Altruism or Apathy: Ketika Kebaikan Manusia Dipertanyakan
Bagian Altruism or Apathy dalam
buku SuperFreakonomics karya
Steven D. Levitt dan Stephen
J. Dubner mengajak pembaca
meninjau ulang keyakinan lama
tentang manusia sebagai makhluk
yang pada dasarnya baik, peduli,
dan siap menolong sesama. Melalui
dua contoh utama fenomena
bystander apathy yang mencuat
lewat kasus Kitty Genovese pada
tahun 1964, serta eksperimen
ekonomi bernama dictator game
penulis menunjukkan bahwa
realitas perilaku altruistik sering
kali jauh lebih rumit dan tidak
seindah asumsi moral yang umum
diyakini masyarakat.
Altruism (Altruisme) adalah sikap
atau perilaku peduli dan
mengutamakan kepentingan,
kesejahteraan, serta kebaikan
orang lain secara tulus, tanpa
mengharapkan imbalan pribadi,
bahkan terkadang mengorbankan
kepentingan diri sendiri.
Apathy (Apatis) adalah sikap tidak
peduli terhadap hal yang terjadi
di sekitar.
Kasus Kitty Genovese dan
Lahirnya Bystander Apathy
Pada tahun 1964, Kitty Genovese
dibunuh di New York dalam sebuah
peristiwa yang kemudian
mengguncang kesadaran publik
Amerika. Kasus ini menjadi terkenal
bukan hanya karena kejahatannya,
tetapi karena laporan bahwa puluhan
orang menyaksikan atau mendengar
kejadian tersebut tanpa satu pun
yang turun tangan untuk menolong
atau menghubungi polisi.
Dari peristiwa inilah muncul istilah
bystander apathy, yaitu
kecenderungan individu untuk tidak
bertindak ketika orang lain juga
hadir di lokasi kejadian. Dalam
konteks ini, tanggung jawab terasa
menyebar, sehingga setiap orang
merasa bukan dirinya yang harus
bertindak. Semakin banyak saksi,
semakin kecil kemungkinan
seseorang melakukan tindakan
altruistik.
Kasus Kitty Genovese membawa
perubahan besar dalam cara
masyarakat memandang altruism.
Jika sebelumnya ada keyakinan kuat
bahwa manusia secara naluriah akan
menolong sesamanya, peristiwa ini
justru menunjukkan sebaliknya:
kehadiran orang banyak tidak selalu
memperbesar peluang pertolongan,
bahkan bisa melumpuhkan empati.
Perubahan Pandangan
Masyarakat tentang Altruism
Dalam dua dekade setelah kasus Kitty
Genovese, pandangan masyarakat
tentang kebaikan manusia mengalami
pergeseran. Altruism tidak lagi
dipandang sebagai sifat otomatis yang
akan muncul dalam situasi darurat.
Sebaliknya, perilaku menolong mulai
dipahami sebagai sesuatu yang
sangat dipengaruhi oleh konteks
sosial, tekanan situasi, dan persepsi
tanggung jawab.
SuperFreakonomics menyoroti
bagaimana kejadian ini mendorong
para peneliti untuk menguji ulang
asumsi moral yang selama ini
diterima begitu saja. Pertanyaannya
bukan lagi
“apakah manusia itu baik?”,
melainkan “dalam kondisi apa
manusia mau berbuat baik, dan
kapan mereka memilih untuk
tidak peduli?”.
Dictator Game: Mengukur
Altruism dengan Uang
Untuk memahami altruism secara
lebih terukur, para ekonom
perilaku mengembangkan sebuah
eksperimen sederhana yang dikenal
sebagai dictator game. Dalam
permainan ini, seseorang diberi
sejumlah uang dan diberi kebebasan
penuh untuk membaginya atau tidak
membaginya sama sekali dengan
orang asing yang tidak dikenalnya.
Secara teori moral, banyak orang
mengira bahwa sebagian besar
peserta akan membagi uang tersebut
secara adil atau setidaknya berbagi
sebagian. Eksperimen ini dirancang
untuk mengukur sejauh mana
seseorang bersedia mengorbankan
kepentingan pribadinya demi orang
lain, tanpa tekanan sosial atau
konsekuensi langsung.
Adaptasi John List dan Hasil
yang Mengejutkan
Ekonom eksperimental John List
kemudian mengadaptasi dictator
game untuk menguji kecenderungan
altruistik masyarakat dalam kondisi
yang lebih realistis. Hasilnya justru
mengejutkan dan menantang mitos
tentang manusia yang murah hati.
Dalam eksperimen tersebut, hanya
sekitar 6% peserta yang memilih
untuk memberikan uangnya kepada
orang lain. Sebaliknya, sekitar 66%
justru mengambil uang tersebut
sepenuhnya untuk diri mereka
sendiri. Angka ini menunjukkan
bahwa ketika tidak ada tekanan
sosial, pengawasan, atau tuntutan
moral eksplisit, sebagian besar orang
memilih kepentingan pribadi
dibandingkan altruism.
Temuan ini memperlihatkan jurang
antara citra diri manusia sebagai
makhluk dermawan dan perilaku
nyata yang muncul dalam situasi
eksperimental.
Mitos Manusia Baik dan Realitas
Perilaku
Melalui pembahasan bystander
apathy dan dictator game, bagian
Altruism or Apathy dalam
SuperFreakonomics secara halus
namun tajam meruntuhkan mitos
tentang manusia yang secara alami
baik dan murah hati. Data dan
eksperimen menunjukkan bahwa
altruism bukanlah sifat default,
melainkan pilihan yang sangat
dipengaruhi oleh situasi.
Ketika tanggung jawab terasa kabur
atau ketika keuntungan pribadi bisa
diraih tanpa konsekuensi, banyak
orang memilih untuk tidak peduli.
Dalam konteks ini, apathy bukanlah
penyimpangan, melainkan respons
yang sering kali rasional dari sudut
pandang individu.
Altruism sebagai Fenomena
Sosial, Bukan Moral Absolut
Catatan penting dari pembahasan ini
adalah bahwa altruism tidak bisa
dipahami semata-mata sebagai
persoalan moral individu. Ia adalah
fenomena sosial yang dipengaruhi
oleh struktur situasi, norma, dan
insentif yang ada.
SuperFreakonomics tidak
menyimpulkan bahwa manusia
sepenuhnya egois, tetapi
menunjukkan bahwa kebaikan tidak
muncul secara otomatis. Tanpa
kondisi yang mendorong empati
dan rasa tanggung jawab personal,
apathy sering kali menjadi pilihan
dominan.
Dengan fokus pada data dan
eksperimen, bagian ini mengajak
pembaca untuk melihat altruism
bukan sebagai mitos idealis,
melainkan sebagai perilaku yang
rapuh, kontekstual, dan jauh lebih
langka daripada yang selama ini
kita bayangkan.
Apathy dalam Situasi
Sehari-hari
Bayangkan sebuah kejadian
di halte bus kota besar.
Seorang pria tiba-tiba pingsan
di halte yang cukup ramai. Ada
sekitar 20 orang di lokasi:
penumpang, pedagang, dan ojek
online. Semua melihat kejadian itu.
Biaya paling sederhana untuk
menolong sebenarnya kecil:
Menelepon ambulans:
Rp0Membeli air minum di warung:
Rp5.000Waktu yang “hilang” karena
menunggu 5 menit: mungkin
setara Rp10.000–Rp20.000
bagi orang yang sedang bekerja
lepas
Namun yang terjadi:
Tidak satu pun langsung
bertindakSemua saling menunggu
Masing-masing berpikir:
“Pasti ada orang lain yang lebih
dekat” atau “Bukan urusan saya”
Jika satu orang bertindak:
Total “biaya pribadi”: sekitar
Rp15.000–Rp25.000Potensi manfaat sosial: nyawa
seseorang bisa terselamatkan
(nilai yang tak terukur dengan
uang)
Kasus ini mencerminkan
bystander apathy:
semakin banyak orang hadir, semakin
kecil kemungkinan satu orang merasa
bertanggung jawab.
Secara rasional, setiap individu
memilih tidak bertindak, karena:
Biaya langsung ditanggung
sendiriManfaat dinikmati orang lain
Tidak ada konsekuensi
sosial jika diam
Contoh Kasus 2: Dictator Game
Sekarang bayangkan versi dictator
game yang sangat sederhana.
Seseorang (Peserta A) diberi uang
tunai:
Rp100.000
Di ruangan lain ada Peserta B,
orang asing, tidak saling kenal,
tidak akan bertemu lagi.
Peserta A diberi pilihan:
Memberi sebagian uang
ke Peserta BAtau mengambil 100%
untuk diri sendiriTidak ada yang tahu
keputusannyaTidak ada hukuman,
tidak ada pujian
Pilihan yang Mungkin:
Altruistik ideal
A memberi
Rp50.000 ke BA pulang dengan
Rp50.000
Semi-altruistik
A memberi
Rp10.000 ke BA pulang dengan
Rp90.000
Egoistik penuh
A memberi Rp0
A pulang dengan
Rp100.000
Secara moral, banyak orang mengaku
akan memilih opsi 1 atau 2.
Namun hasil eksperimen John List
menunjukkan:
Sekitar 66% memilih opsi
ke-3 (Rp100.000 penuh)Hanya sekitar 6% yang
benar-benar memberi
Artinya:
Ketika altruism “murni” benar-benar
diuji tanpa tekanan sosial, mayoritas
orang memilih uang.
Contoh Kasus 3: Mengapa
Orang Tidak Berbagi?
(Logika Ekonominya)
Misalnya seseorang berpikir seperti ini:
“Kalau saya kasih Rp20.000
ke orang asing, saya rugi Rp20.000.
Kalau saya ambil semua, saya dapat
Rp100.000.
Orang itu tetap hidup normal meski
tanpa uang saya.”
Dari sudut pandang individu:
Kerugian pribadi: nyata dan
langsung (uang berkurang)Manfaat sosial: abstrak dan
tidak terasa
Maka keputusan tidak berbagi
menjadi masuk akal secara rasional,
meski terasa tidak “mulia” secara
moral.
Benang Merah dari Dua Contoh
Baik dalam kasus pingsan di halte
maupun dictator game:
Biaya kecil + manfaat besar
tidak otomatis menghasilkan
tindakan altruistikTanpa tekanan sosial, rasa
tanggung jawab pribadi
melemahDiam dan mementingkan
diri sendiri sering kali
menjadi pilihan paling “aman”
Inilah poin utama Altruism or
Apathy:
manusia tidak selalu jahat, tetapi
kebaikan jarang muncul tanpa
kondisi yang memaksanya.
Altruism bukan refleks moral,
melainkan respons situasional.
Dan ketika situasi memungkinkan
kita untuk tidak peduli tanpa
konsekuensi, banyak orang akan
memilih apathy.
