Pernikahan Dongeng yang Mulai Retak
Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 3 dan
Bab 4 dari buku Diana: Her True
Story. Di dua bab ini, dongeng yang
dijual ke seluruh dunia mulai
menunjukkan retakan-retakan yang
tidak bisa ditutupi.
Di balik kemegahan istana dan
kilauan mahkota, seorang putri
muda berjuang sendirian melawan
penyakit yang tidak dipahaminya,
melawan suami yang tidak
mencintainya, dan melawan sistem
yang menganggapnya sebagai
barang pajangan.
Bab 3: Pernikahan Dongeng
yang Mulai Retak
Tanggal 29 Juli 1981. Katedral St.
Paul dipenuhi oleh tamu-tamu
kerajaan, kepala negara, dan jutaan
pasang mata yang menyaksikan
melalui layar televisi di seluruh dunia.
Diana Spencer, gadis pemalu berusia
dua puluh tahun, berjalan menyusuri
lorong katedral dengan gaun
pengantin gading yang megah,
lengkap dengan ekor gaun sepanjang
hampir delapan meter. Tujuh ratus
lima puluh juta orang menyaksikan
apa yang disebut sebagai
“pernikahan abad ini”. Mereka melihat
seorang putri dongeng. Mereka tidak
melihat apa yang terjadi di balik
pintu tertutup.
Di altar, mata Diana menyapu
kerumunan tamu. Di suatu tempat
di antara mereka, duduk Camilla
Parker Bowles. Diana telah tahu
tentang Camilla sebelum pernikahan.
Ia telah menemukan gelang yang
dipesan Charles untuk Camilla,
lengkap dengan ukiran nama
panggilan mereka. Ia telah mendengar
percakapan telepon yang tidak
seharusnya ia dengar. Ia telah
mencium parfum yang bukan miliknya.
Kini, di hari yang seharusnya menjadi
hari paling bahagia dalam hidupnya,
ia harus berdiri di altar dan tersenyum,
sementara wanita yang dicintai
suaminya duduk di antara para tamu.
Bulan madu mereka adalah awal dari
kehancuran. Charles dan Diana
berlayar dengan kapal pesiar kerajaan
Britannia melintasi Laut Tengah.
Pemandangannya indah. Cuacanya
sempurna. Tetapi di dalam kabin,
sesuatu yang mengerikan sedang
terjadi. Diana mulai makan dalam
jumlah yang tidak normal, lalu
memuntahkannya kembali. Bulimia
nervosa, penyakit yang akan
menghantuinya selama
bertahun-tahun, mulai
mencengkeramnya dengan kuat.
Pemicunya adalah tekanan yang luar
biasa. Diana tiba-tiba menjadi salah
satu wanita paling terkenal di dunia.
Setiap gerak-geriknya diawasi.
Setiap pakaiannya dinilai.
Setiap senyumnya dianalisis.
Ia tidak siap untuk ini. Tidak ada
yang melatihnya. Tidak ada yang
membimbingnya. Dan yang lebih
buruk, suaminya sendiri tidak
memberinya dukungan. Charles
bersikap dingin dan jauh. Alih-alih
memahami ketakutan istrinya,
ia justru menghabiskan waktu
menelepon Camilla dari kapal.
Diana mendengar percakapan itu.
Ia tidak bisa melupakannya.
Sikap Charles yang dingin terwujud
dalam hal-hal kecil yang sangat
menyakitkan. Suatu hari, Diana
menemukan buku harian Charles.
Di dalamnya, terselip foto-foto
Camilla. Diana menangis.
Ia bertanya kepada suaminya,
memohon penjelasan. Charles tidak
memberikan pembelaan. Ia tidak
menghibur. Ia hanya diam, atau
lebih buruk lagi, menyalahkan Diana
karena terlalu sensitif.
Di momen-momen seperti inilah
Diana menyadari bahwa ia tidak
menikahi seorang suami. Ia menikahi
seorang pria yang sudah memiliki
cinta di tempat lain, dan ia hanyalah
pengganti yang dipilih karena
memenuhi syarat.
Bab 4: Kelahiran William dan
Depresi Pascamelahirkan
Di tengah kegelapan yang semakin
pekat, kehamilan pertama Diana
membawa secercah harapan.
Ia mengandung seorang anak.
Seorang ahli waris. Mungkin, pikirnya,
seorang anak akan mengubah
segalanya. Mungkin Charles akan
menjadi lebih hangat. Mungkin
pernikahan mereka akan memiliki
makna baru. Mungkin ia akhirnya
akan dicintai.
Kehamilan itu sendiri sangat berat.
Diana menderita morning sickness
yang parah, mual dan muntah yang
berlangsung sepanjang hari, bukan
hanya di pagi hari.
Tetapi penderitaan fisiknya tidak
sebanding dengan penderitaan
emosionalnya. Pada saat inilah,
Diana pertama kali mencoba bunuh
diri. Ia sedang hamil, merasa
benar-benar putus asa, dan
ia melemparkan dirinya dari tangga
di Sandringham. Ia tidak berhasil.
Charles menemukannya, tetapi
alih-alih khawatir, ia menjadi
marah. Ia menganggap tindakan
Diana sebagai ulah yang manipulatif,
sebuah usaha mencari perhatian.
Ia tidak melihat seorang wanita
yang sekarat di dalam.
Pada tanggal 21 Juni 1982, William
Arthur Philip Louis lahir. Persalinan
berlangsung selama enam belas jam,
panjang dan melelahkan.
Tetapi begitu ia menggendong
putranya, Diana merasakan sesuatu
yang belum pernah ia rasakan
sebelumnya: cinta yang murni dan
tanpa syarat. William adalah miliknya.
William membutuhkannya. William
mencintainya tanpa menuntut apa pun.
Untuk pertama kalinya dalam
hidupnya, Diana merasa bahwa ia
berharga.
Namun, kegembiraan itu tidak
bertahan lama. Depresi
pasca-melahirkan menyerang dengan
ganas. Hormon-hormon yang kacau
setelah persalinan memperparah
bulimia yang sudah mengakar. Diana
makan dan memuntahkan, makan
dan memuntahkan, dalam siklus
yang tampaknya tidak berakhir.
Ia merasa tubuhnya bukan miliknya
sendiri. Ia merasa jiwanya
tercabik-cabik. Ia membutuhkan
bantuan, tetapi tidak ada yang
memberikannya.
Keluarga kerajaan menyaksikan semua
ini dengan dingin. Mereka tidak
mengerti depresi. Mereka tidak
mengerti bulimia. Mereka tidak
mengerti mengapa seorang putri
yang memiliki segalanya
—istana, pelayan, kekayaan, dan
seorang pangeran
—bisa merasa begitu hancur.
Dalam pandangan mereka, Diana
“tidak stabil”. Ia “terlalu emosional”.
Ia “sulit diatur”. Label-label ini
diucapkan di belakang punggungnya,
tetapi Diana bisa merasakannya.
Ia tahu bahwa ia sedang dihakimi.
Ia tahu bahwa tidak ada yang
berpihak padanya.
Charles semakin menjauh. Kelahiran
William, yang diharapkan Diana akan
memperbaiki segalanya, justru
tampaknya membebaskan Charles
dari kewajibannya.
Ia telah menghasilkan seorang ahli
waris. Tugasnya selesai. Ia kembali
kepada kehidupannya sendiri, kepada
Camilla, kepada hobi-hobi dan
teman-temannya, meninggalkan
Diana sendirian dengan bayi yang
baru lahir dan penyakit yang
menggerogotinya dari dalam.
Istana menjadi penjara. Setiap hari,
Diana harus tersenyum di depan
publik, menghadiri acara-acara resmi,
melambaikan tangan kepada
kerumunan, berpura-pura bahwa
semuanya baik-baik saja. Tetapi
begitu kamera mati dan pintu istana
tertutup, senyum itu lenyap.
Ia menangis di kamar mandi.
Ia memuntahkan makanannya.
Ia menatap cermin dan tidak
mengenali wanita yang menatapnya
kembali.
Diana mencoba bunuh diri lagi.
Kali ini, ia menyayat pergelangan
tangannya. Ia tidak benar-benar
ingin mati. Ia hanya ingin seseorang
mendengarkannya. Ia ingin
seseorang melihat betapa sakitnya ia.
Ia ingin suaminya memeluknya dan
berkata bahwa semuanya akan
baik-baik saja. Tetapi pelukan itu tidak
pernah datang. Yang datang hanyalah
lebih banyak keheningan, lebih banyak
penghakiman, dan lebih banyak
kesepian.
Di bab-bab ini, Andrew Morton,
melalui rekaman wawancara rahasia
yang diberikan Diana sendiri,
melukiskan potret seorang wanita
yang terjebak dalam sangkar emas.
Seorang wanita yang memiliki
segalanya, kecuali satu hal yang
paling ia dambakan: cinta. Pernikahan
dongeng telah retak. Dan retakan itu
hanya akan semakin lebar.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita lanjut lagi ngobrolin kisah
Putri Diana yang makin kelam.
Di Bab 3 dan 4 ini, dongeng
“pernikahan abad ini” yang dijual
ke seluruh dunia mulai kelihatan
retakan besarnya. Di balik kemegahan
istana, Diana muda berjuang
sendirian ngelawan penyakit yang
nggak dia pahami, suami yang nggak
mencintainya, dan sistem yang cuma
nganggep dia pajangan.
Bab 3: Pesta Megah, Hati yang
Remuk
29 Juli 1981. Katedral St. Paul penuh
sesak. Kepala negara, bangsawan,
dan 750 juta pasang mata di seluruh
dunia nonton lewat TV. Diana Spencer,
gadis pemalu 20 tahun, jalan di lorong
katedral dengan gaun pengantin
gading yang megah, ekornya hampir
8 meter. Semua orang ngeliat putri
dongeng. Tapi nggak ada yang tahu
apa yang terjadi di balik pintu tertutup.
Di altar, mata Diana nyapu kerumunan.
Di antara tamu, duduk Camilla
Parker Bowles. Diana udah tahu soal
Camilla sebelum nikah. Dia udah nemu
gelang pesanan Charles buat Camilla,
lengkap dengan ukiran nama panggilan
mereka. Dia udah denger percakapan
telepon yang nggak seharusnya dia
denger. Dia udah nyium parfum yang
bukan miliknya. Sekarang, di hari yang
katanya paling bahagia, dia harus
senyum di altar, sementara cewek yang
dicintai suaminya duduk di antara tamu.
Bulan madu mereka di kapal pesiar
kerajaan Britannia jadi awal
kehancuran. Pemandangan indah,
cuaca sempurna. Tapi di dalem kabin,
mimpi buruk dimulai. Diana mulai
makan dalam jumlah nggak normal,
lalu muntahin lagi. Bulimia nervosa,
penyakit yang bakal menghantuinya
bertahun-tahun, mulai menjeratnya
kuat. Pemicunya tekanan luar biasa.
Diana tiba-tiba jadi salah satu cewek
paling terkenal di dunia.
Setiap gerak-geriknya diawasin,
pakaiannya dinilai, senyumnya
dianalisis. Dia nggak siap, dan nggak
ada yang ngelatih atau ngebimbing.
Parahnya, suaminya sendiri nggak
ngasih dukungan. Charles dingin dan
jauh. Dia malah ngabisin waktu
nelpon Camilla dari kapal. Diana
denger percakapan itu, dan nggak
bisa ngelupain.
Sikap Charles yang dingin makin
nyakitin. Suatu hari, Diana nemu buku
harian Charles. Di dalemnya,
ada foto-foto Camilla. Diana nangis,
nanya ke suaminya, mohon penjelasan.
Charles nggak ngebelain diri, nggak
ngehibur. Dia cuma diem, atau lebih
parah, nyalahin Diana yang dianggap
terlalu sensitif. Di sinilah Diana sadar:
dia nggak menikahi suami, tapi pria
yang udah punya cinta di tempat lain.
Dia cuma pengganti yang dipilih
karena memenuhi syarat.
Bab 4: William Lahir, Harapan
yang Cepat Sirna
Di tengah kegelapan, kehamilan
pertama bawa secercah harapan.
Diana pikir, mungkin seorang anak
bakal ngubah segalanya. Mungkin
Charles jadi lebih hangat, mungkin
pernikahan mereka punya arti baru.
Tapi kehamilannya berat banget.
Morning sickness parah, mual muntah
seharian. Penderitaan emosionalnya
malah lebih parah. Di saat inilah
Diana pertama kali nyoba bunuh
diri. Lagi hamil, ngerasa putus asa
total, dia ngelempar dirinya dari tangga
di Sandringham. Gagal. Charles nemuin
dia, tapi bukannya khawatir, dia malah
marah. Dia nganggep itu ulah
manipulatif, cari perhatian. Dia nggak
ngeliat perempuan yang sekarat
di dalem.
21 Juni 1982, William Arthur
Philip Louis lahir. Persalinan 16 jam,
panjang dan melelahkan. Tapi begitu
ngegendong anaknya,
Diana ngerasain sesuatu yang belum
pernah: cinta murni tanpa syarat.
William miliknya, butuh dia, cinta
dia. Untuk pertama kalinya, Diana
ngerasa berharga. Tapi kegembiraan
itu singkat. Depresi pasca-melahirkan
nyerang ganas. Hormon kacau
memperparah bulimia. Diana makan
dan muntah, makan dan muntah,
dalam siklus tanpa akhir. Dia ngerasa
tubuhnya bukan miliknya lagi, jiwanya
remuk. Dia butuh bantuan, tapi nggak
ada yang ngasih.
Keluarga kerajaan nyaksiin ini semua
dengan dingin. Mereka nggak ngerti
depresi, nggak ngerti bulimia. Mereka
bingung, kenapa putri yang punya
segalanya, istana, pelayan, kekayaan,
pangeran, bisa hancur begini. Buat
mereka, Diana “nggak stabil”, “terlalu
emosional”, “sulit diatur”. Label-label
itu diomongin di belakang, tapi Diana
bisa ngerasain. Dia tahu dia lagi
dihakimi, nggak ada yang berpihak.
Charles makin menjauh. Kelahiran
William yang diharapin Diana bakal
ngebaikkin segalanya, malah
ngebebasin Charles dari kewajiban.
Dia udah ngasilin ahli waris, tugas
kelar. Dia balik ke kehidupannya
sendiri, ke Camilla, ninggalin Diana
sendirian sama bayi dan penyakit
yang nggerogotin dari dalem. Istana
jadi penjara. Setiap hari, Diana harus
senyum di depan publik, ngelayani
acara resmi, ngelambai. Tapi begitu
kamera mati dan pintu tertutup, dia
nangis di kamar mandi, muntahin
makanan, natap cermin dan nggak
kenali siapa di depannya.
Diana nyoba bunuh diri lagi, kali ini
nyayat pergelangan tangannya. Dia
nggak beneran pengen mati, dia
cuma pengen seseorang dengerin,
ngeliat betapa sakitnya dia.
Dia pengen suaminya meluk dan
bilang semua bakal baik-baik aja.
Tapi pelukan itu nggak pernah
dateng. Yang dateng cuma lebih
banyak diem, lebih banyak
hukuman, dan lebih banyak kesepian.
Dari rekaman wawancara rahasia yang
dikasih Diana sendiri, Morton ngelukis
potret perempuan yang terjebak
di sangkar emas. Perempuan yang
punya segalanya, kecuali satu hal yang
paling dia dambain: cinta. Pernikahan
dongeng udah retak, dan retakan itu
cuma bakal makin lebar. 💔👑
