buku

Buku 23 Things They Don’t Tell You About Capitalism Ha-Joon Chang, Tidak Ada yang Namanya Pasar Bebas

23 Things They Don't Tell You About CapitalismHa-Joon Chang
23 Things They Don’t Tell You About Capitalism
Ha-Joon Chang

Buku 23 Things They Don’t Tell
You About Capitalism
 karya
Ha-Joon Chang adalah pukulan keras
terhadap keyakinan-keyakinan yang
selama ini kita terima begitu saja.
Chang tidak menulis untuk membela
sosialisme atau menyerukan revolusi.
Ia menulis untuk menunjukkan bahwa
kapitalisme yang kita kenal,
yang diajarkan di sekolah bisnis dan
diulang-ulang oleh politisi, adalah
mitos. Mari kita bongkar empat mitos
pertama di Bagian 1.

1. Tidak Ada yang Namanya
Pasar Bebas

Ha-Joon Chang membuka bukunya
dengan satu pernyataan yang mungkin
terdengar mengejutkan: 
tidak ada
yang namanya pasar bebas.

Setiap pasar, dari pasar sayur
di pinggir jalan hingga bursa saham
Wall Street, memiliki aturan dan
batasan. Pasar bukanlah fenomena
alam seperti gravitasi yang akan
bekerja sendiri jika tidak diganggu.
Pasar adalah konstruksi politik yang
sengaja dirancang oleh manusia
melalui negara.

Chang mengajak kita untuk
membayangkan sebuah transaksi
yang tampaknya paling sederhana:
seorang anak membeli sebatang
cokelat di warung. Transaksi ini
terlihat murni antara dua individu
bebas. Tetapi di baliknya, ada
puluhan aturan yang membuat
transaksi itu mungkin terjadi.
Ada aturan tentang hak kepemilikan
yang menetapkan bahwa warung itu
milik penjual, bukan milik siapa pun
yang lewat. Ada aturan tentang label
makanan yang melarang penjual
menjual cokelat beracun. Ada aturan
tentang berat dan takaran.
Ada hukum kontrak yang bisa
ditegakkan jika salah satu pihak
melanggar. Semua aturan ini dibuat
dan ditegakkan oleh negara. Tanpa
aturan-aturan itu, transaksi
sederhana tidak akan pernah terjadi
karena tidak ada yang bisa saling
percaya.

Ketika seseorang mengatakan
“bebaskan pasar,” yang sebenarnya ia
katakan adalah “ubah aturannya.”
Pertanyaannya bukanlah apakah pasar
akan diatur atau tidak, melainkan
siapa yang diuntungkan oleh
aturan itu.
 Upah minimum
melindungi pekerja, tetapi membatasi
kebebasan majikan untuk membayar
lebih rendah. Perlindungan paten
memberikan keuntungan bagi
penemu, tetapi membatasi kebebasan
orang lain untuk meniru. Regulasi
lingkungan membatasi kebebasan
pabrik untuk membuang limbah,
tetapi melindungi kesehatan warga.
Setiap aturan adalah pilihan politik,
dan memilih untuk “membebaskan”
pasar dari aturan tertentu tetaplah
sebuah pilihan politik. Tidak ada
yang netral.

Contoh dalam praktik:

  • Dua orang teman, Raka dan Sari,
    sedang berdebat tentang upah
    minimum. Raka berkata,
    “Pemerintah tidak boleh ikut
    campur. Biarkan pasar yang
    menentukan upah.”
    Sari menjawab, “Tapi jika tidak
    ada aturan, bukankah majikan
    bisa membayar seenaknya?”
    Raka menggeleng,
    “Itu risiko bekerja. Kalau tidak
    suka, cari kerja lain.”

  • Chang akan berkata kepada
    Raka: kamu pikir kamu
    memilih pasar bebas, tetapi
    sebenarnya kamu memilih
    aturan yang menguntungkan
    majikan. Dalam “pasar bebas”
    tanpa upah minimum, majikan
    bebas membayar serendah
    mungkin, dan pekerja yang
    kelaparan tidak benar-benar
    bebas memilih. Mereka dipaksa
    menerima karena tidak ada
    pilihan lain. Pasar bebas yang
    kamu bayangkan tidak pernah
    ada. Yang ada hanyalah aturan,
    dan perdebatan sesungguhnya
    adalah aturan mana yang lebih
    adil.

2. Perusahaan Tidak Seharusnya
Dijalankan Hanya untuk
Kepentingan Pemilik

Mitos kedua yang dibongkar Chang
adalah gagasan bahwa 
pemegang
saham adalah satu-satunya
pihak yang berhak atas
keuntungan perusahaan.

Ini adalah doktrin yang diajarkan
di hampir semua sekolah bisnis:
perusahaan adalah milik pemegang
saham, dan tugas manajemen
adalah memaksimalkan nilai bagi
mereka. Pekerja, pemasok,
konsumen, dan masyarakat hanyalah
alat untuk mencapai tujuan itu.

Chang menyebut doktrin ini sebagai
kebohongan sejarah. Ia menunjukkan
bahwa perusahaan modern tidak
didirikan oleh pemegang saham yang
kemudian merekrut pekerja. Dalam
banyak kasus, perusahaan didirikan
oleh para pekerja dan pengusaha
yang kemudian mencari modal.
Pemegang saham adalah pendatang
yang datang belakangan. Lebih
penting lagi, pemegang saham
bukanlah satu-satunya pihak yang
menanggung risiko. Pekerja juga
menanggung risiko: jika perusahaan
bangkrut, mereka kehilangan
pekerjaan, kehilangan penghasilan,
dan sering kali kehilangan pensiun.
Pemasok kehilangan kontrak.
Konsumen kehilangan produk yang
mereka andalkan. Masyarakat
menanggung biaya pengangguran
dan kerusakan lingkungan.

Chang mengusulkan alternatif:
model pemangku kepentingan
(stakeholder model).

Dalam model ini, perusahaan
dijalankan untuk kepentingan semua
pihak yang berkontribusi dan
menanggung risiko. Pekerja memiliki
suara dalam keputusan perusahaan.
Pemasok diperlakukan sebagai mitra
jangka panjang. Konsumen dilindungi.
Masyarakat dihormati. Chang bahkan
menunjukkan bahwa model ini bukan
sekadar idealisme; ia bisa mendorong
produktivitas jangka panjang. Pekerja
yang merasa dihargai dan memiliki
suara akan lebih termotivasi, lebih
loyal, dan lebih inovatif. Pemasok
yang diperlakukan dengan adil akan
memberikan kualitas yang lebih baik.
Konsumen yang puas akan kembali.

Contoh dalam praktik:

  • Bayangkan dua perusahaan
    sepatu. Perusahaan pertama,
    ProfitMax, dijalankan dengan
    satu prinsip: memaksimalkan
    keuntungan bagi pemegang
    saham. Gaji pekerja ditekan
    serendah mungkin. Pemasok
    dipaksa menurunkan harga
    setiap tahun, bahkan jika itu
    berarti mereka harus memakai
    bahan baku murahan. Ketika
    penjualan menurun, pekerja
    langsung di-PHK tanpa pesangon
    yang layak. Pemegang saham
    senang karena dividen naik.

  • Perusahaan kedua, StakeWell,
    dijalankan dengan model
    pemangku kepentingan.
    Pekerja mendapatkan gaji yang
    adil dan bonus berdasarkan
    kinerja. Mereka memiliki
    perwakilan di dewan direksi.
    Pemasok diajak bermitra jangka
    panjang, dengan kontrak yang
    stabil dan harga yang wajar.
    Ketika penjualan menurun,
    alih-alih mem-PHK,
    perusahaan meminta pekerja
    untuk mengurangi jam kerja
    sementara sambil mencari
    solusi bersama.

  • Dalam jangka pendek,
    ProfitMax mungkin
    menghasilkan keuntungan
    lebih besar. Tetapi dalam
    jangka panjang, StakeWell
    memiliki pekerja yang lebih
    loyal, lebih terampil, dan
    lebih mau memberikan
    ide-ide baru. Pemasoknya
    memberikan kualitas yang
    konsisten. Mereknya dipercaya.
    Chang akan bertanya:
    perusahaan mana yang
    benar-benar lebih produktif?

3. Mengasumsikan yang
Terburuk dari Orang Akan
Menghasilkan yang Terburuk

Mitos ketiga yang dibongkar Chang
adalah tentang sifat manusia.
Ekonomi neoliberal
mendasarkan diri pada asumsi
bahwa manusia selalu egois dan
oportunis.
 Manusia adalah
makhluk yang hanya peduli pada
kepentingan sendiri dan akan menipu
jika ada kesempatan. Dari asumsi ini,
dibangunlah sistem insentif, kontrak,
dan pengawasan yang ketat untuk
mencegah kecurangan.

Chang membalik logika ini: asumsi
ini bukan cerminan sifat
manusia; ia adalah ramalan
yang mewujudkan dirinya
sendiri.
 Ketika kita merancang
sistem yang mengasumsikan semua
orang akan menipu, kita justru
mendorong orang untuk menipu.
Sistem itu mematikan motivasi
intrinsik manusia: kejujuran,
solidaritas, rasa tanggung jawab,
dan kebanggaan pada pekerjaan
yang dilakukan dengan baik. Jika
setiap gerak-gerikmu diawasi, jika
setiap keputusanmu dicurigai, dan
jika satu-satunya hal yang dihargai
adalah hasil akhir, kamu akan
berpikir: untuk apa repot-repot
jujur?

Chang memberikan contoh yang kuat
dari dunia kerja. Banyak perusahaan
menerapkan sistem pengawasan ketat:
jam kerja dicatat per menit, setiap klik
di komputer dimonitor, dan target
ditetapkan secara rinci. Asumsinya,
jika tidak diawasi, pekerja akan malas
dan mencuri waktu. Tetapi penelitian
menunjukkan bahwa pengawasan
yang berlebihan justru menurunkan
produktivitas. Pekerja merasa tidak
dipercaya. Mereka kehilangan
motivasi intrinsik. Mereka melakukan
persis apa yang diminta, tidak lebih,
karena mereka tahu inisiatif tidak
akan dihargai. Sebaliknya,
perusahaan yang memberikan
kepercayaan, otonomi, dan
penghargaan atas kontribusi justru
mendapatkan pekerja yang lebih
kreatif, lebih loyal, dan lebih
bertanggung jawab.

Chang tidak naif. Ia tidak mengatakan
bahwa semua orang malaikat.
Beberapa orang memang akan
menyalahgunakan kepercayaan.
Tetapi ia menunjukkan bahwa jika
kita merancang seluruh sistem
berdasarkan minoritas yang curang,
kita akan mengorbankan potensi
mayoritas yang jujur. Hasilnya,
sistem itu sendiri yang menciptakan
lebih banyak kecurangan.

Contoh dalam praktik:

  • Sebuah kantor menerapkan
    aturan baru: setiap karyawan
    harus mengisi formulir rinci
    tentang apa yang mereka
    kerjakan setiap jam. Manajer
    akan memeriksa formulir ini
    setiap minggu dan
    membandingkannya dengan
    target. Asumsinya, jika tidak
    diawasi, karyawan akan main
    ponsel dan mengobrol.

  • Dalam waktu satu bulan,
    sesuatu berubah. Karyawan yang
    tadinya senang membantu rekan
    lain kini enggan karena waktu
    mereka “terbuang” tanpa tercatat.
    Ide-ide kreatif berhenti muncul
    karena tidak ada metrik untuk
    ide. Semua orang hanya
    mengerjakan persis apa yang
    diminta. Ketika seorang klien
    menelepon dengan masalah
    mendesak, karyawan berkata,
    “Saya akan jadwalkan minggu
    depan karena kuota saya minggu
    ini sudah penuh.” Produktivitas
    jangka pendek mungkin naik
    di atas kertas, tetapi inovasi dan
    kerja sama tim runtuh.

  • Chang akan berkata: sistem ini
    menciptakan manusia egois yang
    ia takutkan.
    Dengan mengasumsikan yang
    terburuk, kita mendapatkan
    yang terburuk.

4. Orang Tidak Malas atau
Serakah Secara Alami

Mitos keempat yang dibongkar Chang
adalah keyakinan bahwa 
kemalasan
dan keserakahan adalah sifat
bawaan manusia.
 Ekonomi
neoliberal sering kali menggambarkan
manusia sebagai makhluk yang secara
alami ingin bekerja sesedikit mungkin
dan mengkonsumsi sebanyak mungkin.
Dari asumsi ini, lahirlah
kebijakan-kebijakan seperti
pemotongan tunjangan pengangguran
untuk “memaksa orang bekerja” atau
bonus besar untuk eksekutif agar
“termotivasi.”

Chang menunjukkan bahwa anggapan
ini bertentangan dengan bukti sejarah
dan antropologi. 
Tingkat kemalasan
atau keserakahan sangat
bergantung pada konteks sosial,
budaya, dan institusi.
 Banyak
masyarakat tradisional yang tidak
mengenal konsep kerja tanpa henti
seperti di kapitalisme modern. Ketika
kebutuhan dasar sudah terpenuhi,
mereka memilih untuk beristirahat,
bersosialisasi, atau merayakan ritual.
Mereka tidak malas; mereka hanya
tidak melihat alasan untuk terus
bekerja setelah cukup. Akumulasi
kekayaan tanpa batas bukanlah
naluri universal; ia adalah produk
dari sistem tertentu yang mendorong
dan memujanya.

Chang juga menunjukkan bahwa
sistem kapitalisme modern secara
aktif menciptakan dan memperkuat
perilaku serakah. Iklan terus-menerus
membisikkan bahwa kamu tidak
cukup, bahwa hidupmu tidak lengkap
tanpa produk terbaru. Bonus dan
insentif finansial dirancang untuk
membuat orang mengejar lebih,
bahkan setelah mereka sudah
memiliki lebih dari cukup. Pajak yang
rendah untuk orang kaya dan
pemotongan layanan publik memaksa
orang untuk menimbun kekayaan
karena mereka tidak bisa
mengandalkan jaring pengaman
sosial. Sistem ini tidak mencerminkan
sifat manusia; ia membentuknya.

Chang tidak menyerukan untuk
kembali ke masyarakat primitif.
Tetapi ia meminta kita untuk berhenti
menggunakan argumen “memang
begitulah sifat manusia” untuk
membenarkan ketidakadilan. Sifat
manusia tidak tunggal. Ia lentur,
dan ia dibentuk oleh lingkungan
di sekitarnya. Jika kita ingin
masyarakat yang lebih adil, kita
harus merancang institusi yang
mendorong solidaritas, bukan
keserakahan.

Contoh dalam praktik:

  • Seorang eksekutif bank
    mendapatkan bonus tahunan
    sebesar lima puluh miliar rupiah.
    Ketika dikritik, ia berkata,
    “Ini wajar. Tanpa insentif sebesar
    ini, siapa yang mau bekerja keras?
    Memang begitulah sifat manusia.”

  • Chang akan membalik
    pertanyaannya: apakah nenek
    moyangmu yang bertani di sawah
    juga menuntut bonus sebelum
    mau menanam padi? Apakah
    ilmuwan yang menemukan
    vaksin polio bekerja siang
    malam demi bonus, atau demi
    menyelamatkan jutaan nyawa?
    Motivasi manusia jauh lebih
    kaya daripada sekadar uang.
    Kita menciptakan eksekutif yang
    serakah karena kita merancang
    sistem yang memberi hadiah
    fantastis bagi keserakahan.
    Lalu kita berkata, “Lihat, bukti
    bahwa manusia memang serakah.”
    Ini adalah logika melingkar.

  • Bayangkan dua negara. Negara A
    memberikan tunjangan
    pengangguran yang cukup untuk
    hidup layak, pelatihan gratis,
    dan bantuan mencari kerja.
    Negara B memotong tunjangan
    agar “orang tidak malas.”
    Di negara A, pengangguran
    menggunakan masa transisi
    untuk mencari pekerjaan yang
    benar-benar cocok dengan
    keterampilan mereka. Mereka
    tidak putus asa. Di negara B,
    pengangguran mengambil
    pekerjaan pertama yang tersedia,
    bahkan jika itu tidak sesuai,
    karena mereka takut kelaparan.
    Mereka keluar masuk pekerjaan,
    tidak pernah membangun karier
    yang stabil. Negara A tidak
    menciptakan kemalasan;
    ia menciptakan efisiensi dalam
    mencocokkan pekerja dengan
    pekerjaan. Negara B menciptakan
    pasar kerja yang kacau dengan
    dalih “sifat manusia.”

Sahabat, empat bab pertama ini adalah
fondasi dari seluruh argumen Ha-Joon
Chang. Pasar tidak pernah benar-benar
bebas; ia selalu diatur, dan
pertanyaannya adalah aturan untuk
siapa. Perusahaan bukan hanya milik
pemegang saham; pekerja, pemasok,
dan masyarakat juga berhak atas suara.
Asumsi bahwa manusia selalu egois
justru menciptakan sistem yang
mendorong keegoisan. Dan sifat
manusia tidak tunggal; ia dibentuk
oleh lingkungan, bukan ditakdirkan.
Dengan membongkar empat mitos ini,
Chang membuka jalan untuk
memikirkan ulang seluruh sistem
kapitalisme yang kita anggap wajar.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kali ini kita ngomongin buku
yang bakal bikin lo mikir ulang tentang
sistem yang selama ini kita anggap
wajar. Judulnya 
23 Things They Don’t
Tell You About Capitalism
 karya
Ha-Joon Chang. Ini bukan buku yang
membela sosialisme, tapi juga bukan
yang muja-muja kapitalisme. Chang
di sini kayak lagi ngebongkar “mitos”
yang diajarin di sekolah bisnis dan
diomongin politisi. Siap-siap, ya,
karena empat mitos pertama ini
bakal langsung nancep.

Mitos 1: Nggak Ada yang
Namanya Pasar Bebas,
Itu Cuma Dongeng!

Ha-Joon Chang buka buku ini dengan
pernyataan yang mungkin bikin lo
kaget: 
nggak ada yang namanya
pasar bebas.
 Setiap pasar, dari
tukang sayur di depan gang lo sampe
bursa saham Wall Street, semuanya
punya aturan dan batasan. Pasar itu
bukan kayak gravitasi yang kerja
sendiri kalau nggak diganggu. 
Pasar
adalah konstruksi politik yang
sengaja dirancang manusia
lewat negara.

Chang ngajak lo buat ngebayangin
transaksi paling simpel: anak kecil
beli cokelat di warung. Kelihatannya
murni antara dua orang bebas.
Tapi di baliknya, ada puluhan
aturan yang bikin transaksi itu bisa
terjadi. Ada aturan hak kepemilikan
yang netapin warung itu punya
si penjual. Ada aturan label makanan
yang ngelarang dia jual cokelat
beracun. Ada aturan timbangan.
Ada hukum kontrak. Semua ini
dibuat dan ditegakin negara.
Tanpa itu, nggak bakal ada yang
berani transaksi karena nggak
ada kepercayaan.

Nah, pas ada yang teriak
“bebaskan pasar”, yang sebenernya dia
bilang adalah 
“ubah aturannya” .
Pertanyaannya bukan pasar mau
diatur atau nggak, tapi 
siapa yang
diuntungin sama aturan itu?
 Upah minimum ngelindungin
pekerja, tapi ngebatasin kebebasan
majikan. Paten nguntungin penemu,
tapi ngebatasin orang lain buat niru.
Regulasi lingkungan ngebatasin
pabrik buang limbah, tapi
ngelindungin kesehatan warga.
Setiap aturan adalah pilihan politik.
Nggak ada yang netral.

Contoh gampangnya: Dua temen
lo, Raka dan Sari, debat soal upah
minimum. Raka bilang, “Pemerintah
nggak boleh ikut campur, biarin
pasar yang nentuin upah.”
Sari nyeletuk, “Tapi kalau nggak
ada aturan, majikan bisa bayar
seenaknya dong?” Raka ngeles,
“Ya itu risiko kerja, nggak suka
cari kerja lain.”

Chang bakal nimpuk Raka pake data:
lo pikir lo milih pasar bebas, padahal
lo milih aturan yang nguntungin
majikan. Dalam “pasar bebas” tanpa
upah minimum, majikan bebas bayar
serendah mungkin, dan pekerja yang
kelaparan itu nggak beneran bebas
milih. Mereka dipaksa nerima. Pasar
bebas yang lo bayangin nggak pernah
ada. Yang ada cuma aturan, dan debat
sebenarnya adalah aturan mana yang
lebih adil.

Mitos 2: Perusahaan Itu Bukan
Cuma Punya Pemegang Saham,
Bos!

Mitos kedua yang dibantai Chang
adalah gagasan kalau 
pemegang
saham adalah satu-satunya
pihak yang berhak atas untung
perusahaan.
 Ini doktrin yang
diajarin di mana-mana: perusahaan
milik pemegang saham, tugas
manajemen ya maksimalin nilai
buat mereka. Pekerja, pemasok,
konsumen, masyarakat? Cuma alat.

Chang nyebut ini kebohongan
sejarah.
 Dia nunjukin, perusahaan
modern tuh seringkali didirikan
duluan sama pekerja dan pengusaha,
baru kemudian nyari modal.
Pemegang saham itu pendatang!
Lebih penting lagi, 
pemegang
saham bukan satu-satunya yang
nanggung risiko.
 Kalau perusahaan
bangkrut, pekerja kehilangan kerjaan,
penghasilan, dan pensiun. Pemasok
kehilangan kontrak. Konsumen
kehilangan produk. Masyarakat
nanggung biaya pengangguran dan
lingkungan.

Chang ngusulin alternatif:
model pemangku kepentingan
(stakeholder model).
 Perusahaan
dijalanin buat semua pihak yang
nyumbang dan nanggung risiko.
Pekerja punya suara, pemasok
diperlakuin sebagai mitra, konsumen
dilindungin, masyarakat dihormatin.
Chang bahkan nunjukin ini bukan
cuma idealisme. Pekerja yang
ngerasa dihargai dan punya suara itu
lebih termotivasi, loyal, dan inovatif.
Pemasok yang adil ngasih kualitas
lebih baik. Ini bisa ngedorong
produktivitas jangka panjang.

Contoh praktis: Bayangin dua
perusahaan sepatu. 
ProfitMax
 cuma mikirin keuntungan pemegang
saham. Gaji pekerja ditekan, pemasok
dipaksa turunin harga, pas lagi sepi
langsung PHK tanpa pesangon layak.
Pemegang saham senang.

StakeWell pake model pemangku
kepentingan. Pekerja digaji adil, ada
perwakilan di dewan direksi,
pemasok diajak kemitraan jangka
panjang. Pas sepi, alih-alih PHK,
jam kerja dikurangi sementara sambil
cari solusi bareng. Jangka pendek,
ProfitMax mungkin untung gede.
Tapi jangka panjang, StakeWell punya
pekerja loyal, pemasok berkualitas,
dan merek dipercaya. Chang bakal
nanya: yang mana yang beneran
lebih produktif?

Mitos 3: Kalau Lo Berprasangka
Buruk, Ya Hasilnya Bakal
Buruk Juga

Mitos ketiga ini soal sifat manusia.
Ekonomi neoliberal nganggep
manusia itu selalu egois dan
oportunis.
 Makhluk yang cuma
peduli diri sendiri dan bakal nipu
kalau ada kesempatan. Dari asumsi
ini, dibangunlah sistem
pengawasan dan kontrak super ketat.

Chang balikin logikanya: asumsi ini
bukan cerminan sifat manusia,
tapi ramalan yang mewujudkan
dirinya sendiri.
 Pas lo rancang
sistem yang nganggep semua orang
bakal nipu, lo justru ngedorong orang
buat nipu. Sistem itu matiin motivasi
intrinsik: kejujuran, solidaritas,
rasa tanggung jawab, kebanggaan
kerja. Kalau lo selalu diawasin,
dicurigai, dan cuma hasil akhir yang
dihargai, lo bakal mikir: ngapain
capek-capek jujur?

Chang ngasih contoh dari dunia kerja.
Banyak perusahaan pake pengawasan
ketat: jam kerja dicatat per menit, klik
di monitor diawasin, target detail.
Asumsinya, kalau nggak diawasin,
pekerja bakal males. Tapi riset
nunjukin, pengawasan berlebihan
justru nurunin produktivitas. Pekerja
ngerasa nggak dipercaya, inisiatif
mati. Sebaliknya, perusahaan yang
ngasih kepercayaan dan otonomi
malah dapet pekerja yang lebih kreatif
dan loyal. Chang nggak naif, dia tahu
ada yang bakal nyalahgunain. Tapi dia
nunjukin, kalau lo rancang seluruh
sistem berdasarkan minoritas yang
curang, lo ngorbanin mayoritas yang
jujur. Hasilnya, sistem itu sendiri
yang nyiptain lebih banyak kecurangan.

Contoh praktis: Kantor lo tiba-tiba
bikin aturan: tiap karyawan harus ngisi
form rinci tiap jam, dicek manajer
mingguan. Niatnya biar nggak main
hape. Sebulan kemudian, yang tadinya
suka bantuin temen jadi males karena
waktunya “nggak tercatat”. Ide kreatif
mati karena nggak ada metriknya.
Pas klien nelpon urgent, lo malah
bilang, “Maaf, kuota saya minggu ini
penuh, kita jadwal minggu depan ya.”
Produktivitas di atas kertas mungkin
naik, tapi inovasi dan kerja tim hancur.
Chang bakal bilang: sistem ini nyiptain
manusia egois yang lo takutin. Dengan
ngasumsikan yang terburuk, lo dapet
yang terburuk.

Mitos 4: Orang Itu Nggak Males
atau Serakah dari Sononya,
Itu Dibentuk!

Mitos keempat ini ngebongkar
keyakinan kalau 
kemalasan dan
keserakahan itu sifat bawaan.

Ekonomi neoliberal sering
ngegambarin manusia maunya kerja
sesedikit mungkin dan konsumsi
sebanyak mungkin. Dari sini lahir
kebijakan kayak potong tunjangan
biar “maksa orang kerja” atau bonus
gede buat eksekutif.

Chang nunjukin, ini bertentangan
sama bukti sejarah.
Tingkat kemalasan atau keserakahan
itu 
tergantung konteks sosial,
budaya, dan institusi.

Banyak masyarakat tradisional yang
begitu kebutuhan pokok terpenuhi,
mereka milih istirahat atau
kumpul-kumpul. Mereka bukan
males, tapi nggak ngeliat alasan
buat kerja lebih. Nimbun kekayaan
tanpa batas bukan naluri universal,
tapi produk sistem yang
muja-muja itu.

Chang juga nunjukin, sistem
kapitalisme modern ini 
secara aktif
nyiptain dan nguatin perilaku
serakah.
 Iklan terus-terusan bisikin
lo nggak cukup. Bonus dirancang biar
orang ngejar lebih. Pajak rendah buat
orang kaya dan potong layanan publik
bikin orang nimbun kekayaan karena
nggak bisa ngandelin jaring pengaman.
Sistem ini nggak nyerminin sifat
manusia, tapi 
ngebentuknya.

Chang nggak ngajak balik ke jaman
purba. Tapi dia minta kita berenti
pake argumen “memang begitulah
sifat manusia” buat ngebenarin
ketidakadilan. Sifat manusia itu
lentur, dibentuk lingkungan. Kalau
kita mau masyarakat lebih adil, kita
harus rancang institusi yang
ngedorong solidaritas, bukan
keserakahan.

Contoh praktis: Eksekutif bank
dapet bonus 50 M, pas dikritik dia
bilang, “Ini wajar, tanpa insentif
gede siapa yang mau kerja keras?
Namanya juga sifat manusia.”

Chang bakal balik nanya: apa nenek
moyang lo yang nanam padi juga
minta bonus dulu sebelum nanam?
Ilmuwan penemu vaksin polio kerja
keras siang malem demi bonus atau
demi nyelametin jutaan nyawa?
Motivasi manusia itu jauh lebih
kaya dari sekadar duit. Kita yang
nyiptain eksekutif serakah karena
kita rancang sistem yang ngasih
hadiah fantastis buat keserakahan.
Terus kita bilang,
“Tuh, bukti manusia serakah.”
Ini logika melingkar.

Bayangin dua negara. Negara A ngasih
tunjangan pengangguran yang layak,
pelatihan gratis. Negara B motong
tunjangan biar “orang nggak males.”
Di A, pencari kerja bisa nyari yang
cocok, karir stabil. Di B, mereka
ambil kerjaan pertama yang ada
karena takut kelaparan,
keluar-masuk kerja, karir nggak
stabil. Negara A bukannya nyiptain
kemalasan, tapi efisiensi nyocokin
pekerja. Negara B malah bikin pasar
kerja kacau dengan dalih
“sifat manusia”.

Gimana, gaes? Empat bab pertama ini
langsung jadi fondasi yang kuat banget.
Chang nunjukin pasar nggak pernah
bebas, perusahaan bukan cuma buat
pemegang saham, asumsi buruk
malah ngasilin yang buruk, dan sifat
manusia itu dibentuk, bukan takdir.
Dengan ngebongkar empat mitos ini,
dia buka jalan buat mikirin ulang
seluruh sistem kapitalisme yang kita
anggap wajar. 🔥

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *