buku

Bab 5 Kehidupan di New York dan Kehancuran Maureen

Setelah Lori berhasil kabur ke New
York, Jeannette tidak bisa tinggal lebih
lama lagi di Welch. Ia sudah tidak
tahan dengan rumah yang nyaris
roboh, kelaparan, dan kekacauan yang
tidak pernah berakhir. Jeannette masih
duduk di bangku SMA saat ia
memutuskan untuk menyusul
kakaknya. Ia menabung setiap sen
yang ia dapatkan dari pekerjaannya
di toko permen dan pekerjaan kecil
lainnya. Begitu uangnya cukup,
ia membeli tiket bus dan pergi.

Di New York, Jeannette mengetuk
pintu apartemen Lori yang sangat
kecil dan sederhana.
Lori membukakan pintu. Mereka
berpelukan. Jeannette akhirnya
bebas dari Welch. Sekarang,
mereka berdua akan menghadapi
dunia bersama-sama.

Tak lama kemudian, Brian menyusul.
Brian, yang tangguh dan tidak banyak
bicara, juga sudah cukup umur untuk
meninggalkan Welch. Ia tidak ingin
tinggal lebih lama lagi di bawah atap
yang sama dengan Rex dan Rose Mary.
Setelah Brian tiba, giliran Maureen
yang datang. Maureen masih sangat
muda, tapi ia juga tidak tahan tinggal
sendirian dengan orang tua mereka.
Satu per satu, keempat anak Walls
akhirnya berkumpul kembali
di New York.

Kehidupan di New York sangat keras,
tapi mereka sudah terbiasa dengan
kekerasan hidup. Mereka bekerja
di siang hari dan bersekolah di malam
hari. Mereka tinggal di apartemen
yang sempit dan murah. Mereka
makan seadanya. Tapi dibandingkan
dengan kehidupan di Welch, ini adalah
kemewahan. Di sini, mereka tidak
kelaparan. Di sini, mereka tidak
kedinginan. Di sini, mereka tidak
takut rumah mereka akan roboh
menimpa mereka saat tidur.

Jeannette adalah yang paling
ambisius. Ia bekerja keras di sekolah.
Nilai-nilainya bagus. Ia berhasil
mendapatkan beasiswa untuk kuliah
di 
Barnard College, sebuah
universitas yang sangat bagus
di New York City. Ini adalah
pencapaian yang luar biasa untuk
seorang gadis yang dulu mengais
makanan dari tempat sampah sekolah.
Setelah lulus, Jeannette mendapatkan
pekerjaan sebagai 
jurnalis di sebuah
majalah ternama. Ia mulai
menghasilkan uang yang cukup.
Ia bisa menyewa apartemen sendiri.
Ia bisa membeli pakaian yang bersih
dan bagus. Dari luar, ia terlihat
seperti seseorang yang sukses dan
telah meninggalkan masa lalunya
jauh di belakang.

Brian juga berhasil. Ia tidak kuliah,
tapi ia bekerja keras dan menjadi
mandiri. Lori tetap menjadi kakak
yang stabil, tempat adik-adiknya
bersandar.

Ironi yang Menyakitkan:
Rex dan Rose Mary Ikut
ke New York

Melihat anak-anaknya berhasil di New
York, Rex dan Rose Mary mengambil
keputusan yang sangat aneh dan
sangat menyakitkan. Mereka juga
pindah ke New York. Tapi bukan
untuk mencari kehidupan yang lebih
baik. Mereka pindah karena mereka
tidak ingin ditinggalkan. Mereka ingin
dekat dengan anak-anak mereka,
dengan cara mereka sendiri yang
kacau.

Rex dan Rose Mary memilih
menjadi tunawisma
. Mereka tidak
menyewa apartemen. Mereka tidak
mencari pekerjaan. Mereka tidur
di jalanan, di stasiun kereta bawah
tanah, di taman-taman kota. Ketika
musim dingin tiba, mereka mencari
tempat-tempat penampungan
darurat. Mereka menyebut diri
mereka sebagai 
“petualang kota”.
Rex, dengan gaya bicaranya yang
penuh dramatisasi, mengatakan
bahwa mereka sedang menjelajahi
kota besar, hidup bebas tanpa
terikat aturan.

Bagi Jeannette, ini adalah pukulan
yang sangat berat. Ia sudah bekerja
begitu keras untuk keluar dari
kemiskinan. Ia sudah menempuh
perjalanan yang sangat panjang dari
rumah reyot di Welch
ke apartemennya yang nyaman
di New York. Dan sekarang, orang
tuanya ada di sini, di kota yang sama,
mengais-ngais tempat sampah seperti
yang dulu dilakukan Jeannette kecil
di kantin sekolah.

Jeannette bergulat dengan perasaan
yang campur aduk. 
Malu. Bagaimana
ia bisa menjelaskan pada
teman-teman dan rekan kerjanya
bahwa orang tuanya adalah
tunawisma? Bagaimana rasanya pergi
ke pesta mewah, lalu dalam
perjalanan pulang melihat ibunya
sendiri sedang mengobrak-abrik
tempat sampah? 
Marah. Mengapa
orang tuanya tidak bisa berusaha
seperti dirinya? Mengapa mereka
memilih hidup seperti ini? 
Bersalah.
Apakah ia anak yang jahat karena
tidak bisa menyelamatkan mereka?
Apakah ia seharusnya memberikan
seluruh uangnya, menyewa
apartemen untuk mereka, memaksa
mereka untuk hidup normal?

Jeannette mencoba membantu dengan
cara yang ia bisa. Ia kadang-kadang
mengajak ibunya makan siang,
seperti yang diceritakan di Bab 1.
Ia menawarkan bantuan uang.
Ia menawarkan tempat tinggal.
Tapi Rose Mary selalu menolak.
Ia mengatakan bahwa ia bahagia
dengan hidupnya. Bahwa ia tidak
membutuhkan apa pun. Bahwa
Jeannette-lah yang terlalu terobsesi
dengan uang dan penampilan. Rex,
di sisi lain, menerima bantuan uang,
tapi uang itu selalu habis untuk
minuman keras.

Kehancuran Maureen

Di antara semua anak Walls, Maureen
adalah yang paling menderita.
Ia adalah yang paling kecil saat semua
kekacauan terjadi. Ia tidak punya
kenangan tentang masa-masa yang
sedikit lebih baik. Ia tidak sekuat Lori
yang intelektual, atau Jeannette yang
ambisius, atau Brian yang tangguh.
Maureen rapuh.

Di New York, Maureen mencoba
untuk hidup mandiri. Tapi luka-luka
dari masa kecilnya terlalu dalam.
Ia tidak bisa mengatasinya. Sementara
kakak-kakaknya berhasil membangun
kehidupan baru, Maureen justru
semakin terpuruk. Ia merasa sendirian.
Ia merasa ditinggalkan.

Puncaknya terjadi dalam sebuah
insiden yang sangat tragis. Maureen,
dalam keadaan yang sangat kacau
secara mental, 
menusuk Rose
Mary
. Ia menyerang ibunya sendiri.
Ini adalah ledakan dari semua
kemarahan, semua rasa sakit, semua
pengabaian yang telah ia alami sejak
bayi. Rose Mary selamat dari
penusukan itu. Tapi insiden ini
menghancurkan keluarga.

Setelah penusukan itu, Maureen tidak
dikirim ke penjara. Sistem pengadilan
melihat bahwa ia sakit secara mental.
Ia membutuhkan perawatan, bukan
hukuman. Maureen dimasukkan
ke 
fasilitas kesehatan jiwa.
Ia tinggal di sana untuk waktu yang
cukup lama, mendapatkan perawatan
dan mencoba untuk menyembuhkan
luka-lukanya.

Setelah keluar dari fasilitas kesehatan
jiwa, Maureen memutuskan untuk
pergi. Ia tidak bisa tinggal di New York
lagi. Ada terlalu banyak kenangan
buruk di sini. Ada terlalu banyak rasa
sakit. Ia pindah jauh ke 
California,
ke sisi lain negara itu, sejauh mungkin
dari keluarganya. Ia memutuskan
kontak dengan hampir semua orang.
Ia ingin memulai hidup baru, sendirian,
jauh dari bayang-bayang masa lalunya.

Luka Kolektif yang Belum
Sembuh

Kehancuran Maureen adalah bukti
yang paling jelas bahwa luka yang
ditinggalkan oleh Rex dan Rose Mary
tidak bisa disembuhkan hanya dengan
pindah ke kota besar dan
mendapatkan pekerjaan yang baik.
Setiap anak Walls membawa luka itu
di dalam diri mereka. Lori, Jeannette,
dan Brian berhasil menyalurkan luka
itu menjadi kekuatan. Mereka bekerja
lebih keras, belajar lebih giat, dan
membangun kehidupan yang stabil.
Tapi Maureen tidak seberuntung itu.
Ia tenggelam dalam lukanya.

Ini adalah kenyataan yang sangat
pahit. Bahkan setelah berhasil keluar
dari neraka, para penyintas masih
harus berjuang melawan hantu-hantu
dari masa lalu mereka. Beberapa
berhasil menang. Beberapa kalah.
Dan tidak ada yang bisa disalahkan
untuk ini. Ini adalah akibat langsung
dari bertahun-tahun pengabaian,
kelaparan, dan kekacauan yang
dilakukan oleh dua orang yang
seharusnya melindungi anak-anak
mereka.

Kenapa Maureen Menusuk
Rose Mary?

Maureen menusuk ibunya sendiri
bukan karena ia jahat. Ini adalah
ledakan dari semua rasa sakit
yang sudah ditumpuk sejak ia
bayi
. Untuk memahaminya, kita
harus melihat kehidupan Maureen
dari awal.

Maureen adalah anak bungsu. Ia lahir
saat keluarga sudah sangat kacau.
Rex sudah menjadi pemabuk berat.
Rose Mary sudah sepenuhnya
tenggelam dalam lukisannya.
Tidak ada susu yang cukup. Tidak ada
makanan yang cukup. Tidak ada
rumah yang aman. Sejak ia bisa
mengingat, hidupnya selalu penuh
dengan kelaparan, kedinginan, dan
ketidakpastian.

Sementara kakak-kakaknya, Lori,
Jeannette, dan Brian, masih sempat
merasakan sedikit petualangan dan
kasih sayang dari Rex saat ia masih
agak waras, Maureen tidak
mendapatkan itu. Rex sudah terlalu
jauh tenggelam dalam minuman
keras saat Maureen tumbuh.
Rose Mary sudah terlalu jauh
tenggelam dalam dunianya sendiri.
Maureen tidak punya siapa-siapa.

Ketika Maureen akhirnya menyusul
ke New York, ia berharap segalanya
akan membaik. Tapi yang terjadi
justru sebaliknya. Kakak-kakaknya
sibuk dengan hidup mereka sendiri.
Lori sibuk bekerja. Jeannette sibuk
kuliah dan bekerja sebagai jurnalis.
Brian sibuk dengan pekerjaannya.
Maureen merasa sendirian di kota
besar yang asing.

Yang lebih parah, Rex dan Rose Mary
juga ada di New York sebagai
tunawisma. Mereka bukannya
membantu Maureen, malah kadang
meminta uang atau tempat tinggal
darinya. Maureen yang masih sangat
muda dan rapuh justru harus
menanggung beban orang tuanya.
Ini seperti menimba air ke dalam
perahu yang sudah bocor.

Hari demi hari, kemarahan Maureen
menumpuk. Ia marah pada ibunya
yang tidak pernah menjadi ibu yang
baik. Ia marah pada ayahnya yang
hanya bisa minum dan berjanji palsu.
Ia marah pada kakak-kakaknya yang
sepertinya baik-baik saja sementara
ia hancur. Semua kemarahan ini
disimpan di dalam hatinya, tidak
pernah dikeluarkan.

Puncaknya terjadi dalam sebuah
pertengkaran. Maureen dan Rose
Mary bertengkar hebat. Apa yang
mereka pertengkarkan tidak
diceritakan secara rinci di buku.
Tapi yang jelas, saat itu Maureen
sudah tidak bisa lagi menahan
semua rasa sakit, semua kemarahan,
semua kesedihan yang sudah
bertahun-tahun ia simpan. Semuanya
meledak sekaligus. Ia mengambil
pisau dan menusuk ibunya.

Ini bukanlah tindakan yang
direncanakan. Ini adalah ledakan
emosi dari seseorang yang sudah
terlalu lama disakiti, diabaikan, dan
tidak pernah mendapatkan
pertolongan. Maureen seperti panci
presto yang terus dipanaskan tanpa
pernah dibuka. Akhirnya, panci itu
meledak.

Rose Mary selamat dari penusukan
itu. Tapi insiden ini menghancurkan
keluarga yang sudah rapuh. Maureen
tidak dikirim ke penjara. Pengadilan
melihat bahwa ia sakit secara mental.
Ia membutuhkan perawatan, bukan
hukuman. Ia dimasukkan ke fasilitas
kesehatan jiwa.

Bagaimana Orang Tua Meminta
Bantuan pada Maureen

Setelah Rex dan Rose Mary ikut pindah
ke New York dan menjadi tunawisma,
mereka tidak bekerja. Mereka tidak
punya penghasilan tetap. Tapi mereka
masih perlu makan. Mereka masih
ingin kadang-kadang mandi air hangat.
Mereka masih ingin rokok atau
minuman keras. Dari mana mereka
mendapatkannya? 
Dari anak-anak
mereka.

Mereka tahu di mana anak-anak
mereka tinggal. Mereka tahu Lori,
Jeannette, Brian, dan Maureen punya
apartemen, sekecil apa pun itu.
Rex sering muncul di depan pintu
apartemen anak-anaknya tanpa
diundang. Kadang ia minta uang.
Kadang ia minta diizinkan tidur
di lantai untuk satu malam.
Kadang ia hanya minta ditemani
minum. Rose Mary juga
melakukan hal yang sama.
Ia kadang menelepon atau datang
untuk “makan siang”, yang tentu
saja dibayar oleh anaknya.

Ini bukanlah hubungan yang
sehat. Anak-anak yang sudah
susah payah membangun hidup
baru justru harus menanggung
beban orang tua yang menolak
untuk bertanggung jawab.

Kenapa Hanya Maureen yang
Paling Terjebak?

Kakak-kakak Maureen sudah belajar
untuk menjaga jarak. Jeannette,
misalnya, kadang masih memberi
bantuan, tapi ia sudah punya batasan
yang tegas. Ia tidak akan membiarkan
Rex tinggal di apartemennya. Ia tidak
akan memberikan uang dalam jumlah
besar karena ia tahu uang itu akan
habis untuk minuman keras. Lori dan
Brian juga sama. Mereka membantu
seperlunya, tapi mereka sudah tidak
lagi berharap bahwa orang tua
mereka akan berubah.

Tapi Maureen berbeda. Ia adalah
yang paling kecil, paling rapuh, dan
paling merindukan sosok orang tua
yang normal. Ketika Rex atau Rose
Mary datang padanya, Maureen
tidak bisa menolak. Ia masih
berharap bahwa di balik semua
kekacauan ini, ada seorang ibu dan
ayah yang benar-benar mencintainya.
Jadi ia memberi. Uang. Makanan.
Tempat berteduh. Perhatian.

Tapi setiap kali ia memberi,
ia dihadapkan pada kenyataan yang
sama. Rex tetap mabuk. Rose Mary
tetap egois. Mereka mengambil apa
yang Maureen berikan, lalu pergi
begitu saja tanpa mengucapkan terima
kasih yang tulus. Keesokan harinya,
mereka kembali lagi dengan
permintaan yang sama. Ini adalah
lingkaran setan. Maureen memberi
dengan harapan akan mendapatkan
cinta. Tapi yang ia dapatkan hanyalah
pengosongan, baik secara finansial
maupun emosional.

Puncak dari Lingkaran Setan Itu

Pertengkaran yang berujung pada
penusukan itu mungkin dipicu oleh
salah satu dari insiden ini. Mungkin
Rose Mary datang meminta uang,
dan ketika Maureen tidak punya,
Rose Mary mengatakan hal-hal yang
sangat menyakitkan. Mungkin Rose
Mary menyalahkan Maureen,
mengatakan bahwa ia adalah anak
yang tidak tahu berterima kasih.
Mungkin ia membandingkan Maureen
dengan Jeannette atau Lori yang lebih
sukses. Kata-kata itu, yang menimpa
luka lama yang belum sembuh,
menjadi pemicu ledakan.

Kontradiksi Rose Mary:
Menolak tapi Juga Meminta

Rose Mary menolak dan menerima
bantuan tergantung pada 
jenis
bantuan
 yang ditawarkan dan
siapa yang menawarkannya.

Bantuan yang Ditolak oleh
Rose Mary

Rose Mary menolak bantuan yang
bersifat 
formal, mengikat, dan
mengubah gaya hidupnya
.
Contohnya adalah:

  1. Tawaran Jeannette untuk
    menyewakan apartemen.
    Jika Rose Mary menerima
    apartemen, ia harus tinggal
    di satu tempat. Ia harus
    membayar tagihan. Ia harus
    mengikuti aturan. Ia harus
    bertanggung jawab. Ini adalah
    hal yang sangat ia benci.

  2. Tawaran uang bulanan dari
    Jeannette. Jika Rose Mary
    menerima uang bulanan, ia
    harus mengakui bahwa ia
    membutuhkan bantuan. Ia harus
    berterima kasih. Ia harus merasa
    berutang budi. Ini melukai harga
    dirinya.

  3. Tawaran pekerjaan atau saran
    untuk hidup normal.
    Rose Mary tidak ingin menjadi
    “orang biasa”. Ia bangga
    menjadi seniman yang bebas.
    Menerima bantuan formal berarti
    mengakui bahwa cara hidupnya
    salah.

Bantuan yang Diterima atau
Diminta oleh Rose Mary

Rose Mary menerima, dan bahkan
kadang meminta, bantuan yang
bersifat 
kecil, informal, dan
tidak mengikat
. Contohnya
adalah:

  1. Makan siang bersama.
    Rose Mary tidak menolak
    diajak makan di restoran.
    Itu adalah kenikmatan sesaat
    yang tidak mengubah gaya
    hidupnya.

  2. Uang tunai dalam jumlah kecil.
    Jika Rex atau Rose Mary
    meminta uang receh,
    itu bukanlah komitmen jangka
    panjang. Itu hanya “tolong beri
    aku sedikit uang untuk hari ini”.

  3. Izin untuk mandi air hangat
    di apartemen anak-anaknya.
    Ini adalah bantuan sementara
    yang tidak membuat mereka
    harus tinggal di sana selamanya.

  4. Bantuan darurat saat mereka
    kedinginan atau kelaparan
    di jalanan. Ini adalah permintaan
    untuk bertahan hidup, bukan
    permintaan untuk mengubah
    hidup.

Perubahan Perilaku Seiring
Waktu

Perilaku Rose Mary juga berubah
seiring waktu
. Saat Jeannette
pertama kali menawarkan bantuan
di Bab 1, Rose Mary masih merasa
bangga dan menolak
mentah-mentah. Tapi bertahun-tahun
kemudian, ketika mereka sudah
semakin tua, semakin lemah, dan
hidup di jalanan semakin keras,
mereka mulai lebih sering meminta.

Rex, terutama, tidak pernah malu
untuk meminta apa pun. Ia sering
muncul di apartemen anak-anaknya
tanpa diundang. Rose Mary,
meskipun lebih jarang, juga kadang
meminta. Terutama kepada Maureen.

Kenapa Maureen Menjadi Target
yang Mudah?

Dari semua anaknya, Maureen adalah
yang paling 
rentan dan paling
sulit menolak
. Ini sebabnya Rose
Mary lebih sering meminta kepada
Maureen dibandingkan kepada
Jeannette atau Lori. Beberapa
alasannya adalah:

  1. Maureen masih berharap bahwa
    orang tuanya akan berubah.
    Jeannette dan Lori sudah
    menyerah. Mereka sudah
    menerima kenyataan bahwa
    orang tua mereka tidak akan
    pernah menjadi normal. Tapi
    Maureen masih punya harapan
    kecil itu. Harapan inilah yang
    membuatnya sulit mengatakan
    “tidak”.

  2. Maureen merasa paling bersalah.
    Ia melihat kakak-kakaknya
    sudah mandiri dan kuat.
    Ia merasa bahwa ia belum cukup
    membantu. Jadi ketika ibunya
    meminta sesuatu, Maureen
    merasa wajib memberikannya.

  3. Maureen adalah yang paling
    lemah secara finansial dan
    emosional. Jeannette sudah
    punya pekerjaan mapan. Lori
    sudah stabil. Tapi Maureen
    masih berjuang. Justru karena
    ia paling lemah, ia paling
    mudah dimanfaatkan.

  4. Rose Mary tahu bahwa Maureen
    tidak akan menolak. Jeannette
    bisa berkata, “Tidak, Bu. Aku
    tidak akan memberi uang karena
    uang itu hanya akan dipakai
    untuk minuman.” Tapi Maureen
    tidak bisa berkata seperti itu.
    Ia takut menyakiti hati ibunya.
    Ia takut ditinggalkan sepenuhnya.
    Jadi ia memberi, meskipun
    hatinya terluka.

Mengapa Permintaan Itu Sangat
Menyakitkan

Yang membuat Maureen sangat
terluka bukanlah jumlah uang yang
ia berikan. Bukan juga karena ibunya
meminta bantuan. Yang paling
menyakitkan adalah bahwa 
bantuan
itu tidak pernah dihargai
. Rose
Mary mengambil uang atau makanan
dari Maureen, lalu pergi begitu saja.
Keesokan harinya, ia kembali lagi
dengan permintaan yang sama. Tidak
ada perubahan. Tidak ada rasa terima
kasih yang tulus. Maureen
memberikan cinta dan berharap
ibunya akan berubah, tapi yang ia
dapatkan hanyalah pengosongan
terus-menerus.

Setiap kali Maureen memberi,
ia berharap bahwa kali ini ibunya
akan berkata, “Terima kasih, sayang.
Aku mencintaimu.” Tapi kata-kata itu
tidak pernah datang. Yang datang
hanyalah permintaan berikutnya.
Lingkaran setan ini terus berputar,
menghancurkan Maureen sedikit
demi sedikit, sampai akhirnya
meledak dalam bentuk penusukan itu.

Maureen Bekerja sebagai Apa?

Pekerjaan Maureen di New York

Setelah pindah ke New York
menyusul kakak-kakaknya, Maureen
tidak seperti Jeannette yang bisa
kuliah dengan beasiswa, atau Lori
yang sudah punya pekerjaan stabil.
Maureen masih sangat muda dan
rapuh. Ia mencoba hidup mandiri,
tapi ia tidak punya keterampilan
khusus atau pendidikan tinggi. Jadi,
ia mengambil pekerjaan apa pun
yang bisa ia dapatkan.

Maureen bekerja sebagai
resepsionis di sebuah kantor
dokter
. Tugasnya adalah menerima
telepon, mencatat jadwal pasien,
menyambut orang yang datang, dan
pekerjaan administrasi ringan
lainnya. Ini adalah pekerjaan yang
cukup baik untuk seseorang yang
baru memulai hidup mandiri.

Pekerjaan yang Tidak Stabil

Tapi pekerjaan Maureen tidak stabil.
Ia sering berganti-ganti pekerjaan.
Kondisi mentalnya yang rapuh
membuatnya sulit untuk bertahan
lama di satu tempat. Ia sering merasa
cemas, depresi, dan kewalahan oleh
tuntutan pekerjaan dan kehidupan
sehari-hari. Kadang ia tidak masuk
kerja tanpa alasan yang jelas. Kadang
ia tidak bisa berkonsentrasi. Akibatnya,
ia tidak bisa membangun karier seperti
Jeannette atau kestabilan seperti Lori.

Kenapa Maureen Tidak Ikut
Kakak-Kakaknya Saja?

Maureen sebenarnya sudah ikut
kakak-kakaknya
. Ia menyusul
mereka ke New York. Ia tinggal
di kota yang sama dengan mereka.
Tapi “ikut secara fisik” tidak sama
dengan “merasa menjadi bagian”.

Ada beberapa alasan kenapa Maureen
tidak bisa bersandar pada
kakak-kakaknya.

Pertama, kakak-kakaknya sangat
sibuk bertahan hidup.

Lori, Jeannette, dan Brian harus
bekerja sangat keras untuk membiayai
hidup mereka sendiri. Mereka tidak
punya banyak waktu atau uang untuk
merawat Maureen. Mereka sendiri
masih berjuang untuk berdiri di atas
kaki mereka sendiri. Mereka bukan
orang kaya yang bisa santai dan
mengurus adiknya. Mereka adalah
para penyintas yang masih
menyembuhkan luka mereka sendiri.

Kedua, jarak usia dan
pengalaman.
 Lori, Jeannette, dan
Brian lebih tua. Mereka punya
kenangan tentang masa-masa ketika
Rex masih sedikit lebih waras, ketika
hidup masih terasa seperti
petualangan. Kenangan ini, meskipun
pahit, memberi mereka kekuatan.
Maureen tidak punya itu. Ia hanya
punya kenangan tentang kelaparan,
kedinginan, dan pengabaian. Ia tidak
bisa berbagi pengalaman yang sama
dengan kakak-kakaknya. Ia merasa
terpisah, bahkan di antara saudara
kandungnya sendiri.

Ketiga, Maureen adalah yang
paling lemah secara mental.

Setiap anak Walls menanggung luka
yang sama, tapi setiap orang
merespons dengan cara yang
berbeda. Lori merespons dengan
membaca buku dan merencanakan
pelarian. Jeannette merespons
dengan bekerja keras dan berambisi.
Brian merespons dengan menjadi
tangguh dan mandiri. Tapi Maureen
tidak punya mekanisme pertahanan
seperti itu. Ia rapuh. Ia mudah
hancur. Ia tidak tahu bagaimana cara
mengubah rasa sakit menjadi
kekuatan seperti kakak-kakaknya.

Keempat, Maureen masih terikat
pada orang tuanya.
 Sementara
kakak-kakaknya sudah belajar untuk
menjaga jarak dari Rex dan Rose
Mary, Maureen tidak bisa. Ia masih
berharap bahwa orang tuanya akan
berubah. Ia masih mencoba membantu
mereka. Tapi setiap kali ia membantu,
ia justru semakin terluka. Rex dan
Rose Mary tidak pernah berubah.
Mereka terus mengambil tanpa pernah
memberi. Maureen terjebak dalam
lingkaran setan ini.

Kelima, setelah penusukan,
Maureen merasa sangat malu
dan hancur.
 Ia telah menusuk
ibunya sendiri. Bagaimana ia bisa
menatap wajah kakak-kakaknya
setelah melakukan itu? Bagaimana
ia bisa duduk semeja dengan mereka
dan berpura-pura semuanya
baik-baik saja? Rasa bersalah dan
rasa malu itu membuatnya tidak
bisa tinggal. Ia harus pergi. Ia harus
menjauh. California adalah tempat
yang paling jauh yang bisa ia tuju
tanpa meninggalkan negara itu.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Guys, setelah perjuangan mati-matian,
akhirnya satu per satu anak-anak Walls
berhasil kabur dari neraka Welch
menuju New York. Tapi, ceritanya
nggak berakhir bahagia begitu aja.
Justru di sinilah ironi paling pahit
dari hidup mereka dimulai.

Bab 5: Kehidupan di New York
dan Kehancuran Maureen

Setelah Lori duluan kabur, Jeannette
mutusin udah nggak bisa tinggal
lebih lama lagi. Dia masih SMA,
tapi dia udah nekat. Dia nabung
receh dari kerjaannya, dan begitu
cukup, langsung beli tiket bus buat
nyusul kakaknya. Lo bisa bayangin,
dia ngetuk pintu apartemen Lori
yang kecil dan sederhana. Lori buka
pintu, mereka berpelukan. Jeannette
akhirnya bebas. Mereka bakal
ngadepin dunia bareng.

Nggak lama, Brian nyusul. Brian yang
tangguh dan pendiem itu juga udah
muak. Terus, giliran Maureen,
si bungsu, yang juga nggak tahan
sendirian sama orang tua mereka.
Akhirnya, keempat anak yang dulu
cuma bisa bermimpi di rumah reyot
penuh jamur, sekarang ngumpul
lagi di New York.

Kehidupan mereka di sini keras, tapi
mereka udah terbiasa. Mereka kerja
siang, sekolah malem, tinggal
di apartemen super sempit.
Tapi guys, dibandingin Welch?
Ini surga. Di sini, mereka nggak
kelaparan, nggak kedinginan, dan
yang paling penting, nggak ada rasa
takut rumah roboh pas lagi tidur.

Jeannette yang paling ambisius.
Dia belajar gila-gilaan, nilainya
cemerlang, dan akhirnya dapet
beasiswa kuliah di Barnard College!
Bayangin, seorang gadis yang dulu
ngais makanan dari tong sampah,
sekarang kuliah di universitas top.
Setelah lulus, dia jadi jurnalis
di majalah ternama. Dia mulai
punya duit, apartemen sendiri, baju
bagus. Dari luar, dia udah sukses
total, kayak udah ninggalin semua
masa lalunya.

Brian juga mandiri dan sukses
dengan caranya sendiri, Lori tetap
jadi kakak yang stabil buat
bersandar. Semua keliatan
baik-baik aja, sampai sebuah ironi
yang bikin lo garuk-garuk kepala
terjadi.

Ironi yang Bikin Nyesek: Rex dan
Rose Mary Ikutan ke New York!

Lo pasti nggak bakal nyangka.
Ngelihat anak-anaknya sukses, Rex
dan Rose Mary ngambil keputusan
aneh dan nyakitin. Mereka ngikutin
anak-anaknya ke New York. Tapi,
bukan buat nyari kerja atau hidup
yang lebih baik. Mereka malah 
milih
jadi tunawisma!
 Gila, kan? Mereka
tidur di jalanan, di stasiun kereta,
di taman-taman. Mereka nyebut
diri mereka “petualang kota”, dan
Rex dengan dramatisnya bilang
mereka lagi ngeksplorasi, hidup
bebas tanpa aturan.

Buat Jeannette, ini adalah pukulan
telak. Dia udah jungkir balik kerja
keras keluar dari kemiskinan, dan
sekarang, orang tuanya ada di kota
yang sama, ngorek-ngorek tempat
sampah! Dia ngerasa campur aduk:
malu, marah, dan bersalah. Gimana
caranya dia jelasin ke temen
kantornya? Kenapa mereka nggak
bisa usaha kayak dirinya?

Jeannette nyoba bantu.
nawarin duit, nawarin
tempat tinggal. Tapi Rose Mary
selalu nolak! Dia bilang dia bahagia,
nggak butuh apa-apa. Malah dia balik
negur Jeannette, bilang Jeannette
yang terlalu matre. Bikin kesel
banget, kan? Sementara Rex, kalo
dikasih duit, langsung ludes buat
mabuk.

Puncak Tragedi: Kehancuran
Maureen

Di antara semua, Maureen yang
paling menderita. Dia yang paling
kecil pas semua kekacauan terjadi,
dan dia yang paling rapuh. Nggak
punya ketahanan kayak
kakak-kakaknya. Di New York,
sementara yang lain bangun hidup
baru, Maureen malah makin
terpuruk. Luka masa kecilnya
terlalu dalem.

Puncaknya terjadi dalam sebuah
insiden tragis. Maureen, dalam
kondisi mental yang udah kacau
banget, menusuk Rose Mary.
Dia nyerang ibunya sendiri.
Ini bukan aksi kriminal biasa,
guys. Ini adalah ledakan dari semua
kemarahan, sakit hati, dan
pengabaian yang dia alami sejak
bayi. Rose Mary selamat, tapi
kejadian ini ngancurin keluarga.

Sistem pengadilan ngeliat Maureen
sakit, bukan jahat. Dia nggak dikirim
ke penjara, tapi ke fasilitas kesehatan
jiwa buat dirawat. Setelah keluar,
dia nggak bisa lagi tinggal di New York.
Terlalu banyak hantu. Dia pindah
jauh ke California, sejauh mungkin,
dan mutusin kontak. Dia pengen
mulai hidup baru, sendirian.

Kehancuran Maureen adalah bukti
paling jelas kalau luka dari Rex dan
Rose Mary itu nggak bisa sembuh
cuma dengan sukses secara materi.
Lori, Jeannette, Brian bisa nyalurin
luka itu jadi bahan bakar.
Tapi Maureen? Dia kalah.
Dia tenggelam. Dan ini adalah
kenyataan pahit dari para penyintas.
Beberapa menang, beberapa kalah.

Nggak ada yang bisa disalahin.
Ini adalah akibat langsung dari
bertahun-tahun pengabaian,
kelaparan, dan kekacauan yang
dilakukan dua orang yang
seharusnya ngelindungin
anak-anaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *