Fake a Yawn and Make the Room Tired: Mengapa Menguap Bisa Mengubah Suasana Ruangan
Pernahkah Anda sedang berkumpul,
lalu ada satu orang yang menguap?
Tidak lama kemudian, Anda ikut
menguap. Lalu yang lain ikut.
Padahal sebelumnya Anda tidak
mengantuk. Itu bukan kebetulan.
Menguap itu menular. Dan justru itu
yang membuat teknik ini bekerja.
Teknik ini mengajarkan bahwa Anda
bisa mengontrol suasana ruangan
lewat sinyal tubuh yang kecil.
Jika Anda pura-pura menguap,
orang di sekitar Anda akan merasa
mengantuk juga. Begitu mereka
mengantuk, suasana menjadi lebih
lambat dan lebih tenang. Jika Anda
ingin meredakan orang yang terlalu
bersemangat atau sedang tegang,
ini bisa menjadi cara yang halus.
Eksperimen Ilmiah:
Bukti bahwa Menguap Itu
Menular dan Mempengaruhi
Suasana
Eksperimen Provine (1986):
Yawning is Contagious
Robert Provine, seorang ahli saraf
dari University of Maryland,
melakukan penelitian tentang
menguap. Ia ingin tahu apakah
menguap benar-benar menular
dan faktor apa yang membuatnya
menular.
Provine meminta partisipan menonton
video yang berisi orang-orang yang
sedang menguap. Partisipan lain
menonton video yang berisi orang
tersenyum atau wajah netral. Selama
menonton, Provine mengamati
berapa kali partisipan ikut menguap.
Hasilnya, partisipan yang menonton
video orang menguap ikut menguap
jauh lebih sering dibandingkan
partisipan yang menonton video lain.
Sekitar 55 persen partisipan yang
melihat video menguap ikut
menguap dalam waktu lima menit.
Dialog setelah eksperimen:
Peneliti: “Apakah Anda sadar tadi
menguap beberapa kali?”
Partisipan: “Iya. Padahal saya tidak
merasa ngantuk sebelumnya. Tapi
begitu lihat video orang menguap,
saya jadi ingin menguap juga.”
Peneliti: “Apakah Anda merasa lebih
rileks setelah menguap?”
Partisipan: “Sedikit. Seperti ada
dorongan untuk bersantai.”
Provine menyimpulkan bahwa
menguap adalah perilaku menular
yang dipicu oleh isyarat visual.
Begitu melihat orang menguap, otak
langsung mengirim sinyal untuk
meniru. Peniruan ini terjadi secara
otomatis, tanpa kesadaran.
Eksperimen Platek, Critton,
Myers, dan Gallup (2003):
Empati dan Penularan Menguap
Steven Platek dan timnya melakukan
penelitian lanjutan untuk memahami
mengapa menguap bisa menular.
Mereka menemukan bahwa
penularan menguap berhubungan
dengan empati. Orang yang lebih
peka terhadap perasaan orang lain
lebih mudah ikut menguap.
Dalam eksperimen ini, partisipan
diminta menonton video orang
menguap sambil otak mereka
dipindai. Hasilnya, area otak yang
terkait dengan empati dan
peniruan menjadi aktif saat
partisipan melihat orang lain
menguap.
Dialog setelah eksperimen:
Peneliti: “Apa yang Anda rasakan
saat melihat orang lain menguap?”
Partisipan: “Aneh, tapi saya merasa
terhubung. Seperti ikut merasakan
apa yang mereka rasakan.”
Platek menyimpulkan bahwa menguap
bukan sekadar refleks. Ia adalah
bentuk sinkronisasi sosial.
Ketika Anda menguap, orang lain yang
melihat Anda secara tidak sadar ikut
menyesuaikan diri. Sinkronisasi ini
membuat mereka ikut rileks.
Mengapa Fake a Yawn Begitu
Efektif?
Menguap terhubung ke empati.
Otak kita punya kecenderungan untuk
meniru ekspresi orang lain, terutama
jika kita merasa ada koneksi.
Saat Anda menguap, orang di sekitar
menangkap sinyal itu dan ikut
menguap. Begitu mereka menguap,
tubuh mereka mulai masuk mode
istirahat.
Menguap juga memperlambat ritme.
Ketika seseorang menguap, napasnya
menjadi lebih dalam dan lebih
lambat. Ini mengirim sinyal ke otak
bahwa suasana sedang aman. Dalam
suasana aman, kewaspadaan
menurun. Orang menjadi lebih
tenang dan tidak lagi reaktif.
Teknik ini bekerja di bawah sadar.
Orang tidak tahu bahwa mereka
sedang dipengaruhi oleh nguap
Anda. Mereka hanya merasa mulai
mengantuk atau rileks. Perasaan itu
mereka anggap berasal dari diri
sendiri, bukan dari Anda.
Tiga Langkah Menerapkan Fake
a Yawn: Kisah Raka di Rapat
yang Panas
Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Raka.
Ia sedang berada di rapat yang
suasananya semakin tegang.
Langkah 1: Jangan Menguap
Berlebihan
Raka melihat suasana rapat mulai
panas. Beberapa orang berbicara
dengan nada tinggi.
Raka menutup mulutnya dan
menguap pelan. Ia tidak membuat
suara. Ia hanya membuka mulut
sedikit dan menarik napas panjang.
Langkah 2: Lakukan Saat Ada
yang Melihat
Raka menguap saat beberapa rekan
di sekitarnya bisa melihatnya.
Ia melakukannya dengan tenang,
tidak terburu-buru.
Satu rekan di dekatnya melihat.
Beberapa detik kemudian,
ia ikut menguap.
Langkah 3: Ulangi Secukupnya
Raka menguap sekali lagi beberapa
menit kemudian. Kali ini, dua
orang lain ikut menguap.
Suasana mulai melambat.
Orang-orang berbicara lebih
pelan. Ketegangan berkurang.
Raka: “Satu nguap kecil bisa
mengubah ritme ruangan.”
Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal
1. Meredakan Anak yang
Terlalu Aktif
Maya sedang di rumah. Anaknya
masih berlarian padahal sudah
malam.
Maya duduk di sofa dan menguap
pelan. Anaknya melihat. Beberapa
saat kemudian, ia ikut menguap.
Maya: “Sini duduk dulu, Nak.”
Anaknya mendekat dan duduk.
Suasana mulai tenang tanpa
perlu dibentak.
2. Menenangkan Teman yang
Panik
Bima sedang berbicara dengan
temannya yang panik.
Temannya: “Aku nggak bisa tenang!
Semuanya kacau!”
Bima tidak langsung menyuruh
diam. Ia menguap pelan sambil
menutup mulut.
Temannya melihat. Ia ikut menguap.
Rasa paniknya sedikit mereda.
Bima: “Sekarang coba tarik napas
pelan.”
3. Mengubah Suasana Meeting
Rina sedang meeting. Diskusi
berjalan alot dan tegang.
Rina menguap pelan. Satu per satu
rekan di sekitarnya ikut menguap.
Suasana melambat. Pembicaraan
tidak lagi setajam tadi. Rina bisa
mengarahkan diskusi dengan
lebih tenang.
Cara Melindungi Diri dari
Teknik Ini
Jika Anda merasa seseorang sengaja
menguap untuk membuat Anda
rileks, ada beberapa langkah yang
bisa dilakukan.
Pertama, sadari bahwa
menguap bisa menular.
Begitu Anda merasa ingin menguap
setelah melihat orang lain, itu reaksi
alami. Anda boleh menahannya
jika tidak ingin ikut terpengaruh.
Kedua, jangan biarkan rasa
rileks membuat Anda
kehilangan fokus.
Jika sedang dalam situasi penting,
tetap jaga kewaspadaan.
Ketiga, ubah posisi atau alihkan
pandangan.
Jika merasa terlalu terpengaruh,
lihat ke arah lain atau duduk lebih
tegak.
Keempat, ingat bahwa rileks
tidak selalu buruk.
Menguap bisa membantu Anda
tenang. Yang penting tetap sadar
dengan apa yang sedang terjadi.
Fake a Yawn and Make the Room
Tired adalah teknik yang
memanfaatkan penularan sosial
dari ekspresi tubuh. Ketika
digunakan dengan wajar, ia bisa
menciptakan suasana yang lebih
tenang dan nyaman. Ketika
digunakan untuk memanipulasi,
ia bisa membuat Anda kehilangan
kewaspadaan tanpa disadari.
Gunakan dengan bijak, karena satu
nguap kecil bisa mengubah ritme
seluruh ruangan.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya Fake a Yawn and Make
the Room Tired.
Lo pasti pernah ngalamin lagi
ngumpul, terus ada satu orang yang
nguap. Nggak lama kemudian, lo ikut
nguap. Terus yang lain ikut. Padahal
lo nggak ngantuk sebelumnya.
Itu bukan kebetulan. Nguap itu nular.
Dan justru itu yang bikin teknik ini
jalan.
Simpelnya, teknik ini ngajarin bahwa
lo bisa ngontrol suasana ruangan
lewat sinyal tubuh yang kecil.
Kalau lo pura-pura nguap, orang
di sekitar lo bakal ngerasa ngantuk
juga. Dan begitu mereka ngantuk,
suasana jadi lebih lambat, lebih
tenang. Kalau lo lagi pengen ngeredain
orang yang terlalu semangat atau
ngegas, ini bisa jadi cara halus.
Kenapa ini ampuh? Karena nguap itu
nyambung ke empati. Otak kita punya
kecenderungan buat niru ekspresi
orang lain, apalagi kalau kita ngerasa
nyambung. Jadi pas lo nguap,
orang lain di sekitar lo bakal nangkep
sinyal itu dan ikut nguap. Dan begitu
mereka nguap, tubuh mereka mulai
masuk mode istirahat.
Nah, kalau lo ingat, di daftar
sebelumnya kita pernah bahas
Nod While Talking, They’ll Agree
Without Noticing. Itu kan soal
ngasih sinyal lewat gerakan kecil.
Nah, ini masih serumpun. Bedanya,
kalau anggukan buat bikin orang
setuju, nguap buat bikin orang rileks.
Jadi dua-duanya main di area
bahasa tubuh.
Contoh gampangnya gini.
Lo lagi meeting, dan suasananya
makin panas. Orang-orang mulai
ngegas. Lo bisa pura-pura nguap
pelan sambil nutup mulut. Beberapa
orang bakal ngeliat dan tanpa sadar
ikut nguap. Suasana langsung
melambat dikit. Itu momen buat lo
ambil alih dengan tenang.
Contoh lain di rumah. Lo udah
capek, tapi anak lo masih lari-larian.
Lo duduk santai, terus nguap pelan.
Anak lo ngeliat. Nggak lama dia ikut
nguap. Terus dia mulai diem, terus
nyender. Tanpa lo bentak, dia
ngikutin ritme lo.
Cara pakainya gampang.
Pertama, jangan nguap yang lebay.
Cukup buka mulut dikit, tarik
napas pelan, dan tutup lagi.
Kedua, lakuin pas ada yang ngeliat.
Ketiga, ulangin sekali atau dua kali
kalau perlu. Tapi jangan
sering-sering, nanti malah keliatan
aneh.
Jadi, Fake a Yawn and Make the
Room Tired itu ibarat lo lagi nyetel
lagu pelan di tengah pesta. Lo nggak
bilang “udahan”, tapi semua orang
mulai ngerasa ngantuk sendiri.
Dan di situ, lo bisa bawa suasana
ke arah yang lebih tenang.
Gimana? Mulai kerasa kan gimana
satu nguap bisa ngerubah ritme
ruangan? Kalau lo siap lanjut,
berikutnya kita bahas Ask for Help,
Then Let Them Teach You.
Ini masih nyambung sama soal
ngebangun kedekatan lewat minta
tolong. Stay tuned.
