“Kotak Gender” dan Pernikahan sebagai Obsesi
Sahabat, kita lanjutkan ke bagian
keenam dari bukuĀ We Should All
Be Feminists. Setelah membongkar
mitos bahwa ketimpangan gender
adalah kodrat biologis, Adichie kini
mengarahkan perhatiannya pada salah
satu manifestasi paling nyata dari
ketimpangan itu: cara masyarakat
menilai perempuan berdasarkan
peran domestik mereka, dan obsesi
budaya terhadap pernikahan sebagai
ukuran utama kesuksesan seorang
perempuan.
6. “Kotak Gender” dan
Pernikahan sebagai Obsesi
Chimamanda Ngozi Adichie mengamati
bahwa perempuan terus-menerus
dinilai dari peran domestiknya.
Tidak peduli seberapa tinggi
pendidikannya, tidak peduli seberapa
cemerlang kariernya, tidak peduli
seberapa banyak prestasi yang telah
ia raih, pertanyaan yang paling sering
diajukan kepadanya tetaplah
pertanyaan yang sama:
“Kapan menikah?”
Adichie menceritakan pengalamannya
sendiri. Ia menghadiri sebuah acara,
mungkin sebuah pertemuan
profesional atau sebuah pesta.
Di sana, ia bertemu dengan
orang-orang yang seharusnya tertarik
pada pemikirannya, pada buku-buku
yang telah ia tulis, pada ide-ide yang
ia sumbangkan kepada dunia. Tetapi
alih-alih bertanya tentang karyanya,
mereka bertanya tentang status
pernikahannya.
Kapan ia akan menikah?
Mengapa ia belum menikah?
Apakah ia sudah memiliki calon?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah
pertanyaan yang netral.
Mereka mengandung asumsi yang
dalam. Mereka mengandung pesan
bahwa apa pun yang telah dicapai
oleh seorang perempuan, hidupnya
tetap belum lengkap tanpa seorang
suami. Gelar akademis, karya sastra,
penghargaan internasional,
semua itu seolah-olah tidak berarti
apa-apa jika tidak ada cincin di jari
manisnya. Adichie tidak
anti-pernikahan. Ia tidak mengatakan
bahwa menikah adalah hal yang buruk.
Yang ia tolak adalah anggapan bahwa
perempuan tidak lengkap tanpa suami.
Ia menolak gagasan bahwa nilai
seorang perempuan diukur dari
kemampuannya untuk mendapatkan
dan mempertahankan seorang pria.
Ia menceritakan satu kejadian yang
sangat mengesankan. Suatu kali,
seorang pria memujinya. Pria itu
berkata, “Pemikiranmu tidak seperti
perempuan.” Maksud pria itu adalah
pujian. Ia ingin mengatakan bahwa
Adichie cerdas, bahwa pemikirannya
tajam, bahwa ia berbeda dari
perempuan pada umumnya.
Tetapi bagi Adichie, kalimat itu justru
menunjukkan standar ganda yang
sangat merusak. Mengapa
“berpikir seperti perempuan”
dianggap sebagai sesuatu yang
buruk?
Mengapa kecerdasan dianggap sebagai
sifat maskulin, sementara perempuan
diharapkan untuk tidak terlalu pintar?
Pujian itu mengungkapkan asumsi
yang tersembunyi: bahwa perempuan
cerdas adalah anomali, sesuatu yang
tidak biasa, sesuatu yang mengejutkan.
Inilah yang disebut Adichie sebagai
“kotak gender”. Sejak kecil, anak
perempuan dimasukkan ke dalam kotak
yang sempit. Mereka harus manis.
Mereka harus penurut. Mereka harus
memikirkan pernikahan dan menjadi
ibu. Ambisi mereka dibatasi.
Suara mereka dikecilkan. Ruang gerak
mereka dipersempit. Sementara itu,
anak laki-laki dibiarkan bebas
bereksplorasi. Mereka didorong untuk
bermimpi besar, untuk mengambil
risiko, untuk menjelajahi dunia tanpa
batasan. Kotak gender ini sangat
merugikan perempuan, tetapi juga
merugikan laki-laki dengan cara
yang berbeda.
Adichie mengajak kita untuk
menghentikan pola asuh yang
menyudutkan anak-anak ke dalam
kotak-kotak ini. Ia ingin kita
membesarkan anak perempuan yang
berani bermimpi, yang tidak takut
pada ambisinya sendiri, yang tidak
merasa bersalah atas kecerdasannya.
Ia ingin kita membesarkan anak
laki-laki yang boleh menangis, yang
boleh lembut, yang tidak harus
membuktikan kejantanan mereka
dengan kekerasan dan dominasi.
Dunia yang lebih adil adalah dunia
di mana tidak ada lagi kotak-kotak ini.
Dunia di mana setiap anak, tanpa
memandang jenis kelaminnya,
diizinkan untuk menjadi manusia
sepenuhnya.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita lanjut lagi bedah buku
We Should All Be Feminists. Kali ini
Adichie nyorot satu hal yang pasti
sering banget lo liat atau bahkan lo
alamin sendiri. Setelah ngebongkar
mitos biologis, sekarang dia
ngarahin perhatian kita
ke manifestasi paling nyata dari
ketimpangan: gimana masyarakat
selalu nilai cewek dari peran
domestiknya. Dan yang paling parah,
obsesi gila-gilaan terhadap
pernikahan seolah itu adalah piala
tertinggi dalam hidup seorang cewek.
6. “Kotak Gender” dan
Pernikahan yang Dijadiin Obsesi
Adichie ngamatin satu pola yang
konsisten banget. Cewek tuh
terus-terusan dinilai dari peran rumah
tangganya. Serius, gak peduli lo udah
setinggi apa pendidikannya,
secemerlang apa kariernya, atau
seabrek apa prestasi lo, pertanyaan
yang paling sering lo dapet sebagai
cewek bakal balik lagi ke situ-situ aja:
“Kapan nikah?”
Adichie cerita pengalamannya sendiri.
Dia dateng ke sebuah acara, bisa jadi
acara profesional atau pesta gitu.
Dia ketemu orang-orang yang
HARUSNYA tertarik sama
pemikirannya, sama buku-buku
keren yang dia tulis, sama ide-ide
brilian yang dia sumbangin ke dunia.
Tapi bukannya nanya soal karyanya,
mereka malah nanya status
pernikahannya.
Kapan nikah? Kok belom nikah?
Udah punya calon belom?
Nah, pertanyaan kayak gini tuh gak
netral, gaes. Dia sarat sama asumsi
yang dalem banget. Dia ngirim pesan
halus tapi nusuk: bahwa apapun yang
udah lo capai sebagai cewek, hidup
lo tetep aja BELUM LENGKAP tanpa
suami. Gelar akademis? Karya sastra?
Penghargaan internasional?
Semua kayak gak ada artinya kalo jari
manis lo masih polos tanpa cincin.
Adichie gak anti nikah, ya.
Dia gak bilang kalo nikah itu buruk.
Yang dia tolak adalah anggapan bahwa
cewek itu GAK UTUH tanpa cowok.
Dia nolak keras gagasan kalo nilai
seorang cewek cuma diukur dari
kemampuannya dapetin dan nahan
seorang pria.
Terus dia cerita satu kejadian yang
nempel banget di kepala. Suatu kali,
ada cowok yang “muji” dia. Si cowok
bilang gini: “Pemikiranmu tuh gak
kayak cewek.” Maksud si cowok ini
mungkin baik, dia pengen bilang kalo
Adichie cerdas, pikirannya tajem, dan
itu BEDA dari cewek kebanyakan.
Tapi buat Adichie, justru kalimat itu
nunjukin standar ganda yang merusak
banget. Coba lo pikirin: kenapa
“berpikir kayak cewek” dianggep
sebagai sesuatu yang BURUK?
Kenapa kecerdasan dianggep sebagai
sifat maskulin, sementara cewek
diharapin buat gak terlalu pinter?
Pujian itu malah ngebongkar asumsi
tersembunyi: kalo cewek cerdas tuh
ANOMALI. Sesuatu yang gak biasa.
Sesuatu yang mengejutkan. Gila ya,
pujian aja bisa seberacun itu.
Nah, di sinilah Adichie ngenalin istilah
“kotak gender”. Sejak kecil, anak
cewek dimasukin ke kotak yang
sempit banget. Mereka harus manis.
Harus penurut. Harus mikirin nikah
dan jadi ibu. Ambisi mereka dibatesin.
Suara mereka dikecilin. Ruang gerak
mereka dipersempit. Sementara
di sisi lain, anak cowok dibiarin bebas
ngeksplorasi. Mereka didorong buat
mimpi gede, ngambil resiko,
ngejelajah dunia tanpa batasan.
Gak adil banget, kan?
Kotak gender ini emang sangat
merugikan cewek, tapi Adichie juga
ngingetin kalo ini juga ngerugiin
cowok dengan cara yang berbeda.
Semua orang terjebak di kotaknya
masing-masing.
Adichie ngajak kita buat BERHENTI.
Hentikan pola asuh yang nyudutin
anak-anak ke dalem kotak sempit ini.
Dia pengen kita ngasuh anak cewek
yang berani mimpi gede, yang gak
takut sama ambisinya sendiri,
yang gak ngerasa bersalah cuma
gara-gara pinter. Dia juga pengen kita
ngasuh anak cowok yang BOLEH
nangis, yang BOLEH lembut, yang
gak harus buktiin kejantanan mereka
pake kekerasan dan dominasi.
Dunia yang lebih adil itu, kata Adichie,
adalah dunia di mana gak ada lagi
kotak-kotak gender kayak gini. Dunia
di mana setiap anak, gak peduli jenis
kelaminnya, diizinin buat jadi
MANUSIA SEPENUHNYA. Titik.
