kedua toples itu
identik. Kue yang sama, dari pabrik
yang sama, dengan rasa yang sama.
Tidak ada perbedaan sedikit pun.
Hasilnya, partisipan di kelompok
kedua secara konsisten menilai
kue itu lebih enak. Mereka juga
menilai kue itu lebih menarik,
lebih bernilai, dan lebih layak dibeli
dibandingkan penilaian dari
kelompok pertama. Melihat toples
yang hampir kosong membuat otak
mereka menyimpulkan bahwa kue
ini pasti enak dan diminati banyak
orang, sehingga stoknya tinggal
sedikit.
Dialog setelah eksperimen:
Peneliti: “Kenapa kamu menilai kue
ini lebih enak?”
Partisipan kelompok kedua:
“Karena stoknya tinggal sedikit.
Pasti banyak yang suka.
Jadi rasanya pasti enak.”
Peneliti: “Tapi kue ini sebenarnya
sama dengan yang di toples penuh.”
Partisipan: “Mungkin. Tapi rasanya
beda. Yang ini terasa lebih spesial.”
Worchel kemudian melakukan
variasi lain. Ia memberi tahu
sebagian partisipan bahwa stok
kue itu sedikit karena permintaan
yang tinggi. Kepada partisipan lain,
ia mengatakan bahwa stoknya
sedikit karena peneliti ceroboh dan
menjatuhkan sebagian besar kue
ke lantai.
Hasilnya, partisipan yang diberi tahu
bahwa stok habis karena permintaan
tinggi menilai kue itu paling enak.
Sementara partisipan yang tahu
bahwa stok habis karena kecelakaan
tidak terpengaruh.
Worchel menyimpulkan bahwa
kelangkaan membuat barang terasa
lebih bernilai. Tetapi alasan di balik
kelangkaan itu juga penting.
Jika kelangkaan disebabkan oleh
permintaan yang tinggi, nilai barang
akan melonjak. Jika kelangkaan
disebabkan oleh faktor acak,
efeknya tidak terlalu besar.
Pemasar dan manipulator memahami
ini, sehingga mereka tidak hanya
menciptakan kelangkaan, tetapi juga
menciptakan narasi bahwa barang itu
langka karena “semua orang
menginginkannya”.
Eksperimen Cialdini tentang
Prinsip Kelangkaan
Robert Cialdini, dalam bukunya
“Influence: The Psychology of
Persuasion”, menceritakan berbagai
eksperimen yang menunjukkan
kekuatan prinsip kelangkaan.
Salah satu yang paling sederhana
melibatkan penawaran kue dalam
dua kondisi.
Di kondisi pertama,
peneliti menunjukkan toples berisi
banyak kue dan menawarkannya.
Di kondisi kedua, peneliti
menunjukkan toples yang sama,
tetapi sebelum menawarkannya,
ia mengambil sebagian besar kue
dan memindahkannya ke toples lain,
sehingga toples pertama terlihat
hampir kosong.
Hasilnya, kue dari toples yang terlihat
kosong selalu dinilai lebih enak dan
lebih diinginkan. Padahal, partisipan
baru saja melihat peneliti
memindahkan kue-kue itu ke toples
lain. Mereka tahu bahwa stok
sebenarnya masih banyak. Namun
otak mereka tetap terpengaruh
oleh visual toples yang hampir
kosong.
Dialog setelah eksperimen:
Peneliti: “Anda tadi melihat saya
memindahkan kuenya. Kenapa Anda
tetap menilai kue dari toples yang
hampir kosong lebih enak?”
Partisipan: “Saya tahu stoknya masih
ada. Tapi entah kenapa, kue dari
toples yang hampir kosong rasanya
lebih menarik.”
Cialdini menjelaskan bahwa ini terjadi
karena otak manusia menggunakan
jalan pintas atau heuristik dalam
mengambil keputusan. Ketika sebuah
barang terlihat langka, otak otomatis
menyimpulkan bahwa barang itu
berharga tanpa menganalisis lebih
lanjut. Jalan pintas ini berguna
di zaman purba ketika kelangkaan
memang menandakan nilai. Namun
di dunia modern, jalan pintas ini
justru menjadi celah yang
dieksploitasi.
Mengapa Make It Seem Rare
Begitu Efektif?
Naluri bertahan hidup menganggap
barang langka itu penting.
Zaman dulu, jika makanan tinggal
sedikit, kita harus rebutan.
Kalau tidak, kita tidak makan.
Naluri itu masih terbawa sampai
sekarang. Begitu ada yang terkesan
langka, otak langsung panik dan
mengajak bertindak cepat.
Rasa takut kehilangan juga sangat
kuat. Manusia lebih takut kehilangan
daripada senang mendapat. Ketika
Anda merasa suatu kesempatan akan
hilang, Anda cenderung bertindak
cepat tanpa berpikir panjang. Rasa
takut inilah yang dimanfaatkan oleh
teknik ini.
Selain itu, kelangkaan menciptakan
status. Barang langka dianggap
eksklusif. Memilikinya berarti Anda
termasuk orang yang beruntung
atau spesial. Perasaan ini membuat
Anda mau membayar lebih atau
berusaha lebih keras.
Tiga Langkah Menerapkan Make
It Seem Rare:
Kisah Raka yang Menjual
Barang Bekas
Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Raka.
Ia ingin menjual kamera bekasnya.
Langkah 1: Jangan Tampilkan
Semua yang Anda Punya
Raka sebenarnya punya dua unit
kamera. Tetapi ia hanya
menampilkan satu di iklan.
Raka: “Aku akan tampilkan
satu saja. Biar terlihat langka.”
Langkah 2: Beri Batas Waktu
atau Jumlah
Raka menulis caption.
Raka: “Cuma ada satu. Siapa cepat
dia dapat.”
Ia juga menambahkan, “Serius saja
yang tanya.”
Langkah 3: Omongkan
dengan Tenang
Raka membalas chat calon pembeli
dengan tenang.
Pembeli: “Masih ada?”
Raka: “Masih. Tapi tadi sudah
ada yang tanya.”
Pembeli merasa harus cepat.
Ia langsung mentransfer uang muka.
Raka: “Kesan langka membuat
orang lebih cepat memutuskan.”
Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal
1. Menawarkan Produk
Maya menjual produk kerajinan
tangan. Ia memasang status.
Maya: “Stok tinggal tiga. Yang mau
langsung hubungi.”
Beberapa orang langsung
menghubungi. Sebagian takut
kehabisan.
2. Mengajak Rekan Ikut Pelatihan
Bima ingin rekan-rekannya ikut
pelatihan. Ia berkata, “Pelatihan ini
kuotanya terbatas. Cuma untuk tiga
orang dari tim kita.”
Rekan-rekan langsung mendaftar.
Mereka tidak mau kehilangan
kesempatan.
3. Memberi Tawaran kepada
Klien
Rina sedang menawarkan paket
kepada klien.
Rina: “Paket ini hanya tersedia
sampai akhir bulan. Setelah itu
harganya naik.”
Klien langsung setuju. Ia takut
harus membayar lebih.
Cara Melindungi Diri dari
Teknik Ini
Jika Anda merasa seseorang membuat
kesan langka untuk membuat Anda
terburu-buru, ada beberapa langkah
yang bisa dilakukan.
Pertama, tanya dulu apakah
benar-benar langka.
Jangan langsung percaya.
Cek di tempat lain.
Kedua, jangan memutuskan saat
panik.
Beri jeda. Kelangkaan yang
dibuat-buat biasanya tidak tahan lama.
Ketiga, pikirkan kebutuhan Anda
sendiri. Apakah Anda benar-benar
membutuhkan barang itu, atau hanya
takut kehilangan?
Keempat, ingat bahwa banyak
“kesempatan langka” muncul
lagi esok hari.
Jangan biarkan rasa takut
mengendalikan Anda.
Make It Seem Rare, They’ll Want It
More adalah teknik yang
memanfaatkan naluri takut
kehilangan. Ketika digunakan untuk
menjual atau mempromosikan
sesuatu secara wajar, ia bisa
membantu orang melihat nilai.
Tetapi ketika digunakan untuk
menipu, ia bisa membuat orang
menyesal. Gunakan dengan bijak,
karena kesan langka yang jujur akan
membangun kepercayaan, sementara
kesan langka yang palsu hanya akan
merusaknya.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya Make It Seem Rare,
They’ll Want It More.
Lo pasti pernah ngerasa pengen
sesuatu justru karena barangnya
susah didapet. Misalnya, lo lagi
scroll jualan online, terus ada
tulisan “stok tinggal satu”. Padahal
sebelumnya lo biasa aja. Tapi begitu
liat tulisan itu, jantung lo deg-degan.
Lo buru-buru checkout. Padahal
barangnya nggak berubah.
Yang berubah cuma kesan langka.
Simpelnya, teknik ini ngajarin bahwa
rasa langka bisa bikin sesuatu
keliatan lebih berharga. Ketika lo
bikin sesuatu terkesan susah didapet,
orang jadi lebih pengen. Kenapa?
Karena otak kita nganggep barang
langka itu pasti bagus. Kalau banyak
yang mau, berarti ada nilainya. Dan
kalau nggak buru-buru, kita takut
kehilangan.
Nah, kalau lo ingat, di daftar lama kita
pernah bahas False Scarcity.
Ini persis. Cuma beda istilah.
Waktu itu kita ngomongin gimana
penjual bikin stok keliatan dikit atau
promo keliatan mau habis, padahal
nggak beneran langka. Nah, teknik
ini tuh versi ringkasnya.
Kenapa ini ampuh? Karena naluri
bertahan hidup kita nganggap
barang langka itu penting. Dulu,
kalau makanan tinggal dikit,
kita harus rebutan. Kalau nggak,
kita nggak makan. Naluri itu masih
kebawa sampai sekarang. Begitu ada
yang terkesan langka, otak langsung
panik dan ngajak bertindak cepat.
Contoh gampangnya gini. Lo mau
jual barang bekas. Lo pasang caption,
“Cuma ada satu. Yang serius aja.”
Padahal lo masih simpen stok lain.
Tapi karena kesannya langka, orang
jadi rebutan. Mereka ngerasa dapat
kesempatan emas.
Di dunia kerja juga gitu. Lo lagi
nawarin ide. Lo bilang,
“Ini kesempatan yang jarang muncul.
Cuma ada di momen kayak gini.”
Orang jadi lebih antusias. Mereka
ngerasa kalau nggak ambil
sekarang, bakal nyesel.
Cara pakainya gampang.
Pertama, jangan tampilin semua
yang lo punya. Simpan sebagian,
biar yang keliatan cuma dikit.
Kedua, kasih batas waktu atau
jumlah. “Cuma sampai minggu ini.”
atau “Tinggal dua slot.”
Ketiga, omongin dengan tenang.
Jangan lebay. Makin kalem, makin
meyakinkan.
Tapi inget, jangan sampe lo nipu
orang. Kalau lo bilang langka tapi
ternyata stoknya bejibun, orang
bakal ilang percaya. Kuncinya,
bikin kesan langka yang masuk
akal.
Jadi, Make It Seem Rare,
They’ll Want It More itu ibarat
lo lagi jualan es di tengah panas.
Kalau lo bilang “tinggal satu cup”,
semua orang langsung ngacung.
Bukan karena esnya beda. Tapi
karena rasa takut nggak kebagian
itu lebih kuat dari rasa haus.
Gimana? Udah inget kan miripnya
sama False Scarcity? Kalau lo siap
lanjut, berikutnya kita bahas
Speak Slower, You’ll Sound
Like Authority. Ini soal ritme
bicara yang bikin wibawa lo naik.
Stay tuned.
