Moral Relativism: Benarkah Semua Moral Hanya Soal Sudut Pandang?
Pernahkah Anda berdebat dengan
seseorang tentang sesuatu yang
Anda anggap jelas benar atau salah,
lalu sadar bahwa orang itu punya
pandangan yang sangat berbeda?
Mungkin tentang pernikahan, tentang
hukuman, tentang kebebasan, atau
tentang cara mendidik anak.
Anda merasa posisi Anda benar.
Tetapi orang itu juga merasa posisinya
benar. Lalu muncul pertanyaan,
apakah ada satu kebenaran moral
yang berlaku untuk semua orang?
Atau apakah moral hanya soal
budaya, zaman, dan sudut pandang?
Pertanyaan itu sudah dibahas para
filsuf selama ribuan tahun.
Ia menjadi salah satu perdebatan
paling penting dalam etika.
Perdebatan itu bernama Moral
Relativism. Mari saya ajak Anda
masuk ke dalamnya.
Apa Itu Moral Relativism?
Moral Relativism adalah pandangan
bahwa moral tidak bersifat absolut.
Tidak ada satu standar universal
yang berlaku untuk semua orang
di semua tempat dan semua waktu.
Apa yang dianggap benar atau salah
tergantung pada konteks. Konteks itu
bisa berupa budaya, sejarah,
masyarakat, atau bahkan individu.
Dengan kata lain, Moral Relativism
mengatakan bahwa tidak ada satu
kebenaran moral yang berlaku untuk
semua orang. Apa yang dianggap
baik di satu tempat bisa dianggap
buruk di tempat lain. Apa yang
dianggap benar di satu zaman bisa
dianggap salah di zaman lain.
Apa Itu Moral Absolutism?
Untuk memahami Moral Relativism,
kita perlu memahami lawannya.
Lawannya adalah Moral Absolutism.
Pandangan ini mengatakan bahwa
ada prinsip moral yang berlaku
universal. Prinsip itu tidak berubah.
Ia tidak tergantung pada budaya
atau zaman.
Contohnya, seorang moral absolutist
mungkin mengatakan bahwa
membunuh selalu salah, tanpa
kecuali. Mencuri selalu salah, tanpa
kecuali. Menyakiti anak selalu salah,
tanpa kecuali. Tidak peduli di mana
Anda berada. Tidak peduli kapan
Anda hidup. Tidak peduli apa
budaya Anda.
Moral Absolutism memberi kepastian.
Ia memberi landasan yang kokoh.
Tetapi ia juga bisa terasa kaku. Ia bisa
terasa tidak peka terhadap perbedaan
budaya dan konteks.
Bentuk-Bentuk Moral Relativism
Moral Relativism tidak hanya satu.
Ada beberapa bentuk yang perlu
Anda kenal.
Yang pertama adalah Cultural
Relativism. Pandangan ini mengatakan
bahwa moral ditentukan oleh norma
masyarakat. Apa yang dianggap baik
oleh suatu budaya adalah baik dalam
budaya itu. Apa yang dianggap buruk
oleh suatu budaya adalah buruk dalam
budaya itu. Tidak ada budaya yang
lebih benar dari budaya lain.
Contohnya, poligami mungkin
dianggap wajar di satu budaya, tetapi
dianggap melanggar di budaya lain.
Hukuman mati mungkin dianggap adil
di satu negara, tetapi dianggap kejam
di negara lain. Pernikahan di usia
muda mungkin dianggap normal
di satu tempat, tetapi dianggap
pelanggaran di tempat lain.
Yang kedua adalah Subjective
Relativism. Pandangan ini mengatakan
bahwa moral ditentukan oleh individu.
Apa yang benar bagi saya belum tentu
benar bagi Anda. Apa yang salah bagi
Anda belum tentu salah bagi saya.
Setiap orang punya standar moralnya
sendiri.
Contohnya, seseorang mungkin
merasa bahwa berbohong untuk
melindungi perasaan orang lain adalah
baik. Orang lain mungkin merasa
bahwa berbohong selalu salah,
apa pun alasannya. Keduanya punya
standar masing-masing.
Yang ketiga adalah Historical
Relativism. Pandangan ini mengatakan
bahwa moral berubah seiring waktu.
Apa yang dianggap benar di masa lalu
bisa dianggap salah di masa kini.
Apa yang dianggap salah di masa kini
bisa dianggap benar di masa depan.
Contohnya, perbudakan pernah
dianggap wajar di banyak masyarakat.
Sekarang, perbudakan dianggap
kejahatan terhadap kemanusiaan.
Hak suara perempuan pernah
ditolak. Sekarang, hak itu dianggap
dasar. Hukuman fisik pada anak
pernah dianggap mendidik.
Sekarang, banyak yang
menganggapnya kekerasan.
Mengapa Ini Penting untuk Anda?
Mungkin Anda berpikir,
“Ah, itu kan hanya perdebatan filsuf.
Saya tidak peduli.”
Tetapi coba lihat lagi.
Pernahkah Anda menghakimi
seseorang karena budayanya berbeda?
Pernahkah Anda merasa bahwa cara
Anda adalah cara yang paling benar?
Pernahkah Anda mendengar
orang lain mengatakan,
“Itu bukan urusan kita. Itu budaya
mereka”?
Pernahkah Anda bertanya apakah ada
batas yang tidak boleh dilanggar,
bahkan atas nama budaya?
Moral Relativism juga muncul
dalam politik. Ketika negara lain
melakukan sesuatu yang kita anggap
pelanggaran hak asasi manusia,
apakah kita berhak ikut campur?
Atau apakah itu urusan internal
mereka? Di mana batas antara
menghormati kedaulatan dan
melindungi kemanusiaan?
Moral Relativism juga muncul dalam
teknologi. Ketika perusahaan
teknologi global beroperasi
di berbagai negara, aturan moral
mana yang harus mereka ikuti?
Aturan negara asal?
Aturan negara tempat mereka
beroperasi?
Aturan universal?
Moral Relativism juga muncul dalam
kehidupan pribadi. Ketika Anda
berbeda pendapat dengan pasangan,
keluarga, atau teman tentang apa
yang benar dan salah, bagaimana
Anda menyelesaikannya?
Apakah Anda memaksakan
pandangan Anda?
Apakah Anda menerima bahwa
tidak ada jawaban yang pasti?
Contoh Sederhana
di Kehidupan Sehari-hari
Seorang mahasiswa Indonesia belajar
di luar negeri. Ia bertemu teman dari
budaya lain. Temannya mengatakan
bahwa berbohong kepada orang tua
adalah hal biasa. Mahasiswa itu
merasa tidak nyaman. Ia bertanya,
“Apakah berbohong itu salah, atau
hanya salah dalam budaya saya?”
Seorang karyawan bekerja
di perusahaan multinasional.
Ia diminta melakukan sesuatu yang
dianggap wajar di negara itu, tetapi
melanggar nilai-nilai pribadinya.
Ia bertanya, “Apakah saya harus
mengikuti aturan setempat, atau
mempertahankan prinsip saya?”
Seorang aktivis hak asasi manusia
melihat praktik yang dianggap normal
di suatu negara, tetapi ia anggap
melanggar hak asasi. Ia bertanya,
“Apakah saya berhak mencampuri?
Atau apakah saya hanya menerapkan
standar saya pada orang lain?”
Seorang ibu mendidik anaknya dengan
disiplin keras. Tetangganya mendidik
anaknya dengan kebebasan.
Keduanya merasa cara masing-masing
adalah yang terbaik. Mereka bertanya,
“Apakah ada cara yang benar?
Atau setiap keluarga punya caranya
sendiri?”
Semua contoh ini menunjukkan bahwa
Moral Relativism bukan hanya teori.
Ia menyentuh bagaimana kita
berinteraksi dengan orang lain,
bagaimana kita membuat keputusan,
dan bagaimana kita memahami dunia.
Kritik terhadap Moral Relativism
Moral Relativism tidak lepas dari kritik.
Banyak filsuf menolak pandangan ini.
Mereka punya beberapa alasan.
Pertama, jika semua moral sama-sama
benar, maka tidak ada yang bisa
dikutuk. Jika relativism benar, maka
genosida bisa dianggap benar
di budaya yang mendukungnya.
Perbudakan bisa dianggap benar
di masyarakat yang menerimanya.
Kekerasan terhadap perempuan bisa
dianggap benar di tempat yang
mengizinkannya. Apakah kita bisa
menerima itu?
Kedua, relativism bisa membuat
reformasi moral menjadi tidak
mungkin. Jika moral hanya
ditentukan oleh budaya, bagaimana
kita bisa mengkritik budaya kita
sendiri?
Bagaimana kita bisa
memperjuangkan perubahan?
Bagaimana kita bisa mengatakan
bahwa sesuatu yang dilakukan
nenek moyang kita adalah salah?
Ketiga, relativism bisa membuat
dialog moral menjadi tidak mungkin.
Jika setiap orang punya standarnya
sendiri, bagaimana kita bisa
berbicara tentang keadilan?
Bagaimana kita bisa membuat
hukum?
Bagaimana kita bisa hidup bersama?
Keempat, relativism sering tidak
konsisten. Orang yang mengatakan
bahwa semua moral relatif sering
juga menuntut toleransi.
Tetapi toleransi itu sendiri adalah
nilai moral. Jika semua moral relatif,
mengapa toleransi harus dianggap
benar?
Kelima, relativism bisa membuat kita
kehilangan arah. Jika tidak ada
standar yang tetap, bagaimana kita
bisa tahu apa yang harus dilakukan?
Bagaimana kita bisa mendidik anak?
Bagaimana kita bisa membuat
keputusan yang sulit?
Tanggapan terhadap Kritik
Pendukung Moral Relativism punya
tanggapan. Mereka tidak selalu
mengatakan bahwa semua moral
sama-sama benar. Mereka sering
mengatakan bahwa kita perlu
rendah hati.
Mereka mengatakan bahwa banyak
konflik moral muncul karena kita
menganggap standar kita berlaku
untuk semua orang. Jika kita lebih
terbuka, kita bisa belajar dari
budaya lain. Kita bisa melihat bahwa
cara kita bukan satu-satunya cara.
Mereka juga mengatakan bahwa
relativism tidak berarti tidak ada
batas. Ada prinsip-prinsip yang
mungkin universal, seperti larangan
terhadap kekejaman yang tidak
perlu. Tetapi bagaimana prinsip itu
diterapkan bisa berbeda di berbagai
tempat.
Mereka juga mengatakan bahwa
relativism mendorong toleransi.
Jika kita menyadari bahwa
pandangan kita tidak mutlak,
kita akan lebih menghargai pandangan
orang lain. Kita akan lebih jarang
menghakimi. Kita akan lebih sering
mendengarkan.
Tiga Fase Menghadapi Moral
Relativism
Fase pertama, Anda merasa yakin.
Anda punya prinsip moral yang
Anda pegang teguh. Anda merasa
bahwa prinsip itu berlaku untuk
semua orang. Anda merasa bahwa
Anda benar.
Fase kedua, Anda meragukan.
Anda bertemu orang dari budaya lain.
Anda membaca tentang sejarah. Anda
melihat bahwa banyak hal yang Anda
anggap benar tidak dianggap benar
oleh orang lain. Anda bertanya,
“Apakah saya benar?
Apakah ada kebenaran yang universal?”
Fase ketiga, Anda mencari posisi.
Anda mungkin tetap percaya pada
moral absolut. Anda mungkin
menerima relativism. Anda mungkin
memilih jalan tengah. Yang penting,
Anda tidak lagi menerima begitu saja.
Anda mulai berpikir dengan sadar.
Cara Menyikapi Moral
Relativism
Pertama, jangan terburu-buru
menghakimi. Ketika Anda melihat
praktik yang berbeda, tanyakan dulu
mengapa. Pahami konteksnya.
Mungkin ada alasan yang tidak
Anda ketahui.
Kedua, tetap punya prinsip. Relativism
bukan berarti tidak punya pendirian.
Anda tetap bisa punya nilai yang Anda
pegang. Tetapi Anda juga perlu
terbuka untuk belajar.
Ketiga, bedakan antara memahami
dan menyetujui. Anda bisa
memahami mengapa suatu budaya
melakukan sesuatu tanpa harus
menyetujuinya. Pemahaman bukan
pengkhianatan pada nilai Anda.
Keempat, cari titik temu. Meskipun
budaya berbeda, sering ada nilai yang
sama. Kebaikan, keadilan, kasih
sayang, dan kejujuran mungkin ada
di banyak tempat. Fokus pada yang
menyatukan, bukan hanya yang
memisahkan.
Kelima, berhati-hatilah dengan
klaim universal. Ketika Anda
mengatakan sesuatu berlaku untuk
semua orang, tanyakan dari mana
klaim itu berasal. Apakah dari
pengalaman Anda?
Apakah dari budaya Anda?
Apakah dari keyakinan Anda?
Sadari bias Anda.
Keenam, jangan gunakan relativism
sebagai alasan untuk diam. Kadang
kita perlu berbicara. Kadang kita
perlu bertindak. Ketika ada
kekejaman yang jelas, relativism
tidak boleh menjadi tameng untuk
tidak peduli.
Ketujuh, rendah hati. Anda tidak
punya semua jawaban.
Budaya Anda tidak punya semua
jawaban. Dunia ini luas. Manusia
ini beragam. Semakin Anda tahu,
semakin Anda sadar betapa sedikit
yang Anda tahu.
Penutup
Moral Relativism mengajarkan satu
hal yang menantang. Mungkin tidak
ada satu kebenaran moral yang
berlaku untuk semua orang. Mungkin
moral adalah hasil dari budaya,
sejarah, dan pilihan pribadi. Mungkin
kita perlu lebih terbuka, lebih rendah
hati, dan lebih toleran.
Tetapi Moral Relativism juga
mengajarkan satu hal yang
mengganggu. Jika semua moral
sama-sama benar, apakah kita bisa
mengutuk kekejaman?
Apakah kita bisa memperjuangkan
keadilan?
Apakah kita bisa mengatakan bahwa
ada hal-hal yang tidak boleh
dilakukan, apa pun alasannya?
Mungkin jawabannya bukan hitam
putih. Mungkin ada prinsip universal,
tetapi penerapannya berbeda.
Mungkin ada batas yang tidak boleh
dilanggar, tetapi batas itu perlu
ditafsirkan dengan bijak. Mungkin
kita perlu keseimbangan antara
keyakinan dan keterbukaan, antara
prinsip dan empati.
Maka izinkan saya bertanya kepada
Anda. Apakah Anda percaya ada
moral yang berlaku untuk semua
orang?
Atau apakah moral hanya soal sudut
pandang?
Apakah Anda pernah merasa
bingung ketika berhadapan dengan
nilai yang berbeda?
Dan jika ya, bagaimana Anda
menyikapinya?
Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai mempertanyakan
keyakinan moral Anda sendiri.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Moral Relativism:
Bener Nggak Sih Kalo Semua
Moral Itu Cuma Soal Sudut
Pandang?
Coba inget lagi. Lo lagi kumpul sama
keluarga besar. Lebaran. Atau natal.
Atau acara apa pun yang bikin
semua orang ketemu.
Makan bareng. Ketawa bareng.
Sampai tiba-tiba topik pembicaraan
nyentuh sesuatu yang bikin meja
makan jadi panas.
Mungkin soal politik. Mungkin soal
cara mendidik anak. Mungkin soal
pilihan hidup lo yang dianggap
“beda” sama keluarga. Mungkin soal
temen lo yang nikah sama orang
beda agama. Mungkin soal
keputusan lo buat nggak punya anak.
Lo ngomong. Lo jelasin. Lo kasih
alasan. Tapi om atau tante lo nggak
setuju. Dia punya pandangan sendiri.
Dan dia sama yakinnya kayak lo.
Dia ngerasa dia bener.
Lo juga ngerasa lo bener.
Terus di dalam hati, lo mulai nanya.
“Sebenernya siapa sih yang
bener? Gue? Dia?
Atau emang nggak ada yang
bener?”
Kalo lo pernah ada di situasi itu,
lo udah nyentuh salah satu
perdebatan paling panas di filsafat.
Namanya Moral Relativism.
Dan gue jamin, setelah baca ini,
lo bakal liat perdebatan keluarga
lo dengan mata yang beda.
Sebenernya Moral Relativism
Itu Apa Sih?
Moral Relativism itu simpelnya gini:
nggak ada satu standar moral
yang berlaku buat semua orang
di semua tempat dan semua
waktu.
Apa yang dianggap bener di satu
tempat, bisa dianggap salah
di tempat lain. Apa yang dianggap
baik di satu zaman, bisa dianggap
jahat di zaman lain. Apa yang
dianggap wajar di satu keluarga,
bisa dianggap aneh di keluarga lain.
Jadi kalo lo nanya,
“Mana yang bener?” Jawabannya:
tergantung. Tergantung budaya.
Tergantung sejarah. Tergantung
masyarakat. Tergantung individu.
Dengan kata lain: nggak ada yang
namanya “kebenaran moral universal.”
Yang ada cuma kesepakatan yang
kebetulan disepakati sama kelompok
tertentu, di tempat tertentu,
di waktu tertentu.
Tapi Ada Kubu yang Nggak
Setuju
Ada yang namanya Moral
Absolutism. Ini kebalikannya.
Ini yang bilang: ada prinsip moral
yang berlaku universal.
Nggak berubah.
Nggak tergantung budaya.
Nggak tergantung zaman.
Contohnya: membunuh itu selalu
salah. Mencuri itu selalu salah.
Nyakitin anak itu selalu salah.
Nggak peduli lo di mana.
Nggak peduli lo kapan.
Nggak peduli budaya lo apa.
Kubu ini ngasih kepastian.
Ngasih landasan yang kokoh.
Lo nggak perlu bingung.
Lo nggak perlu nimbang-nimbang.
Lo tinggal ikutin prinsipnya.
Tapi kubu ini juga bisa berasa kaku.
Bisa berasa nggak peka sama
perbedaan. Bisa berasa maksain
standar sendiri ke orang lain.
Tiga Wajah Moral Relativism
Moral Relativism nggak cuma satu
bentuk. Ada beberapa. Lo perlu
kenal semuanya biar lo tau mana
yang lagi lo rasain.
Yang pertama: Cultural
Relativism.
Ini yang bilang: moral ditentuin
sama norma masyarakat.
Apa yang dianggap baik sama suatu
budaya, ya baik dalam budaya itu.
Apa yang dianggap buruk sama
suatu budaya, ya buruk dalam
budaya itu. Nggak ada budaya yang
lebih bener dari budaya lain.
Contoh: Poligami mungkin dianggap
wajar di satu budaya, tapi dianggap
pelanggaran di budaya lain.
Hukuman mati mungkin dianggap
adil di satu negara, tapi dianggap
kejam di negara lain. Nikah di usia
muda mungkin dianggap normal
di satu tempat, tapi dianggap
pelanggaran di tempat lain.
Yang kedua: Subjective
Relativism.
Ini yang bilang: moral ditentuin
sama individu. Apa yang bener
buat gue, belum tentu bener buat lo.
Apa yang salah buat lo, belum tentu
salah buat gue. Setiap orang punya
standar moralnya sendiri.
Contoh: Seseorang mungkin ngerasa
bohong buat nglindungin perasaan
orang lain itu baik. Orang lain
mungkin ngerasa bohong itu selalu
salah, apapun alasannya.
Dua-duanya punya standar
masing-masing.
Yang ketiga: Historical
Relativism.
Ini yang bilang: moral berubah
seiring waktu. Apa yang dianggap
bener di masa lalu, bisa dianggap
salah di masa kini. Apa yang
dianggap salah di masa kini, bisa
dianggap bener di masa depan.
Contoh: Perbudakan pernah
dianggap wajar di banyak masyarakat.
Sekarang, perbudakan dianggap
kejahatan terhadap kemanusiaan.
Hak suara perempuan pernah ditolak.
Sekarang, hak itu dianggap dasar.
Hukuman fisik ke anak pernah
dianggap mendidik. Sekarang,
banyak yang menganggapnya
kekerasan.
Kenapa Ini Penting Banget
Buat Lo?
Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma
perdebatan filsuf. Gue nggak peduli.”
Tapi tunggu dulu. Perdebatan ini
nyentuh hidup lo dengan cara
yang sangat pribadi.
Pertama, lo mungkin pernah
ngehakimin orang karena
budayanya beda.
Lo ngerasa cara lo yang paling
bener. Lo ngerasa cara mereka
salah. Tapi lo nggak pernah nanya:
“Dari mana gue tau kalo cara gue
yang bener?”
Kedua, lo mungkin pernah
denger orang bilang,
“Itu bukan urusan kita.
Itu budaya mereka.”
Waktu lo liat berita soal praktik
yang lo anggap kejam di negara lain.
Dan lo bingung. Harus ikut campur?
Atau diem aja?
Ketiga, lo mungkin pernah
berantem sama pasangan,
keluarga, atau temen soal
apa yang bener dan salah.
Dan lo nggak bisa nyelesaiin.
Karena dua-duanya ngerasa bener.
Karena dua-duanya punya standar
sendiri.
Keempat, lo mungkin pernah
ngerasa bingung sama diri
sendiri.
Lo nanya, “Gue ini sebenernya bener
nggak sih? Atau gue cuma produk
dari budaya gue?
Atau gue cuma ngerasa bener karena
gue nggak pernah ngeliat cara lain?”
Contoh yang Bikin Lo Sadar
Di perantauan. Lo mahasiswa
Indonesia di luar negeri. Lo ketemu
temen dari budaya lain. Dia bilang
bohong ke orang tua itu biasa.
Lo kaget. Lo bilang bohong itu salah.
Dia bilang, “Tergantung situasinya.”
Lo mulai bingung. Apakah bohong
itu salah, atau cuma salah dalam
budaya lo?
Di kantor. Lo kerja di perusahaan
multinasional. Lo diminta ngelakuin
sesuatu yang dianggap wajar
di negara itu, tapi melanggar
nilai-nilai pribadi lo. Lo nanya dalam
hati, “Harus ikutin aturan setempat,
atau mempertahankan prinsip gue?”
Di medsos. Lo liat berita soal
praktik yang dianggap normal
di suatu negara, tapi lo anggap
melanggar hak asasi. Lo pengen
komentar. Lo pengen protes. Tapi lo
mikir, “Apakah gue berhak ikut
campur? Atau gue cuma nerapin
standar gue ke orang lain?”
Di keluarga. Lo didik anak lo
dengan disiplin keras. Tetangga lo
didik anaknya dengan kebebasan.
Dua-duanya ngerasa cara
masing-masing yang terbaik.
Lo nanya dalam hati, “Ada cara yang
bener nggak? Atau setiap keluarga
punya caranya sendiri?”
Semua contoh ini nunjukin satu hal:
Moral Relativism bukan cuma
teori. Dia nyentuh cara lo
berinteraksi sama orang lain. Cara lo
bikin keputusan. Cara lo memahami
dunia.
Tanda-Tanda Lo Lagi Kejebak
Perdebatan Ini
Coba jawab dalam hati. Jujur.
Nggak usah jawab ke gue.
Lo pernah berantem sama
orang karena beda
pandangan moral, dan
nggak ada yang mau ngalah?
Itu tanda lo lagi berantem soal
standar yang beda.Lo pernah ngerasa
“ah, gue nggak boleh
ngehakimin, itu budaya
mereka”?
Itu tanda lo lagi nyentuh
Cultural Relativism.Lo pernah mikir “ah,
semua orang punya
kebenarannya
masing-masing”?
Itu tanda lo lagi nyentuh
Subjective Relativism.Lo pernah mikir “ah,
dulu aja orang ngelakuin
itu, sekarang nggak”?
Itu tanda lo lagi nyentuh
Historical Relativism.Lo pernah ngerasa nggak
nyaman waktu orang lain
ngehakimin budaya lo?
Itu tanda lo ngerasain
ketegangan antara standar
lo dan standar orang lain.
Kalo lo jawab iya di dua atau lebih,
selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin
sesuatu yang bener-bener pelik.
Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda
lo mikir.
Kritik: Kenapa Banyak Orang
Nolak Moral Relativism?
Moral Relativism nggak lepas dari
kritik. Banyak filsuf nolak
pandangan ini. Mereka punya
beberapa alasan.
Pertama: kalo semua moral
sama-sama bener, nggak ada
yang bisa dikutuk.
Kalo relativism bener, maka genosida
bisa dianggap bener di budaya yang
mendukungnya. Perbudakan bisa
dianggap bener di masyarakat yang
nerimanya. Kekerasan ke perempuan
bisa dianggap bener di tempat yang
ngizininnya. Apakah lo bisa nerima
itu? Apakah lo bisa bilang,
“Ya udah, itu budaya mereka”?
Kedua: relativism bisa bikin
reformasi moral jadi nggak
mungkin.
Kalo moral cuma ditentuin budaya,
gimana lo bisa ngritik budaya lo
sendiri? Gimana lo bisa
memperjuangkan perubahan?
Gimana lo bisa bilang,
“Yang dilakuin nenek moyang
gue dulu itu salah”?
Ketiga: relativism bisa bikin
dialog moral jadi nggak
mungkin.
Kalo setiap orang punya standarnya
sendiri, gimana lo bisa ngomongin
keadilan? Gimana lo bisa bikin
hukum? Gimana lo bisa hidup
bersama?
Keempat: relativism sering
nggak konsisten.
Orang yang bilang “semua moral
relatif” sering juga nuntut
toleransi. Tapi toleransi itu
sendiri adalah nilai moral. Kalo
semua moral relatif, kenapa
toleransi harus dianggap bener?
Kelima: relativism bisa bikin
lo kehilangan arah.
Kalo nggak ada standar yang tetep,
gimana lo bisa tau apa yang harus
dilakuin? Gimana lo bisa mendidik
anak? Gimana lo bisa bikin
keputusan yang sulit?
Tanggapan dari Kubu
Relativism
Pendukung Moral Relativism
punya tanggapan. Mereka nggak
selalu bilang semua moral
sama-sama bener. Mereka sering
bilang kita perlu rendah hati.
Mereka bilang banyak konflik
moral muncul karena kita
nganggap standar kita berlaku buat
semua orang. Kalo kita lebih terbuka,
kita bisa belajar dari budaya lain.
Kita bisa liat cara kita bukan
satu-satunya cara.
Mereka juga bilang relativism nggak
berarti nggak ada batas. Ada prinsip
yang mungkin universal,
kayak larangan terhadap kekejaman
yang nggak perlu. Tapi gimana
prinsip itu diterapkan bisa beda
di berbagai tempat.
Mereka juga bilang relativism
ngedorong toleransi. Kalo kita sadar
pandangan kita nggak mutlak, kita
bakal lebih ngehargain pandangan
orang lain. Kita bakal lebih jarang
ngehakimin. Kita bakal lebih sering
dengerin.
Analogi: Lo Kayak Turis yang
Nggak Punya Peta
Coba bayangin lo lagi jalan-jalan
ke negara yang nggak pernah lo
kunjungin. Lo nggak ngerti bahasa.
Lo nggak ngerti budaya. Lo nggak
ngerti aturan nggak tertulis.
Lo liat orang buang sampah di jalan.
Lo kaget. Di negara lo, itu salah.
Tapi di sini, semua orang ngelakuin.
Lo liat orang makan pake tangan.
Lo kaget. Di negara lo, itu nggak
sopan. Tapi di sini, itu wajar.
Lo mulai bingung.
Mana yang bener? Standar lo?
Atau standar mereka?
Lo coba ikutin standar lo. Tapi lo
berasa aneh. Lo kelihatan kayak
orang asing yang nggak mau
nyesuaiin. Lo coba ikutin standar
mereka. Tapi lo berasa salah.
Lo berasa ngelanggar prinsip lo
sendiri.
Itulah Moral Relativism. Lo nggak
punya peta. Lo nggak punya
kompas. Lo cuma punya diri lo
sendiri. Dan lo harus nentuin
harus ngapain.
Cara Ngadepin Moral Relativism
Tanpa Kehilangan Diri
1. Jangan buru-buru ngehakimin.
Waktu lo liat praktik yang beda, tanya
dulu kenapa. Pahami konteksnya.
Mungkin ada alasan yang lo nggak
tau. Mungkin ada sejarah yang lo
nggak ngerti. Jangan langsung bilang
“itu salah” cuma karena beda sama
cara lo.
2. Tetep punya prinsip.
Relativism bukan berarti nggak
punya pendirian. Lo tetep bisa
punya nilai yang lo pegang.
Lo tetep bisa punya batas yang
lo nggak mau lewatin. Tapi lo juga
perlu terbuka buat belajar.
Terbuka bukan berarti nggak
punya prinsip. Terbuka berarti
mau nimbang.
3. Bedain antara memahami
dan nyetujuin.
Lo bisa paham kenapa suatu
budaya ngelakuin sesuatu tanpa
harus nyetujuinya. Pemahaman
bukan pengkhianatan pada nilai
lo. Kadang, dengan memahami,
lo justru bisa lebih bijak dalam
bersikap.
4. Cari titik temu.
Meskipun budaya beda, sering ada
nilai yang sama. Kebaikan. Keadilan.
Kasih sayang. Kejujuran. Mungkin
ada di banyak tempat. Fokus pada
yang menyatukan, bukan cuma yang
memisahkan. Jangan terlalu sibuk
nyari perbedaan sampe lupa
persamaan.
5. Waspada sama klaim
universal.
Waktu lo bilang sesuatu berlaku buat
semua orang, tanya dari mana klaim
itu berasal. Apakah dari pengalaman
lo? Apakah dari budaya lo?
Apakah dari keyakinan lo?
Sadari bias lo. Nggak ada yang bebas
bias. Tapi setidaknya, lo bisa sadar.
6. Jangan gunain relativism
sebagai alasan buat diem.
Kadang lo perlu ngomong. Kadang lo
perlu bertindak. Waktu ada
kekejaman yang jelas, relativism
nggak boleh jadi tameng buat nggak
peduli. Ada saatnya lo harus ngambil
sikap, meskipun ada risiko disalahin.
7. Rendah hati.
Lo nggak punya semua jawaban.
Budaya lo nggak punya semua
jawaban. Dunia ini luas. Manusia
ini beragam. Semakin lo tau,
semakin lo sadar betapa sedikit
yang lo tau. Dan itu bukan
kelemahan. Itu kebijaksanaan.
8. Terima kalo lo nggak akan
pernah punya jawaban
sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa nentuin
dengan pasti mana yang bener dan
mana yang salah dalam setiap
situasi. Lo cuma bisa hidup dengan
ketidakpastian itu. Dan itu nggak
apa-apa. Itu bagian dari jadi
manusia.
Yang Paling Lo Takutin Bukan
Perbedaan
Yang paling lo takutin bukan
perbedaan. Bukan konflik.
Bukan ketidakpastian.
Yang paling lo takutin adalah:
kalo nggak ada yang bener
dan salah, berarti nggak ada
yang bisa lo pegang.
Kalo semua relatif, berarti
nggak ada yang bener-bener
berarti. Kalo semua cuma
sudut pandang, berarti nggak
ada yang layak diperjuangin.
Itu serem. Gue ngerti.
Tapi coba pikir lagi. Kalo semua
moral jelas, hidup ini bakal
gampang. Terlalu gampang.
Lo cuma perlu ikutin aturan.
Nggak perlu mikir. Nggak perlu
nimbang. Nggak perlu ngerasain.
Justru karena moral itu kompleks,
lo punya ruang buat jadi manusia.
Lo punya ruang buat mikir.
Lo punya ruang buat ngerasain.
Lo punya ruang buat tumbuh.
Lo punya ruang buat milih,
bukan cuma ikutin.
Dan justru karena nggak ada yang
dikasih, pilihan lo jadi lebih
bermakna. Karena lo milih buat
peduli. Bukan karena lo dipaksa.
Bukan karena lo nggak punya
pilihan. Tapi karena lo mau.
Penutup: Pertanyaan yang
Bakal Nemenin Lo Tidur
Moral Relativism ngajarin satu
hal yang menantang. Mungkin
nggak ada satu kebenaran moral
yang berlaku buat semua orang.
Mungkin moral adalah hasil dari
budaya, sejarah, dan pilihan pribadi.
Mungkin lo perlu lebih terbuka,
lebih rendah hati, dan lebih toleran.
Tapi Moral Relativism juga ngajarin
satu hal yang mengganggu.
Kalo semua moral sama-sama bener,
apakah lo bisa ngutuk kekejaman?
Apakah lo bisa memperjuangkan
keadilan?
Apakah lo bisa bilang ada hal-hal
yang nggak boleh dilakuin, apapun
alasannya?
Mungkin jawabannya nggak hitam
putih. Mungkin ada prinsip universal,
tapi penerapannya beda. Mungkin
ada batas yang nggak boleh dilanggar,
tapi batas itu perlu ditafsirin dengan
bijak. Mungkin lo perlu keseimbangan
antara keyakinan dan keterbukaan,
antara prinsip dan empati.
Jadi, gue mau nanya ke lo.
Lo percaya ada moral yang
berlaku buat semua orang?
Atau moral cuma soal sudut
pandang?
Lo pernah ngerasa bingung
waktu berhadapan sama nilai
yang beda?
Dan kalo iya, gimana lo
nyikapinnya?
Gue nggak bisa jawab buat lo.
Nggak ada yang bisa.
Tapi gue bisa ngingetin:
lo nggak harus punya jawaban
sekarang. Lo cuma harus mulai nanya.
Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai mempertanyakan
keyakinan moral lo sendiri.
