The 2020 Election (Pemilu 2020)
Sahabat, kita tiba di dua bab terakhir
dari buku Live Free Or Die. Setelah
membahas pencapaian Trump dan
kontroversi penanganan pandemi,
Sean Hannity sampai pada klimaks
dari seluruh argumennya: pemilu
2020 dan seruan terakhirnya untuk
mempertahankan apa yang ia sebut
sebagai republik konstitusional.
Mari kita tuntaskan Bab 7 dan Bab 8.
Bab 7: The 2020 Election
(Pemilu 2020)
Sean Hannity membuka bab ini
dengan satu pernyataan yang tegas
dan tidak meninggalkan ruang
untuk keraguan: Pemilu 2020
bukanlah pemilu biasa. Ini adalah
pertempuran untuk jiwa Amerika,
dan Hannity percaya bahwa Partai
Demokrat telah merancang sebuah
skema untuk memenangkan pemilu
ini dengan cara apa pun, bahkan jika
itu berarti mengorbankan integritas
proses pemungutan suara itu sendiri.
Hannity memusatkan perhatiannya
pada satu isu utama: pemungutan
suara melalui surat atau mail-in voting
(pemungutan suara melalui pos). Jauh
sebelum hari pemilihan, Partai
Demokrat mulai mendorong perluasan
besar-besaran pemungutan suara
melalui surat. Mereka beralasan
bahwa pandemi COVID-19 membuat
orang tidak aman untuk datang
ke tempat pemungutan suara secara
langsung. Hannity tidak menerima
alasan ini. Ia berpendapat bahwa jika
orang bisa pergi ke supermarket,
ke apotek, atau ke protes jalanan,
mereka juga bisa pergi ke tempat
pemungutan suara.
Bagi Hannity, pemungutan suara
melalui surat massal adalah resep
untuk kecurangan. Ia menguraikan
secara rinci apa yang ia lihat sebagai
kelemahan fatal dari sistem ini.
Pertama, tidak ada verifikasi identitas
yang memadai. Ketika surat suara
dikirim ke alamat-alamat yang
terdaftar, tidak ada yang bisa
memastikan bahwa orang yang
mengisi surat suara itu adalah orang
yang namanya tercantum.
Surat suara bisa dikirim ke alamat
lama, ke orang yang sudah meninggal,
atau ke orang yang sudah pindah.
Kedua, rantai penyimpanan atau
chain of custody (rantai pengawasan)
sangat lemah. Begitu surat suara
meninggalkan tangan pemilih,
tidak ada yang benar-benar tahu
siapa yang menanganinya, di mana
ia disimpan, atau apakah ia telah
dimanipulasi.
Ketiga, potensi untuk ballot
harvesting (pengumpulan surat
suara), di mana pihak ketiga bisa
mengumpulkan surat suara dari
banyak pemilih dan
menyerahkannya sekaligus, sangat
besar.
Hannity menunjuk pada beberapa
contoh di negara bagian yang dipimpin
oleh Demokrat, di mana ia yakin telah
terjadi penyimpangan. Ia tidak hanya
berbicara tentang teori. Ia menunjuk
pada keputusan pengadilan
di menit-menit terakhir yang
mengubah aturan pemilu tanpa
persetujuan legislatif negara bagian.
Ia menunjuk pada laporan-laporan
tentang surat suara yang ditemukan
dalam jumlah besar setelah hari
pemilihan. Semua ini, katanya,
menciptakan awan kecurigaan yang
tidak bisa diabaikan.
Selain pemungutan suara melalui
surat, Hannity juga mengecam keras
dominasi media sosial. Ia menuduh
perusahaan-perusahaan seperti
Twitter dan Facebook telah menjadi
penegak aturan untuk Partai
Demokrat. Ketika New York Post
menerbitkan laporan tentang laptop
Hunter Biden, putra Joe Biden,
yang berisi email-email yang
memberatkan, Twitter dan Facebook
secara aktif menyensor penyebaran
berita itu. Mereka mengunci akun
New York Post, membatasi
penyebaran artikel, dan bahkan
melarang pengguna untuk
mengirimkan tautan tersebut
melalui pesan pribadi.
Bagi Hannity, ini adalah bentuk
campur tangan pemilu yang
keterlaluan. Bayangkan jika sebuah
surat kabar besar menerbitkan
laporan investigasi tentang kandidat
presiden dari Partai Republik, dan
platform media sosial secara kolektif
memutuskan bahwa rakyat Amerika
tidak boleh membacanya. Ini, kata
Hannity, bukanlah demokrasi.
Ini adalah oligarki digital.
Hannity menutup bab ini dengan
kekhawatiran yang mendalam.
Ia khawatir bahwa hari pemilihan
tidak akan menghasilkan kepastian.
Ia khawatir bahwa jutaan surat suara
yang masuk setelah hari pemilihan
akan mengubah hasil, dan bahwa
pertempuran hukum yang akan terjadi
setelahnya akan menyeret Amerika
ke dalam krisis konstitusional yang
belum pernah terjadi sebelumnya.
Bab ini pada dasarnya adalah jeritan
peringatan: pemilu yang “bebas dan
adil”, yang merupakan fondasi dari
republik ini, sedang berada dalam
ancaman serius, dan rakyat Amerika
tidak bisa lagi menerima begitu saja
bahwa sistem akan melindungi
mereka.
Bab 8: Live Free or Die
(Hidup Bebas atau Mati)
Bab terakhir ini adalah panggilan
bersemangat, sebuah pidato penutup
yang ditujukan langsung ke hati para
pembaca Hannity. Judulnya,
“Live Free or Die”, diambil dari moto
negara bagian New Hampshire, tetapi
bagi Hannity, kata-kata ini adalah
esensi dari jiwa Amerika. Ini bukan
sekadar slogan. Ini adalah pilihan.
Ini adalah sumpah.
Hannity meminta para pembacanya
untuk tidak menyerah pada rasa
takut. Ia mengidentifikasi tiga
sumber ketakutan utama yang
digunakan untuk mengendalikan
rakyat Amerika.
Ketakutan pertama adalah
ketakutan terhadap virus.
Hannity menegaskan kembali
poinnya dari bab sebelumnya:
melindungi kelompok rentan adalah
penting, tetapi mengunci seluruh
populasi, menghancurkan ekonomi,
dan merampas kebebasan warga
negara yang sehat adalah respons
yang tidak proporsional.
Ia mendorong para pembacanya
untuk tidak membiarkan rasa takut
terhadap penyakit mencuri cara
hidup mereka.
Ketakutan kedua adalah intimidasi
media. Hannity berpendapat bahwa
media arus utama tidak lagi berfungsi
sebagai pencari kebenaran,
melainkan sebagai alat untuk
membungkam perbedaan pendapat.
Mereka melabeli siapa pun yang
tidak setuju dengan narasi mereka
sebagai penyebar misinformasi,
rasis, atau ekstremis. Hannity
meminta para pembacanya untuk
tidak tunduk pada intimidasi ini.
Jangan biarkan mereka
membungkam suaramu. Jangan
biarkan mereka membuatmu
malu atas keyakinanmu.
Ketakutan ketiga adalah perubahan
budaya. Hannity melihat adanya
upaya sistematis untuk
menghancurkan nilai-nilai
tradisional Amerika. Ia menunjuk
pada gerakan untuk menghapus
patung-patung para pendiri bangsa,
pada pengajaran bahwa Amerika
adalah negara yang secara inheren
jahat, dan pada pembatalan atau
cancel culture (budaya pembatalan)
yang menghancurkan karier dan
reputasi orang-orang yang berani
menyuarakan pendapat yang tidak
populer. Hannity meminta para
pembacanya untuk melawan arus
ini, untuk mempertahankan sejarah,
nilai-nilai, dan identitas mereka
sebagai orang Amerika.
Hannity kemudian menyatakan
bahwa apa yang dipertaruhkan
dalam pertempuran ini bukanlah
sekadar satu pemilu atau satu
kebijakan. Ini adalah seluruh cara
hidup Amerika. Ia melihat Amerika
berada di persimpangan jalan.
Di satu sisi, ada jalan menuju
kebebasan: pemerintahan terbatas,
tanggung jawab individu, dan
Konstitusi yang dihormati.
Di sisi lain, ada jalan menuju apa
yang ia sebut sebagai “sistem sosialis
global”: pemerintahan besar yang
mengendalikan setiap aspek
kehidupan, dari perawatan kesehatan
hingga pendidikan, dari apa yang bisa
kamu katakan hingga apa yang bisa
kamu percayai.
Pilihannya, kata Hannity, sangat tegas.
“Live free or die” (Hidup bebas atau
mati). Ia bersumpah untuk tetap
berjuang, tidak peduli seberapa gelap
keadaannya. Ia mendorong para
pembacanya untuk melakukan hal
yang sama. Jangan menyerah.
Jangan tunduk. Jangan biarkan api
kebebasan padam.
Hannity menutup bukunya dengan
nada yang penuh harapan sekaligus
penuh tantangan. Amerika, katanya,
telah melalui masa-masa yang jauh
lebih gelap sebelumnya.
Perang Saudara, dua Perang Dunia,
Depresi Besar. Setiap kali, rakyat
Amerika bangkit dan bertempur.
Generasi ini, kata Hannity,
tidak boleh menjadi generasi yang
membiarkan republik ini runtuh.
Warisan para pendiri bangsa, darah
para pahlawan yang gugur, dan
masa depan anak-anak yang belum
lahir, semuanya bergantung pada
apa yang dilakukan oleh rakyat
Amerika sekarang. Ini adalah
saatnya untuk memilih. Ini adalah
saatnya untuk bertempur.
Ini adalah saatnya untuk hidup
bebas, atau mati.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita udah sampe di dua bab
pamungkas buku Live Free Or Die.
Setelah Sean Hannity puas ngebeberin
pencapaian Trump dan kontroversi
pandemi, sekarang dia nyampe
ke klimaks dari seluruh argumennya
yang berapi-api. Dia bakal bedah
Pemilu 2020 dan ngasih seruan
terakhir yang jadi judul bukunya.
Pertarungan buat jiwa Amerika.
Bab 7: The 2020 Election,
Pemilu 2020
Hannity buka bab ini dengan
pernyataan yang gak pake
basa-basi. Pemilu 2020 itu BUKAN
pemilu biasa. Ini adalah perang
suci buat jiwa Amerika. Dan Hannity
percaya banget, Partai Demokrat
udah ngerancang skema licik buat
menangin pemilu ini pake cara
APA AJA. Bahkan kalo itu artinya
ngorbanin integritas proses
pemungutan suara itu sendiri.
Fokus utama Hannity cuma satu:
mail-in voting, pemungutan suara
lewat pos. Jauh sebelum hari
pencoblosan, Partai Demokrat
mulai mendorong perluasan
gila-gilaan buat pemungutan suara
lewat surat. Alasan mereka?
Pandemi COVID-19 bikin orang gak
aman kalo harus dateng langsung
ke TPS. Hannity gak terima alasan
ini. Dia balik nanya, kalo orang bisa
ke supermarket, ke apotek, atau ikut
protes jalanan, kenapa mereka
GAK BISA ke TPS?
Buat Hannity, suara lewat pos massal
ini RESEP buat kecurangan.
Dia beberin detail kelemahan fatal
dari sistem ini.
Pertama, gak ada verifikasi identitas
yang bener.
Surat suara dikirim ke alamat terdaftar,
tapi gak ada yang bisa mastiin kalo yang
ngisi itu bener orangnya. Surat suara
bisa nyasar ke alamat lama, ke orang
yang udah meninggal, atau orang yang
udah pindah.
Kedua, rantai pengawasannya
LEMAH BANGET.
Begitu surat suara lepas dari tangan
pemilih, gak ada yang beneran tau
siapa yang megang, di mana disimpen,
atau apakah udah dimanipulasi.
Ketiga, potensi ballot harvesting,
di mana pihak ketiga bisa ngumpulin
surat suara dari banyak pemilih dan
nyerahin sekaligus, itu GEDE BANGET.
Ini celah curang yang siap dieksploitasi.
Hannity tunjuk beberapa contoh
di negara bagian yang dipimpin
Demokrat, di mana dia yakin udah
terjadi penyimpangan. Dia gak cuma
ngomong teori. Dia nunjuk keputusan
pengadilan di menit-menit terakhir
yang ngubah aturan pemilu TANPA
persetujuan legislatif negara bagian.
Dia tunjuk laporan soal surat suara
yang tiba-tiba ditemukan dalam
jumlah besar SETELAH hari pemilihan.
Semua ini, katanya, nyiptain awan
kecurigaan yang GAK BISA DIABAIKAN.
Selain soal surat suara, Hannity juga
ngecam keras dominasi media sosial.
Dia nuduh perusahaan kayak Twitter
dan Facebook udah jadi PENEGAK
ATURAN buat Partai Demokrat.
Pas New York Post nerbitin laporan
tentang laptop Hunter Biden,
anaknya Joe Biden, yang isinya email
memberatkan, Twitter dan Facebook
secara aktif NYENSOR penyebaran
berita itu. Mereka ngunci akun New
York Post, ngebatasin penyebaran
artikel, bahkan NGELARANG
pengguna ngirim tautannya lewat
pesan pribadi.
Buat Hannity, ini bentuk campur
tangan pemilu yang KETERLALUAN.
Bayangin kalo surat kabar gede
nerbitin laporan investigasi tentang
kandidat presiden dari Republik,
terus platform medsos secara
rame-rame mutusin kalo rakyat
Amerika GAK BOLEH bacanya.
Ini, kata Hannity, bukan demokrasi.
Ini OLIGARKI DIGITAL. Parah
banget.
Hannity nutup bab ini dengan
kekhawatiran yang mendalam.
Dia khawatir hari pemilihan gak bakal
ngasih kepastian. Dia khawatir jutaan
surat suara yang masuk setelah hari
pemilihan bakal ngubah hasil, dan
pertempuran hukum setelahnya
bakal NYERET Amerika ke krisis
konstitusional yang belum pernah
terjadi. Bab ini intinya adalah jeritan
peringatan.
Pemilu yang “bebas dan adil”, fondasi
republik ini, lagi dalam ANCAMAN
SERIUS. Rakyat Amerika gak bisa lagi
terima begitu aja kalo sistem bakal
ngelindungin mereka.
Bab 8: Live Free or Die, Hidup
Bebas atau Mati
Bab pamungkas ini adalah
panggilan penuh semangat. Pidato
penutup yang ditujuin langsung
ke jantung hati para pembaca
Hannity. Judulnya,
“Live Free or Die”, diambil dari
moto negara bagian New Hampshire.
Tapi buat Hannity, ini bukan sekadar
slogan keren. Ini adalah PILIHAN.
Ini adalah SUMPAH.
Hannity minta para pembacanya
buat GAK MENYERAH pada rasa
takut. Dia identifikasi tiga sumber
ketakutan utama yang dipake buat
ngendaliin rakyat Amerika.
Ketakutan pertama, TAKUT SAMA
VIRUS. Hannity negepin lagi
poinnya. Lindungin yang rentan
itu penting. Tapi ngunci seluruh
populasi, ngancurin ekonomi, dan
ngrampas kebebasan warga sehat
adalah respons yang
GAK PROPORSIONAL. Dia dorong
pembacanya, jangan biarin rasa
takut sama penyakit nyuri cara
hidup lo.
Ketakutan kedua, INTIMIDASI MEDIA.
Hannity berpendapat media arus utama
udah gak berfungsi sebagai pencari
kebenaran. Mereka malah jadi ALAT
buat ngebungkam suara yang berbeda.
Mereka labeli siapa aja yang gak setuju
sebagai penyebar hoax, rasis, atau
ekstremis. Hannity minta pembacanya,
jangan tunduk sama intimidasi ini.
Jangan biarin mereka ngebungkam
suara lo. Jangan biarin mereka bikin
lo malu sama keyakinan lo sendiri.
Ketakutan ketiga, PERUBAHAN
BUDAYA. Hannity ngeliat ada upaya
sistematis buat ngancurin nilai-nilai
tradisional Amerika. Dia tunjuk
gerakan penghapusan patung pendiri
bangsa, pengajaran bahwa Amerika
itu jahat dari lahir, dan budaya
pembatalan atau cancel culture
yang ngancurin karier dan reputasi
orang cuma gara-gara berani
ngomong gak populer.
Hannity minta pembacanya lawan
arus ini. Pertahanin sejarah lo, nilai
lo, dan identitas lo sebagai orang
Amerika.
Hannity kemudian nyatain, apa yang
dipertaruhkan ini BUKAN cuma satu
pemilu atau kebijakan. Ini SELURUH
CARA HIDUP Amerika. Dia ngeliat
Amerika di persimpangan jalan. Satu
jalan ke kebebasan: pemerintahan
terbatas, tanggung jawab individu,
Konstitusi dihormati. Jalan satunya
lagi ke “sistem sosialis global”:
pemerintahan gede yang ngendaliin
hidup lo dari perawatan kesehatan,
pendidikan, sampe apa yang boleh
lo omongin dan lo percayai.
Pilihannya, kata Hannity, TEGAS.
“Live free or die”. Hidup bebas atau
mati. Dia bersumpah bakal TETAP
BERJUANG, gak peduli seberapa
gelap keadaan. Dia dorong
pembacanya lakuin hal yang sama.
Jangan menyerah. Jangan tunduk.
Jangan biarin api kebebasan padam.
Hannity nutup bukunya dengan nada
penuh harapan sekaligus tantangan.
Amerika udah lewati masa yang jauh
lebih gelap. Perang Saudara, dua
Perang Dunia, Depresi Besar.
Setiap kali, rakyat Amerika bangkit
dan bertempur. Generasi ini, kata
Hannity, GAK BOLEH jadi generasi
yang ngebiarin republik runtuh.
Warisan pendiri bangsa, darah para
pahlawan, masa depan anak-anak
yang belom lahir, semuanya
BERGANTUNG sama apa yang lo
lakuin SEKARANG. Ini saatnya milih.
Ini saatnya bertempur. Ini saatnya
hidup bebas, atau mati.
