Tabula Rasa: Apakah Anda Dilahirkan sebagai Kertas Kosong yang Siap Ditulis?
Pernahkah Anda melihat bayi yang
baru lahir? Ia belum bisa berbicara.
Ia belum bisa berjalan. Ia belum
tahu apa itu benar dan salah.
Ia belum punya prasangka. Ia belum
punya kebencian. Ia hanya
menangis, menyusu, dan tidur.
Lalu perlahan-lahan, ia belajar.
Ia belajar dari orang tua, dari
lingkungan, dari sekolah, dari teman,
dari media. Ia menjadi seseorang
dengan keyakinan, kebiasaan, dan
karakter tertentu.
Pertanyaannya, apakah bayi itu
lahir sebagai kertas kosong?
Apakah semua yang ia menjadi
nanti adalah hasil dari apa yang
dituliskan kepadanya?
Atau apakah ia sudah lahir dengan
sesuatu di dalam dirinya?
Sesuatu yang sudah ada sebelum
dunia menuliskan apa pun?
Pertanyaan itu sudah dibahas
para filsuf selama berabad-abad.
Ia menjadi salah satu perdebatan
paling penting tentang manusia.
Perdebatan itu bernama Tabula
Rasa. Mari saya ajak Anda
masuk ke dalamnya.
Apa Itu Tabula Rasa?
Tabula Rasa adalah istilah Latin yang
berarti kertas kosong. Dalam filsafat,
istilah ini merujuk pada pandangan
bahwa manusia dilahirkan tanpa
pengetahuan bawaan. Pikiran
manusia pada awalnya kosong.
Semua pengetahuan, semua karakter,
semua kebiasaan datang dari
pengalaman dan persepsi.
Pandangan ini paling terkenal
dikaitkan dengan John Locke,
seorang filsuf Inggris abad ke-17.
Ia menulis bahwa pikiran manusia
pada mulanya seperti kertas putih
kosong. Tidak ada tulisan di atasnya.
Tidak ada ide bawaan. Semua yang
ada di pikiran kita berasal dar
i pengalaman. Pengalaman itu masuk
melalui indera. Kita melihat,
mendengar, menyentuh, mencium,
dan merasakan. Dari situ, pikiran
kita mulai mengisi dirinya.
Locke menolak gagasan bahwa
manusia punya ide bawaan.
Ia menolak gagasan bahwa ada
pengetahuan yang sudah tertanam
sejak lahir. Menurutnya, jika ada
ide bawaan, semua orang harusnya
punya ide yang sama. Bayi harusnya
sudah tahu matematika. Orang
di pedalaman harusnya sudah
tahu hukum moral. Kenyataannya
tidak. Semua orang belajar dari
lingkungannya.
Apa Lawan dari Tabula Rasa?
Lawan dari Tabula Rasa adalah
pandangan bahwa manusia
dilahirkan dengan sesuatu yang
sudah ada. Pandangan ini sering
disebut nativism atau innatism.
Pandangan ini mengatakan bahwa
ada pengetahuan, kemampuan,
atau karakter yang sudah ada
sejak lahir. Tidak semua hal
datang dari pengalaman.
Plato, misalnya, percaya bahwa
manusia sudah punya pengetahuan
tentang bentuk-bentuk ideal
sebelum lahir. Belajar, bagi Plato,
adalah mengingat kembali.
Descartes juga percaya bahwa ada
ide-ide bawaan, seperti ide tentang
Tuhan, ide tentang kesempurnaan,
dan ide tentang diri.
Dalam ilmu modern, perdebatan ini
muncul dalam bentuk nature versus
nurture. Nature adalah faktor
bawaan, yaitu gen dan biologi.
Nurture adalah faktor lingkungan,
yaitu didikan, budaya, dan
pengalaman. Pertanyaannya, mana
yang lebih menentukan?
Apakah kita lebih banyak ditentukan
oleh gen atau oleh lingkungan?
Mengapa Ini Penting untuk
Anda?
Mungkin Anda berpikir,
“Ah, itu kan hanya perdebatan filsuf.
Saya tidak peduli.”
Tetapi coba lihat lagi.
Pernahkah Anda bertanya
mengapa Anda memiliki sifat tertentu?
Mengapa Anda mudah marah?
Mengapa Anda mudah cemas?
Mengapa Anda suka menyendiri?
Mengapa Anda suka bergaul?
Apakah itu karena didikan orang tua?
Apakah karena lingkungan?
Apakah karena gen?
Pernahkah Anda bertanya mengapa
Anda punya keyakinan tertentu?
Apakah karena Anda benar-benar
memilihnya?
Atau karena Anda tumbuh
di lingkungan yang mengajarkannya?
Apakah Anda bisa berubah jika
Anda mau?
Tabula Rasa juga muncul dalam
pendidikan. Jika anak dilahirkan
sebagai kertas kosong, maka
pendidikan sangat menentukan.
Guru dan orang tua punya tanggung
jawab besar. Mereka bisa menulis
apa saja di kertas itu. Mereka bisa
membentuk anak menjadi apa pun.
Tabula Rasa juga muncul dalam
politik. Jika manusia bisa dibentuk
oleh lingkungan, maka masyarakat
yang baik bisa menciptakan manusia
yang baik. Masyarakat yang buruk
bisa menciptakan manusia yang
buruk. Ini menjadi dasar banyak
ideologi yang percaya pada
reformasi sosial.
Tabula Rasa juga muncul dalam
psikologi. Behaviorisme, misalnya,
percaya bahwa manusia bisa
dikondisikan. Ivan Pavlov
mengkondisikan anjing untuk
mengeluarkan air liur saat
mendengar bel. B.F. Skinner
percaya bahwa perilaku manusia
bisa dibentuk dengan hadiah dan
hukuman. Jika Tabula Rasa benar,
maka manusia sangat fleksibel.
Manusia bisa diubah.
Contoh Sederhana
di Kehidupan Sehari-hari
Seorang anak lahir di keluarga
yang penuh kasih. Ia tumbuh
menjadi orang yang penyayang.
Apakah itu karena ia dilahirkan
penyayang?
Atau karena ia belajar dari
lingkungannya?
Seorang anak lahir di keluarga yang
keras. Ia tumbuh menjadi orang
yang mudah marah. Apakah itu
karena ia dilahirkan pemarah?
Atau karena ia belajar dari
lingkungannya?
Seorang siswa pandai matematika.
Apakah itu karena bakat bawaan?
Atau karena ia rajin belajar dan
gurunya baik?
Seorang karyawan sangat disiplin.
Apakah itu karena didikan
orang tuanya?
Atau karena ia memang punya
kepribadian disiplin sejak lahir?
Seorang pengguna media sosial
sangat mudah percaya hoaks.
Apakah itu karena ia kurang
cerdas?
Atau karena ia tumbuh
di lingkungan yang tidak
mengajarkan berpikir kritis?
Semua contoh ini menunjukkan
bahwa Tabula Rasa bukan hanya
teori. Ia menyentuh bagaimana
kita memahami diri sendiri,
bagaimana kita mendidik anak,
dan bagaimana kita membangun
masyarakat.
Kritik terhadap Tabula Rasa
Tabula Rasa tidak lepas dari kritik.
Banyak ilmuwan dan filsuf modern
meragukan pandangan ini.
Mereka punya beberapa alasan.
Pertama, gen memengaruhi banyak
hal. Penelitian menunjukkan bahwa
kepribadian, kecerdasan, dan
bahkan kecenderungan moral punya
komponen genetik. Anak kembar
yang dipisahkan sejak lahir sering
menunjukkan kemiripan yang
mengejutkan. Ini menunjukkan
bahwa tidak semua hal datang
dari pengalaman.
Kedua, bayi sudah punya kemampuan
bawaan. Bayi baru lahir sudah bisa
mengenali wajah manusia.
Mereka sudah bisa membedakan
suara ibu. Mereka sudah punya
refleks menghisap. Mereka sudah
punya rasa takut pada ketinggian.
Ini bukan hal yang dipelajari.
Ini bawaan.
Ketiga, otak sudah terstruktur.
Otak manusia tidak seperti kertas
kosong. Ia sudah punya struktur
yang ditentukan oleh gen.
Struktur itu memengaruhi
bagaimana kita belajar dan apa
yang kita pelajari. Kita tidak bisa
belajar semua hal dengan mudah.
Kita punya periode kritis untuk
belajar bahasa. Kita punya batas.
Keempat, budaya tidak sepenuhnya
membentuk manusia. Jika Tabula
Rasa benar, maka manusia bisa
dibentuk menjadi apa pun.
Kenyataannya tidak. Rezim totaliter
sudah mencoba menciptakan
manusia baru. Mereka gagal.
Manusia punya batas.
Tanggapan terhadap Kritik
Pendukung Tabula Rasa punya
tanggapan. Mereka tidak selalu
mengatakan bahwa tidak ada
faktor bawaan sama sekali.
Mereka sering mengatakan bahwa
faktor lingkungan lebih dominan.
Mereka mengatakan bahwa
meskipun ada gen, gen tidak
menentukan segalanya.
Gen berinteraksi dengan lingkungan.
Gen bisa dinyalakan atau dimatikan
oleh pengalaman. Dua orang dengan
gen yang sama bisa tumbuh berbeda
jika lingkungannya berbeda.
Mereka juga mengatakan bahwa
kapasitas untuk berubah sangat besar.
Manusia bisa belajar bahasa baru.
Manusia bisa mengubah kebiasaan.
Manusia bisa pulih dari trauma.
Manusia bisa menjadi lebih baik.
Ini menunjukkan bahwa kertas
kosong itu masih bisa ditulis,
meskipun ada beberapa tulisan
samar yang sudah ada.
Mereka juga mengatakan bahwa
Tabula Rasa adalah metafora,
bukan deskripsi harfiah. Tidak ada
yang benar-benar percaya bahwa
pikiran itu kosong total.
Yang dimaksud adalah bahwa
pengetahuan berasal dari
pengalaman, bukan dari ide bawaan.
Tiga Fase Menghadapi
Tabula Rasa
Fase pertama, Anda merasa bebas.
Jika Tabula Rasa benar, maka Anda
bisa menjadi apa pun. Anda tidak
ditentukan oleh takdir. Anda tidak
ditentukan oleh gen. Anda bisa
mengubah diri Anda.
Fase kedua, Anda merasa terbebani.
Jika Tabula Rasa benar, maka Anda
bertanggung jawab atas apa yang
Anda menjadi. Anda tidak bisa
menyalahkan orang tua. Anda tidak
bisa menyalahkan lingkungan.
Anda yang menulis kertas itu. Atau
setidaknya, Anda yang membiarkan
orang lain menulisnya.
Fase ketiga, Anda mencari
keseimbangan. Anda menyadari
bahwa Anda tidak sepenuhnya bebas.
Ada gen. Ada batas. Ada trauma.
Ada struktur. Tetapi Anda juga
tidak sepenuhnya terikat.
Anda masih punya ruang untuk
memilih. Anda masih punya ruang
untuk berubah.
Cara Menyikapi Tabula Rasa
Pertama, jangan menyalahkan diri
sendiri sepenuhnya. Jika Anda punya
sifat yang tidak Anda sukai,
itu mungkin bukan sepenuhnya salah
Anda. Mungkin ada faktor bawaan.
Mungkin ada pengalaman yang
membentuk Anda.
Kedua, jangan menyalahkan orang lain
sepenuhnya. Orang tua Anda mungkin
melakukan kesalahan.
Tetapi mereka juga punya batas.
Mereka juga punya luka. Mereka juga
produk dari lingkungan mereka.
Ketiga, percayalah pada perubahan.
Meskipun ada faktor bawaan,
Anda masih bisa berubah. Anda bisa
belajar. Anda bisa berlatih. Anda bisa
mencari lingkungan yang lebih baik.
Anda bisa menulis ulang
bagian-bagian kertas Anda.
Keempat, pilihlah lingkungan Anda.
Jika lingkungan membentuk Anda,
maka pilihlah lingkungan yang baik.
Bergaullah dengan orang yang ingin
Anda tiru. Bacalah buku yang ingin
Anda serap. Dengarkan orang yang
ingin Anda pahami.
Kelima, didiklah anak dengan sadar.
Jika Anda punya anak, ingatlah
bahwa Anda sedang menulis
di kertas mereka. Apa yang Anda
katakan, apa yang Anda lakukan,
apa yang Anda biarkan, akan
membentuk mereka. Jadilah
penulis yang bijak.
Keenam, jangan menghakimi
orang lain. Jika Anda percaya pada
Tabula Rasa, Anda harus percaya
bahwa orang jahat mungkin menjadi
jahat karena lingkungannya.
Itu tidak berarti Anda harus
menerima kejahatan. Tetapi itu
berarti Anda harus lebih berbelas
kasih.
Ketujuh, rendah hati. Anda tidak
tahu seberapa besar gen
memengaruhi Anda. Anda tidak tahu
seberapa besar lingkungan
memengaruhi Anda. Anda hanya
tahu bahwa Anda ada di sini. Anda
hanya tahu bahwa Anda masih bisa
memilih langkah berikutnya.
Penutup
Tabula Rasa mengajarkan satu hal
yang membebaskan sekaligus
menakutkan. Anda tidak dilahirkan
dengan takdir yang sudah selesai.
Anda tidak dilahirkan dengan
kebencian. Anda tidak dilahirkan
dengan kejahatan. Anda tidak
dilahirkan dengan kepintaran.
Anda menjadi apa yang Anda
menjadi melalui pengalaman.
Ini membebaskan karena berarti
Anda bisa berubah. Ini menakutkan
karena berarti Anda
bertanggung jawab. Anda tidak bisa
menyalahkan takdir. Anda tidak bisa
menyalahkan bintang. Anda harus
mengambil peran dalam hidup
Anda sendiri.
Tetapi mungkin jawabannya bukan
hitam putih. Mungkin kita lahir
dengan kertas yang tidak sepenuhnya
kosong. Mungkin ada beberapa
tulisan samar yang sudah ada.
Mungkin ada bakat. Mungkin ada
kecenderungan. Tetapi kita masih
punya pena. Kita masih bisa menulis
di atasnya. Kita masih bisa mengedit.
Kita masih bisa menambahkan.
Maka izinkan saya bertanya kepada
Anda. Apakah Anda merasa dilahirkan
sebagai kertas kosong?
Atau apakah Anda merasa sudah ada
sesuatu di dalam diri Anda sejak awal?
Dan jika ya, seberapa besar Anda bisa
mengubah tulisan itu?
Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai memegang pena
Anda sendiri.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Tabula Rasa: Lo Lahir Sebagai
Kertas Kosong, atau Udah Ada
Tulisan Samar di Situ?
Coba inget lagi. Momen di mana lo
ngerasa “kok gue gini amat ya?”
Mungkin lo lagi ngeliat temen lo yang
gampang banget bergaul. Dia bisa
ngobrol sama siapa aja. Dia bisa
ketawa lepas. Dia bisa jadi pusat
perhatian tanpa usaha.
Lo? Lo nggak bisa. Lo kaku. Lo diem.
Lo ngerasa ada tembok yang nggak
bisa lo robohin.
Terus lo mikir. “Ini gue dari lahir
gini?
Atau gara-gara gue dibesarin
gini?”
Atau kebalikannya. Lo liat orang
yang tumbuh di lingkungan yang
keras. Keluarganya broken.
Ekonominya susah. Tapi dia bisa
jadi orang yang sukses. Baik. Stabil.
Lo bingung. “Kok bisa?
Padahal lingkungannya
nggak mendukung?”
Pertanyaan-pertanyaan ini ngebawa
lo ke salah satu perdebatan
paling tua dan paling nggak selesai
di filsafat dan psikologi. Namanya
Tabula Rasa. Dan gue jamin,
setelah baca ini, lo bakal liat diri lo
sendiri dengan mata yang beda.
Sebenernya Tabula Rasa Itu
Apa Sih?
Tabula Rasa itu istilah Latin.
Artinya: kertas kosong.
Dalam filsafat, ini merujuk pada
pandangan bahwa manusia lahir
tanpa pengetahuan bawaan. Pikiran
lo waktu lahir itu kosong. Bersih.
Nggak ada tulisan. Nggak ada ide.
Nggak ada prasangka. Nggak ada
kebencian.
Semua yang lo jadiin bagian dari diri
lo sekarang, semua keyakinan,
semua kebiasaan, semua karakter,
itu datang dari pengalaman.
Bukan dari lahir.
Pandangan ini paling terkenal
dikaitkan sama John Locke.
Filsuf Inggris abad ke-17.
Dia nulis bahwa pikiran manusia
pada mulanya seperti kertas putih
kosong. Nggak ada tulisan
di atasnya. Nggak ada ide bawaan.
Semua yang ada di pikiran lo
berasal dari pengalaman.
Pengalaman itu masuk lewat indera.
Lo liat. Lo denger. Lo sentuh.
Lo cium. Lo rasa. Dari situ, pikiran
lo mulai ngisi dirinya.
Nulis di kertas kosong itu. Sedikit
demi sedikit. Sampe akhirnya jadi
lo yang sekarang.
Locke nolak gagasan bahwa manusia
punya ide bawaan. Dia nolak
gagasan bahwa ada pengetahuan
yang udah tertanam sejak lahir.
Menurutnya, kalo ada ide bawaan,
semua orang harusnya punya ide
yang sama. Bayi harusnya udah tau
matematika. Orang di pedalaman
harusnya udah tau hukum moral.
Kenyataannya nggak. Semua orang
belajar dari lingkungannya.
Dari budayanya. Dari orang tuanya.
Dari zamannya.
Tapi Ada Kubu yang Nggak
Setuju
Lawan dari Tabula Rasa adalah
pandangan bahwa manusia lahir
dengan sesuatu yang udah ada.
Pandangan ini sering disebut
nativism atau innatism.
Kubu ini bilang: nggak semua hal
datang dari pengalaman.
Ada pengetahuan. Ada kemampuan.
Ada karakter. Yang udah ada
sejak lahir. Udah tertanam.
Udah jadi bagian dari lo sebelum
lo ngeliat dunia.
Plato percaya bahwa manusia udah
punya pengetahuan tentang
bentuk-bentuk ideal sebelum lahir.
Belajar, bagi Plato, adalah mengingat
kembali. Bukan menemukan hal
baru. Tapi mengingat hal yang udah
pernah lo tau.
Descartes juga percaya bahwa ada
ide-ide bawaan. Kayak ide tentang
Tuhan. Ide tentang kesempurnaan.
Ide tentang diri.
Di dunia modern, perdebatan ini
muncul dalam bentuk nature
versus nurture. Nature adalah
faktor bawaan. Gen. Biologi.
Nurture adalah faktor lingkungan.
Didikan. Budaya. Pengalaman.
Pertanyaannya: mana yang lebih
nentuin? Apakah lo lebih banyak
ditentuin oleh gen lo?
Atau oleh lingkungan lo?
Dan sampe sekarang, belum ada
jawaban yang bener-bener
bisa memuaskan semua orang.
Kenapa Ini Penting Banget
Buat Lo?
Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma
perdebatan filsuf. Gue nggak peduli.”
Tapi tunggu dulu. Perdebatan ini
nyentuh hidup lo dengan cara yang
sangat pribadi.
Pertama, lo mungkin pernah
nanya kenapa lo punya sifat
tertentu.
Kenapa lo gampang marah?
Kenapa lo gampang cemas?
Kenapa lo suka nyendiri?
Kenapa lo suka bergaul?
Apakah itu karena didikan
orang tua?
Apakah karena lingkungan?
Apakah karena gen?
Apakah karena semuanya?
Kedua, lo mungkin pernah
nanya kenapa lo punya
keyakinan tertentu.
Apakah karena lo bener-bener
milih?
Atau karena lo tumbuh
di lingkungan yang ngajarin itu?
Apakah lo bisa berubah kalo lo
mau?
Atau lo udah terkunci jadi versi ini?
Ketiga, lo mungkin pernah
ngerasa bersalah sama diri
sendiri. Lo ngerasa
“ah, gue kok gini amat ya?”
Lo ngerasa ada yang salah sama lo.
Tapi lo nggak tau itu salah lo
, atau salah yang ditulisin ke lo.
Keempat, lo mungkin pernah
ngerasa nggak bisa berubah.
Lo udah coba. Lo udah usaha.
Tapi lo balik lagi ke pola yang sama.
Dan lo nanya, “Ini gen gue?
Atau lingkungan gue?
Atau gue yang nggak mau berubah?”
Analogi: Lo Kayak Tanah yang
Belum Ditanem
Coba bayangin lo punya tanah.
Kosong. Belum ada apa-apa.
Cuma tanah. Coklat. Gembur.
Siap ditanem apa aja.
Sekarang ada dua cara pikir soal
tanah ini.
Cara pertama: tanah ini bisa
jadi apa aja. Mau lo tanem padi,
jadi padi. Mau lo tanem jagung,
jadi jagung. Mau lo tanem bunga,
jadi bunga. Tanah nggak nentuin.
Yang nentuin adalah lo yang nanem.
Lo yang ngerawat. Lo yang nyiram.
Lo yang ngejagain. Tanah cuma
media. Kertas kosong. Yang nulis
adalah pengalaman.
Cara kedua: tanah ini udah
punya bakat. Bukan semua tanah
cocok buat semua tanaman.
Ada tanah yang cocok buat padi.
Ada tanah yang cocok buat kaktus.
Ada tanah yang cocok buat anggrek.
Kalo lo nanem anggrek di tanah
yang cocok buat padi, ya nggak
bakal tumbuh. Tanah udah punya
karakter. Udah punya sifat. Udah
punya batas. Lo nggak bisa maksa.
Itu dua kubu. Dua cara pikir soal
manusia.
Contoh yang Bikin Lo Sadar
Di keluarga. Lo punya dua kakak
adik. Dua-duanya lahir dari
orang tua yang sama. Dua-duanya
dibesarin di rumah yang sama.
Dua-duanya sekolah di tempat
yang sama. Tapi kepribadian mereka
beda. Yang satu pendiem. Yang satu
berisik. Yang satu suka baca. Yang
satu suka main. Yang satu gampang
marah. Yang satu sabar.
Gimana bisa?
Kalo Tabula Rasa bener, harusnya
mereka sama. Karena pengalaman
mereka sama. Tapi kenyataannya
nggak. Ada sesuatu yang udah
beda sejak awal.
Di perantauan. Lo pindah
ke negara lain. Lo harus adaptasi.
Lo belajar bahasa baru. Lo belajar
budaya baru. Lo belajar cara
bergaul yang baru.
Setelah beberapa tahun, lo berubah.
Lo jadi orang yang beda.
Lebih terbuka. Lebih mandiri.
Lebih berani. Apakah itu berarti
Tabula Rasa bener? Pengalaman
ngubah lo? Atau lo cuma ngeluarin
potensi yang udah ada di dalem?
Potensi yang selama ini terkubur
sama lingkungan lama?
Di pekerjaan. Lo kerja di tempat
yang toxic. Atasan lo suka
marah-marah. Temen lo suka nyindir.
Lingkungannya kompetitif. Setelah
beberapa bulan, lo berubah.
Lo jadi lebih waspada. Lebih defensif.
Lebih gampang curiga. Apakah itu
karena lingkungan nulis di kertas lo?
Atau karena lingkungan cuma
ngeluarin sisi gelap yang udah ada
di lo?
Di media sosial. Lo liat orang yang
tumbuh di keluarga yang keras.
Yang ortunya nggak pernah bilang
“gue sayang kamu.” Yang tumbuh
di lingkungan yang penuh kekerasan.
Tapi dia bisa jadi orang yang lembut.
Yang penyayang. Yang sabar.
Lo bingung. Kok bisa?
Padahal lingkungannya nggak
mendukung? Ada apa di dalam dia?
Apa yang bikin dia beda?
Di diri lo sendiri. Lo coba berubah.
Lo coba jadi lebih rajin. Lo coba jadi
lebih sabar. Lo coba jadi lebih berani.
Kadang berhasil. Kadang balik lagi.
Kadang lo ngerasa “ah, gue mah
emang gini, nggak bisa berubah.”
Apakah itu gen lo? Apakah itu
lingkungan lo? Apakah itu lo yang
nggak cukup usaha?
Tanda-Tanda Lo Lagi Kejebak
Perdebatan Ini
Coba jawab dalam hati. Jujur.
Nggak usah jawab ke gue.
Lo pernah nanya kenapa lo
gini, padahal orang tua lo
nggak gini?
Itu tanda lo lagi mikirin faktor
bawaan.Lo pernah ngerasa susah
banget berubah, padahal
lo udah usaha?
Itu tanda lo ngerasain batas
dari faktor bawaan.Lo pernah liat orang yang
lingkungannya buruk
tapi jadi baik?
Itu tanda lo ngerasain ada
sesuatu yang lebih dari
sekadar lingkungan.Lo pernah ngerasa
orang tua lo nulis di kertas
lo, dan lo nggak bisa
ngapus?
Itu tanda lo sadar lingkungan
punya peran besar.Lo pernah mikir
“kalo gue tumbuh
di keluarga lain, gue bakal
jadi orang yang beda”?
Itu tanda lo lagi nimbang
seberapa besar nurture nentuin.
Kalo lo jawab iya di dua atau lebih,
selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin
sesuatu yang bener-bener pelik.
Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda
lo mikir.
Apa Kata Ilmu Modern?
Dulu, perdebatan ini cuma soal
filsafat. Sekarang, ilmu udah ikut
nimbrung.
Dan hasilnya… bikin makin rumit.
Gen ternyata ngaruh.
Penelitian nunjukin kepribadian,
kecerdasan, dan bahkan
kecenderungan moral punya
komponen genetik. Anak kembar
yang dipisahin sejak lahir sering
nunjukin kemiripan yang ngejutin.
Mereka bisa punya hobi yang sama.
Pilihan karier yang sama. Bahkan
pasangan yang mirip. Padahal
mereka nggak pernah ketemu.
Itu bukan kebetulan. Itu gen.
Tapi bayi juga udah punya
kemampuan bawaan.
Bayi baru lahir udah bisa ngenalin
wajah manusia. Udah bisa
ngebedain suara ibunya.
Udah punya refleks nyusu. Udah
punya rasa takut sama ketinggian.
Itu bukan hal yang dipelajarin.
Itu bawaan. Itu udah ada sebelum
dunia nulis apa pun.
Otak juga udah terstruktur.
Otak manusia nggak kayak kertas
kosong. Dia udah punya struktur
yang ditentuin sama gen.
Struktur itu memengaruhi gimana
lo belajar dan apa yang gampang
lo pelajarin. Lo punya periode
kritis buat belajar bahasa.
Kalo lo nggak belajar bahasa
sebelum umur tertentu, lo bakal
susah banget. Lo punya batas.
Tapi gen juga nggak
menentukan segalanya.
Gen bisa dinyalain atau dimatiin
sama pengalaman. Dua orang
dengan gen yang sama bisa tumbuh
beda kalo lingkungannya beda.
Gen cuma ngasih kecenderungan.
Bukan kepastian.
Jadi apa kesimpulannya?
Nggak ada kesimpulan yang
bersih.
Dua-duanya ngaruh.
Dua-duanya penting.
Dan seberapa besar masing-masing
ngaruh, itu beda-beda di setiap
orang. Di setiap sifat. Di setiap
situasi.
Cara Ngadepin Perdebatan Ini
Tanpa Kehilangan Diri
1. Jangan nyalahin diri sendiri
sepenuhnya.
Kalo lo punya sifat yang nggak lo
suka, itu mungkin bukan sepenuhnya
salah lo. Mungkin ada faktor bawaan.
Mungkin ada pengalaman yang
membentuk lo. Mungkin ada trauma
yang nggak pernah lo pilih. Ngakuin
itu bukan berarti lo lemah. Ngakuin
itu berarti lo jujur.
2. Jangan nyalahin orang lain
sepenuhnya.
Orang tua lo mungkin ngelakuin
kesalahan. Tapi mereka juga punya
batas. Mereka juga punya luka.
Mereka juga produk dari
lingkungan mereka. Mereka juga
nggak milih jadi kayak gitu.
Memaafkan bukan berarti ngeyakinin
bahwa yang mereka lakuin bener.
Memaafkan berarti lo ngerti bahwa
mereka juga manusia.
3. Percaya sama perubahan.
Meskipun ada faktor bawaan,
lo masih bisa berubah. Lo bisa
belajar. Lo bisa berlatih. Lo bisa
nyari lingkungan yang lebih baik.
Lo bisa nulis ulang bagian-bagian
kertas lo. Mungkin nggak semua.
Mungkin nggak sempurna.
Tapi cukup buat bikin hidup lo
beda.
4. Pilih lingkungan lo.
Kalo lingkungan membentuk lo,
maka pilihlah lingkungan yang baik.
Bergaul sama orang yang pengen lo
tiru. Baca buku yang pengen lo
serap. Dengerin orang yang pengen
lo pahami. Lingkungan yang baik
nggak bakal nulis hal buruk
di kertas lo. Lingkungan yang baik
bakal nulis hal yang bikin lo
tumbuh.
5. Didik anak dengan sadar.
Kalo lo punya anak, ingetlah bahwa
lo sedang nulis di kertas mereka.
Apa yang lo bilang. Apa yang lo lakuin.
Apa yang lo biarin. Semua itu bakal
membentuk mereka. Jadilah penulis
yang bijak. Jadilah penulis yang sadar.
Jadilah penulis yang penuh kasih.
6. Jangan ngehakimin orang lain.
Kalo lo percaya sama Tabula Rasa,
lo harus percaya bahwa orang jahat
mungkin jadi jahat karena
lingkungannya. Itu nggak berarti lo
harus nerima kejahatan. Tapi itu
berarti lo harus lebih berbelas kasih.
Lo nggak tau apa yang mereka
alamin. Lo nggak tau apa yang
ditulisin ke kertas mereka.
7. Rendah hati.
Lo nggak tau seberapa besar gen
memengaruhi lo. Lo nggak tau
seberapa besar lingkungan
memengaruhi lo. Lo cuma tau bahwa
lo ada di sini. Lo cuma tau bahwa lo
masih bisa milih langkah berikutnya.
Dan itu cukup. Itu selalu cukup.
8. Terima kalo lo nggak akan
pernah punya jawaban
sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa nentuin
dengan pasti seberapa besar gen dan
seberapa besar lingkungan.
Lo cuma bisa hidup dengan
ketidakpastian itu. Dan itu nggak
apa-apa. Itu yang bikin hidup ini
menarik.
Yang Paling Lo Takutin Bukan
Gen atau Lingkungan
Yang paling lo takutin bukan gen.
Bukan lingkungan. Bukan trauma.
Bukan didikan.
Yang paling lo takutin adalah:
kalo lo nggak bisa berubah.
Kalo lo udah terkunci jadi
versi ini. Kalo kertas lo udah
penuh dan nggak ada ruang
buat nulis lagi.
Itu serem. Gue ngerti.
Tapi coba pikir lagi. Kalo lo percaya
bahwa lo bisa berubah, lo bakal
punya harapan. Kalo lo percaya
bahwa lo udah terkunci, lo bakal
nyerah. Dan kenyataannya?
Lo nggak akan pernah tau seberapa
besar ruang yang lo punya sampe
lo nyoba. Sampe lo nulis. Sampe lo
ngapus. Sampe lo nulis lagi.
Kertas lo mungkin nggak
sepenuhnya kosong. Mungkin ada
tulisan samar yang udah ada sejak
awal. Tapi lo masih punya pena.
Lo masih bisa nulis di atasnya.
Lo masih bisa ngedit. Lo masih bisa
nambahin. Lo masih bisa bikin
cerita lo sendiri.
Penutup: Pertanyaan yang
Bakal Nemenin Lo Tidur
Tabula Rasa ngajarin satu hal yang
membebaskan sekaligus menakutkan.
Lo nggak dilahirkan dengan takdir
yang udah selesai. Lo nggak
dilahirkan dengan kebencian.
Lo nggak dilahirkan dengan
kejahatan. Lo nggak dilahirkan
dengan kepintaran. Lo jadi apa
yang lo jadi melalui pengalaman.
Ini membebaskan karena berarti
lo bisa berubah. Ini menakutkan
karena berarti lo bertanggung jawab.
Lo nggak bisa nyalahin takdir.
Lo nggak bisa nyalahin bintang.
Lo harus ngambil peran dalam
hidup lo sendiri.
Tapi mungkin jawabannya bukan
hitam putih. Mungkin lo lahir
dengan kertas yang nggak
sepenuhnya kosong. Mungkin ada
beberapa tulisan samar yang udah
ada. Mungkin ada bakat. Mungkin
ada kecenderungan. Tapi lo masih
punya pena. Lo masih bisa nulis
di atasnya. Lo masih bisa ngedit.
Lo masih bisa nambahin.
Jadi, gue mau nanya ke lo.
Lo ngerasa dilahirkan sebagai
kertas kosong?
Atau lo ngerasa udah ada
sesuatu di dalem diri lo
sejak awal?
Dan kalo iya, seberapa besar
lo bisa ngubah tulisan itu?
Gue nggak bisa jawab buat lo.
Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa
ngingetin: lo nggak harus punya
jawaban sekarang. Lo cuma harus
mulai nanya.
Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai megang pena lo
sendiri.
