The Absurd: Ketika Alam Semesta Diam, Apakah Hidup Anda Masih Bermakna?
Pernahkah Anda duduk sendirian
di malam hari, melihat langit yang
penuh bintang, lalu tiba-tiba
bertanya, “Untuk apa semua ini?”
Anda bekerja keras. Anda mengejar
impian. Anda mencintai seseorang.
Anda berjuang untuk sesuatu.
Tetapi di saat yang sunyi, muncul
pertanyaan yang tidak bisa Anda
hindari. Apa arti dari semuanya?
Apakah alam semesta ini peduli?
Apakah ada tujuan besar yang
sedang Anda penuhi?
Atau apakah Anda hanya berteriak
ke dalam kehampaan yang tidak
menjawab?
Perasaan itu bukan perasaan Anda
saja. Ia sudah dibahas para filsuf
selama berabad-abad. Ia menjadi
salah satu konsep paling penting
dalam filsafat eksistensialisme.
Nama untuk perasaan itu adalah
The Absurd, atau Yang Absurd.
Mari saya ajak Anda masuk
ke dalamnya.
Apa Itu The Absurd?
The Absurd adalah ketegangan
antara keinginan manusia untuk
menemukan makna dengan
kenyataan bahwa alam semesta
tampaknya tidak menawarkan
makna apa pun. Manusia mencari
tujuan. Manusia mencari alasan.
Manusia ingin tahu mengapa ia
ada. Tetapi alam semesta diam.
Ia tidak menjawab. Ia tidak
peduli.
Konsep ini paling terkenal
dijelaskan oleh Albert Camus,
seorang filsuf dan penulis Prancis.
Ia lahir di Aljazair pada tahun 1913.
Ia tumbuh dalam kemiskinan.
Ia mengalami perang. Ia melihat
penderitaan. Dan dari pengalaman
itu, ia menulis tentang The Absurd.
Camus mengatakan bahwa manusia
punya kebutuhan mendalam akan
makna. Kita ingin hidup kita berarti.
Kita ingin penderitaan kita punya
tujuan. Kita ingin kematian kita
punya arti. Tetapi dunia ini tidak
memberikan jawaban. Dunia ini
acuh tak acuh. Matahari tetap terbit
meskipun Anda sedih. Bintang tetap
bersinar meskipun Anda mati.
Ketegangan antara kebutuhan manusia
akan makna dan keheningan alam
semesta inilah yang disebut
The Absurd. Ia bukan di dalam
manusia. Ia bukan di dalam dunia.
Ia ada di antara keduanya. Ia lahir
dari pertemuan antara pencari makna
dan alam yang tidak memberi makna.
Mengapa The Absurd Muncul?
The Absurd muncul ketika Anda
mulai bertanya. Selama Anda sibuk,
selama Anda mengikuti rutinitas,
selama Anda tidak mempertanyakan
apa pun, The Absurd tidak terasa.
Anda bangun, bekerja, makan, tidur,
dan mengulanginya lagi.
Anda merasa hidup ini normal.
Anda merasa ada tujuan.
Tetapi suatu hari, sesuatu terjadi.
Mungkin Anda kehilangan
seseorang. Mungkin Anda gagal
dalam sesuatu. Mungkin Anda
melihat penderitaan yang tidak
masuk akal. Mungkin Anda hanya
bosan. Tiba-tiba, rutinitas itu terasa
hampa. Anda bertanya, “Untuk apa?”
Dan tidak ada jawaban.
Camus menyebut momen ini sebagai
kebangkitan kesadaran. Anda mulai
melihat bahwa hidup ini tidak punya
makna yang diberikan. Anda mulai
melihat bahwa Anda sendirian.
Anda mulai melihat bahwa alam
semesta tidak peduli. Ini bisa terasa
menakutkan. Ini bisa terasa
membebaskan.
Kisah Sisyphus dan Batu yang
Tidak Pernah Selesai
Camus menggunakan mitos Yunani
tentang Sisyphus untuk
menggambarkan The Absurd.
Sisyphus adalah seorang raja yang
dihukum oleh para dewa.
Hukumannya adalah mendorong
batu besar ke puncak gunung.
Setiap kali ia hampir sampai
di puncak, batu itu menggelinding
kembali ke bawah. Ia harus
mengulanginya lagi. Dan lagi.
Dan lagi. Selamanya.
Para dewa menganggap hukuman
ini sebagai hukuman paling kejam.
Karena pekerjaannya tidak ada
habisnya. Karena usahanya tidak
membuahkan hasil. Karena
hidupnya tidak punya tujuan akhir.
Camus melihat Sisyphus sebagai
gambaran manusia. Kita semua
mendorong batu kita sendiri.
Kita bekerja. Kita berjuang. Kita
mencintai. Kita membangun.
Tetapi pada akhirnya, kita mati.
Semua yang kita bangun bisa
runtuh. Semua yang kita cintai bisa
hilang. Semua yang kita capai bisa
dilupakan.
Tetapi Camus mengatakan sesuatu
yang mengejutkan. Ia mengatakan,
“Kita harus membayangkan
Sisyphus bahagia.” Mengapa?
Karena Sisyphus menerima
nasibnya. Ia tidak lagi berharap
batu itu akan sampai di puncak.
Ia tidak lagi berharap hukumannya
akan berakhir. Ia menemukan
kebebasan dalam penerimaan.
Ia menemukan makna dalam
perjuangan itu sendiri.
Apa Bedanya The Absurd
dengan Nihilism?
The Absurd sering disalahpahami
sebagai nihilism. Keduanya memang
mirip. Keduanya mengakui bahwa
hidup ini tidak punya makna yang
diberikan. Keduanya mengakui
bahwa alam semesta tidak peduli.
Tetapi ada perbedaan penting.
Nihilism mengatakan bahwa karena
tidak ada makna, maka hidup ini
tidak berarti. Nihilism bisa
membuat orang menyerah.
Nihilism bisa membuat orang putus
asa. Nihilism bisa membuat orang
tidak peduli pada apa pun.
The Absurd mengatakan sesuatu
yang berbeda. The Absurd
mengakui bahwa tidak ada makna
yang diberikan. Tetapi The Absurd
juga mengatakan bahwa kita tetap
bisa menciptakan makna kita
sendiri. Kita tetap bisa hidup
dengan gairah. Kita tetap bisa
mencintai. Kita tetap bisa berjuang.
Kita tetap bisa menemukan
keindahan dalam hidup ini,
meskipun hidup ini tidak
sempurna.
Camus menolak nihilism.
Ia menolak bunuh diri sebagai
jawaban atas The Absurd.
Ia menolak menyerah.
Ia mengatakan bahwa
satu-satunya jawaban yang jujur
adalah terus hidup, terus berjuang,
terus mencari makna, meskipun
makna itu tidak akan pernah final.
Mengapa Ini Penting untuk
Anda?
Mungkin Anda berpikir,
“Ah, itu kan hanya filsafat. Saya tidak
punya waktu untuk memikirkan hal
seperti ini.” Tetapi coba lihat lagi.
Pernahkah Anda merasa bahwa hidup
ini hanya rutinitas?
Bangun, kerja, pulang, tidur, ulangi.
Pernahkah Anda bertanya,
“Apakah ini saja?” Pernahkah Anda
merasa bahwa semua yang Anda
lakukan tidak ada artinya?
Pernahkah Anda merasa bahwa
dunia ini tidak adil?
Pernahkah Anda merasa bahwa
Anda sendirian dalam perjuangan
Anda?
Semua perasaan itu adalah pintu
masuk menuju The Absurd.
Menghadapi The Absurd bukan
berarti menyerah. Menghadapi
The Absurd berarti jujur tentang
kenyataan. Dan dari kejujuran itu,
Anda bisa mulai membangun
hidup yang lebih autentik.
The Absurd juga muncul dalam
kehidupan modern. Kita hidup
di zaman yang penuh distraksi.
Media sosial, hiburan, pekerjaan,
dan konsumsi membuat kita sibuk.
Kita sibuk agar tidak perlu
memikirkan pertanyaan besar.
Kita sibuk agar tidak perlu
menghadapi keheningan.
Tetapi keheningan itu tetap ada.
Ia menunggu.
Contoh Sederhana
di Kehidupan Sehari-hari
Seorang karyawan bekerja lembur
setiap hari. Ia mengejar promosi.
Ia mengejar bonus. Ia mengejar
pengakuan. Tetapi ketika ia
mendapat semuanya, ia bertanya,
“Apakah ini yang saya inginkan?
Apakah ini yang membuat hidup
saya berarti?”
Seorang ibu merawat anak dan
suami. Ia mencurahkan seluruh
hidupnya untuk keluarga. Tetapi
suatu hari, ia bertanya,
“Siapa saya di luar peran ini?
Apakah hidup saya hanya untuk
orang lain?”
Seorang mahasiswa belajar keras
untuk ujian. Ia mendapat nilai
bagus. Ia lulus. Ia mendapat
pekerjaan. Tetapi ia bertanya,
“Apakah saya belajar karena saya
ingin, atau karena saya hanya
mengikuti arus?”
Seorang pengguna media sosial
melihat hidup orang lain yang
tampak sempurna. Ia merasa
hidupnya tidak berarti. Ia bertanya,
“Mengapa hidup saya tidak seindah
mereka? Apakah hidup saya salah?”
Seorang pensiunan yang telah
bekerja puluhan tahun tiba-tiba
merasa hampa. Ia tidak lagi punya
pekerjaan. Ia tidak lagi punya peran.
Ia bertanya, “Siapa saya sekarang?
Apa yang harus saya lakukan
dengan sisa hidup saya?”
Semua contoh ini menunjukkan
bahwa The Absurd bukan hanya
teori. Ia adalah pengalaman yang
bisa dialami siapa saja, kapan saja.
Tiga Fase Menghadapi
The Absurd
Fase pertama, Anda menghindari.
Anda sibuk. Anda bekerja. Anda
menonton. Anda main game. Anda
belanja. Anda melakukan apa saja
untuk menutupi perasaan bahwa
hidup ini tidak punya makna.
Tetapi perasaan itu tetap ada
di bawah permukaan.
Fase kedua, Anda menghadapi.
Anda berhenti sejenak. Anda duduk
dengan perasaan itu. Anda bertanya,
“Apa yang sebenarnya saya rasakan?
Apa yang sebenarnya saya takutkan?
Apa yang sebenarnya saya inginkan?”
Ini tidak nyaman. Tetapi ini perlu.
Fase ketiga, Anda memberontak.
Anda menyadari bahwa tidak ada
makna yang diberikan. Maka Anda
memilih untuk menciptakan makna
Anda sendiri. Anda memilih nilai
yang Anda pegang. Anda memilih
arah yang Anda tuju. Anda memilih
cara Anda hidup. Ini adalah
pemberontakan terhadap The Absurd.
Cara Menyikapi The Absurd
Pertama, akui perasaan itu. Jangan
berpura-pura tidak ada. Jangan
mengalihkannya dengan kesibukan.
Katakan pada diri sendiri,
“Saya sedang merasa hidup ini tidak
berarti. Itu tidak apa-apa.”
Kedua, terima bahwa alam semesta
tidak memberi makna. Ini sulit. Ini
menakutkan. Tetapi menerima ini
membebaskan Anda dari harapan
yang tidak realistis. Anda tidak perlu
menunggu tanda dari langit. Anda
tidak perlu menunggu takdir. Anda
bisa mulai sekarang.
Ketiga, ciptakan makna Anda sendiri.
Makna bukan sesuatu yang Anda
temukan. Makna adalah sesuatu yang
Anda buat. Pilih nilai yang penting
bagi Anda. Keluarga? Karya?
Kebaikan? Pengetahuan? Seni?
Pelayanan? Tentukan itu.
Lalu hidup sesuai nilai itu.
Keempat, hiduplah dengan gairah.
Camus mengatakan bahwa jawaban
atas The Absurd adalah hidup
dengan sepenuh hati. Nikmati kopi
Anda. Nikmati matahari pagi.
Nikmati tawa teman Anda. Nikmati
cinta. Nikmati seni. Hidup ini
singkat. Jangan sia-siakan.
Kelima, terima ketidakpastian.
Tidak ada jawaban pasti.
Tidak ada jaminan. Tetapi Anda tetap
bisa memilih untuk peduli. Anda tetap
bisa memilih untuk berbuat baik.
Anda tetap bisa memilih untuk hidup
dengan integritas.
Keenam, jangan bandingkan hidup
Anda. Setiap orang punya
perjuangannya sendiri. Setiap orang
punya batunya sendiri. Fokus pada
perjalanan Anda. Fokus pada apa
yang bisa Anda kendalikan.
Ketujuh, temukan komunitas. Anda
tidak perlu menghadapi The Absurd
sendirian. Bicaralah dengan
orang lain. Berbagi beban membuat
beban itu lebih ringan. Berbagi
kegembiraan membuat kegembiraan
itu berlipat.
Kedelapan, pikirkan tentang
kematian. Ini mungkin terdengar
menakutkan. Tetapi mengingat
kematian bisa membuat hidup lebih
bermakna. Jika hidup ini tidak abadi,
maka setiap momen menjadi
berharga. Jika hidup ini tidak kekal,
maka setiap pilihan menjadi penting.
Penutup
The Absurd mengajarkan satu hal yang
menakutkan sekaligus membebaskan.
Alam semesta ini diam. Tidak ada yang
memberi Anda makna. Tidak ada yang
menunggu Anda di ujung sana. Anda
sendirian. Anda bebas.
Kebebasan itu bisa terasa seperti
beban. Tetapi kebebasan itu juga bisa
terasa seperti hadiah. Anda tidak
perlu mengikuti naskah orang lain.
Anda tidak perlu memenuhi harapan
orang lain. Anda bisa menulis naskah
Anda sendiri. Anda bisa menciptakan
makna Anda sendiri.
Maka izinkan saya bertanya kepada
Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah
merasa hidup ini tidak berarti?
Apakah Anda pernah merasa alam
semesta ini diam? Jika ya, apa yang
Anda lakukan dengan perasaan itu?
Apakah Anda menyerah, atau Anda
mulai menciptakan makna Anda
sendiri?
Selamat berdamai dengan
keheningan. Atau setidaknya,
selamat mulai mengisinya dengan
sesuatu yang benar-benar milik Anda.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
The Absurd:
Kalo Alam Semesta Diam,
Hidup Lo Masih Bermakna
Nggak?
Coba inget lagi. Momen di mana lo
lagi sendirian. Bukan sendirian yang
biasa. Tapi sendirian yang dalem.
Lo lagi duduk di balkon. Malem.
Langit penuh bintang.
Angin sepoi-sepoi. Nggak ada suara.
Cuma lo sama pikiran lo.
Lo baru aja ngelewatin hari yang
panjang. Capek. Tapi bukan capek
fisik. Capek yang lebih dalem.
Capek yang nggak bisa dijelasin.
Lo udah kerja keras. Lo udah ngejar
mimpi. Lo udah berjuang buat
sesuatu. Tapi di momen sunyi ini,
muncul pertanyaan yang nggak
bisa lo hindari.
“Sebenernya gue ngapain sih?”
Bukan pertanyaan dramatis. Bukan
pertanyaan yang bikin lo nangis.
Cuma pertanyaan kecil.
Tapi pertanyaan itu nempel. Nggak
bisa dilepas. Dan yang paling
nyebelin: lo nggak punya
jawabannya.
Lo liat langit. Lo liat bintang.
Lo nanya dalam hati.
“Semesta ini peduli nggak sih
sama gue?
Ada tujuan besar yang lagi gue
penuhin?
Atau gue cuma teriak ke dalam
kehampaan yang nggak jawab
apa-apa?”
Kalo lo pernah ngerasain ini, lo
nggak sendirian. Jauh dari
sendirian. Perasaan ini punya nama.
Namanya The Absurd. Dan gue
jamin, setelah baca ini, lo bakal liat
hidup lo dengan mata yang beda.
Sebenernya The Absurd Itu
Apa Sih?
The Absurd itu simpelnya gini:
ketegangan antara keinginan
lo buat nemuin makna dengan
kenyataan bahwa alam
semesta nggak nawarin
makna apa-apa.
Lo, sebagai manusia, punya
kebutuhan mendalam akan makna.
Lo pengen hidup lo berarti.
Lo pengen penderitaan lo punya
tujuan. Lo pengen kematian lo
punya arti. Lo pengen ada alasan
kenapa lo ada di sini.
Tapi alam semesta? Diam.
Nggak jawab. Nggak peduli.
Matahari tetep terbit meskipun lo
sedih. Bintang tetep bersinar
meskipun lo mati. Dunia nggak
berhenti buat lo. Dunia nggak
nge-pause cuma karena lo lagi
bingung.
Nah, ketegangan antara kebutuhan
lo akan makna dan keheningan alam
semesta inilah yang disebut
The Absurd. Dia bukan di dalam lo.
Dia bukan di dalam dunia. Dia ada
di antara keduanya. Dia lahir dari
pertemuan antara pencari makna
dan alam yang nggak ngasih makna.
Kenapa Lo Baru Ngerasain
Ini Sekarang?
The Absurd muncul ketika lo mulai
bertanya. Selama lo sibuk, selama lo
ikutin rutinitas, selama lo nggak
mempertanyakan apa pun,
The Absurd nggak berasa. Lo bangun.
Kerja. Makan. Tidur. Ulangi lagi.
Lo ngerasa hidup ini normal.
Lo ngerasa ada tujuan.
Tapi suatu hari, sesuatu terjadi.
Mungkin lo kehilangan seseorang.
Mungkin lo gagal dalam sesuatu.
Mungkin lo liat penderitaan yang
nggak masuk akal. Mungkin lo cuma
bosan. Tiba-tiba, rutinitas itu berasa
hampa. Lo bertanya, “Untuk apa?”
Dan nggak ada jawaban.
Camus nyebut momen ini sebagai
kebangkitan kesadaran.
Lo mulai liat bahwa hidup ini nggak
punya makna yang dikasih.
Lo mulai liat bahwa lo sendirian.
Lo mulai liat bahwa alam semesta
nggak peduli. Ini bisa berasa
menakutkan. Ini bisa berasa
membebaskan.
Kenapa Ini Bukan Cuma
Depresi?
Ada perbedaan penting antara
The Absurd dan depresi. Depresi
itu kondisi kesehatan mental.
The Absurd itu kondisi eksistensial.
Depresi bisa diobati. The Absurd
nggak bisa diobati. Dia cuma bisa
dihadapi.
Depresi bikin lo ngerasa nggak
berharga. The Absurd bikin lo
nanya, “Emang ada yang
berharga?” Depresi bikin lo
kehilangan minat. The Absurd
bikin lo nanya, “Minat buat apa?”
Depresi bikin lo ngerasa sendirian.
The Absurd bikin lo sadar bahwa
lo memang sendirian, secara
kosmik.
Tapi ada satu hal yang sama.
Dua-duanya muncul di momen
sunyi. Dua-duanya muncul ketika lo
berhenti sibuk. Dua-duanya muncul
ketika lo mulai jujur sama diri
sendiri.
Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh
The Absurd
Coba jawab dalam hati. Jujur.
Nggak usah jawab ke gue.
Lo pernah ngerasa hidup lo
cuma rutinitas?
Bangun, kerja, pulang, tidur,
ulang lagi. Dan lo nanya,
“Ini doang?”Lo pernah dapet sesuatu
yang lo pengen, tapi lo
ngerasa “ya udah, terus
apa?”
Itu tanda lo udah nyentuh
The Absurd.Lo pernah ngerasa dunia
ini nggak adil?
Lo liat orang jahat sukses.
Lo liat orang baik menderita.
Dan lo nanya,
“Ada yang ngatur nggak sih?”Lo pernah ngerasa
sendirian di tengah
keramaian?
Lo dikelilingin orang. Tapi lo
ngerasa nggak ada yang
bener-bener ngerti. Nggak
ada yang bener-bener
nyambung.Lo pernah mikir
“kalo gue mati besok,
apa bedanya?”
Bukan karena lo pengen mati.
Tapi karena lo nanya,
“Apa artinya hidup gue?”
Kalo lo jawab iya di dua atau lebih,
selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin
sesuatu yang bener-bener dalem.
Dan itu nggak apa-apa. Justru itu
tanda lo jujur sama diri sendiri.
Sisyphus dan Batu yang Nggak
Pernah Selesai
Ada satu cerita yang paling terkenal
buat ngegambarin The Absurd.
Namanya Sisyphus.
Dia raja Yunani yang dihukum
sama para dewa.
Hukumannya adalah dorong batu
besar ke puncak gunung.
Setiap kali dia hampir sampe
di puncak, batu itu menggelinding
balik ke bawah. Dia harus
ngulangin lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Selamanya.
Para dewa nganggap hukuman ini
sebagai hukuman paling kejam.
Karena kerjanya nggak ada habisnya.
Karena usahanya nggak
membuahkan hasil.
Karena hidupnya nggak punya
tujuan akhir.
Camus liat Sisyphus sebagai
gambaran manusia. Lo semua
dorong batu lo sendiri. Lo kerja.
Lo berjuang. Lo mencintai.
Lo membangun. Tapi pada
akhirnya, lo mati. Semua yang lo
bangun bisa runtuh. Semua yang
lo cintai bisa hilang. Semua yang
lo capai bisa dilupakan.
Tapi Camus bilang sesuatu yang
ngejutin. Dia bilang,
“Kita harus membayangkan
Sisyphus bahagia.”
Kenapa? Karena Sisyphus nerima
nasibnya. Dia nggak lagi berharap
batu itu bakal sampe di puncak.
Dia nggak lagi berharap
hukumannya bakal berakhir.
Dia nemuin kebebasan dalam
penerimaan. Dia nemuin makna
dalam perjuangan itu sendiri.
Bedanya The Absurd sama
Nihilism
The Absurd sering disalahpahami
sebagai nihilism. Dua-duanya
emang mirip. Dua-duanya ngakui
bahwa hidup ini nggak punya
makna yang dikasih. Dua-duanya
ngakui bahwa alam semesta
nggak peduli.
Tapi ada perbedaan penting.
Nihilism bilang: karena nggak
ada makna, maka hidup ini nggak
berarti. Nihilism bisa bikin orang
nyerah. Nihilism bisa bikin orang
putus asa. Nihilism bisa bikin
orang nggak peduli sama apa pun.
The Absurd bilang: nggak ada
makna yang dikasih. Tapi lo tetep
bisa nciptain makna lo sendiri.
Lo tetep bisa hidup dengan gairah.
Lo tetep bisa mencintai. Lo tetep
bisa berjuang. Lo tetep bisa
nemuin keindahan dalam hidup
ini, meskipun hidup ini nggak
sempurna.
Camus nolak nihilism. Dia nolak
bunuh diri sebagai jawaban atas
The Absurd. Dia nolak nyerah.
Dia bilang satu-satunya jawaban
yang jujur adalah terus hidup.
Terus berjuang. Terus nyari
makna. Meskipun makna itu
nggak akan pernah final.
Contoh yang Bikin Lo Sadar
Karyawan yang ngejar promosi.
Lo kerja lembur setiap hari.
Lo ngejar promosi. Lo ngejar bonus.
Lo ngejar pengakuan. Tapi waktu lo
dapet semuanya, lo nanya,
“Apakah ini yang gue pengen?
Apakah ini yang bikin hidup gue
berarti?”
Dan lo nggak punya jawabannya.
Ibu yang ngurus keluarga.
Lo curahin seluruh hidup lo buat
keluarga. Lo ngurus anak.
Lo ngurus suami. Lo ngurus
rumah. Tapi suatu hari, lo nanya,
“Siapa gue di luar peran ini?
Apakah hidup gue cuma buat
orang lain?”
Dan lo nggak punya jawabannya.
Mahasiswa yang belajar
mati-matian.
Lo belajar keras buat ujian.
Lo dapet nilai bagus. Lo lulus.
Lo dapet kerjaan. Tapi lo nanya,
“Apakah gue belajar karena gue
pengen, atau karena gue cuma
ikutin arus?”
Dan lo nggak punya jawabannya.
Pengguna medsos yang liat
hidup orang lain.
Lo liat hidup orang yang keliatan
sempurna. Lo ngerasa hidup lo
nggak berarti. Lo nanya,
“Kenapa hidup gue nggak seindah
mereka? Apakah hidup gue salah?”
Dan lo nggak punya jawabannya.
Pensiunan yang udah kerja
puluhan tahun.
Lo tiba-tiba ngerasa hampa.
Lo nggak lagi punya kerjaan.
Lo nggak lagi punya peran.
Lo nanya, “Siapa gue sekarang?
Apa yang harus gue lakuin dengan
sisa hidup gue?”
Dan lo nggak punya jawabannya.
Semua contoh ini nunjukin satu hal:
The Absurd bukan cuma teori.
Dia pengalaman yang bisa
dialami siapa aja, kapan aja.
Cara Ngadepin The Absurd
Tanpa Kehilangan Akal
1. Akui perasaan itu.
Jangan pura-pura nggak ada.
Jangan alihin dengan kesibukan.
Katakan pada diri sendiri:
“Gue sedang ngerasa hidup ini
nggak berarti. Itu nggak apa-apa.”
Ngakuin itu langkah pertama.
Dan seringkali, itu langkah
paling berat.
2. Terima bahwa alam
semesta nggak ngasih makna.
Ini susah. Ini menakutkan.
Tapi nerima ini membebaskan lo
dari harapan yang nggak realistis.
Lo nggak perlu nunggu tanda dari
langit. Lo nggak perlu nunggu
takdir. Lo bisa mulai sekarang.
3. Ciptain makna lo sendiri.
Makna bukan sesuatu yang lo
temuin. Makna adalah sesuatu
yang lo bikin. Pilih nilai yang
penting buat lo. Keluarga? Karya?
Kebaikan? Pengetahuan? Seni?
Pelayanan? Tentukan itu.
Terus hidup sesuai nilai itu.
4. Hiduplah dengan gairah.
Camus bilang jawaban atas
The Absurd adalah hidup dengan
sepenuh hati. Nikmatin kopi lo.
Nikmatin matahari pagi. Nikmatin
ketawa temen lo. Nikmatin cinta.
Nikmatin seni. Hidup ini singkat.
Jangan sia-siain.
5. Terima ketidakpastian.
Nggak ada jawaban pasti. Nggak ada
jaminan. Tapi lo tetep bisa milih
buat peduli. Lo tetep bisa milih buat
berbuat baik. Lo tetep bisa milih
buat hidup dengan integritas.
6. Jangan bandingin hidup lo.
Setiap orang punya perjuangannya
sendiri. Setiap orang punya batunya
sendiri. Fokus pada perjalanan lo.
Fokus pada apa yang bisa lo kendaliin.
7. Temuin komunitas.
Lo nggak perlu ngadepin The Absurd
sendirian. Bicaralah sama orang lain.
Berbagi beban bikin beban itu lebih
ringan. Berbagi kegembiraan bikin
kegembiraan itu berlipat.
8. Pikirin tentang kematian.
Ini mungkin kedengeran menakutkan.
Tapi nginget kematian bisa bikin
hidup lebih bermakna. Kalo hidup
ini nggak abadi, maka setiap momen
jadi berharga. Kalo hidup ini nggak
kekal, maka setiap pilihan jadi
penting.
9. Terima kalo lo nggak akan
pernah punya jawaban
sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa
ngejelasin kenapa lo ada di sini.
Lo nggak akan pernah bisa
ngejelasin kenapa alam semesta
diam. Lo cuma bisa hidup dengan
ketidakpastian itu. Dan itu nggak
apa-apa. Itu bagian dari jadi
manusia.
Yang Paling Lo Takutin Bukan
Kehampaan
Yang paling lo takutin bukan
kehampaan. Bukan keheningan.
Bukan ketidakpastian.
Yang paling lo takutin adalah:
kalo nggak ada makna yang
dikasih, berarti lo harus bikin
makna lo sendiri. Dan kalo lo
gagal, lo nggak bisa nyalahin
siapa-siapa. Nggak bisa
nyalahin takdir. Nggak bisa
nyalahin Tuhan. Nggak bisa
nyalahin alam semesta.
Cuma lo.
Itu serem. Gue ngerti.
Tapi coba pikir lagi. Kalo makna itu
dikasih, artinya orang lain yang
nentuin. Kalo makna itu dikasih,
artinya lo cuma jalanin.
Kalo makna itu dikasih, artinya lo
bukan penulis. Lo cuma pembaca.
Dan lo, layak jadi penulis. Lo layak
nentuin sendiri. Lo layak salah.
Lo layak belajar. Lo layak bikin
makna yang bener-bener milik lo.
Penutup: Pertanyaan yang
Bakal Nemenin Lo Tidur
The Absurd ngajarin satu hal yang
menakutkan sekaligus membebaskan.
Alam semesta ini diam. Nggak ada
yang ngasih lo makna. Nggak ada
yang nungguin lo di ujung sana.
Lo sendirian. Lo bebas.
Kebebasan itu bisa berasa kayak
beban. Tapi kebebasan itu juga bisa
berasa kayak hadiah. Lo nggak perlu
ngikutin naskah orang lain.
Lo nggak perlu memenuhi harapan
orang lain. Lo bisa nulis naskah lo
sendiri. Lo bisa nciptain makna lo
sendiri.
Jadi, gue mau nanya ke lo.
Lo pernah ngerasa hidup ini
nggak berarti?
Lo pernah ngerasa alam
semesta ini diam?
Kalo iya, apa yang lo lakuin dengan
perasaan itu? Lo nyerah? Atau lo
mulai nciptain makna lo sendiri?
Lo milih diem? Atau lo milih
teriak balik?
Gue nggak bisa jawab buat lo.
Nggak ada yang bisa.
Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak
harus punya jawaban sekarang.
Lo cuma harus mulai nanya.
Selamat berdamai dengan
keheningan. Atau setidaknya,
selamat mulai ngisi keheningan itu
dengan sesuatu yang bener-bener
milik lo.
