Bab 6 Rekonsiliasi dan Kematian Rex
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Guys, kita udah di bagian akhir dari
perjalanan hidup Jeannette yang
penuh luka. Ini adalah bab tentang
rekonsiliasi, kematian, dan bagaimana
dia akhirnya berdamai dengan masa
lalunya. Yuk, kita obrolin.
Lima tahun sebelum Jeannette nulis
buku ini, Rex jatuh sakit parah.
Dia kena TBC, penyakit yang nyerang
paru-paru. Badannya udah lemah
banget setelah bertahun-tahun dihajar
alkohol. Dia kurus kering, batuk
terus-terusan, dan udah nggak bisa
lagi berdiri tegak kayak dulu pas dia
dengan gagahnya nunjuk-nunjuk
bintang di langit gurun.
Rex dibawa ke rumah sakit. Dokter
bilang kondisinya udah parah banget.
Paru-parunya rusak, badannya
ambruk. Nggak banyak yang bisa
dilakukan.
Jeannette, yang selama ini jaga jarak,
akhirnya datang juga. Dia duduk
di samping ranjang ayahnya.
Dia ngeliat pria yang dulu begitu
perkasa, yang katanya bisa ngangkat
mobil sendirian, yang selalu bikin
mereka ketawa dengan cerita gilanya,
sekarang cuma bisa terbaring lemah.
Pria yang dulu berkoar soal istana
kaca, sekarang bahkan nggak bisa
bangun dari ranjang sendiri. Melihat
itu pasti rasanya campur aduk banget.
Di hari-hari terakhir, Jeannette rawat
ayahnya. Dia suapin makan, dia
pegang tangannya. Mereka ngobrol
dengan jujur, sesuatu yang mungkin
jarang mereka lakuin sebelumnya.
Mereka sama-sama udah nggak
pura-pura. Jeannette bukan lagi
anak kecil yang memuja tanpa syarat.
Dia udah jadi wanita dewasa yang tahu
persis siapa ayahnya: seorang pemabuk,
pembohong, pria yang gagal total
ngasih rumah aman buat anak-anaknya.
Tapi juga seorang pria cerdas, penuh
imajinasi, yang ngajarin mereka buat
memandang bintang.
Rex juga sadar dia udah ngecewain
anak-anaknya. Di momen terakhir,
mereka saling maafin. Nggak pake
kata-kata panjang, tapi lewat hadir.
Lewat genggaman tangan. Lewat
tatapan mata yang bilang semua
yang nggak bisa diucapin mulut.
Akhirnya, Rex Walls meninggal.
Pria yang udah janjiin istana kaca,
pergi tanpa pernah ninggalin apa-apa.
Di pemakamannya, Jeannette berdiri
natap peti ayahnya. Dia inget janji
istana kaca yang nggak pernah
terwujud. Tapi di situ dia sadar satu
hal: istana kaca itu bukan cuma
kebohongan. Itu adalah simbol. Dari
harapan, dari imajinasi. Rex mungkin
gagal bangun istana itu, tapi dia udah
nanem benihnya di hati anak-anaknya:
keberanian buat bermimpi dan percaya
ada kehidupan yang lebih baik.
Dan benih itulah yang bikin Jeannette
bisa keluar dari Welch, kuliah, dan jadi
penulis. Jadi, secara aneh, Rex udah
ngasih “istana kaca” itu, cuma bukan
dalam bentuk bangunan.
Buku ini ditutup dengan momen
Thanksgiving beberapa waktu setelah
Rex tiada. Jeannette ngadain acara
di rumahnya. Di meja makan, ngumpul
para penyintas. Ada Jeannette dan
suaminya, Rose Mary yang masih
eksentrik, Lori yang tenang, dan
Brian yang tangguh. Tapi Maureen
nggak ada, masih di California,
nyembuhin luka sendiri. Ada satu
kursi kosong: kursi Rex.
Buat mengenangnya, mereka
ngelakuin hal simpel: nuang dikit
minuman keras ke perapian. Sebuah
penghormatan buat pria yang
hidupnya penuh kontradiksi. Yang
mencintai sekaligus menghancurkan
anak-anaknya. Yang brilian tapi
hancur. Yang ngajarin bintang tapi
nggak bisa ngasih makan.
Di momen itu, Jeannette merenung.
Semua rasa malu, marah, dan bersalah
yang selama ini dia pendam, nggak
otomatis hilang. Luka itu masih ada.
Tapi di atas semua luka itu, dia
nemuin hal lain. Dia sadar, dia nggak
bisa buang orang tuanya begitu aja.
Mereka adalah bagian dari dirinya.
Tanpa Rex, dia nggak akan punya
nyali dan rasa ingin tahu. Tanpa Rose
Mary, dia nggak akan setangguh itu.
Orang tuanya ngasih luka, iya. Tapi
juga ngasih kekuatan.
Dia akhirnya bisa mencintai mereka
apa adanya. Bukan sebagai orang tua
sempurna, karena mereka nggak
pernah. Dia mencintai mereka
sebagai manusia cacat yang hancur,
yang gagal, tapi yang juga
mencintainya dengan cara mereka
sendiri yang kacau.
Dan di sanalah buku ini ditutup:
sebuah keluarga yang nggak
sempurna, penuh luka, ngumpul
di dekat perapian. Di luar dingin,
di dalem mereka bersama. Nggak
utuh, nggak sempurna. Tapi
bersama. Dan itu udah lebih dari
cukup.
