Trauma Bonding Creation: Mengapa Ikatan yang Menyakitkan Justru Terasa Sulit Dilepaskan
Pernahkah Anda melihat seseorang
yang bertahan dalam hubungan
yang jelas-jelas menyakitkan?
Atau mungkin Anda sendiri pernah
mengalaminya. Anda tahu hubungan
itu buruk. Anda tahu Anda sering
disakiti. Tetapi Anda tetap tinggal.
Anda tetap berharap. Anda tetap
mencintai. Anda bingung mengapa
Anda tidak bisa pergi. Inilah yang
disebut Trauma Bonding.
Trauma bonding adalah ikatan
emosional yang kuat yang terbentuk
antara korban dan pelaku,
bukan karena cinta yang sehat,
tetapi karena siklus kekerasan dan
hadiah yang bercampur aduk.
Pelaku kadang menyakiti, kadang
manis. Kadang membuat Anda
hancur, kadang membuat Anda
merasa diselamatkan. Campuran
rasa sakit dan rasa lega itulah yang
membuat Anda terikat. Anda tidak
bisa lepas, bukan karena Anda
bahagia. Tetapi karena Anda
kecanduan pada momen-momen
baik yang jarang itu.
Konsep ini masih nyambung dengan
Intermittent Reinforcement
Addiction dan Love Bombing
and Withdrawal yang pernah
dibahas sebelumnya. Bedanya, kalau
Intermittent Reinforcement lebih
ke pola hadiah acak, Trauma Bonding
lebih ke ikatan emosional yang
terbentuk dari siklus sakit dan lega.
Trauma bonding lebih dalam karena
sudah menyentuh identitas dan
rasa aman.
Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Siklus Sakit dan Lega
Menciptakan Ikatan yang Kuat
Eksperimen Seligman dan
Maier (1967): Learned
Helplessness
Martin Seligman dan Steven Maier
melakukan eksperimen yang sangat
terkenal tentang bagaimana makhluk
hidup merespons rasa sakit yang
tidak bisa dihindari. Eksperimen ini
menjadi dasar pemahaman kita
tentang trauma bonding.
Dalam eksperimen ini, anjing
ditempatkan di dalam kandang yang
dibagi menjadi dua ruangan oleh
penghalang rendah. Anjing bisa
melompati penghalang itu untuk
berpindah ruangan.
Pada fase pertama, anjing diberi
kejutan listrik secara acak. Kejutan itu
datang tanpa peringatan. Anjing tidak
bisa menghindar. Tidak ada tombol
untuk mematikan. Tidak ada tempat
aman. Anjing itu hanya bisa
menahan sakit.
Pada fase kedua, aturannya diubah.
Sebelum kejutan datang,
sebuah lampu menyala. Jika anjing
melompati penghalang saat lampu
menyala, ia bisa menghindari
kejutan. Anjing yang sehat akan
belajar melompat.
Tetapi apa yang terjadi pada anjing
yang sudah mengalami fase pertama?
Sebagian besar dari mereka tidak
melompat. Mereka duduk pasrah.
Mereka merengek. Mereka menahan
kejutan itu tanpa berusaha
menghindar. Mereka sudah belajar
bahwa tidak ada gunanya melawan.
Dialog setelah eksperimen:
Peneliti: “Kenapa anjing ini tidak
melompat? Padahal dia bisa
menghindari kejutan.”
Asisten: “Dia sudah belajar bahwa
kejutan itu tidak bisa dihindari.
Jadi dia menyerah.”
Peneliti: “Apakah dia tidak melihat
lampu itu?”
Asisten: “Dia melihat. Tapi dia
tidak percaya bahwa melompat
akan membantu.”
Peneliti: “Bagaimana dengan
anjing yang tidak pernah
mengalami fase pertama?”
Asisten: “Mereka langsung
melompat. Mereka belajar
dengan cepat.”
Seligman menyimpulkan bahwa
ketika seseorang atau hewan
mengalami rasa sakit yang tidak
bisa dikendalikan, mereka belajar
untuk pasrah. Mereka kehilangan
motivasi untuk melawan.
Ini disebut learned helplessness.
Dalam konteks trauma bonding,
fase pertama adalah siklus kekerasan
yang tidak bisa dihindari.
Korban merasa tidak ada jalan keluar.
Fase kedua adalah momen-momen
manis yang datang sesekali. Korban
sudah pasrah, tetapi ketika pelaku
menjadi manis, ia merasakan lega
yang luar biasa. Lega itu menjadi
hadiah yang mengikat. Korban tidak
melompat karena ia tidak percaya
bahwa melompat akan
membebaskannya.
Eksperimen Dutton dan
Painter (1981):
The Cycle of Violence
Donald Dutton dan Susan Painter
dari University of British Columbia
melakukan penelitian tentang pola
kekerasan dalam hubungan. Mereka
mewawancarai banyak korban
kekerasan dalam rumah tangga dan
menemukan pola yang konsisten.
Pola itu terdiri dari tiga fase.
Fase pertama, tension building.
Ketegangan meningkat. Pelaku mulai
mudah tersinggung. Korban mulai
merasa waspada. Ia berusaha
menyenangkan pelaku. Ia berusaha
menghindari konflik.
Fase kedua, acute explosion.
Ketegangan meledak. Pelaku
melakukan kekerasan, baik fisik,
verbal, atau emosional. Korban
mengalami luka atau trauma.
Fase ketiga, honeymoon phase.
Setelah ledakan, pelaku berubah.
Ia menyesal. Ia meminta maaf.
Ia berjanji tidak akan mengulangi.
Ia memberi hadiah. Ia menjadi
sangat manis. Korban merasa lega.
Ia merasa bahwa pelaku
benar-benar berubah.
Ia memaafkan. Ia bertahan.
Dialog antara peneliti dan korban:
Peneliti: “Apa yang membuat Anda
bertahan setelah kejadian itu?”
Korban: “Setelah dia marah, dia selalu
datang dengan bunga. Dia nangis.
Dia bilang dia nggak bisa hidup tanpa
aku. Aku luluh. Aku pikir dia
benar-benar berubah.”
Peneliti: “Apakah dia benar-benar
berubah?”
Korban: “Nggak. Seminggu kemudian,
dia marah lagi. Tapi di saat dia manis,
aku lupa semua yang sakit.”
Peneliti: “Apakah Anda merasa
kecanduan?”
Korban: “Iya. Aku nunggu-nunggu
momen manisnya. Aku rela melewati
sakitnya buat dapet momen itu.”
Dutton dan Painter menyimpulkan
bahwa siklus kekerasan menciptakan
ikatan yang kuat. Fase honeymoon
bukanlah bukti cinta. Itu adalah
bagian dari siklus. Momen manis
itu adalah umpan yang membuat
korban bertahan. Tanpa fase
honeymoon, korban mungkin lebih
mudah pergi. Tetapi dengan adanya
fase itu, korban terus berharap.
Eksperimen van der Kolk (2014):
The Body Keeps the Score
Bessel van der Kolk, seorang psikiater
trauma, melakukan penelitian tentang
bagaimana trauma memengaruhi
tubuh dan otak. Ia menemukan bahwa
trauma tidak hanya tersimpan
di pikiran, tetapi juga di tubuh.
Dalam penelitiannya, van der Kolk
mengamati bahwa korban trauma
sering kali mengalami hyperarousal,
yaitu kondisi waspada berlebihan.
Mereka juga mengalami dissociation,
yaitu kondisi ketika mereka merasa
terputus dari tubuh dan emosi mereka.
Van der Kolk menemukan bahwa
ketika korban trauma bertemu dengan
pelaku yang menjadi manis, tubuh
mereka mengalami pelepasan
hormon stres yang diikuti oleh
pelepasan hormon relaksasi.
Campuran ini menciptakan rasa lega
yang sangat kuat. Rasa lega itu
kemudian terikat pada pelaku.
Korban merasa bahwa hanya pelaku
yang bisa memberikan rasa lega itu.
Padahal pelaku juga sumber stresnya.
Dialog setelah sesi terapi:
Terapis: “Apa yang Anda rasakan saat
dia menjadi manis?”
Klien: “Aku merasa seperti baru
diselamatkan. Aku merasa dia
satu-satunya orang yang bisa
bikin aku tenang.”
Terapis: “Apakah Anda sadar bahwa
dia juga sumber ketegangan Anda?”
Klien: “Iya. Tapi di momen itu, aku
nggak peduli. Aku cuma mau rasa
lega itu.”
Van der Kolk menyimpulkan bahwa
trauma bonding bukanlah pilihan
sadar. Itu adalah respons fisiologis.
Tubuh belajar bahwa pelaku adalah
sumber rasa aman setelah rasa sakit.
Dan tubuh terus mencari rasa aman
itu, bahkan jika harus melewati
rasa sakit lagi.
Mengapa Trauma Bonding
Begitu Efektif?
Otak Anda mencari keseimbangan.
Saat Anda disakiti, Anda stres.
Saat pelaku kembali manis, Anda
lega. Rasa lega itu terasa jauh lebih
kuat daripada jika Anda tidak
pernah disakiti. Jadi Anda mulai
mengaitkan pelaku dengan rasa
aman. Dia yang membuat Anda
sakit, dia juga yang membuat Anda
sembuh. Dan Anda lupa bahwa dia
adalah sumber luka itu sendiri.
Siklus ini menciptakan kecanduan
emosional. Anda tidak kecanduan
pada rasa sakitnya. Anda kecanduan
pada rasa lega setelah sakit.
Anda menunggu momen manis itu.
Anda rela melewati apa pun untuk
mendapatkannya. Dan setiap kali
Anda mendapatkannya, ikatan itu
semakin kuat.
Trauma bonding juga menciptakan
keraguan pada diri sendiri.
Anda mulai berpikir,
“Mungkin aku yang salah. Mungkin
aku yang terlalu sensitif. Mungkin
dia sebenarnya baik.”
Keraguan ini membuat Anda tidak
bisa mengambil keputusan. Anda
terjebak dalam lingkaran yang tidak
pernah selesai.
Tiga Fase Trauma Bonding
Creation: Kisah Rina dan Raka
Untuk memahami cara kerja trauma
bonding, kita akan mengikuti kisah
Rina. Ia menjalin hubungan dengan
Raka selama dua tahun.
Fase 1: Ketegangan Meningkat
Di awal hubungan, Raka sangat
perhatian. Tetapi setelah enam
bulan, ia mulai sering marah.
Ia marah jika Rina tidak membalas
pesannya dengan cepat. Ia marah
jika Rina keluar dengan
teman-temannya. Ia marah jika
Rina tidak menuruti keinginannya.
Rina: “Aku nggak ngerti.
Dulu kamu nggak kayak gini.”
Raka: “Aku cuma sayang kamu.
Aku nggak mau kamu jauh dari aku.”
Rina merasa tidak nyaman. Tetapi ia
mencoba memahami. Ia mengurangi
waktu dengan teman-temannya.
Ia lebih sering di rumah. Ia berusaha
menyenangkan Raka.
Fase 2: Ledakan
Suatu malam, Rina pulang terlambat
dari kantor. Raka sudah menunggu
di rumah. Ia sangat marah.
Raka: “Kamu dari mana?
Kenapa nggak angkat telepon?”
Rina: “Aku meeting. Maaf,
aku nggak dengar.”
Raka: “Bohong! Kamu pasti
ketemu orang lain!”
Raka membanting gelas ke lantai.
Ia berteriak. Ia memanggil Rina
dengan kata-kata kasar. Rina
menangis. Ia ketakutan. Ia mencoba
menjelaskan, tetapi Raka tidak mau
mendengar.
Rina: “Aku nggak ngapa-ngapain.
Tolong percaya aku.”
Raka: “Percaya? Kamu udah
ngerusak kepercayaan aku!”
Raka pergi ke kamar dan membanting
pintu. Rina duduk di lantai,
gemetar. Ia merasa hancur.
Fase 3: Bulan Madu
Keesokan paginya, Raka keluar dari
kamar. Wajahnya berubah.
Ia memeluk Rina. Ia menangis.
Raka: “Maaf. Aku nggak bermaksud.
Aku cuma takut kehilangan kamu.
Aku sayang banget sama kamu.
Kamu satu-satunya yang aku punya.”
Rina luluh. Ia melihat bunga di meja.
Raka sudah membelikannya.
Ia melihat Raka yang menyesal.
Ia melihat Raka yang manis.
Rina: “Aku juga minta maaf.
Aku nggak akan pulang telat lagi.”
Raka: “Kamu nggak salah.
Aku yang salah. Maafin aku.”
Rina memaafkan. Ia merasa lega.
Ia merasa bahwa Raka benar-benar
berubah. Ia merasa bahwa hubungan
mereka akan baik-baik saja. Tetapi
seminggu kemudian,
Raka marah lagi. Ledakan terjadi
lagi. Dan setelah itu, bulan madu
terjadi lagi.
Siklus itu berputar terus. Rina
semakin bingung. Ia semakin terikat.
Ia semakin tidak bisa pergi.
Setiap kali ia ingin pergi, Raka
menjadi sangat manis. Setiap kali ia
memutuskan bertahan, Raka
meledak lagi. Rina terjebak dalam
ikatan yang menyakitkan, tetapi ia
tidak bisa melepaskan.
Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal
1. Hubungan Romantis
Maya dan Doni sudah berpacaran
selama tiga tahun. Doni sering
marah dan merendahkan Maya.
Tetapi setelah itu, ia selalu
menyesal dan menjadi sangat
manis.
Doni: “Maaf ya aku marah. Aku cuma
khawatir sama kamu. Kamu tahu kan
aku sayang?”
Maya: “Iya, aku tahu.”
Doni: “Besok kita jalan ya. Aku traktir
makan enak.”
Maya merasa lega. Ia melupakan
sakitnya. Ia mengira Doni
benar-benar berubah. Tetapi dua
minggu kemudian, Doni marah
lagi.
2. Hubungan Orang Tua dan
Anak
Bima sering dipukul oleh ayahnya
saat kecil. Tetapi ayahnya juga
sering membelikannya mainan.
Ayah: “Ini hadiah buat kamu.
Kamu anak yang baik.
Papa sayang sama kamu.”
Bima: “Makasih, Pa.”
Bima bingung. Ia membenci ayahnya
karena memukul. Tetapi ia juga
merindukan momen-momen manis
itu. Hingga dewasa, ia sulit
melepaskan diri dari pengaruh
ayahnya.
3. Pertemanan
Sari dan Rina bersahabat. Rina sering
merendahkan Sari di depan
orang lain. Tetapi setelah itu, Rina
selalu mengirim pesan panjang
yang manis.
Rina: “Maaf ya tadi aku ngomong
kasar. Aku cuma nggak mau kamu
salah jalan. Kamu sahabat
terbaikku.”
Sari: “Iya, aku ngerti.”
Sari merasa lega. Ia mengira Rina peduli. Padahal Rina hanya mengulang siklus. Sari terus bertahan, karena ia menunggu momen manis itu.
4. Hubungan Kerja
Bima memiliki atasan yang sering
memarahinya di depan tim. Tetapi
atasan itu juga sering memberinya
proyek bagus dan memujinya
di depan klien.
Atasan: “Bima, kamu adalah orang
paling andal di tim ini. Aku percaya
sama kamu.”
Bima: “Terima kasih, Pak.”
Bima bingung. Ia merasa tidak
nyaman dengan kemarahan
atasannya. Tetapi ia juga merasa
dihargai. Ia bertahan dalam
pekerjaan itu, meskipun ia sering
merasa tertekan.
Cara Melindungi Diri dari
Trauma Bonding Creation
Jika Anda merasa terjebak dalam
trauma bonding, ada beberapa
langkah yang bisa dilakukan.
Pertama, sadari siklusnya.
Jika Anda merasa selalu ditarik-tarik
oleh orang yang kadang menyakiti,
itu tanda bahaya. Perhatikan apakah
ada pola ketegangan, ledakan,
dan bulan madu.
Kedua, jangan percaya pada
momen manisnya.
Momen manis itu bukan bukti cinta.
Itu umpan. Itu bagian dari siklus.
Cinta yang sehat tidak memerlukan
siklus sakit dan lega.
Ketiga, cari bantuan.
Trauma bonding sangat sulit
dilepaskan sendirian. Anda butuh
teman, keluarga, atau terapis.
Ceritakan apa yang Anda alami.
Jangan simpan sendiri.
Keempat, ingat bahwa cinta yang
sehat tidak membuat Anda
bingung.
Jika Anda harus terus-menerus
menebak, terus-menerus berharap,
terus-menerus menunggu momen
manis, itu bukan cinta. Itu ikatan
yang salah.
Kelima, buat rencana keluar.
Jangan pergi secara impulsif.
Buat rencana yang matang.
Kumpulkan dukungan.
Siapkan tempat aman. Lalu pergi
dengan tenang.
Trauma bonding adalah ikatan yang
sangat kuat karena ia menyentuh
rasa aman Anda. Pelaku membuat
Anda sakit, lalu ia juga yang
membuat Anda lega.
Anda mengaitkan dia dengan rasa
aman, padahal dia sumber rasa sakit.
Untuk lepas, Anda harus berani
melihat talinya, bukan hanya
merasakan kendor-kencengnya.
Anda harus berani mengakui bahwa
momen manis itu adalah bagian
dari perangkap. Dan Anda harus
berani memilih diri sendiri,
meskipun itu berarti melepaskan
satu-satunya sumber lega yang
Anda kenal.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya Trauma Bonding
Creation.
Sebelum gue jelasin lebih jauh,
gue mau kasih tau dulu.
Ini sebenarnya bukan teknik yang
persis sama dengan yang pernah
kita bahas. Tapi konsepnya masih
nyambung banget sama
Intermittent Reinforcement
Addiction dan Love Bombing and
Withdrawal yang pernah dibahas
sebelumnya. Jadi kalau lo udah
paham dua itu, lo bakal gampang
nangkep ini.
Simpelnya, Trauma Bonding
Creation adalah proses di mana
ikatan emosional yang kuat
terbentuk antara korban dan
pelaku, bukan karena cinta yang
sehat, tapi karena siklus kekerasan
dan hadiah yang campur aduk.
Pelaku kadang nyakitin, kadang
manis. Kadang bikin lo hancur,
kadang bikin lo ngerasa
diselamatin. Campuran rasa sakit
dan rasa lega itulah yang bikin lo
terikat. Lo nggak bisa lepas, bukan
karena lo bahagia. Tapi karena lo
kecanduan sama momen-momen
baik yang jarang itu.
Kenapa ini ampuh? Karena otak lo
nyari keseimbangan. Pas lo disakitin,
lo stres. Pas pelaku balik manis,
lo lega. Dan rasa lega itu kerasa jauh
lebih kuat daripada kalau lo nggak
pernah disakitin. Jadi lo mulai
ngaitin pelaku dengan rasa aman.
Dia yang bikin lo sakit, dia juga yang
bikin lo sembuh. Dan lo lupa kalau
dia sumber luka itu sendiri.
Contoh gampangnya gini. Pasangan
lo suka marah-marah, ngejek, atau
bikin lo nangis. Tapi besoknya dia
datang bawa bunga, minta maaf,
dan bilang lo satu-satunya. Lo luluh.
Lo mikir, “Dia sebenernya sayang
kok.” Padahal yang bikin lo nangis
tadi juga dia. Siklus itu muter terus.
Lo makin dalam, makin susah
keluar.
Di keluarga juga bisa. Orang tua
yang keras, suka mukul, suka
ngomel. Tapi sesekali ngasih hadiah
atau pelukan. Anak jadi bingung.
Dia benci tapi juga butuh.
Dan ikatan itu jadi kuat, walau
menyakitkan.
Kalau lo ingat, ini masih nyambung
sama Intermittent Reinforcement
Addiction. Bedanya, kalau
Intermittent Reinforcement
Addiction lebih ke pola hadiah acak,
Trauma Bonding Creation lebih
ke ikatan emosional yang terbentuk
dari siklus sakit dan lega.
Dua-duanya sama-sama bikin korban
susah lepas. Tapi Trauma Bonding ini
lebih dalam karena udah nyentuh
identitas dan rasa aman.
Cara ngelawan Trauma Bonding
Creation. Pertama, sadari siklusnya.
Kalau lo ngerasa selalu ditarik-tarik
sama orang yang kadang nyakitin,
itu red flag. Kedua, jangan percaya
sama momen manisnya. Momen
manis itu bukan bukti cinta.
Itu umpan. Ketiga, cari bantuan.
Trauma bond susah dilepas sendirian.
Lo butuh temen, keluarga, atau
terapis. Keempat, inget, cinta yang
sehat nggak bikin lo bingung.
Kalau lo harus terus-terusan nebak,
itu bukan cinta. Itu ikatan yang salah.
Jadi, Trauma Bonding Creation
itu ibarat lo lagi diikat sama tali yang
kadang dikencengin, kadang
dikendorin. Pas kendor, lo ngerasa
lega. Tapi lo lupa kalau yang megang
tali itu juga yang ngeiket lo dari awal.
Dan lo cuma bisa lepas kalau lo
berani ngeliat talinya, bukan cuma
ngerasain kendor-kencengnya.
Gimana? Mulai kerasa kan kenapa
ikatan kayak gini susah dilepas?
Kalau lo siap lanjut, berikutnya
Emotional Blackmail Patterns.
Ini soal gimana orang pake rasa
bersalah dan takut buat ngontrol lo.
Stay tuned.
