Buku Live Free Or Die Sean Hannity, The Great Awakening (Kebangkitan Besar)

Sean Hannity
Sahabat, kali ini kita akan menyelami
buku Live Free Or Die karya Sean
Hannity. Buku ini adalah seruan
politik dari salah satu suara paling
berpengaruh di media konservatif
Amerika. Hannity tidak menulis
sebagai pengamat netral. Ia menulis
sebagai seorang partisan, seorang
pendukung setia Donald Trump, dan
seorang penentang keras terhadap
apa yang ia lihat sebagai
kekuatan-kekuatan yang berusaha
menghancurkan Amerika. Terlepas
dari apakah kamu setuju atau tidak
dengan pandangannya, buku ini
adalah jendela ke dalam cara berpikir
jutaan orang Amerika yang merasa
bahwa negara mereka sedang direbut
oleh kekuatan-kekuatan yang tidak
mereka pilih. Mari kita mulai dari
Bab 1 dan Bab 2.
Bab 1: The Great Awakening
(Kebangkitan Besar)
Sean Hannity membuka bukunya
bukan dengan data atau analisis
kebijakan, melainkan dengan sebuah
fenomena yang ia sebut sebagai
“The Great Awakening”, Kebangkitan
Besar. Ini adalah istilah yang ia
gunakan untuk menggambarkan
gelombang kesadaran politik yang
melanda rakyat Amerika. Menurut
Hannity, selama bertahun-tahun,
warga biasa telah tertidur. Mereka
percaya pada institusi-institusi mapan.
Mereka menonton berita dan
menganggap bahwa apa yang
disampaikan adalah kebenaran.
Mereka memilih politisi dan percaya
bahwa mereka akan menjalankan
tugasnya dengan jujur.
Tetapi tidur panjang itu telah berakhir.
Hannity menunjuk Pemilu 2016
sebagai bukti utama dari kebangkitan
ini. Donald Trump, seorang pengusaha
dan bintang reality show yang tidak
pernah memegang jabatan politik
sebelumnya, berhasil mengalahkan
delapan belas kandidat Partai
Republik yang mapan, dan kemudian
mengalahkan Hillary Clinton,
kandidat Demokrat yang didukung
oleh seluruh mesin politik
Washington. Bagaimana ini bisa
terjadi? Hannity berpendapat bahwa
ini bukanlah kebetulan. Ini adalah
pemberontakan. Rakyat Amerika,
terutama mereka yang tinggal
di jantung negara, di kota-kota
kecil dan pedesaan yang sering kali
diabaikan oleh para elit, telah muak.
Mereka muak dengan politisi yang
berjanji untuk memperbaiki
kehidupan mereka tetapi hanya
memperkaya diri sendiri. Mereka
muak dengan birokrat yang membuat
aturan yang menguntungkan
perusahaan besar dan merugikan
pekerja kecil. Mereka muak dengan
media yang mereka anggap lebih
peduli pada agenda politik daripada
kebenaran.
Kebangkitan ini, menurut Hannity,
digerakkan oleh dua kekuatan utama.
Yang pertama adalah kecintaan pada
Konstitusi. Hannity menggambarkan
dirinya dan para pendukung Trump
sebagai pembela sejati Konstitusi
Amerika Serikat. Mereka percaya
pada pemerintahan terbatas, pada
kebebasan individu, dan pada
hak-hak yang dijamin oleh para
pendiri bangsa. Mereka melihat
Washington sebagai tempat
di mana Konstitusi telah diinjak-injak
oleh para hakim aktivis, oleh
peraturan-peraturan eksekutif yang
melampaui kewenangan, dan oleh
Kongres yang lebih suka
menyerahkan kekuasaannya kepada
birokrat yang tidak dipilih.
Kekuatan kedua adalah kemarahan.
Kemarahan yang mendalam
terhadap apa yang disebut Hannity
sebagai “pengkhianatan kelas
penguasa”. Hannity berpendapat
bahwa para elit di kedua partai politik
telah menjual masa depan Amerika.
Mereka telah menandatangani
perjanjian perdagangan yang
mengirim jutaan pekerjaan ke luar
negeri. Mereka telah membuka
perbatasan dan mengabaikan imigrasi
ilegal. Mereka telah membiarkan
kota-kota besar dikuasai oleh
kejahatan dan narkoba. Dan yang
paling parah, mereka telah
menciptakan sistem di mana mereka
sendiri kebal dari konsekuensi.
Ketika seorang pekerja biasa
kehilangan pekerjaannya, ia harus
berjuang sendiri. Ketika seorang
bankir Wall Street menghancurkan
ekonomi, ia mendapatkan dana
talangan dari pemerintah. Inilah
pengkhianatan yang dimaksud
Hannity.
Pemilu 2016, dalam pandangan
Hannity, adalah momen ketika rakyat
biasa akhirnya berkata “cukup”.
Mereka memilih Trump bukan karena
ia sempurna, tetapi karena ia adalah
satu-satunya yang bersedia
mendengarkan kemarahan mereka
dan berjanji untuk melawan sistem
yang telah mengkhianati mereka.
Kebangkitan ini, Hannity
menekankan, tidak berhenti pada
tahun 2016. Ia terus berlanjut, dan
justru semakin kuat, karena begitu
rakyat terbangun, mereka tidak
akan pernah tertidur lagi.
Bab 2: The Deep State Cabal
(Komplotan Negara Dalam)
Jika Bab 1 adalah tentang harapan dan
kebangkitan, Bab 2 adalah tentang
ancaman. Hannity memperkenalkan
sebuah istilah yang akan menjadi
tema sentral di seluruh bukunya:
“The Deep State” (Negara Dalam).
Ini adalah istilah yang dulu hanya
digunakan di negara-negara seperti
Turki atau Mesir, untuk
menggambarkan jaringan militer
dan intelijen yang beroperasi di luar
kendali pemerintah yang dipilih
secara demokratis. Tetapi Hannity
berpendapat bahwa Amerika Serikat
juga memiliki Negara Dalam, dan
Negara Dalam ini telah bekerja tanpa
lelah untuk menghancurkan Donald
Trump.
Hannity mendefinisikan Deep State
sebagai jaringan pejabat karier
di birokrasi, aparat intelijen
seperti FBI dan CIA, serta aparat
kehakiman, yang semuanya tidak
dipilih oleh rakyat, tetapi memiliki
kekuasaan yang sangat besar.
Mereka telah bekerja di pemerintahan
selama puluhan tahun, melewati
berbagai presiden dari kedua partai,
dan mereka memiliki agenda mereka
sendiri. Agenda itu, menurut Hannity,
adalah untuk mempertahankan status
quo yang menguntungkan mereka,
dan Trump adalah ancaman terbesar
terhadap status quo itu.
Hannity mengupas beberapa kasus
yang ia anggap sebagai bukti
keberadaan dan operasi Deep State.
Pertama adalah kasus penyadapan.
Hannity menuduh bahwa
badan-badan intelijen di bawah
pemerintahan Obama telah menyadap
komunikasi tim kampanye Trump
selama pemilu 2016. Ia berbicara
tentang FISA warrants,
surat perintah pengadilan rahasia
yang digunakan untuk memata-matai
warga negara, dan bagaimana surat
perintah itu didasarkan pada
informasi yang tidak diverifikasi,
termasuk dokumen terkenal yang
dikenal sebagai “Steele Dossier”.
Dokumen ini, yang dibiayai oleh
tim kampanye Hillary Clinton, berisi
tuduhan-tuduhan liar tentang
hubungan Trump dengan Rusia,
dan Hannity berpendapat bahwa
dokumen inilah yang digunakan
oleh FBI untuk membenarkan
penyadapan terhadap orang-orang
di sekitar Trump.
Kedua adalah investigasi Rusia.
Hannity menyebut penyelidikan yang
dipimpin oleh Penasihat Khusus
Robert Mueller sebagai “perburuan
penyihir” terbesar dalam sejarah
Amerika. Ia berpendapat bahwa
penyelidikan ini dimulai bukan karena
ada bukti kejahatan, tetapi karena
Deep State tidak bisa menerima
kenyataan bahwa Trump menang.
Mereka menciptakan narasi bahwa
Trump adalah agen Rusia, dan mereka
menggunakan seluruh kekuasaan
birokrasi untuk mencoba
membuktikannya.
Ketika penyelidikan Mueller akhirnya
selesai dan tidak menemukan bukti
konspirasi antara Trump dan Rusia,
Hannity berkata bahwa ini adalah
pembenaran atas semua yang
selama ini ia katakan.
Ketiga adalah kebocoran informasi
rahasia. Hannity menunjukkan
bahwa selama pemerintahan
Trump, ada kebocoran demi
kebocoran informasi rahasia
ke media. Percakapan telepon Trump
dengan pemimpin negara lain muncul
di halaman depan koran. Rincian
rapat-rapat keamanan nasional
dibocorkan. Hannity berpendapat
bahwa ini bukanlah sekadar
kebetulan. Ini adalah operasi yang
disengaja oleh orang-orang di dalam
pemerintahan sendiri, yang ingin
menjatuhkan presiden mereka sendiri.
Hannity menyebut semua ini sebagai
“silent coup” (kudeta diam-diam).
Ia berpendapat bahwa ini adalah upaya
untuk menggulingkan presiden yang
dipilih secara demokratis, bukan
dengan tank dan senjata,
tetapi dengan birokrasi, kebocoran,
dan penyelidikan tanpa akhir. Mereka
yang terlibat, kata Hannity, adalah
orang-orang yang tidak pernah
dipilih oleh rakyat, tetapi mereka
memiliki kekuasaan untuk
menghancurkan seorang presiden.
Ini adalah ancaman serius terhadap
demokrasi, karena jika birokrat yang
tidak dipilih bisa membatalkan hasil
pemilu, maka pemilu itu sendiri
menjadi tidak berarti.
Hannity menutup bab ini dengan
peringatan yang keras. Deep State,
katanya, tidak akan berhenti.
Mereka akan terus berusaha.
Mereka adalah musuh di dalam
gerbang, dan selama mereka masih
berkuasa, republik ini berada dalam
bahaya. Suaranya adalah suara
alarm, panggilan bagi para
pembacanya untuk menyadari bahwa
perang sesungguhnya bukanlah
antara Republik dan Demokrat,
melainkan antara rakyat dan kelas
penguasa yang tidak peduli pada
mereka.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita nyebur ke buku yang beda
nih. Kali ini kita ngomongin
Live Free Or Die karya Sean Hannity.
Ini buku seruan politik dari salah
satu suara paling gede dan paling
kontroversial di media konservatif
Amerika. Hannity gak nulis sebagai
pengamat netral, ya. Dia nulis sebagai
partisan garis keras, pendukung
fanatik Donald Trump, dan penentang
gigih terhadap apa yang dia liat
sebagai kekuatan-kekuatan yang
ngincer kehancuran Amerika.
Gak peduli lo setuju atau enggak sama
pandangannya, buku ini tuh jendela
yang jernih banget buat ngintip cara
berpikir jutaan orang Amerika yang
ngerasa negara mereka lagi direbut
sama kekuatan yang gak mereka pilih.
Yuk, kita bongkar Bab 1 dan Bab 2.
Bab 1: The Great Awakening,
Kebangkitan Gede
Sean Hannity buka bukunya gak pake
data statistik atau analisis kebijakan
yang njlimet. Ogah. Dia buka dengan
fenomena yang dia sebut
“The Great Awakening”, Kebangkitan
Besar. Istilah ini dia pake buat
ngegambarin gelombang kesadaran
politik yang lagi nyapu rakyat Amerika.
Menurut Hannity, selama
bertahun-tahun, warga biasa udah
tertidur pulas. Mereka percaya aja
sama institusi mapan. Nonton berita
dan nganggep apa yang dikata in itu
bener. Pilih politisi dan percaya
mereka bakal jujur. Tapi tidur
panjang itu, katanya, udah TAMAT.
Selesai.
Hannity nunjuk Pemilu 2016 sebagai
bukti utama kebangkitan ini.
Bayangin, Donald Trump, seorang
pengusaha dan bintang reality show
yang gak pernah megang jabatan
politik seumur hidupnya, berhasil
ngalahin 18 kandidat Partai Republik
yang udah mapan. Terus, dia juga
ngalahin Hillary Clinton, kandidat
Demokrat yang didukung seluruh
mesin politik raksasa Washington.
Gimana caranya? Hannity bilang ini
bukan kebetulan.
Ini PEMBERONTAKAN.
Rakyat Amerika, terutama yang tinggal
di jantung negara, di kota-kota kecil
dan pedesaan yang sering diabaikan
para elit, udah muak.
Mereka muak sama politisi yang janjiin
perbaikan tapi cuma memperkaya diri
sendiri. Muak sama birokrat yang
bikin aturan cuma buat nguntungin
korporasi gede dan ngerugiin pekerja
kecil. Muak sama media yang mereka
anggep lebih peduli agenda politik
ketimbang kebenaran.
Kebangkitan ini, kata Hannity,
digerakin dua kekuatan utama.
Kekuatan pertama: KECINTAAN pada
Konstitusi. Hannity ngegambarin
dirinya dan pendukung Trump sebagai
pembela sejati Konstitusi AS. Mereka
percaya pada pemerintahan terbatas,
kebebasan individu, dan hak-hak
yang dijamin para pendiri bangsa.
Mereka ngeliat Washington sebagai
tempat di mana Konstitusi udah
diinjak-injak. Oleh hakim aktivis,
oleh peraturan eksekutif yang
kebablasan, dan oleh Kongres yang
lebih milih nyerahin kekuasaannya
ke birokrat yang gak dipilih rakyat.
Kekuatan kedua: KEMARAHAN.
Kemarahan mendalam terhadap apa
yang Hannity sebut sebagai
“pengkhianatan kelas penguasa”.
Hannity berpendapat para elit
di KEDUA partai politik udah jual
masa depan Amerika. Mereka teken
perjanjian dagang yang ngirim jutaan
pekerjaan ke luar negeri. Mereka buka
perbatasan dan biarin imigrasi ilegal.
Mereka biarin kota-kota besar dikuasai
kejahatan dan narkoba. Dan yang
paling parah, mereka ciptain sistem
di mana mereka sendiri KEBAL
hukum. Pas pekerja biasa kehilangan
kerjaan, dia berjuang sendirian.
Pas bankir Wall Street ngancurin
ekonomi, dia malah dapet kucuran dana
talangan. Inilah pengkhianatan yang
dimaksud Hannity.
Pemilu 2016, di mata Hannity, adalah
momen ketika rakyat biasa akhirnya
bilang, “CUKUP!” Mereka pilih Trump
bukan karena dia sempurna,
tapi karena dia satu-satunya yang mau
dengerin kemarahan mereka dan janji
lawan sistem yang udah ngianatin
mereka. Kebangkitan ini,
tekan Hannity, gak berhenti di 2016.
Dia terus lanjut, malah makin kuat.
Karena begitu rakyat kebangun,
mereka gak bakal tidur lagi.
Bab 2: The Deep State Cabal,
Komplotan Negara Dalam
Kalau Bab 1 isinya harapan dan
kebangkitan, Bab 2 ini tentang
ANCAMAN. Hannity ngenalin istilah
yang bakal jadi tema sentral
di seluruh bukunya:
“The Deep State” alias Negara
Dalam. Dulu istilah ini cuma dipake
buat negara kayak Turki atau Mesir,
buat ngegambarin jaringan militer
dan intelijen yang kerja di luar kendali
pemerintah yang dipilih demokratis.
Tapi Hannity ngotot, Amerika Serikat
PUNYA Deep State juga. Dan Deep
State ini, katanya, udah kerja tanpa
lelah buat ngancurin Donald Trump.
Hannity mendefinisikan Deep State
sebagai jaringan pejabat karier
di birokrasi, aparat intelijen kayak
FBI dan CIA, plus aparat kehakiman.
Semuanya gak dipilih rakyat, tapi
punya kekuasaan GEDE BANGET.
Mereka udah kerja di pemerintahan
puluhan tahun, lewati presiden dari
dua partai, dan punya
AGENDA SENDIRI.
Agendanya?
Mempertahankan status quo yang
nguntungin mereka. Dan Trump
adalah ANCAMAN TERBESAR
terhadap status quo itu.
Hannity bongkar beberapa kasus
yang dia anggap bukti nyata
operasi Deep State.
Pertama, kasus PENYADAPAN.
Hannity nuduh badan intelijen
di bawah Obama nyadap komunikasi
tim kampanye Trump selama pemilu
2016. Dia ngomongin FISA warrants,
surat perintah rahasia buat
memata-matai warga negara. Surat itu,
kata Hannity, didasarkan pada info
yang GAK TERVERIFIKASI, termasuk
dokumen beken yang disebut
“Steele Dossier”. Dokumen ini
dibiayain tim kampanye Hillary Clinton,
isinya tuduhan liar soal hubungan
Trump sama Rusia. Dan Hannity
yakin, dokumen inilah yang dipake FBI
buat ngebenarin penyadapan
ke orang-orang sekitar Trump.
Kedua, INVESTIGASI RUSIA.
Hannity nyebut penyelidikan yang
dipimpin Penasihat Khusus Robert
Mueller sebagai “perburuan penyihir”
TERBESAR dalam sejarah Amerika.
Dia bilang, ini dimulai bukan karena
ada bukti kejahatan. Tapi karena
Deep State GAK TERIMA Trump
menang. Mereka ciptain narasi
Trump agen Rusia, lalu kerahin
seluruh kekuasaan birokrasi buat
maksa buktiin itu. Pas investigasi
Mueller akhirnya kelar dan
GAK NEMUIN bukti konspirasi
Trump-Rusia, Hannity langsung
bilang ini pembenaran atas semua
yang selama ini dia katakan.
Ketiga, KEBOCORAN INFORMASI
RAHASIA. Hannity nunjukin, selama
pemerintahan Trump, ada kebocoran
terus-terusan ke media. Pembicaraan
telepon Trump sama pemimpin
negara lain muncul di koran. Detail
rapat keamanan nasional dibocorin.
Hannity yakin ini bukan kebetulan.
Ini operasi SENGAJA oleh orang dalam
pemerintahan sendiri yang pengen
ngejatuhin presiden mereka sendiri.
Hannity nyebut semua ini sebagai
“silent coup”, kudeta diam-diam.
Ini upaya buat gulingin presiden yang
dipilih secara demokratis. Bukan pake
tank dan senjata, tapi pake birokrasi,
kebocoran, dan penyelidikan yang gak
ada ujungnya. Mereka yang terlibat,
kata Hannity, adalah orang-orang
yang gak pernah dipilih rakyat,
tapi punya kuasa buat ngancurin
seorang presiden. Ini ancaman
SERIUS buat demokrasi. Karena kalo
birokrat gak dipilih bisa batalkan hasil
pemilu, buat apa ada pemilu?
Hannity nutup bab ini dengan
peringatan keras. Deep State, katanya,
GAK AKAN BERHENTI. Mereka akan
terus nyerang. Mereka adalah musuh
di dalam benteng. Dan selama mereka
masih berkuasa, republik ini dalam
bahaya. Suara Hannity adalah suara
alarm. Panggilan buat pembacanya
buat sadar, perang sesungguhnya
bukan Republik vs Demokrat.
Tapi antara RAKYAT melawan
KELAS PENGUASA yang gak peduli
sama mereka.
