Apa yang Harus Anda Investasikan
Setelah memahami mengapa Anda
perlu berinvestasi, muncul
pertanyaan besar berikutnya:
š Kalau begitu, di mana sebaiknya
saya menaruh uang saya?
Nick Maggiulli membuka bab ini
dengan penjelasan yang menenangkan
tidak ada satu jalan tunggal
menuju kekayaan.
Setiap orang punya kondisi berbeda:
penghasilan, tanggungan, waktu, dan
tingkat kenyamanan terhadap risiko.
Karena itu, yang penting bukan
mencari āinvestasi terbaikā, tapi
membangun portofolio yang
seimbang dan sesuai dengan
diri Anda.
Kunci utama, kata Nick, ada pada
prinsip Just Keep Buying:
Teruslah membeli aset-aset produktif
secara konsisten dan jangka panjang.
Mari kita bahas satu per satu jenis aset
yang bisa membangun kekayaan.
1ļøā£ Saham: Kepemilikan Bisnis
yang Bekerja untuk Anda
Ketika Anda membeli saham, Anda
sebenarnya membeli sebagian
kepemilikan sebuah perusahaan.
Selama perusahaan tumbuh dan
untung, Anda juga ikut menikmati
hasilnya baik lewat dividen maupun
kenaikan harga saham (capital gain).
Nick mengutip riset yang mempelajari
pasar saham di 16 negara dari
tahun 1900ā2006.
Hasilnya menakjubkan: meskipun
dunia mengalami dua perang besar
dan Depresi Besar, semua negara
itu tetap memberikan imbal
hasil positif dalam jangka
panjang.
- Swedia: rata-rata 8% per tahun
- Amerika Serikat: 6,8%
- Belgia (terendah): 2,7%
Itu artinya, pasar saham selalu
pulih dari krisisĀ asalkan Anda
sabar dan tidak panik ketika
pasar turun.
Namun, saham punya sisi
emosional yang berat.
Secara historis:
- Harga saham pernah turun
50% dua kali setiap 100 tahun, - Turun 30% setiap empat tahun,
- Dan turun 10% hampir setiap
tahun.
Jadi jangan heran kalau portofolio
Anda kadang āberdarahā.
Yang penting bukan menebak kapan
harga naik, tapi bertahan dan
terus membeli di masa turun
karena waktu adalah teman terbaik
investor jangka panjang.
š” Nick menyarankan pemula untuk
berinvestasi lewat index fund atau
ETF (Exchange Traded Fund),
bukan memilih saham satu per satu.
Dengan membeli misalnya S&P 500
Index Fund, Anda otomatis memiliki
sebagian kecil dari 500 perusahaan
besar di Amerika.
Atau dengan Total World Index
Fund, Anda bisa ikut memiliki ribuan
perusahaan di seluruh dunia tanpa
perlu memilih satu per satu.
2ļøā£ Obligasi: Aset Aman yang
Menjaga Keseimbangan
Kalau saham adalah alat tumbuh,
maka obligasi adalah sabuk
pengaman.
Dengan membeli obligasi, Anda
meminjamkan uang kepada
pemerintah atau perusahaan
untuk jangka waktu tertentu.
Sebagai imbalannya, Anda
mendapat bunga (kupon) tetap
hingga jatuh tempo.
Contoh sederhana:
- Anda membeli obligasi
Rp10 juta dengan bunga
10% per tahun. - Setiap tahun Anda mendapat
Rp1 juta bunga. - Setelah masa jatuh tempo
berakhir, Rp10 juta pokok
Anda dikembalikan.
Obligasi bisa dikeluarkan oleh:
- Pemerintah pusat
(misalnya Surat Utang Negara), - Pemerintah daerah
(obligasi daerah), - Perusahaan
(corporate bond), atau - Pemerintah asing.
Karena pemerintah punya kemampuan
āmencetak uangā, obligasi negara
biasanya paling aman.
Namun, imbal hasilnya juga lebih
rendah dibanding saham.
Rata-rata, obligasi hanya memberikan
2ā4% per tahun, tapi nilainya jarang
anjlok parah seperti saham.
š Misalnya saat pandemi
COVID-19 tahun 2020,
portofolio yang hanya berisi saham
(100% saham) jatuh sangat dalam.
Tapi portofolio yang berisi
80% saham + 20% obligasi
turun lebih ringan.
Dan kombinasi 60% saham + 40%
obligasi jauh lebih stabil.
Inilah sebabnya obligasi penting
untuk keseimbangan dan
ketenangan psikologis.
Selain itu, ketika darurat misalnya
kehilangan pekerjaan Anda bisa
menjual obligasi tanpa rugi besar,
karena nilainya lebih stabil.
Nick juga menyarankan agar tidak
repot membeli satu per satu, tapi
lewat ETF obligasi atau reksa
dana indeks obligasi.
Dengan begitu, Anda dapat
keuntungan bunga sekaligus
diversifikasi.
3ļøā£ Properti: Aset Nyata yang
Bisa Dipegang
Investasi properti adalah cara klasik
membangun kekayaan.
Sewakan rumah, apartemen, atau
ruko penyewa akan membantu Anda
membayar cicilan, sementara nilai
properti biasanya naik dari tahun
ke tahun.
Jika Anda memanfaatkan pinjaman,
itulah yang disebut leverage.
Contohnya:
- Anda punya modal Rp100 juta,
- Lalu membeli properti senilai
Rp500 juta dengan pinjaman
Rp400 juta.
Jika harga properti naik
menjadi Rp600 juta,
Anda bisa menjualnya, melunasi
pinjaman, dan masih memegang
Rp200 juta dua kali lipat
dari modal awal.
Namun, leverage adalah pedang
bermata dua āļø.
Jika harga properti turun menjadi
Rp400 juta,
Anda kehilangan seluruh modal
Rp100 juta.
Karenanya, pastikan Anda tahu
risiko dan punya dana darurat
yang cukup.
Properti juga tidak sepraktis saham
atau obligasi.
Anda harus mengurus penyewa,
pajak, perbaikan, bahkan kadang
menghadapi masa kosong tanpa
penyewa.
Jadi meski imbal hasilnya tinggi
(12ā15% per tahun), usaha dan
waktunya juga besar.
4ļøā£ REITs: Punya Properti
Tanpa Pusing Kelola
Bagi yang ingin menikmati hasil dari
properti tapi tak ingin repot, ada
solusi bernama REIT (Real Estate
Investment Trust)Ā semacam
āreksa dana propertiā.
Dengan membeli unit REIT, Anda
ikut memiliki sebagian dari
perusahaan yang memiliki dan
mengelola gedung, apartemen,
atau pusat perbelanjaan.
Sebagai imbalannya, Anda
menerima dividen rutin dari
keuntungan sewa.
Kelebihannya, REIT wajib
membagikan 90% labanya
kepada investor, jadi hasilnya
cenderung stabil.
Anda bisa membeli REIT yang
berfokus pada properti perumahan,
kantor, ritel, atau gudang logistik.
Namun, seperti saham, harga
REIT juga bisa naik-turun.
Saat ekonomi lesu, penyewa
berkurang, dan harga REIT bisa
ikut jatuh.
Oleh karena itu, REIT dianggap aset
berisiko menengah di antara saham
dan properti langsung.
Nick menyarankan untuk membeli
REIT index fund, karena memberi
diversifikasi lebih luas dan mudah
diakses oleh semua orang, bahkan
dari platform daring.
5ļøā£ Perbandingan Aset dan
Imbal Hasilnya
| Jenis Aset | Potensi Imbal Hasil Tahunan | Risiko | Catatan Utama |
|---|---|---|---|
| Saham | 8ā10% | Tinggi | Cocok untuk jangka panjang, tahan volatilitas |
| Obligasi | 2ā4% | Rendah | Memberi stabilitas dan likuiditas |
| Properti | 12ā15% | Sedangātinggi | Butuh waktu dan tenaga lebih |
| REITs | 10ā12% | Menengah | Mudah diakses, hasil stabil dari dividen |
| Bisnis kecil / Franchise | 20ā25% | Sangat tinggi | Potensi besar tapi penuh risiko |
| Lahan pertanian | 7ā9% | Sedang | Cocok untuk diversifikasi & lindung inflasi |
| Royalti (musik, buku, paten) | 5ā20% | Bervariasi | Pendapatan pasif berkelanjutan |
| Kripto, emas, seni | Tidak pasti | Sangat tinggi | Spekulatif, bukan aset penghasil pendapatan |
catatan diluar buku
(tambahan dari saya)
1. Bisnis Kecil & Franchise
Kalau kamu buka usaha kecil
misalnya kedai kopi atau
warung makanan keuntungannya
bisa berputar dan ditanam lagi
untuk memperbesar usaha.Prinsipnya sama seperti bunga
majemuk: keuntungan
diinvestasikan kembali
untuk menambah modal.Misal: laba Rp10 juta/bulan,
sebagian dipakai buka cabang
kecil. Beberapa tahun kemudian,
keuntungannya berlipat bukan
karena āajaibā, tapi karena
hasilnya ikut menghasilkan.
2. Lahan Pertanian & Properti
Lahan dan properti bisa tumbuh
nilainya karena inflasi dan
permintaan.Contohnya: tanah di pinggiran
kota dulu Rp100 ribu/m²,
sekarang bisa Rp1 juta/m².Selain itu, lahan juga bisa
menghasilkan pendapatan rutin
(misalnya hasil panen, sewa,
atau kontrakan).Ini disebut capital gain + passive
income kombinasi yang bikin
nilainya berlipat dalam jangka
panjang.
3. Royalti (Musik, Buku, Paten,
Digital)
Sekali menciptakan karya (lagu,
buku, desain, aplikasi), kamu
bisa terus menerima penghasilan
setiap kali orang lain membeli
atau menggunakannya.Ini bentuk aset intelektual
Ā tumbuh bukan karena bunga,
tapi karena karya itu ābekerja
untukmuā tanpa kamu harus
aktif lagi.Misalnya lagu hits yang diputar
terus di platform digital ā setiap
streaming menambah sedikit
uang ā lama-lama jadi besar.
4. Kripto & Aset Digital
Bitcoin, Ethereum, dan aset
digital lain nilainya juga bisa
naik karena mekanisme pasar
dan kelangkaan.Tapi risikonya tinggi karena
harganya sangat fluktuatif.Untuk jangka panjang, beberapa
investor menganggap kripto
seperti āemas digitalā
penyimpan nilai alternatif
ketika uang fiat melemah karena
inflasi.
5. Emas, Koleksi, dan Seni
Emas adalah penyimpan nilai
klasik: stabil, tahan inflasi, tapi
pertumbuhannya lambat
(rata-rata 2ā4% per tahun).Koleksi seni, barang antik, atau
koleksi langka bisa meningkat
nilainya karena kelangkaan
dan permintaan.Namun perlu pengetahuan
khusus agar tahu mana yang
berpotensi naik, bukan hanya
āhobi mahalā.
⨠Kesimpulan: Bangun
Kekayaan dengan Konsistensi,
Bukan Keberuntungan
Tidak ada satu investasi ajaib yang
cocok untuk semua orang.
Setiap aset punya kelebihan dan
kelemahan, dan tugas Anda
adalah membangun kombinasi
yang seimbang.
Kuncinya bukan menebak pasar,
tapi konsistensi membeli aset
produktif setiap bulan apa pun
kondisi pasar.
Itulah makna sejati dari
Just Keep Buying.
Inti pesan buku Just Keep Buying
sederhana tapi kuat: jangan
menunggu waktu sempurna untuk
mulai berinvestasi cukup terus
membeli aset produktif secara rutin.
Di situlah kekuatan membangun
kekayaan sebenarnya.
