embun hijrahku

Jumlah Ismiyyah dengan Khabar Majemuk

Jumlah Ismiyyah dengan Khabar Majemuk

jumlah ismiyyah terdiri dari 2 unsur, yaitu mubtada dan khabar.

Dalam penggunaannya sehari-hari, khabar tidak selalu dalam

keadaan tunggal seperti pada contoh
زَيْدٌ مُدَرِّسٌ
فَاطِمَةُ طَالِبَةٌ
Semua khabar di atas terlihat sederhana karena memang

khabarnya tunggal. Kata yang ada setelah mubtada dan dalam

keadaan marfu’ maka sudah pasti ia menjadi khabarnya.

Namun, banyak sekali khabar yang kita temukan dalam

Al Quran atau Hadits yang tidak tunggal, contohnya:

وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan Allah memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya

kepada jalan yang lurus.” (Al Baqarah: 213)

Dalam ayat di atas, lafal Allah adalah mubtada,

sedangkan khabarnya adalah “يَهْدِيْ” beserta fa’il dan mafulnya.

Artinya yang menjadi khabar bukan hanya 1 kata saja melainkan

keseluruhan kata yang menjelaskan tentang keadaan mubtada.

Karena memang khabar ada dua:

1. Khabar Mufrad (Tunggal)

Dinamakan khabar mufrad karena memang khabarnya hanya satu

kata sederhana

2. Khabar Ghairu Mufrad (Majemuk)

Ini adalah kelompok khabar yang majemuk karena khabarnya bukan

hanya satu kata melainkan dua kata atau lebih yang merupakan frasa

atau bahkan kalimat sempurna. Sehingga ada mubtada yang khabarnya

merupakan “mubtada khabar” atau bahkan khabarnya “fi’il dan fa’il”.

Khabar ghairu mufrad ada empat:

1. Jar dan Majrur

Contohnya:

زَيْدٌ فِي الدَّارِ
(Zaid di rumah)

2. Dzharaf

Contohnya:

زَيْدٌ أَمَامَ البَيْتِ
(Zaid di depan rumah)

3. Mubtada Khabar

Contohnya:

زَيْدٌ أُمُّهُ مُدَرِّسَةٌ
(Zaid itu ibunya seorang guru)

4. Fi’il dan Fa’il:

Contohnya:

زَيْدٌ قَامَ أَبُوْهُ
(Zaid itu berdiri bapaknya)

Ketika kita menemukan jumlah ismiyyah yang khabarnya

ghairu mufrad, maka yang menjadi khabar bukan hanya satu kata,

melainkan keseluruhan kata yang memiliki makna yang utuh.

Contohnya:

زَيْدٌ فِي الدَّارِ

Zaid di dalam rumah

Maka kalimat di atas, khabarnya bukan hanya “فِي” saja

atau ” الدَّارِ” saja melainkan keseluruhan makna dari “فِيْ الدَّارِ”.

Oleh karena itu kita katakan bahwa khabarnya adalah

jar majrur “فِيْ الدَّارِ”. Begitu juga dengan contoh:

زَيْدٌ قَامَ أَبُوهُ

Zaid itu telah berdiri bapaknya

Maka khabarnya bukan hanya “قَامَ” saja atau “أَبُوْهُ” saja melainkan

keseluruhan makna dari “قَامَ أَبُوهُ”. Oleh karena itulah khabar yang

semacam ini disebut dengan khabar ghairu mufrad karena yang

menjadi khabar bukan kata tunggal melainkan rangkaian dari

beberapa kata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *