Buku Modern Romance Aziz Ansari and Eric Klinenberg, Mengapa Mencari Cinta Menjadi Begitu Rumit?

Aziz Ansari and Eric Klinenberg
Saat ini, banyak orang merasa bahwa
dunia percintaan menjadi jauh lebih
sulit dan membingungkan
dibandingkan zaman dulu.
Jika ditanya apa penyebabnya,
kebanyakan orang akan langsung
menyebut satu hal: aplikasi kencan.
Belum lagi ditambah dengan
fenomena ghosting (menghilang
tanpa kabar) dan komunikasi lewat
pesan singkat yang seringkali bikin
salah paham.
Namun, menurut Aziz Ansari dan
sosiolog Eric Klinenberg dalam buku
mereka Modern Romance, jawaban
itu masih terlalu sederhana. Akar
masalahnya jauh lebih dalam dari
sekadar keberadaan Tinder atau
Hinge.
Komplikasi yang sesungguhnya adalah
ini: Kita tidak hanya
mendapatkan alat baru untuk
bertemu orang. Kita juga
mendapatkan pola pikir yang
sama sekali baru. Dan sayangnya,
secara emosional, kita belum cukup
berkembang untuk bisa menangani
pola pikir baru ini dengan sehat.
Bukan Cuma Aplikasi, Tapi
Perubahan Budaya Global
Ansari dan Klinenberg tidak hanya
membahas tentang aplikasi kencan
di Amerika. Mereka melakukan
riset dan wawancara di berbagai
kota besar dunia, seperti Tokyo,
Buenos Aires, Paris, dan New York.
Hasilnya mengejutkan:
di mana-mana, ceritanya memiliki
alur aneh yang sama.
Orang-orang sekarang memiliki
kebebasan yang luar biasa untuk
terhubung dengan siapa saja.
Namun, bukannya merasa
dimudahkan, banyak yang justru
merasa lumpuh. Kelumpuhan ini
disebabkan oleh tiga hal:
Terlalu banyak kebebasan.
Terlalu banyak pilihan.
Terlalu banyak suara bising
di kepala sendiri.
Dulu Ada Batasan, Sekarang
Semua Serba Tanpa Batas
Coba bandingkan dengan cara orang
mencari pasangan di masa lalu.
Dulu, percintaan memiliki
batasan-batasan alami. Batasan
geografis (hanya bisa bertemu orang
di sekitar tempat tinggal), batasan
lingkaran sosial (teman dari teman
atau kenalan keluarga), dan
ekspektasi keluarga.
Awalnya, batasan-batasan ini
terdengar seperti gangguan atau hal
yang merepotkan. Tapi jika
dipikirkan kembali, batasan-batasan
itulah yang secara alami menyaring
pilihan-pilihan kita. Anda tidak
bisa membandingkan calon pasangan
Anda dengan jutaan orang lain yang
tidak pernah Anda temui.
Pilihan Anda terbatas pada
orang-orang yang benar-benar
Anda kenal dalam kehidupan nyata.
Sekarang, situasinya berbalik seratus
delapan puluh derajat. Ponsel Anda
adalah arena kencan Anda.
Setiap kali Anda menggeser layar
(swipe), aplikasi seolah berbisik
menjanjikan seseorang yang lebih
baik dari orang yang sedang Anda
lihat sekarang.
Ini bukanlah kebebasan yang
sesungguhnya. Ini adalah jebakan
psikologis yang dikenal dengan
istilah “Paradoks Pilihan”
(The Paradox of Choice). Konsep ini
berasal dari psikolog bernama Barry
Schwartz, dan Aziz Ansari
menggunakannya berulang kali dalam
buku ini untuk menjelaskan
mengapa orang zaman sekarang
sangat sulit untuk berkomitmen.
Dengan kata lain: Lebih banyak
pilihan bukan berarti lebih baik.
Lebih banyak pilihan justru
berarti lebih kewalahan, bukan
lebih puas.
Dampak Nyata dari Terlalu
Banyak Pilihan
Mungkin seseorang yang sedang asyik
menggeser aplikasi kencan di Berlin
pada pukul tiga pagi akan berkata,
“Ini menyenangkan!
Banyak kemungkinan!”
Memang, di permukaan terasa seperti
itu. Tetapi penelitian menunjukkan
bahwa pilihan yang tidak terbatas
seringkali berujung pada
ketidakpuasan dan
keragu-raguan. Orang-orang
sekarang “menonton” aplikasi kencan
seperti mereka menonton serial
secara maraton. Terus menggulir
layar, menggeser ke kanan dan
ke kiri, melakukan ghosting,
mendapatkan kecocokan lalu
membatalkannya. Semua itu tidak
pernah terasa cukup.
Mengapa? Karena kita terus-menerus
membanding-bandingkan.
Beberapa tinjauan tentang kesehatan
mental bahkan menunjukkan bahwa
penggunaan aplikasi kencan memiliki
kaitan dengan dampak negatif seperti
kecemasan dan citra tubuh yang
buruk. Ini seperti lingkaran setan:
layar ponsel berubah menjadi
kritikus yang menilai harga diri Anda.
Jika Anda tidak mendapatkan cukup
banyak “kecocokan”, Anda merasa
tidak menarik. Jika Anda dapat
banyak kecocokan, Anda tetap
merasa kosong karena interaksinya
dangkal.
Pola aneh ini bukan hanya mitos
di kota-kota besar negara Barat.
Di Amerika Latin dan sebagian Asia,
orang-orang melaporkan hal yang
sama. Aplikasi kencan memang
memperluas kolam pilihan,
tetapi pada saat yang sama juga
memperbesar tekanan. Muncul
perasaan bahwa pilihan Anda harus
selalu meningkat, bahwa kehidupan
cinta Anda harus selalu naik seperti
grafik jumlah pengikut di Instagram.
Padahal, cinta sejati bukanlah
sebuah grafik. Namun, kita tetap
memperlakukannya seperti itu.
Manusia Berubah Menjadi
Sekadar Pilihan di Dalam Mesin
Ada sebuah film dokumenter berjudul
Swiped: Hooking Up in the Digital
Age. Film ini mengikuti kehidupan
anak-anak muda dari berbagai daerah
di Amerika Serikat, mengamati
bagaimana janji akan koneksi digital
tanpa batas berubah menjadi sesuatu
yang aneh. Orang-orang mulai
menukar koneksi dunia nyata dengan
sekadar profil dan hantu digital.
Para ahli dalam film tersebut
menunjukkan bahwa budaya kencan
telah menjadi sangat mirip dengan
permainan. Orang-orang tidak lagi
melihat satu sama lain sebagai
manusia. Mereka melihat satu
sama lain sebagai pilihan-pilihan
di dalam sebuah mesin.
Konfrontasi yang Tidak Enak
untuk Didengar
Inilah kenyataan pahit yang seringkali
tidak ingin didengar oleh siapa pun:
Bukan berarti percintaan
sekarang lebih sulit. Masalahnya
adalah ekspektasi kita sudah
tidak selaras lagi dengan
kenyataan.
Kita memperlakukan cinta seperti
masalah optimasi produk.
Algoritma aplikasi kencan
menyarankan orang ini, lalu orang itu,
lalu orang lainnya lagi.
Kita melewatkan dialog yang
sesungguhnya dan langsung
melompat pada penghakiman.
Dalam bukunya, Aziz Ansari
menceritakan kisah orang-orang yang
diwawancarainya. Mereka menolak
pasangan yang sebenarnya
baik-baik saja.
Alasan penolakannya bukan karena
pasangan itu jahat atau punya
masalah besar. Alasannya adalah
karena pasangan itu “tidak cukup
menarik” atau “tidak cukup
menyenangkan”.
Ini bukanlah standar yang tinggi. Ini
adalah sikap apatis yang
menyamar sebagai ambisi. Kita
malas untuk berusaha mengenal
seseorang lebih dalam, lalu kita
menyebutnya sebagai “menjaga
standar”.
Perkembangan Baru:
Kecerdasan Buatan dalam
Dunia Kencan
Situasi ini semakin bergeser. Aplikasi
kencan tidak lagi sekadar
mencocokkan Anda dengan manusia
lain. Para petinggi perusahaan
aplikasi kencan besar secara terbuka
mengakui bahwa kecerdasan
buatan (AI) dan chatbot dapat
mengubah total cara orang terhubung
dan berpikir tentang koneksi.
Justin McLeod, pendiri aplikasi Hinge,
pernah memperingatkan bahwa
penggunaan AI dalam urusan
percintaan bisa jadi bermain
dengan api. Alasannya? Koneksi
simulasi mungkin akan terasa lebih
mudah daripada pekerjaan kotor
di dunia nyata yang membutuhkan
kerentanan dan keaslian.
Orang bisa jadi lebih memilih curhat
pada robot yang selalu merespons
dengan sempurna daripada kepada
manusia yang bisa mengecewakan.
Kelelahan Massal dan Panggilan
untuk Kembali ke Hal Dasar
Ironisnya, orang-orang sekarang justru
kelelahan dengan semua ini. Bahkan
para tokoh terkenal seperti Jay Shetty,
yang populer membicarakan cinta dan
tujuan hidup, menghabiskan
episode-episode siniarnya untuk
mendorong para pendengar agar fokus
pada kepercayaan, keaslian, dan
nilai-nilai, alih-alih pada
perbandingan permukaan yang tidak
ada habisnya.
Nasihat dari Jay Shetty bukanlah
kebijaksanaan liar dari planet lain.
Itu adalah reaksi terhadap dunia
kencan modern yang berantakan
dan bising, di mana orang-orang
lebih mengejar sinyal-sinyal
ketertarikan palsu daripada
kebenaran yang nyata.
Inti Permasalahan yang
Sebenarnya
Jadi, apa alasan sebenarnya
mengapa cinta modern terasa
lebih sulit?
Jawabannya bukan aplikasi kencan.
Jawabannya bukan ghosting.
Jawabannya bukan aturan tidak
tertulis soal membalas pesan.
Jawabannya adalah ini: Kita telah
mengganti proses pencarian
pasangan yang berbasis
komunitas dengan sistem pasar
bebas yang penuh pilihan,
tetapi kita lupa mengganti
strategi emosional kita.
Ketika segala sesuatu terasa opsional,
komitmen akan terlihat seperti
ancaman.
Ketika seseorang tidak segera
membalas pesan, kita langsung
berasumsi bahwa kita ditinggalkan,
bukan sekadar situasi yang tidak jelas.
Ketika sebuah profil tidak langsung
membuat kita terpukau dalam
hitungan detik, kita langsung
menggeser ke kiri dan lupa bahwa
rasa percaya diri dan koneksi
yang sesungguhnya
membutuhkan waktu untuk
tumbuh. Seringkali, pertumbuhan
itu terjadi di dunia nyata, bukan
di layar yang bisa diklik.
Percayalah, koneksi yang nyata
tetaplah penting. Ada banyak
orang yang hubungannya bermula
dari aplikasi kencan dan berakhir
dengan pernikahan yang sangat
bahagia. Beberapa studi bahkan
menemukan bahwa kualitas
hubungan yang berawal dari
aplikasi bisa sama kuatnya
dengan hubungan yang berawal
dari pertemuan langsung, selama
orang-orang tersebut mampu
melihat melampaui kesan
pertama dan masuk ke dalam
dinamika jangka panjang.
Tapi itu hanya bisa terjadi jika
orang-orang berhenti
memperlakukan akses yang
mudah sebagai pengganti
usaha yang tulus.
Bagian yang Mengubah
Segalanya
Inilah inti pesannya.
Cinta bukanlah tentang
menemukan pilihan yang
paling sempurna.
Cinta adalah tentang memilih
untuk berkomitmen pada
satu orang dan berusaha
membuat hubungan itu
menjadi lebih baik.
Ketika Anda berhenti mengharapkan
kesempurnaan dan mulai
mengharapkan kerja keras,
di situlah hubungan yang
sesungguhnya, bukan ilusi digital,
akan muncul.
Ide Kunci:
Akses modern terhadap pilihan yang
tidak terbatas telah mengubah
cara otak kita membentuk
ekspektasi. Kita jadi terbiasa
menilai manusia seperti menilai
produk di toko daring, dan selalu
percaya bahwa pilihan yang lebih
baik pasti ada di luar sana.
Pelajaran Utama:
Keintiman yang sejati tidak lahir dari
memiliki lebih banyak pilihan.
Ia lahir dari konteks, usaha, dan
kedalaman.
Teknologi di sekitar kita tidak
menghancurkan cinta. Tetapi
teknologi telah menyingkapkan
betapa tidak siapnya kita untuk
menjadi rentan dan terbuka
kepada orang lain.
Kutipan Favorit dari Buku Ini:
“Teknologi telah memungkinkan
kita untuk memperluas kolam
pilihan romantis kita secara
dramatis, tetapi teknologi juga
telah membuat kita berpikir bahwa
selalu ada seseorang yang lebih
baik di luar sana.”
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Sekarang kita ngomongin sesuatu yang
lebih deket sama keseharian kita:
Kenapa sih nyari cinta jaman
sekarang tuh rasanya kayak main
game susah setengah mati?
Buku Modern Romance karya
komedian Aziz Ansari dan sosiolog
Eric Klinenberg ini bakal ngebongkar
akar masalahnya. Dan spoiler alert:
jawabannya bukan cuma “gara-gara
Tinder” atau “gara-gara ghosting”.
Masalahnya jauh lebih dalem dari itu.
Yuk kita kulik bareng.
Bukan Cuma Aplikasi, Tapi Pola
Pikir Kita yang Kacau
Lo pasti sering denger keluhan:
“Duh, susah banget sih nyari yang
serius. Banyak banget pilihan jadi
bingung sendiri.”
“Udah kenalan, chat-an lancar,
eh tau-tau ghosting.”
“Kok rasanya kayak ada aja yang
kurang ya dari dia?”
Kebanyakan dari kita langsung
nyalahin aplikasi kencan. Padahal,
Ansari dan Klinenberg bilang,
aplikasi itu cuma alat. Masalah
utamanya ada di pola pikir kita yang
udah berubah total gara-gara alat itu.
Singkatnya: Kita dikasih alat buat
ketemu banyak orang, tapi secara
emosional, kita gak siap buat
ngadepin banjir pilihan itu.
Dulu Dibatasi, Sekarang Dibuati
Pusing
Coba lo flashback ke jaman
nyokap-bokap lo dulu. Mereka ketemu
pasangan itu ya di sekitaran situ doang.
Satu komplek, satu kampus, kenalan
temen, atau dijodohin keluarga.
Pilihannya terbatas banget.
Awalnya kedengerannya nyebelin ya?
Kayak gak ada kebebasan. Tapi coba
pikir lagi: Justru karena
pilihannya dikit, mereka gak
punya banyak kesempatan buat
banding-bandingin.
Ketemu si A, ya udah si A. Dikenalin
lebih dalem, nyaman, lanjut. Gak ada
tuh kepikiran, “Duh, kok dia gak
sepuitis si B yang kemaren gue liat
di explore Instagram ya?”
Nah, sekarang? Hape lo itu etalase
manusia. Tiap lo swipe, aplikasi
kayak bisikin, “Psst… jangan puas
dulu. Ada tuh yang lebih ganteng,
lebih lucu, lebih mapan di kartu
selanjutnya.”
Ini namanya The Paradox of Choice
(Paradoks Pilihan). Istilah ini dari
psikolog Barry Schwartz. Intinya:
Makin banyak pilihan, bukannya
makin bahagia, kita malah makin
lumpuh dan gak puas. Kita jadi
kayak kelinci yang disorotin lampu
mobil, bengong gak bisa milih.
Dampak Nyata: Kita Jadi Tukang
Judge Dadakan
Akibatnya apa? Kita jadi malas. Malas
buat effort. Malas buat ngobrol dalem.
Kita cuma liat profil 3 detik, langsung
vonis: “Kurang ganteng.” “Bio-nya
cupu.” “Foto liburannya gak estetik.”
Ansari cerita, banyak orang yang
diwawancarainya nolak calon
pasangan yang sebenernya
baik-baik aja. Alasannya bukan
karena calon itu jahat atau brengsek.
Tapi karena “gak cukup menarik”
atau “gak cukup menyenangkan”.
Ini bukan standar tinggi, guys.
Ini standar receh yang lahir
dari kebiasaan nge-judge cepet
kayak lagi milih baju
di e-commerce. Kita udah
nyaman sama proses
“pilih-bayar-dapet” yang instan.
Begitu ketemu manusia beneran yang
kompleks dan butuh waktu buat
dipahami, kita langsung kabur.
Kita bilangnya “jaga standar”,
padahal mah males usaha.
Manusia Jadi Produk,
Cinta Jadi Transaksi
Ada film dokumenter namanya
Swiped: Hooking Up in the Digital
Age. Di situ diperlihatkan gimana
anak muda sekarang udah mulai
memperlakukan satu sama lain
bukan sebagai manusia, tapi
sebagai pilihan di dalam mesin.
Kita kayak lagi main game The Sims.
Lo pencet-pencet, lo atur-atur, kalau
gak cocok tinggal delete. Ghosting
jadi normal karena di otak kita,
orang yang kita tinggalin itu cuma
avatar digital, bukan manusia
dengan perasaan.
Parahnya lagi, riset juga nunjukin kalo
kebiasaan ini ngaruh ke kesehatan
mental. Gak dapet match? Merasa
jelek. Dapet match banyak tapi gak
ada yang nyambung? Merasa kosong.
Layar hape lo berubah jadi
hakim yang terus-terusan
ngadilin harga diri lo.
Gimana Kalau Ditambah AI?
Makin Kacau!
Situasinya makin bergeser. Bos-bos
aplikasi kencan sekarang udah
ngomongin soal integrasi
AI (Artificial Intelligence).
Justin McLeod, pendiri Hinge,
aja bilang ini kayak main api.
Bayangin, nanti lo bisa curhat sama
chatbot yang selalu ngasih respon
manis dan sempurna. Lama-lama lo
bakal lebih milih ngobrol sama robot
itu daripada sama manusia beneran
yang kadang ngecewain. Koneksi
simulasi yang gampang bisa
bikin kita makin alergi sama koneksi
nyata yang butuh kerentanan
dan usaha.
Titik Jenuh dan Ajakan Balik
ke Fitrah
Untungnya, banyak orang udah mulai
capek sendiri. Tokoh kayak Jay Shetty,
yang terkenal ngomongin cinta dan
mindfulness, sekarang rame-rame
ngajak kita buat balik ke dasar.
Mereka bilang: Fokus sama
kepercayaan, keaslian, dan
nilai-nilai. Bukan cuma ngejar
spark instan atau foto profil yang
kece. Ini adalah reaksi alami
terhadap dunia kencan yang udah
kelewat bising dan dangkal.
Intinya: Bukan Alatnya,
Tapi Otaknya yang Belum
Update
Jadi, kenapa cinta modern kerasa
lebih susah?
Bukan karena Tinder.
Bukan karena ghosting.
Bukan karena aturan bales chat.
Tapi karena kita udah ganti
sistemnya jadi pasar bebas
penuh pilihan, tapi lupa
nge-upgrade strategi
emosional kita.
Ketika semuanya terasa
opsional, komitmen jadi
keliatan kayak ancaman.Ketika orang gak langsung
bales chat, kita mikirnya pasti
dia ilang, bukan mungkin
dia lagi sibuk.Ketika profil orang gak bikin
kita klepek-klepek dalam
2 detik, kita langsung swipe
left, lupa bahwa koneksi asli
tuh tumbuh di dunia nyata,
bukan di layar sentuh.
Percaya deh, koneksi nyata itu masih
ada dan penting. Banyak kok yang
nikah bahagia dari kenalan aplikasi.
Tapi itu cuma bisa terjadi kalau
mereka berhenti memperlakukan
kemudahan akses sebagai
pengganti usaha yang tulus.
Pesan Pamungkas: Cinta Itu
Kerja Keras, Bukan Hadiah
Doorprize
Ini nih inti dari semuanya:
Cinta bukanlah tentang
menemukan pilihan yang paling
sempurna. Cinta adalah tentang
memilih untuk berkomitmen
pada satu orang dan berusaha
membuat hubungan itu menjadi
lebih baik.
Ketika lo berhenti berharap
kesempurnaan instan, dan
mulai siap buat kerja keras
bareng-bareng, di situlah
hubungan yang sesungguhnya
akan muncul.
Jadi, daripada pusing mikirin
“Siapa lagi ya yang lebih baik di luar
sana?”, mending fokus ke “Gimana
caranya gue dan dia bisa jadi lebih
baik bareng-bareng?”
Gimana? Udah mulai paham kan
kenapa pusingnya nyari pasangan
jaman sekarang tuh beda level
sama jaman emak kita dulu?
