Paradoks Kebahagiaan: Ancaman Tersembunyi bagi Demokrasi
Winston Churchill pernah berkata:
“Demokrasi adalah sistem
pemerintahan terburuk, kecuali jika
dibandingkan dengan semua sistem
lainnya.” Maksudnya? Demokrasi itu
berantakan, ribet, dan sering bikin
frustrasi. Tapi tetap saja ini sistem
terbaik yang kita punya karena
demokrasi mengakui sifat korup dari
politik dan memungkinkan berbagai
keyakinan sosial dan ideologis untuk
hidup berdampingan.
Namun ada masalah besar:
harapan dan pengejaran
kebahagiaan ternyata tidak
benar-benar cocok dengan
demokrasi.
Bahkan lebih parah: dengan mengejar
kebahagiaan, kita sebenarnya sedang
membahayakan demokrasi itu sendiri.
Apa Maksudnya?
Pengejaran kebahagiaan pada dasarnya
adalah upaya menghindari rasa
sakit dan ketidaknyamanan.
Kita ingin hidup enak, mulus, tanpa
masalah. Kita ingin bergaul dengan
orang yang sepaham, baca berita yang
sejalan dengan pandangan kita, dan
tinggal di lingkungan yang nyaman.
Masalahnya? Demokrasi itu justru
penuh dengan ketidaknyamanan.
Demokrasi mengharuskan kita
berhadapan dengan orang-orang yang
punya pendapat berbeda, bahkan
kadang bertentangan total dengan
keyakinan kita. Demokrasi itu ribut,
berisik, dan nggak pernah rapi.
Jika kita terus menghindari
ketidaknyamanan, kita nggak pernah
punya kesempatan untuk memperkuat
kebajikan-kebajikan penting dalam
diri kita: kejujuran, keberanian,
dan kerendahan hati. Padahal,
agar demokrasi bisa berkembang, kita
butuh kebajikan-kebajikan ini.
Mereka membantu kita mengakui dan
menerima kerja keras serta keragaman
sudut pandang yang dibutuhkan oleh
demokrasi.
Contoh Sehari-hari
Lihat media sosial hari ini. Orang lebih
suka follow akun yang sepaham,
unfollow yang berbeda pendapat, dan
membentuk gelembung informasi
sendiri. Ketika bertemu pandangan
berbeda, reaksinya bukan diskusi, tapi
serang dan blokir. Semakin hari,
toleransi terhadap perbedaan semakin
menipis.
Atau lihat diskusi politik di grup
keluarga. Ketika ada yang beda pilihan,
yang terjadi bukan dialog, tapi saling
ejek dan tuduh. Akhirnya, banyak
orang memilih diam daripada harus
berdebat. Tapi diam juga bukan solusi,
karena demokrasi butuh partisipasi
aktif, bukan keheningan yang canggung.
Yang Lebih Parah: Kebahagiaan
Pribadi vs Demokrasi
Filsuf seperti Nietzsche sudah lama
memperingatkan hal ini. Dorongan
egois kita untuk mengejar kebahagiaan
membuat manusia tidak cocok untuk
demokrasi. Kenapa? Karena dorongan
itu cenderung lebih besar daripada
toleransi kita terhadap pendapat
yang berbeda.
Bahkan bisa lebih ekstrem: kita bisa
sampai percaya bahwa pendapat
dan kebahagiaan kita sendiri
lebih penting daripada
demokrasi itu sendiri.
Ketika orang-orang dengan pola pikir
ini berkumpul, kelompok-kelompok
ekstremis terbentuk. Dan ketika
kelompok-kelompok ini mampu
merobohkan demokrasi, yang naik
tahta adalah tirani. Sejarah sudah
membuktikan ini berkali-kali.
Alasan Paling Masuk Akal untuk
Berhenti Mengejar Kebahagiaan:
Itu Sia-sia
Tapi mungkin alasan paling masuk akal
untuk berhenti mengejar kebahagiaan
adalah: usaha itu sia-sia dari awal.
Pertama: Adaptasi Hedonis
Studi menunjukkan bahwa meskipun
kita mungkin merasakan lonjakan
kebahagiaan ketika hidup membaik,
kita akan segera kembali ke tingkat
suasana hati normal kita. Dapat
promosi? Seneng tiga bulan, lalu biasa
lagi. Beli mobil baru? Seneng beberapa
minggu, lalu jadi kendaraan biasa.
Dapat pasangan impian? Bahagia
di awal, lalu adaptasi dan mulai
nemuin kekurangannya.
Ini yang disebut
hedonic adaptation
—kita cepat beradaptasi dengan
perubahan positif dan kembali
ke “set point” kebahagiaan
masing-masing.
Kedua: Efek Titik Biru
(The Blue Dot Effect)
Bahkan lebih menarik:
ada fenomena yang disebut Efek Titik
Biru. Ini ditemukan dalam
serangkaian studi di mana peserta
diminta melihat layar dan
menunjukkan ketika mereka melihat
hal-hal tertentu, seperti titik biru atau
orang dengan ekspresi mengancam.
Yang menarik: ketika jumlah titik biru
dan ekspresi mengancam berkurang,
orang-orang tidak berhenti
melihatnya. Mereka hanya menggeser
garis batas untuk apa yang dianggap
“biru” atau “mengancam”, dan
meyakinkan diri bahwa hal-hal itu
masih muncul.
Artinya apa? Bahkan jika secara hipotetis
kita mampu menghilangkan semua hal
tidak menyenangkan dari hidup kita,
kita tidak akan berhenti melihat masalah.
Kita hanya akan menjadi lebih sensitif
terhadap hal-hal kecil yang dulu tidak
pernah mengganggu kita.
Contoh Sehari-hari Efek Titik Biru
Dulu, orang bisa bahagia dengan rumah
sederhana, satu televisi hitam-putih,
dan makan sehari tiga kali. Sekarang,
rumah minimalis, TV LED 40 inch, dan
makan di restoran cepat saji terasa
“biasa saja”. Yang dulu dianggap
mewah, sekarang jadi standar minimal.
Kalau nggak dapat yang lebih, kita
merasa kurang.
Dulu, koneksi internet lemot masih bisa
diterima. Sekarang, buffering 5 detik
bikin kita stres dan marah-marah.
Masalahnya tidak berkurang, yang
berubah adalah standar kita.
Inilah mengapa mengejar kebahagiaan
itu seperti mengejar fatamorgana:
semakin dikejar, semakin menjauh.
Dan yang lebih berbahaya, kita jadi
terobsesi pada hal-hal sepele sambil
mengabaikan masalah yang lebih besar,
seperti kesehatan demokrasi kita.
Ketika Inovasi Berubah Menjadi
Pengalihan, Kebebasan Menyusut
Sekarang kita masuk ke bagian yang
mungkin paling dekat dengan
kehidupan sehari-hari: bagaimana
inovasi yang seharusnya
membebaskan kita, malah
berubah menjadi alat pengalihan
yang justru mengurangi kebebasan.
Dua Penyebab Utama Tingginya
Kecemasan dan Depresi Modern
Ketika mempertimbangkan alasan
tingginya tingkat kecemasan dan
depresi saat ini, ada dua faktor besar
yang tidak boleh diabaikan:
iklan dan jenis pengalihan yang
menyamar sebagai inovasi.
Revolusi Iklan Tahun 1920-an
Pengaruh iklan terhadap suasana hati
kita berubah secara signifikan pada
tahun 1920-an. Untuk pertama kalinya,
pengiklan mulai menargetkan
otak emosional, bukan otak berpikir.
Sebelumnya, iklan menggambarkan
seberapa efisien suatu produk atau
menyoroti bahan khusus. Sederhana
dan informatif.
Tapi di akhir 1920-an, produk mulai
ditawarkan dengan cara yang
mengeksploitasi titik sakit atau
ketidakamanan seseorang.
Pertanyaannya bukan lagi:
“Bagaimana meyakinkan mereka bahwa
produk kita layak dibeli?” Tapi berubah
menjadi: “Bagaimana meyakinkan
mereka bahwa produk kita akan
membuat mereka merasa lebih baik
tentang diri mereka sendiri?”
Iklan tidak lagi menjual produk, tapi
menjual perasaan. Ingin merasa
percaya diri? Beli parfum ini.
Ingin merasa diterima? Beli jeans ini.
Ingin merasa sukses? Beli mobil ini.
Perubahan ini sendiri sudah cukup
buruk bagi jiwa manusia. Tapi ada
pergeseran lain yang mungkin
berdampak lebih dalam: pergeseran
ketika inovasi berubah menjadi
pengalihan.
Siklus Pembangunan Bangsa
Di seluruh dunia, ketika negara
berkembang mulai mengalami
pertumbuhan, ada periode inovasi.
Biasanya ditandai dengan kemajuan
dalam bidang kedokteran dan
peningkatan ketersediaan lapangan
kerja. Orang-orang umumnya menjadi
lebih bahagia selama masa ini.
Tapi begitu sebuah negara mencapai
status dunia pertama, tingkat
kebahagiaan cenderung mendatar dan
bahkan menurun, sementara tingkat
depresi dan kecemasan meningkat.
Kenapa? Karena inovasi berubah
menjadi pengalihan.
Pengiklan mulai memangsa
ketidakamanan konsumen dan
menjual hal-hal yang sebenarnya
tidak kita butuhkan. Bisnis suka
mengatakan bahwa ini hanya
“memberi apa yang diinginkan orang”.
Di Amerika Serikat, fakta bahwa
supermarket memiliki banyak pilihan
sereal sarapan bahkan dianggap
sebagai tanda betapa besarnya
kebebasan yang ada.
Dan lebih banyak kebebasan
seharusnya sama dengan lebih
banyak kebahagiaan, kan?
Paradoks Pilihan
Tapi seringkali, ketika Anda memiliki
lebih banyak pilihan, yang Anda miliki
sebenarnya hanyalah lebih banyak
pengalihan. Dan ini justru bisa
mengarah pada lebih sedikit
kebebasan.
Dengan melimpahnya pengalihan yang
kita miliki sekarang, kita menjadi
terobsesi menggunakan teknologi untuk
membuat hal-hal lebih mudah
dilakukan. Tapi kita juga
mengembangkan perilaku kompulsif
baru dalam cara kita menggunakan
teknologi, yang justru mengurangi
kebebasan kita.
Contoh Sehari-hari
Ponsel pintar seharusnya memberi kita
kebebasan untuk bekerja dari mana saja.
Tapi akibatnya? Kita jadi tidak pernah
benar-benar lepas dari pekerjaan.
Notifikasi email masuk 24/7, grup
WhatsApp kerja ngechat tengah malam,
dan kita merasa bersalah kalau tidak
segera merespon.
Media sosial seharusnya memberi kita
kebebasan untuk terhubung dengan
siapa saja. Tapi akibatnya? Kita jadi
terobsesi dengan jumlah likes,
comments, dan followers. Harga diri
kita ditentukan oleh validasi online,
dan kita merasa cemas kalau tidak
update dalam beberapa jam.
Aplikasi kencan seharusnya memberi
kita kebebasan memilih pasangan.
Tapi akibatnya? Kita jadi punya ilusi
bahwa selalu ada opsi yang lebih baik,
sehingga sulit berkomitmen. Kita terus
swipe mencari yang “sempurna”,
padahal yang dicari mungkin tidak ada.
Belanja online seharusnya memberi
kita kebebasan berbelanja dari rumah.
Tapi akibatnya? Kita jadi boros, punya
banyak barang yang tidak benar-benar
dibutuhkan, dan merasa gelisah kalau
tidak belanja dalam beberapa waktu.
Apa Itu Kebebasan Sejati?
Kebebasan sejati justru datang dari
mengurangi hal-hal dalam hidup
Anda. Seperti ketika Anda menghapus
akun media sosial untuk membebaskan
waktu dan perhatian Anda. Atau ketika
Anda mematikan notifikasi agar bisa
fokus pada pekerjaan yang berarti. Atau
ketika Anda membatasi pilihan agar
tidak terus-menerus dilanda kebimbangan.
Ketika rasa kesejahteraan Anda menjadi
tergantung pada gangguan, kenyamanan
materi, dan teknologi yang tidak perlu,
Anda sebenarnya bergerak ke arah yang
berlawanan dari kebebasan.
Rangkuman: Yang Bisa Kita
Lakukan
Dari bab ini, kita belajar beberapa
hal penting:
Pengejaran kebahagiaan
mengancam demokrasi karena
membuat kita tidak toleran
terhadap ketidaknyamanan dan
perbedaan pendapat yang justru
diperlukan demokrasi.Kebahagiaan itu sia-sia dikejar
karena kita cepat beradaptasi
dengan hal baik (adaptasi hedonis)
dan kita akan selalu mencari masalah
baru meskipun masalah lama hilang
(efek titik biru).Inovasi telah berubah menjadi
pengalihan yang justru
mengurangi kebebasan kita,
membuat kita tergantung pada
teknologi dan gangguan yang
tidak perlu.Kebebasan sejati datang dari
pengurangan, bukan
penambahan. Dari membatasi,
bukan memperbanyak pilihan.
Jadi, apa solusinya? Mungkin bukan
dengan berhenti berharap sama sekali,
tapi dengan menggeser fokus dari
“mengejar kebahagiaan” ke “menjalani
hidup dengan penuh kesadaran dan
prinsip.”
Mungkin dengan menerima bahwa
hidup ini memang tidak nyaman, dan
justru dari ketidaknyamanan itulah
kita tumbuh.
Seperti kata Nietzsche: “What doesn’t
kill me makes me stronger.”
Tapi kita bisa memodifikasinya:
“What doesn’t kill me
(dan bahkan yang membuat saya
tidak nyaman)
bisa membuat saya lebih dewasa,
lebih toleran, dan lebih bebas.”
