Psikologi

Playing the Victim While Being the Aggressor: Ketika Pelaku Berbalik Menjadi Korban untuk Mengendalikan Anda

Pernahkah Anda menegur seseorang
karena perilakunya menyakitkan,
tetapi justru Anda yang akhirnya
meminta maaf?
Anda datang dengan bukti dan alasan
yang jelas. Anda ingin membicarakan
apa yang salah. Tetapi orang yang
Anda tegur tiba-tiba berubah.
Ia memasang wajah sedih. Matanya
berkaca-kaca. Suaranya bergetar.
Ia berkata, “Kamu tega sekali
mengatakan itu kepadaku.
Aku selama ini sudah berusaha.
Kamu tidak pernah menghargai
aku.”

Anda terdiam. Anda bingung. Anda
lupa apa yang sebenarnya ingin Anda
bicarakan. Anda lupa bahwa Anda
yang disakiti. Anda lupa bahwa Anda
yang punya bukti. Yang tersisa
hanyalah rasa bersalah. Anda
akhirnya meminta maaf. Padahal
Anda hanya membela diri. Inilah
yang disebut 
Playing the Victim
While Being the Aggressor
.

Teknik ini adalah pola manipulasi
di mana pelaku memutarbalikkan
cerita. Ia yang menyerang, tetapi ia
yang menangis. Ia yang salah, tetapi
ia yang mengambek. Ia yang
membuat Anda sakit, tetapi ia yang
berkata Anda kejam. Tujuannya satu,
yaitu membuat Anda lupa pada
kesalahannya dan sibuk mengobati
perasaannya. Anda tidak bisa
menuntut penjelasan karena dia
sudah keburu menjadi korban.

Pola ini dalam psikologi dikenal
sebagai 
DARVO, singkatan dari
Deny, Attack, Reverse Victim and
Offender. Pelaku menyangkal,
menyerang balik, lalu membalik
posisi korban dan pelaku. Anda
yang semula korban, sekarang
terlihat sebagai pelaku. Dia yang
semula pelaku, sekarang terlihat
sebagai korban.

Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Pelaku Bisa Membalik Posisi dan
Mendapat Simpati

Eksperimen Harsey, Zurbriggen,
dan Freyd (2017): DARVO dan
Persepsi Publik

Sarah Harsey, Eileen Zurbriggen, dan
Jennifer Freyd dari University of
Oregon melakukan penelitian
tentang bagaimana DARVO
memengaruhi cara orang menilai
korban dan pelaku. Mereka ingin
menguji apakah pelaku yang
menggunakan DARVO akan lebih
dipercaya dan lebih disimpati.

Dalam eksperimen ini, partisipan
diminta membaca sebuah artikel
berita tentang tuduhan pelecehan.
Artikel itu ditulis dalam dua versi.
Pada versi pertama, pelaku
memberikan respons biasa, seperti
“Saya tidak melakukan itu.”
Pada versi kedua, pelaku
memberikan respons DARVO,
seperti “Saya tidak melakukan itu.
Justru saya yang menjadi korban.
Dia yang menyerang saya.
Dia ingin menghancurkan hidup
saya.”

Setelah membaca, partisipan
diminta menilai beberapa hal.
Seberapa besar mereka
mempercayai korban?
Seberapa besar mereka
menyalahkan korban?
Seberapa besar mereka merasa
simpati kepada pelaku?

Hasilnya, partisipan yang membaca
versi DARVO lebih meragukan
korban. Mereka juga lebih
menyalahkan korban. Sebaliknya,
mereka merasa lebih simpati kepada
pelaku. Mereka melihat pelaku
sebagai orang yang juga menderita.

Dialog antara peneliti dan partisipan:

Peneliti: “Menurut Anda, siapa yang
lebih bisa dipercaya dalam kasus ini?”

Partisipan: “Saya jadi ragu.
Pelakunya bilang dia juga korban.
Mungkin korbannya yang salah
paham.”

Peneliti: “Apakah Anda merasa
simpati kepada pelaku?”

Partisipan: “Iya. Dia terlihat
menderita. Saya tidak tega
menyalahkannya.”

Peneliti: “Padahal Anda tidak
melihat bukti bahwa korban
salah?”

Partisipan: “Iya. Tapi pelakunya
meyakinkan.”

Harsey menyimpulkan bahwa
DARVO adalah strategi yang
efektif untuk mengalihkan
perhatian dari kesalahan pelaku.
Dengan berpura-pura menjadi
korban, pelaku mendapatkan
simpati dan membuat korban
kehilangan kredibilitas.

Eksperimen Gray dan Wegner
(2009): Moral Typecasting

Kurt Gray dan Daniel Wegner dari
Harvard University melakukan
penelitian tentang bagaimana
orang menilai korban dan pelaku.
Mereka menyebut fenomena ini
moral typecasting.
Orang cenderung melihat korban
sebagai pihak yang lebih moral,
lebih murni, dan lebih pantas
dibantu. Sebaliknya, pelaku dilihat
sebagai pihak yang lebih jahat,
lebih mampu, dan lebih pantas
disalahkan.

Dalam eksperimen ini, partisipan
diminta membaca cerita tentang
dua orang. Satu orang menjadi
korban, satu orang menjadi pelaku.
Setelah itu, partisipan diminta
menilai siapa yang lebih baik,
siapa yang lebih menderita, dan
siapa yang pantas mendapat
bantuan.

Hasilnya, partisipan secara konsisten
menilai korban sebagai lebih baik
dan lebih pantas dibantu.
Mereka juga enggan menyalahkan
korban, bahkan ketika korban
melakukan kesalahan kecil.

Dialog setelah eksperimen:

Peneliti: “Siapa yang pantas dibantu
dalam cerita ini?”

Partisipan: “Korbannya. Dia yang
menderita.”

Peneliti: “Bagaimana dengan pelaku?
Apakah dia mungkin juga punya
alasan?”

Partisipan: “Tidak. Pelaku itu jahat.
Tidak ada alasan untuk
perbuatannya.”

Peneliti: “Apakah Anda akan percaya
jika pelaku mengaku sebagai korban?”

Partisipan: “Sulit. Pelaku itu pelaku.
Dia tidak mungkin jadi korban.”

Gray dan Wegner menyimpulkan
bahwa manusia memiliki
kecenderungan untuk memisahkan
peran korban dan pelaku secara
kaku. Korban dianggap baik.
Pelaku dianggap jahat.
Ketika pelaku mengaku sebagai
korban, orang menjadi bingung.
Kebingungan itu dimanfaatkan
oleh pelaku untuk mendapatkan
simpati.

Mengapa Playing the Victim
While Being the Aggressor
Begitu Efektif?

Manusia tidak tega kepada orang
yang terlihat menderita. Begitu ada
yang menangis atau memasang
muka sedih, otak kita langsung
merasa ingin menolong. Apalagi jika
orang itu dekat dengan kita.
Kita lupa marah. Kita lupa sakit hati.
Yang ada kita malah meminta maaf,
padahal kita yang disakiti.

Pola ini juga menciptakan
kebingungan. Anda datang dengan
fakta. Anda ingin membahas
tindakan. Tetapi pelaku mengalihkan
pembicaraan ke perasaannya. Anda
tidak lagi membahas apa yang ia
lakukan. Anda membahas bagaimana
ia merasa. Dan dalam kebingungan
itu, Anda kehilangan fokus.

Pelaku juga memanfaatkan rasa takut
Anda. Anda takut dianggap jahat.
Anda takut dianggap tidak peduli.
Anda takut kehilangan hubungan.
Jadi Anda menuruti. Anda meminta
maaf. Anda mengalah. Dan pelaku
berhasil menghindari
tanggung jawab.

Empat Fase Playing the Victim:
Kisah Rina dan Raka

Untuk memahami cara kerja pola ini,
kita akan mengikuti kisah Rina.
Ia sedang menghadapi masalah
dengan Raka, pasangannya.

Fase 1: Agresi

Raka meminjam uang Rina sebesar
lima juta rupiah. Ia berjanji akan
mengembalikan dalam satu bulan.
Tetapi tiga bulan berlalu, uang itu
tidak kembali. Rina mencoba
menagih dengan sopan.

Rina: “Rak, soal uang yang aku
pinjamkan. Kapan bisa
dikembalikan?”

Raka: “Iya, sebentar lagi. Aku masih
butuh waktu.”

Rina: “Aku juga butuh uangnya.
Ada keperluan.”

Raka: “Kamu ini gimana sih?
Aku sedang susah.
Kamu malah nagih terus.”

Rina merasa tidak nyaman.
Ia hanya menagih haknya.
Tetapi Raka menyerang balik.
Ia membuat Rina merasa
bersalah.

Fase 2: Perlawanan

Rina mencoba bertahan.
Ia menunjukkan bukti transfer.
Ia menunjukkan tanggal janji.

Rina: “Rak, ini bukti transfernya.
Kamu janji bulan lalu.
Aku bukan nagih tanpa alasan.”

Raka: “Jadi kamu tidak percaya aku?
Kamu pikir aku mau kabur?
Kamu tega sekali.”

Rina: “Bukan begitu.
Aku cuma butuh kejelasan.”

Raka: “Kamu tidak pernah mengerti
aku. Kamu hanya peduli uangmu.”

Rina merasa hancur. Ia hanya ingin
uangnya kembali. Tetapi Raka
membalikkan semuanya. Rina yang
menjadi pihak yang tidak pengertian.

Fase 3: Pelaku Menjadi Korban

Raka mulai menangis. Ia menunduk.
Suaranya bergetar.

Raka: “Aku ini sedang banyak
masalah. Kerjaan tidak lancar.
Aku stres. Kamu malah menambah
bebanku. Aku merasa sendirian.
Tidak ada yang peduli.”

Rina terdiam. Ia melihat Raka yang
menangis. Ia lupa bahwa Raka yang
berutang. Ia lupa bahwa Raka yang
ingkar janji. Yang ia lihat hanya
Raka yang menderita.

Rina: “Maaf. Aku tidak bermaksud
menambah bebanmu.”

Raka: “Kamu memang tidak pernah
mengerti aku.”

Rina merasa bersalah. Ia merasa
telah menyakiti Raka. Ia tidak lagi
menagih uangnya. Ia malah
menghibur Raka.

Fase 4: Kepatuhan dan
Kehilangan Kendali

Sejak saat itu, setiap kali Rina
mencoba membahas uang,
Raka akan menangis atau
mengambek. Rina akhirnya
berhenti menagih. Ia bahkan
meminta maaf berkali-kali.
Raka tidak pernah mengembalikan
uangnya. Ia juga tidak pernah
membahasnya lagi.

Rina kehilangan uangnya. Ia juga
kehilangan kendali atas hubungannya.
Raka belajar bahwa dengan menangis
dan berpura-pura menjadi korban,
ia bisa menghindari tanggung jawab.
Pola itu berulang. Setiap kali Rina
ingin menuntut sesuatu, Raka akan
berbalik menjadi korban.

Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal

1. Hubungan Romantis

Maya mengetahui bahwa Doni,
pacarnya, berbohong tentang pergi
dengan teman-temannya. Maya
menemukan bukti bahwa Doni
pergi dengan perempuan lain.
Maya mengonfrontasi Doni.

Maya: “Doni, kamu bilang pergi
dengan teman. Tapi aku lihat
kamu dengan perempuan lain.”

Doni: “Jadi kamu memata-matai aku?
Kamu tidak percaya aku?”

Maya: “Aku tidak memata-matai.
Aku tidak sengaja melihat.”

Doni: “Kamu selalu curiga. Kamu yang
bikin hubungan ini hancur. Aku capek.
Aku sedih. Aku tidak tahu harus
bagaimana.”

Doni mulai menangis. Maya merasa
bersalah. Ia akhirnya meminta maaf.
Doni tidak pernah mengakui
kebohongannya. Ia berhasil
membalik posisi.

2. Tempat Kerja

Bima dikritik oleh atasannya,
Bu Sari, karena laporan yang tidak
akurat. Bima tidak terima.
Ia mengadu ke HR.

Bima: “Bu Sari selalu menekan saya.
Dia mem-bully saya. Saya stres.
Saya tidak bisa tidur.”

HR: “Apakah ada bukti bahwa
Anda dibully?”

Bima: “Saya merasa tertekan.
Itu bukti. Saya korban.”

HR memanggil Bu Sari. Bu Sari
menjelaskan bahwa ia hanya
memberikan koreksi. Tetapi Bima
sudah lebih dulu bermain sebagai
korban. HR menjadi ragu. Bima
berhasil mengalihkan perhatian
dari kesalahannya.

3. Pertemanan

Sari menyebarkan rahasia Rina kepada
orang lain. Rina mengetahui dan
mengonfrontasi Sari.

Rina: “Sar, kenapa kamu ceritakan
rahasiaku?”

Sari: “Aku tidak cerita. Kamu yang
salah paham.”

Rina: “Aku dengar langsung dari
mereka.”

Sari: “Jadi kamu lebih percaya
mereka daripada aku?
Aku sahabatmu. Kamu tega
nuduh aku.”

Sari mulai menangis. Rina merasa
bersalah. Ia akhirnya meminta
maaf. Sari tidak pernah mengakui
perbuatannya.

4. Keluarga

Ibu Rina membandingkan Rina
dengan kakaknya. Rina merasa
sakit hati dan mencoba
mengungkapkannya.

Rina: “Bu, aku tidak suka
dibanding-bandingkan.”

Ibu: “Ibu hanya ingin kamu lebih baik.
Kamu malah marah. Ibu sudah susah
payah membesarkan kamu. Kamu
tidak tahu terima kasih.”

Rina: “Bukan begitu, Bu.”

Ibu: “Ibu sedih. Ibu merasa gagal
mendidik kamu.”

Ibu mulai menangis. Rina merasa
bersalah. Ia akhirnya meminta
maaf. Ibu tidak pernah berhenti
membanding-bandingkan.

Cara Melindungi Diri dari
Playing the Victim While
Being the Aggressor

Jika Anda merasa terjebak dalam
pola ini, ada beberapa langkah
yang bisa dilakukan.

Pertama, sadari polanya.
Jika seseorang selalu menjadi korban
setiap kali Anda mengonfrontasi,
itu tanda bahaya. Perhatikan apakah
ia menyangkal, menyerang balik,
lalu membalik posisi.

Kedua, pegang fakta.
Tulis kejadiannya. Catat apa yang
ia lakukan, bukan hanya apa yang
ia rasakan. Simpan bukti jika perlu.
Fakta adalah jangkar Anda.

Ketiga, jangan terpancing
emosi.
 Saat dia mulai menangis
atau mengambek, jangan langsung
luluh. Tetap pada topik utama.
Anda bisa berkata,
“Saya mengerti kamu kecewa.
Tetapi kita sedang membahas
tindakanmu.”

Keempat, pasang batasan.
Katakan dengan tenang,
“Saya tidak bisa menerima
pembicaraan ini jika kita terus
membahas perasaanmu.
Yang saya butuhkan adalah
penjelasan tentang apa yang
terjadi.” Jika dia terus memutar,
Anda berhak mengakhiri percakapan.

Kelima, jangan meminta maaf
untuk hal yang tidak Anda
lakukan.
 Anda tidak bersalah karena
membela diri. Anda tidak bersalah
karena menuntut kejelasan. Anda
tidak bersalah karena menyampaikan
fakta.

Keenam, cari saksi atau pihak
ketiga.
 Jika pola ini terjadi
di tempat kerja atau keluarga,
libatkan orang yang netral. Jangan
biarkan pelaku menjadi
satu-satunya sumber cerita.

Ketujuh, jika pola ini terus
berulang, jaga jarak atau pergi.

Anda tidak bisa mengubah orang
yang tidak mau bertanggung jawab.
Anda hanya bisa melindungi diri
Anda.

Playing the Victim While Being the
Aggressor adalah pola yang sangat
licik karena ia membalik kenyataan.
Pelaku tidak hanya menghindari
tanggung jawab. Ia juga membuat
Anda merasa bersalah atas sesuatu
yang tidak Anda lakukan.
Kenali polanya. Pegang fakta.
Jangan biarkan rasa iba
mengalahkan keadilan.
Karena Anda berhak merasa sakit.
Anda berhak menuntut penjelasan.
Dan Anda berhak untuk tidak
meminta maaf atas hal yang tidak
Anda lakukan.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya 
Playing the Victim
While Being the Aggressor
.

Lo pasti pernah ketemu orang yang
selalu ngerasa jadi korban. Padahal
dia yang bikin masalah. Dia yang
nyakitin, dia yang nyerang, dia yang
salah. Tapi begitu lo lawan atau lo
tanya, dia langsung balik badan.
Dia pasang muka sedih, dia bilang lo
yang jahat, dia bilang lo yang
nyakitin dia. Padahal cuma lo yang
berani ngomong. Nah, itu yang
namanya 
Playing the Victim
While Being the Aggressor
.

Simpelnya, ini teknik manipulasi
di mana pelaku memutar balik cerita.
Dia yang nyerang, tapi dia yang
nangis. Dia yang salah, tapi dia yang
ngambek. Dia yang bikin lo sakit,
tapi dia yang bilang lo kejam.
Tujuannya cuma satu: biar lo lupa
kesalahannya, dan lo sibuk ngobatin
perasaannya. Lo jadi nggak bisa
nuntut, karena dia udah keburu
jadi korban.

Kenapa ini ampuh? Karena manusia
itu nggak tega sama orang yang
keliatan menderita. Begitu ada yang
nangis atau pasang muka sedih,
otak kita langsung ngerasa pengen
nolongin. Apalagi kalau orang itu
deket sama kita. Jadi lo lupa marah.
Lo lupa sakit hati. Yang ada lo
malah minta maaf, padahal lo
yang disakitin.

Contoh gampangnya gini. Pasangan
lo ngomel-ngomel, ngejek, bikin lo
nangis. Pas lo coba ngomong, dia
langsung nangis. Dia bilang,
“Kamu tega banget ngomong kayak
gitu ke aku.” Lo jadi bingung.
Lo yang tadi disakitin, sekarang
malah ngelus-ngelus dia. Lo minta
maaf. Padahal lo cuma nyoba
ngebela diri.

Di tempat kerja juga gitu. Rekan
lo ngambil kredit kerjaan lo. Pas
lo konfrontasi, dia malah ngadu
ke bos. Dia bilang lo nuduh dia
tanpa bukti. Dia bilang lo bikin
dia stress. Lo yang kehilangan
muka. Dia yang keliatan korban.

Di pertemanan juga bisa. Temen lo
nyebar rahasia lo. Pas lo tanya, dia
malah marah. Dia bilang lo nggak
percaya sama dia. Dia bilang lo yang
selama ini salah. Lo jadi bingung,
dan akhirnya minta maaf.

Kalau lo ingat, ini masih nyambung
sama 
Emotional Blackmail
Patterns
 dan Guilt Tripping
Frameworks
 yang barusan kita
bahas. Bedanya, kalau dua teknik
itu main di ancaman dan utang,
teknik ini main di pemutarbalikan
fakta. Pelaku nggak cuma bikin lo
ngerasa bersalah. Dia bikin lo
ngerasa salah, padahal dia sendiri
penyebabnya. Jadi dia nggak cuma
ngontrol. Dia ngelindungin diri dari
tanggung jawab.

Cara ngelawan Playing the Victim
While Being the Aggressor
.
Pertama, sadar polanya.
Kalau seseorang selalu jadi korban
tiap kali lo konfrontasi, itu red flag.
Kedua, pegang fakta.
Tulis kejadiannya. Catat apa yang
dia lakuin, bukan cuma apa yang
dia rasain. Ketiga, jangan terpancing
emosi. Pas dia mulai nangis atau
ngambek, jangan langsung luluh.
Tetep di topik utama.
Keempat, pasang batasan. Bilang,
“Gue ngerti lo kecewa. Tapi masalah
yang kita bahas ini bukan soal
perasaan lo. Ini soal apa yang lo
lakuin.” Kalau dia tetep muter,
lo punya hak buat minggir.

Jadi, Playing the Victim While
Being the Aggressor
 itu ibarat lo
lagi ditusuk, tapi yang teriak malah
yang nusuk. Lo yang berdarah, tapi
dia yang dibawa ke rumah sakit.
Lo jadi lupa sama luka lo sendiri,
karena sibuk ngejagain orang yang
nyakitin. Padahal lo punya hak
buat ngerasa sakit, dan lo punya
hak buat nuntut penjelasan.

Gimana? Mulai kerasa kan gimana
liciknya teknik ini?
Kalau lo siap lanjut, berikutnya
Use Humor First, Logic Later.
Ini soal gimana tawa bisa jadi
pintu masuk buat penerimaan.
Stay tuned.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *