buku

Orang di Negara Kaya Dibayar Lebih Tinggi Bukan (Terutama) Karena Lebih Pintar atau Lebih Produktif

Sahabat, kita lanjutkan pembahasan
buku 
23 Things They Don’t Tell
You About Capitalism
.
Di Bagian 2 ini, Ha-Joon Chang
mengarahkan perhatiannya pada
mitos-mitos seputar negara kaya,
kemakmuran, dan kesetaraan.
Lima bab berikutnya akan
membongkar keyakinan bahwa
kekayaan negara maju adalah hasil
murni dari kecerdasan dan kerja
keras, bahwa menjadi kaya otomatis
membuat hidup lebih baik, dan
bahwa kemakmuran akan menetes
ke bawah dengan sendirinya.

5. Orang di Negara Kaya Dibayar
Lebih Tinggi Bukan (Terutama)
Karena Lebih Pintar atau Lebih
Produktif

Ha-Joon Chang membuka bab ini
dengan satu pertanyaan yang
mungkin pernah terlintas di benak
kita: mengapa seorang sopir bus
di Swedia dibayar berkali-kali lipat
lebih tinggi daripada sopir bus
di India? Apakah sopir bus di Swedia
lebih cerdas? Apakah ia lebih rajin?
Apakah ia memiliki keterampilan
mengemudi yang jauh lebih unggul?

Jawaban yang paling umum, dan yang
paling sering dipakai untuk
membenarkan ketimpangan global,
adalah bahwa pekerja di negara kaya
lebih produktif, dan produktivitas itu
berasal dari modal manusia yang lebih
tinggi: pendidikan, keterampilan, dan
etos kerja. Chang menyebut jawaban
ini sebagai mitos yang menyesatkan.
Perbedaan upah internasional
lebih disebabkan oleh kontrol
ketat imigrasi dan monopoli
teknologi daripada perbedaan
kemampuan individu.

Chang mengajak kita untuk berpikir
dengan jernih. Jika produktivitas
murni berasal dari kemampuan
pribadi, maka seorang sopir bus
di India yang pindah ke Swedia
seharusnya tetap berpenghasilan
rendah sampai ia meningkatkan
keterampilannya. Tetapi kenyataannya,
begitu ia diizinkan bekerja di Swedia,
upahnya langsung melonjak.
Ia mengemudikan bus yang sama,
melakukan pekerjaan yang sama,
tetapi dibayar jauh lebih tinggi.
Mengapa? Karena ia sekarang
berada di dalam sistem ekonomi
Swedia yang memiliki infrastruktur
lebih baik, teknologi lebih maju, dan
institusi yang lebih stabil.
Produktivitasnya naik bukan karena
ia berubah, melainkan karena
lingkungan di sekitarnya berubah.

Chang kemudian menunjukkan bahwa
negara-negara kaya secara aktif
menjaga keunggulan ini melalui dua
mekanisme utama. Pertama, 
kontrol
imigrasi yang ketat.
 Jika pekerja
dari negara miskin diizinkan pindah
secara bebas ke negara kaya,
perbedaan upah akan menyempit
dengan cepat karena pasokan tenaga
kerja meningkat. Tetapi negara kaya
membangun tembok, secara harfiah
dan legal, untuk mencegah hal itu
terjadi. Kedua, 
monopoli teknologi
melalui hak kekayaan intelektual
seperti paten. Negara kaya memiliki
teknologi canggih yang dilindungi
paten, dan negara miskin harus
membayar mahal untuk
menggunakannya atau tidak bisa
menggunakannya sama sekali. Ini
adalah keunggulan yang
dipertahankan secara legal, bukan
hasil dari persaingan bebas yang adil.

Intinya, sopir bus di Swedia tidak
hidup dalam pasar bebas global.
Ia hidup dalam pasar tenaga kerja
yang dilindungi oleh tembok imigrasi
dan pasar teknologi yang dilindungi
oleh paten. Kemakmurannya adalah
hasil dari posisinya dalam sistem
global, bukan cerminan murni dari
bakat pribadinya.

Contoh dalam praktik:

  • Bayangkan dua orang insinyur,
    Adi dari Indonesia dan Erik dari
    Swedia. Mereka berdua lulus
    dari universitas yang sama
    bagusnya, memiliki IQ yang
    sama, dan bekerja dengan etos
    yang sama. Adi bekerja
    di Jakarta, Erik di Stockholm.
    Gaji Erik sepuluh kali lipat gaji
    Adi untuk pekerjaan yang
    persis sama.

  • Apakah Erik sepuluh kali lebih
    pintar? Tidak. Apakah Erik
    sepuluh kali lebih produktif
    secara pribadi? Tidak.
    Perbedaannya terletak pada
    sistem di sekitar mereka.
    Erik bekerja di negara dengan
    infrastruktur transportasi yang
    sempurna, listrik yang tidak
    pernah mati, dan akses
    ke teknologi terbaru yang
    dilindungi paten. Adi bekerja
    di negara yang sering mengalami
    pemadaman listrik, menghadapi
    kemacetan yang menghabiskan
    waktu produktifnya, dan harus
    membayar mahal untuk
    teknologi yang sama. Selain itu,
    Erik tidak perlu khawatir
    tentang persaingan dari
    insinyur-insinyur berbakat
    di India atau Indonesia karena
    aturan imigrasi membatasi
    mereka untuk pindah ke Swedia.

  • Chang akan berkata:
    Erik memang beruntung, dan itu
    tidak apa-apa. Yang tidak jujur
    adalah ketika Erik, atau para
    ekonom yang membela sistem
    ini, mengklaim bahwa
    kekayaannya murni berasal dari
    kerja keras dan kecerdasannya
    sendiri. Ia kaya karena ia
    dilindungi oleh tembok yang
    tidak terlihat.

6. AS Tidak Memiliki Standar
Hidup Tertinggi di Dunia

Mitos berikutnya yang dibongkar
Chang adalah keyakinan bahwa
Amerika Serikat, sebagai negara
dengan PDB per kapita terbesar
di antara negara-negara maju,
memiliki standar hidup tertinggi
di dunia. Ini adalah asumsi yang
sering dipakai untuk membenarkan
model kapitalisme Amerika:
jika Amerika paling kaya, maka
sistemnya pasti yang terbaik.

Chang membalik asumsi ini dengan
satu pertanyaan sederhana:
apa yang dimaksud dengan
standar hidup?

Jika standar hidup hanya diukur
dengan berapa banyak uang yang
dihasilkan per orang dalam setahun,
maka Amerika memang memimpin.
Tetapi jika standar hidup diukur
dengan indikator yang lebih
bermakna bagi kehidupan
sehari-hari, gambarannya berubah
total.

Chang memaparkan serangkaian
indikator di mana banyak negara
Eropa, dan bahkan beberapa
negara lain, mengungguli
Amerika Serikat. 
Harapan hidup:
orang Amerika hidup rata-rata lebih
pendek daripada orang di Jepang,
Swiss, atau Italia. 
Waktu luang:
pekerja Amerika bekerja lebih
banyak jam per tahun daripada
hampir semua pekerja di negara
maju lainnya, dengan cuti yang jauh
lebih sedikit. 
Keamanan kerja:
di Amerika, pekerja bisa dipecat
dengan mudah tanpa pesangon yang
memadai, sementara di banyak
negara Eropa, pemutusan hubungan
kerja diatur ketat dan dilengkapi
jaring pengaman. 
Mobilitas sosial:
mitos bahwa siapa pun bisa sukses
di Amerika justru lebih nyata
di negara-negara Skandinavia,
di mana latar belakang keluarga tidak
terlalu menentukan nasib seseorang.
Ketimpangan: jurang antara kaya
dan miskin di Amerika jauh lebih
lebar daripada di Eropa atau Jepang.

Chang menunjukkan bahwa PDB
per kapita yang besar bisa menutupi
kenyataan pahit: banyak warga
Amerika hidup dalam ketidakpastian,
bekerja dengan jam kerja panjang,
dan satu penyakit serius bisa
membuat mereka bangkrut karena
tidak adanya asuransi kesehatan
universal. Mereka menghasilkan
banyak uang, tetapi uang itu tidak
selalu membeli ketenangan, waktu
bersama keluarga, atau rasa aman.

Contoh dalam praktik:

  • Bandingkan dua keluarga
    dengan penghasilan yang sama
    dalam dolar. Keluarga pertama
    tinggal di Texas, AS. Keluarga
    kedua tinggal di Denmark.
    Di atas kertas, PDB per kapita
    Amerika lebih tinggi. Tetapi
    mari kita lihat kehidupan
    sehari-hari mereka.

  • Keluarga Texas memiliki dua
    mobil karena transportasi
    umum tidak memadai. Mereka
    membayar asuransi kesehatan
    yang mahal, dan tetap harus
    membayar sendiri jika sakit
    serius. Mereka hanya mendapat
    dua minggu cuti setahun. Sang
    ayah bekerja lima puluh jam
    seminggu. Anak-anak mereka
    akan mewarisi utang kuliah
    yang besar.

  • Keluarga Denmark tidak perlu
    memiliki dua mobil karena
    transportasi umum sangat baik.
    Asuransi kesehatan mereka
    gratis dan komprehensif.
    Mereka mendapat enam minggu
    cuti setahun. Sang ayah bekerja
    tiga puluh tujuh jam seminggu.
    Kuliah anak-anak mereka gratis.

  • Chang akan bertanya: siapa yang
    sebenarnya memiliki standar
    hidup lebih tinggi?
    Di atas kertas, keluarga Texas
    menghasilkan lebih banyak
    uang. Tetapi dalam kenyataan,
    keluarga Denmark memiliki
    lebih banyak waktu, lebih sedikit
    stres, dan lebih banyak keamanan.
    PDB tidak menceritakan kisah ini.

7. Orang Miskin di Negara Kaya
Lebih Miskin dari yang Kita Kira

Di bab ini, Chang membongkar ilusi
bahwa kemiskinan di negara kaya
tidak terlalu parah. Sering kali kita
mendengar bahwa orang miskin
di Amerika atau Eropa masih
memiliki mobil, televisi, dan ponsel,
jadi mereka sebenarnya tidak begitu
miskin. Chang menyebut pembelaan
ini sebagai pengalihan yang tidak
jujur.

Masalahnya, tingkat kemiskinan
di negara maju sering kali
diukur dengan garis kemiskinan
absolut yang rendah.
 Garis ini
menghitung berapa banyak uang
yang dibutuhkan untuk bertahan
hidup secara fisik: cukup kalori,
tempat berteduh, pakaian. Tetapi
menjadi miskin di negara kaya bukan
hanya soal bertahan hidup. Ia adalah
soal kemampuan untuk hidup
bermartabat di dalam masyarakat.

Chang menjelaskan bahwa jika kita
memperhitungkan biaya hidup riil,
gambaran kemiskinan berubah drastis.
Di kota-kota besar negara kaya, biaya
sewa melambung tinggi. Transportasi
wajib dimiliki karena kota dirancang
untuk mobil, bukan untuk pejalan
kaki atau transportasi umum yang
memadai. Pakaian wawancara kerja,
sambungan internet untuk melamar
pekerjaan, dan telepon untuk
dihubungi calon majikan bukanlah
kemewahan; mereka adalah
kebutuhan dasar untuk berpartisipasi
dalam ekonomi modern.

Lebih dalam lagi, Chang berbicara
tentang 
eksklusi sosial.
Orang miskin di negara kaya
sering kali terputus dari kehidupan
sosial yang dianggap normal. Mereka
tidak bisa mengundang teman makan
malam. Anak-anak mereka tidak bisa
ikut kegiatan sekolah yang
memerlukan biaya. Mereka malu
karena tidak bisa berpartisipasi
dalam obrolan tentang liburan atau
restoran baru. Kemiskinan di negara
kaya berarti keterasingan, dan
keterasingan itu menghancurkan
martabat manusia.

Contoh dalam praktik:

  • Bayangkan seorang ibu tunggal
    di London. Ia memiliki pekerjaan
    paruh waktu sebagai pembersih.
    Secara teknis, ia tidak
    “miskin absolut” karena ia
    memiliki atap dan cukup
    makanan. Tetapi setelah
    membayar sewa, listrik, dan
    transportasi, ia hampir tidak
    punya sisa. Ia tidak bisa membeli
    hadiah ulang tahun untuk anaknya.
    Ia tidak bisa pergi ke dokter gigi
    karena tidak mampu.
    Ia menghindari pertemuan
    keluarga karena malu tidak
    bisa membawa makanan.

  • Suatu hari, putrinya diundang
    ke pesta ulang tahun teman
    sekolah. Semua anak diminta
    membawa hadiah kecil.
    Sang ibu menghitung uangnya
    dan menyadari bahwa membeli
    hadiah berarti ia tidak bisa
    makan siang selama tiga hari.
    Ia harus memilih antara
    kebutuhan fisiknya sendiri dan
    partisipasi sosial anaknya.

  • Chang akan berkata:
    inilah kemiskinan di negara kaya.
    Ia bukan hanya soal kalori.
    Ia adalah soal menjadi tidak
    terlihat, tidak dihitung, dan
    dikucilkan dari kehidupan yang
    dianggap normal oleh semua
    orang di sekitarmu.

8. Membuat Orang Kaya Makin
Kaya Tidak Otomatis Membuat
Kita Semua Makin Kaya

Bab ini membongkar salah satu mitos
paling kuat dalam kebijakan ekonomi
modern: 
teori trickle-down, atau
efek menetes ke bawah. Teori ini
mengatakan bahwa jika orang kaya
semakin kaya, kekayaan itu akan
menetes ke bawah dan
menguntungkan semua orang.
Orang kaya akan berinvestasi,
menciptakan lapangan kerja, dan
membayar upah. Maka, kebijakan
yang menguntungkan orang kaya,
seperti pemotongan pajak untuk
penghasilan tinggi, adalah
kebijakan yang baik untuk semua.

Chang menyatakan bahwa teori ini
terbukti gagal. Data menunjukkan
bahwa pertumbuhan pendapatan
1% teratas sering kali lepas sama
sekali dari pertumbuhan upah
mayoritas. Selama beberapa dekade
terakhir, pendapatan orang terkaya
melonjak drastis, sementara upah
pekerja biasa hampir tidak bergerak.
Kekayaan terkonsentrasi di puncak,
tidak menetes ke bawah.

Mengapa? Karena orang kaya tidak
otomatis menginvestasikan
kekayaannya dengan cara yang
menguntungkan pekerja. Mereka
bisa menyimpannya di rekening
luar negeri. Mereka bisa membeli
aset finansial yang tidak menciptakan
lapangan kerja. Mereka bisa
berinvestasi di negara lain. Bahkan
jika mereka berinvestasi di dalam
negeri, investasi itu bisa berupa
otomatisasi yang justru mengurangi
jumlah pekerja.

Chang kemudian menunjukkan bahwa
redistribusi, melalui pajak dan
kebijakan sosial, lebih efektif
menyejahterakan masyarakat
ketimbang menunggu
kemurahan si kaya.

Ketika pemerintah memajaki orang
kaya dan menggunakan uang itu
untuk pendidikan, kesehatan, dan
infrastruktur, manfaatnya langsung
dirasakan oleh mayoritas. Ini bukan
soal menghukum kesuksesan;
ini soal mengakui bahwa
kemakmuran kolektif tidak terjadi
dengan sendirinya.

Contoh dalam praktik:

  • Seorang miliarder membangun
    rumah baru dengan lima puluh
    kamar tidur. Dalam logika
    trickle-down, ini adalah kabar
    baik. Ia mempekerjakan tukang,
    membeli bahan bangunan, dan
    uangnya beredar di ekonomi
    lokal.

  • Tetapi Chang akan bertanya:
    berapa banyak tukang yang
    dipekerjakan untuk satu rumah
    super mewah? Mungkin dua
    puluh orang selama setahun.
    Sekarang bayangkan uang yang
    sama, katakanlah seratus miliar
    rupiah, dipajaki oleh pemerintah
    dan digunakan untuk
    membangun sekolah di lima
    puluh desa. Sekolah-sekolah itu
    mempekerjakan guru-guru,
    membeli buku, dan mendidik
    ribuan anak yang kelak akan
    menjadi pekerja produktif.
    Mana yang menciptakan lebih
    banyak kemakmuran jangka
    panjang? Rumah mewah itu
    hanya melayani satu keluarga.
    Sekolah-sekolah itu melayani
    seluruh generasi.

  • Chang tidak menentang orang
    kaya. Ia menentang mitos
    bahwa membiarkan mereka
    semakin kaya tanpa intervensi
    adalah strategi terbaik untuk
    kesejahteraan bersama. Data
    tidak mendukung mitos itu.

9. Manajer Bergaji Selangit
Seringkali Memberikan Hasil
yang Buruk

Bab ini membongkar satu mitos yang
sangat akrab di dunia korporat:
bahwa 
gaji CEO yang fantastis
diperlukan untuk menarik bakat
terbaik, dan bahwa bakat terbaik
itu akan menghasilkan kinerja
perusahaan yang luar biasa.

Ini adalah pembenaran standar untuk
paket kompensasi yang mencapai
ribuan kali lipat gaji pekerja biasa.

Chang menunjukkan bahwa tidak ada
bukti kuat yang mengaitkan gaji
CEO yang selangit dengan kinerja
perusahaan yang lebih baik.

Banyak studi yang mencoba
menemukan korelasi ini, dan
hasilnya sangat lemah atau tidak ada
sama sekali. Bahkan, banyak contoh
perusahaan dengan CEO bergaji
paling tinggi justru mengalami
kinerja yang buruk atau bahkan
bangkrut.

Lalu, jika bukan karena kinerja, apa
yang menjelaskan kenaikan gaji
eksekutif yang astronomis?
Chang menunjuk pada satu fakta yang
jarang dibicarakan: 
para eksekutif
memiliki kekuasaan untuk
menentukan kompensasi mereka
sendiri.
 Di banyak perusahaan besar,
dewan direksi yang seharusnya
mengawasi dan menentukan gaji CEO
sering kali diisi oleh teman-teman
atau kolega CEO itu sendiri.
Ini adalah lingkaran saling
menguntungkan: CEO menentukan
gaji direksi, direksi menentukan gaji
CEO, dan keduanya sama-sama
diuntungkan dengan mengorbankan
pemegang saham dan pekerja.

Chang juga menunjukkan bahwa
argumen “pasar menentukan gaji
CEO” adalah omong kosong. Dalam
pasar yang benar-benar kompetitif,
harga ditentukan oleh penawaran
dan permintaan yang independen.
Tetapi ketika pihak yang dibayar
memiliki kendali langsung atas pihak
yang membayar, itu bukan lagi pasar;
itu adalah sistem feodal modern
di mana para bangsawan korporat
menentukan upeti mereka sendiri.

Contoh dalam praktik:

  • Sebuah perusahaan besar
    mengumumkan CEO baru
    dengan paket gaji lima ratus
    miliar rupiah per tahun. Media
    bisnis memuji: “Mereka harus
    membayar mahal untuk
    mendapatkan yang terbaik.”
    Dalam dua tahun pertama,
    harga saham naik karena
    booming pasar secara umum.
    Sang CEO dipuji jenius, dan
    gajinya dinaikkan lagi.

  • Tahun ketiga, pasar berbalik.
    Harga saham anjlok.
    Perusahaan merugi
    besar-besaran. Ribuan pekerja
    di-PHK. Tetapi sang CEO tetap
    menerima bonus besar karena
    kontraknya menjamin itu.
    Dewan direksi, yang terdiri dari
    teman-teman lamanya, tidak
    berani menegur. Ketika akhirnya
    ia mundur, ia pergi dengan
    parasut emas senilai triliunan
    rupiah, sementara para pekerja
    yang di-PHK mencari pekerjaan
    dengan pesangon seadanya.

  • Chang akan bertanya:
    di manakah pasar yang konon
    menentukan gaji berdasarkan
    kinerja? Kenyataannya, gaji
    CEO sering kali paling tinggi
    justru ketika kinerjanya paling
    biasa, karena sistem kompensasi
    telah ditangkap oleh orang-orang
    yang seharusnya diaturnya.

Sahabat, lima bab di Bagian 2 ini
melukiskan gambaran yang berbeda
dari narasi kapitalisme standar.
Kemakmuran di negara kaya bukanlah
hasil murni dari kecerdasan individu,
melainkan dari perlindungan sistemik.
Standar hidup tidak bisa diukur hanya
dengan uang. Kemiskinan di negara
kaya lebih dalam dari yang terlihat.
Kekayaan orang kaya tidak otomatis
menetes ke bawah. Dan gaji selangit
para CEO sering kali tidak ada
hubungannya dengan kinerja. Chang
tidak menyerukan penghancuran
sistem; ia menyerukan kejujuran.
Dan kejujuran adalah langkah
pertama menuju perbaikan.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, gaes. Kita lanjut lagi bongkar
mitos-mitos kapitalisme ala Ha-Joon
Chang. Di Bagian 2 ini, dia ngarahin
perhatiannya ke soal negara kaya,
kemakmuran, dan kesetaraan.
Lima bab berikutnya bakal
ngebongkar keyakinan kalau
kekayaan negara maju itu murni
hasil kerja keras, kalau kaya
otomatis bikin hidup lebih enak,
dan kalau kemakmuran itu bakal
“netes ke bawah” dengan sendirinya.
Siap-siap, ya.

Mitos 5: Lo Dibayar Mahal
di Negara Kaya Bukan
Cuma Karena Lo Pinter

Ha-Joon Chang buka dengan
pertanyaan yang mungkin pernah lo
pikirin: 
kenapa sopir bus
di Swedia dibayar berkali-kali
lipat lebih tinggi dari sopir bus
di India?
 Apa dia lebih cerdas?
Lebih rajin? Lebih jago nyetir?

Jawaban umum yang dipake buat
ngebenarin ketimpangan global
adalah bahwa pekerja di negara
kaya itu lebih produktif, dan
produktivitas itu asalnya dari modal
manusia yang lebih tinggi:
pendidikan, skill, etos kerja.
Chang bilang ini 
mitos yang
menyesatkan.
 Perbedaan upah
internasional lebih disebabkan oleh
kontrol ketat imigrasi dan
monopoli teknologi
 daripada
perbedaan kemampuan individu.

Chang ngajak kita mikir jernih. Kalau
produktivitas murni dari kemampuan
pribadi, seorang sopir bus India yang
pindah ke Swedia harusnya tetep
berpenghasilan rendah sampai dia
ningkatin skillnya. Tapi kenyataannya,
begitu dia diizinin kerja di Swedia,
upahnya langsung melonjak.
Dia nyetir bus yang sama, kerjaan
yang sama, tapi dibayar jauh lebih
tinggi. Kenapa? Karena dia sekarang
ada di 
sistem ekonomi Swedia
yang punya infrastruktur lebih baik,
teknologi lebih maju, dan institusi
lebih stabil. Produktivitasnya naik
bukan karena dia berubah, tapi
karena lingkungan sekitarnya
berubah.

Chang terus nunjukin, negara-negara
kaya secara aktif jagain keunggulan
ini lewat dua mekanisme utama.
Pertama, 
kontrol imigrasi yang
ketat.
 Kalau pekerja dari negara
miskin diizinin pindah bebas,
perbedaan upah bakal langsung ciut
karena pasokan tenaga kerja naik.
Tapi negara kaya bangun tembok,
secara harfiah dan legal, buat nyegah.
Kedua, 
monopoli teknologi lewat
paten.
 Negara kaya punya teknologi
canggih yang dilindungin paten, dan
negara miskin harus bayar mahal
atau nggak bisa pake sama sekali.
Ini keunggulan yang dipertahanin
secara legal, bukan hasil persaingan
bebas yang adil.

Intinya, sopir bus di Swedia itu nggak
hidup di pasar bebas global. Dia ada
di pasar tenaga kerja yang dilindungin
tembok imigrasi dan pasar teknologi
yang dilindungin paten.
Kemakmurannya hasil dari posisinya
dalam sistem global, bukan cerminan
murni bakat pribadinya.

Contoh praktis:
Bayangin dua insinyur, Adi dari
Indonesia dan Erik dari Swedia.
Lulusan kampus sama bagusnya,
IQ sama, etos kerja sama. Adi kerja
di Jakarta, Erik di Stockholm.
Gaji Erik 10 kali lipat gaji Adi buat
kerjaan persis sama. Apa Erik
10 kali lebih pinter? Nggak.
10 kali lebih produktif secara pribadi?
Nggak. Bedanya di sistem sekitar
mereka. Erik kerja di negara dengan
infrastruktur sempurna, listrik anti
mati, akses teknologi terbaru yang
dilindungin paten. Adi kerja di negara
yang sering mati lampu, macet parah
ngabisin waktu produktif, dan harus
bayar mahal buat teknologi yang
sama. Plus, Erik nggak perlu khawatir
saingan sama insinyur-insinyur
berbakat dari India atau Indonesia
karena aturan imigrasi ngebatasin
mereka buat pindah. Chang bakal
bilang, Erik memang beruntung, dan
itu nggak apa-apa. Yang nggak jujur
adalah kalau Erik, atau para ekonom
yang bela sistem ini, ngaku kalau
kekayaannya murni dari kerja keras
dan kepintarannya sendiri. Dia kaya
karena dia dilindungin tembok yang
nggak keliatan.

Mitos 6: AS Itu Nggak Punya
Standar Hidup Tertinggi
di Dunia

Mitos berikutnya adalah keyakinan
kalau Amerika Serikat, sebagai negara
dengan PDB per kapita terbesar,
punya standar hidup tertinggi.
Ini sering dipake buat ngebenarin
model kapitalisme Amerika:
kalau mereka paling kaya, berarti
sistemnya yang terbaik.

Chang balikin asumsi ini dengan satu
pertanyaan simpel: 
apa sih yang
dimaksud standar hidup?

Kalau cuma diukur dari berapa
banyak duit yang dihasilin
per orang per tahun, ya Amerika
yang juara. Tapi kalau diukur pake
indikator yang lebih bermakna buat
kehidupan sehari-hari, ceritanya
langsung beda total.

Chang nampilin serangkaian indikator
di mana banyak negara Eropa, bahkan
beberapa negara lain, ngalahin AS.
Harapan hidup: orang Amerika
rata-rata umurnya lebih pendek dari
orang Jepang, Swiss, atau Italia.
Waktu luang: pekerja Amerika kerja
lebih banyak jam per tahun dengan
cuti jauh lebih dikit. 
Keamanan
kerja:
 di Amerika, lo bisa dipecat
gampang tanpa pesangon layak,
sementara di banyak negara Eropa,
PHK diatur ketat dan ada jaring
pengaman. 
Mobilitas sosial:
mitos “siapa pun bisa sukses
di Amerika” justru lebih nyata
di negara-negara Skandinavia,
di mana latar belakang keluarga
nggak terlalu nentuin nasib lo.
Ketimpangan: jurang kaya-miskin
di Amerika jauh lebih lebar.

Chang nunjukin, PDB per kapita yang
gede bisa nutupin kenyataan pahit:
banyak warga Amerika hidup dalam
ketidakpastian, kerja jam panjang,
dan satu penyakit serius bisa bikin
mereka bangkrut karena nggak ada
asuransi kesehatan universal. Mereka
ngasilin banyak duit, tapi duit itu
nggak selalu bisa beli ketenangan,
waktu bersama keluarga, atau rasa
aman.

Contoh praktis: Bandingin dua
keluarga dengan penghasilan yang
sama dalam dolar. Satu di Texas, AS.
Satunya di Denmark. Di atas kertas,
PDB per kapita Amerika lebih tinggi.
Tapi liat kesehariannya. Keluarga
Texas punya dua mobil karena
transportasi umum payah. Mereka
bayar asuransi mahal, dan tetep
harus nombok kalau sakit. Cuma
dapet cuti dua minggu. Sang ayah
kerja 50 jam seminggu. Anak-anaknya
bakal nanggung utang kuliah gede.
Keluarga Denmark nggak perlu dua
mobil karena transportasi umum
oke. Asuransi gratis dan lengkap.
Dapet cuti enam minggu. Sang ayah
kerja 37 jam seminggu. Kuliah anak
gratis. Chang bakal nanya:
siapa yang sebenernya punya
standar hidup lebih tinggi?
Di atas kertas, keluarga Texas lebih
banyak duit. Tapi kenyataannya,
keluarga Denmark punya lebih
banyak waktu, lebih dikit stres, dan
lebih banyak rasa aman. PDB nggak
cerita soal itu.

Mitos 7: Orang Miskin di Negara
Kaya Itu Lebih Miskin dari yang
Lo Kira

Di bab ini, Chang ngebongkar ilusi
kalau kemiskinan di negara kaya itu
nggak separah itu. Kita sering denger,
“Orang miskin di Amerika masih
punya mobil, TV, dan hape, jadi
mereka nggak begitu miskin.”
Chang nyebut pembelaan ini sebagai
pengalihan yang nggak jujur.

Masalahnya, tingkat kemiskinan
di negara maju sering diukur pake
garis kemiskinan absolut yang
rendah, yang cuma ngitung kalori
dan tempat berteduh. Tapi 
menjadi
miskin di negara kaya itu bukan
cuma soal bertahan hidup, tapi
soal kemampuan buat hidup
bermartabat di dalam
masyarakat.

Chang ngejelasin, kalau kita itung
biaya hidup riil, gambarannya
langsung beda. Di kota besar,
biaya sewa selangit. Transportasi
wajib karena kota didesain buat mobil.
Pakaian wawancara, internet buat
ngelamar kerja, telepon, itu bukan
kemewahan lagi, tapi kebutuhan
dasar buat ikut ekonomi modern.
Lebih dalem lagi, Chang ngomongin
eksklusi sosial. Orang miskin
di negara kaya seringkali terputus
dari kehidupan sosial yang dianggep
normal. Nggak bisa ngundang temen
makan, anak nggak bisa ikut kegiatan
sekolah, malu karena nggak bisa ikut
obrolan soal liburan. Kemiskinan
di negara kaya berarti keterasingan
yang ngancurin martabat.

Contoh praktis: Bayangin ibu
tunggal di London, kerja paruh waktu
sebagai pembersih. Secara teknis,
dia nggak “miskin absolut” karena
punya atap dan cukup kalori.
Tapi setelah bayar sewa, listrik,
transportasi, hampir nggak ada sisa.
Dia nggak bisa beli kado ulang tahun
buat anaknya, nggak bisa ke dokter
gigi, dan ngehindarin acara keluarga
karena malu. Suatu hari, anaknya
diundang pesta, minta bawa hadiah.
Dia itung, beli hadiah berarti dia
nggak bisa makan siang 3 hari.
Dia harus milih antara kebutuhan
fisiknya sendiri dan partisipasi sosial
anaknya. Chang bakal bilang, inilah
kemiskinan di negara kaya. Bukan
cuma soal kalori, tapi soal jadi nggak
keliatan, nggak diitung, dan
dikucilkan.

Mitos 8: Bikin Orang Kaya Makin
Kaya Nggak Otomatis Bikin Kita
Semua Makin Kaya

Bab ini ngebongkar salah satu mitos
paling kuat: 
teori trickle-down
(efek menetes ke bawah).

Teorinya, kalau orang kaya makin
kaya, kekayaannya bakal netes
ke bawah dan nguntungin semua
orang. Mereka bakal investasi, buka
lapangan kerja, naikin upah. Jadi,
kebijakan yang nguntungin orang
kaya, kayak potong pajak, adalah
bagus buat semua.

Chang bilang, teori ini udah
terbukti gagal.
 Data nunjukin
pertumbuhan pendapatan 1% teratas
seringkali lepas sama sekali dari
pertumbuhan upah mayoritas.
Puluhan tahun terakhir, pendapatan
orang terkaya meroket, sementara
upah pekerja biasa nyaris diem aja.
Kekayaan numpuk di puncak,
bukannya netes ke bawah. Kenapa?
Karena orang kaya nggak otomatis
investasi dengan cara yang
nguntungin pekerja. Mereka bisa
nyimpen di luar negeri, beli aset yang
nggak nyiptain lapangan kerja, atau
investasi di negara lain. Kalaupun
di dalem negeri, investasi itu bisa
berupa otomatisasi yang malah
ngurangin tenaga kerja.

Chang nunjukin, redistribusi
lewat pajak dan kebijakan sosial
itu jauh lebih efektif buat
nyukupi masyarakat daripada
nungguin kemurahan si kaya.

Pas pemerintah majakin orang kaya
dan pake duitnya buat pendidikan,
kesehatan, infrastruktur, manfaatnya
langsung dirasain mayoritas.
Ini bukan ngukum kesuksesan,
tapi ngakuin kalau kemakmuran
bareng itu nggak terjadi sendiri.

Contoh praktis: Seorang miliarder
bangun rumah 50 kamar.
Dalam logika trickle-down, ini kabar
baik. Dia pekerjain tukang, beli bahan,
duitnya muter. Tapi Chang bakal
nanya: berapa banyak tukang yang
dipekerjain? Mungkin 20 orang
setahun. Sekarang bayangin duit yang
sama, 100 M, dipajaki dan dipake
buat bangun sekolah di 50 desa.
Sekolah itu pekerjain guru, beli buku,
dan didik ribuan anak yang nanti jadi
pekerja produktif. Mana yang lebih
banyak nyiptain kemakmuran jangka
panjang? Rumah mewah cuma
ngelayani satu keluarga. Sekolah
ngelayani seluruh generasi. Chang
nggak nentang orang kaya, dia
nentang mitos kalau ngebiarin
mereka makin kaya tanpa intervensi
adalah strategi terbaik. Data nggak
ngedukung.

Mitos 9: CEO Bergaji Selangit
Seringkali Hasilnya Payah

Bab pamungkas ini ngebongkar mitos
yang akrab di dunia korporat:
gaji CEO fantastis itu perlu buat
narik bakat terbaik, dan bakat
itu bakal ngasilin kinerja luar
biasa.
 Ini pembenaran standar buat
paket gaji yang ribuan kali lipat
pekerja biasa.

Chang nunjukin, nggak ada bukti
kuat yang ngaitin gaji CEO
selangit sama kinerja
perusahaan yang lebih baik.

Banyak studi nyari korelasi ini,
hasilnya sangat lemah atau nggak ada.
Bahkan banyak contoh perusahaan
dengan CEO bergaji paling tinggi
malah kinerjanya jeblok atau bangkrut.

Lalu, kalau bukan kinerja, apa yang
ngejelasin kenaikan gaji astronomis ini?
Chang nunjuk fakta yang jarang dibahas:
para eksekutif punya kuasa buat
nentuin kompensasi mereka
sendiri.
 Di banyak perusahaan gede,
dewan direksi yang harusnya ngawasin
malah diisi temen-temen si CEO.
Ini lingkaran setan: CEO nentuin gaji
direksi, direksi nentuin gaji CEO,
dua-duanya untung dengan ngorbanin
pemegang saham dan pekerja.
Chang juga bilang argumen
“pasar yang nentuin” itu omong
kosong. Kalau pihak yang dibayar
punya kendali langsung atas pihak
yang bayar, itu bukan pasar, tapi
sistem feodal modern.

Contoh praktis: Perusahaan gede
ngumumin CEO baru dengan gaji
500 M per tahun. Media muji.
Awalnya saham naik karena pasar
lagi booming. CEO dipuja, gajinya
dinaikin lagi. Tahun ketiga, pasar
jungkir balik, saham anjlok,
perusahaan rugi, ribuan pekerja
di-PHK. Tapi CEO tetep dapet bonus
gede karena kontraknya ngejamin.
Dewan direksi temen-temennya
diem aja. Pas dia mundur, dia pergi
pake parasut emas triliunan,
sementara pekerja yang dipecat
nyari kerjaan baru dengan pesangon
alakadarnya. Chang bakal nanya:
di mana pasar yang katanya nentuin
gaji berdasarkan kinerja?
Kenyataannya, gaji CEO sering
paling tinggi pas kinerjanya biasa aja,
karena sistem udah dibajak sama
orang yang harusnya diawasi.

Jadi, gaes, lima bab di Bagian 2 ini
ngegambarin cerita yang beda dari
dongeng kapitalisme biasa.
Kemakmuran di negara kaya bukan
hasil murni kepintaran, tapi
perlindungan sistemik. Standar hidup
nggak cuma diukur pake duit.
Kemiskinan di negara kaya jauh lebih
dalem dari kelihatannya. Kekayaan
orang kaya nggak netes otomatis,
dan gaji gila-gilaan para CEO
seringkali nggak nyambung sama
kinerja. Chang nggak ngajak
ngancurin sistem, dia cuma ngajak
jujur. Dan kejujuran itu langkah
pertama buat benerin keadaan. 🔥

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *