Principle of Sufficient Reason: Mengapa Sesuatu Ada dan Bukan Tidak Ada Sama Sekali?
Pernahkah Anda bertanya mengapa
Anda ada di sini?
Bukan hanya Anda, tetapi mengapa
ada sesuatu dan bukan tidak ada
sama sekali?
Mengapa ada alam semesta?
Mengapa ada bintang?
Mengapa ada kehidupan?
Mengapa ada Anda?
Pertanyaan itu bukan pertanyaan
kecil. Ia adalah pertanyaan yang
sudah diajukan manusia sejak
ribuan tahun lalu. Ia menyentuh
dasar dari segala sesuatu.
Ia menyentuh misteri keberadaan.
Seorang filsuf Jerman bernama
Gottfried Wilhelm Leibniz
merumuskan sebuah prinsip yang
mencoba menjawab pertanyaan
itu. Prinsip itu bernama Principle
of Sufficient Reason. Mari saya
ajak Anda masuk ke dalamnya.
Siapa Itu Leibniz?
Gottfried Wilhelm Leibniz hidup pada
abad ke-17 dan awal abad ke-18.
Ia lahir pada tahun 1646 dan
meninggal pada tahun 1716. Ia adalah
seorang filsuf, matematikawan,
ilmuwan, diplomat, dan penemu.
Ia mengembangkan kalkulus secara
independen dari Isaac Newton.
Ia menemukan sistem bilangan biner
yang menjadi dasar komputer
modern. Ia juga menulis banyak
tentang metafisika, teologi, dan
logika.
Leibniz adalah seorang optimis.
Ia percaya bahwa dunia ini adalah
dunia yang terbaik dari semua
dunia yang mungkin. Ia percaya
bahwa Tuhan, dalam kebaikan-Nya,
memilih dunia yang paling baik
untuk diciptakan. Gagasannya
tentang Principle of Sufficient
Reason adalah salah satu
kontribusinya yang paling terkenal.
Apa Itu Principle of Sufficient
Reason?
Principle of Sufficient Reason, atau
Prinsip Alasan yang Cukup,
mengatakan bahwa segala sesuatu
harus memiliki alasan atau
penjelasan. Tidak ada yang terjadi
tanpa sebab. Tidak ada yang ada
tanpa alasan. Setiap fakta, setiap
peristiwa, setiap keberadaan harus
memiliki penjelasan mengapa ia
ada dan mengapa ia seperti itu,
bukan sebaliknya.
Leibniz merumuskan prinsip ini
dengan kalimat yang sederhana.
Ia mengatakan bahwa tidak ada fakta
yang benar atau keberadaan yang
nyata tanpa alasan yang cukup
mengapa ia begitu dan bukan
sebaliknya. Dengan kata lain,
segala sesuatu memiliki penjelasan.
Prinsip ini terdengar sederhana.
Tetapi konsekuensinya sangat besar.
Apa Bedanya dengan Prinsip
Kausalitas?
Principle of Sufficient Reason sering
disamakan dengan prinsip kausalitas.
Prinsip kausalitas mengatakan
bahwa setiap peristiwa memiliki
sebab. Setiap akibat memiliki
penyebab. Setiap efek memiliki
kausa.
Tetapi Principle of Sufficient Reason
lebih luas dari itu. Ia tidak hanya
berbicara tentang peristiwa.
Ia berbicara tentang segala sesuatu.
Ia berbicara tentang keberadaan.
Ia berbicara tentang kebenaran.
Ia berbicara tentang fakta.
Prinsip kausalitas mengatakan
bahwa setiap perubahan memiliki
sebab. Principle of Sufficient
Reason mengatakan bahwa
setiap hal, bahkan yang tidak
berubah, harus memiliki alasan
mengapa ia ada dan mengapa ia
seperti itu.
Misalnya, mengapa ada sesuatu dan
bukan tidak ada sama sekali?
Prinsip kausalitas tidak bisa
menjawab itu. Prinsip kausalitas
hanya berbicara tentang perubahan
dalam sesuatu yang sudah ada.
Principle of Sufficient Reason
berbicara tentang keberadaan itu
sendiri.
Mengapa Ini Penting untuk
Anda?
Mungkin Anda berpikir,
“Ah, itu kan hanya prinsip filsuf.
Saya tidak peduli.”
Tetapi coba lihat lagi.
Pernahkah Anda bertanya mengapa
Anda lahir di keluarga ini?
Mengapa Anda lahir di negara ini?
Mengapa Anda punya bakat ini?
Mengapa Anda mengalami peristiwa
tertentu?
Anda mungkin tidak bisa
menjawabnya. Tetapi Anda merasa
bahwa pasti ada alasan. Anda
merasa bahwa hidup ini tidak acak.
Anda merasa bahwa ada penjelasan,
bahkan jika Anda tidak tahu.
Principle of Sufficient Reason juga
muncul dalam sains. Ilmuwan mencari
penjelasan untuk setiap fenomena.
Mereka tidak puas dengan jawaban
“itu hanya kebetulan.” Mereka ingin
tahu mengapa. Mereka ingin tahu
bagaimana. Mereka ingin tahu apa
yang menyebabkannya. Prinsip ini
mendorong penelitian.
Principle of Sufficient Reason juga
muncul dalam kehidupan
sehari hari. Ketika sesuatu terjadi,
Anda bertanya, “Mengapa?”
Anda ingin tahu alasannya.
Anda tidak puas dengan
ketidaktahuan. Anda ingin
penjelasan. Anda ingin
pemahaman.
Principle of Sufficient Reason juga
muncul dalam agama. Ketika orang
percaya pada Tuhan, mereka
sering mengatakan bahwa Tuhan
adalah alasan dari segala sesuatu.
Tuhan adalah penjelasan terakhir.
Tuhan adalah alasan yang cukup
untuk keberadaan alam semesta.
Apa Kata Leibniz tentang Tuhan?
Leibniz menggunakan Principle of
Sufficient Reason untuk berargumen
tentang keberadaan Tuhan.
Ia mengatakan bahwa alam semesta
harus memiliki alasan yang cukup.
Alasan itu tidak bisa ditemukan
di dalam alam semesta itu sendiri.
Alasan itu harus ditemukan di luar
alam semesta. Alasan itu haruslah
sesuatu yang ada dengan sendirinya.
Sesuatu yang tidak memerlukan
alasan lain. Sesuatu itu adalah Tuhan.
Leibniz juga menggunakan prinsip
ini untuk menjelaskan mengapa
dunia ini seperti ini. Ia mengatakan
bahwa Tuhan, dalam kebaikan-Nya,
memilih dunia yang terbaik dari
semua dunia yang mungkin.
Tuhan tidak memilih secara acak.
Tuhan punya alasan. Tuhan punya
cukup alasan untuk memilih
dunia ini.
Kritik terhadap Principle
of Sufficient Reason
Principle of Sufficient Reason tidak
lepas dari kritik. Banyak filsuf dan
ilmuwan menolak atau meragukan
prinsip ini.
Pertama, apakah prinsip ini benar?
Bagaimana kita tahu bahwa segala
sesuatu harus memiliki alasan?
Mungkin ada hal hal yang tidak
memiliki alasan. Mungkin ada
kejadian yang acak. Mungkin ada
kebetulan yang murni.
Kedua, apakah prinsip ini bisa
diterapkan pada Tuhan?
Jika Tuhan adalah alasan dari
segala sesuatu, apa alasan dari
Tuhan?
Jika Tuhan tidak memerlukan
alasan, mengapa hal lain harus
memerlukan alasan?
Mengapa ada pengecualian?
Ketiga, apakah prinsip ini
membawa pada regresi tak
terbatas?
Jika setiap hal memerlukan alasan,
maka alasan itu juga memerlukan
alasan. Alasan dari alasan itu juga
memerlukan alasan.
Ini berlanjut tanpa akhir.
Apakah ini masuk akal?
Keempat, fisika kuantum
menantang prinsip ini. Dalam
fisika kuantum, beberapa kejadian
tampaknya acak. Peluruhan
radioaktif, misalnya, terjadi tanpa
sebab yang jelas. Apakah ini berarti
Principle of Sufficient Reason salah?
Kelima, apakah prinsip ini hanya
soal bahasa? Mungkin kita merasa
bahwa segala sesuatu harus memiliki
alasan karena kita terbiasa berpikir
begitu. Mungkin dunia ini tidak
selalu bekerja seperti itu. Mungkin
kita yang memaksakan pola pada
dunia.
Tanggapan terhadap Kritik
Pendukung Principle of Sufficient
Reason punya tanggapan. Mereka
tidak selalu mengatakan bahwa
prinsip ini pasti benar. Mereka sering
mengatakan bahwa prinsip ini adalah
asumsi yang masuk akal.
Mereka mengatakan bahwa tanpa
prinsip ini, ilmu pengetahuan tidak
mungkin. Ilmuwan mencari
penjelasan. Jika tidak ada penjelasan,
ilmu pengetahuan tidak bisa maju.
Prinsip ini adalah fondasi dari
pencarian ilmiah.
Mereka juga mengatakan bahwa
regresi tak terbatas bukan masalah.
Menurut Leibniz, regresi tak
terbatas tidak mungkin karena
alam semesta adalah totalitas.
Totalitas itu memerlukan alasan
di luar dirinya. Alasan itu adalah
Tuhan.
Mereka juga mengatakan bahwa
fisika kuantum tidak membuktikan
bahwa ada kejadian tanpa sebab.
Ia hanya menunjukkan bahwa kita
belum menemukan sebabnya.
Mungkin ada variabel tersembunyi.
Mungkin ada penjelasan yang
belum kita pahami.
Mereka juga mengatakan bahwa
prinsip ini bukan soal bahasa.
Ia adalah prinsip metafisika.
Ia mengatakan sesuatu tentang
realitas. Ia mengatakan bahwa
realitas ini rasional.
Ia mengatakan bahwa realitas
ini bisa dipahami.
Tiga Fase Menghadapi
Principle of Sufficient Reason
Fase pertama, Anda merasa puas.
Anda tidak bertanya mengapa.
Anda menerima apa yang ada.
Anda hidup tanpa mempertanyakan.
Anda merasa bahwa dunia ini sudah
cukup jelas.
Fase kedua, Anda mulai bertanya.
Anda mulai bertanya mengapa.
Anda mulai bertanya mengapa sesuatu
terjadi. Anda mulai bertanya mengapa
Anda ada. Anda mulai merasa bahwa
ada misteri yang perlu dijelaskan.
Fase ketiga, Anda mencari alasan.
Anda mulai mencari penjelasan.
Anda membaca. Anda bertanya.
Anda merenung. Anda mungkin
menemukan jawaban. Anda mungkin
tidak menemukan jawaban. Tetapi
Anda terus mencari. Anda tidak
puas dengan ketidaktahuan.
Cara Menyikapi Principle
of Sufficient Reason
Pertama, bertanyalah.
Jangan takut bertanya mengapa.
Pertanyaan adalah pintu menuju
pemahaman. Semakin Anda
bertanya, semakin Anda belajar.
Kedua, carilah penjelasan. Ketika
sesuatu terjadi, coba cari
penjelasannya. Jangan langsung
puas dengan jawaban dangkal.
Jangan langsung menyerah pada
ketidaktahuan.
Ketiga, terimalah batas Anda.
Anda tidak akan pernah tahu
segalanya. Ada misteri yang tidak
bisa Anda pecahkan. Itu tidak
apa apa. Yang penting adalah
Anda terus mencari.
Keempat, jangan gunakan prinsip
ini untuk menghakimi. Ketika
seseorang mengalami hal buruk,
jangan langsung bertanya,
“Apa alasan Tuhan melakukan ini?”
Terkadang yang lebih penting
adalah menemani, bukan
menjelaskan.
Kelima, bedakan antara alasan dan
tujuan. Kadang kita bertanya
“mengapa” padahal kita sebenarnya
bertanya “untuk apa.” Alasan adalah
penyebab. Tujuan adalah maksud.
Keduanya berbeda.
Keenam, gunakan prinsip ini dalam
sains. Ketika Anda menghadapi
fenomena, coba cari penjelasannya.
Jangan puas dengan jawaban
“itu kebetulan.” Jangan puas
dengan jawaban “itu takdir.”
Carilah mekanisme. Carilah pola.
Ketujuh, gunakan prinsip ini dalam
hidup. Ketika Anda menghadapi
kesulitan, tanyakan, “Apa yang bisa
saya pelajari? Apa yang bisa saya
ubah? Apa yang bisa saya pahami?”
Mencari alasan bisa membantu
Anda menemukan makna.
Kedelapan, rendah hati. Anda tidak
punya semua jawaban. Tidak ada
yang punya semua jawaban. Dunia
ini penuh misteri. Terimalah bahwa
Anda mungkin tidak akan pernah
tahu sepenuhnya.
Penutup
Principle of Sufficient Reason
mengajarkan satu hal yang mendalam.
Segala sesuatu memiliki alasan.
Tidak ada yang terjadi tanpa
penjelasan. Alam semesta ini rasional.
Alam semesta ini bisa dipahami.
Ini bisa terasa menenangkan.
Jika segala sesuatu memiliki alasan,
maka hidup ini tidak acak. Hidup ini
tidak sia sia. Ada tujuan. Ada makna.
Ada penjelasan, bahkan jika kita
tidak tahu.
Tetapi ini juga bisa terasa menantang.
Jika segala sesuatu memiliki alasan,
maka kita harus mencari. Kita tidak
bisa berhenti bertanya. Kita tidak
bisa puas dengan ketidaktahuan.
Kita harus terus mencari, terus
belajar, terus memahami.
Maka izinkan saya bertanya kepada
Anda, Pembaca. Apakah Anda
pernah bertanya mengapa sesuatu
terjadi? Apakah Anda pernah
bertanya mengapa Anda ada?
Apakah Anda sudah menemukan
alasan yang cukup? Dan jika
belum, apakah Anda masih mencari?
Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai mencari alasan yang
cukup untuk hidup Anda.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Principle of Sufficient Reason:
Kenapa Ada Sesuatu, Bukan
Nggak Ada Apa-apa Sama
Sekali?
Coba inget lagi. Momen di mana lo
lagi sendirian. Malem. Gelap. Sunyi.
Lo lagi rebahan. Nggak bisa tidur.
Pikiran lo jalan ke mana-mana.
Dari kerjaan. Dari hubungan.
Dari masa depan. Terus tiba-tiba,
pikiran lo mendarat di sesuatu
yang lebih gede.
“Sebenernya kenapa sih ada
semua ini? Kenapa ada gue?
Kenapa ada bumi?
Kenapa ada alam semesta?
Kenapa ada sesuatu, bukan
nggak ada apa-apa sama sekali?”
Bukan pertanyaan yang lo tanyain
ke orang lain. Bukan pertanyaan
yang lo tulis di status. Pertanyaan
yang cuma berani lo tanyain
ke langit-langit kamar.
Di jam 3 pagi. Waktu nggak
ada yang bisa ngejawab.
Lo coba tepis. “Ah, nanti aja
dipikirin.” Tapi pikirannya balik.
“Tapi kalo semua ini ada, pasti
ada alasannya kan?
Masa iya semuanya muncul gitu
aja? Masa iya nggak ada
penjelasannya?”
Kalo lo pernah stuck di momen
kayak gini, lo udah nyentuh salah
satu prinsip paling fundamental
dalam filsafat. Namanya
Principle of Sufficient Reason.
Dan gue jamin, setelah baca ini, lo
bakal liat pertanyaan “kenapa”
dengan mata yang beda.
Sebenernya Principle of
Sufficient Reason Itu Apa Sih?
Prinsip ini simpelnya gini:
segala sesuatu harus punya
alasan. Nggak ada yang terjadi
tanpa sebab. Nggak ada yang
ada tanpa penjelasan.
Setiap fakta. Setiap peristiwa.
Setiap keberadaan. Semua harus
punya penjelasan kenapa dia ada.
Kenapa dia kayak gitu. Kenapa
bukan sebaliknya.
Nggak ada yang acak. Nggak ada yang
kebetulan murni. Nggak ada yang
muncul gitu aja tanpa alasan.
Semuanya bisa dijelasin. Semuanya
punya dasar. Semuanya punya sebab.
Prinsip ini dirumusin sama
Gottfried Wilhelm Leibniz.
Filsuf Jerman yang hidup di abad
ke-17 dan awal abad ke-18. Lahir
1646. Meninggal 1716. Dia bukan
cuma filsuf. Dia matematikawan.
Ilmuwan. Diplomat. Penemu.
Dia ngembangin kalkulus secara
independen dari Isaac Newton.
Dia nemuin sistem bilangan biner
yang jadi dasar komputer modern.
Otaknya nggak bisa diem.
Leibniz ngerumusin prinsip ini
dengan kalimat yang sederhana.
Dia bilang, nggak ada fakta yang
bener atau keberadaan yang
nyata tanpa alasan yang cukup
kenapa ia begitu dan bukan
sebaliknya. Dengan kata lain,
segala sesuatu punya penjelasan.
Titik.
Kedengeran simpel? Iya.
Tapi konsekuensinya? Gede banget.
Bedanya sama Prinsip
Sebab-Akibat
Principle of Sufficient Reason sering
disamain sama prinsip kausalitas.
Prinsip kausalitas bilang:
setiap peristiwa punya sebab.
Setiap akibat punya penyebab.
Setiap efek punya kausa.
Tapi Principle of Sufficient Reason
lebih luas dari itu.
Prinsip kausalitas cuma ngomongin
peristiwa. Cuma ngomongin
perubahan. Cuma ngomongin
sesuatu yang bergerak dari A ke B.
Principle of Sufficient Reason
ngomongin segala sesuatu.
Bukan cuma peristiwa. Tapi juga
keberadaan. Bukan cuma perubahan.
Tapi juga fakta. Bukan cuma efek.
Tapi juga hal-hal yang nggak berubah.
Misalnya. Kenapa ada sesuatu dan
bukan nggak ada sama sekali?
Prinsip kausalitas nggak bisa
jawab itu. Prinsip kausalitas cuma
ngomongin perubahan dalam
sesuatu yang udah ada. Principle
of Sufficient Reason ngomongin
keberadaan itu sendiri.
Contoh lain. Kenapa air mendidih
di suhu 100 derajat?
Itu prinsip kausalitas.
Kenapa air itu ada?
Kenapa air punya sifat kayak gitu?
Kenapa bukan zat lain?
Itu Principle of Sufficient Reason.
Kenapa Ini Penting Banget
Buat Lo?
Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma
prinsip filsuf. Gue nggak peduli.”
Tapi tunggu dulu. Prinsip ini
nyentuh hidup lo dengan cara yang
sangat pribadi.
Pertama, lo mungkin pernah
nanya kenapa lo lahir
di keluarga ini.
Kenapa bukan di keluarga lain?
Kenapa bukan di negara lain?
Kenapa bukan di zaman lain?
Lo nggak bisa milih. Lo nggak tau
jawabannya. Tapi lo ngerasa pasti
ada alasan. Lo ngerasa hidup ini
nggak acak. Lo ngerasa ada
penjelasan, bahkan kalo lo nggak
tau.
Kedua, lo mungkin pernah
nanya kenapa lo mengalami
peristiwa tertentu.
Kenapa lo ketemu orang itu?
Kenapa lo gagal di situ?
Kenapa lo sukses di sini?
Kenapa lo sakit?
Kenapa lo sembuh?
Lo nggak tau jawabannya.
Tapi lo ngerasa pasti ada alasan.
Ketiga, lo mungkin pernah
ngerasa nggak puas sama
jawaban “ya udah gitu.”
Waktu ada yang bilang,
“Ya emang takdir.”
“Ya emang kebetulan.”
“Ya emang gitu.”
Lo ngerasa ada yang kurang.
Lo pengen penjelasan yang
lebih dalem. Lo pengen
alasan yang cukup.
Keempat, lo mungkin pernah
ngerasa hidup ini rasional.
Lo ngerasa ada pola. Lo ngerasa
ada keteraturan. Lo ngerasa ada
logika di balik semua ini. Dan lo
pengen ngerti. Lo pengen paham.
Lo pengen nemuin alasannya.
Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh
Prinsip Ini
Coba jawab dalam hati. Jujur.
Nggak usah jawab ke gue.
Lo pernah nanya
“kenapa gue ada di sini?”
Bukan soal lokasi. Tapi soal
keberadaan. Itu tanda lo lagi
nyentuh prinsip ini.Lo pernah ngerasa nggak
puas sama jawaban
“ya emang gitu”?
Itu tanda lo ngerasa ada
alasan yang lebih dalem.Lo pernah mikir
“kalo ada sesuatu,
pasti ada alasannya kan?”
Itu tanda lo lagi mikir.Lo pernah ngerasa hidup
ini nggak acak?
Kayak ada yang ngatur.
Kayak ada pola.
Kayak ada tujuan.
Itu tanda lo ngerasain
prinsip ini.Lo pernah nanya
“kenapa bukan nggak
ada apa-apa?”
Itu tanda lo lagi nyentuh
pertanyaan paling
fundamental.
Kalo lo jawab iya di dua atau lebih,
selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin
sesuatu yang bener-bener dalem.
Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda
lo mikir.
Contoh yang Bikin Lo Sadar
Di kerjaan. Lo dapet proyek gagal.
Lo bisa bilang, “Ah, emang nggak
rejeki.” Atau lo bisa nanya,
“Kenapa gagal? Apa yang salah?
Apa yang bisa gue perbaiki?”
Principle of Sufficient Reason ngajak
lo buat nyari alasan yang cukup.
Bukan cuma nerima nasib.
Di hubungan. Lo putus sama
pacar. Lo bisa bilang,
“Ah, emang nggak jodoh.” Atau
lo bisa nanya, “Kenapa putus?
Apa yang bikin hubungan ini nggak
jalan? Apa yang bisa gue pelajari?”
Principle of Sufficient Reason
ngajak lo buat nyari penjelasan.
Bukan cuma nyalahin takdir.
Di kesehatan. Lo sakit.
Lo bisa bilang, “Ah, emang udah
waktunya.” Atau lo bisa nanya,
“Kenapa sakit? Apa penyebabnya?
Apa yang bisa gue lakuin?”
Principle of Sufficient Reason ngajak
lo buat nyari penyebab. Bukan cuma
pasrah.
Di medsos. Lo liat berita. Lo bisa
langsung percaya. Lo bisa langsung
bagi. Atau lo bisa nanya,
“Kenapa berita ini muncul?
Siapa yang bikin? Apa alasannya?
Apa ada penjelasan yang lebih
masuk akal?” Principle of Sufficient
Reason ngajak lo buat mikir.
Bukan cuma telan mentah.
Di diri lo sendiri. Lo ngerasa
hampa. Lo ngerasa kosong. Lo bisa
bilang, “Ah, emang gue gini.” Atau
lo bisa nanya, “Kenapa gue ngerasa
hampa? Apa yang sebenernya gue
cari? Apa yang bikin gue ngerasa
hidup?” Principle of Sufficient
Reason ngajak lo buat nyari alasan.
Bukan cuma nerima keadaan.
Leibniz dan Argumen tentang
Tuhan
Leibniz pake Principle of Sufficient
Reason buat berargumen tentang
keberadaan Tuhan. Dia bilang gini.
Alam semesta harus punya alasan
yang cukup. Alasan itu nggak bisa
ditemuin di dalem alam semesta
itu sendiri. Karena kalo lo nyari
alasan di dalem alam semesta, lo
bakal terus nyari. Lo bakal nemuin
alasan A, terus alasan A punya
alasan B, terus alasan B punya
alasan C. Terus-terus-terus.
Nggak ada habisnya.
Alasan itu harus ditemuin di luar
alam semesta. Alasan itu haruslah
sesuatu yang ada dengan sendirinya.
Sesuatu yang nggak butuh
alasan lain. Sesuatu yang jadi
alasan terakhir.
Sesuatu itu adalah Tuhan.
Leibniz juga pake prinsip ini buat
ngejelasin kenapa dunia ini
kayak gini. Dia bilang Tuhan,
dalam kebaikan-Nya, milih dunia
yang terbaik dari semua dunia
yang mungkin. Tuhan nggak milih
secara acak. Tuhan punya alasan.
Tuhan punya cukup alasan buat
milih dunia ini.
Kritik: Kenapa Banyak yang
Nggak Setuju?
Principle of Sufficient Reason nggak
lepas dari kritik. Banyak filsuf dan
ilmuwan nolak atau ngeraguin
prinsip ini.
Pertama, apa prinsip ini bener?
Gimana kita tau bahwa segala
sesuatu harus punya alasan?
Mungkin ada hal-hal yang nggak
punya alasan. Mungkin ada kejadian
yang acak. Mungkin ada kebetulan
yang murni.
Kedua, apa prinsip ini bisa
diterapin ke Tuhan?
Kalo Tuhan adalah alasan dari
segala sesuatu, apa alasan dari
Tuhan?
Kalo Tuhan nggak butuh alasan,
kenapa hal lain harus butuh
alasan? Kenapa ada pengecualian?
Ketiga, apa prinsip ini bawa
pada regresi tak terbatas?
Kalo setiap hal butuh alasan, maka
alasan itu juga butuh alasan.
Alasan dari alasan itu juga butuh
alasan. Ini berlanjut tanpa akhir.
Apa ini masuk akal?
Keempat, fisika kuantum
nantang prinsip ini.
Dalam fisika kuantum, beberapa
kejadian keliatannya acak.
Peluruhan radioaktif, misalnya,
terjadi tanpa sebab yang jelas.
Apa ini berarti Principle of
Sufficient Reason salah?
Kelima, apa prinsip ini
cuma soal bahasa?
Mungkin kita ngerasa bahwa segala
sesuatu harus punya alasan karena
kita terbiasa mikir begitu. Mungkin
dunia ini nggak selalu bekerja kayak
gitu. Mungkin kita yang maksain
pola pada dunia.
Tanggapan dari Pendukung
Pendukung Principle of Sufficient
Reason punya tanggapan. Mereka
nggak selalu bilang prinsip ini
pasti bener. Mereka sering bilang
prinsip ini asumsi yang masuk akal.
Mereka bilang tanpa prinsip ini, ilmu
pengetahuan nggak mungkin.
Ilmuwan nyari penjelasan.
Kalo nggak ada penjelasan,
ilmu pengetahuan nggak bisa maju.
Prinsip ini fondasi dari pencarian
ilmiah.
Mereka juga bilang regresi tak
terbatas bukan masalah. Menurut
Leibniz, regresi tak terbatas nggak
mungkin karena alam semesta
adalah totalitas. Totalitas itu butuh
alasan di luar dirinya. Alasan itu
adalah Tuhan.
Mereka juga bilang fisika kuantum
nggak membuktikan bahwa ada
kejadian tanpa sebab. Dia cuma
nunjukin bahwa kita belum nemuin
sebabnya. Mungkin ada variabel
tersembunyi. Mungkin ada
penjelasan yang belum kita pahami.
Mereka juga bilang prinsip ini bukan
soal bahasa. Dia prinsip metafisika.
Dia bilang sesuatu tentang realitas.
Dia bilang realitas ini rasional. Dia
bilang realitas ini bisa dipahami.
Fase-Fase Lo Ngadepin
Prinsip Ini
Fase pertama: lo merasa puas.
Lo nggak nanya kenapa. Lo nerima
apa yang ada. Lo hidup tanpa
mempertanyakan. Lo ngerasa
dunia ini udah cukup jelas.
Fase kedua: lo mulai nanya.
Lo mulai nanya kenapa. Lo mulai
nanya kenapa sesuatu terjadi.
Lo mulai nanya kenapa lo ada.
Lo mulai ngerasa ada misteri
yang perlu dijelasin.
Fase ketiga: lo nyari alasan.
Lo mulai nyari penjelasan. Lo baca.
Lo nanya. Lo merenung. Lo mungkin
nemuin jawaban. Lo mungkin nggak
nemuin jawaban. Tapi lo terus nyari.
Lo nggak puas sama ketidaktahuan.
Cara Nyikapin Prinsip Ini
Tanpa Kehilangan Akal
1. Bertanyalah.
Jangan takut nanya kenapa.
Pertanyaan adalah pintu menuju
pemahaman. Semakin lo nanya,
semakin lo belajar. Jangan puas
sama jawaban dangkal. Jangan
langsung nerima “ya emang gitu.”
2. Carilah penjelasan.
Waktu sesuatu terjadi, coba cari
penjelasannya. Jangan langsung
puas sama jawaban “itu takdir.”
Jangan langsung nyerah sama
ketidaktahuan. Ada alasan di balik
segalanya. Tugas lo adalah nyarinya.
3. Terimalah batas lo.
Lo nggak akan pernah tau
segalanya. Ada misteri yang nggak
bisa lo pecahin. Itu nggak apa-apa.
Yang penting adalah lo terus nyari.
Yang penting adalah lo nggak
berhenti.
4. Jangan gunain prinsip ini
buat ngehakimin.
Waktu seseorang mengalami hal
buruk, jangan langsung nanya,
“Apa alasan Tuhan ngelakuin ini?”
Kadang yang lebih penting adalah
nemenin, bukan ngejelasin. Kadang
yang lebih penting adalah hadir,
bukan ngasih jawaban.
5. Bedain antara alasan dan
tujuan.
Kadang kita nanya “kenapa” padahal
kita sebenernya nanya “untuk apa.”
Alasan adalah penyebab.
Tujuan adalah maksud. Dua-duanya
beda. Jangan nyampur aduk.
6. Gunain prinsip ini dalam
sains.
Waktu lo ngadepin fenomena, coba
cari penjelasannya. Jangan puas
sama jawaban “itu kebetulan.”
Jangan puas sama jawaban
“itu takdir.” Carilah mekanisme.
Carilah pola. Carilah sebab.
7. Gunain prinsip ini dalam
hidup.
Waktu lo ngadepin kesulitan, tanya:
“Apa yang bisa gue pelajari?
Apa yang bisa gue ubah?
Apa yang bisa gue pahami?”
Nyari alasan bisa bantu lo nemuin
makna. Nyari penjelasan bisa
bantu lo nemuin jalan.
8. Rendah hati.
Lo nggak punya semua jawaban.
Nggak ada yang punya semua
jawaban. Dunia ini penuh misteri.
Terimalah bahwa lo mungkin
nggak akan pernah tau
sepenuhnya. Dan itu nggak
apa-apa.
9. Terima kalo lo nggak akan
pernah punya jawaban
sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa ngejelasin
kenapa ada sesuatu dan bukan nggak
ada sama sekali. Lo cuma bisa hidup
dengan ketidakpastian itu. Dan itu
nggak apa-apa. Itu bagian dari jadi
manusia.
Yang Paling Lo Takutin Bukan
Ketidaktahuan
Yang paling lo takutin bukan
ketidaktahuan. Bukan misteri.
Bukan pertanyaan yang nggak
ada jawabannya.
Yang paling lo takutin adalah:
kalo ternyata nggak ada alasan.
Kalo ternyata semuanya acak.
Kalo ternyata hidup lo nggak
punya penjelasan. Kalo ternyata
lo ada di sini cuma karena
kebetulan kosmik yang nggak
berarti.
Itu serem. Gue ngerti.
Tapi coba pikir lagi. Kalo lo percaya
bahwa segala sesuatu punya alasan,
lo punya harapan. Lo punya alasan
buat nyari. Lo punya alasan buat
bertanya. Lo punya alasan buat
terus belajar. Kalo lo percaya bahwa
semuanya acak, lo bakal nyerah.
Lo bakal ngerasa nggak ada gunanya.
Principle of Sufficient Reason bukan
tentang ngasih lo semua jawaban.
Dia tentang ngasih lo keberanian
buat nyari. Dia tentang ngasih lo
harapan bahwa ada penjelasan.
Dia tentang ngasih lo keyakinan
bahwa alam semesta ini rasional.
Penutup: Pertanyaan yang Bakal
Nemenin Lo Tidur
Principle of Sufficient Reason ngajarin
satu hal yang mendalam.
Segala sesuatu punya alasan.
Nggak ada yang terjadi tanpa
penjelasan. Alam semesta ini rasional.
Alam semesta ini bisa dipahami.
Ini bisa berasa menenangkan.
Kalo segala sesuatu punya alasan,
maka hidup ini nggak acak.
Hidup ini nggak sia-sia. Ada tujuan.
Ada makna. Ada penjelasan,
bahkan kalo kita nggak tau.
Tapi ini juga bisa berasa menantang.
Kalo segala sesuatu punya alasan,
maka kita harus nyari. Kita nggak
bisa berhenti bertanya. Kita nggak
bisa puas sama ketidaktahuan.
Kita harus terus nyari, terus belajar,
terus memahami.
Jadi, gue mau nanya ke lo.
Lo pernah nanya kenapa
sesuatu terjadi?
Lo pernah nanya kenapa lo ada?
Lo udah nemuin alasan yang
cukup?
Dan kalo belum, lo masih nyari?
Gue nggak bisa jawab buat lo.
Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa
ngingetin: lo nggak harus punya
jawaban sekarang. Lo cuma harus
mulai jujur sama diri sendiri.
Lo cuma harus mulai nanya.
Lo cuma harus mulai nyari.
Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai nyari alasan yang
cukup buat hidup lo.
