buku

Buku Killing the Rising Sun Bill O’Reilly and Martin Dugard, Kebangkitan Kekaisaran Jepang yang Agresif

Killing the Rising SunBill O'Reilly and Martin Dugard
Killing the Rising Sun
Bill O’Reilly and Martin Dugard

Sahabat, kali ini kita akan menyelami
sebuah buku yang mencatat salah satu
babak paling mengerikan dan paling
kontroversial dalam sejarah modern:
Killing the Rising Sun karya Bill
O’Reilly dan Martin Dugard. Buku ini
mengisahkan bagaimana Amerika
Serikat, setelah bertahun-tahun
terlibat dalam perang paling brutal
yang pernah dikenal manusia, akhirnya
membuat keputusan untuk
menggunakan senjata paling
mengerikan yang pernah diciptakan.
Mari kita mulai dari Bab 1 dan Bab 2,
yang menjadi fondasi untuk
memahami mengapa keputusan itu
diambil.

Bab 1: Kebangkitan Kekaisaran
Jepang yang Agresif

Untuk memahami mengapa Amerika
Serikat menjatuhkan bom atom
di Hiroshima dan Nagasaki, O’Reilly
dan Dugard membawa kita mundur
ke awal abad ke-20. Jepang, sebuah
negara kepulauan kecil dengan
sumber daya alam yang sangat
terbatas, memulai jalur ekspansi
militer yang agresif.
Mereka membutuhkan minyak, karet,
dan tanah untuk memberi makan
industri mereka yang sedang tumbuh,
dan mereka melihat tetangga-tetangga
mereka sebagai sumber daya yang
bisa diambil.

Pada tahun 1931, Jepang menginvasi
Manchuria, sebuah wilayah kaya
di timur laut Tiongkok.
Dunia internasional mengecam,
tetapi tidak banyak yang dilakukan.
Ini adalah ujian pertama yang
menunjukkan bahwa Jepang tidak
akan mundur. Enam tahun
kemudian, pada tahun 1937, perang
skala penuh meletus antara Jepang
dan Tiongkok. Kota-kota Tiongkok
dibom, desa-desa dibakar, dan
ratusan ribu warga sipil dibantai.
Di Nanking, terjadi salah satu
pembantaian paling mengerikan
dalam sejarah manusia, di mana
tentara Jepang membunuh,
memperkosa, dan menyiksa penduduk
kota tanpa ampun. Dunia menyaksikan
dengan ngeri, tetapi Jepang terus maju.

Di dalam negeri Jepang, militer telah
mendominasi pemerintahan.
Para jenderal dan laksamana tidak
hanya mengendalikan strategi
perang, tetapi juga kebijakan dalam
negeri. Perdana menteri yang dianggap
terlalu lemah disingkirkan.
Suara-suara perdamaian dibungkam.
Dan di puncak sistem ini, duduk Kaisar
Hirohito. Hirohito dianggap oleh
rakyatnya bukan sekadar pemimpin
politik, melainkan dewa yang hidup,
keturunan langsung dari Dewi
Matahari Amaterasu. Setiap
ucapannya adalah kehendak surga.
Setiap perintahnya tidak bisa dibantah.
O’Reilly dan Dugard menggambarkan
Hirohito sebagai sosok yang kompleks.
Ia tidak memimpin serangan secara
langsung, tetapi ia mendukung agresi
militer. Ia menunggang kuda putih,
meninjau pasukan, dan memberikan
restunya pada kampanye-kampanye
perang.

Mentalitas yang ditanamkan ke seluruh
rakyat dan tentara Jepang adalah
“Kematian sebelum Kehinaan”.
Dalam kode Bushido yang telah
diinterpretasikan ulang oleh para
militeris, menyerah adalah aib
terbesar yang bisa ditanggung oleh
seorang prajurit dan keluarganya.
Lebih baik mati dalam pertempuran,
lebih baik melakukan bunuh diri
dengan pedang atau granat, daripada
hidup sebagai tawanan. Mentalitas
ini bukan hanya berlaku untuk
tentara. Ia ditanamkan ke warga sipil,
ke wanita, ke anak-anak.
Ketika saatnya tiba nanti, seluruh
bangsa diharapkan untuk berjuang
sampai mati.

Puncak dari agresi Jepang terjadi pada
suatu pagi yang cerah di Hawaii.
Tanggal 7 Desember 1941,
pesawat-pesawat tempur Jepang
meluncur dari kapal induk mereka
di Pasifik dan menyerang Pearl
Harbor, pangkalan utama Armada
Pasifik Amerika Serikat. Serangan itu
direncanakan dengan sangat teliti dan
dilakukan tanpa pernyataan perang
resmi. Dalam waktu dua jam, ribuan
pelaut Amerika tewas, kapal-kapal
perang terbakar dan tenggelam, dan
Amerika Serikat, yang sebelumnya
ragu-ragu untuk terlibat dalam perang
global, sekarang tidak punya
pilihan lain. Presiden Franklin
D. Roosevelt menyebutnya sebagai
“a date which will live in infamy” dan
menyatakan perang terhadap Jepang.
Kekaisaran Jepang yang agresif kini
berhadapan dengan musuh yang jauh
lebih besar, tetapi mereka tidak gentar.

Bab 2: Perang Pasifik yang Brutal
(1942–1945)

Jika Bab 1 adalah tentang kebangkitan
mesin perang Jepang, Bab 2 adalah
tentang kengerian yang terjadi ketika
mesin itu bertabrakan dengan
kekuatan Amerika. Perang di Pasifik
tidak seperti perang di Eropa.
Di Eropa, ada front yang jelas, ada
kota-kota yang diduduki, ada aturan
perang yang kadang-kadang masih
dihormati. Di Pasifik, perang adalah
perjuangan hidup dan mati
di pulau-pulau karang yang terpencil,
di hutan-hutan yang lembab dan
penuh penyakit, di gunung-gunung
berapi yang tandus.

O’Reilly dan Dugard memaparkan
pertempuran demi pertempuran
dengan detail yang mengerikan.
Dimulai dari Tarawa, sebuah atol
kecil di Samudra Pasifik. Ketika
Marinir Amerika mendarat di pantai,
mereka langsung dihujani tembakan
dari bunker-bunker yang tersembunyi.
Air laut berubah merah oleh darah.
Dalam tiga hari pertempuran, ribuan
orang tewas di kedua belah pihak.

Lalu ada Peleliu, sebuah pulau yang
oleh para komandan diperkirakan
akan bisa direbut dalam beberapa hari.
Kenyataannya, pertempuran
berlangsung selama dua bulan.
Tentara Jepang telah mengubah
gua-gua menjadi benteng bawah tanah.
Mereka menolak untuk menyerah.
Marinir Amerika harus membakar
mereka keluar dengan penyembur api,
atau menutup pintu gua dengan bahan
peledak, mengubur mereka
hidup-hidup. Suhu di pulau itu bisa
mencapai 46 derajat Celsius.
Air minum langka. Bau mayat yang
membusuk memenuhi udara.

Kemudian tibalah Iwo Jima, sebuah
pulau vulkanik yang menjadi salah
satu pertempuran paling ikonik dalam
sejarah Amerika. Di sinilah foto
terkenal tentang para Marinir yang
mengibarkan bendera di Gunung
Suribachi diambil. Tetapi di balik
foto itu, ada kenyataan yang jauh
lebih gelap. Dari sekitar 21.000
tentara Jepang yang
mempertahankan pulau itu, hanya
216 yang ditawan hidup-hidup.
Sisanya bertempur sampai mati,
melakukan bunuh diri, atau
bersembunyi di gua-gua selama
berminggu-minggu sebelum akhirnya
tewas. Jenderal Tadamichi
Kuribayashi, komandan pertahanan
Iwo Jima, telah menulis surat kepada
istrinya sebelum pertempuran:
“Jangan berharap aku kembali.”
Ia dan anak buahnya tahu bahwa ini
adalah misi bunuh diri, dan mereka
menerimanya.

Puncak kengerian terjadi di Okinawa,
pulau terbesar yang direbut dalam
kampanye Pasifik. Okinawa bukan
sekadar pertempuran militer.
Ia adalah pembantaian massal warga
sipil. Tentara Jepang memberi tahu
penduduk Okinawa bahwa tentara
Amerika adalah monster yang akan
menyiksa dan membunuh mereka
dengan cara yang paling mengerikan.
Daripada jatuh ke tangan musuh,
warga sipil dianjurkan, bahkan
dipaksa, untuk bunuh diri massal.
Ibu-ibu membunuh anak-anak
mereka sendiri, lalu menusuk diri
mereka sendiri. Keluarga-keluarga
berkumpul dan meledakkan granat
di tengah-tengah mereka.
Jurang-jurang di pulau itu dipenuhi
oleh mayat-mayat warga sipil yang
melompat dari tebing.

Selain itu, O’Reilly dan Dugard tidak
menghindar dari menggambarkan
kekejaman terhadap tawanan perang
Amerika. Tentara Jepang
memandang tawanan dengan
penghinaan yang mendalam. Dalam
kode Bushido, seorang prajurit yang
menyerah telah kehilangan
kehormatannya selamanya. Maka,
para tawanan diperlakukan bukan
sebagai manusia, melainkan sebagai
objek untuk disiksa, dipermalukan,
dan dibunuh. Tawanan dipukuli
dengan tongkat dan popor senapan.
Mereka dibiarkan kelaparan, tubuh
mereka menyusut menjadi tulang dan
kulit. Mereka dipaksa berjalan dalam
“pawai kematian” di bawah terik
matahari tanpa air. Jika jatuh karena
kelelahan, mereka langsung ditusuk
dengan bayonet atau dipenggal
dengan pedang samurai. Beberapa
tawanan bahkan digunakan sebagai
sasaran latihan bayonet oleh tentara
Jepang yang masih muda.

Semua detail ini bukan sekadar untuk
mengejutkan. O’Reilly dan Dugard
membangun satu argumen yang kuat:
Amerika Serikat menghadapi musuh
yang tidak akan menyerah.
Setiap pulau yang direbut memberi
gambaran tentang apa yang akan
terjadi jika Sekutu harus menginvasi
daratan utama Jepang. Jika sebuah
pulau kecil seperti Iwo Jima atau
Okinawa memakan korban puluhan
ribu nyawa, berapa banyak lagi yang
akan mati ketika perang tiba di Tokyo?

Dua bab pertama ini adalah fondasi
yang kokoh. Dari sini, kita memahami
bahwa Jepang bukanlah musuh biasa.
Mereka adalah musuh yang didorong
oleh mentalitas pengorbanan total,
yang tidak mengenal kompromi, dan
yang siap mengorbankan setiap warga
negaranya untuk memenangkan
perang. Ini adalah konteks yang harus
diingat ketika kita melangkah
ke bab-bab berikutnya, di mana
keputusan paling sulit dalam sejarah
Amerika harus diambil.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kali ini kita ngomongin buku
yang isinya sejarah kelam dan
kontroversial banget: 
Killing the
Rising Sun
 karya Bill O’Reilly dan
Martin Dugard. Buku ini nyeritain
gimana Amerika Serikat, setelah
bertahun-tahun terjebak perang
paling brutal, akhirnya ngebuat
keputusan untuk make senjata paling
mengerikan yang pernah ada.
Kita mulai dari Bab 1 dan 2 dulu,
ya, biar lo paham konteksnya.

Bab 1: Bangkitnya Jepang yang
Haus Darah

Buat ngerti kenapa Amerika akhirnya
ngejatuhin bom atom, kita harus
mundur ke awal abad 20 dulu.
Jepang tuh negara kepulauan kecil
yang sumber dayanya minim banget.
Mereka butuh minyak, karet, tanah
buat ngidupin industri mereka yang
lagi ngegas. Solusinya? Nyerang
tetangga.

Tahun 1931, mereka nyerbu Manchuria
(Cina timur laut). Dunia cuma
misuh-misuh, tapi nggak ada yang
ngelakuin apa-apa. Ini ujian pertama
buat Jepang, dan mereka berhasil.
Lanjut ke 1937, perang gedean antara
Jepang dan Cina meletus.
Pembantaian Nanking terjadi, salah
satu yang paling sadis dalam sejarah.
Tentara Jepang ngebunuh,
memperkosa, dan nyiksa warga sipil
tanpa ampun. Dunia ngeri, tapi
Jepang makin pede.

Di dalem negeri, militer udah
ngambil alih kendali. Jenderal dan
laksamana nentuin segalanya. Suara
damai dibungkem, dan perdana
menteri yang dianggep lembek
langsung disingkirin. Di puncak
piramida, ada Kaisar Hirohito.
Rakyat nganggep dia bukan cuma
pemimpin, tapi dewa. Dia dianggap
keturunan langsung Dewi Matahari.
Setiap omongannya adalah titah.
Dia nggak mungkin dibantah. Penulis
ngegambarin Hirohito sebagai sosok
rumit. Dia nggak mimpin serangan
langsung, tapi dia ngedukung dan
ngerestuin semua agresi militer,
bahkan suka naik kuda putih buat
inspeksi pasukan.

Mentalitas yang ditanam ke seluruh
Jepang itu jelas:
“Mati itu terhormat, nyerah itu
aib.”
 Ini kode Bushido yang
dipelintir. Buat mereka, lebih baik
mati daripada ditawan. Ini bukan
cuma buat tentara, tapi juga buat
warga sipil, wanita, bahkan anak-anak.
Seluruh bangsa disiapin buat perang
sampai titik darah penghabisan.

Puncaknya? 7 Desember 1941. Pagi
yang cerah di Hawaii. Tiba-tiba,
pesawat Jepang nyerbu Pearl Harbor,
markas utama Armada Pasifik AS.
Serangannya direncanain detail
banget, tanpa deklarasi perang.
Cuma dalam 2 jam, ribuan pelaut
AS tewas, kapal perang kebakar
dan karam. AS yang tadinya galau
mau ikut perang, sekarang udah
nggak bisa mundur. Presiden
Roosevelt nyebutnya “hari penuh aib”
dan langsung ngumumin perang.
Kekaisaran Jepang yang agresif kini
berhadapan sama musuh raksasa,
tapi mereka nggak gentar.

Bab 2: Perang Pasifik yang
Biadab (1942–1945)

Kalau Bab 1 soal bangkitnya mesin
perang, Bab 2 ini soal kengerian pas
mesin itu bentrok sama kekuatan
AS. Perang Pasifik itu beda banget
sama perang di Eropa. Di sini,
pertempuran terjadi di pulau-pulau
karang terpencil, hutan lembab,
dan gunung berapi tandus. Ini
perang hidup-mati tanpa ampun.

Penulis ngegambarin detail yang bikin
merinding. Dimulai dari Tarawa, atol
kecil. Marinir AS mendarat, langsung
disambut hujan peluru dari bunker.
Air laut berubah merah darah. Cuma
3 hari, ribuan nyawa melayang.

Lalu Peleliu, pulau yang dikira bisa
direbut beberapa hari, ternyata butuh
2 bulan. Tentara Jepang ngubah
gua-gua jadi benteng bawah tanah.
Mereka nolak nyerah. Marinir AS
terpaksa make penyembur api buat
ngebakar mereka, atau nutup gua
dan ngubur mereka idup-idup.
Panasnya bisa sampe 46 derajat,
air minum langka, bau mayat busuk
di mana-mana.

Kemudian Iwo Jima. Tempat foto
ikonik Marinir kibarin bendera itu.
Tapi di balik foto itu, kenyataannya
kelam. Dari 21.000 tentara Jepang
yang jagain, cuma 216 yang ditawan.
Sisanya milih mati atau bunuh diri.
Jenderal Kuribayashi udah nulis
surat ke istrinya:
“Jangan harap aku pulang.”
Misi bunuh diri yang mereka terima.

Puncaknya di Okinawa, pulau terbesar.
Ini bukan cuma perang militer, tapi
pembantaian massal warga sipil.
Tentara Jepang nakut-nakutin
penduduk, bilang tentara AS monster
yang bakal nyiksa dan bunuh mereka.
Akhirnya, warga sipil pada bunuh diri
massal. Ibu-ibu bunuh anaknya lalu
tusuk diri sendiri. Keluarga ngumpul,
terus ngeledakin granat bareng.
Jurang-jurang penuh mayat yang
lompat dari tebing.

Penulis juga nggak nutupin soal
penyiksaan tawanan perang AS.
Tentara Jepang nganggep tawanan itu
bukan manusia, karena dalam kode
Bushido, prajurit yang nyerah itu
udah kehilangan kehormatan
selamanya. Tawanan dipukulin,
dikasih makan cuma sup, disuruh
“pawai kematian” tanpa air di panas
terik. Kalau jatuh, langsung ditusuk
bayonet atau dipenggal pedang.
Malah ada yang dijadiin sasaran
latihan bayonet.

Semua detail ini bukan cuma buat
serem-sereman. Penulis ngebangun
satu argumen kuat:
Amerika ngadepin musuh yang
nggak bakal nyerah.
 Setiap pulau
yang direbut ngasih gambaran gimana
kalau harus nyerbu langsung
ke daratan Jepang. Kalau Okinawa
aja makan korban puluhan ribu,
berapa banyak lagi yang bakal mati
kalau perang nyampe Tokyo?

Dua bab ini jadi fondasi yang kuat.
Lo jadi paham, Jepang bukan musuh
biasa. Mereka didorong mental
pengorbanan total, nggak kenal
kompromi. Ini konteks yang harus
lo inget pas kita lanjut ke bab-bab
selanjutnya, di mana keputusan
paling sulit dalam sejarah Amerika
harus diambil. 🔥💣

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *