Reject Someone While Smiling, They’ll Say Yes: Mengapa Penolakan yang Disampaikan dengan Hangat Tidak Terasa Seperti Penolakan
Pernahkah Anda ditolak, tetapi tidak
merasa tersinggung?
Orang itu menolak permintaan Anda,
tetapi senyumnya hangat, nadanya
lembut, dan ia menawarkan hal lain.
Anda tidak merasa diusir.
Malah merasa tetap dihargai.
Inilah yang disebut Reject Someone
While Smiling.
Teknik ini mengajarkan bahwa cara
Anda menolak lebih penting daripada
kata “tidak” yang Anda ucapkan.
Jika Anda menolak sambil tersenyum
dan berbicara dengan nada lembut,
orang yang Anda tolak tidak akan
merasa diserang. Ia justru merasa
dihargai. Karena merasa dihargai,
ia lebih mudah menerima, bahkan
kadang balik menyetujui langkah
Anda berikutnya.
Teknik ini tidak persis sama dengan
teknik yang pernah dibahas
sebelumnya. Tetapi jika dicari
benang merahnya, ia dekat dengan
Framing Manipulation yang
ada di daftar 35 teknik yang pernah
kita bahas.
Anda sedang memainkan persepsi
lewat ekspresi. Anda menolak,
tetapi membungkusnya dengan
bahasa tubuh yang berkata,
“Kita masih oke.”
Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Ekspresi Wajah Mempengaruhi
Cara Orang Menerima Penolakan
Eksperimen Bono dan
Vey (2005): Senyum dan
Persepsi Sosial
Penelitian tentang ekspresi wajah
menunjukkan bahwa senyum
memengaruhi cara orang lain menilai
kita. Partisipan diminta melihat foto
orang dengan berbagai ekspresi
wajah, lalu menilai seberapa ramah,
dapat dipercaya, dan menyenangkan
orang itu.
Hasilnya, orang yang tersenyum
secara konsisten dinilai lebih ramah
dan lebih dapat dipercaya. Senyum
menciptakan kesan bahwa orang itu
terbuka dan tidak mengancam.
Bahkan ketika menyampaikan kabar
buruk, orang yang tersenyum dinilai
lebih bisa diterima daripada orang
yang bermuka datar.
Bono menyimpulkan bahwa ekspresi
wajah adalah bagian penting dari
komunikasi. Senyum bisa
melunakkan pesan yang sebenarnya
tidak menyenangkan.
Eksperimen Grandey, Fisk,
Mattila, Jansen, dan Sideman
(2005): Senyum dalam
Pelayanan
Alicia Grandey dan timnya meneliti
bagaimana senyum memengaruhi
interaksi pelayanan.
Mereka menemukan bahwa pelanggan
yang dilayani oleh staf yang tersenyum
cenderung lebih puas, bahkan ketika
permintaan mereka ditolak.
Dalam beberapa kasus, staf harus
menolak permintaan pelanggan.
Tetapi jika penolakan itu disampaikan
dengan senyum dan nada ramah,
pelanggan tidak merasa kecewa.
Mereka merasa bahwa staf sudah
berusaha, meskipun tidak bisa
memenuhi permintaan.
Grandey menyimpulkan bahwa
senyum berfungsi sebagai peredam
konflik. Ia tidak mengubah isi
penolakan, tetapi mengubah cara
penolakan itu diterima.
Mengapa Reject Someone
While Smiling Begitu Efektif?
Otak manusia membaca ekspresi
lebih cepat daripada kata-kata.
Ketika Anda menolak sambil
tersenyum, otak lawan bicara
menangkap dua sinyal yang
bertentangan. Kata-kata Anda
menolak, tetapi wajah Anda berkata,
“Aku ramah.” Otak lebih memilih
mengikuti sinyal yang membuat
nyaman, yaitu senyuman Anda.
Jadi lawan bicara tidak masuk
ke mode bertahan.
Senyum juga menciptakan kesan
bahwa penolakan itu bukan masalah
pribadi. Anda tidak menolak dia
sebagai orang. Anda hanya menolak
permintaan atau kondisi tertentu.
Perbedaan ini sangat penting.
Orang bisa menerima penolakan
terhadap permintaannya, tetapi sulit
menerima penolakan terhadap
dirinya.
Dengan senyum, Anda memberi
ruang untuk hubungan tetap terjaga.
Anda menutup pintu, tetapi masih
berdiri di jendela sambil tersenyum.
Orang yang ditolak tidak merasa
diusir. Ia merasa diajak bicara lebih
lanjut.
Tiga Langkah Menerapkan
Reject Someone While Smiling:
Kisah Raka dan Temannya
Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Raka.
Temannya, Bima, mengajaknya
nongkrong besok.
Langkah 1: Jangan Nolak
dengan Muka Kaku
Bima: “Raka, besok nongkrong yuk.
Kita udah lama nggak kumpul.”
Raka tersenyum. Ia tidak langsung
memasang muka datar.
Raka: “Waduh, besok gue nggak
bisa.”
Langkah 2: Pake Nada yang
Lembut
Raka berbicara dengan nada hangat.
Ia tidak terburu-buru.
Raka: “Ada acara keluarga yang nggak
bisa gue tinggalin.”
Langkah 3: Tambahin Kalimat
yang Menunjukkan Kepedulian
Raka melanjutkan, “Tapi boleh banget
kapan-kapan. Luar biasa kalau kita
bisa ngatur jadwal lagi.”
Bima tersenyum. “Siap. Nanti gue
ajak lagi.”
Bima tidak merasa ditolak.
Ia merasa dihargai dan tetap
ingin menjaga pertemanan.
Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal
1. Menolak Permintaan Klien
Maya sedang berbicara dengan
klien, Bu Rina.
Bu Rina: “Bisa turunkan harga
20 persen?”
Maya tersenyum. “Belum bisa,
Bu. Tapi saya carikan solusi lain
yang masuk untuk Ibu.”
Bu Rina tidak kecewa.
Ia menunggu solusi dari Maya.
2. Menolak Ajakan Teman
Raka diajak Sari ke acara yang tidak
ia minati.
Sari: “Ikut yuk, seru lho.”
Raka tersenyum. “Aku nggak bisa hari
itu. Tapi kalau ada acara lain, ajak
aku lagi ya.”
Sari mengangguk. “Oke, next time.”
3. Menolak Permintaan Atasan
Bima diminta atasannya untuk
lembur di hari libur.
Atasan: “Bisa masuk besok?
Ada kerjaan mendesak.”
Bima tersenyum. “Besok saya ada
keperluan keluarga. Tapi saya bisa
bantu dari rumah kalau diperlukan.”
Atasan merasa dihargai. Ia tidak
memaksa.
Cara Melindungi Diri dari
Teknik Ini
Jika Anda merasa seseorang menolak
Anda sambil tersenyum dan membuat
Anda tidak sadar bahwa Anda sedang
ditolak, ada beberapa langkah yang
bisa dilakukan.
Pertama, perhatikan isi
penolakan. Jangan hanya terpaku
pada senyumnya. Catat apa yang
sebenarnya ia katakan.
Kedua, tanyakan ulang dengan
jelas. “Jadi ini ditolak, atau masih
bisa dibicarakan?” Ini akan
memaksa lawan bicara memberi
jawaban yang tegas.
Ketiga, jangan biarkan
kenyamanan mengaburkan
fakta. Senyum itu menyenangkan,
tetapi keputusan tetap harus
berdasarkan isi.
Keempat, tetap jaga harga diri.
Penolakan yang disampaikan
dengan hangat tetaplah penolakan.
Anda tidak wajib mengejar jika
tidak perlu.
Reject Someone While Smiling adalah
teknik yang memanfaatkan kekuatan
ekspresi untuk melunakkan penolakan.
Ketika digunakan dengan niat baik,
ia menjaga hubungan tetap hangat
meskipun ada penolakan.
Ketika digunakan secara berlebihan,
ia bisa membuat orang tidak sadar
bahwa ia sedang ditolak. Gunakan
dengan bijak, karena senyum yang
tulus adalah jembatan, bukan alat
untuk menipu.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya Reject Someone While
Smiling, They’ll Say Yes.
Lo pasti pernah ngalamin ditolak.
Entah pas ngajak, pas nawarin, atau
pas minta sesuatu. Biasanya kalau
ditolak dengan muka datar atau
jutek, rasanya nggak enak. Tapi ada
kalanya lo ditolak, tapi orangnya
senyum, nadanya hangat, dan entah
kenapa lo nggak ngerasa ditolak.
Malah lo ngerasa diajak tetep
nyambung. Nah, itu dia tekniknya.
Simpelnya, teknik ini ngajarin kalau
cara lo nolak itu lebih penting
daripada kata “tidak” yang lo ucapin.
Kalau lo nolak sambil senyum,
sambil nada lembut, orang yang lo
tolak nggak bakal ngerasa diserang.
Dia malah bisa ngerasa dihargai.
Dan karena ngerasa dihargai,
dia jadi lebih gampang buat nerima,
bahkan kadang balik setuju sama lo.
Ini bukan teknik yang persis sama
dengan yang pernah kita bahas
sebelumnya. Tapi kalau lo mau
nyari nyambungnya, ini deket sama
Framing Manipulation
di daftar 35 teknik dulu. Soalnya lo
lagi mainin persepsi lewat ekspresi.
Lo nolak, tapi lo bungkus dengan
bahasa tubuh yang bilang
“kita masih oke”.
Kenapa ini ampuh? Karena otak
manusia itu baca ekspresi lebih
cepet dari kata-kata. Begitu lo
nyolot sambil senyum, otak lawan
bicara lo nangkep dua sinyal yang
bentrok. Kata-katanya nolak, tapi
muka lo bilang “aku ramah”.
Otak dia lebih milih ikut sinyal yang
bikin nyaman, yaitu senyuman lo.
Jadi dia nggak masuk mode
bertahan.
Contoh gampangnya gini. Temen lo
ngajak nongkrong besok. Lo nggak
bisa. Terus lo bilang, “Waduh, besok
gue nggak bisa. Tapi boleh banget
kapan-kapan.” Sambil senyum.
Nah, temen lo nggak bakal ngerasa
ditolak. Dia malah ngerasa lo masih
peduli, dan dia bakal ajak lagi
di lain waktu.
Contoh lain di dunia kerja. Klien lo
minta harga turun. Lo jawab,
“Belum bisa, Pak. Tapi gue carikan
solusi lain yang masuk buat Bapak.”
Sambil senyum. Klien lo nggak
langsung kecewa. Dia malah nunggu
solusi lo. Di sini, senyum lo yang
ngeredam penolakan.
Cara pakainya gampang.
Pertama, jangan nolak sambil muka
kaku. Mulutnya boleh bilang “tidak”,
tapi matanya harus tetep hangat.
Kedua, pake nada yang lembut.
Jangan ketus.
Ketiga, tambahin kalimat yang
nunjukin lo masih peduli. Misalnya,
“Maaf ya, tapi gue bantu cari jalan
lain.”
Yang harus lo inget, jangan senyum
yang sinis atau ngejek. Senyum lo
harus tulus. Karena kalau senyum
lo keliatan aneh, orang justru
makin tersinggung.
Jadi, Reject Someone While
Smiling, They’ll Say Yes itu
ibarat lo nutup pintu, tapi lo masih
berdiri di jendela sambil senyum.
Lo nolak, tapi lo nggak ngusir.
Orang yang mau masuk pun nggak
ngerasa dihalangi, tapi diajak muter
dulu. Dan sering kali, dari situ
mereka malah setuju dengan
langkah lo berikutnya.
Gimana? Mulai kerasa kan gimana
senyum bisa ngelebutin penolakan?
Kalau lo siap lanjut, berikutnya kita
bahas Say Their Name Enough
and They’ll Like You.
Ini teknik yang kelihatannya sepele,
tapi efeknya ngena banget.
Stay tuned.
