3. Hubungan Anda Berdua: Ruang untuk Tumbuh Bersama
Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 3.
Setelah Philippa Perry membimbing
kita untuk memahami diri sendiri
dan memahami anak sebagai
individu, kini ia membawa kita
ke inti dari segalanya. Bab ini
berjudul “The Present: The Two of
You” (Hubungan Anda Berdua),
dan inilah pusat dari seluruh
filosofi pengasuhan Perry.
3. Hubungan Anda Berdua:
Ruang untuk Tumbuh
Bersama
Philippa Perry menyampaikan sebuah
pernyataan yang mungkin
mengejutkan bagi sebagian orang tua,
terutama mereka yang dibesarkan
dengan pola asuh otoriter. Inti dari
pengasuhan bukanlah kepatuhan.
Bukan tentang seberapa cepat anak
Anda duduk diam ketika diperintah.
Bukan tentang seberapa rapi ia
membereskan mainannya tanpa
disuruh. Bukan tentang seberapa
tinggi nilainya di sekolah. Inti dari
pengasuhan adalah hubungan itu
sendiri. Hubungan antara Anda
dan anak Anda. Itu adalah
fondasinya. Itu adalah segalanya.
Hubungan yang sehat adalah
hubungan di mana anak merasa
dicintai apa adanya, bukan karena
mereka “baik,” bukan karena
mereka berprestasi, dan bukan
karena mereka memenuhi
ekspektasi kita. Ini adalah cinta
tanpa syarat yang telah kita bahas
di bab-bab sebelumnya. Dalam
hubungan seperti ini, anak merasa
aman untuk menjadi dirinya
sendiri, dengan segala kekacauan,
ketidaksempurnaan, dan emosi
yang meledak-ledak. Mereka tahu
bahwa tidak peduli seberapa
buruk hari mereka, tidak peduli
seberapa besar kesalahan yang
mereka buat, masih ada satu orang
dewasa di dunia ini yang akan
tetap menerima mereka.
Membangun hubungan seperti ini tidak
berarti tidak akan pernah ada konflik.
Justru sebaliknya.
Perry memperkenalkan sebuah konsep
yang sangat krusial dan membebaskan:
rupture and repair (keretakan dan
perbaikan). Konflik pasti akan terjadi.
Akan ada saat-saat di mana Anda dan
anak Anda tidak sepaham. Akan ada
saat-saat di mana Anda kehilangan
kesabaran, membentak, atau
mengucapkan kata-kata yang
menyakitkan. Akan ada saat-saat
di mana hubungan terasa retak dan
tegang. Ini bukanlah tanda bahwa
Anda adalah orang tua yang buruk.
Ini adalah bagian alami dari setiap
hubungan dekat antara dua
manusia. Bahkan dalam hubungan
yang paling sehat sekalipun,
keretakan adalah hal yang tak
terhindarkan.
Apa yang membedakan hubungan
yang sehat dari yang tidak sehat
bukanlah ketiadaan keretakan,
melainkan apa yang terjadi
setelahnya. Inilah inti dari “repair”
atau perbaikan. Ketika hubungan
retak, tugas orang tua adalah
mengambil inisiatif untuk
menyambungnya kembali. Meminta
maaf dengan tulus bukanlah tanda
kelemahan. Mengakui kesalahan
di depan anak Anda bukanlah
sesuatu yang merendahkan otoritas
Anda. Justru sebaliknya.
Tindakan-tindakan ini adalah
pelajaran paling kuat yang bisa Anda
berikan kepada anak Anda tentang
ketahanan emosi dan keintiman
sejati. Anda sedang mengajari anak
Anda bahwa konflik tidak harus
menghancurkan hubungan. Anda
sedang mengajari mereka bahwa
cinta bisa bertahan melewati badai.
Anda sedang menunjukkan bahwa
meminta maaf dan memaafkan
adalah tindakan yang berani dan
bermartabat.
Bayangkan sebuah situasi.
Anda sedang stres, dan anak Anda
terus-menerus merengek. Anda
kehilangan kesabaran dan berteriak,
“Berhenti menangis! Kamu itu
menyebalkan!” Wajah anak Anda
langsung runtuh. Ia terluka.
Keretakan telah terjadi. Dalam
skenario yang buruk, Anda merasa
bersalah tetapi terlalu gengsi untuk
mengakuinya. Anda pergi begitu saja,
membiarkan luka itu menganga.
Anak Anda belajar bahwa
kemarahannya adalah sesuatu yan
g mengerikan yang bisa membuatnya
ditolak. Tetapi dalam skenario
perbaikan, Anda berhenti sejenak,
menarik napas, dan kemudian
berlutut di hadapan anak Anda.
Anda berkata, “Maafkan Ibu. Ibu tadi
marah dan berteriak. Itu salah Ibu.
Ibu lelah dan Ibu melampiaskannya
padamu. Kamu tidak menyebalkan.
Kamu adalah anak yang baik.
Ibu sayang kamu.” Anda telah
menyambung kembali hubungan itu.
Anak Anda belajar bahwa orang
dewasa bisa mengakui kesalahan,
bahwa kemarahan bisa berlalu, dan
bahwa cinta tetap ada.
Perry menekankan bahwa orang tua
tidak perlu sempurna. Mengejar
kesempurnaan adalah jalan menuju
kelelahan dan rasa bersalah yang
tidak ada habisnya. Anda tidak
perlu menjadi orang tua yang
sempurna. Anda hanya perlu
menjadi orang tua yang cukup baik
(good enough). Konsep
“good enough parent” ini berasal
dari psikoanalis Donald Winnicott,
dan Perry menggunakannya dengan
sangat kuat. Orang tua yang cukup
baik adalah orang tua yang
terkadang gagal, tetapi bersedia
untuk memperbaiki hubungan.
Mereka tidak selalu benar, tetapi
mereka selalu bersedia untuk
belajar. Mereka tidak selalu tenang,
tetapi mereka selalu bersedia untuk
meminta maaf. Kemauan untuk
memperbaiki inilah yang membuat
seorang anak merasa aman,
dicintai, dan dihargai.
Sahabat, Bab 3 ini adalah jantung
dari seluruh buku. Perry memberikan
izin kepada kita untuk menjadi
manusia yang tidak sempurna
di hadapan anak-anak kita.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita lanjut ngobrolin buku
Philippa Perry. Setelah lo diajak
ngaca ke masa lalu dan belajar
ngeliat dari sudut pandang anak,
sekarang kita masuk ke INTI dari
semuanya. Bab ini judulnya
“Hubungan Lo dan Dia”, dan ini
adalah pusat dari seluruh filosofi
pengasuhan Perry.
3. Bukan Soal Anak Nurut,
Tapi Soal Hubungan Kalian
Philippa Perry ngasih pernyataan yang
mungkin rada ngejutkan, apalagi buat
lo yang dibesarkan dengan pola asuh
keras dan penuh aturan. Inti dari
ngasuh anak itu BUKAN
KEPATUHAN. Bukan soal seberapa
cepet anak lo duduk manis pas
disuruh. Bukan soal seberapa rapi
dia ngeberesin mainan tanpa
diperintah. Bukan juga soal
seberapa tinggi nilainya di rapor.
Inti dari pengasuhan adalah
HUBUNGAN itu sendiri.
Hubungan antara lo dan anak lo.
Itu pondasinya. Itu segalanya.
Hubungan yang sehat adalah
hubungan di mana anak ngerasa
DICINTAI APA ADANYA. Bukan
karena mereka “anak baik”, bukan
karena mereka berprestasi, dan
bukan karena mereka memenuhi
ekspektasi lo. Ini adalah cinta
tanpa syarat yang udah kita
omongin sebelumnya. Dalam
hubungan kayak gini, anak ngerasa
AMAN buat jadi diri sendiri, dengan
segala kekacauan,
ketidaksempurnaan, dan emosi
yang kadang meledak-ledak.
Mereka tau, segakacau apapun hari
mereka, segede apapun kesalahan
yang mereka buat, masih ada satu
orang dewasa di dunia ini yang
bakal tetep nerima mereka apa
adanya.
Nah, ngebangun hubungan kayak gini
bukan berarti gak akan pernah ada
konflik. Justru SEBALIKNYA. Perry
ngenalin konsep yang super krusial
dan ngebebasin: rupture and
repair, atau KERETAKAN dan
PERBAIKAN. Konflik itu PASTI
BAKAL ADA. Akan ada momen
di mana lo dan anak lo gak sepaham.
Akan ada saat di mana lo kehilangan
kesabaran, ngebentak, atau ngomong
kata-kata yang nyakitin. Akan ada
saat-saat di mana hubungan lo
berasa retak dan tegang. Ini BUKAN
tanda kalo lo orang tua yang buruk.
Ini adalah bagian ALAMI dari setiap
hubungan dekat antara dua manusia.
Bahkan di hubungan yang paling
sehat sekalipun, keretakan adalah
hal yang gak bisa dihindarin.
Nah, yang ngebedain hubungan sehat
dan gak sehat BUKANLAH ketiadaan
keretakan. Tapi APA YANG
TERJADI SETELAHNYA. Inilah inti
dari “repair” atau PERBAIKAN. Pas
hubungan retak, tugas lo sebagai
orang tua adalah NGAMBIL
INISIATIF buat nyambungin lagi.
Minta maaf dengan TULUS ke anak
lo bukanlah tanda kelemahan.
Ngakuin kesalahan di depan anak lo
bukanlah sesuatu yang ngerendahin
wibawa lo. Justru SEBALIKNYA.
Tindakan-tindakan ini adalah
PELAJARAN PALING KUAT yang
bisa lo kasih ke anak tentang
ketahanan emosi dan keintiman
sejati. Lo lagi ngajarin anak lo bahwa
konflik gak harus ngancurin
hubungan. Lo ngajarin mereka
bahwa cinta bisa bertahan lewat
badai. Lo nunjukin bahwa minta
maaf dan memaafkan adalah
tindakan yang BERANI dan
BERMARTABAT.
Coba bayangin situasi ini. Lo lagi stres
berat, dan anak lo terus-terusan
ngerengek. Lo kehilangan kesabaran
dan berteriak, “Berhenti nangis!
Kamu tuh nyebelin banget!”
Muka anak lo langsung down.
Dia terluka. Keretakan udah terjadi.
Dalam skenario buruk, lo ngerasa
bersalah tapi terlalu gengsi buat
ngakuin. Lo pergi gitu aja, ngebiarin
luka itu menganga. Anak lo belajar
bahwa kemarahannya adalah
sesuatu yang mengerikan yang bisa
bikin dia ditolak. Tapi dalam
skenario PERBAIKAN, lo berhenti
sejenak, tarik napas, terus lo
berlutut di depan anak lo. Lo bilang,
“Maafin Ibu ya. Ibu tadi marah dan
teriak. Itu salah Ibu. Ibu capek dan
Ibu ngelampiasinnya ke kamu.
Kamu gak nyebelin. Kamu anak
yang baik. Ibu sayang banget sama
kamu.” Lo udah nyambung lagi
hubungan itu. Anak lo belajar bahwa
orang dewasa bisa ngakuin kesalahan,
bahwa kemarahan bisa berlalu, dan
bahwa CINTA TETEP ADA.
Perry nekanin, orang tua tuh
GAK PERLU SEMPURNA. Ngejar
kesempurnaan itu jalan tol menuju
kelelahan dan rasa bersalah yang
gak ada habisnya. Lo gak perlu jadi
orang tua yang sempurna. Lo cuma
perlu jadi orang tua yang CUKUP
BAIK. Konsep “good enough parent”
ini berasal dari psikoanalis Donald
Winnicott, dan Perry makenya
dengan dasyat. Orang tua yang
cukup baik adalah orang tua yang
TERKADANG GAGAL, tapi
BERSEDIA buat memperbaiki
hubungan. Mereka gak selalu bener,
tapi mereka selalu MAU BELAJAR.
Mereka gak selalu tenang, tapi
mereka selalu BERSEDIA buat
minta maaf. Nah, KEMAUAN
BUAT MEMPERBAIKI inilah yang
bikin seorang anak ngerasa AMAN,
DICINTAI, dan DIHARGAI.
Jadi, Bab 3 ini adalah jantung dari
seluruh buku. Perry ngasih kita izin
buat jadi manusia yang gak
sempurna di depan anak-anak kita.
