Wanita Lain: Camilla Parker Bowles
Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 5 dan
Bab 6 dari buku Diana: Her True
Story. Di dua bab ini, Diana
mencapai titik terendah dalam
pernikahannya. Ia bukan lagi sekadar
istri yang diabaikan. Ia adalah
perempuan yang harus hidup setiap
hari dengan pengetahuan bahwa
suaminya mencintai orang lain.
Dan di tengah kesendirian yang
mencekik, ia mulai melakukan
tindakan-tindakan putus asa yang
membuat istana mencapnya
sebagai “gila”.
Bab 5: Wanita Lain:
Camilla Parker Bowles
Diana selalu tahu tentang Camilla.
Sejak awal, sejak pertunangan, sejak
bulan madu, bayangan perempuan
itu selalu ada. Tetapi mengetahui
secara samar dan menemukan bukti
nyata adalah dua hal yang sangat
berbeda. Dan suatu hari, Diana
menemukan bukti itu.
Di meja kerja Charles, terselip
surat-surat. Surat dari Camilla. Surat
dengan kata-kata yang tidak
seharusnya ditulis oleh seorang
wanita yang sudah bersuami kepada
seorang pria yang sudah beristri.
Diana membacanya dengan tangan
gemetar. Jantungnya berdebar keras.
Inilah konfirmasi dari semua
kecurigaan yang selama ini
menghantuinya. Suaminya tidak
hanya berteman dengan Camilla.
Suaminya mencintai Camilla.
Dan Camilla mencintainya kembali.
Diana memutuskan untuk menghadapi
Camilla secara langsung. Ini adalah
tindakan yang membutuhkan
keberanian luar biasa bagi seorang
wanita pemalu yang selalu diajari
untuk menunduk dan tersenyum.
Peristiwa ini terjadi di sebuah pesta
ulang tahun. Camilla hadir di antara
para tamu. Diana tahu bahwa ini
adalah kesempatannya. Ia mencari
Camilla, menemukannya, dan
mengajaknya berbicara secara pribadi.
Dengan suara yang tenang tetapi
tegas, Diana berkata bahwa ia tahu
apa yang sedang terjadi antara
Camilla dan Charles. Ia bukanlah
orang bodoh. Ia tidak buta.
Apa yang terjadi selanjutnya akan
terus terngiang di benak Diana selama
sisa hidupnya. Camilla tidak
membantah. Camilla tidak meminta
maaf. Camilla bahkan tidak terkejut.
Dengan sikap yang tenang dan
hampir meremehkan, ia membalikkan
tuduhan itu dan menjadikan Diana
sebagai pihak yang tidak masuk akal.
Bukankah Diana sudah memiliki
segalanya?
Bukankah ia sudah menjadi istri
seorang pangeran?
Bukankah ia sudah memiliki dua
putra yang cantik?
Apa lagi yang ia inginkan?
Kata-kata Camilla menusuk lebih
dalam daripada yang bisa
dibayangkan. Diana tidak tahu
bagaimana menjawabnya. Ia hanya
berdiri di sana, merasa hancur,
sementara wanita lain itu berjalan
pergi seolah-olah tidak ada yang
terjadi.
Diana juga menghadapi Charles.
Beberapa kali. Di setiap konfrontasi,
ia berharap suaminya akan
menyangkal. Ia berharap suaminya
akan memeluknya dan berkata bahwa
Camilla hanyalah teman lama, bahwa
tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tetapi Charles tidak pernah
memberikan apa yang Diana
harapkan. Ia tidak menyangkal.
Ia tidak membela diri. Ia hanya diam,
atau lebih buruk lagi, ia membalikkan
kesalahan kepada Diana. Ia menyebut
Diana paranoid. Ia menyebut Diana
terlalu cemburu. Ia menyebut Diana
tidak masuk akal. Charles tidak pernah
sekali pun mengatakan bahwa ia akan
meninggalkan Camilla.
Kenyataan ini menghancurkan harga
diri Diana. Ia adalah seorang wanita
muda yang cantik, yang dicintai oleh
jutaan orang di seluruh dunia, tetapi
suaminya sendiri tidak
menginginkannya. Suaminya
menginginkan wanita lain, seorang
wanita yang lebih tua, yang sudah
menikah, yang tidak lebih cantik
darinya. Mengapa?
Apa yang salah dengan dirinya?
Pertanyaan-pertanyaan ini
berputar-putar di kepalanya setiap
malam. Jawabannya tidak pernah
datang.
Pernikahannya kini hanyalah
formalitas. Sebuah pertunjukan yang
harus terus dimainkan demi Kerajaan.
Di depan kamera, Diana dan Charles
masih tersenyum. Mereka masih
berdiri berdampingan di acara-acara
resmi. Mereka masih melambaikan
tangan kepada rakyat. Tetapi begitu
pintu istana tertutup, mereka hidup
dalam dua dunia yang terpisah.
Mereka adalah dua orang asing yang
kebetulan berbagi nama belakang
dan dua orang anak. Tidak lebih.
Bab 6: Jatuh ke Dalam
Keputusasaan: Bulimia
dan Bunuh Diri
Di bab ini, Diana membuka bagian
paling gelap dari jiwanya. Ia tidak
lagi berbicara tentang pertengkaran
atau kecemburuan. Ia berbicara
tentang penyakit yang menguasai
tubuhnya, dan tentang malam-malam
ketika ia merasa bahwa satu-satunya
jalan keluar adalah kematian.
Bulimia nervosa, yang mulai muncul
saat bulan madu, kini telah menjadi
monster yang tidak bisa ia kendalikan.
Diana menggambarkan bulimia
sebagai pelarian, satu-satunya cara
untuk melepaskan rasa sakit
emosional yang tidak bisa ia
ungkapkan dengan kata-kata.
Makanan menjadi musuh sekaligus
sahabat. Ia akan makan dalam
jumlah yang sangat besar, roti, kue,
pasta, apa pun yang bisa ia temukan
di dapur istana. Lalu, rasa bersalah
dan jijik pada diri sendiri akan
menyerang, dan ia akan
memuntahkan semuanya.
Siklus ini berulang setiap hari, kadang
beberapa kali sehari. Tubuhnya yang
kurus adalah bukti dari perang yang
sedang berkecamuk di dalam dirinya.
Orang-orang di istana melihatnya
semakin kurus. Mereka melihat
matanya yang cekung. Mereka
melihat tangannya yang gemetar.
Tetapi tidak ada yang bertanya
apakah ia baik-baik saja. Tidak ada
yang menawarkan bantuan.
Yang mereka lakukan hanyalah
berbisik di belakang punggungnya,
menyebutnya “tidak stabil”,
“terlalu emosional”, “sulit ditangani”.
Label-label ini lebih mudah
diucapkan daripada menghadapi
kenyataan bahwa seorang putri
sedang sekarat di hadapan mereka.
Dalam rekaman wawancara dengan
Andrew Morton, Diana menceritakan
upaya-upaya bunuh dirinya dengan
suara yang datar, seolah-olah ia
sedang menceritakan kejadian yang
menimpa orang lain. Upaya pertama
terjadi saat ia sedang hamil William.
Ia merasa sangat putus asa, sangat
sendirian, dan ia melemparkan
dirinya dari tangga di Sandringham.
Ia jatuh berguling-guling, tubuhnya
yang sedang hamil membentur anak
tangga satu per satu. Charles
menemukannya. Reaksi Charles
bukanlah kekhawatiran atau
ketakutan. Charles marah.
Ia menganggap Diana melakukan ini
untuk mencari perhatian. Ia tidak
melihat seorang wanita yang ingin
mati.
Upaya lainnya melibatkan pisau.
Di malam yang lain, setelah
pertengkaran hebat dengan Charles,
Diana mengambil pisau lemon dari
dapur. Pisau itu kecil, dengan ujung
yang bergerigi. Ia menusukkannya
ke dadanya sendiri, berharap untuk
mengakhiri semuanya. Darah
mengalir. Tetapi lukanya tidak cukup
dalam. Ia selamat. Dan lagi-lagi,
reaksi dari orang-orang di sekitarnya
bukanlah kepedulian, melainkan
kejengkelan. Mereka menganggapnya
mencari perhatian.
Mereka menganggapnya manipulatif.
Mereka tidak mengerti bahwa
seseorang yang benar-benar putus asa
tidak peduli lagi tentang perhatian.
Ia hanya ingin rasa sakitnya berhenti.
Diana juga menyayat pergelangan
tangannya. Ia duduk di kamar mandi,
dengan pecahan kaca atau silet, dan
menggoreskan garis-garis merah
di lengannya. Darah menetes
ke lantai. Ia menatapnya dengan
tatapan kosong. Ia tidak
benar-benar ingin mati, katanya
kemudian. Ia hanya ingin seseorang,
siapa pun, untuk melihat betapa ia
menderita. Ia ingin suaminya
membuka pintu kamar mandi,
melihatnya di lantai, dan akhirnya
mengerti. Tetapi pintu itu tidak
pernah terbuka.
Lingkungan kerajaan, dengan segala
protokol dan tradisinya yang kaku,
tidak memiliki tempat untuk
penderitaan seperti ini. Mereka tidak
tahu bagaimana menghadapi seorang
putri yang menangis. Mereka hanya
tahu bagaimana menghadapi seorang
putri yang tersenyum dan
melambaikan tangan. Maka, ketika
Diana menangis, mereka menutup
telinga. Ketika ia menjerit, mereka
memalingkan wajah. Ketika ia
mencoba mati, mereka
menyebutnya gila.
Diana selamat dari upaya-upaya ini,
tetapi setiap upaya meninggalkan
bekas. Bekas di tubuhnya, dan
bekas di jiwanya. Ia mulai
menyadari bahwa tidak ada yang
akan menyelamatkannya. Jika ia
ingin selamat, ia harus
menyelamatkan dirinya sendiri.
Kesadaran ini tidak datang dengan
cepat. Butuh waktu bertahun-tahun.
Tetapi benihnya sudah mulai
tertanam. Seorang putri yang dulu
pemalu dan penurut perlahan mulai
menemukan kekuatan di dalam
dirinya. Kekuatan yang kelak akan
mengubah segalanya.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita lanjut lagi ya. Di dua bab ini,
Diana bener-bener nyampe di titik
terendah dalam hidupnya. Dia bukan
cuma istri yang diabaikan, tapi
perempuan yang harus idup tiap hari
dengan kenyataan pahit: suaminya
mencintai orang lain. Di tengah
kesepian yang mencekik, dia mulai
ngelakuin tindakan putus asa yang
bikin istana mencapnya “gila”.
Bab 5: Wanita Lain, Konfrontasi
yang Menghancurkan
Diana selalu tahu soal Camilla. Sejak
tunangan, sejak bulan madu,
bayangan itu selalu ada. Tapi, tahu
samar-samar dan nemuin bukti
nyata itu beda banget. Suatu hari,
Diana nemuin bukti itu. Di meja
kerja Charles, ada surat-surat dari
Camilla, dengan kata-kata yang
nggak seharusnya ditulis oleh wanita
bersuami ke pria beristri. Diana
bacanya dengan tangan gemetar.
Inilah konfirmasi dari semua
kecurigaannya: suaminya mencintai
Camilla, dan Camilla mencintainya
balik.
Diana akhirnya nekat ngadepin
Camilla langsung. Ini butuh nyali gede
buat cewek pemalu yang selalu
diajarin nunduk dan senyum.
Kejadiannya di sebuah pesta ulang
tahun. Diana nyari Camilla, nemuin,
dan ngajak ngomong empat mata.
Dengan suara tenang tapi tegas, Diana
bilang dia tahu apa yang terjadi. Dia
bukan orang bego, dia nggak buta.
Respon Camilla? Bikin darah
mendidih. Dia nggak ngebantah,
nggak minta maaf, bahkan nggak
kaget. Dengan sikap tenang dan nyaris
ngeremehin, dia malah balik nanya
dan ngebuat Diana jadi pihak yang
nggak masuk akal. Intinya,
“Lo kan udah punya segalanya:
suami pangeran, dua putra ganteng.
Apa lagi yang lo mau?”
Kata-kata itu menusuk dalem
banget. Diana cuma bisa berdiri
hancur, sementara Camilla
pergi begitu aja.
Diana juga ngadepin Charles
beberapa kali. Dia berharap suaminya
bakal nyangkal, meluk, dan bilang
Camilla cuma temen. Tapi Charles
nggak pernah ngasih itu. Dia nggak
nyangkal, nggak bela diri.
Dia cuma diem, atau lebih parah,
balik nyalahin Diana. Diana dibilang
paranoid, terlalu cemburu,
nggak masuk akal.
Charles nggak pernah sekali pun
bilang bakal ninggalin Camilla.
Kenyataan ini ngancurin harga diri
Diana. Dia cantik, dicintai jutaan
orang, tapi suaminya sendiri nggak
menginginkannya. Dia lebih milih
wanita yang lebih tua, udah nikah,
dan nggak lebih cantik. Pertanyaan
“Kenapa?” dan “Apa yang salah sama
gue?” muter-muter tiap malem,
tanpa jawaban.
Pernikahannya cuma formalitas,
pertunjukan buat Kerajaan. Di depan
kamera, mereka senyum dan berdiri
berdampingan. Tapi di balik pintu,
mereka hidup di dua dunia terpisah.
Dua orang asing yang cuma berbagi
nama belakang dan dua anak.
Bab 6: Jatuh ke Jurang
Keputusasaan, Bulimia
dan Usaha Bunuh Diri
Di bab ini, Diana buka bagian paling
gelap dari jiwanya. Dia bukan cuma
ngomongin pertengkaran,
tapi penyakit yang nguasai tubuhnya
dan malam-malam pas dia ngerasa
kematian adalah satu-satunya jalan
keluar.
Bulimia nervosa, yang mulai pas bulan
madu, sekarang udah jadi monster
yang nggak bisa dia kendaliin. Diana
nyebut bulimia sebagai pelarian,
satu-satunya cara buat ngeluarin rasa
sakit emosional yang nggak bisa
diungkapin. Makanan jadi musuh
sekaligus temen. Dia makan dalam
jumlah gila-gilaan, roti, kue, pasta,
terus ngerasa jijik dan bersalah, lalu
muntahin semuanya. Siklus ini
berulang tiap hari. Tubuhnya yang
kurus adalah bukti perang di dalem
dirinya.
Orang istana ngeliat dia makin kurus,
mata cekung, tangan gemetar. Tapi
nggak ada yang nanya, “Lo gapapa?”
Nggak ada yang nawarin bantuan.
Mereka malah bisik-bisik
di belakang, nyebut dia “nggak stabil”,
“terlalu emosional”, “sulit diatur”.
Label ini lebih gampang diucapin
daripada ngadepin kenyataan ada
putri yang sekarat di depan mereka.
Dalam rekaman wawancara sama
Andrew Morton, Diana cerita soal
upaya bunuh dirinya dengan suara
datar. Upaya pertama pas lagi hamil
William. Dia ngerasa putus asa dan
ngelempar dirinya dari tangga
di Sandringham. Charles nemuin dia,
tapi bukannya khawatir, malah
marah. Dia nganggep Diana cuma
cari perhatian, nggak ngeliat ada
orang yang pengen mati.
Upaya lain pake pisau. Setelah ribut
hebat, Diana ngambil pisau lemon
kecil dan nusuk dadanya sendiri.
Darahnya ngalir, tapi lukanya nggak
dalem. Dia selamat. Lagi-lagi, orang
sekitar bukan peduli, tapi jengkel.
Mereka nganggepnya manipulatif,
padahal orang yang beneran putus asa
nggak lagi peduli soal perhatian,
cuma pengen sakitnya berenti.
Diana juga nyayat pergelangan
tangannya di kamar mandi. Darah
netes ke lantai, dia natap kosong.
Dia bilang, dia nggak beneran pengen
mati, cuma pengen seseorang ngerti
betapa menderitanya dia. Dia pengen
suaminya buka pintu, ngeliat dia,
dan akhirnya paham. Tapi pintu itu
nggak pernah kebuka.
Lingkungan kerajaan yang kaku
nggak punya tempat buat
penderitaan kayak gini. Mereka
cuma tahu cara ngadepin putri
yang senyum dan ngelambai.
Pas Diana nangis, mereka tutup
kuping. Pas dia jerit, mereka palingin
muka. Pas dia nyoba mati, mereka
nyebutnya gila. Diana selamat,
tapi tiap upaya ninggalin bekas
di tubuh dan jiwanya. Dia mulai
sadar, nggak ada yang bakal
nyelametin dia. Kalau dia mau
selamat, dia harus nyelametin
dirinya sendiri. Benih kesadaran itu
mulai tumbuh, dan nantinya bakal
ngubah segalanya. 💔👑
