Kebiasaan 2: Mulailah dengan Akhir di Pikiran
Sahabat, kita lanjutkan ke Kebiasaan 2
dari buku The 7 Habits of Highly
Effective People. Setelah Stephen
R. Covey meletakkan fondasi
proaktivitas di Kebiasaan 1, yang
mengajarkan bahwa Andalah pencipta
hidup Anda, kini ia membawa kita
ke langkah berikutnya: apa yang
sebenarnya ingin Anda ciptakan?
Kebiasaan 2 adalah tentang visi
dan arah.
Kebiasaan 2: Mulailah dengan
Akhir di Pikiran
Covey membuka kebiasaan ini dengan
sebuah latihan mental yang sangat
kuat dan mungkin terasa mengejutkan.
Ia meminta Anda untuk
membayangkan sebuah
pemandangan yang sangat khidmat:
pemakaman Anda sendiri. Bayangkan
Anda hadir di sana sebagai roh yang
tidak terlihat, menyaksikan
orang-orang yang Anda cintai dan
hormati berjalan ke depan untuk
memberikan penghormatan terakhir.
Sekarang, tanyakan pada diri Anda
sendiri: apa yang Anda ingin mereka
katakan tentang Anda?
Di hadapan pasangan, anak-anak,
rekan kerja, teman, dan komunitas
Anda, kata-kata apa yang Anda
harapkan keluar dari mulut mereka?
Apakah Anda ingin dikenang sebagai
orang tua yang penuh kasih dan
selalu hadir?
Sebagai pasangan yang setia dan
suportif?
Sebagai pemimpin yang adil dan
menginspirasi?
Sebagai teman yang selalu ada
di saat sulit?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
inilah yang merupakan nilai-nilai
terdalam Anda. Inilah “akhir” yang
harus Anda jadikan patokan. Inilah
tujuan akhir yang harus memandu
setiap langkah Anda.
Covey berpendapat bahwa sangat
mudah bagi kita untuk terjebak
dalam “tangga kesuksesan”
(ladder of success), yaitu bekerja
keras, mengejar promosi, dan
mengumpulkan prestasi, hanya untuk
menyadari di puncak bahwa
tangga itu bersandar di dinding yang
salah. Kita sibuk memanjat, tetapi
tujuan akhirnya ternyata tidak
membawa kepuasan sejati. Memulai
dengan akhir di pikiran memastikan
bahwa tangga yang Anda panjat
bersandar di dinding yang benar,
sesuai dengan nilai-nilai terdalam
Anda.
Prinsip fundamental dari kebiasaan
ini adalah bahwa segalanya
diciptakan dua kali
(all things are created twice).
Penciptaan pertama adalah
penciptaan mental, seperti cetak
biru seorang arsitek. Sebelum
sebuah gedung megah dibangun,
ia sudah ada secara detail di dalam
pikiran sang arsitek. Penciptaan
kedua adalah penciptaan fisik,
yaitu proses pembangunan gedung
itu sendiri. Banyak dari kita yang
terlalu sibuk dengan penciptaan
fisik, eksekusi sehari-hari, tanpa
pernah meluangkan waktu untuk
melakukan penciptaan mental
yang jelas. Kita membangun hidup
kita secara acak, tanpa cetak biru.
Covey menyarankan untuk
menuliskan cetak biru itu dalam
sebuah Pernyataan Misi Pribadi
(Personal Mission Statement).
Ini adalah dokumen yang
berlandaskan pada prinsip-prinsip
yang Anda yakini dan peran-peran
yang Anda mainkan dalam hidup.
Pernyataan ini akan menjadi
kompas Anda, yang selalu menunjuk
ke utara sejati Anda, membantu
Anda mengambil keputusan dan
mengukur apakah tindakan Anda
selaras dengan tujuan akhir Anda.
Ini bukanlah dokumen yang ditulis
sekali lalu disimpan. Ini adalah
dokumen yang hidup, yang bisa
direnungkan, direvisi, dan
diperdalam seiring Anda bertumbuh.
Contoh:
Visi Dua Arsitek yang Berbeda
Bayangkan dua orang arsitek. Arsitek
pertama, sebut saja Adi, adalah
seorang yang proaktif. Sebelum ia
mulai menggambar di atas kertas atau
menyentuh alat apa pun, ia duduk
dengan tenang. Ia membayangkan
bangunan yang akan ia ciptakan.
Ia memikirkan orang-orang yang akan
tinggal di dalamnya. Ia merenungkan
bagaimana cahaya matahari akan
masuk melalui jendela di pagi hari,
bagaimana angin akan bersirkulasi,
dan bagaimana ruang-ruang akan
terasa. Ia menuliskan secara detail
visinya: “Rumah ini akan menjadi
tempat yang hangat dan aman bagi
keluarga. Ruang tamu akan
didesain untuk mendorong
percakapan, bukan untuk menonton
televisi.”
Setelah visinya jelas,
ia menuangkannya ke dalam cetak
biru yang sangat rinci. Setiap paku,
setiap bata, dan setiap sudut ruangan
sudah diperhitungkan di atas kertas.
Baru setelah cetak birunya
sempurna, ia mulai membangun.
Proses pembangunannya efisien
dan hasilnya persis seperti yang
ia bayangkan.
Arsitek kedua, sebut saja Budi, juga
bersemangat membangun rumah.
Ia ingin cepat-cepat melihat hasilnya.
Ia berpikir, “Untuk apa buang-buang
waktu dengan rencana yang rumit?
Aku tahu cara membangun rumah.”
Ia langsung memesan bahan-bahan,
menggali fondasi, dan mulai
membangun. Di tengah jalan, ia sadar
bahwa ia kehabisan ruang untuk
dapur. Ia harus membongkar sebagian
tembok. Kemudian ia sadar bahwa ia
lupa membuat jendela di sisi timur,
sehingga rumahnya gelap di pagi hari.
Proyeknya kacau, memakan biaya
dua kali lipat, dan hasil akhirnya jauh
dari memuaskan. Ia sibuk dengan
penciptaan fisik, tetapi ia melewatkan
penciptaan mental yang sangat krusial.
Sahabat, Kebiasaan 2 adalah tentang
menjadi Arsitek Adi dalam hidup Anda
sendiri. Jangan mulai membangun
sebelum Anda memiliki cetak biru.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita lanjut ngobrolin
The 7 Habits. Setelah Covey ngebuat
lo sadar di Kebiasaan 1 bahwa lo
adalah sang pencipta hidup, buka
n korban, sekarang dia nanya hal
yang lebih dalem:
“Lo udah megang kuasnya.
Terus, lo mau lukis apa?”
Ini inti dari Kebiasaan 2:
Mulailah dengan Akhir di Pikiran.
Covey buka kebiasaan ini dengan
latihan mental yang rada ngeri tapi
ngena banget. Dia minta lo buat
ngebayangin suasana yang khidmat:
pemakaman lo sendiri. Iya,
pemakaman lo. Bayangin lo hadir
di sana sebagai roh yang gak keliatan,
ngeliatin orang-orang yang lo sayang
dan hormat maju satu-satu buat
ngasih penghormatan terakhir.
Nah, di titik ini, lo harus jujur banget
sama diri sendiri. Lo pengen mereka
ngomongin apa tentang lo?
Di depan pasangan, anak, rekan
kerja, temen, dan komunitas lo,
kata-kata apa yang lo harapin keluar
dari mulut mereka?
Lo mau dikenang sebagai orang tua
yang penuh cinta dan selalu ada?
Sebagai pasangan yang setia dan
supportif?
Sebagai bos yang adil dan
menginspirasi?
Atau sebagai temen yang selalu
bisa diandelin pas lagi susah?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan
inilah yang sebenernya adalah
NILAI-NILAI TERDALAM lo. Inilah
“akhir” yang harus lo jadiin patokan.
Inilah tujuan final yang harus
nge-guide setiap langkah lo sekarang.
Covey ngomong, gampang banget lho
buat kita kejebak sama
“tangga kesuksesan”. Kerja keras,
ngejar promosi, numpukin prestasi.
Tapi pas udah nyampe di puncak,
lo baru sadar, “Buset, tangga gue
ternyata nyender di dinding yang
salah.” Lo sibuk manjat, tapi tujuan
akhirnya gak bikin lo puas. Memulai
dengan akhir di pikiran ini mastiin
kalo tangga yang lo panjat itu
beneran nyender di dinding yang
tepat, yang sesuai sama nilai-nilai
lo sendiri.
Prinsip dasarnya begini:
segala sesuatu itu DICIPTAIN DUA
KALI. Penciptaan pertama adalah
penciptaan mental, kayak cetak
birunya seorang arsitek. Sebelum
gedung keren dibangun, dia udah
ada dulu secara detail di kepala sang
arsitek. Penciptaan kedua adalah
penciptaan fisiknya, yaitu proses
bangun gedungnya itu sendiri. Nah,
masalahnya, banyak dari kita yang
keburu sibuk sama penciptaan fisik,
sibuk eksekusi sehari-hari, tanpa
pernah ngeluangin waktu buat bikin
penciptaan mental yang jelas. Kita
bangun hidup kita secara acak,
tanpa cetak biru. Asal jadi aja.
Makanya, Covey nyaranin buat nulis
cetak biru itu dalam sebuah
Pernyataan Misi Pribadi. Ini adalah
dokumen yang isinya
prinsip-prinsip yang lo yakini dan
peran-peran yang lo mainin dalam
hidup. Pernyataan ini bakal jadi
kompas lo, yang selalu nunjuk
ke “utara sejati” lo. Dia ngebantu lo
buat ngambil keputusan dan
ngukur apakah tindakan lo udah
selaras sama tujuan akhir lo.
Ini bukan dokumen yang lo tulis
sekali terus lo simpen di laci.
Ini dokumen hidup yang bisa lo
renungin, lo revisi, dan lo dalemin
seiring lo bertumbuh.
Biar makin jelas, gue kasih gambaran.
Bayangin ada dua arsitek. Arsitek
pertama, sebut aja Adi, dia tipe yang
proaktif. Sebelum dia mulai
nyoret-nyoret kertas atau megang
alat, dia duduk dengan tenang.
Dia ngebayangin bangunan yang mau
dia ciptain. Dia mikirin orang-orang
yang bakal tinggal di dalamnya.
Dia renungin gimana cahaya matahari
masuk dari jendela di pagi hari,
gimana angin bakal muter, dan
gimana ruang-ruangnya bakal kerasa.
Dia tulis visinya dengan detail:
“Rumah ini bakal jadi tempat yang
hangat dan aman buat keluarga.
Ruang tamunya didesain buat
ngedorong obrolan, bukan buat
nonton TV.”
Setelah visinya jelas banget,
baru dia tuangin ke cetak biru yang
super rinci. Setiap paku, setiap
bata, setiap sudut ruangan udah
diperhitungin di atas kertas. Baru
setelah cetak birunya sempurna,
dia mulai bangun. Proses bangunnya
efisien, dan hasilnya persis kayak
yang dia bayangin.
Arsitek kedua, sebut aja Budi,
dia juga semangat banget mau
bangun rumah. Dia pengen
cepet-cepet ngeliat hasilnya.
Pikirnya, “Ngapain sih buang-buang
waktu bikin rencana ribet?
Gue juga tau cara bangun rumah.”
Dia langsung mesen bahan-bahan,
gali fondasi, dan mulai bangun.
Di tengah jalan, dia sadar kalo dia
kehabisan ruang buat dapur.
Dia harus bongkar sebagian tembok.
Terus dia sadar lupa bikin jendela
di sisi timur, jadi rumahnya gelap
di pagi hari. Proyeknya kacau balau,
biayanya membengkak dua kali lipat,
dan hasil akhirnya jauh dari
memuaskan. Dia sibuk dengan
penciptaan fisik, tapi ngelewatkan
penciptaan mental yang paling
krusial.
Jadi, Kebiasaan 2 ini intinya ngajak
lo buat jadi Arsitek Adi dalam
hidup lo sendiri. Jangan pernah
mulai bangun sebelum lo punya
cetak birunya.
