Blowing Bubbles (Meniup Gelembung)
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, gaes. Kita lanjut lagi petualangan
intelektual kita nih. Dua bab
berikutnya dari buku The Ascent of
Money ini bakal ngebahas dua sisi
dari jantung kapitalisme:
pasar saham yang bisa bikin lo kaya
tujuh turunan atau jatuh miskin
dalam semalam, dan upaya manusia
buat “ngejinakin” ketidakpastian
hidup lewat asuransi.
Yuk, kita selami Bab 2 dan Bab 3.
Bab 2: Meniup Gelembung,
Kisah Kegilaan Massal
di Pasar Saham
Niall Ferguson buka bab ini dengan
kenyataan pahit: pasar saham
adalah mesin pencipta kekayaan
paling dahsyat yang pernah ada,
tapi juga panggung buat kegilaan
massal yang terus berulang.
Saham memungkinkan lo punya
bagian kecil dari perusahaan gede,
tapi karena bisa dijual-belikan,
harganya nggak cuma ditentuin kinerja
perusahaan, tapi juga sama emosi
manusia: harapan, ketakutan, dan
terutama, keserakahan.
Buat ngebuktiin kegilaan ini udah
setua pasar saham, Ferguson ngajak
lo ke Prancis awal abad ke-18,
ke kisah seorang pria legendaris:
John Law.
John Law adalah orang Skotlandia
yang kabur ke Eropa setelah
ngebunuh seseorang dalam duel
di London. Dia bukan bangsawan
atau pedagang kaya, tapi seorang
penjudi profesional dengan otak
cemerlang soal matematika dan
keuangan. Law punya satu ide
revolusioner: uang itu nggak harus
emas atau perak. Uang bisa
berupa kertas yang didukung
tanah, sumber daya, atau
keyakinan. Ide ini membawanya
ke Prancis, negara yang lagi terpuruk
utang setelah perang.
Di Paris, Law mendirikan Banque
Royale, bank yang dikasih hak
istimewa buat nyetak uang kertas.
Nggak cuma itu, dia juga bikin
Mississippi Company, perusahaan
yang megang monopoli dagang
dengan koloni Louisiana
di Amerika. Law mulai jual saham
perusahaan ini ke publik, dan
di sinilah panggung kegilaan dimulai.
Apa yang Law lakukan adalah
mahakarya pemasaran.
Dia ngegambarin Louisiana bukan
sebagai rawa berbahaya penuh
nyamuk dan penyakit (yang itu
kenyataannya), tapi sebagai surga
dunia yang penuh emas, perak,
dan kekayaan. Dia sebar rumor,
bikin pamflet, dan adain pertemuan
yang membakar imajinasi. Saham
Mississippi Company dijual,
harganya naik. Orang pertama yang
beli jadi kaya mendadak. Cerita
mereka menyebar. Kerumunan
mulai berdesak-desakan di jalan
sempit di depan kantor Law.
Bangsawan, pedagang, pelayan,
bahkan pastor, semua pengen beli.
Harga saham yang awalnya
500 livres meroket jadi
10.000 livres. Kata baru lahir dari
kegilaan ini: millionaire
(miliuner) , buat mereka yang
kekayaannya sampe jutaan livres.
Ferguson nunjukin, inilah
gelembung spekulatif pertama
dalam sejarah modern. Polanya
selalu sama: janji besar memicu
euforia, harga naik, orang liat
tetangganya kaya, ikut masuk karena
takut ketinggalan. Ini tahap euforia
yang berubah jadi mania. Harga udah
nggak lagi nyerminin nilai perusahaan,
tapi harapan bahwa selalu ada
orang lain yang mau beli lebih mahal.
Lalu, kayak semua gelembung,
Mississippi Company meledak.
Investor cerdas mulai cairin untung
mereka, ambil emas beneran, dan
bawa keluar Prancis. Harga goyah,
kepanikan menyebar. Semua orang
jualan bareng, nggak ada yang mau
beli. Harga anjlok dari 10.000 livres
balik ke 500, bahkan lebih rendah.
John Law kabur dari Paris, mati
miskin di Venesia. Krisis ini
ngelumpuhin keuangan Prancis
puluhan tahun dan nanem trauma
soal pasar saham serta uang kertas.
Ferguson terus nunjukin, ini bukan
kejadian terisolasi.
Hampir bersamaan, di Inggris,
South Sea Bubble meledak dengan
pola yang sama. South Sea Company
janjiin monopoli dagang dengan
Amerika Selatan, sahamnya naik
gila-gilaan, nyedot duit rakyat, lalu
runtuh ngancurin ribuan keluarga.
Bahkan Isaac Newton aja ikut
kejebak! Dia beli, jual untung, tapi
ngeliat harga terus naik, dia beli lagi.
Pas meledak, Newton kehilangan
hampir semua kekayaannya dan
bilang getir, “Saya bisa ngitung
gerakan langit, tapi nggak bisa
ngitung kegilaan manusia.”
Ferguson lompat ke masa kini dan
bilang, pola ini nggak pernah berubah,
kayak gelembung dot-com tahun
2000-an. Janji revolusi digital bikin
saham internet terbang tinggi,
padahal banyak yang belum pernah
untung. Lalu meledak, triliunan
dolar lenyap.
Dari semua kisah ini, Ferguson
nyimpulin: saham bisa bikin
makmur, tapi sifat dasar
manusia bikin pasar rentan
sama gelembung.
Pola psikologisnya selalu
berulang: euforia, mania,
panik. Ratusan tahun berlalu,
teknologi berubah, tapi manusia
tetep sama.
Contoh praktisnya gini deh, biar lo
ngerasain. Bayangin lo liat sendiri
siklus ini bukan di abad 18, tapi
di medsos atau koin kripto. Ada koin
baru rilis, pendirinya bikin web keren,
janji teknologi revolusioner, bayar
influencer buat ngomongin. Harga
koin naik. Temen lo beli, seminggu
duitnya dobel. Dia posting di medsos.
Lo mulai tertarik, temen-temen lo
yang lain ikutan. Harga makin gila.
Ini tahap euforia. Lo akhirnya beli
juga, takut ketinggalan. Harga makin
ke langit, tiap hari lo cek hape, ngerasa
kaya. Lo mimpi mau ngapain duitnya.
Ini tahap mania. Tiba-tiba, pemilik
awal yang pegang koin gede mulai
jual. Harga turun. Kabar nyebar,
semua panik, jual barengan. Dalam
hitungan jam, harga di bawah modal
lo. Lo nggak bisa jual karena nggak
ada pembeli. Rugi lo nyata, yang ada
cuma pelajaran pahit. Inilah siklu
s yang sama kayak investor
Mississippi Company 1720, South
Sea, dot-com. Ferguson pengen lo
sadar: gelembung bukan kecelakaan,
tapi produk psikologi manusia.
Bab 3: Bisnis Risiko, Dari
Janda Pendeta Sampai Bom
Waktu Finansial
Kalau Bab 2 ngomongin kegilaan,
Bab 3 ngomongin upaya manusia
buat jinakin ketidakpastian.
Ferguson buka dengan pertanyaan:
gimana manusia belajar ngelola
risiko? Jawabannya dimulai dari
Skotlandia abad 18, dengan kisah
menyentuh soal kematian dan cinta.
Di Skotlandia saat itu, pendeta
Gereja hidup dengan gaji pas-pasan.
Pas mereka mati, nggak ada yang
tersisa buat keluarga. Janda mereka
jatuh miskin, ngandelin belas
kasihan. Liat ini, dua orang, Robert
Wallace dan Alexander Webster,
punya ide radikal: setiap pendeta
sisihin dikit dari gajinya ke dana
bersama. Kalau ada pendeta mati,
jandanya dapet pembayaran. Tapi,
berapa yang harus disisihin?
Kalau kelamaan, dana habis. Kalau
kebanyakan, pendeta keberatan.
Mereka butuh yang bisa ngitung
masa depan.
Mereka nemu Colin Maclaurin,
matematikawan jenius. Maclaurin
pake data kematian buat ngitung
rata-rata umur pendeta, dan umur
janda setelahnya. Dengan ini, dia
nemuin jumlah iuran yang pas.
Inilah lahirnya Scottish Widows
Fund, dana pensiun berbasis
aktuaria pertama di dunia.
Dari kebutuhan ngelindungin janda,
lahirlah ilmu aktuaria dan industri
asuransi modern.
Dari Skotlandia, Ferguson bawa lo
ke London, ke kedai kopi bernama
Lloyd’s. Abad 18, Lloyd’s tempat
ngumpul pedagang dan pemilik
kapal. Mereka ngopi, bagi kabar,
dan ngeluh soal risiko: kapal
tenggelam, bajak laut, badai.
Dari obrolan ini, muncul ide buat
saling lindungin. Pemilik kapal bisa
“jual” sebagian risiko kapalnya
ke pedagang lain dengan imbalan
duit. Kalau kapal selamat, duitnya
jadi milik penanggung. Kalau
tenggelam, penanggung ganti rugi.
Ini cikal bakal Lloyd’s of London,
pasar asuransi paling terkenal
sedunia.
Ferguson cerita, satu peristiwa bikin
industri asuransi meledak: Badai
Besar 1703. Ini salah satu badai
terburuk dalam sejarah Inggris,
ngancurin ratusan kapal semalam,
nelan ribuan pelaut. Para pedagang
sadar mereka rentan banget. Habis
badai, permintaan asuransi melonjak.
Manusia nggak bisa hentiin badai,
tapi bisa ngelindungin diri dari
dampak duitnya. Asuransi terus
berkembang, dari kapal, rumah
kebakaran, gagal panen, sampe
kecelakaan kerja. Prinsipnya sama:
sebar risiko ke banyak orang,
biar pas sial menimpa satu,
bebannya nggak ngancurin
sendirian. Ferguson bilang ini
salah satu pilar peradaban modern.
Tapi, bab ini nggak berakhir manis.
Ferguson bawa lo ke krisis 2008,
buat nunjukin upaya ngelola risiko
bisa jadi bumerang. Di pusat
krisis ada credit default swaps
(CDS). Awalnya, CDS adalah alat
yang masuk akal: asuransi buat
obligasi. Lo beli obligasi perusahaan,
lo bisa beli CDS buat ngelindungin.
Kalau perusahaan gagal bayar,
penjual CDS ganti rugi. Kayak
asuransi kebakaran buat investasi.
Masalahnya, CDS nggak cuma dibeli
orang yang punya obligasi.
Spekulan mulai beli CDS tanpa
punya obligasi, bertaruh perusahaan
bakal gagal. Ini kayak beli asuransi
kebakaran buat rumah tetangga:
kalau rumahnya kebakar, lo yang
dapet duit. Ini bukan perlindungan,
tapi perjudian. Pasar CDS
membengkak jadi puluhan triliun
dolar, jauh melebihi nilai obligasi
aslinya. Pas gelembung perumahan
AS meledak, CDS yang terkait
hipotek ikut meledak, mancing
krisis keuangan global. Instrumen
yang dibuat buat ngelindungin,
malah jadi bom waktu spekulatif
yang ngancurin sistem.
Ferguson nutup dengan intisari yang
dalem: kemajuan peradaban
adalah cerita meredam risiko,
tapi ilusi kalau risiko udah ilang
adalah risiko paling gede itu
sendiri. Kita bangun asuransi,
dana pensiun, buat ngelindungin diri
dari badai hidup. Tapi pas kita mulai
percaya kita udah aman sepenuhnya,
pas kita lupa kalau setiap
perlindungan punya celah, di situlah
bencana terbesar nungguin.
Contoh praktisnya gini: lo pekerja
kantoran umur 30. Lo beli asuransi
kesehatan swasta, ini langkah bijak,
nyebar risiko biaya rumah sakit.
Kayak janda pendeta Skotlandia,
dikit duit sekarang nyelametin dari
bencana nanti. Temen kantor lo
nggak beli, ngerasa sehat, nganggep
premi itu buang-buang duit.
Di umur 40, dia kena sakit gawat,
biaya ratusan juta. Dia harus jual
aset, ngutang, hampir bangkrut.
Dia nggak paham risiko itu soal
kemungkinan, bukan kepastian.
Di sisi lain, bayangin perusahaan
gede di Wall Street 2006. Mereka
beli ribuan obligasi, ngelindungin
pake CDS, ngerasa aman. Mereka
makin rakus beli obligasi berisiko,
percaya CDS bakal nyelametin.
Ini ilusi risiko lenyap. Pas pasar
runtuh, yang jual CDS nggak sanggup
bayar. Rantai perlindungan setipis
kertas, satu tumbang narik semuanya.
Pelajarannya: asuransi, dalam
bentuk apa pun, cuma sekuat
pihak yang janjiin pembayaran.
Scottish Widows Fund bertahan
karena disiplin matematika. Lloyd’s
bertahan karena nyebar risiko.
CDS runtuh karena penjualnya nggak
punya cadangan cukup. Risiko nggak
ilang pas lo beli perlindungan,
dia cuma pindah tangan. Kalau jatuh
ke tangan yang salah, dia jadi bom
waktu.
Gimana, gaes? Dua bab ini bener-bener
potret dualitas pasar keuangan.
Satu sisi, bisa bikin kegilaan massal
yang berujung kehancuran. Sisi lain,
bisa jadi alat ngelindungin yang paling
ringkih. Kuncinya cuma pemahaman.
Gelembung bakal selalu ada selama
manusia punya emosi. Risiko bakal
selalu ada selama ada ketidakpastian.
Tapi dengan ngerti sejarah, kita
setidaknya bisa ngenalin pola-pola itu
pas dia muncul lagi dengan wajah
yang beda. 🔥
