buku

4. Mengelola Semua Perasaan

Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 4.
Setelah memahami pentingnya
hubungan dan perbaikan di Bab 3,
Philippa Perry kini membawa kita
ke medan yang paling sering menjadi
pertempuran antara orang tua dan
anak: emosi. Bab ini berjudul
“All the Feels” (Mengelola Semua
Perasaan), dan ini adalah panduan
praktis untuk menjadi pelatih emosi
bagi anak Anda, sekaligus mengelola
emosi Anda sendiri.

4. Mengelola Semua Perasaan

Philippa Perry membuka bab ini
dengan sebuah prinsip yang sangat
mendasar tetapi sering kali
dilupakan: 
semua perasaan
boleh ada, tetapi tidak semua
perilaku boleh
. Ini adalah dua sisi
dari koin yang sama, dan keduanya
harus dipegang bersamaan. Sebagai
orang tua, kita sering kali
mencampuradukkan keduanya.
Ketika anak kita berteriak dan
membanting pintu karena marah,
kita cenderung melarang
kemarahannya itu sendiri.
“Jangan marah-marah!” Padahal,
kemarahan adalah perasaan yang
valid dan manusiawi. Yang perlu
kita larang adalah perilaku
membanting pintu, bukan
kemarahannya.

Membedakan antara perasaan dan
perilaku adalah langkah pertama
menuju pengelolaan emosi yang
sehat. Perasaan adalah apa yang
terjadi di dalam diri anak:
sedih, marah, kecewa, cemburu,
takut. Ini adalah pengalaman
internal yang tidak bisa dinilai
sebagai benar atau salah. Ia ada,
dan itu adalah fakta. Perilaku
adalah apa yang anak lakukan
dengan perasaan itu: menangis,
berteriak, memukul, membanting
barang, atau sebaliknya, diam dan
menarik diri. Perilaku inilah yang
bisa dinilai dan perlu diarahkan.
Tugas orang tua bukanlah untuk
menghilangkan perasaan tidak
nyaman pada anak, melainkan
untuk mengajari mereka cara
mengekspresikannya tanpa merusak
diri sendiri, orang lain, atau
lingkungan sekitar.

Untuk melakukan ini, orang tua harus
terlebih dahulu mengelola emosi
mereka sendiri. Ini adalah bagian
tersulitnya. Ketika anak
Anda mengamuk di tempat umum,
sistem saraf Anda sendiri akan
terpicu. Anda merasa malu, marah,
atau cemas. Dorongan untuk segera
membungkam anak itu sangat kuat.
Perry menekankan bahwa
di saat-saat seperti ini, orang tua perlu
menahan diri dari reaksi impulsif.
Ini tidak mudah. Ini membutuhkan
latihan. Tetapi ini adalah kuncinya.
Anda tidak bisa menenangkan anak
yang sedang dalam badai emosi jika
Anda sendiri sedang dalam badai.
Anda harus menjadi pelabuhan
yang tenang terlebih dahulu.

Ambil jeda. Tarik napas panjang.
Katakan pada diri sendiri, “Ini bukan
darurat. Anakku sedang kesulitan,
bukan sedang berusaha
menyulitkanku.” Jika perlu,
pastikan anak dalam keadaan aman,
lalu menjauhlah sejenak ke sudut
ruangan untuk menenangkan diri
sebelum kembali merespons.
Ini bukanlah tanda kekalahan. Ini
adalah tindakan dewasa yang
bertanggung jawab.

Setelah Anda tenang, barulah Anda
bisa membimbing anak.
Langkah pertama dan paling penting
adalah 
validasi. Validasi adalah
mengakui bahwa perasaan anak itu
nyata dan bisa diterima. Ini bukan
berarti Anda setuju dengan
perilakunya. Ini berarti Anda melihat
dan menerima emosinya. Kalimat
seperti, “Aku lihat kamu sangat marah
sekarang karena kita harus pulang,”
atau “Kamu pasti sangat sedih karena
es krimmu jatuh,” adalah validasi
yang sederhana tetapi sangat kuat.

Kebalikan dari validasi adalah apa
yang disebut Perry sebagai
“gaslighting emosional,” yaitu
meremehkan atau menyangkal
perasaan anak. Kalimat seperti,
“Ah, nggak sakit kok, lebay,”
“Jangan nangis, itu cuma masalah
kecil,” atau “Masa gitu aja marah,”
adalah contoh gaslighting. Kalimat
-kalimat ini mengirimkan pesan
yang sangat merusak kepada anak:
bahwa perasaan mereka salah,
bahwa mereka tidak boleh
merasakan apa yang mereka
rasakan, dan bahwa mereka tidak
bisa mempercayai realitas batin
mereka sendiri. Ini bukan hanya
tidak membantu; ini merusak
hubungan dan harga diri anak.

Setelah perasaan anak divalidasi,
Anda bisa membantu mereka
memberi nama pada perasaan itu.
“Perasaan yang kamu rasakan ini
namanya frustrasi.” Atau,
“Rasanya sesak di dada itu namanya
kecewa.” Memberi nama pada emosi
membantu anak untuk
memahaminya. Sesuatu yang tidak
bernama terasa menakutkan dan
tidak terkendali. Sesuatu yang sudah
diberi nama terasa lebih kecil dan
lebih bisa dikelola. Terakhir, Anda
bisa membimbing mereka untuk
menemukan cara yang sehat untuk
menyalurkan emosi itu.
“Kalau kamu marah, kamu boleh
bilang sama Ibu, ‘Aku marah!’
Kamu juga boleh loncat-loncat untuk
mengeluarkan energi marahmu.
Tapi kamu tidak boleh memukul.
Memukul itu menyakiti.”

Sahabat, Bab 4 ini adalah toolkit
emosional yang sangat berharga.
Perry mengajarkan kita untuk
menjadi pemandu yang tenang
bagi anak-anak kita saat mereka
tersesat di hutan emosi mereka.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kita lanjut ngobrolin buku
Philippa Perry. Setelah lo paham
bahwa inti dari semuanya adalah
hubungan dan perbaikan, sekarang
kita masuk ke bab yang gak kalah
seru: gimana caranya lo ngadepin
BANJIR EMOSI, baik yang punya
lo sendiri, maupun yang
meledak-ledak dari anak lo.

4. Ngadepin Badai Perasaan:
Punya Lo, Punya Anak,
Semua!

Philippa Perry ngasih satu aturan
emas yang gampang diinget tapi
susah dipraktekin:
SEMUA PERASAAN BOLEH ADA,
TAPI GAK SEMUA PERILAKU
BOLEH. Jadi, anak lo boleh banget
ngerasa marah, sedih, kecewa,
frustrasi, cemburu, kesel,
apapun itu. Itu semua emosi yang
valid dan manusiawi. Yang gak
boleh adalah ketika dia
ngelampiasin emosinya dengan
mukul, ngelempar barang, atau
teriak-teriak kenceng di tempat
umum. Paham bedanya kan?
Perasaan adalah wilayah dalem
yang gak bisa lo larang. Perilaku
adalah tindakan di luar yang
bisa lo bimbing.

Nah, biar lo bisa ngebimbing perilaku
anak, lo harus jago dulu ngurusin
emosi lo sendiri. Perry nekanin
pentingnya MENAHAN DIRI DARI
REAKSI IMPULSIF. Pas anak lo lagi
ngamuk guling-guling di lantai, otak
primitif lo pengennya ikutan teriak,
“Diem lo! Jangan bikin malu!” Tapi
justru di situlah ujiannya. Lo harus
belajar NENANGIN DIRI SENDIRI
dulu. Tarik napas. Jauh-jauhkan diri
sejenak kalo perlu. Begitu lo udah
balik tenang, baru lo bisa hadir buat
anak dan ngebimbing dia buat
NGENALIN dan NGELOLA
emosinya sendiri.

Caranya gimana? Bukan dengan
ngadilin atau langsung ngasih
solusi. Tapi dengan ngasih nama
ke perasaan itu. “Kamu keliatannya
marah banget ya sekarang. Mainan
kamu direbut, ya? Pasti rasanya
kesel banget.” Lo jadi kayak CERMIN
yang mantulin balik emosi mereka
dengan tenang. Lo bantu mereka
ngerti apa yang lagi terjadi di dalem
dirinya. Ini jauh lebih ampuh
daripada ngomong, “Udah, gak
usah marah, cuma mainan doang.”

Dan satu lagi nih yang paling penting:
JANGAN PERNAH NGECILIN
PERASAAN ANAK. Hindari
“gaslighting” emosional. Ini adalah
kebiasaan buruk kita sebagai orang
dewasa yang sering gak sadar
ngelakuinnya. Pas anak jatuh dan
nangis, kita langsung bilang,
“Ah, gak sakit kok. Lebay ah.”
Pas anak takut gelap, kita timpal,
“Ah, masak sama gelap doang
takut. Adek aja berani.” Itu semua
adalah bentuk pengkhianatan
terhadap realitas perasaan anak.

Yang anak butuhkan adalah
VALIDASI. Validasi adalah pengakuan
bahwa perasaan mereka itu nyata dan
masuk akal. Lo gak perlu setuju, lo
cuma perlu ngakuin. Kalimat ajaibnya
adalah, “Kamu takut gelap ya?
Wajar kok. Gelap itu emang kadang
serem. Sini, Ibu temenin.” Atau,
“Jatuh ya? Pasti sakit banget tuh.
Sini Ibu liat.” Dengan lo ngakuin
perasaan mereka, lo lagi ngisi
tangki emosional mereka. Mereka
ngerasa DILIHAT, DIDENGER,
dan DIPAHAMI. Dan dari situlah
mereka belajar buat ngerti dan
nerima diri mereka sendiri. Itu
kuncinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *