buku

The Empire Strikes Back

Sahabat, kita lanjutkan ke Bagian Dua
dari buku 
George Lucas: A Life.
Jika Bagian Satu adalah tentang
pembentukan seorang pembuat film,
Bagian Dua adalah tentang
pembentukan sebuah kerajaan.
Di sini, Lucas tidak lagi berjuang
untuk diakui. Ia berjuang untuk
mempertahankan kendali,
membangun dunia-dunia baru, dan
menghadapi konsekuensi pribadi
dari obsesinya yang tak kenal lelah.

BAGIAN DUA: The Star Wars
Years

Bab 9 – The Empire Strikes Back

Setelah kesuksesan Star Wars, Lucas
berada di posisi yang tidak pernah ia
bayangkan: ia memiliki uang,
ia memiliki kekuasaan, dan ia tidak
lagi membutuhkan studio. Ketika tiba
waktunya untuk membuat sekuel,
ia membuat keputusan yang radikal.
Ia akan membiayai sendiri film ini.
Dengan menggunakan uangnya
sendiri, ia membeli kebebasan mutlak.
Tidak ada eksekutif studio yang bisa
menyentuh naskahnya. Tidak ada yang
bisa memaksanya mengubah akhir
cerita. Tidak ada yang bisa
mengatakan tidak.

Namun, kebebasan ini datang dengan
harga. Menyutradarai 
Star Wars
hampir membunuhnya secara fisik,
dan ia tidak ingin mengulangi
pengalaman itu. Maka ia melakukan
sesuatu yang tidak biasa:
ia menyerahkan kursi sutradara kepada
orang lain. Pilihannya jatuh pada Irvin
Kershner, seorang pria tua yang hangat,
bijaksana, dan lebih tertarik pada
karakter daripada efek khusus.
Kershner bukanlah pilihan yang jelas
untuk film fiksi ilmiah, tetapi justru
itulah yang Lucas inginkan. Ia ingin
seseorang yang bisa menggali sisi
gelap dari ceritanya, yang bisa
membuat penonton peduli pada nasib
Luke Skywalker, Han Solo, dan Putri
Leia.

Sementara Kershner menangani para
aktor, Lucas mengawasi efek visual
di Industrial Light & Magic (ILM),
perusahaan yang ia dirikan untuk
menciptakan keajaiban teknis 
Star
Wars
. Di markas ILM, para seniman
dan insinyur bekerja siang malam
menciptakan makhluk asing,
pertempuran luar angkasa, dan
pemandangan yang belum pernah
dilihat manusia sebelumnya.

Proses produksi sangat melelahkan.
Biaya membengkak. Jadwal molor.
Lucas, yang membiayai semuanya
dari kantongnya sendiri, menghadapi
tekanan finansial yang sangat besar.
Tetapi hasilnya adalah sebuah film
yang lebih gelap, lebih dalam, dan
dianggap oleh banyak orang sebagai
yang terbaik dalam seluruh trilogi.
The Empire Strikes Back tidak
berakhir dengan kemenangan.
Ia berakhir dengan kekalahan,
pengkhianatan, dan pengungkapan
yang menghancurkan: Darth Vader
adalah ayah Luke. Penonton terkejut,
tetapi Lucas tahu bahwa di situlah
letak kekuatan mitologinya.

Di balik layar, harga yang ia bayar
tidak hanya finansial. Pernikahannya
dengan Marcia mulai retak. Lucas
adalah pria yang kecanduan kerja.
Ia menghabiskan hari-harinya
di ILM, di ruang editing, di rapat
produksi. Marcia, yang telah
menyelamatkan 
Star Wars dengan
editingnya yang brilian, merasa
semakin terasing. Jarak di antara
mereka semakin lebar, dan retakan
itu tidak akan pernah sepenuhnya
pulih.

Bab 10 – Raiders of the Lost Ark

Di tengah tekanan The Empire Strikes
Back
, Lucas melarikan diri. Ia pergi
ke Hawaii bersama Steven Spielberg,
sahabatnya yang juga sedang dalam
pelarian dari proyeknya sendiri.
Di pantai, di bawah sinar matahari
yang hangat, mereka mulai berbicara
tentang proyek baru. Lucas
menceritakan idenya tentang seorang
arkeolog petualang yang menjelajahi
dunia mencari artefak kuno.
Ia menyebutnya Indiana Jones.

Spielberg langsung tertarik.
“Aku ingin menyutradarainya,” katanya.
Lucas, yang masih kelelahan karena
Empire, dengan senang hati
menyerahkan kendali. Ia hanya
bertindak sebagai produser dan
kreator cerita, sementara Spielberg
mengambil alih penyutradaraan.
Kolaborasi ini menghasilkan 
Raiders
of the Lost Ark
, sebuah film
petualangan yang mendebarkan,
lucu, dan penuh aksi.

Film ini sukses besar. Indiana Jones
menjadi ikon baru, dan Lucas semakin
mengukuhkan posisinya sebagai mesin
penghasil ide. Ia tidak perlu lagi
menyutradarai sendiri. Ia cukup
menciptakan konsep, menemukan
orang yang tepat untuk
mengeksekusinya, dan memberikan
sentuhan akhir. Waralaba Indiana
Jones lahir, dan Lucas memiliki satu
lagi mahkota di kerajaannya.

Bab 11 – Skywalker Ranch

Dengan kekayaan yang terus mengalir,
Lucas mulai membangun mimpinya
yang paling ambisius di luar film:
sebuah tempat peristirahatan kreatif
yang ia beri nama Skywalker Ranch.
Terletak di perbukitan Marin County,
jauh dari kilauan Hollywood, ranch
ini dirancang sebagai tempat di mana
para pembuat film bisa berkarya tanpa
gangguan, dikelilingi oleh alam,
keindahan, dan ketenangan.

Lucas terobsesi pada setiap detail
arsitektur. Ia menginginkan
perpustakaan yang megah, teater
pribadi, studio pasca-produksi, dan
taman-taman yang tertata rapi.
Ia membangun jembatan batu, jalan
setapak, dan rumah kaca bergaya
Victoria. Ranch ini bukan sekadar
kantor. Ia adalah perwujudan dari
kerinduannya akan komunitas ideal
para seniman.

Namun, ironinya tidak bisa diabaikan:
Lucas membangun tempat untuk
komunitas, tetapi ia sendiri semakin
jarang berada di sana. Ia semakin
menarik diri, semakin jarang
menyutradarai, dan semakin sibuk
mengelola kerajaan bisnisnya yang
terus berkembang. Skywalker Ranch
menjadi monumen bagi visinya,
tetapi juga menjadi saksi dari isolasi
yang semakin dalam.

Bab 12 – Return of the Jedi

Trilogi harus ditutup. Return of the
Jedi
 adalah babak terakhir dari kisah
yang dimulai pada tahun 1977.
Lucas kembali memilih untuk tidak
menyutradarai sendiri. Ia menunjuk
Richard Marquand, seorang
sutradara asal Wales yang relatif
tidak dikenal. Lucas sendiri fokus
pada ILM, memastikan bahwa
pertempuran luar angkasa,
makhluk-makhluk Ewok, dan
konfrontasi terakhir antara Luke,
Vader, dan Kaisar mencapai standar
visual yang ia inginkan.

Film ini sukses secara komersial.
Penonton memadati bioskop. Tetapi
di balik kemenangan itu, kehidupan
pribadi Lucas runtuh. Pernikahannya
dengan Marcia berakhir. Perceraian
mereka bukan hanya pukulan
emosional; ia juga pukulan finansial.
Berdasarkan hukum California,
Marcia berhak atas setengah dari
kekayaan yang diperoleh selama
pernikahan. Lucas kehilangan
sebagian besar dari apa yang telah
ia bangun.

Perceraian ini meninggalkan luka
yang dalam. Lucas menjadi semakin
skeptis terhadap hubungan jangka
panjang, semakin menarik diri
ke dalam dunianya sendiri. Pria yang
menciptakan kisah tentang
persahabatan, cinta, dan pengorbanan
kini berjuang untuk menemukan
hal-hal itu dalam hidupnya sendiri.

Bab 13 – The Lucasfilm Empire

Setelah Return of the Jedi, Lucas
mengalihkan energinya ke bisnis.
Di bawah bendera Lucasfilm, ia
mengembangkan divisi-divisi
teknologi yang akan mengubah
industri hiburan selamanya.

Industrial Light & Magic (ILM)
menjadi pemimpin dunia dalam efek
visual. Setiap film blockbuster yang
membutuhkan keajaiban teknis
datang ke pintu ILM. Skywalker
Sound merevolusi tata suara,
menciptakan standar baru untuk
bagaimana film didengar.
THX menetapkan standar kualitas
untuk bioskop di seluruh dunia,
memastikan bahwa penonton
mendengar dan melihat film persis
seperti yang diinginkan oleh
pembuatnya. Lucasfilm Games,
yang kelak dikenal sebagai LucasArts,
merambah dunia video game dengan
cerita-cerita interaktif.

Namun, di tengah semua ekspansi ini,
Lucas membuat satu keputusan bisnis
yang akan ia sesali seumur hidupnya.
Di dalam Lucasfilm, ada sebuah divisi
kecil yang bekerja pada komputer
grafis. Divisi ini menciptakan
gambar-gambar digital yang
revolusioner. Lucas, yang saat itu
membutuhkan uang tunai karena
perceraiannya, menjual divisi ini
kepada seorang pengusaha muda
bernama Steve Jobs. Divisi itu
kemudian dikenal dengan nama
Pixar. Bertahun-tahun kemudian,
ketika Pixar menjadi raksasa animasi
yang menghasilkan miliaran dolar,
Lucas menatap ke belakang dengan
penyesalan.

Bab 14 – The Dark Times

Setelah trilogi selesai, Lucas
menghilang dari penyutradaraan.
Ia tidak membuat film baru.
Ia tidak mengumumkan proyek besar.
Industri perfilman menganggapnya
pensiun dini. Mereka tidak tahu
bahwa di balik layar, Lucas sedang
membangun fondasi untuk sesuatu
yang jauh lebih besar.

Ia menjadi ayah tunggal setelah
mengadopsi tiga orang anak:
Amanda, Katie, dan Jett. Hari-harinya
diisi dengan mengantar anak
ke sekolah, memasak makan malam,
dan membaca cerita sebelum tidur.
Ia menemukan kebahagiaan dalam
peran yang tidak pernah ia duga:
menjadi seorang ayah.

Tetapi di malam hari, setelah
anak-anaknya tidur, ia duduk
di depan komputernya dan mulai
menulis. Perlahan, ia menyusun
naskah untuk tiga film baru. Bukan
sekuel, melainkan prekuel:
kisah tentang Anakin Skywalker
muda, tentang kejatuhannya ke sisi
gelap, dan tentang bagaimana
Republik Galaksi berubah menjadi
Kekaisaran yang kejam. Ia tahu
bahwa suatu hari nanti, ia akan
kembali.

Bab 15 – The Prequels

Pada tahun 1999, Lucas kembali
ke kursi sutradara dengan
The Phantom Menace. Dunia
menunggu dengan napas tertahan.
Sudah enam belas tahun sejak
Return of the Jedi. Generasi baru
penggemar telah tumbuh.
Ekspektasi berada di tingkat
yang mustahil.

Lucas mendorong batas teknologi.
Ia menggunakan kamera digital
secara ekstensif, sesuatu yang belum
pernah dilakukan sebelumnya dalam
skala sebesar ini. Ia menciptakan
karakter-karakter yang sepenuhnya
digital, termasuk Jar Jar Binks,
makhluk canggung yang dimaksudkan
untuk menjadi hiburan komedi.
Ia membangun dunia-dunia baru,
dari kota bawah laut Otoh Gunga
hingga padang pasir Tatooine yang
sudah dikenal.

Ketika filmnya dirilis, reaksinya
terbelah. Secara finansial,
The Phantom Menace sukses luar
biasa. Penonton memadati bioskop.
Tetapi reaksi dari penggemar dewasa
sangat keras. Mereka membenci Jar
Jar Binks. Mereka mengkritik
dialognya. Mereka merasa bahwa
Lucas telah menghancurkan
warisannya sendiri. Kritik ini melukai
Lucas secara pribadi. Ia adalah pria
yang selalu merasa seperti orang luar,
dan sekarang, bahkan penggemar
yang mencintai ciptaannya berbalik
melawannya.

Bagian Dua ini ditutup dengan citra
Lucas sebagai seorang jenius yang
terasing. Ia telah merevolusi sinema.
Ia telah menciptakan mitologi
modern yang paling dicintai. Tetapi ia
berdiri sendirian, disalahpahami oleh
penontonnya, skeptis terhadap
hubungan, dan semakin menarik diri
ke dalam Skywalker Ranch. Namun,
ceritanya belum selesai. Bagian
terakhir dari hidupnya akan membawa
kejutan yang lebih besar lagi.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kita lanjut lagi ngebahas
perjalanan hidup George Lucas.
Kalau di bagian sebelumnya lo udah
liat gimana si anak Modesto yang
keras kepala ini berubah jadi pembuat
film yang diperhitungkan, sekarang
lo bakal liat gimana dia ngebangun
kerajaan. Bagian Dua ini adalah
masa-masa Star Wars, di mana
Lucas bukan cuma berjuang buat
diakuin, tapi mati-matian buat tetap
memegang kendali, sambil ngadepin
konsekuensi pribadi dari obsesinya.

Bab 9: The Empire Strikes Back,
Gelap, Dalam, dan Harga yang
Harus Dibayar

Setelah sukses, Lucas ada di posisi
yang nggak pernah dia bayangin:
punya duit, punya kuasa, dan nggak
butuh studio. Buat sekuelnya, dia
ambil keputusan radikal:
biayain sendiri. Ini kebebasan
mutlak. Nggak ada eksekutif yang
bisa ngotak-atik naskahnya, maksa
ubah ending, atau ngomong “nggak”.
Tapi jadi sutradara Star Wars
pertama itu hampir bikin dia mati,
dan dia nggak mau ngulangin itu.

Jadi, dia lakuin hal yang nggak biasa:
nyerahin kursi sutradara ke 
Irvin
Kershner
, pria tua yang hangat,
bijak, dan lebih peduli karakter
daripada efek khusus. Pilihan ini
justru pas karena Lucas pengen ada
yang bisa gali sisi gelap ceritanya.
Sementara Kershner ngurus akting,
Lucas ngawasin efek visual
di 
Industrial Light & Magic
(ILM)
 , perusahaannya sendiri.
Di sana, para seniman dan insinyur
kerja rodi bikin makhluk aneh dan
pertempuran luar angkasa.

Prosesnya melelahkan, biaya
membengkak, jadwal molor, dan
Lucas nanggung semua tekanan
finansial. Hasilnya? 
The Empire
Strikes Back
 jadi film yang lebih gelap
dan dalem, bahkan dianggap yang
terbaik. Film ini berakhir bukan
dengan kemenangan, tapi kekalahan
dan pengkhianatan: 
Darth Vader
adalah ayah Luke.
 Penonton syok,
tapi Lucas tahu di situlah kekuatan
mitologi.

Di balik layar, harga yang dia bayar
nggak cuma duit. Pernikahannya
sama Marcia mulai retak. Lucas
adalah workaholic sejati, hari-harinya
abis di ILM atau ruang editing.
Marcia, yang udah nyelamatin Star
Wars lewat editing briliannya,
ngerasa makin terasing. Jarak
di antara mereka makin lebar, dan
retakan itu nggak akan pernah
pulih sepenuhnya.

Bab 10: Raiders of the Lost Ark,
Kabur ke Pantai dan Lahirnya
Ikon Baru

Di tengah tekanan Empire, Lucas
kabur. Dia pergi ke Hawaii bareng
Steven Spielberg, sahabatnya.
Di bawah sinar matahari, mereka
ngobrolin proyek baru. Lucas cerita
idenya tentang arkeolog petualang
yang keliling dunia nyari artefak
kuno, namanya 
Indiana Jones.
Spielberg langsung antusias dan
pengen nyutradarain. Lucas yang
udah capek banget langsung
nyerahin kendali, dia cukup jadi
produser dan kreator cerita.

Kolaborasi ini ngelahirin Raiders of
the Lost Ark
, film petualangan yang
seru, lucu, dan penuh aksi. Filmnya
sukses gila-gilaan, Indiana Jones jadi
ikon baru, dan Lucas makin nguatin
posisinya sebagai mesin pencetak
ide. Dia sadar, dia nggak perlu
nyutradarain sendiri, cukup ciptain
konsep dan nemuin orang yang tepat.

Bab 11: Skywalker Ranch, Istana
Kreatif yang Sepi

Dengan duit yang terus ngalir, Lucas
mulai ngejar mimpi paling
ambisiusnya di luar film: 
Skywalker
Ranch.
 Tempat ini ada di perbukitan
Marin County, jauh dari gemerlap
Hollywood, dirancang sebagai surga
buat para pembuat film. Di sana ada
perpustakaan megah, teater pribadi,
studio, dan taman-taman indah.

Lucas obsesi sama setiap detail, dia
bangun jembatan batu dan rumah
kaca bergaya Victoria. Ini bukan
cuma kantor, tapi perwujudan
kerinduannya akan komunitas ideal
para seniman. Ironisnya, dia malah
makin jarang ada di sana. Dia makin
sibuk ngurus kerajaan bisnisnya,
makin narik diri, dan makin jarang
nyutradarain. Ranch itu jadi
monumen visinya, sekaligus saksi
isolasi yang makin dalem.

Bab 12: Return of the Jedi,
Kemenangan yang Hampa

Trilogi harus ditutup. Buat Return
of the Jedi
, Lucas lagi-lagi nunjuk
sutradara lain, 
Richard Marquand.
Lucas fokus di ILM buat mastiin
pertempuran luar angkasa, Ewok,
dan duel pamungkas
Luke-Vader-Kaisar sesuai standar
visualnya.

Filmnya sukses komersial. Tapi
di balik kemenangan itu, kehidupan
pribadi Lucas runtuh total.
Pernikahannya sama Marcia
berakhir.
 Perceraian ini bukan cuma
pukulan emosional, tapi juga finansial.
Hukum California ngasih Marcia hak
setengah dari kekayaan selama
pernikahan. Lucas kehilangan banyak
dari yang udah dia bangun. Luka ini
bikin dia makin skeptis sama
hubungan, makin narik diri. Pria yang
bikin kisah cinta dan persahabatan ini
malah struggling nemuin itu
di hidupnya sendiri.

Bab 13: The Lucasfilm Empire,
Kerajaan Teknologi dan
Penyesalan Terbesar

Setelah Jedi, Lucas alihin energinya
ke bisnis. Di bawah bendera Lucasfilm,
dia ngembangin divisi teknologi yang
bakal ngubah industri hiburan
selamanya:

  • ILM jadi pemimpin efek visual
    dunia.

  • Skywalker Sound ngerevolusi
    tata suara.

  • THX netapin standar kualitas
    bioskop global.

  • Lucasfilm Games (nantinya
    LucasArts) ngerambah game.

Tapi di tengah ekspansi ini, dia bikin
satu keputusan bisnis yang disesali
seumur idup. Di Lucasfilm ada divisi
kecil komputer grafis. Lucas, yang
lagi butuh duit karena perceraian,
jual divisi ini ke Steve Jobs.
Nama divisi itu kemudian jadi 
Pixar.
Bertahun-tahun kemudian, pas Pixar
jadi raksasa animasi bernilai miliaran
dolar, Lucas cuma bisa natap
ke belakang dengan penyesalan.

Bab 14: The Dark Times,
Menghilang dan Memulai
dari Bawah Tanah

Setelah trilogi kelar, Lucas menghilang
dari kursi sutradara. Industri pikir dia
pensiun dini, padahal dia lagi
ngebangun fondasi untuk sesuatu yang
jauh lebih gede. Dia jadi ayah tunggal
setelah ngadopsi tiga anak: 
Amanda,
Katie, dan Jett.
 Hari-harinya diisi
ngurus anak, masak, dan baca cerita.
Dia nemuin kebahagiaan jadi bapak.

Tapi malem-malem, begitu anak-anak
tidur, dia duduk di depan komputer
dan mulai nulis. Dia nyusun naskah
untuk tiga film baru, bukan sekuel,
tapi 
prekuel: kisah tragis Anakin
Skywalker dan runtuhnya Republik.

Bab 15: The Prequels, Kembalinya
Sang Legenda yang Dicaci

Di tahun 1999, Lucas balik ke kursi
sutradara lewat 
The Phantom Menace.
Dunia udah nunggu 16 tahun,
ekspektasi udah di langit. Lucas
ngedorong batas teknologi digital,
pake kamera digital dan karakter full
CGI kayak Jar Jar Binks. Secara
finansial, filmnya sukses gila-gilaan.

Tapi reaksi fans dewasa? Brutal.
Mereka benci Jar Jar, ngritik dialog,
dan ngerasa Lucas ngancurin
warisannya sendiri. Kritik ini
ngelukain Lucas secara pribadi, dia
yang selalu ngerasa sebagai orang
luar sekarang malah “diserang” sama
penggemar yang mencintai ciptaannya.

Bagian Dua ini nutup dengan citra
Lucas sebagai jenius yang terasing.
Dia udah ngerevolusi sinema,
nyiptain mitologi modern, tapi dia
berdiri sendirian. Disalahpahami,
skeptis sama hubungan, dan makin
narik diri ke dalam Skywalker Ranch.
Tapi ceritanya belum kelar, masih
ada bagian pamungkas. 🔥🚀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *